Title : Oh-Ah (OhSehun-As Hell!)
Cast : Oh Sehun, Kim Jongin, Park Chanyeol
Jung Jaehyun, (Lee) Kim Taeyong, Byun Baekhyun, Luna,etc.
Genre : Romantic, friendship
Rated : M
BoyxBoy, YAOI, HunKai
10 : The Past
I'm not over edit so, sorry for typo ^ ^
Setelah sekian lama ff ini akhirnya kambek huhu ff kesayangan aku, jujur aja liat respon kemarin pas aku posting cuap2 aku seneng karena banyak yang masih suka ff ini dan AKU GAK BAKAL HAPUS FF INI ingat, aku hanya coba-coba aja wkwk. Lagian aku ngerasa ff ini gk bagus2 amat, walo ada bbrapa yang kaya gk suka tapi aku berterimakasih karena sudah mengisi kolom ripiu. Dan warning kmrn itu aku di usulin sama readers2 kesayangan aku juga tentu mereka HKS, yah krna ngerasa gk enak dan kasian sama aku/pundung/ aku juga berterimakasih banyak buat kalian yang udah nyaranin, alhasil aku semangat lagi menulis ^^
Sorry for typo and ... ENJOY!
.
.
.
.
.
Suasana Hotel pagi ini ramai seperti biasanya, membuat senyum di wajah lelaki tampan berkulit pucat itu semakin mengembang saja. Rona merah menghiasi pipi putihnya kala ia memperhatikan seorang koki alias juru masak yang masih dengan telaten mengoseng masakannya di sebuah wajan yang sangat besar, seorang lelaki manis berkulit tan.
Ia sedang ada di kitchen saat ini, memantau keadaan kitchen yang selalu ramai setiap harinya, Sehun sangat menikmati acara memantau pekerjanya ini, selain karena ada seseorang yang mengisi hari-harinya juga disini.
"Matamu akan copot jika terus menerus menatap objek yang sama Oh Sehun!"
Sehun tersentak kecil saat mendapati seseorang menegurnya dari samping, dia adalah kaka sepupu Sehun yang beberapa bulan ini tinggal di Korea serta ikut membantunya menjadi seorang CEO, bisa di bilang lelaki bernama Park Chanyeol itu adalah asistentnya. Tapi daripada di bilang asistent, bagaimana kalau menyebutnya General Manager saja?
Mereka berdua saling diam dan memperhatikan objek yang sama, lelaki dengan pakaian khas koki dan senyuman manisnya.
"Bagaimana hubungan kalian?" Chanyeol memecah keheningan, tersirat nada dingin dalam suaranya, namun Sehun terlalu tidak peka sampai tidak menyadarinya. Ia malah tersenyum semakin lebar dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Baik, sangat baik. Entahlah tapi kurasa setiap harinya cinta ini tumbuh semakin besar" Sehun menjawab tanpa menoleh pada Chanyeol yang juga hanya meliriknya lewat ekor mata pemuda tinggi itu.
"Dia awalnya sangat dekat denganku. Ceh, tak kusangka dia jatuh cinta pada anak manja sepertimu, semoga langgeng"
Setelah mengatakan itu Chanyeol menepuk bahu sepupunya dan berjalan keluar dari kitchen, membuat Sehun sedikit heran dengan kalimatnya, namun lelaki itu menggedikan bahunya dan kembali memperhatikan Kai, lelaki tan yang sangat ia cintai.
+++++HUNKAI+++++
.
.
.
Terhitung sudah satu bulan Sehun dan Jongin menjalin hubungan dengan status 'kekasih' di belakang nama mereka, hal itu tidak menjadi beban ataupun suatu kejanggalan bagi keduanya. Malahan bagi Jongin, ia semakin lama terbiasa dengan perannya yang seorang gay hanya untuk Sehun dan ia juga menikmati segala perlakuan lelaki itu.
Sehun juga mulai terbuka dengannya, ia adalah seorang CEO sah Xo'Me Hotel, namun karena adanya kegagalan dalam mejabat, ia menyerahkan semua wewenangnya pada Chanyeol sang sepupu. Orang tua Sehun tinggal di Newzealand karena itu memang tempat kelahirannya, pekerjaan Sehun saat ini adalah pembisinis Workshop dan properti ringan yang ia bangun bersama Jennie, Chen, Lay dan Taeyong. Mark adalah seorang adik dari mantannya yang sudah meninggal, walaupun Sehun tidak pernah menyebutkan namanya maupun memperlihatkan fotonya pada Jongin tapi Jongin percaya pada Sehun, ia juga takut Sehun akan bersedih jika dirinya mendesak Sehunn untuk mengungkitnya kembali.
