LenkaxRinto
Warning: bahasanya jahat, alur (sangat) kecepetan, gaje, typo
Ehm… Lenka adalah gadis manis, yang kalau ngeblushing kawaii-kawaii gitu. Ngomong apa lagi ya? Sudahlah! Ann! Ganti dialog!
Ah, tapi nanti Ann bikin cerita yang terlalu fluffy-fluffy… oke, Miya!
Nanti Miya bikin cerita yang terlalu 'jahat'… aduh, Sae pusing! Miya, Ann! Ganti dialog, ya! Sae lagi flu berat nih… sakit banget…
Yosh! Miya dan Ann di sini. Kami ganti dialog Sae-san. Ah, juga ada Nao, yang membetulkan persukukataan kami. Walaupun Nao jarang muncul, dia masuk peran penting lho!
Hallo. Di sini Nao. Sepertinya Sae-san salah ketik di bagian prolognya… karena dari kesembilan chapter sebelum ini, kami belum pernah bikin ceweknya yankee di jaman SMA… gimana kalau chapter ini dijadikan yankee?
BACK TO THE STORY!
"BRENGSEK! AWAS KALAU BERANI DATANG LAGI!" kata seorang gadis berambut honeyblonde, sambil menopang sebelah kakinya di atas kursi. "JANGAN MALAK SAMA PEREMPUAN, YA!"
"Le-lenka-san kereeen…"
Lenka Kaganami, nama gadis itu. Adik dari Rin Kaganami. Walaupun dia suka berantem, tapi ia tidak punya asalan untuk langsung menghajar orang. Gadis itu gadis penegak keadilan, yang berantem demi membela yang lemah dan benar.
"APA-APAAN KAMU!?" kata seorang berandalan hendak membalas Lenka.
"AAAH! GUMIYA-SENSEI DAN KENGO-SENSEI DATANG!"
"UWAAA!" berandalan-berandalan itu kabur mendengar kedua nama guru killer itu disebutkan. "AWAS YA, KAMU!"
"Te-terima kasih," kata gadis yang dipalak itu.
"Sudahlah. Sana pergi," ucap Lenka.
Gadis itu dengan cueknya pergi meninggalkan area pertandingan, dan tanpa memedulikan bajunya yang lusuh, rambutnya yang terurai, dan kaus kaki panjang beda sebelah.
"KAGANAMI-SAN!" tegur seorang guru kepada Lenka. "CEPAT RAPIKAN PENAMPILANMU!"
"HA!?" kata Lenka dengan menatap sinis kepada guru tersebut, sehingga semua yang melihat pandangannya bisa mati beku.
"Ap-apa-apaan sikapmu itu!?" kata guru itu. "Kamu pikir sopan apa me-"
"Cerewet," kata Lenka dingin.
Gadis itu pergi meninggalkan guru yang habis kata-kata itu.
"Tidak disangka Kaganami Lenka adik dari Kaganami Rin."
"Iya, aku tidak percaya dia adik Rin, yang manis bak malaikat itu."
"Ternyata Kaganami Rin punya adik semacam Kaganami Lenka. Habislah kakaknya ditindas oleh adiknya."
Bodo amat kalian mau mengataiku layaknya aku ini hewan. TERSERAH! Tapi jangan berani sekali-kali membandingkan aku dengan kakak!
"Lenka," sapa Rin lembut. "Kenapa pulangnya sudah larut? Dan kudengar hari ini kamu berantem lagi? Ada apa? Dulu waktu kamu SMP, kamu anak yang lembut dan tidak macam-macam. Tapi kenapa sejak masuk SMA kamu jadi suka berkelahi?"
"…" Lenka memandang kakaknya dengan sinis. "It's all not in your business."
"Lenka," kata Rin menghela napas pelan. "Jika kamu egois…"
"Kakak tidak rugi apa-apa jika aku berantem. Toh yang luka aku, yang dibenci aku. Kakak tidak ada urusan apa-apa denganku," kata Lenka tajam. "Kakak cukup sebagai kakakku saja. Selebihnya itu bukan urusanmu."
"Mengapa kamu jadi jutek sekali, Lenka? Bukannya kamu adikku yang manis?" kata Rin penuh senyum.
"Bawel."
SKIP TIME…
DI TEMPAT SAE…
"Ai-sama, ayo kamu keluar!"
"Eh, tapi aku enggak bisa kalau tokohnya galak kayak gini!"
"KELUAR ATAU KAMU KUCEKIK!?" suara evil menggelegar di telinga para OC dan Ai Mitsuka.
"UGYAA! BAIKK!"
IN ANOTHER PLACE
"Len-lenka?" kata sebuah suara tengah gemetaran kayak siap dimangsa.
"Siapa?"
"Ano, aku pernah ditolong sama kamu… kemarin… saat… ehm… ditindas…" kata gadis itu ketakutan.
