Do I Hate You or I Love You? © Chiharu Kazawa
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Pairing : Naruto and Hinata
.
Genre : Romance, Friendship
.
Rate : T(een)
.
Warning : OOC, AU, Typo(s), Hinata RTN, dkk
.
Don't Like, Don't Read!
.
Happy Reading!
.
Enjoy It!
.
.
7 Years Later
.
.
Langit mulai menggelap di ufuk barat. Terlihat siluet bayangan seseorang yang berlari cepat menyelusuri beberapa kios toko. Namun, ada rasa waspada menyelimuti mengetahui jalan yang di pijakinya becek. Bisa terpleset tidak elit nanti dia.
"Oh ya ampun," gumamnya resah ketika melihat sederet kata 'close' terpampang di dalam semua toko yang ia kunjungi.
Gadis itu melilitkan syal merah mudanya saat syal itu melorot di bawah lehernya. Uap panas menyembul keluar dari mulutnya ketika ia menghela nafas. Mata lavender pucatnya memicing tajam.
Toko akan ditutup selama liburan Natal dan Tahun Baru. Begitulah yang tertulis di bawah kata close yang sudah bosan ia lihat.
"Yang benar saja..." gerutunya seraya menendang batu kerikil di samping kanannya lalu berbalik pergi.
Tangannya dia masukkan ke dalam saku jaket tebalnya. Angannya melayang terbang entah kemana. Memikirkan hadiah apa yang akan dia berikan kepada pemuda yang sudah tujuh tahun merajut kasih dengannya.
Ia sudah berjanji akan bertukar kado dengan pemuda itu pada malam Natal. Tapi, tangannya kosong. Hampa. Tidak ada benda berbentuk kotak atau bentuk hati atau bentuk apapun yang direncanakannya di sampuli kertas kado bergambar puluhan mangkok ramen dengan warna latar jingga. Mengingat pemuda itu sangat menggilai ramen.
Jangan salahkan dia karena tidak membuat kadonya di jauh-jauh hari. Ia begitu sibuk dengan kelulusannya sebagai Sarjana Psikolog yang baru ia sandang dua hari yang lalu. Andai waktu dapat berputar mundur, ia ingin memikirkan hadiah dan segera mengemasinya dengan apik untuk pemuda pirang yang dia cintai, meski di hari wisudanya. Untuk orang tercinta, mengapa tidak?
Apa mau di kata. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada toko yang buka di jam-jam hari Natal dan Tahun Baru. Semua orang sibuk menghabiskan waktu Natal bersama keluarga mereka masing-masing. Tentang keluarga, ia jadi ingat sesuatu...
Tritritratralalalala~
Ia terlonjak kaget seketika. Ponselnya berdering kencang membelah kesunyian nan sepi di jalan yang dia tapaki. Tergesa-gesa ia merogoh saku celananya, tempat disimpan ponselnya, sebelum suara deringnya semakin menggila.
Kulit tangannya yang terbaluti sarung tangan hangat meraba benda yang dia yakini ponselnya. Secepat kilat ia menariknya keluar dan menekan tombol 'jawab' tanpa melihat nama si pemanggil dan langsung dia tempelkan di telinga kirinya.
"M-Moshi-moshi!"
"Hinata-neechan!" sekejap, gadis itu menjauhkan telinga kirinya dari ponselnya. Demi keselamatan gendang telinganya dari suara melengking adiknya di seberang sana.
"Hanabi, jangan teriak-teriak, tidak baik," Hinata menasehati adiknya dengan lembut dan sabar meski dalam hatinya dongkol.
"Uhh! Hinata-neechan, kemana saja kau? Aku khawatir! Ayo pulang!"
"Kenapa? Kau mengkhawatirkanku? Tenang saja ak-"
"Bukan! Aku khawatir pada perutku! Aku lapar~! Pulanglah, dan masak sesuatu!" Kukira... dia mengkhawatirkanku, pikir Hinata.
