Judul : My imagination is my Love
Chapter : 11
Author : Kakashy Kyuuga
Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^
Genre : hurt, romance and fantasy
Pairing : Naruhina
Hinata hanya tersenyum melihat reaksi berlebihan dari kedua temannya.
"Ja-jangan sembarangan bi, mungkin yang Naruto maksud adalah Shion atau bisa jadi dia adalah Amaru" elak Sakura.
"Shion? Amaru? Siapa mereka? Apa mereka pacar-pacar Naruto? Wah, ternyata anakku keren juga hingga banyak gadis yang tergila-gila padanya. Hehehe" Sakura dan Ino sweetdrop bareng mendengar kenarsisan Khusina.
Setelah mendengar ocehan mereka tentang Naruto, Hinata semakin penasaran dengan Naruto. Seperti apa dia, apa dia orang yang dingin dan tanpa ekspresi seperti Gaara? Atau dia orang yang ceria seperti Kyuubi? Naruto, seperti apa dirimu? "Yah, seprti itulah, bi" sela Ino.
"Hn, tapi_" Khusina mulai memasang mode berpikir, membuat Ino dan Sakura siap untuk lari. Namun segera ditahan oleh Khusina.
"Kata Naruto, aku mengenali gadis itu. Tidak mungkin dong Hinata, karena aku bertemu dengannya semalam. Pasti salah satu di antara kalian" Sakura dan Ino saling pandang.
"Ah, bibi. Ucapan Naruto di percaya" sebuah suara mengagetkan ke empat kaum hawa dalam ruangan itu.
"Sa-Sasuke!"
"Sasuke-chan?!"
"Kyaaaa! Sasuke-kun!"
"….."
"Hn, aku datang. Bibi bisa pulang istirahat" kata Sasuke menjawab setiap panggilan mereka. "Kau juga disini Hinata?" lanjut Sasuke begitu melihat Hinata yang sudah memucat.
"I, iya. Sasuke-san" balas Hinata seraya menunduk, dia tak berani menatap mata Sasuke yang memiliki aura gelap.
"Kau kembalilah istirahat, kau terlihat kurang sehat" Sakura dan Ino terlihat tak menyukai perhatian Sasuke yang sedari tadi hanya untuk Hinata.
"Sudah ku bilang, Sasuke-chan menyukai Hinata-chan" bisik Khusina pada kedua gadis didekatnya yang intens melihat Sasuke dan Hinata.
Sakura dan Ino menatap-ini tidak lucu- tak percaya pada Khusina yang tersenyum senang karena merasa tebakannya benar.
"Ba, baiklah. Bi, bibi Khusi aku pamit ke ruanganku. Aku ingin istirahat" kata Hinata terbata-bata karena aura kehadiran Sasuke seraya berdiri dan memberi salam kemudian membungkuk sebelum pergi.
"Biar ku antar sampai di ruanganmu" tawar Sasuke.
"A_"
"Biar aku saja yang mengantar Hinata" sela Sakura sebelum Hinata menolak tawaran Sasuke.
"Baiklah" jawab Sasuke seraya duduk di tempat Hinata.
"Ayo, Hinata" ajak Sakura.
Setelah suara pintu ditutup terdengar, ruangan VIP itu mulai diserang ketegangan.
"Sasuke-chan, trima kasih sudah datang. Kalau begitu baasan pulang duluan" kata Khusina dan bersiap-siap. Dia mengecup kening anaknya sebelum keluar.
"Baasan, tunggu. Biar aku antar sampai di depan" tawar Ino.
"Yah, baiklah. Sasuke-chan, baasan titip jagoan Baasan yah" seulas senyum yang Khusina berikan membuat Sasuke merasakan sesuatu di hatinya, sesuatu yang membuatnya mengigit bibirnya.
Tanpa menunggu balasan Sasuke, Khusina dan Ino pun beranjak keluar.
"Apa kamu merasa ada yang salah dengan Sasuke dan Sakura, Ino-chan?" Khusina membuka pembicaraan mereka setelah berjalan cukup jauh.
"Maksud, baasan?"
"Apa mereka berdua punya hubungan khusus?" Tanya Khusina lagi.
"Aku tidak tahu, aku baru tahu kalau Sakura kenal Sasuke nii baru dua minggu ini" jelas Ino, dia memang sudah cukup lama curiga dengan hubungan Sasuke dan Sakura. Tapi, hari ini kecurigaannya semakin bertambah dengan sikap Sakura yang terlihat cemburu saat Sasuke terlihat perhatian pada Hinata.