Mark yang sebatang kara akhirnya Sehun bawa tinggal bersama dengan seorang pengasuh alias Luna, yang Jongin anggap sebagai teman curhatnya saat ini. Setidaknya, begitulah yang Jongin tau tentang Sehun dan yang Sehun ceritakan kepadanya. Jongin juga percaya pada Sehun, lelaki itu selalu bersikap lembut padanya, bahkan ketika mereka di ranjang…oups. Seperti saat ini…
"Melamun?"
"Hm" Jongin hanya bergumam mendengar pertanyaan Sehun yang membelai punggungnya dengan lembut, membuat Jongin nyaman dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar itu.
"Kenapa?"
"Aku hanya sedang memikirkan kita"
Jongin mendongak dan memandang wajah Sehun yang memang lebih tinggi darinya, posisinya sekarang tertidur menyender di dada Sehun sedangkan lelaki pucat itu duduk bersandar pada headbed.
"Ada apa dengan kita? Kau sudah siap ku nikahi, eh?" Sehun bertanya jail yang membuahkan sebuah cubitan menyakitkan Jongin di pingganya.
"Kita belum tentu akan menikah"
Jawaban Jongin itu membuat Sehun mengernyitkan dahinya tidak suka, ia dengan sengaja menggesek lutut kanannya pada kesejatian Jongin di bawah selimut, ya mereka masih dalam keadaan tanpa busana.
"Ya!"
"Kenapa kau menjawab seperti itu? Kau tidak mencintaiku?"
Jongin menggelengkan kepalanya dengan bibir terkatup, ia sudah menyerahkan seluruhnya pada Sehun, bahkan tubuhnya pun sudah ia serahkan pada lelaki itu. Ia rela di masuki demi Sehun, ia merelakan semuanya demi Sehun, walaupun awalnya Jaehyun tidak ikhlas tapi Jongin berhasil meyakinkan sahabatnya itu untuk mempercayai Sehun, jadi mana mungkin Jongin tidak mencintainya kan?
"Aku hanya belum terpikirkan masa depan"
Sehun berdecak mendengarnya "Kau sudah tua Baby Gom, sudah sepantasnya memikirkan masa depanmu" gemas, Sehun mengecup hidung Jongin yang menurutnya lucu.
"Huh, Ahra nuna saja belum menikah bahkan masih jomblo tuh, dia kan sudah tua"
Sehun tertawa kecil, kakanya Jongin yang paling tua itu memang belum punya kekasih sampai sekarang. Dan saat tau Sehun pacaran dengan Jongin, Ahra langsung berinisiatif memiliki kekasih karena tidak mau kalah oleh si bungsu, tapi mana buktinya? Mungkin karena seleranya terlalu tinggi. Dan keluarga Jongin juga menyetujui hubungan keduanya, mereka tidak keberatan dengan semua itu asal Jongin bahagia.
"Sehun"
"Hm?"
Jongin mendudukan dirinya dalam pangkuan Sehun dan melingkarkan kedua tangannya ke leher putih kesukaannya itu, dengan wajah mengukir senyum dan sorot mata yang meneduhkan ia membuat Sehun kembali jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya. Bagi Sehun, tiap kali ia menatap mata Jongin akan selalu terasa mendebarkan seolah ia jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
"Aku tidak tau akhirnya aku akan bersamamu atau tidak" Jongin memulai, ia menelusuri wajah tampan minim ekspresi milik Sehun dengan jari telunjuk kanannya.
"Tapi karena aku telah memberikan seluruhnya untukmu, aku percaya padamu" Jongin masih terus berbicara, dan Sehun dengan setia mendengarkan apa yang kekasihnya katakan.
"Jika suatau saat kau meninggalkanku, aku-"
"Itu tidak akan pernah terjadi" Sehun menyela, ia menghentikan pergerakan jari tangan Jongin dan mengecup punggung tangan tan tersebut. Sehun tidak akan pernah meninggalkan Jongin itu benar, ia sudah terlanjur jatuh cinta pada sosok dalam pangkuannya ini.