"Oh, kamu cewek yang dipalak itu?" kata Lenka dengan cueknya. "Apa?"
"Ehm… aku ingin mengucapkan terima kasih sama Lenka-san…" kata gadis itu membungkuk. "Terima kasih banyak. A-aku ingin memberikanmu ini… hanya permen sih… tapi kalau berkenan…"
"…" Lenka memperhatikan bungkusan permen itu. "Hadiah… ya?"
"Eh?"
"Terima kasih," kata Lenka tersenyum. Senyuman yang manis sekali. Sampai-sampai orang lain yang melihat senyumannya akan tersenyum juga.
"S-sama-sama! Ah, perkenalkan… namaku Ai Mitsuka… teman sekelasmu," kata Ai membungkuk.
"Salam kenal, Ai," kata Lenka.
Lenka berjalan cuek ke kelasnya, melempar tasnya ke bangku yang tidak bersalah itu.
"Lenka?"
"Apa?" kata Lenka menatap anak laki-laki di hadapannya kesal. "Ada urusan apa denganku, Luki dari Neraka?"
"Lenka," Luki menghela napas. "Dari aku SMP kelas 1, aku sekelas terus denganmu. Kenapa sekarang kamu berubah? Dulu kamu anak manis, bagaikan kambing yang jadi sasaran tuduhan (dapet kutipan dari mana tuh?). mengapa kamu sekarang bertengkar dan berkelahi? Kan du-"
"'Dulu' adalah masa lalu. Tidak usah melihat ke belakang. Aku muak untuk meliriknya," ucap Lenka menduduki kursinya.
"Lenka-san, ano… dipanggil… kakak kelas," kata teman sekelasnya ketakutan. Dengan malas Lenka bangun, menghampiri pria setengah cengengesan itu.
"Apa?" kata Lenka jutek.
"Kamu Lenka Kaganami, cewek yang akhir-akhir ini menghebohkan satu sekolah itu?" kata orang itu.
"Kamu mau mencari masalah denganku?" ucap Lenka kesal.
"Ternyata benar, kamu manis banget!"
.
.
.
Ohok! Semua murid yang ada di sana cengo. "HAAA!?"
"DIAM!" bentak Lenka. Semua terdiam. "APA URUSANMU KE SINI, HAH!?"
"Kamu adiknya si Rin Kagana-"
"JIKA KAU KEMARI UNTUK MEMBICARAKAN SOAL KAKAKKU, SILAKAN MENGHILANG DARI HADAPANKU ATAU AKU A-"
"Bukan bukan bukan!" kata orang itu menutup mulut Lenka. "Bukan itu yang ingin aku bicarakan. Ehem. Perkenalkan, namaku Rinto Kagami."
"Terus?"
"Aku suka padamu. Maukah kamu menjadi pacarku?"
.
.
.
Satu kelas cengo, termasuk Luki. "APAAA!?"
"KAMU GILA!?" teriak Lenka tidak percaya. "BRENGSEK! KALAU KAMU MAU MENGERJAIKU-"
"Aku serius," kata Rinto tersenyum. Lenka kehabisan kata-kata.
"Hei, mau sampai kapan kalian? Ayo, masuk!" kata Mikasa-sensei menggusur mereka.
"CEPAT PERGI!" bentak Lenka. Rinto tersenyum, dan menarik bahu Lenka.
"Tentu saja, darling," ucap Rinto sambil mengecup kening Lenka. Lenka terbalak, dan menendang Rinto keluar dari kelasnya.
"JANGAN MUNCUL DI HADAPANKU, BOCAH!"
Ai cengo di tempat. Segera dia ijin kepada Mikasa-sensei.
"Kenapa?" ucap Mikasa-sensei setelah setengah pelajaran berlangsung.
"Ano… saya… harus ke Onee-ch… Sae-sensei," kata Ai gugup.
"Cepat, ya," kata Mikasa-sensei. Ai mengangguk. Segera ia melesat ke ruang khusus guru bahasa Inggris.
"ONEE-CHAAAN!"
"Ya? Ai?" kata Sae bingung.
"Aku enggak kuat!"
"Kenapa? Sakit!?" kata Sae panik.
"Kisah ini terlalu… aduh, aku bener-bener enggak cocok, Onee-chan! Aku enggak bisa! Aku enggak punya pengalaman cinta! Aku enggak kuat kalau soal cinta, ONEE-CHAN!" kata Ai setengah merintih.
"Ehm," kata Sae seperti berpikir. "Jangan minta tolong sama aku?"
"Jeez… ONEE-CHAAAN!" kata Ai ngambek.
"CEPAT KEMBALI KE KELAS! KALAU KAMU TIDAK BISA MEMBUAT KISAH INI MENJADI CERITA YANG BAGUS, AKU AKAN MENGGANTUNGMU DI POHON JAGUNG!" kata Sae tersenyum, evil smirk.
