WARNING!
BOBXBOY ALIAS BOYS LOVE ALIAS YAOI (If U don't like, better you don't read my own story)
CERITA ALAY/LENJEH/LEBAY/ALA SINETRON/ALUR PASARAN/BAHASA MASIH ACAK-ACAKAN.
Queen of Typos.
HUNHAN
RATED: EM!
©Chryssans289
.
.
.
[Luhan's POV]
Enam tahun berlalu. Rasanya begitu berbeda dari terakhir kali aku merasakan suasana hangat dan mentari yang cerah disana. Semuanya berubah, ruangan berbau obat dengan dominasi warna putih tak lagi menjadi tempatku menghabiskan waktu. Tergantikan dengan kamar minimalis berwarna grey untuk dindingnya dan dipadu warna putih yang menjadi salah satu warna favoritku. Ada jendela kaca besar yang dapat digeser langsung menghadap ke halaman depan, Yifan gege yang menyarankan—dia bilang agar aku tidak bosan. Aku tidak mengerti, kebiasaanku berdiam diri dikamar muncul sejak enam tahun yang lalu, aku selalu merasa takut untuk pergi keluar. Aku takut bertemu dengan orang lain. Aku takut aku akan mengenal banyak orang dan kemudian menjadi akrab. Aku takut jatuh cinta lagi. Dan aku takut untuk ditinggalkan.
Tidak siap.
Aku tinggal bersama Yifan gege dan Zitao di rumah sederhana milik mereka. Sebenarnya aku cukup ragu untuk meninggalkan Seoul dan memilih pergi ikut gegeku ke Belanda. Namun setelah kupikir, tak ada lagi alasan untuk membuatku tetap tinggal.
Oh Sehun?
Aku rasa aku sudah bisa melepasnya, meski tidak sepenuhnya. Sudah enam tahun berlalu, dan umurku sudah menginjak usia dua puluh tiga tahun. Yifan gege berulang kali memaksaku untuk pergi keluar sesekali, mengakrabkan diri dengan orang lain katanya. Tapi aku selalu menolak dengan alasan terlalu malas, meski sebenarnya bukan itu. Aku takut—aku takut kejadian serupa akan terulang kembali. Dicintai, disayangi, namun akhirnya ditinggalkan pergi.
Oh, ngomong-ngomong soal gegeku. Dia sudah menikah dengan Zitao empat tahun yang lalu. Aku dan gege memutuskan untuk pindah ke Belanda satu tahun lebih cepat sebelum penikahan gege karena dia sendiri yang mengusulkannya padaku. Dia bilang jika aku tetap tinggal di Seoul aku akan semakin tersakiti. Dan tentu saja aku tidak bisa memberikan alibi, kupikir Yifan gege ada benarnya. Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan Seoul, ah tidak, meninggalkannya dan semua kenangan yang pernah aku ukir bersamanya.
Aku tidak pernah memberitau jika aku akan pergi karena kupikir diapun tidak akan peduli. Dia sudah bahagia, dan aku turut bahagia akan itu. Aku tak pernah menyalahkannya meski hatiku sudah ia rampas dan tak pernah ia kembalikan. Bagiku mencintainya dalam semu sudah cukup.
Enam tahun berlalu dan rasa ini bahkan tidak hilang sama sekali. Aku cukup marah pada diriku sendiri. Tapi percaya atau tidak, ketika membayangkan wajahnya, aku merasa semangatku meningkat seratus persen, semangat yang membuatku tetap menjalani hidup. Aku sudah berjanji padanya jika aku harus bahagia. Meski pada kenyataan kebahagiaan yang kurasakan tak benar-benar lengkap tanpa kehadiran dan pelukannya yang menenangkan.
Pandanganku menatap kearah halaman depan. Rumput-rumput yang biasanya berwarna hijau segar kini sedikit menguning. Dedaunan dari pohon maple tua yang berwarna oranye kemerahan berguguran hingga menutupi sebagian halaman. Disana aku melihat ada Zitao dan Zach—anak Yifan dan Zitao—yang masih berumur enam tahun tengah bermain lempar bola baseball. Aku tersenyum tipis, tak menyangka jika Zitao akan punya aura keibuan yang begitu kental.
Soal Yifan ge dan Zitao, usia pernikahan mereka yang menginjak empat tahun sudah lebih dari cukup dan dianggap layak untuk memiliki seorang anak. Usia pernikahan yang terlalu muda tidak dianjurkan untuk mengadopsi anak, apalagi Yifan ge dan Zitao merupakan pasangan sesama jenis yang dikhawatirkan akan mendapat banyak masalah kedepannya, dan hal itu bisa saja membawa dampak buruk untuk sang anak adopsi. Akhirnya pasangan itu bisa mendapatkan seorang bocah imut dengan bola mata berwarna ash grey dari panti asuhan yang disarankan oleh salah satu dokter anak disini dengan melewati prosedur yang cukup berbelit-belit.
Dan beruntungnya Zitao tidak banyak mengeluh, ia menyayangi Zach melebihi dirinya sendiri begitupun Yifan ge. Cukup disayangkan terkadang Yifan ge harus bolak balik China, Korea dan Belanda untuk mengurusi perusahaannya. Pun begitu, hubungan mereka tetap harmonis dan kalau boleh jujur aku sangat merasa iri. Bagaimana gege memanjakan Zitao bagai seorang putri, mengecup bibir Zitao setiap pagi ketika gege hendak pergi untuk mengurus beberapa urusan kantor yang bisa ia selesaikan lewat kantor cabang. Gege menjalin kerjasama dengan satu perusahaan di Belanda. Kini gege menjadi orang yang begitu sibuk dan jarang menghabiskan waktu dirumah.
Meskipun sudah lebih dari cukup, namun Zitao tidak serta merta hanya diam berleha-leha dirumah. Meski dilarang oleh Yifan gege, Zitao tetap bersikeras untuk melakukan sesuatu yang menurutnya berguna dengan catatan pekerjaan itu harus dilakukan di rumah. Dan Zitao menyetujuinya. Zitao menyelesaikan kuliah dengan jurusan sastra kurang dari empat tahun dan keluar sebagai salah satu sarjana dengan nilai terbaik. Aku tidak menyesal sudah merestui Yifan ge dan Zitao menikah. Zitao punya paket komplit untuk Gege. Baik, keibuan, dan cerdas.
Zitao bekerja menjadi seorang novelis dan blogger. Ia sudah menerbitkan tiga novel dan belasan buku dalam kurun waktu dua tahun. Beberapa diantaranya menjadi best seller, laris dipasaran. Dan tanpa disangka ia menggaet diriku sendiri sebagai editor yang notabene begitu buta akan hal-hal seperti ini. Tapi dengan telaten ia mengajariku, dan dalam waktu beberapa tahun aku sudah menjadi editor kepercayaannya—sekaligus penghematan biaya untuk menyewa editor, begitu katanya.
Aku tersentak ketika merasakan lengan besar melingkari leherku dari balik kursi yang aku duduki. Dan sebuah kecupan lembut di bibirku mampu membawa seluruh kesadaranku kembali sepenuhnya. Aku merengut kesal dan menjitak kepala bersurai hitam yang kini berjongkok di depanku.
"Sudah kubilang jangan terlalu sering melamun." suara beratnya mengisi kesunyian di dalam kamarku.
Mataku kembali menatap kehalaman, Zitao dan Zach masih bermain disana.
"Berhenti menciumku ge. Kau bilang kau tidak akan menciumku lagi."
"Kenapa? Zitao bahkan tidak melarang. Dia bilang jika itu adalah tanda kasih sayang antara kakak dan adik." Yifan tersenyum, dan senyumannya membuatku semakin ingin angkat kaki dari hadapannya sekarang juga.
"Terserah gege saja. Ngomong-ngomong, gege terlihat semakin tua dengan rambut hitam." Aku berbohong, berniat menggodanya.
"Hey, Zitao menyukainya. Seleramu saja yang aneh." Aku melihat dia berdiri. Leher kecilku mendongak untuk menyesuaikan.
"Kenapa kau kesini?"
"Oh, aku hampir lupa. Besok aku harus pergi ke kantor dan Zitao akan melakukan pertemuan dengan penerbit novelnya yang ke empat. Dan kupikir dia tidak akan bisa menjemput Zach dari sekolah. Jadi aku—.."
"Tidak."