Jongin tersenyum mendengar pengakuan Sehun "Yah, atau jika suatu saat kau membuatku sangat kecewa-"
DEG
Sehun melebarkan matanya, namun ia mengubah eksperinya kembali. Menunggu ucapan Jongin selanjutnya yang akan ia dengar
"-mungkin aku akan sangat membencimu, dan melupakan semuanya"
Lagi-lagi jantung Sehun terasa di remas saat mendengar perkataan Jongin yang seperti itu. kata-kata Jongin barusan bagaikan sebuah ultimatum dan sekaligus remote kontrol dalam tindakannya. Sedikit saja ia berulah, maka Jongin akan pergi darinya.
Sehun takut, takut hal itu akan terjadi. Ia baru saja di nyatakan sembuh oleh dokter Do yang menanganinya. Ia tidak mau hal yang sama kembali terulang, dalam kebohongan yang ia ciptakan, Sehun hanya bisa bersembunyi di balik kebohongan itu sekarang. Jika Jongin tau yang sebenarnya, maka lelaki itu akan pergi, dan membencinya.
"Aku tidak akan mengecewakanmu"
Biarlah, Sehun hanya berharap semua orang mengasihaninya saat ini. Terutama Chanyeol, yang memang sejak awal mengetahui perihal dirinya dan Jongin. Seingat Sehun, orang yang mengetahui semuanya hanya Chanyeol, dokter Do dan Mark yang tahu tentang Kai. Hingga saat ini, Mark tidak pernah mempermasalahkan Jongin itu Kai atau bukan, bagi Mark melihat Sehun bahagia dengan orang yang mirip kakanya adalah kebahagiannya juga.
"Hm, mau ronde kedua?"
Sehun tersenyum tipis mendengar nada menggoda Jongin "Tentu"
Dan desahan-desahan kembali mengalun dari dalam kamar Sehun yang ada di mansion ini.
+++++HUNKAI+++++
.
.
.
Taeyong menghentikan langkah kakinya, ia menghela nafas berat dan menengadah melihat salju yang mulai turun. Benar, ini awal musim dingin yang memasuki Korea, musim kesukaan Taeyong. Karena dari musim inilah dia bertemu dengan semua kebahagian, ia di lahirkan di musim dingin, ia bertemu dengan ayahnya untuk pertama kali di musim dingin, dan ia- bertemu dengan Jung Jaehyun untuk pertama kalinya di musim dingin.
Taeyong tersenyum tipis dan kembali melanjutkan perjalanannya setelah sebelumnya menaikan tudung mantel nya dan membenarkan letak scraft yang ia pakai. Taeyong baru saja menyelesaikan misinya, ia di kerahkan Sehun untuk mengirim sebuah narkotika langka yang Taeyong pun tidak tau jenisnya kepada seorang bajingan bernama Kim Myungsoo. Entahlah, Taeyong tidak menyukai kliennya yang baru itu, lelaki itu terlihat mengerikan dengann tubuh kurus kering, dampak dari narkotika. Well, walaupun Taeyong seorang pengedar tapi ia tidak pernah mencoba barang menjijikan itu sedikitpun.
Pertama kali ia bertemu dengan Sehun adalah saat ia di tolong lelaki itu dari para rentenir yang terus menagih hutang padanya, saat itu Sehun menolongnya dan merawatnya. Serta memberikannya pekerjaan, Taeyong bersyukur ia tidak mati muda saat itu.
BRUK
"Ah ,maafkan saya Tuan" Taeyong sedikit terjajar kebelakang saat menabrak seorang pejalan kaki lain yang juga berjalan tergesa dari arah berlawanan.
"Oh tidak, aku yang terburu-buru"
Taeyong mendongakan kepalanya untuk melihat orang yang bertabrakan dengannya, dan saat ia menurunkan sedikit tudung mantelnya, mata bulat Taeyong membelalak terkejut dan dahinya mengerut dalam, orang ini…
"Kau-"
Seorang lelaki paruh baya yang Taeyong tabrak tadi terlihat bingung saat melihat Taeyong menatapnya seperti itu, ia menelisik dirinya sendiri saat mengira jika Taeyong melihat keanehan pada penampilannya, tapi Youngwon rasa ia tidak memiliki keanehan apapun. Yah, yang bertabrakan dengan Taeyong adalah Kim Youngwon, ayah Jongin yang baru pulang dari kantor dan berniat mampir ke kedai kaki lima di pinggir jalan ini untuk membeli tteokboki hangat pesanan istri tercintanya.
"-ayah"
Deg deg deg…
Taeyong tanpa sadar berucap lirih dan sangat pelan, wajahnya memerah menahan segala emosi yang ada. Pria paruh baya di depannya ini adalah, ayahnya.
"Kau, mengatakan sesuatu anak muda?"