"HUWAAA! BAIIIIIK!" kata Ai ngacir dari ruang guru bahasa Inggris.
SKIP TIME!
"Lenka-san," panggil Ai takut-takut.
"Hng?" ucap Lenka. Ai tersenyum.
"Jangan cemberut dong. Kalau senyum, jadi lebih cantik," kata Ai tersenyum manis.
"…" Lenka menatap judes. "Tidak."
"…" Ai tampak berpikir. Gadis mungil itu mengeluarkan permen dari sakunya. "Ini buat Lenka."
"Bukannya itu milikmu?" kata Lenka.
"Ng… kalau makan yang manis-manis, bikin senyum. Lenka-san jangan marah, ya. Terus baikan sama Rinto-senpai," senyum Ai. Lenka tersentuh, karena senyumannya itu sangat lembut. Gadis itu memeluk Ai.
"Terima kasih," ucap Lenka menggenggam permen dari Ai.
"…"
"YAHOOO! LENKA!"
"Berhenti memanggilku seperti itu, bodoh," kata Lenka melipat tangannya di depan dada. Rinto tersenyum.
"Isss, mukanya merah," goda Rinto sambil mencubit sebelah pipi Lenka.
"Iya, menahan kesal. Kalau aku sudah meledak, kamu akan kutendang 'anu'-mu sampai tidak bergerak," gumam Lenka. Rinto hanya cengar-cengir.
"Eh, Lenka, kencan yuk."
"…" Lenka manatap sinis. "Enggak. Akan."
"Kenapa?"
"Mustahil. Tidak mungkin. Enggak mau. Menyebalkan. Tidak akan." Lenka terus-terus mengucapkan kata-kata penolakan dengan seluruh bahasa, seluruh gaya bicara dan seluruh ekspresi.
Cuaca di wajah Rinto langsung kelam, mendung seperti mau hujan.
"Kenapa?"
"Habisnya kamu itu genit, tidak konsisten, aneh, merasa paling cakep sesekolah, norak, lebay, sok pinter, merasa digilai cewek, kurang ajar, bikin heboh sesekolah, untungnya kamu enggak bau. Kalau bau, lengkap dah hal-hal yang aku benci," kata Lenka sambil menatap ke langit-langit biru. Sedangkan Rinto? Sudah, enggak usah ditanyakan. Dia menatap ke bawah, kayak mau nangis.
Lenka menghentikan langkahnya, melihat Rinto yang tertinggal di belakang. "Ng?"
"Huuuuuh! Jahat ngomongnya!" kata Rinto cemberut. Lenka menatap sebentar, lalu melanjutkan berjalan, tanpa memandang Rinto lagi.
"Cengeng. Lebih tua, tapi cengeng."
"ENGGAK! Jangan bilang!"
"Cengeng," kata Lenka tidak berhenti menghina Rinto. Rinto menarik lengan Lenka, sehingga Lenka berhenti berjalan, dan berhenti bicara.
"Kubilang, berhenti," suara Rinto tepat di telinga Lenka, sehingga Lenka bisa merasakan hembusan napas Rinto. Suaranya terasa berat dibanding suaranya yang tadi.
"…" Lenka terdiam. Jujur, sekarang dia semakin tidak mengerti kepada Rinto. "A-"
"Ah, maaf! Kaget ya?" Rinto jadi panik sendiri. "Maaf, kebiasaan."
"…" lagi-lagi Lenka terdiam. Dia mengguncangkan pundaknya, sehingga terbebas dari cengkraman Rinto. "Dasar bocah aneh."
Mimik wajah Rinto jadi kesal. Diam-diam, Lenka tersenyum.
"Hei, hei, Lenka, kita pergi ke café itu yuk," ucap Rinto sambil menyeret Lenka masuk ke dalam sebuah café, tanpa gadis itu diberi kesempatan bicara.
"Tung-" Rinto langsung membawa Lenka ke sebuah tempat duduk.
"Duduklah," kata Rinto. Tapi Lenka tidak bergeming, tetap saja berdiri. "Ada apa?"
"Aku mau pulang."
"Eh? Kenapa?" kata Rinto bingung.
"Aku mau pulang."
"Selamat datang~" terdengar suara manis menghampiri mereka. "Mau pesan apa?"
"…" Lenka terdiam, memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Ada apa sih? Hei, Lenka!"
"Lenka?" terdengar gumaman kecil dari maid itu. "Lenka!" maid itu tersenyum. "Senang kamu ke sini! Lenka mau apa? Pasti banana split kan? Terus ba-"
Lenka menatap maid mungil itu, dan memberi tatapan dingin. "Berisik. Dasar bawel."
"Lenka? Ada apa?" kata Rin sambil berusaha menatap mata adiknya, mengalahkan sinar tajam yang seakan-akan mau keluar dari mata adiknya.