"Kenapa?" Yifan meninggikan suaranya.
"Maaf ge, aku tidak bisa. Kau tau kan aku tidak pernah menginjakkan kaki dari rumah kecuali malam hari. Itupun jika Zitao memaksa." —Aku ingin, tapi ketakutanku meruntuhkan semuanya.
"Luhan, bukankah sudah gege katakan bahwa semua akan baik-baik saja. Kau hanya terlalu paranoid." Yifan kembali berjongkok, menggenggam jari-jariku.
Aku menimbang, sudah terlalu sering aku merepotkan semua orang. Kupikir akan sangat buruk jika aku menolak permintaan gegeku sendiri. Terlebih dia adalah orang yang mengorbankan segalanya untukku.
"Baiklah, aku akan menjemput Zach besok."
Yifan tersenyum, genggaman jarinya mengerat, "Terimakasih. Dan cobalah untuk kembali membuka hatimu. Barangkali kau dapat melabuhkan hatimu pada seseorang."
"Terimakasih atas saranmu ge, tapi tidak. Kau tau kan jika hatiku sudah lama hilang? Pergi bersama orang yang menjadi cinta pertamaku." Aku merasakan perasaan ini lagi. Perasaan yang begitu menyesakkan dada. Dimana aku merindukan orang itu namun aku tidak dapat menemukan kehadirannya.
Sudah lama aku tidak pernah tidur dengan tenang. Hampir setiap malam mimpi buruk selalu mendatangiku. Ketika mimpiitu datang, aku akan berteriak begitu kencang hingga seisi rumah terbangun. Gege akan mendobrak pintu dan memeluk tubuhku yang basah oleh keringat, mengusap air mataku yang bahkan tanpa aku sadari sudah membasahi pipi bahkan sampai hingga turun keleher.
Dan saat Yifan gege tidak ada, aku akan menolak pelukan Zitao dan hanya bisa meringkuk seraya memeluk boneka rusa kecil pemberiannya. Itu terjadi hampir setiap malam dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Mungkin efek karena aku begitu merindukan sosok itu.
"Baiklah. Aku juga sudah terlalu sering mengatakan ini. Tapi setidaknya cobalah. Gege ingin kau bahagia."
"Aku bahagia gege." Dia pasti sadar jika aku tengah berbohong. Tapi gege tidak menyela lebih lanjut, dia mengangguk pelan dan bangkit berdiri. Tak lupa mengecup sudut bibirku pelan, kemudian melangkah keluar dari kamarku.
"Kuharap apa yang kau katakan itu benar Lu.."
Aku hanya diam, tak berniat membalas bahkan ketika pintu kamarku tertutup tanpa suara. Aku benci ketika air mataku mulai mengalir hanya karena aku kembali mengingat sosok itu. Aku membenci diriku ketika aku kembali mejadi sosok Luhan yang lemah—
Seperti enam tahun yang lalu.
[Luhan's POV End]
.
.
.
.
Seoul, South Korea.
03.02 a.m KST
Suasana termaram dalam sebuah kamar apartemen ditambah dengan guyuran hujan dan suara gemuruh petir bersahut-sahutan membuat suasana makin mencekam. Namun hal itu bahkan tak mengganggu sang pemilik kamar sama sekali. Pria dewasa bersurai hitam itu tak bisa tidur meski seharian penuh tubuhnya ia paksakan untuk bekerja. Ia pikir dengan kondisi tubuh yang hampir remuk akan membuat matanya terpejam dan segera menyelam kealam mimpi. Tapi sungguh sial ia malah terjaga seperti orang bodoh. Padahal ia merupakan seorang dokter yang sering menyarankan kepada orang lain bahwa tidur yang baik adalah berkisar antara 7 - 8 jam.
Ia menghela napas pelan, tangannya tergerak untuk membuka laci kecil dibawah nakas. Mengambil sebuah kotak kecil berwarna biru yang sejak enam tahun lalu tak pernah berpindah tempat. Ia membukanya lagi, mengambil sebuah surat kecil yang baru ia sadari berada disana ketika sang pemberi bahkan sudah pergi meninggalkannya.
Mungkin sudah puluhan atau bahkan ratusan kali ia membaca surat itu. Tulisan rapi diatas sebuah kertas warna biru itu sedikit memudar sejak pertama kali ia buka. Hampir sama pudarnya dengan keberadaan sang penulis. Sehun merindukannya, merindukan sosok yang menulis surat dengan isi yang mampu membuat hatinya berdenyut sakit. Pelan-pelan ia buka lipatan surat kecil itu, tak ingin merusaknya barang sedikitpun. Kembali membaca isinya, seolah itu akan membawanya pada sosok yang selama ini diam-diam ia rindukan.
.
.
Sehunie, ini Luhan. Mungkin aku tidak akan menulis banyak kata yang bisa membuatmu mati bosan membacanya. Aku hanya ingin berterimakasih karena selama ini Sehunie sudah banyak membantuku. Dan maaf karena terlalu sering merepotkanmu juga. Kuharap kau bahagia untuk sekarang dan seterusnya. Kupikir hanya itu yang bisa aku tuliskan. Jangan lupakan aku!
Sehunie, meeting you was fate, becoming your friend was choice, but falling in love with you was cempletely out of my control. I Love You.
-Luhan
.
.
[Sehunie, bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, tapi jatuh cinta denganmu benar-benar diluar dayaku. Aku mencintaimu.] –Luhan
.
.
Seperti kebiasaan, setelah membaca surat itu Sehun akan mengecup cartier yang melingkar apik ditangan kirinya. Cartier pemberian Luhan dihari pertunangan sekaligus hari ulang tahunnya. Benda yang masih menghubungkannya dengan Luhan. Ia juga masih menyimpan foto mereka di bukit ketika melihat bintang enam tahun yang lalu. Ia baru berani memasang foto itu di nakas baru-baru ini. Awalnya ia enggan karena foto itu akan membuatnya selalu mengingat Luhan. Namun terkadang rasa rindu yang terlalu membuncah selalu memaksa untuk dipuaskan. Dan dengan melihat foto itu, mampu menghilangkan sedikit rasa rindunya.
Sehun menoleh ketika mendengar ketukan kecil dari pintu kamarnya. Ia dapat melihat surai hitam menyembul dari celah pintu kamar, kemudian menampilkan sosok imut berbalut kemeja dengan motif superman melangkah kearahnya dengan gaya yang imut. Bocah itu terisak seraya memeluk boneka bambi yang bahkan lebih besar dari tubuhnya. Sejenak boneka itu mengingatkan Sehun akan seseorang.
"Ziyu? Ada apa?" Sehun buru-buru membawa tubuh kecil Ziyu masuk kedalam selimut. Mengelus kepala si kecil dan membawanya kedalam pelukan hangat.
"Hiks.. Z..Ziyu mimpi buluk Daddy.." suaranya tenggelam karena kepala kecilnya terbenam dalam dada bidang Sehun.
"Benarkah? Apa Ziyu mimpi ada monster yang akan memakan Ziyu lagi?"
Sehun merasakan kepala jagoan kecilnya menggeleng pelan, "Ziyu mimpi Daddy akan meninggalkan Ziyu."
"Mana mungkin. Ziyu kan anak kesayangan Daddy dan Daddy akan selalu ada untuk Ziyu."
"Benalkah?" Ziyu mendongak menatap ayahnya dengan mata berbinar.
"Tentu saja. Ziyu harus jadi anak pintar agar Daddy tidak meninggalkan Ziyu. Oke?"
"Um.." senyum tipis terulas dari bibir Sehun ketika merasakan bocah dalam pelukannya mengangguk semangat.
"Bagus. Sekarang tidurlah kembali. Pagi masih lama sayang."
"Daddy.. bisakah kita mengunjungi Mommy besok?"
Lama Sehun terdiam, namun kemudian ia mengangguk, "Ya. Sekarang tidurlah. Besok kita akan mengunjungi Mommy."
"Telimakasih Daddy.."
"Hm.."
.
.
.
Mercedez hitam itu berhenti tepat didepan sebuah rumah minimalis berwarna putih dengan halaman yang asri karena banyak bunga dan berbagai pohon ditanam disana. Pagar berwarna putih itu terbuka lebar, seakan menyambut pemilik mobil.