Ya, ayahnya yang tidak pernah menginginkan keberadaannya. Lihat, bahkan ayahnya tidak mengingat dirinya. Ah, kapan terakhir kali Kim Youngwon yang terhormat ini menemuinya dan ibunya? Sepuluh tahun yang lalu? Atau bahkan itu hanya mimpi Taeyong belaka?
Tapi tidak, orang di depannya ini adalah ayahnya… Taeyong mengingatnya dengan sangat baik.
Wajah tegas itu, gurat tua yang menghiasi wajahnya, sangat berbeda saat terakhir kali Taeyong melihatnya. Ayahnya, yang selalu ia rindukan setiap malamnya kala ia kecil, ayah yang selalu membuat ibunya menangis. Dulu, Taeyong tidak tau mengapa ibunya selalu menangis karena ayah, tapi sekarang Taeyong bukan lagi bocah 10 atau 15 tahun yang tidak tau apa-apa.
"Saya permisi"
Ayah…
"Hey nak, kau menjatuhkan sesuatu!"
Seruan Youngwon di hiraukan Taeyong, sial! Taeyong tidak bisa menahan tangisannya lagi, ia berjalan secepat mungkin meninggalkan trotoar yang di lewatinya dan mengabaikan panggilan Youngwon. Ia ingin cepat pulang dan mengistirahatkan tubuhnya, ia lelah sekali hari ini.
Musim dingin yang selalu membawa kebahagiaan ini, hari ini malah membawa luka lama yang Taeyong selalu pendam sendirian.
"Kenapa? Kenapa aku harus bertemu dengan bajingan itu lagi!?" Taeyong memaki dalam langkahnya, ia menghapus air matanya yang berlinang. Mengingat semua perlakuan orang itu terhadap dirinya dan ibunya, sialan. Taeyong tidak akan dengan mudah memaafkan lelaki brengsek seperti dirinya.
"Lihat saja ayah, apa yang akan aku lakukan pada keluarga barumu! Lihat, apa yang akan aku lakukan pada putra kesayanganmu" dan smirk andalan Kim ah tidak, tapi Lee Taeyong mengembang di sela isak tangisnya.
.
.
.
.
.
"Mama!"
Mark bersorak girang saat melihat Luna memasuki kamarnya dengan sebuah nampan berisi sepiring cookies dan susu coklat hangat yang sengaja di buatkan oleh Luna seperti biasa sebelum anak itu tidur.
"Hallo jagoan, saatnya camilan malam. Jangan lupa gosok gigi setelah ini, okay?" Luna duduk di ranjang single milik Mark dan menaruh nampannya di kasur, ia memperhatikan Mark yang mulai lahap memakan empat potong cookies dan segera meneguk susu kesukaannya. Bibir Mark yang penuh remah cookies itu membuat Luna gemas dan dengan telaten membersihkannya.
"Sudah habis Ma"
"Nah, sekarang Mark gosok gigi yah. Aku akan menyimpannya ke dapur dan menemanimu tidur"
"Siap!"
Mark segera beranjak menuju kamar mandi di dalam kamarnya dan begitupun Luna yang juga beranjak untuk meninggalkan kamar anak itu, ia segera menuju dapur dan mencuci piring serta gelas kotor bekas Mark. Saat ia akan kembali ke kamar Mark, seseorang muncul dari balik tembok penghalang dapur dan ruang makan.
"Oh, Jongin" Luna sedikit tersentak, Jongin yang mendengar jeritan tertahan itu kemudian tersenyum canggung pada Luna.
"Hehe, selamat malam nuna"
"Ya, selamat malam Jongin. Kau haus?"
Jongin hanya mengangguk sambil mengambil minuman dingin dari kulkas, ia tidak menyadari tatapan Luna padanya. Wanita cantik itu memperhatikannya dari ujung kepala hingga keujung kaki, dan berhenti pada aera leher Jongin yang terbuka. Mengingat lelaki itu hanya menggunakan bathrobe berwarna merah marun membuat Luna bisa melihat tanda-tanda gigitan merah di sekitarnya. Uh, ulah siapa lagi kalau bukan Sehun.
"Ck, aku tidak menyangka kalian berjalan sejauh ini"
"Uhuk!" Jongin tersedak mendengar sindiran Luna, wanita itu tertawa dan kembali menggoda Jongin.
"Well, hubungan kalian baru berjalan satu bulan loh"
Luna melihat wajah Jongin memerah sempurna dan hal itu membuatnya tidak bisa berhenti menggodanya "Main yang aman ya"
"YA! NUNA!"