"Aku sudah bilang dari tadi kepadamu, kamu bawel. Berhenti mengusikku," kata Lenka sambil menarik tasnya, dan mendorong kakaknya menyingkir, lalu pergi ke luar café mungil itu. Rinto bingung.
"Ano, maaf ya," kata Rinto sambil menaruh buku menu, dan mengejar Lenka. "Lenka! Tunggu!"
Rinto mengejar Lenka yang melangkah cepat, dan menahan tubuh gadis itu. "Tunggu! Ada apa sih?"
Lenka terdiam. Gadis itu mengambil napas. "Aku sangat membenci Kakakku."
Rinto terdiam. "Kenapa?"
"Aku membencinya. Sangat. Melebihi siapapun. Dia merebut segalanya dariku." Lenka berkata-kata, namun tidak menatap Rinto. Badannya memunggungi pemuda setengah bingung itu. "Aku sangat benci saat ingat dia adalah kakakku."
Rinto menarik tangan Lenka dan memeluknya. Lenka langsung tersadar, dan langsung marah.
"! Ih, apaan sih!?" kata Lenka meronta.
"Habisnya kamu menangis," kata Rinto memeluk Lenka dengan lembut.
"Bodoh. Mana mungkin."
"Tapi kamu nangis," Rinto mengusap mata Lenka dengan jari telunjuknya, dan muncul air mata dari tempat yang ia usap. Lenka tersadar, dan memalingkan wajahnya yang memerah. "Sekarang siapa yang cengeng?"
Lenka tidak membalas pelukan Rinto, tapi hanya menunduk. "Suatu saat akan aku ceritakan kenapa aku membenci Rin."
"Tenang saja. Relax," kata Rinto tersenyum.
"Terima kasih," gumam Lenka saat Rinto mengantarnya pulang. Pemuda itu nyengir kuda. "Apa?"
"Enggak. Moodnya udah rapih ya," kata Rinto. Lenka bingung akan perkataan Rinto, tapi ia bertaruh untuk maksudnya baik.
Rinto melambaikan tangannya, dan Lenka masuk ke dalam rumah. Rumah yang sepi. Tanpa berkata-kata gadis itu melempar tasnya ke sofa, dan menyalakan TV dengan bosan, karena tiak ada kegiatan. Mengerjakan PR? Bukan ciri anak berandalan. Pergi keluar sampai tengah malam? Bukan sifat khas Lenka. Menerima ajakan pemuda yang menyukainya dan sebaliknya? Itu sifat asli anak perempuan. Tapi Lenka menjadi nakal seperti ini bukan untuk mencari lelaki, atau hal-hal negative lainnya. Tapi hanya untuk membuktikan, dia ingin dipandang sebagai dirinya sendiri.
Gadis itu berjalan menuju dapur. Tampak dapur yang rapi dan tertata di ujung bagian dari rumah itu. Lenka membuka kulkas, dan mengamati isinya. Dia menghela napas. Lagi-lagi kue, bekal, makan malam, dan makan siang buatan kakaknya untuk pacar kakaknya. Ya, Rin sangat pandai memasak. Namun sepertinya Len terlalu banyak menuntut. Pernah sekali Len merengek manja kepada Rin seperti ini.
"Aku hanya mau makan makanan masakan Rin!"
Sejak saat itu, Rin tidak sempat membuat sarapan untuk Lenka kadang-kadang. Rin juga suka pulang pukul 8 malam walaupun toko tutup pukul 6.30, karena Len berkata hendak makan malam di toko dengan makanan buatan Rin. Len juga manja, berkata bahwa dia ingin bento buatan Rin. Dan sejak saat itu Rin setiap hari membuat bento untuk Len. Ketika Lenka marah karena jarang di beri asupan secara rutin, Rin berkata sambil tertawa menyesal.
"Maaf ya Lenka, tapi Len meminta untuk membuatkan bekal. Jadi aku tidak ada waktu untuk membuatkannya untukmu."
Lenkapun marah. Dia marah bukan karena dia tidak dipedulikan. Tapi dia marah karena kakaknya sendiri tidak mau memperhatikan diri sendiri.
Lenka melangkah menuju kulkas, dan mengeluarkan sekantung gula, air, susu, mixer, telur, baking powder, mentega, tepung, vanili, dan sedikit garam, serta mangkuk besar, pengocok, dan pencetak. Sudah dua jam gadis itu membuat kue. Pertama gagal, karena lupa memasukkan baking powder. Kedua gagal, masih lembek. Ketiga gagal, terlalu matang. Keempat gagal, rasanya hambar. Kelima gagal, terlalu banyak garam. Keenam gagal, tidak memasukkan air… terus berlanjut sampai pukul 7 malam. Akhirnya gadis itu berhasil. Dia menaruh dua buah cupcake di atas meja, dengan sebuah surat. Gadis itupun tertidur.