Sehun mengambil Ziyu dari jok belakang, kemudian menggendongnya masuk ke halaman rumah tersebut. Mata tajamnya menatap datar ke sekelilng halaman, seolah tak asing lagi dengan pemandangan yang ia lihat sekarang. Tangannya mengepal untuk mengetuk pintu beberapa kali. Tak berapa lama pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita cantik mengenakan apron abu-abu dan memegang sebuah spatula. Begitu sempurna namun kantung mata yang begitu kentara memudarkan sedikit aura kecantikannya.
"Mommy!" Ziyu buru-buru turun dari gendongan Sehun dan berpindah kedalam pelukan wanita yang dipanggil Mommy. Wanita itu tak kalah antusiasnya, memeluk dan menciumi wajah Ziyu seolah mereka sudah lama tak bertemu.
Selesai dengan acara berpelukan, wanita itu memerintahkan Ziyu untuk masuk terlebih dahulu dan Ziyu dengan senang hati melakukannya. Kini tinggal dirinya yang berhadapan dengan Sehun.
"Masuklah Sehun, kupikir kau ingin sedikit berbncang denganku?" wanita itu mempersilahkan dan Sehun hanya mengangguk pelan. Ekspresinya tetap datar namun tidak dingin. Bagaimanapun Oh Sehun masih menghormati wanita di depannya. Keyakinan yang selalu dipegang bahwa ia harus selalu menjunjung tinggi kodrat wanita tak bisa ia lepas begitu saja meski wanita yang kini sudah duduk di depannya sempat menorehkan rasa kecewa dimasa lalu yang membuatnya hampir menghilangkan kepercayaan pada dirinya sendiri.
"Mommy.. Ziyu lapallll.." wanita itu tersnyum melihat putranya begitu aktif dan tumbuh sehat. Ia bersyukur Sehun merawatnya dengan baik.
"Aku akan mengambilkan makanan untuk Ziyu. Kau ingin minum atau makan sesuatu Sehuna?"
Sehun menggeleng pelan. Ia menarik Ziyu kedalam pangkuannya, "Tidak, ambilkan saja untuk Ziyu. Aku sudah sarapan."
Mengangguk sekilas, wanita itu melenggang pergi kedapur.
Pandangan matanya memindai ke sekeliling ruangan. Tak banyak berubah sejak ia mengunjungi rumah ini dua bulan yang lalu. Ruangan dan suasana yang masih sama. Didominasi oleh kehampaan dan sunyi. Terlalu kosong untuk rumah yang ditinggali sendiri.
Atensi Sehun teralih ketika melihat wanita cantik di depannya membawa sebuah mangkuk kecil dan segelas susu. Tanpa diperintah Ziyu turun dari pangkuan sang ayah dan menyambar mangkuk kecil ditangan wanita cantik yang ia panggil Mommy.
"Ziyu bisa makan sendiri?"
"Ne Mommy. Ziyu kan sudah besal.."
"Anak pintar. Nah, makanlah yang lahap agar Ziyu cepat besar ne."
Suasana kembali hening. Kedua sosok dewasa itu terdiam, membiarkan Ziyu yang duduk beberapa mater dari mereka tengah berkutat dengan buburnya dilantai.
"Jadi, apa kedatanganmu kesini hanya untuk mengantarkan Ziyu?"wanita itu memulai percakapan. Apronnya sudah dilepas hingga menampilkan setelan kemeja polos berwarna hitam yang tercetak pas pada tubuh langsingnya.
"Sebenarnya tidak. Kebetulan aku mendapat jatah libur dua minggu. Dan kupikir aku sangat jarang menghabiskan waktu bersama Ziyu, dia sering mengeluh kalau bibi Han tidak bisa diajak bermain. Jadi kupikir aku akan mengajaknya liburan keluar negeri."
"Oh, itu bagus. Aku setuju-setuju saja jika kau membawanya." Bibir dengan polesan lipstick pink itu mengulas senyum tipis. Lirikan matanya beralih kearah Ziyu yang sudah menghabiskan setengah dari isi mangkuk.
"Hm, ya. Apa kau mau ikut juga? Aku tidak keberatan, lagipula sepertinya Ziyu akan senang jika kau ikut." Terdengar nada canggung dalam suara Sehun. Bola mata sehitam arang itu terlihat sedikit bergerak acak.
"Tidak. Aku tidak bisa. Kau tau kalau aku baru saja membuka bisnis toko pastry yang hanya di kelola oleh Eomma dan diriku. Aku takut Eomma tidak bisa menanganinya seorang diri. Apalagi bulan ini sedang banyak-banyaknya pengunjung. Lagipula, aku tidak ingin membuatmu malu dan jadi bahan gunjingan orang jika mereka melihatmu berjalan dengan seorang—" wanita itu terdiam. Kepalanya menunduk hingga membuat surai berwarna coklat itu terurai menutupi sisi kanan dan kiri wajahnya.
"Yeri-ya, kau tau kan aku tak pernah keberatan dengan hal itu?"
"Tetap saja Sehun. Aku tak bisa. Sudah hampir enam tahun dan masih saja ada orang yang mencelaku—kau tau itu. Dan bagamana kau bisa berbicara dengan begitu mudah ketika namamu ikut terseret, kau bahkan hampir kehilangan pekerjaanmu."
"Tidak usah merasa bersalah seperti itu. Semua manusia pernah melakukan kesalahan dan kau adalah salah satunya. Jika aku marahpun semua tidak akan bisa diputar ulang. Semua sudah terjadi dan tugas kita adalah melanjutkan apa yang menanti dimasa depan." Sehun memikirkan hal ini matang-matang. Ia sudah dewasa dan sudah mengerti bagaimana seharusnya ia bersikap. Pikiran yang tenang adalah hal yang paling utama, emosi tidak akan menghasilkan apapun.
"Terimakasih kalau begitu. Sekali lagi aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bisa ikut karena kendala toko pastry tadi."
Sehun mengangguk singkat, "Baiklah kalau begitu. Aku juga tidak bisa memaksamu. Ngomong-ngomong aku ingin meminta sedikit saran. Aku tidak terlalu baik dalam hal seperti ini. Aku berencana hanya akan membawa Ziyu untuk pergi liburan. Dan selama itu aku tidak membawa pengasuh atau apapun, Bibi Han akan aku biarkan menjaga apartement selama aku pergi. Beberapa hari yang lalu aku menawarkan beberapa destinasi tujuan untuk Ziyu melalui situs yang disarankan oleh Chanyeol. Aku memberikannya pilihan, Hongkong, Macau, Belanda, atau Jepang. Aku pikir Jepang bagus karena disana surganya anime. Kupikir dia akan suka. Kalau menurutmu bagaimana? Aku takut pilihanku tidak sesuai dengan selera Ziyu."
"Kau yang menghabiskan waktu lima tahun untuk merawat Ziyu Sehuna, semestinya kau yang lebih mengerti apa yang disukai atau tidak oleh Ziyu. Tapi sebagai ibu aku mungkin bisa memilihkannya. Kupikir Jepang bagus. Hongkong juga, kau bisa mengajaknya ke Disney Land kalau disana. Cuacanya juga bagus, jadi kau tidak perlu akut Ziyu akan sakit karena perbedaan cuaca yang terlalu mencolok."
"Yah, kau benar. Jepang atau Hongkong, tapi sayangnya saat itu Ziyu punya pilihan yang lain. Dia menunjuk gambar kincir angin besar dengan tulisan Belanda dibawahnya. Awalnya aku tidak mengerti kenapa dia ingin kesana. Ternyata dia bilang ingin melihat salju. Padahal saat itu sudah kukatakan bahwa ini belum saatnya salju untuk turun disana. Tapi dia bersikeras ingin pergi. Jika dia tidak bisa melihat salju dia ingin melihat kincir besar itu katanya." Cerita Sehun selesai dengan kekehan kecil sebagai penutup.
"Ini akhir September Sehuna, dan disana pasti sudah musim gugur. Kau harus menyiapkan banyak baju hangat untuk Ziyu."
"Baiklah. Aku akan mengingatnya."
"Hm. Aku akan memberitahumu apa-apa yang harus kau bawa. Nanti aku akan menelponmu. Kau bisa memberitahu kapan kau akan berangkat. Dan tolong jaga Ziyu."
"Tentu, aku tidak mungkin menelantarkan anakku sendiri."
"Kau benar." Yeri melirik Ziyu yang kini tengah bersandar di kaki sofa kecil dengan kepala yang terantuk-antuk. Sepertinya anak itu mengantuk setelah menghabiskan sarapan keduanya sepagian ini.