"Hahahaha" dan Luna hanya bisa tertawa sambil menghindari amukan beruang madu yang kini siap melancarkan serangannya. Ia segera berlari ke kamar Mark dan meninggalkan Jongin yang kini merutuki dirinya sendiri, lupa bahwa ia memperlihatkan bekas gigitan-gigitan ganas seorang Oh Sehun.
"Ini semua gara-gara si mesum Oh itu, huft"
Jongin kembali melanjutkan acara minumnya yang tertunda, ia terus meminum air dinginnya tanpa menyadari kini seseorang sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan menusuk.
Saat Jongin berbalik, barulah ia mendapati wajah Taeyong yang menurutnya sedikit menyeramkan.
"Asataga!" Jongin terlonjak dan hampir menjatuhkan botol air mineralnya, ia meneguk ludah susah payah saat melihat Taeyong tetap pada tempatnya. Ya, Jongin tau lelaki ini. Dia adalah teman Jaehyun yang dulu sempat berkenalan dengannya, hanya sekali bertemu sebenarnya.
"Ha-hai Taeyong. Eum, mau minum juga?"
Taeyong hanya diam di posisinya dengan ekspresi yang sama, hal itu lantas membuat Jongin semakin takut saja dengan pemuda ini. Ia memang jarang bertemu dengan Taeyong, tapi sekalinya bertemu, Taeyong selalu mengeluarkan hawa yang tidak menyenangkan. Jongin heran sendiri, bagaimana bisa Jaehyun tahan berteman dengan orang yang hawanya seperti pemakaman umum ini, hhh mengerikan.
"Tidak"
Suara jawaban Taeyong yang dingin dan terkesan tanpa nada itu semakin membuat Jongin takut saja. "A-ah, kalau begitu ak-aku duluan"
Baru saja Jongin hendak melangkah keluar dari dapur, tangan kekar Taeyong menahan lengannya dan menarik Jongin kembali ke posisi awalnya. Jongin yang di perlakukan seperti itu tentu saja kaget, apalagi cekalan tangan Taeyong tidak lepas sama sekali.
Jongin mendongak, mengingat ia lebih pendek beberapa centi dari Taeyong. Ini mempersulitnya, mengapa Taeyong dan Jaehyun lebih tinggi darinya yang padahal lebih tua ini.?
"Ad..ada apa?" Jongin bertanya dengan gagap, ia merasakan nafas Taeyong memburu dan cekalan di tangannya menguat membuatnya meringis.
"Tae-"
"Lupakan!"
Dan Jongin hanya mampu mengernyitkan dahinya saat Taeyong melepaskan lengannya begitu saja sambil berlalu dari dapur. Ia semakin tidak mengerti pada anak itu.
+++++HUNKAI+++++
.
.
.
Cup
Jongin mendapatkan sebuah kecupan singkat dari Sehun pada bibirnya yang hari ini mengantarnya berangkat kerja, ia juga mendapatkan usakan sayang Sehun pada rambutnya yang selalu Jongin suka. Di tambah dengan senyuman tampan lelaki itu, astaga! Jongin lupa, kapan terakhir kali ia jatuh cinta pada senyuman orang lain selain senyumannya, ew Jongin.
"Kau harus mencari pekerjaan lain nanti, sayang"
"Tidak mau" Jongin menggelengkan kepalanya lucu "Aku sudah nyaman disini, aku suka pada Onew dan-"
"Apa? Kau suka pada siapa tadi? Bisa katakan sekali lagi?"
Jongin memutar bola matanya bosan, inilah yang membuat Sehun menyebalkan, keposesifannya.
"Bukan suka seperti iti bodoh, tapi suka karena rasa nyaman antar teman kerja"
Sehun menormalkan kembali mimik wajahnya yang sempak kaget, dia terlalu sensitive jika menyangkut hal-hal berbau perselingkuhan seperti ini. Oh ayolah, kau berlebihan Oh Sehun.
"Dan aku juga nyaman dengan Kyungsoo hyung, dia sangat baik. Aku tidak mau repot-repot resign dan mencari kerjaan yang baru"
Sehun hanya tersenyum dan mengusap rambut Jongin lagi "Terserah kau princess, sampai jumpa nanti malam"
Dan Jongin mengacungkan ibu jarinya tanda menyetujui, ia melambai pada Sehun yang sudah menjauh dengan motor sportnya, hahhh terasa menyenangkan melihat Sehun bahagia seperti ini.