"Aku pulang," kata Rin kira-kira jam delapan. "Maaf, kakak lama karena Len meminta dibuatkan pasta. Lenka?" kata Rin mencari adiknya. Suara TV masih menyala, namun adiknya itu tertidur di sofa dengan memakai celemek dan muka penuh tepung. Rin langsung berpikir, habis perang apa adiknya ini?
Gadis itu langsung ke dapur, dan mendapati loyang penuh dengan sesuatu tidak jelas, menggeliat dan berwarna hitam. Sihir hitam? Itu yang dipikirkan Rin. Saat membereskan dapur, ia melihat dua buah cupcake dengan sepucuk surat. Rin membacanya.
Kakak akan sakit jika tidak makan.
Kalimat singkat, namun cukup membuat Rin menangis. Gadis itu langsung ke tempat adiknya, dan mengelus kepalanya. "Terima kasih," bisik Rin.
Lenka terbangun. Sinar mentari masuk ke dalam jendela. "Sudah pagi ya?" gumam Lenka. Gadis itu mengusap matanya, dan sadar bahwa kakaknya ada di sebelahnya, tertidur. Lenka langsung loncat, dan menutup mulutnya dengan celemek yang masih ia gunakan. Ia berusaha berpikir apa yang terjadi. Beberapa detik kemudian, dia tersadar bahwa kemarin dia sibuk menggagalkan masakannya dan mengubahnya menjadi sihir-sihir hitam.
Gadis itu langsung mandi, dan memakai seragamnya. Tampak kakaknya sedang membuat sarapan.
Rin tersenyum manis. "Lenka, aku-"
"Aku berangkat," kata Lenka sambil nyomot sebuah roti selai kacang dan mengigitnya di bibir.
"Tunggu, dengarkanlah kata-kataku dulu," ucap Rin lembut.
"Aku tidak perlu mendengar apa-apa," kata Lenka mengetuk-ketuk sepatunya, tanpa memperhatikan Rin.
"Lenka, tunggu-"
"Aku jalan," kata Lenka membuka pintu. Namun gadis itu tertahan, dan menolehkan kepalanya sebentar. "Jaga kesehatanmu sendiri."
"Ehek. Kamu yang namanya Kaganami Lenka? Yang menghembuskan angin keadilan itu? Bisa ikut kami sebentar?" ucap beberapa orang bertubuh besar mencegat Lenka di lorong. Lenka hanya menatap mereka datar, dan memalingkan wajah, pergi. "WOI! TUNGGU!"
"APA!?" bentak Lenka tidak kalah kuat. "AKU SIBUK! AKU TIDAK PUNYA URUSAN DENGAN KALIAN! APA!? KELAHI!? BAIKLAH! DI BELAKANG SEKOLAH, PULANG SEKOLAH! SUDAH TIDAK ADA URUSAN LAGI KAN!? PERGI!"
"Ba-baik," gumam orang-orang itu pelan.
Lenka melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam kelas. Tampak Ai di sana berdiri sambil membersihkan sisa kapur bekas di blackboard. Gadis itu melempar tasnya ke bangku, dan duduk.
"Ah, Lenka," kata Ai tersenyum, menghampirinya.
"Kebetulan. Pinjem PR dong," kata Lenka cuek.
"Yang mana?"
"Semua," kata Lenka. Ai membalakkan matanya.
"Semua!? Kan ada delapan PR! Kamu yakin akan keburu? Waktu sebelum bel tinggal lima belas menit lagi!" kata Ai panik.
"Sudahlah. Daripada buang waktu untuk mengomentariku, bagaimana kalau memberikan bukumu?"
"Ah, iya!" kata Ai sambil memberikan buku-bukunya. Lenkapun menyalinnya.
"Selesai," kata Lenka. Ai memperhatikan stopwatch.
"Yak! Rekor terbaru Lenka Kaganami! 8 PR, 00:12:04!" kata Ai seperti mengumumkan perlombaan. "Pantas dicatat di sejarah sekolah! Ah, juga di buku rekor sedunia!"
"Norak," gumam Lenka. Ai mendengar itu, dan merasa ditusuk bermacam jarum yang ada di dunia. Ratum jahit, jarum rajut, jarum pentul…
"Tapi terima kasih."
.
.
.
"Aku salah dengar?" gumam Ai. Lenka mengucapkan terima kasih kepadanya? Mustahil!" kata Ai histeris.
"Dan kamu adalah anak paling norak yang pernah aku lihat," kata Lenka memberikan buku-buku kepada Ai. "Ah, dan juga ini."
"Apa?" kata Ai. Ia menerima bungkusan berisi cupcake dari Lenka. Wajah gadis itu seketika memerah.