"Ziyu terlihat sangat mengantuk. Kau bisa membawanya pulang atau membiarkan ia tidur disini dulu." Yeri mengangkat tubuh kecil Ziyu dalam gendongannya. Mengelus surai lembut sang anak hingga membuat bocah dalam gendongannya semakin menyamankan diri.
"Mungkin aku akan menitipkannya padamu dulu. Aku harus ke rumah sakit untuk mengurus beberapa hal dengan Chanyeol. Aku akan mengambil Ziyu nanti."
"Tentu. Berhati-hatilah."
Wanita cantik itu mengantarkan Sehun sampai ke pintu utama. Terus disana sampai mobil mercedez hitam Sehun tak lagi terlihat. Setelah itu Yeri melangkah kearah kamar untuk membaringkan Ziyu yang sudah sepenuhnya tertidur.
.
.
.
Tiga hari setelahnya rencana liburan ayah dan anak itu dapat diwujudkan. Kini Sehun dan Ziyu sudah bersiap menanti penerbangan Seoul - Amsterdam beberapa menit lagi. Ziyu masih setia duduk di pangkuan ibunya seperti lem.
Yeri bilang jika hanya mengantarkan ke bandara wanita itu tak masalah. Yang berakhir dengan Ziyu yang merengek memaksa sang ibu untuk ikut. Namun akhirnya bocah lelaki itu menurut dan tak lagi merengek setelah Sehun mengancam jika rencana liburannya akan dibatalkan.
Panggilan untuk pada penumpang pada penerbangan menuju Amsterdam terdengar dari speaker bandara. Sehun segera bersiap dan mengambil Ziyu dari gendongan Yeri.
"Mommy! Mommy halus janji pada Ziyu kapan-kapan halus pelgi belsama Daddy dan Ziyu melihat kincil besallll.." bocah itu membuat gestur tangan yang direntangkan dalam gendongan Sehun. Kedua orang dewasa yang melihatnya hanya bisa tertawa samar.
"Berhati-hatilah Sehun. Jangan lupakan vitaminmu."
"Tentu. Terima kasih sudah membantuku soal barang-barang yang harus kubawa."
"Ya, selamat berlibur. Dan Ziyu, jangan merepotkan Daddymu selama ada disana." Yeri mengusak kepala Ziyu yang tertutup beanie bermotif koala.
"Mama, Ziyu sudah besalll, Ziyu tidak akan melepotkan Daddy."
Wanita cantik itu tersenyum. Melambaikan tangan kearah dua sosok yang begitu ia sayangi, meski pada kenyataan salah satu dari mereka tak bisa lagi ia genggam. Oh Sehun sudah bukan siapa-siapa untuknya.
Oh Sehun sekarang hanyalah mantan suami dari Han Yeri.
.
.
.
Penerbangan langsung dari Seoul menuju Amsterdam yang menghabiska waktu lebih kurang 11 jam lewat enam menit membuat Sehun merasakan punggungnya kaku akibat AC pesawat. Begitupun Ziyu yang sudah nampak kelelahan. Ia memutuskan untuk mencari hotel terdekat untuk segera beristirahat. Dia akan memulai tripnya bersama Ziyu besok.
Mereka tiba di Bandara Schiphol Amsterdam pukul tujuh malam waktu setempat. Sehun segera mencari taksi dan menanyakan hotel terdekat dengan berbekal bahasa Belanda seadanya dan bahasa Inggris yang fasih dikuasai. Namun nampaknya supir taksi yang ia pilih tidak begitu mengerti dengan bahasa Inggris. Jdai dia terpaksa menggunakan bahasa Belanda yang baru ia pelajari dua hari sebelum berangkat.
Beruntungnya sang supir paham akan maksud ucapannya. Mereka dibawa ke hotel yang masih dalam jangkauan bandara Schiphol. Ibis Sciphol Amsterdam Airport, salah satu hotel 4-star yang dekat dari bandara. Pekerjaannya sebagai dokter lebih dari cukup untuk membuatnya tinggal di kamar hotel berbintang empat yang pastinya membutuhkan budget yang tidak sedikit.
Setelah membayar taksi ia segera masuk ke hotel. Ziyu yang sejak beebrapa jam lalu kembali tertidur nampak begitu kelelahan. Ia menyeret satu koper besar di tangan kirinya. Meskipun mereka akan liburan selama kurang lebih satu minggu,namun Sehun dan Ziyu merupakan seorang laki-laki yang beruntungnya tak perlu membawa banyak barang.
Setelah check in dan mendapatkan kamar hotel, Sehun segera bergegas karena kalau boleh jujur ia juga sudah sangat lelah. Dan ketika ia sampai di dalam kamarnya, ia tidak menyesal karena rasanya begitu dimanjakan dengan kualitas delux yang ditawarkan oleh hotel tersebut meski hanya berbintang empat. Sehun segera membaringkan Ziyu di samping ranjang besar berseprei putih dengan paduan warna abu-abu.
Dengan telaten ia membuka koper dan mengambil pakaian yang sekiranya perlu digantung agar tidak kusut. Setelah selesai Sehun memutuskan untuk membersihkan diri sejenak. Mungkin berendam dengan air hangat mampu merilekskan otot punggungnya yang terasa kaku.
Tiga puluh menit dirasa cukup untuk membuat tubuhnya kembali segar setelah berendam. Sehun mengambil pakaian santai untuk dikenakan. Ia melirik Ziyu yang masih terlelap, tak tega membangunkan bocah itu untuk sekedar menyuruhnya mandi.
Ingannya untuk segera tidur karena tubuhnya sudah meronta hendak menyapa kasur empuk dan menyusul Ziyu kealam mimpi. Namun mata tak bisa diajak bekerja sama. Ia malah berakhir duduk di kursi santai yang ada di balkon hotel. Menikmati pemandangan malam kota Amsterdam yang begitu memanjakan mata.
Kalau tengah menyendiri seperti ini Sehun sering kali membiarkan pikirannya melayang, bahasa singkatnya melamun. Pikirannya acap kali bermuara pada satu sosok yang anehnya tak pernah hilang dari kotak memorinya.
"Luhan.. sebenarnya dimana kau sekarang?" Sehun menggumam dan hanya dibalas oleh hembusan angin musim gugur yang menusuk sampai kebalik kaus santai yang ia kenakan.
Kalau boleh jujur. Hatinya merasa tersakiti ketika kenyataan memberitahunya bahwa Luhan menghilang satu hari sejak pertunangannya dengan Yeri. Dia pikir setelah itu ia bisa kembali bekerja di rumah sakit, merawat Luhan seperti biasa, bercengkrama, tertawa, dan kembali menatap senyum indah dan mata penuh binari Luhan walaupun mereka sudah memutuskan tak akan ada lagi rasa diantara mereka.
Tapi semua itu pupus ketika ia melihat ruang rawat Luhan telah kosong, selimutnya sudah terlipat rapi di ranjang. Bunga Krissan yang biasa diletakkan di nakas sebagai penyegar ruangan tak lagi ada disana. Mungkin suster sudah membuangnya karena sang pasien tak lagi membutuhkan. Semua terasa abu-abu ketika ia berlari di sepanjang koridor seperti orang bodoh, menanyai Chanyeol kemana perginya Luhan dan hanya dijawab 'dia sudah pergi' oleh Chanyeol tanpa berniat memberi tahu lebih lanjut kemana pria cantik yang memikat hatinya pergi.
Dan sehun tak pernah merasa seidiot itu ketika dirinya terduduk dilantai seperti orang yang tak punya tujuan hidup. Padahal jelas-jelas ia adalah seorang dokter disana. Ia bahkan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan bernada khawatir dari suster dan beberapa orang disana.
Semuanya terasa tuli di pendengarannya, apa yang resepsionis katakan tak lagi mampu ia dengar.
"Maaf dokter Oh, pasien bernama Xi Luhan sudah keluar dari Wooridul Spine satu hari yang lalu. Dengan penebus bernama Tuan Xi Yi Fan."
"Kemana—kemana Yifan membawa Luhan?" nada suaranya bergetar. Mati-matian ditahan air mata yang akan membuatnya semakin terlihat lemah.
"Maaf dokter. Sangat jarang ada pasien yang akan memberitahukan kemana mereka akan melanjukan pengobatan atau pergi setelah menyelesaikan pengobatan di sini."