"Bukankah di rumah ada pelayan? Mengapa tidak minta saja?"
"Kakak tidak tahu? Semua pegawai di rumah di liburkan karena Natal dan Tahun Baru. Mereka kan ada waktunya untuk berkumpul bersama keluarga. Tidak seperti kakak."
What? Para pegawai rumah di liburkan? Ah, semenjak ia pergi keluar rumah ternyata banyak hal yang terjadi. Dan lagi, kata-kata adiknya sangat menusuk hati Hinata. Tiba-tiba, ia merasa, di dunia ini, hanya dia saja yang tidak bersama keluarganya saat ini. Kakak macam apa dia?
"Oke sayang, aku akan pulang. Aku sedang dalam perjalanan," kata Hinata diakhiri suara kecupan di ponselnya.
Hinata langsung memutuskan kontak sepihak dan kembali melanjutkan perjalanannya.
.
.
Awan hitam tampak asyik memeluk bulan. Cahayanya makin meredup menyinari kamar yang di dominasi warna oranye itu. Meski gelap, sang pemilik kamar itu tidak kunjung menyalakan lampunya.
Mata safir itu terkunci pada cincin permata lavender terang yang dia genggam di sela-sela jari telunjuk dan ibu jarinya. Ia angkat tinggi-tinggi, mempadukan sinar bulan yang minim agar masuk menembus cincinnya.
Lavender itu bersinar, bermandikan cahaya biru bulan. Sungguh perpaduan warna biru dan lavender yang cantik. Namun, yang paling menonjol adalah warna asli cincin itu. Warna lavendernya menyalang geram di mata safirnya. Menampakkan keelokkan cincin itu tersendiri. Seulas senyum tipis di kedua belah bibir itu.
"Aku tidak sabar menunggu esok hari. Kira-kira, apa tanggapannya ya?" gumamnya, entah pada cincinnya atau pada dirinya sendiri.
Ctak!
Seketika, seisi ruangan yang semula gelap menjadi terang benderang sehingga pemuda itu sedikit memejamkan matanya, berusaha terbiasa dengan sinar lampu kamarnya.
"Apa liburanmu hanya di habiskan di dalam kamar saja, Naruto? Tanpa melakukan apapun begitu," seorang ibu paruh baya bersurai merah darah bertanya sarkastik pada pemuda itu.
"Ibu..." Naruto berjalan menghampiri ibunya dengan wajah yang sumringah tak tertahan.
"Lihat, cincin ini cantik kan? Aku ingin memberikannya pada Hinata di malam Natal besok." ucap pemuda pirang itu tidak memperdulikan pertanyaan ibunya barusan seraya memamerkan cincin di tangannya seolah barang itu adalah aset yang berharga dalam hidupnya.
"Cantiknya..." Kushina tidak dapat membendung rasa takjubnya ketika pertama kali ia lihat.
Tanpa meminta izin pemiliknya, Kushina segera mengambil cincin itu dan menyematkannya pada jari manis kirinya.
"Kapan kau membelinya? Mengapa kau baru memberitahu ibu sekarang?"
"Ibu, aku baru saja pulang ke rumah dan aku langsung pergi ke pusat toko emas ternama untuk membeli itu. Aku telah mengorbankan semua tabunganku."
Kushina hanya manggut-manggut tidak memperdulikan raut wajah anaknya yang sedih mengeluarkan semua isi kartu kreditnya di toko emas itu. Ia asyik memperhatikan cincin milik anaknya yang besok akan berpindah kepemilikan.
"Ehehe, cincin ini cocok untuk ibu, kan?"
"Tidak," jawab Naruto datar.
"Mengapa?"
"Karena cincin itu cocok untuk Hinata saja,"
"Bagaimana bisa kau tahu cincin ini cocok untuk Hinata sedangkan kau tidak pernah melihatnya memakainya,"
"Aku membayangkannya,"
Kushina menatap anak semata wayangnya dengan selidik. Naruto mengangkat alisnya sebelah karena di tatap seperti itu.