"Ku harap, kau akan selalu tersenyum" Jongin menggumam, memperhatikan Sehun yang sudah tidak terlihat lagi dari ujung jalan sana.
"Hayo!"
"Asataga!" Jongin mengutuk siapapun yang menganggetkannya saat ini, ia lalu menoleh ke belakang dan mendapati Kyungsoo sudah berdiri di belakangnya dengan senyuman lebar berbentuk hati ala Do Kyungsoo.
"Hyung mengaggetkanku tau" Jongin mengacuhkan Kyungsoo dan berjalan cuek menuju bar, peduli setan dengan gelar bos yang di sandang Kyungsoo. Lelaki pendek itu menyebalkan sekali menganggetkannya yang sedang terkagum-kagum melihat orang yang dia cintai, huft gagal ngedrama kan jadinya.
"Maaf deh maaf, kkk. Siapa suruh melamun di pinggir jalan sambil tersenyum entah pada siapa, mengerikan. Aku tidak mau memiliki karyawan yang gila di usia muda"
"HEY!" Jongin berseru tak terima pada ucapan Kyungsoo, sedangkan sang big bos hanya tertawa mendengar seruan melengking Jongin.
"Ck, kau ini. Pantas saja jadi ukenya, kau terlalu berisik"
Muncul persimpangan imaginer di dahi Jongin, apa maksudnya itu? Hell no, ia bisa saja meminta Sehun berada di posisi bawah, kapan-kapan Jongin akan memintanya!
"Dan sebaiknya kau enyahkan pikiran anehmu itu Jongin"
Jongin menatap Kyungsoo yang kini berdiri di sampingnya dengan pandangan heran, sang bos hanya tersenyum kaku dan menggendikan bahunya seolah tau apa yang ia pikirkan.
"Well, membayangkan kau mendominasi Sehun yang yahhh kau tau sendirilah-"
"-itu sedikit, mengerikan"
Dan Kyungsoo segera lagi setelah itu, ia tidak mau di amuk oleh Jongin yang setiap harinya seperti perempuan datang bulan, menyeramkan.
"Dasar bos menyebalkan! Awas kau!"
.
.
.
.
.
Taeyong menautkan jemarinya kaku, ia sedang ada di ruangan Park Chanyeol. Dan kini lelaki itu tengah menunggu seorang pria tinggi yang masih sibuk dengan urusannya.
Tak selang semenit, Chanyeol sudah membuka pintu ruang kerjanya membuat Taeyong sontak berdiri dari duduknya dan menyapa Chanyeol dengan senyuman, di balas senyuman pula oleh lelaki bermarga Park itu.
"Duduklah" dan setelah mendengar perintah itu, Taeyong kembali duduk di kursi yang tersedia. Ia memperhatikan gerakan Chanyeol yang kini juga ikut duduk di depannya dengan kaki kanan bertompang pada kaki kiri, menatap Taeyong dengan pandangan bertanya yang sudah Taeyong tau artinya.
"Aku tidak tau jika sebuah mitos bahwa dunia ini sempit adalah kenyataan"
Taeyong mulai membuka suaranya, ia ikut duduk dengan santai dan menatap Chanyeol yang menaikan alisnya tidak mengerti. "Kau bertemu denganku, itu takdir"
Chanyeol semakin menaikan alisnya tinggi, "Maksudmu?"
"Cih-" Taeyong berdecih sebentar sambil membuang muka sebelum kembali melanjutkan perkataannya "-aku sudah kembali bertemu dengan bajingan itu, ayahku. Dan aku kesini untuk meminta strategi yang kau janjikan"
Chanyeol membulatkan mulutnya seolah berkata 'oh' yang malah membuat Taeyong semakin kesal dengan gaya bertele-tele lelaki tinggi itu.
"Kau anak kecil yang tidak sabaran yah ternyata"
Taeyong tersenyum remeh mendengar ejekan Chanyeol padanya "Bukankah, kau juga ingin dengan segera memiliki Kim Jongin, eh?"
Taeyong menaik turunkan alisnya saat melihat perubahan wajah Chanyeol yang kini menegang. Taeyong sudah tau semuanya, tau bahwa Chanyeol menginginkan Jongin dan tau bahwa Chanyeol membenci Sehun, Taeyong juga tau semua hal tentang Sehun, Hotel ini dan juga Kai.
"Lagi-lagi Kim Jongin" Taeyong menengadah sambil mengingat wajah Jongin yang selalu canggung ketika melihatnya, menjijikan.
"Hm?"