"I-i-i-ini sebagai ta-tanda terima kasih. A-a-aku belum mencobanya, jadi be-belum tahu rasanya. Semoga enak," kata Lenka malu. Mata Ai membulat, dan langsung memeluk Lenka.
"Terima kasih! Aku menyayangimu!" kata Ai senang.
Gadis itu langsung memasukkan cupcake dari Lenka ke dalam tasnya, dan langsung mencari Sae.
"ONEE-CHAN!" kata Ai mengebrak pintu ruang guru bahasa inggris.
"Kamu ingin membuatku tuli, Ai?" kata Sae pusing.
"De- ah, ada Bakako-sensei," kata Ai menyadari kedatangan sahabat Sae itu.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja pembicaraan kalian," kata Himeko memberi waktu.
"Emangnya sensei sedang ngomong apa sama Nee-chan?"
"Ngomongin anak yang agak rada-rada, yang suka fansgirling sama pairing RinLen itu lho," kata Sae.
"Oh, si Kiiro. Aku kenal. Ada apa sama dia?"
"Rasa fansgirlingnya agak kelewatan. Kayak stalker. Kayaknya perlu di rehabilitasi, deh. Apa perlu datengin psikolog?" kata Himeko.
"Mungkin. Dia suka tiba-tiba nerjang kayak singa. Fansgirling enggak kira-kira. Ngomong-ngomong kamu mau ngomong apa?"
"Nee-chan! Aku sanggup melakukan misinya! Aku sangat senang sama Lenka!" kata Ai melanjutkan ucapannya yang tadi sempat terhenti.
"Oh? Baguslah," kata Sae tersenyum.
"Lalu, misinya sudah berhasil?" kata Himeko.
"Misi apa?"
"Misi menjodohkan Lenka dengan Rinto."
.
.
.
"Aku lupa."
"APA!?" kata Sae dan Himeko kompak.
"Ngomong-ngomong, kenapa Himeko-sensei bisa tahu?"
"Kan aku yang menyomblangin Gumi sama Gu-"
"APA MAKSUDNYA KAMU LUPA!?" Sae memotong perkataan Ai.
"Huu-huuuueeee…" Ai mulai merengek.
"KELUAR DARI TEMPAT INI ATAU AKU GANTUNG! CEPAT JODOHIN MEREKA!"
SKIP TIME
Istirahat siang.
"Ada apa kamu memanggilku?" ucap Lenka.
"Lho? Kan Lenka sendiri yang bilang mau cerita," kata Rinto cemberut. Angin di atap menerpa mereka.
"… iya juga."
"Jadi apa kamu mau cerita?"
"Kalau kamu berhenti mengoceh," kata Lenka berjongkok di atap sekolah. Sedangkan Rinto duduk memunggunginya. "Aku akan bercerita, kalau kamu tidak mengomentari apapun."
"Baik."
"Aku sebenarnya sangat menyayangi kakakku. Namun itu sudah lama. Sekarang aku amat membencinya. Karena, gara-gara dia semua orang yang didekatku munafik."
"Apa? Mun-"
"Jangan menyelaku," kata Lenka tajam. "Semua orang di dekatku hanyalah orang-orang yang hanya ingin mendekati kakakku. Mereka tidak berhenti berkata 'Adik Rin Kaganami' 'Adik Rin Kaganami'. Muak. Karena kakakku cantik, manis, imut, pintar, diidolakan, sangat sempurna, jadi mereka menganggapku sebagai jiplakkannya. Aku ingin orang-orang melihatku sebagai diriku apa adanya. Aku muak. Aku berpikir, jika aku berbuat segala sesuatu yang berbalikkan daripada kakak, aku mungkin akan diperhatikan lebih. Aku tidak keberatan diperlakukan sebagai anak yang bersifat jelek, asalkan mereka memperlakukanku tidak sebagai pengikut kakak. Dan-"
"Cukup, aku mengerti," kata Rinto memeluk Lenka.
"Apa yang kamu mengerti? Kamu tidak mengerti apa-apa!"
"Ya, aku tahu. Kamu kesepian, bukan? Aku tahu kamu menyayangi kakakmu. Namun kamu tidak mau diperlakukan sama dengan kakakmu, karena kamu adalah adiknya," ucap Rinto penuh kelembutan.
"Wah, Lenka hebat, ya!"
"Iya! Pintar!"
"Tentu saja karena dia adik si Rin Kaganami!"
"Iya, si idola sekolah yang serba bisa!"
"Pantas bisa. Memang sudah dari situnya pintar!"
Kumohon, hentikan siksaan ini. Aku tidak mau dipandang sebagai adik Rin Kaganami. Aku membenci embel-embel ini. Ini seperti sudah tertato permanen. Lihatlah aku sebagai diriku sendiri, bukan sebagai adiknya kakak.