"Me-menyelesaikan? Aku bahkan belum membuat surat keterangan bahwa Luhan sudah sembuh!" Sehun menggebrak meja resepsionist dengan wajah memerah menahan emosi, sementara sang resepsionist hanya menunduk ketakutan. Orang-orang yang tadinya berkumpul segera kembali ke tempat mereka masing-masing karena aura gelap Sehun yang begitu mengintimidasi.
"M-maafkan saya doter Oh. Disini ditulis bahwa selama beberapa hari anda disibukkan dengan keperluan anda, tugas perawatan dari pasien Luhan dipindahkan ke tangan Dokter Chanyeol. Dan doter Chanyeol sudah menuliskan surat keterangan satu hari yang lalu atas persetujuan Dokter Jung."
Sehun menggeram, Park Chanyeol brengsek!
Ia segera bergegas meninggalkan resepsionist dan mencari Dokter tinggi itu, berlari seperti orang kesetanan mengabaikan image yang seharusnya ia jaga. Persetan, image-nya selalu berada diluar kendali jika itu sudah menyangkut Luhan.
BRAK!
Pintu ruangan Chanyeol menjeblak terbuka, membuat sang pemilik yang tengah melihat-lihat beberapa dokumen di lemari terkejut. Lebih mengejutkan lagi ketika Sehun memukul wajahnya seolah dia sudah mencuri mobil milik pria yang kini terlihat benafas dengan kesusahan akibat terlalu emosi itu.
"Hey bung! Apa-apaan kau?!" Chanyeol bangkit seraya mengusap sudut bibirnya yang mungkin sobek akibat bogem dari tangan besar Sehun.
"Kau Park Chanyeol brengsek! Teganya kau! Kau tega merahasiakan semuanya dariku! Kemana Luhan pergi?!" Sehun menggeram seperti serigala yang kelaparan. Inilah yang Chanyeol tidak suka dari Sehun. Sehun itu tipe orang yang tenang, kalem dan penurut. Tapi kalau sdah emosi lebih terliat seperti banteng Spanyol yang sedang digoda oleh matador dengan kain merah menyala. Tidak terkendali dan berpikiran pendek.
"Tenang dan aku akan menjelaskan padamu. Aku tidak ingin berbicara dengan seorang bocah yang terlalu emosi. Yang ada nanti malah akan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri jika kau sedang emosi begitu Sehun." Chanyeol mendengus. Ia mendorong pundak Sehun dari belakang dan mendudukkan dokter muda itu di kursi. Kemudian Chanyeol mengambil segelas air untuk ditawarkan.
"Aku minta maaf." Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Sehun bisa menstabilkan emosi, ia kembali bersikap seperti Sehun yang biasa.
"Nah, tidak kukira kau akan bertingkah barbar kalau sudah menyangkut Luhannie-mu." Chanyeol terkekeh, "—jadi darimana kita harus memulai?"
"Katakan tentang tiga hari yang lalu."
"Baiklah, aku akan memulainya. Ketika kau sedang mengambil libur untuk persiapan pertunanganmu, akulah yang bertugas mengontrol kesehatan Luhan. Saat itu dia memohon sesuatu padaku. Dia memintaku untuk menjadi kokter pribadinya dan memaksaku untuk membuat surat keterangan jika ia sudah sembuh. Aku tidak bisa menolak karena dia meminta dengan tatapan memohon hingga membuatku iba. Dokter Jung juga tidak bisa menolak karena itu merupakan keputusan pasien sendiri. Dan Luhan bilang jika aku tidak boleh memberitahumu. Sekarang aku sudah melanggar janjiku padanya—" Chanyeol menghela napas, "Aku tidak berani bertanya ada masalah apa sampai dia memohon seperti itu."
"Lalu—...lalu dimana Luhan sekarang?" tatapan penuh harap itu terpancar, semoga saja Chanyeol memberikan jawaban yang memuaskan.
"Maaf, soal itu aku benar-benar tidak tau. Bahkan ketika aku hendak ke kamarnya aku sudah tidak dapat menemukan Luhan disana. Akupun tidak tau kemana Luhan pergi. Aku minta maaf Sehun."
Kepala bersurai hitam Sehun menunduk, merasa tak punya lagi harapan untuk menemu Luhan. Ia merasa begitu kecewa dan sedih.
Dan waktu-waktu berlalu dilewati dengan banyak penyesalan berkecamuk dalam hati. Sehun sudah lelah mencari keberadaan Luhan yang seperti hilang ditelan bumi. Semua sudah disambanginya, dimulai dari teman terdekat Luhan yang ia ketahui bernama Jongdae. Sampai kepada Suho dan mereka memebrikan jawaban yang sama—tidak tau menau.
Sehun menyerah. Mungkin Luhan memang ingin pergi meninggalkannya, menyisakan rasa bersalah yang membunuhnya secara perlahan. Setelah saat itu ia tak lagi mencari keberadaan Luhan. Sehun yakin jika Tuhan mengijnkan ia pasti akan bertemu lagi dengan Luhan. Dan mungkin ini belum waktunya. Tapi keyakinan itu berakar semakin kuat, ia percaya bahwa ikatan itu tetap ada. Seperti lambang pada cartier yang tak pernah ia lepas sampai sekarang. Infinity.
Sehun tersenyum tipis. Bibirnya mengecup pelan gelang cartier yang melingkar di tangan kirinya. Terkadang perasaan rindu yang tanpa tau malu menyusup ke dalam relung hatinya membuat Sehun seperti kehilangan jati diri. Ia menjadi lembek dan melankolis. Tak jarang ia menangis dalam diam, tak ingin dilihat anaknya jika sang ayah ternyata gemar menangis.
"Daddy..." suara pelan itu menyadarkan Sehun. Buru-buru ia masuk kembali ke kamar dan menutup tirai besar yang tadinya masih terbuka. Ia segera menyusul Ziyu di ranjang. Dipeluknya tubuh kecil itu, kepala Ziyu ia usap pelan. Nyanyian pengantar tidur dilantunkan, membuat si kecil semakin menyamankan diri.
"Tidurlah jagoan, besok kita akan jalan-jalan."
"Hm, Daddy harus tidul juga..." bisik Ziyu kecil.
"Ya.. tidurlah.."
.
.
.
Hari pertama Sehun dan Ziyu dihabiskan dengan berkeliling Amsterdam. Dimulai dengan mengunjungi Taman Safari Beekse Bergen di Hilvarenbeek. Ziyu nyaris tak ingin pulang ketika mendapati banyak hewan-hewan unik yang membuat Ziyu begitu antusias. Jika saja Sehun tak memaksa mungkin mereka akan berada disana seharian.
Kemudian keduanya melanjutkan untuk mengunjungi De Dam Square. Lokasi dimana banyak turis mancanegara dan pelancong dari seluruh dunia berkumpul. Kalau boleh jujur Sehun tak begitu suka keramaian. Tapi ketika melihat bagaimana gembiranya Ziyu memberi makan banyak merpati yang ada disana membuat hatinya menghangat. Sudah tiga kantung biji-bijian Ziyu habiskan untuk memberi makan burung merpati yang ada disana, namun anak itu masih betah berjongkok dengan segenggam biji-bijian diatas telapak tangan, menanti burung merpati berkumpul dan berebut makanan.
Tentu saja moment ini tak ingin Sehun lewatkan. Ia mengambil camera yang digantungkan dilehernya. Lensa camera LUMIX DMC-TZ80 berwarna hitam itu ia arahkan kepada sosok Ziyu yang masih sibuk dengan merpati. Ia mengambil beberapa foto, kemudian memilah mana yang sekiranya bagus. Ah, kamera ini mengingatkannya akan sosok Luhan, camera yang pernah menangkap figur Luhan dalam balutan cahaya bintang dibawah naungan langit malam. Begitu indah dan tak tergantikan.
Kesadaran Sehun kembali ketika merasakan tarikan pada coatnya. Ia dapat melihat Ziyu yang mengusap-usap perut kecilnya seraya mengerucutkan bibir.
"Ada apa jagoan? Kau sudah lelah?"
"Ziyu lapalll..."
Sehun terkekeh pelan. Ia bawa Ziyu kedalam gendongannya, "Kalau begitu, ayo kita makan."