"Yah, lagi-lagi anak itu yang merebut semuanya"
Chanyeol masih belum paham maksud Taeyong, sejujurnya Taeyong belum memberitahu semua masalah nya pada Chanyeol. Bajingan kecil itu hanya berkata jika ia bisa membantu Chanyeol untuk mendapatkan Jongin, selebihnya Chanyeol tidak tau apa maksud dari perkataan Taeyong saat itu. Dan, mungkin ini waktu yang tepat untuk mengetahui semuanya.
"Ceritakan padaku, agar aku mengerti"
Taeyong menghela nafas, Chanyeol walau bagaimanapun sudah menceritakan semuanya dengan detail, kali ini gilirannya.
"Dulu, aku tinggal di Busan bersama Ibuku. Dari awal kelahiranku, aku tidak pernah tau siapa itu sosok ayah, sampai pada akhirnya ketika aku berusia tujuh tahunan. Ayah datang berkunjung dan mengajaku serta ibu jalan-jalan seharian" Taeyong mencoba sekuat mungkin untuk tidak menangis.
"Ayah yang selalu aku pandangi dari foto, saat itu aku merasa benar-benar menikmati hidup bersama ayah. Namun itu hanya sehari, kemudian ayah pergi lagi entah kemana"
"Lalu, saat aku berusia sepuluh tahun ayah kembali berkunjung. Aku mulai menerka-nerka, kenapa ayah tidak tinggal bersama kami? Kenapa ayah hanya mengunjungiku bertahun-tahun sekali"
Chanyeol masih menjadi pendengar setia, ia hanya ingin tau apa masalah anak ini dengan Jongin ataupun Sehun. Yang pasti, Chanyeol ingin tau agar ia bisa bekerjasama dengan anak ini.
"Ayahku memberikan aku sebuah kalung, yang ku hilangkan kemarin malam khhh" Taeyong terkekeh kecil saat mengingat kalung pemberian Youngwon yang entah hilang dimana.
"Aku tidak tau jika hari itu adalah hari terakhir ayah datang ke rumah dan mengajaku bermain, aku tidak tau jika hari itu ibu akan jatuh sakit dan terus menangisi ayah. Aku tidak mengerti kenapa ibu menangisi ayah. Tapi-"
"-ketika ibuku kritis, aku tau semuanya. Ibu menceritakan semuanya padaku, bahwa ibu adalah wanita simpanan ayah. Ayah tidak sengaja menghamili ibuku, padahal ia sudah menikah dengan orang lain. Dan ia selalu menutupi kami karena pencitraannya, dan ayah yang aku ceritakan adalah…"
Chanyeol tercekat melihat kilat mata Taeyong yang menusuknya "…ayah dari Kim Jongin, orang yang kau cintai"
Apa?
Chanyeol membulatkan matanya terkejut, ia hendak membuka suara namun kembali menutup mulutnya saat seolah kata-kata yang akan ia ucapkan tidak bisa keluar.
"Jongin dan keluarganya bahagia sementara aku menderita, Jongin juga merebut Jaehyun dariku, Jongin juga kini bahagia bersama Sehun yang sudah ku anggap penyelamat hidupku. Dia merebut semuanya kau tau? Keluarga, cinta, kasih sayang, dia merebut semuanya dariku!"
Chanyeol menggertakan giginya mendengar penjelasan Taeyong yang menguras emosi itu, jadi kesimpulannya adalah "Kau ingin menyakiti Jongin?"
Taeyong tersenyum mengejek saat Chanyeol bertanya demikian "Apa, jika aku menyakitinya kau akan membunuhku?"
"Tentu tidak" Chanyeol menaikan dagunya dengan angkuh, ia menatap Taeyong yang juga menatapnya dalam diam.
"Jika dia tidak bisa menjadi milikku, maka lebih baik dia tidak menjadi milik siapapun"
Taeyong menaikan alis kirinya menatap Chanyeol " Maksudmu, lebih baik jika dia mati?"
"Itu adalah pilihan terakhir, jika dia tidak bisa menerimaku"
"Ceh, dasar licik"
Dan Chanyeol hanya tertawa mendengarnya, "Untuk sementara, kita mulai perlahan dan kau lakukan yang terbaik untuk membalaskan dendamu. Sasaran kita sama"
"Yah, sasaran kita sama"
Keduanya tersenyum misterius "Kim Jongin"
+++++HUNKAI+++++
.
.
.
