PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung
WARNING : cerita ini dari NOVEL berjudul
The Proposal
(The Proposition #2)
By
KATIE ASHLEY …
ini asli kopy paste dan replace untuk nama tokoh (yang berubah nama pemeran) ,,, …. Entah ada nya perubahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..
YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA OKE !
...
Bab 9
...
Jaejoong bangun pagi harinya dengan dering nyaring telepon di telinganya. Mengerlingkan sebelah mata pada jam, dia mengerang.
Ini baru saja jam 7 pagi, dan dia tahu hanya satu orang yang menelponnya sepagi ini.
Meraba-raba teleponnya, dia mengambil dan menekan tombolnya.
"Selamat pagi Grammy," dia berbisik dengan mengantuk.
"Hai sayang. Bagaimana perasaanmu?"
"Mengantuk."
Grammy tertawa. "Maafkan aku membangunkanmu, tapi kau tahu Granddaddy dan aku berpikir tidur lewat dari jam 5 itu terlalu siang."
"Itu ejekan saat kalian kebanyakan tidur."
"Dengar sayang, aku ingin tahu apa Yunho bisa datang ke sini hari ini? Aku membuat sesuatu dari freezer yang kukira akan kau sukai, dan aku baru saja akan membuat casseroles untuk Yunho yang bisa dipanaskan kembali nanti."
"Grammy, kau seharusnya merawat dirimu sendiri dan Granddaddy, bukan aku!" protes Jaejoong
"Oh, ada apa dengan sedikit casseroles? Kebanyakan sudah selesai dimasak dan disimpan. Disamping itu, aku tak bisa istirahat jika kupikir kau dan si bayi tidak mendapat makanan yang baik, yang sehat."
"Sebenarnya, Yunho benar-benar pintar memasak, Grammy."
Grammy berdeham ke dalam telepon. "Tidak sepertiku."
Jaejoong tertawa. "Itu benar."
"Jadi kau pikir dia nanti akan kesini untuk sebentar saja?"
Melihat sekilas melewati bahunya, Jaejoong terkejut mendapatkan Yunho masih ada di tempat tidur di sampingnya. "Aku akan menanyakannya saat dia bangun."
Yunho membuka sebelah matanya. "Aku sudah bangun," dia merengut.
"Apa itu artinya kau akan pergi ke tempat Grammy untuk mengambilkan kita makanan?"
"Dia memasak?"
Jaejoong mengangguk.
Dia tersenyum lebar. "Tentu saja. Aku akan memakai pakaianku sekarang."
Dengan tawa, Jaejoong membalas, "Yunho akan ada di sana sekitar siang." Mendengar desahan Grammy, Jaejoong berkata, "Dia perlu menyediakan sarapan untuk kami dulu lalu mandi."
"Baiklah kalo begitu. Aku mencintaimu, gadis kecilku."
"Aku mencintaimu juga."
Saat Jaejoong menutup teleponnya, ia merengkuh telepon itu ke dadanya. Ia ingin merasakan pelukan Grammy lebih dari apapun.
Tidak perduli apapun yang terjadi di hidupnya, entah bagaimana hanya berada dalam pelukan Grammy membuat semuanya baik-baik saja.
"Kau merindukannya, bukan?"
Jaejoong mengalihkan pandangannya pada Yunho dan menggangguk.
"Maukah kau memberinya pelukan yang erat dan menciumnya untukku ketika kau berada di sana?" Jaejoong bertanya.
Yunho tertawa. "Aku pikir Virginia tidak akan membiarkan aku melewati pintu depan tanpa memeluk dan menciumku."
Jaejoong terkikik. "Itu benar. Tapi bagaimanapun juga berikan itu padanya, oke?"
"Aku akan melakukannya. Dan lalu aku akan pastikan kembali ke rumah dan memberikan cintanya padamu juga."
"Terima kasih."
Jatuh ke belakang pada bantal, Yunho mengerang. "Ya Tuhan, hari pertama aku benar-benar bisa tidur sampai siang di hari kerja, dan aku bangun jam tujuh-tiga puluh."
"Kau tidak harus bangun tidur sekarang. Kita bisa mencoba kembali tidur."
"Yakin kau tidak lapar?"
Jaejoong mengerutkan hidungnya. "Tidak, aku masih mendapat sedikit mual di pagi hari."
"Maukah kau menyetel alarm untuk jam 10?"
Jaejoong menaikkan sebelah alisnya. "Kau benar-benar berencana tidur sampai siang, huh?"
"Mmm, hmm," Yunho berbisik.