Dan sorenya mereka menghabiskan waktu untuk menikmati sajian daging khas ala Amsterdam di Hutspot. Malamnya barulah mereka kembali ke hotel. Siap melanjutkan trip mereka di hari-hari berikutnya.
Melakukan hal yang menyenangkan bisa membuat Sehun menghilangkan sedikit rasa rindunya pada Luhan.
Meski hanya sedikit.
.
.
.
Lagi-lagi pagi tanpa awan. Tak ada matahari yang menyengat kulit. Cuaca yang biasa untuk musim gugur di akhir September. Luhan sudah siap dengan setelan kemeja biru berlengan panjang dan syal senada yang melilit lehernya. Ia turun untuk segera sarapan bersama Yifan, Zitao dan juga Zach.
Luhan memang sudah bisa berjalan normal, itu bahkan sudah lama sekali. Tapi Yifan tetap bersikeras melarang Luhan untuk melakukan aktifitas yang dapat membahayakan kakinya, seperti berlari atau melompat secara berlebihan.
Di dapur ia dapat melihat Yifan yang tengah serius membaca Koran berbahasa Inggris, sementara Zach tengah berkutat dengan kulit anggur dan itu terlihat lucu dimata Luhan. Zitao baru saja menyelesaikan beberapa panekuk yang kemudian diletakkan di piring Luhan. Sedikit menuangkan sirup sebagai perasa. Kemudian memakan sarapannya dalam diam.
Luhan membiarkan Zitao duduk disebelahnya untuk ikut memakan sarapan.
"Well luhan, bagaimana saat kau menjemput Zach kemarin? Apa kau baik-baik saja?" Zitao mencoba tersenyum. Jari panjangnya membantu Zach yang masih setia mengupasi kulit anggur. Anak itu tak suka makan anggur bersamaan dengan kulitnya.
"Semuanya baik, aku beruntung. Hanya saja kejadian ketika hendak pulang tak begitu mengenakkan."
Zitao menoleh, menatap Luhan khawatir. Yifan yang sedari tadi hanya mendengarkan kini menurunkan korannya, "Apa yang terjadi?" itu suara Yifan.
"Hanya kejadian kecil. Aku menabrak sesorang dan dia mengataiku dengan bahasa Belanda. Terang saja aku tak mengerti meski aku sudah hidup seperti jamur disini bertahun-tahun. Aksennya sangat cepat hingga aku tak bisa mencerna apa yang dia katakan. Dia sangat tinggi seperti tiang listrik, dan aku sebagai orang Asia merasa terhina. Aku kelihatan pendek sekali jika dibandingkan dengannya.." Luhan terkekeh.
Sementara Zitao dan Yifan hanya mendengus,"Kupikir terjadi sesuatu."
"Yah, mungkin sesekali keluar juga tidak terlalu buruk."
"Itu bagus," Zitao menyela.
Luhan mengangguk sekali, tangan kanannya yang memegang pisau untuk memotong panekuk kembali digerakkan. Mengiris adonan jadi itu untuk masuk ke mulutnya.
"Aku berencana peri ke De Gooyer Windmill hari ini."
Yifan tersedak kopinya dan Zitao menjatuhkan sendok yang ia pegang. Sementara Zach hanya menatap polos tak mengerti.
"Ada apa dengan kalian? Seperti mendengar kabar aku tiba-tiba hamil saja."
"K..kau serius? Bukankah kau bilang kau—" Yifan setengah mati menahan senyumnya. Ia tak percaya Luhan perlahan-lahan membuka diri.
"Tidak usah berlebihan gege, apa yang sudah aku katakan tadi, bahwa sesekali keluar kurasa tidak buruk..."
"Oh. Itu bagus, jika kau mau, kau bisa mengajak Zitao atau Zach—"
"Tidak perlu ge, aku akan pergi sendiri. Lagipula setelah dari De Gooyer aku akan lanjut ke toko buku di pusat kota untuk mencari beberapa referensi buku dan juga novel. Dan membaca buku-buku itu di Vondelpark kurasa? Aku tidak ingin membuat Zach dan Zitao mati bosan menungguku memilah buku."
"Ya ampun.. Luhan, aku begitu senang kau mau keluar dan tidak hanya mendekam dikamarmu yang suram itu." Yifan tersenyum. Ia melepas kacamata bacanya dan bangkit berdiri.
"Kau bisa pakai mobilku karena hari ini aku sedang tidak keluar Lu, tapi setelah aku mengantarkan Zach ke sekolahnya." Tawar Zitao sekaligus membereskan sisa sarapan mereka.
"Terimakasih Zitao."
"Kapanpun dear.."
.
.
.
Hari ke empat di Amsterdam. Sehun merasa jika Amsterdam begitu luas untuk disambagi hanya dalam waktu seminggu. Tapi paling tidak ia dan Ziyu sudah memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mendatangi beberapa tempat wisata terkenal. Dan hari ini, sesuai dengan apa yang Ziyu inginkan, bocah itu ingin melihat kincir angin dan berfoto disana. Sehun pastinya tak bisa menolak.
Ziyu terlihat seperti kepompong dengan baju hangatnya. Bocah kecil itu menggunakan sweater rajut berwarna kuning yang kemudian dilapisi dengan coat tebal berwarna biru. Bawahannya menggunakan celana diatas lutut berbahan jeans. Dan sepatunya menggunakan sepatu boot yang hangat untuk melindungi kakinya dari udara dingin yang mulai menyengat kulit. Tak lupa sebuah syal berwarna senada dengan coatnya melingkar dileher kecil Ziyu.
"Jagoan Daddy, dengarkan Daddy.. di dalam sini ada beberapa lembar uang. Itu bisa Ziyu gunakan untuk membeli makanan kecil atau Ice Cream. Kau boleh bermain nanti, tapi ingat, jangan pernah berjalan terlalu jauh dari Daddy. Jangan pernah mau jika orang dewasa mengajakmu. dan satu lagi, selalu menolak jika ada orang asing yang memberikan permen atau apapun padamu, mengerti?"
Ziyu mengangguk mantap. "Aku mengelti Daddy."
"Bagus," Sehun menyampirkan tas selempang bertali kecil dengan motif kepala koala di pundak kanan Ziyu.
"Sekalang, ayo perlgi lihat kincil anginnnnn besallll..."
Sehun hanya tersenyum maklum ketika mendapati Ziyu sudah berlari menuju lobi hotel meninggalkannya.
Masa muda yang penuh semangat.
.
.
.
Luhan memarkirkan mobil. Kaki jenjang berbalut sepatu Adidas superstar pemberian gegenya di ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga sengaja ia pakai hari ini. Awalnya Luhan menolak hadiah itu karena untuk apa diberi sepatu jika Luhan tak pernah menggunakannya untuk pergi keluar? Luhan lebih sering menggunakan sandal rumahan karena ia tak pernah pergi kemanapun. Tapi akhirnya hadiah itu berguna juga sekarang. Mata rusanya menatap langit yang akhirnya mulai berubah warna menjadi biru meski tanpa cahaya matahari. Setidaknya langit tak lagi berwarna hitam.
Kakinya melangkah menyusuri jalanan berlapis aspal. Bergesekan dengan sepatunya hingga menimbulkan bunyi yang menyenangkan. Kedua tangannya membenahi ransel kecil yang ia bawa untuk tempat beberapa novel dan buku yang hendak ia beli nanti. Sekarang ia ingin menikmati keindahan salah satu Kincir angin kuno yang paling terkenal di Belanda itu. Luhan sangat menyayangkan kenapa ia tak ingat untuk meminjam camera Zitao. Ia juga lupa membawa ponsel. Luhan merasa jalan-jalannya kali ini cukup sia-sia.
Hari ini De Gooyer cukup ramai dikunjungi, baik turis lokal maupun dari luar Amsterdam. Diantara banyaknya orang yang tengah berfoto, perhatian Luhan tertarik pada sepasang—yang sepertinya—ayah dan anak tengah bergandengan tangan mengelilingi Kincir angin besar itu.
Luhan merasa tertarik karena si kecil tak sama sekali terliat seperti orang Belanda kebanyakan, wajahnya oriental seperti orang Asia. Luhan memang jarang menemukan turis asia disini karena yah, sekali lagi, ia jarang keluar rumah. Jadi menemukan sosok bocah imut yang tengah sibuk memasang pose minta difoto begitu menarik perhatiannya.