"A-Ada apa, ibu?"
"Jangan-jangan, di setiap ada kesempatan, kau selalu membayangkan Hinata yang aneh-aneh, kan?"
"Mem-Membayangkan apa maksudnya? Dan juga, apa maksudnya di setiap ada kesempatan? Jangan membuatku berpikir yang macam-macam-ttebayo,"
"Kau yang pertama kali memancing ibu berpikir yang macam-macam-ttebane,"
Naruto menghela nafas. Ia mengambil tangan kiri ibunya dan mengambil cincin miliknya dengan paksa hingga membuat ibunya memekik kaget.
"Cukup dengan pembicaraan yang tidak jelas ini, ibu. Oh ya, jangan pernah menyentuh kotak cincin ini," titah Naruto pada ibunya setelah menyimpan cincin itu di dalam kotak beludru merah kecil dengan aman dan menyimpannya di atas sudut lemari.
"Ya sudahlah, ayo kita makan malam,"
.
.
"Bagaimana dengan sekolah asrama Kemiliteranmu?" sang kepala keluarga mengangkat suara setelah mereka selesai makan malam.
Kushina sedikit melirik anak tunggalnya di sela ia sedang mencuci piring bekas makan malam mereka. Ia mulai tertarik dengan pembicaraan suami dan anaknya. Naruto menyengir lebar.
"Baik-baik saja. Disana menyenangkan sekali, Ayah," jawabnya. Naruto telah berniat mengabdi pada Negara setelah ia lulus sekolah menengah keatas. Tidak heran rambut pirangnya yang dulu gondrong mencuat, kini ia memangkasnya rapi karena tuntutan aturan sekolah militer itu.
"Hmm, kau semakin gagah dan tubuhmu besar semenjak disana, apa rahasianya?" entah kenapa, Minato bertanya yang mengarah ke permasalahan perubahan drastis tubuh anaknya.
"Aku sering berlatih keras di sana. Di saat pagi hari, aku ber-push up 100 kali dan lari sepanjang 10 km dan di siang harinya-"
"Cukup! Ayah tidak sanggup mendengarnya lagi. Mengapa kau bisa betah di sekolah seperti neraka disana?" Minato menggelengkan kepalanya. Kushina dan Naruto cekikikkan mendengarnya.
"Tidak terasa aku sudah resmi menjadi tentara negara. Cita-citaku menjadi pemimpin desa akan tercapai, ah! Mungkin tidak hanya pemimpin desa, tapi bisa saja pemimpin negara!" Naruto makin melebarkan senyumnya.
Minato tersenyum tipis lalu mengacak rambut pirang anaknya dengan lembut.
"Bercita-citalah setinggi atap,"
"Setinggi langit, Minato!" Kushina merengut, meralat ucapan Minato barusan.
"Oh iya iya, bercita-citalah setinggi langit," Minato menggaruk pipi kanannya, salah tingkah.
"Iya, Ayah."
.
.
"Yeeyy! Natal telah tiba!"
Mata lavender pucat itu terbuka lebar. Demi dewa jashin yang di sembah Hidan, Hinata sukses terbangun di tengah-tengah mimpi indahnya yang bersama sang pujaan hati di atas bukit Konoha sedang melihat percikan kembang api berdua-oke lupakan.
Hinata kaget terbangun bukan karena suara mencetar Hanabi yang membahana seisi mansion tapi karena ucapannya... Natal telah tiba?
Gubrak!
Hinata berjengit ketika pintu yang memisahkan kamar dan lorong-lorong rumahnya dibuka paksa. Hinata bersumpah, engsel pintu itu pasti sudah terlepas. Monster dari mana yang mendobrak pintu kamar kesayangannya seenak jidat?
Monster itu ternyata adik kesayangannya, Hanabi. Wajah gadis surai coklat itu berseri-seri menghampiri tempat kakaknya yang meringkuk berselimut tebal.