"Baasan, itu kan urusan mereka. Tak baik kita ikut campur" lanjut Ino yang sebenarnya tak ingin membahas masalah ini.
"Yah, sudah. Sebaiknya kamu kembali saja, mungkin Sakura sudah kembali" kata Khusina.
"Baiklah, baasan"
Di ruangan Naruto
Setibanya Ino di ruangan Naruto dia melihat Sakura tengah membaca bukunya sedangkan Sasuke tertidur di samping ranjang. Kedatangan Ino membuat kegiatan mereka sedikit terganggu.
"Ah, gomen. Aku mengusik waktu kalian"
"Tidak apa-apa Ino" balas Sakura seraya menutup bukunya, matanya terlihat memerah. Apa dia terlalu lama membaca bukunya?
Ino berjalan mendekati ranjang dan menggenggan tangan Naruto. "Telapak tangan kanannya masih belum bisa dibuka. Dia seperti sedang menggengam sesuatu, kira-kira apa yang di genggamnya?" pertanyaan Ino membuat Sasuke membuka matanya dan melihat tangan kanan Naruto.
"Sudah dua minggu ini, kami berusaha membukanya tapi tetap saja tak bisa" lanjut Ino. "Sasuke niisan, apa kau tahu penyebab kecelakaan yang menimpa Naruto?" kali ini Sasuke menatap langsung mata Ino mencari maksud pertanyaannya, sedangkan Sakura yang telah kembali kedunia membacanya kembali menatap dingin pada mereka.
"Saat itu kami dalam misi, kecelakaan ini masih kami selidiki" jawab Sasuke sekenanya.
"Apa ada kaitannya dengan gadis yang diceritakan baasan?" Sasuke mulai muak dengan pertanyaan Ino.
"Apa kau tengah mengintrogasi aku?" Sasuke bertanya balik.
"Tidak, aku pikir Sasuke nii pasti tahu sesuatu" jawab Ino sambil berjalan mendekati Sakura yang masih terlihat membaca di halaman yang sama sebelum dia mengantar Hinata keruangannya.
Normal end.
Hinata POV
Haaahhhh~ seluruh tubuhku terasa sakit, kepalaku pun terasa sedikit pening. Mungkin dengan sedikit berbaring bisa membuat kepalaku sedikit baikan. Langit-langit ruang aku dirawat terasa kabur, suasana dalam kamar ini pun begitu sunyi. Ku posisikan tubuhku tidur menyamping memandang sepasang sofa dan meja yang dihiasi seikat bunga matahari tiruan sekedar penghias kamar ini.
Kak Neji dan Tenten pasti sudah kembali karena mereka juga punya kesibukan masing-masing. Sekarang tinggal aku sendiri dikamar yang sunyi ini, aku mencoba memejamkan mataku untuk tidur.
Pikiranku tiba-tiba kembali ke kamar Naruto, kondisinya terbayang jelas di pelupuk mataku. Bau amis perlahan tercium, suara isak tangis terdengar samar-samar. Mataku tertahan pada sosok yang ku ketahui adalah Naruto, apakah rambut Naruto berwarna merah? Sepasang mata Jade perlahan-lahan terlihat dari balik kelopak mata yang menghitam.
Aku terbelak melihat sosok itu. TIDAK! Itu bukan Gaara! Rasa takut merayap menggerogoti keberanian yang sengaja aku pupuk.
"Hinata~" jelas terdengar di telingaku namaku disebutnya. Bahkan suaranya pun terdengar nyata.
"Hinata~" suaranyapun terdengar parau, sungguh aku tak berani membuka mataku. Aku takut saat ku membuka mata, yang kulihat adalah sosok Gaara yang berlumuran darah.
"Hinata-chan! Bangun!" aku tersentak bangun dan duduk. Napasku memburu, tubuhku bergetar, rasa takutku semakin bertambah, aku bermimpi yang sama lagi.
"Hinata-chan, kamu baik-baik saja?" kesadaranku masih belum kembali sepenuhnya, aku masih belum menyadari ada orang lain di dalam ruangan ini.
"Hinata~ chan!" suara pekikan seketika mengumpulkan semua kesadaranku yang masih berleha-leha. Aku melihat pemilik suara tadi. Mataku terbelak.
"Kyuubi!" masih dengan rasa takut yang terus membayangi ku, aku sedikit merasa tenang melihatnya.
"Kamu kenapa? Sepertinya kamu mengalami mimpi buruk?"
"A, aku. Aku takut, aku takut_" sungguh aku tak tahu ingin mengatakan apa dengan tubuhku yang masih bergetar.