Youngwon meregangkan otot tangannya saat ia duduk di kursi kerjanya yang empuk. Ini jam makan siang, namun sepertinya Taeyon belum datang untuk mengantarkan bekal seperti biasanya, ia yang sedang bersantai tidak sengaja merogoh saku jasnya yang bekas kemarin ia pakai, dan menemukan sesuatu dari sana.
"Hum, sepertinya ini milik pemuda semalam yang ku tabrak" Youngwon mengeluarkan benda berkilau itu, semalam ia tidak sempat menelitinya karena langsung begitu saja memasukan benda tersebut kedalam saku jas dan kembali pulang ke rumahnya. Namun ini waktu luang, tidak ada salahnya melihat benda dari orang yang tidak sengaja ia tabrak.
Sebuah kalung, emas putih murni dengan liontin berbentuk oval dengan bintang di tengahnya.
Kalung itu sangat indah dan panjang, seperti kalung yang sering di gunakan para lelaki pada umumnya. Tapi, ada yang aneh dengan kalung ini… tidak, bukan kalungnya.
"Kalung ini…" Youngwon menggumam pelan, ia kini duduk dengan tegap dan menelaah kalung yang di pegangnya dengan lebih teliti. Kalung itu terlihat tidak asing baginya, sepertinya Youngwon pernah melihat kalung ini tapi kapan?
Flashback
Seorang pria menuntun anak kecil berusia sekitar sepuluh tahunan yang kini memakan hot dog ukuran jumbo. Mereka berdua sedang di kaki lima, berjalan-jalan sambil sesekali jajan untuk menuruti keinginan si anak.
"Nah Taeyongie, ayah punya sesuatu untukmu" Youngwon, si pria yang menuntun anak itu menyamakan tingginya dengan Taeyong yang kini memusatkan perhatiannya dari hot dog pada ayahnya.
"Tadaaa"
"Wah, kalung" Taeyong tersenyum sumringah, ia lalu menurut saja ketika ayahnya itu memakaikan kalung yang ia kagumi pada lehernya. Taeyong tersenyum semakin lebar saat merasakan sang ayah mengecup puncak kepalanya.
"Nah, Taeyongie jaga kalung dari ayah ne? Jika kelak kau bertemu dengan ayah, tunjukan kalung ini pada ayah. Kau tidak akan melupakan wajah ayah kan sayang?"
Taeyong yang masih belum paham akan hal-hal seperti itu hanya mengangguk, yang ia bisa tangkap hanya 'dia tidak akan pernah melupakan wajah ayahnya'.
"Baik, ayah"
"Anak pintar, nah sekarang Taeyong mau beli apa lagi?"
"Aku ingin sepatu baru ayah, teman-teman ku di sekolah punya sepatu baru. Mereka bilang ini kan tahun ajaran baru di kelas empat"
Youngwon mengusak rambut anaknya gemas, anak ini. Ia menyanyanginya walaupun kelahiran Taeyong tidaklah di sengaja karena ia menghamili seorang wanita bernama Lee Sunkyu.
"Apapun akan ayah berikan pada Taeyongie, kajja!"
"Benarkah? Wah, kajja!"
Dan Youngwon tidak pernah menyangka jika ia akan menjadi ayah paling buruk bagi Taeyong setelah itu.
End Flashback
"Yeobo, kau melamun?"
Youngwon tersentak saat sebuah guncangan pelan meyadarkannya, ia menoleh ke samping dan menemukan Taeyon tersenyum padanya.
"Sedari tadi aku memanggilmu, kau tidak menyahut" Taeyon kembali tersenyum, ia mulai mengeluarkan kotak bekalnya dan menyiapkannya di meja. Tidak menyadari perubahan raut wajah suaminya yang kini memucat.
Dalam benak Youngwon saat ini banyak sekali pertanyaa, ia segera menyimpan kembali kalung itu. Ia butuh bukti lagi, ia harus bertemu kembali dengan pemuda itu, tapi dimana?
"Nah yeobo, ayo makan"
Youngwon yakin, jika takdir kini mempertemukannya kembali dengan sang anak yang ia tinggalkan belasan tahun yang lalu.
.
.
.
.
.
TBC
Ada yang terkejut? TIDAKKKKK, well i see kkkk. Seperti biasa, aku emg gk bisa bikin readersnim terkejut huhu. Tapi aku harap chap ini memiliki pencerahan kkk dan Taeyong disini manggilnya Ayah yg dalam bahasa formal korea itu "abeoji" kalo Jongin manggilnya "appa" jadi kesannya beda ya, eakkk!, Okay deh see you in next chapter ^^…