Tanpa sadar Luhan berjalan semakin dekat kearah dua sosok itu. Bisa ia lihat si kecil tengah memasang pose mengangkat kedua tangan seolah menopang batu besar, sementara sang ayah yang hanya terlihat punggungnya karena membelakangi Luhan terdengar mengeluarkan tawa kecil melihat tingkah Lucu anaknya.
Luhan ikut tersenyum tipis, ia memutuskan duduk di pembatas yang ternaungi oleh pohon hingga membuatnya terhindar dari panas. Entah kenapa interaksi ayah dan anak itu membuatnya mengulas senyum tanpa sadar. Sayup-sayup ia dapat mendengar percakapan kecil dari keduanya.
"Daddy.. foto Ziyu yang banyak, nanti kita tunjukkan pada Mommy!" nada suaranya terdengar lucu di pendengaran Luhan. Dan kebetulan sekali, ternyata mereka adalah orang Korea.
Ah, mereka mengingatkan Luhan pada sesuatu.
"Daddy sudah mengambil banyak foto Ziyu sayang. Kalau begini memorinya bisa penuh.." suara itu terdengan main-main.
DEG!
Suara itu.. suara tegas namun menenangkan itu seolah menghempas raganya, menariknya kembali ke masa lalu yang telah lama coba ia kubur dalam-dalam. Tidak, ia pasti sedang berhalusinasi, itu hanya pendengarannya yang salah. Mungkin itu hanya orang lain, hanya saja suaranya mirip dengan orang itu.
Tapi ketika telinganya menangkap suara tawa yang dulu begitu familier di pendengarannya membuat Luhan semakin gelisah. Tanpa ia sadari jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Secara tiba-tiba ia merasa takut tanpa alasan. Luhan meremas dadanya, nafasnya terasa pendek. Ia membungkukkan tubuhnya agar tak ada orang yang tau jika ia tengah mengalami hal seperti ini. Bola matanya berkaca-kaca. Rasanya sesak sekali hingga ia kesulitan bernapas.
Namun sentuhan kecil di lengannya membuat ia sedikit mendongak. Ia mendapati sosok dengan wajah manis menatapnya khawatir.
"Uhm, al you o-kay?" dibalik rasa sesaknya Luhan tersenyum mendapati anak yang ia perhatikan dalam diam sedari tadi tanpa disangka menghampirinya dan menanyakan keadaannya dengan bahasa Inggris seadanya. Luhan bahkan tak sadar sejak kapan anak itu sudah ada di depannya.
"Eh.. I..I'm Okay.." Luhan tersenyum tipis, mencoba sebisa mungkin menutupi rasa sesak di dada akibat jantungnya yang berdebar kelewat kencang.
"Um..okay—.."
"Ziyu!" perkataan si kecil terpotong saat mendengar sang ayah dari kejauhan memanggilnya. Sementara Luhan tak berani mendongak, takut bahwa apa yang ia lihat nantinya sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Ia belum siap dan ia takut. Ia tidak ingin jika dia benar orang itu. Luhan takut, jadi ia memutuskan untuk tetap mempertahankan posisinya. Menunduk menatap permukaan kasar yang ia pijak.
Bocah bernama Ziyu itu segera meninggalkan Luhan begitu namanya dipanggil. Luhan dapat mendengar pria yang lebih dewasa menasehati anaknya agar jangan mendekati orang asing sembarangan. Kemudian setelahnya suara ayah dan anak itu tak lagi terdengar. Luhan melalui sudut matanya perlahan mendongak, dan ia dapat bernapas lega karena mereka tak ada lagi disana.
Namun debaran jantungnya masih sama, begitu cepat seakan mau meledak. Luhan mengambil tas ransel kecilnya dan mengambil sebuah botol kecil dari sana. Mengeluarkan beberapa butir phenobarbital dengan tangan yang bergetar dan menelannya begitu saja tanpa air.
Beberapa tahun belakangan ini Luhan merahasiakannya dari siapapun jika ia mengonsumsi jenis obat penenang itu. Hanya pil itu yang dapat menenangkan debaran jantungnya ketika ia tengah mengalami mimpi buruk. Akhir-akhir ini intensitas datangnya mimpi itu semakin sering. Dan Luhan membutuhkan lebih banyak obat penenang hingga membuatnya seperti kecanduan. Ia tidak akan bisa tidur kembali jika tidak meminum obat tersebut.
Setelah merasa debaran jantungnya kembali normal, Luhan segera bergegas kembali ke mobilnya. Ia tidak akan mengacaukan jalan-jalan sekaligus pengakraban diri dengan Amsterdam hanya karena sosok itu tanpa bisa dicegah kembali membuatnya melemah. Luhan yakin ia kuat. Setidaknya biarkan hari ini Luhan berbahagia.
Tujuan berikutnya: toko buku dan Vondelpark.
.
.
.
"Daddy.. tadi aku melihat hyung cantik, tapi dia sepertinya sedang kesakitan.." Ziyu menggeliat meminta turun. Dan Suhun mengabulkannya.
Pria dewasa berusia 34 tahun itu berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Ziyu, "Apa yang ayah katakan tenang orang asing?"
"Tapi Daddy, hyung itu kelihatan baik.."
"Ziyu, jangan pernah tertipu dengan wajah seseorang. Bisa saja hyung itu di dalamnya jahat seperti monster." Sehun berekspresi untuk meyakinkan.
"B-benalkah?" mata Ziyu berkaca-kata.
"Hu'um. Jadi jangan dekat-dekat dengan orang asing tanpa persetujuan Daddy ne?"
Ziyu mengangguk cepat, "Bagus, jangoan Daddy memang yang terbaik. Nah, sekarang ayo kita berkeliling. Taman ini begitu indah.."
Sehun membiarkan Ziyu berjalan disamping tubuhnya, sementara ia sibuk memotret beberapa pohon yang tengah meranggas. Warna jingga, oranye, dan kuning mendominasi taman yang cukup ramai dikunjungi siang ini.
Vondelpark, taman yang dibangun tahun 1864 yang berlokasi di Selatan Amsterdam menjadi tujuan Oh Sehun setelah menyambangi De Gooyer Windmill. Taman ini begitu menarik perhatian Sehun karena memiliki rose garden dan terdapat juga patung-patung yang salah satu karyanya berasal dari seniman kenamaan Pablo Picasso hasil searching kilat-nya di laman pencarian.
Sangking asiknya memotret panorama Sehun jadi tak sadar Ziyu sudah berjalan menjauh. Bocah itu nampak tertarik oleh stand kecil ice cream warna warni di dekat pintu gerbang. Berbekal uang pemberian daddy-nya di dalam tas selempang kecil yang ia bawa, Ziyu tak ragu untuk memesan.
"Excuse me sil, give me one.." Ziyu mengulangi kosakata sederhana yang sudah diajarkan sang ayah ketika ia ingin membeli sesuatu dengan menunjukkan jari telunjuk kecilnya membuat tanda satu. Penjual itu tersenyum manis.
"Which one little kids, what colors do you want? Rainbow? Pink? Red?"
Meski Ziyu kurang mengerti, namun mendengar kata rainbow yang kebetulan ia tau artinya membuatnya memutuskan untuk memilih itu.
"Ziyu suka lainbow!" Ucapnya dengan bahasa Korea.
Sang pedagang yang tak mengerti dengan bahasa yang diucapkan Ziyu awalnya bingung, namun ketika mendengar kata rainbow penjual itu menyimpulkan bahwa pasti anak itu menginginkan Rainbow ice cream.
Setelah selesai sang penjual memberikan satu cup jumbo Ice cream warna warni dengan toping oreo dan choco warna warni diatasnya. Ziyu memekik senang, tak lupa mengeluarkan uang dari tas kecilnya. Setelah menerima kembalian Ziyu segera berbalik hendak kembali ke tempat Daddy-nya berada. Namun mata bulat itu tak sengaja mendapati sosok hyung cantik yang ia temui di tempat kincir angin tengah duduk di bangku bernaungkan pohon maple yang daunnya mulai berguguran. Hyung cantik terlihat semakin cantik ketika daun-daun yang berguguran jatuh mengenai tubuh ramping itu. Ziyu sempat terpana, dan tanpa sadar berlari kearah hyung cantik itu, mengabaikan pesan sang Daddy beberapa saat lalu.