"Tenang saja Hinata-chan. Jangan takut, ada aku disini bersamamu, aku akan selalu menjagamu" aku seperti pernah mendengar kata-kata itu dari seseorang. Kata-kata yang selau membuatku , kata-kata yang biasa Gaara katakan tiap kali aku merasa takut.
"Kyuu_" panggilku. Kyuubi pun duduk di dekat kakiku. "Kemana saja kamu salama ini?"
"Hehe_. Kemarin aku selalu bersama Hinata-chan, kok" katanya sambil tersenyum ceria. Melihat senyumnya memberikan aku sedikit kekuatan.
"Tapi, kenapa aku tak melihatmu?"
"Oh, itu. Aku juga kurang tahu kenapa?" dia terlihat lucu dengan mode berpikirnya. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya sekarang, karena saat ini dia sudah ada bersamaku.
"Kemarin, aku bertemu dengan seseorang yang membuatku teringat akan Gaara" ceritaku padanya.
"Pemuda yang di ruang VIP itu?" jangan kaget bagaimana dia tahu, karena dia adalah hasil imajinasiku wajarkan jika dia tahu apa yang aku pikirkan?
"Namanya Uzumaki Naruto, melihatnya seolah aku melihat Gaara. Membuat ku merasa sangat kehilangan saat melihat dia. Kyuu, apa kau juga akan menghilang suatu saat nanti?" entah mengapa aku bisa berpikir seperti itu dan mengapa aku pun bertanya padanya seperti itu?
"Itu semua tergantung padamu, Hinata. Jika kau membutuhkan aku, aku akan selalu ada untukmu. Jika kau tidak membutuhkan aku lagi, mungkin aku bisa menghilang selamanya"
Aku terdiam mendengar panjelasannya. Saat ini aku memang sangat membutuhkannya untuk menyemangati ku, saat ini hanya dia yang sangat dekat denganku dan dia sangat memahami kondisiku.
"Kyuu, apa bisa yah, aku memelukmu?" aku memiringkan kepalaku memikirkan pertanyaanku barusan.
"Tentu saja. Hinata-chan" katanya seraya memberikan senyum terbaiknya, senyum lima jarinya seraya membentangkan tangannya. "Aku sudah siap memelukumu, Hinata-chan" lanjutnya dengan nada menggoda. "Sini peluk tou-chan" tambahnya lagi, senyum lima jarinya berubah menjadi senyuman nakal.
Hal itu berhasil membuatku tertawa geli melihat tingkahnya yang mesum. "Arigatou, Kyuubi-kun. Kyuubi-kun sudah membuatku merasa tenang" kataku seraya tersenyum bahagia padanya.
"Terimaksih juga, Hinata-chan" balasnya seraya menurunkan rentangan tangannya karena gagal memeluku tanpa berhenti tersenyum nakal, meski senyumnya terlihat nakal namun mampu mengobati rasa takutku.
"Terimaksih untuk apa, Kyuubi-kun?" tanyaku tak mengerti.
"Terimakasih karena kembali tersenyum. Karena aku suka melihat senyum Hinata-chan"
Aku merasa atmosfir didalam ruangan ini meningkat membuat wajaku memanas.
"Kyaaa~, Hinata-chan! Wajah mu kembali memerah! Apa kamu baik-baik saja?!" Kyuubi terlihat cemas saat ku rasakan wajahku memerah. Dia segera mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Dasar Kyuubi bodoh! Apa yang kamu lakukan!
"Aku ingin mengecek suhu tubuh, Hinata-chan"
"Me, memangnya Kyuubi-kun bisa merasakan suhu tubuhku?" skak mat! Kyuubi menahan tubuhnya, dan terseyum polos sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Hehe~ Aku lupa, aku ini kan tak bisa merasakan apa-apa" katanya dengan tampang watados.
Aku menarik napas lega, hampir saja jantungku berhenti berdetak.
Yah, namanya adalah Kyuubi. Teman khayalanku, mencoba membayangkan wajah Gaara eh, malah dia wajahnya yang terbayang dan tiba-tiba muncul dan merubah hari-hariku yang dirundung duka kembali berseri dan memberi warna dalam emosiku.
Namanya Kyuubi, nama yang ku beri karena sosoknya yang misterius. Namanya Kyuubi, tentu saja, karena tiga garis kembar di kedua pipinya membuat dia mirip rubah berekor Sembilan dalam legenda itu.
Namanya Kyuubi, dengan nama itu aku berharap ada keajaiban dalam kisah kami. Kisah yang mungkin bisa aku ceritakan pada anak cucuku.
Namanya Kyuubi, bersama nama itu ada terselip do'a dan harapan.
TBC…