Lenka membalas pelukan Rinto, dan menangis pelan. "Hiks… aku… tidak suka menjadi… adik Kaganami R-Rin…"
"Aku tahu," kata Rinto tersenyum. "Karena kamu sangat menyayanginya, kan?"
"Hiks… hiks… kumohon, jangan pandang aku seperti itu. Aku juga benci menjadi adiknya. Tolong jangan perlakukan aku seperti itu karena aku adiknya.."
"Lenka?" Rinto menoleh ke belakang. Tampak Lenka agak mengigau. Sepertinya dia agak sakit. "Dasar."
Lenka terbangun. Samar-samar tercium bau obat-obatan.
"Aku di mana?"
"Di UKS," kata dokter UKS. "Kamu pingsan di atap karena kepanasan. Jaga kesehatanmu juga ya."
"Baik," kata Lenka.
"Dan orang yang membawamu sangat baik, lho. Dia sampai khawatir sekali."
"Siapa?"
"Rinto Kagami. Dia sampai bersikeras untuk menungguimu. Tapi pelajan sudah mulai," kata dokter.
"Be-benarkah?" dokter mengangguk. "Aku harus berterima kasih."
SKIP TIME
Pelajaran sudah berakhir, sehingga sekolah agak sepi. Gadis enam belas tahun itu berjalan menuju kelas 3, mencari Rinto. Kelas sudah sepi, dia berdoa semoga pemuda itu belum pulang. Dia melihat Rinto aedang mengobrol dengan teman sekelasnya, sehingga Lenka berjongkok, menunggunya.
"Gimana Rinto~? Berhasil mencoba sesuatu yang langka?"
Apa maksudnya?
"IYA! Katanya kamu mau coba yang baru? Bukannya kamu sudah bosan sama cewek yang akan takluk sama kamu? Berhasil gak, sama si cewek berandalan itu?"
"…" Lenka terdiam, mendengarkan.
"Kamu kan sudah gonta-ganti cewek, sekali-kali kasih ke kita dong!"
"Iya! Siapa aja boleh deh!"
"Gimana yang terakhir kamu dekati ini? Kalau enggak berhasil, buat aku aja yah! Kebetulan, adiknya si Rin Kaganami."
"Tapi denger-denger adeknya itu ganas lho."
"Masa sih? Bukannya pas SMP dia cewek penurut dan manis?"
Suara Rinto tidak terdengar.
"Lumayan, adeknya, si Lenka Kaganami, kan cantik, terus berprestasi! Lumayan~"
"Kamu enggak butuh, kan, Rinto? Cewekmu kan banyak."
"…. Yah…."
Lenka menjatuhkan bungkusan yang ia pegang. Ternyata benar Rinto hanya mempermainkannya. Rinto… mengecewakan. Lenka langsung berdiri, dan naik ke atap.
Lenka berjongkok, menatap ke luar gerbang sekolah. Gadis itu berada di atap, sambil menatap ke bawah.
"Lenka? Sedang apa kamu di sini? Aku mencarimu, tahu! Ayo pulang bareng!"
"Tidak," kata Lenka. "Enyahlah."
"Hei."
"Pergi. Aku membencimu. Jauh dari kakakku."
Rinto menggaruk kepalanya, bingung. "Ada apa sih?"
"Enggak penting buatmu. Kamu brengsek. Dan sikap brengsek jauh kubenci daripada list daftar-daftar sifat yang kubenci," kata Lenka masih berjongkok.
"Kenapa, sih?"
"Sudah aku bilang, kamu brengsek! Jangan cari aku!" bentak Lenka. Lenka terus menggumam tanpa memedulikan Rinto. Tiba-tiba Rinto memeluknya dari belakang. "MAU APA LAGI!?"
"Habisnya Lenka kalau dipeluk pasti jadi tersenyum. Ayo, aku mau melihat senyumanmu," kata Rinto nyengir.
"SUDAH BERAPA CEWEK YANG KAMU PELUK, BRENGSEK!?" bentak Lenka kasar. "AKU MUAK MELIHAT WAJAHMU! MUSNAH DARI HIDUPKU, SEKARANG!"
"Apa maks-"
"AKU TAHU SEBELUM KAMU BERKENALAN DENGANKU, KAMU SUDAH BANYAK PACAR PEREMPUAN! AKU TAHU KAMU MENDEKATI AKU UNTUK MAIN-MAIN, BUKAN!? KAMU INGIN MENCOBA SESUATU YANG LANGKA SEPERTI AKU, BUKAN!? KUBILANG, AKU BUKAN BARANG! JADI TIDAK BISA DIPAKAI DAN DICAMPAKKAN SEMUDAH ITU! AKU SUDAH BERBAGI KENANGANKU DENGANMU, KARENA AKU PERCAYA KEPADAMU! DAN APA HASILMU!? MEMBOHONGI AKU!?" kata Lenka mendorong Rinto menjauh. "Sebelum perasaan ini meledak dan menginjak 'anu'-mu, silakan enyah dari wajahku dan anggap semua ini tidak pernah terjadi."