Karena tidak memperhatikan sekitar, Ziyu tidak menyadari ada batu kerikil di depannya hingga membuat ia terhempas. Lututnya berdarah dan ia menangis. Ice cream yang baru ia beli sudah berhamburan di depan wajahnya. Luhan yang tak jauh dari situ menolehkan kepala, ia terkejut ketika mendapati sosok bocah yang ia temui di De Gooyer secara kebetulan ada disini.
Berarti ada ayahnya juga?
Buru-buru mengembalikan kesadaran, Luhan bergegas menghampiri anak kecil yang kini tengah terisak sambil memegangi lututnya.
"Hikss... appo.."
"Mana yang sakit?" Luhan menyentuh lutut Ziyu yang sedikit sobek dan mengeluarkan darah.
"H..hyung cantik?—" Ziyu mengusap air mata dengan punggung tangan, "—b..bisa bahasa Kolea?"
Luhan mengangguk seraya tersenyum, "Ne. Hyung dulu pernah tinggal di Korea. Tapi sekarang hyung pindah kesini. Nah, ayo.." Luhan mengangkat tubuh Ziyu, berniat membawanya ke bangku tempat Luhan tadi membaca untuk sekedar memberikan band aid. Namun suara panggilan dari belakang menghentikan langkahnya begitu saja.
"Ziyu!"
Luhan tak berani berbalik, jantungnya berdetak dua kali lipat ketika mendengar langkah kaki dari belakang semakin mendekat.
"Daddy!" Ziyu membalas teriakan sang ayah.
"Excuse me sir, the cild in your arms is my son.." sehun mengira jika orang itu adalah penjahat yang akan menculik Ziyu. Tapi ia meragukannya ketika melihat tubuh kecil dan pinggang ramping itu, lagipula Ziyu tampak tak ketakutan sama sekali. Anak itu malah tersenyum ketika Sehun mendekat. Tapi tetap saja, dia sendiri yang bilang pada Ziyu jika cover bisa menipu.
"Excuse me, sir..?" Oke, Sehun mulai bebal ketika orang itu tak juga berbalik. Ia nyaris merebut Ziyu kalau saja tubuh ramping bersurai caramel itu akhirnya berbalik. Menampilkan sosok yang mengisi malam-malamnya yang sunyi.
Sosok yang enam tahun belakangan sangat ia rindukan.
"Luhan?"
"S-Sehun?" tubuh Luhan bergetar, tanpa ia sadari lengannya mengeratkan pelukan pada tubuh Ziyu. Matanya-berkaca-kaca seakan hampir menangis. Namun hati kecilnya memberontak bahwa ia harus kuat. Luhan menutup mata dan menarik nafas dalam, kemudian mengehembuskannya pelan.
"Luhan, kau—apa yang kau lakukan dsini?" Sehun masih menatap tak percaya.
"Lama tak bertemu Sehun, seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu. Apa kau sedang berlibur dengan Ziyu?" Luhan tersenyum manis, membuat dada Sehun berdesir, seolah kembali jatuh cinta seperti pertama kali pertemuan mereka.
"Ya.. aku.. bersama Ziyu.."
"Apa.. dia anakmu?" Luhan bertanya ragu-ragu. Sebenarnya cukup lancang untuk bertanya hal personal seperti itu, namun ia ingin memastikan sesuatu.
"Ya. Dia anakku." Tidak berbohong kalau rasanya sakit sekali ketika mendengar jawaban dari Sehun. Tapi mau bagaimana lagi? Luhan hanya harus berusaha menutupi rasa sakitnya.
"Pantas saja, dia mirip denganmu. Dan, tidak bersama Yeri Noona?"
"Tidak.." Jawab Sehun singkat.
Luhan tidak berniat menanyakan lebih jauh karena jika seperti itu ia akan kelihatan seperti orang yang ingin tahu masalah rumah tangga orang lain. Jadi Luhan hanya diam dan kembali membuka suara.
"Kaki Ziyu terluka, jika tidak segera diobati dapat menyebabkan infeksi nantinya. Rumahku tidak jauh dari sini, hanya butuh waktu sepuluh menit dan aku membawa mobil. Mungkin kau mau berkunjung sekaligus mengobati kaki Ziyu?" tawar Luhan. Ia tidak mau terdengar memaksa, itu akan sangat memalukan jika Sehun tau bahwa sesungguhnya Luhan sangat berharap bisa melihat Sehun lebih lama.
"Em, apa kau tau apotek yang ada disekitar sini?"
Apa sehun berniat menolak tawarannya? Luhan merasa sedikit kecewa. Tapi ia tidak punya hak untuk memaksa Sehun.
"Cukup jauh dari sini. Mungkin sekitar dua puluh menit jika kau naik bus umum."
Desahan pelan keluar dari bibir Sehun. Kalau begini dia tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin dia membiarkan luka Ziyu terbuka begitu saja. Sehun takut luka tersebut akan menimbulkan infeksi jika tidak segera diobati.
"Baiklah, kurasa tak apa jika aku ke rumahmu. Apakah itu akan merepotkan?"
Mereka berdua berjalan beriringan setelah luhan meminta tolong Sehun untuk mengambil tas dan buku-bukunya yang masih ada di bangku karena Luhan menggendong Ziyu yang nampaknya sudah tertidur akibat kelelahan.
Mereka terlihat seperti keluarga kecil yan bahagia. Dan luhan tidak dapat menampik hal itu. Mati-matian ia gigit pipi bagian dalamnya untuk menahan senyuman. Ia tidak ingin terlihat seperti seorang gadis yang tengah jatuh cinta.
Saat tiba di mobil Luhan sempat bingung bgaimana ia harus masuk, namun Sehun berinisiatif membukakan pintu dan Luhan tersenyum karenanya.
"Aku yang menyetir. Kau bisa menunjukkan jalannya Lu. Keberatan jika kau menggendong Ziyu?" Sehun mengambil alih kemudi dan menstarter mobil setelah mendapatkan kuncinya dari Luhan.
"Tdak sama sekali.." Luhan tersenyum tipis.
"Baiklah.."
Dan mobil itu melaju pelan memecah jalanan Amsterdam yang dihiasi beberapa daun maple yang mulai bergugran.
Oh Tuhan, permainan apa lagi yang kau berikan pada bidak catur yang lemah ini?
.
.
.
TBC
.
Fix. Gue masih ga ngerti sama diri gue sendiri. Mungkin gue ini Queen of Typos atau gimana? Padahal tiap selesai bikin cerita udah dibaca pelan-pelan dari awal tapi masih aja ada yang kelewat typos-nya. Gue acungin jempol buat author yang upload cerita panjang-panjang ga pake edit tapi ga ada typosnya. Apalah dayaku yang seorang Queen of Typos ini. Huhuhu~
Wahaha. Pasti pada mabok secara ini 7K+ word. Awalnya ini mau aku lanjutin loh sampe tamat, tapi liat udah 7K+ jadi ngeri. Akhirnya aku potong jadi 2 chapter. Dan chapter depan adalah END! (semoga)
Jangan ngeluh dulu, ini sengaja diulur-ulur biar reader penasaran. Psst! Sekedar bocoran, chapter ending bakal ada HunHan NC! #OtakMesumMode tapi saya ga jamin loh HunHan bakal bersatu. #dibakar.
Ini masih ada sedikit lagi penjelasan soal kenapa Yeri bilang kalo Sehun itu udah jadi mantan suami dan masih ada yang lain. Jadi intinya chapter terakhir itu akan mengupas habis permasalahan yang masih belom terpecahkan. Jadi buat yang penasaran monggo di review.
Chapter terakhir udah jadi, cuman bakalan saya post kalo reviewnya banyak (modus).
Ga koo, pokoknya kalo ada yang review nanti untuk chap terakhir adegan HunHan NC saya post deh. Kalo gada yang review yaudah sampe sini aja, biar ngegantung kaya cintaku pada Mas jongin.
Oh ya, kalau ada yang salah, baik itu nama lokasi, waktu, nama obat penenang itu, dan yang lain tolong dong dikoreksi. Karena maklumin ae writer yang info-nya modal Googling ya gini *LOL. Maklumin soalnya belum pernah liburan ke Amsterdam gengs..
Ah sudahlah..
Review ya gengs kalo mau chap terakhir diupload, semua ada ditangan kalian..
Jaga kesehatan dan tetap cintai HunHan..
Salam Yaoi~
Chryssans289
29/06/2017