Saat Jaejoong bergerak ke belakang dalam selimut, Yunho bergerak cepat di dalam kasur. Tangannya menyelinap ke sekitar pinggang Jaejoong saat memeluknya dari belakang. Menyusupkan wajahnya ke leher Jaejoong, Yunho berkata, "Hangatkan aku."
Nafas Jaejoong tersentak saat dia menatap sekilas melewati bahunya pada Yunho. "Apa kau benar-benar kedinginan?"
Yunho membuka salah satu matanya dan memberikan Jaejoong seringai licik. "Mungkin."
"Uh-huh, baiklah, lihat saja, Tuan."
Mereka baru memposisikan diri saat Changmin menendang dengan gila.
"Oomph," Jaejoong berkata, bergeser ke kanan.
"Serius, Jae, aku tidak mencoba untuk menyentuh payudaramu!"
Jaejoong terkikik. "Aku tahu kau tidak mencobanya." Dia mengambil tangan Yunho dan membawa tangan Yunho ke daerah perut dimana kaki Changmin menyundul.
Yunho mengambil nafas dalam. Saat Jaejoong menatap kembali padanya, wajah Yunho berekspresi murni kekaguman. Yunho menatap Jaejoong dan tersenyum. "Apa dia selalu seaktif ini di pagi hari?"
"Kadang. Biasanya, dia benar-benar mulai aktif setelah aku makan."
"Ah, seperti dia aktif oleh gula atau sesuatu seperti itu?"
"Aku rasa juga begitu."
Bahkan setelah Changmin tenang, Yunho tetap menempatkan tangannya rapat di perut Jaejoong. Walaupun Jaejoong seharusnya memprotes, ia tidak melakukannya. Terasa terlalu nyaman dengan tangan Yunho disekitarnya. Dan dalam beberapa saat, Jaejoong merasa mengantuk.
...
Setelah alarm mati pada pukul sepuluh, Yunho melompat keluar dari tempat tidur. Saat Jaejoong bangkit, dia mengira Yunho akan mandi, alih-alih Yunho menjangkau teleponnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Menelpon Sungmin."
"Kenapa?"
"Selain pergi ke tempat Grammy, aku perlu pergi ke toko makanan dan mencari beberapa barang. Mungkin aku keluar lebih lama dari yang kuperkirakan, dan aku tidak ingin meninggalkanmu begitu lama."
Jaejoong memutar matanya pada Yunho. "Aku rasa aku akan berhasil dari tempat tidur ke kamar mandi, terimakasih."
Yunho menggelengkan kepalanya saat dia melangkah keluar dari kamar mandi. "Hai kak, bisa kau menolongku?" Jaejoong mendengarnya bertanya. Yunho pergi tidak lama sebelum dia kembali ke dalam. "Sungmin datang kemari."
"Hebat," Jaejoong merengut.
Alis Yunho berkerut dalam kebingungan. "Aku kira kau menyukainnya?"
"Aku memang menyukainya. Kenyataannya, aku menyayanginya seperti kakakku sendiri. Cuma aku merasa terlalu dilindungi saat ini – seperti ikan di akuarium."
"Maafkan aku, tapi aku tak bisa berhenti mengkhawatirkanmu, Jae."
Dada Jaejoong terasa tercekat pada kesungguhan yang tampak di wajah Yunho. Ia tak tahu kenapa harus melawan Yunho sebegitu seringnya. Ia hanya harus berhenti dan menikmati kenyataan bahwa Yunho
menjadi perhatian dan perduli. Alih-alih berargumen, dia
mengangkat tangannya dan menyerah. "Baik, baik. Sungmin bisa
datang mengasuhku."
Yunho menyeringai. "Bagus, mengingat kau tidak punya pilihan."
"Yunho," Jaejoong memperingatkan.
Yunho mendekati Jaejoong untuk mencium pipinya. Lalu Yunho menarik dirinya, bibirnya bergerak perlahan mendekati bibir Jaejoong.
Saat Jaejoong melihat ke dalam mata Yunho, ia melihat hasratnya menyala terang. Sebagian dirinya ingin bergerak mendekat dan menciumnya, tapi sebagian dirinya yang lain tahu seberapa berisikonya itu. Meletakkan tangannya di dada Yunho, Jaejoong dengan lembut mendorongnya.
"Kau lebih baik pergi mandi. Grammy akan panik dan terus-terusan memenuhi saluran telepon jika kau tidak ada di sana tepat jam 12."
Rasa sakit sesaat terlintas dalam mata Yunho sebelum dia menganggukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu."
Jantung Jaejoong tercekat saat ia melihat Yunho berjalan penuh kekalahan ke dalam kamar mandi.