"Lenka, kamu dengar semua?" kata Rinto mengerutkan alisnya.
"Dan jangan pernah memanggil namaku. Menjijikan," kata Lenka pergi.
"Lenka, apakah kamu mendengar semuanya?"
"…" Lenka terdiam. "Secara keseluruhan, tidak. Tapi secara singkatnya dan intinya, ya."
"Apakah kamu mendengar perkataanku di pembicaraan waktu itu?"
"…" lagi-lagi Lenka terdiam. Gadis itu menggeleng.
"Artinya kamu tidak mendegar 'inti' dari percakapan itu."
"Tanpa mendengar itu aku sudah tahu."
Rinto tersenyum, dan menarik tangan Lenka, lalu memeluknya. "Kamu mau dengar intinya?"
"Tidak butuh. Jadi LEPASKAN AKU!"
"Dengar, aku… memang, aku sudah berpacaran dengan banyak gadis, tapi belum ada yang aku peluk seperti ini. Yang membuatku berdebar seperti ini, tidak ada. Aku hanya main-main. Only just… okay, we are couple, now. Dan selesai. Tidak ada lanjutan-lanjutannya. Selama 'pacaran' aku tidak pernah pergi pulang bersama, jalan-jalan, dan berbagi cerita. Hanya denganmu saja. Dan kamu bukan pacarku. Aku hanya menyukaimu," kata Rinto berbisik.
"…" Lenka terdiam. "Dasar tukang gombal."
"Masa? Aku hanya begini sama Lenka lho. Sama orang lain enggak. Belum pernah aku senyaman ini sama cewek. Mungkin aku suka sama Lenka?"
"Mungkin."
"Lenka suka enggak sama aku?"
"Biasa aja, tuh."
"Eh? Masa sih?"
"Hm."
"Padahal aku suka sama Lenka lho. Dan berharap Lenka mau jadi pacarku."
.
.
.
Lenka terdiam, berpikir untung ruginya. "Kalau kita pacaran, kita akan apa?"
"Yah, berbagi suka duka bersama, kencan, gandengan, peluk, belajar bareng, makan siang, ciuman, nanti tunangan, terus kawin, melakukan ini itu, ngurusin rumah tangga, punya anak," Rinto sibuk ngerocos dan Lenka sudah malu sendiri.
"Su-sudah cukup! Aku malu sendiri yang dengar!" kata Lenka membekap mulut Rinto.
"Jwadih? (jadi?)"
"Kalau kamu mengecewakan aku, kita berpisah."
"A-"
"Dan dilarang ngomongin soal kawin, punya anak, berumah tangga dll! Aku tidak suka!"
"A-"
"Dan aku enggak mau ciuman cepat-cepat. Setiap hari kamu harus mengantarku pulang. Harus berkata jujur kepadaku. Jika tidak, kepalamu akan aku belah."
"Apa itu berarti, kamu menerimaku?"
"Dan tidak boleh menyela perkataanku!" kata Lenka. Rinto sangat senang, dan memeluk Lenka dengan erat.
"Horeee!" kata Rinto gembira. "Terima kasih Lenka!"
"Kamu harus menaati itu semua."
"Berarti aku juga harus buat peraturan untuk Lenka."
In Another Place
.
.
.
.
.
"CEWEK SIALAN! DIA MEMBODOHI KITA!" teriak para berandalan setelah menunggu Lenka selama dua jam.
In Another Place (Again)
Ai sedang dengan senangnya memakan cupcake.
"Ai? Sedang apa kamu? Dan gimana misinya?"
"Tenang aja, Nee-chan!" kata Ai sambil mengacungkan jempolnya.
END RINTOXLENKA
SaeSite
Sae: makasih yang sudah ngikutin cerita ini! Maaf ya Kiiro, enggak keluar. Soalnya fict ini Sae bikin ngebut dan ternyata cerita ini wordnya paling banyak dibanding chapter lain. Ai-chan, Sae enggak bisa minta maaf karena kita sudah hidup satu rumah selama 12 tahun, dan Sae sangat tahu sifatmu itu kayak gimana. Minna-sama, jangan berhenti membaca fict ini! Karena Sae akan bikin sequelnya di chapter depan. Tapi mungkin hanya satu chapter. Sae juga agak bingung, soal cerita tentang para authornya atau para charanya.
Nori: Nao-neechan, kenapa nangis?
Nao: Sae-san tidak berhasil mengalahkan orang itu, dan kita enggak tahu akan ada penghuni tempat penuh kekejaman inin atau enggak… #nangis#
Shou: #diem-diem bersyukur#
Sae: ish, Sae aja biasa aja kok. Kok Nao yang sedih? Lemon! RnR!
Lemon: RnR?