"Kakak! Sekarang hari Natal! Ayo kita lihat kado-kado kita!" Hanabi tanpa ampun menggoyangkan tubuh ringkih kakaknya.
Tanpa berkata apa-apa, Hinata turun dari kasur dengan pasrah dan mengikuti Hanabi menuju aula yang terdapat pohon Natal raksasa yang berkelip warna-warni. Pohon itu di kelilingi setumpukan kado-kado beraneka ragam warna yang cerah dan disana juga ada dua orang laki-laki yang sudah bersamanya semenjak ia masih bayi. Kakak sepupunya, Neji. Dan ayahnya, Hiashi.
"Selamat Natal." ucap mereka serentak setelah Hanabi dan Hinata berhenti di hadapan mereka.
Hanabi memekik riang seraya mengobrak-abrik, menebak isi puluhan kado di depannya. Hinata hanya menggelengkan kepala melihatnya.
Natal ya, malam ini... kado... Naruto...
"Hinata-sama?" panggil Neji saat melihat Hinata mematung dan mengerutkan dahinya seperti menahan sesuatu.
"Kau kenapa?" Neji menepuk pundak Hinata dan sontak tangis Hinata meledak.
"Naataalll..." ucapnya di sela isak tangisnya.
Hanabi, Neji dan Hiashi langsung menenangkan Hinata, berusaha meredam tangisan Hinata yang menurut mereka agak berlebihan.
"Ayah, Hinata-neechan menangis senang atau sedih?" tanya Hanabi polos dan khawatir. Hiashi mengangkat bahunya, tidak tahu.
.
.
Brek! Brek! Brek!
Suara sobekan kertas menggema di kamar berwarna ungu pucat itu. Kondisi kamar itu mengenaskan, sobekan kertas kado berserakan di mana-mana.
Isi kado yang terdiri dari aksesoris rambut cantik dan imut, boneka beruang merah muda besar, buku-buku bergambar Barbie, perhiasan, Hinata lempar ke sudut kamarnya.
"Mengapa isi kadonya ke-girl-an begini, sih?" tanya Hinata yang masih sibuk membuka kadonya yang ke-10 dengan emosi, kepada Hanabi saat gadis kecil itu muncul di ambang pintu kamarnya yang roboh.
"Tentu saja, kado itu kan untuk Hinata-neechan. Kakak kan perempuan, apa pantas kakak di beri hadiah mainan mobil-mobilan?" Hanabi mendecak kesal melihat aksi sobekan sadis yang dilakukan kakaknya. Sudut matanya menangkap tumpukan barang-barang di sudut kamar kakaknya.
"Itulah yang kumau..." gumam Hinata pelan. Tapi sayangnya, Hanabi tidak mendengar gumamannya dengan jelas.
Hanabi mengambil boneka beruang dan mendekati kakaknya.
"Kenapa kakak membuang boneka ini dan semua isi kadonya?"
"Kakak tidak menyukainya,"
Hanabi menyengir lebar. Hinata jelas bisa membaca raut wajah adiknya.
"Kau boleh mengambilnya," tutur Hinata tanpa menunggu permintaan adik manisnya.
"Terima kasih, neechan!" setelah itu, Hanabi lantas memborong semua isi kado yang dibuang kakaknya lalu berjalan terkikik menuju kamarnya.
Hinata merebahkan badannya di atas karpet berbentuk bunga krisan miliknya. Alisnya mengkerut.
"Bagaimana ini? Aku tidak bisa memberikan hadiah pada Naruto seperti cepit rambut atau gelang, tentu saja. Rasanya, aku ingin mengobrak isi kamar Neji-niisan dan mengambil barang yang kukira Naruto menyukainya atau meminta salah satu kado Neji-niisan. Tapi... aku tidak enak, Neji-niisan pasti akan menaruh curiga padaku,"
Hinata bangkit lalu membongkar isi lemari pakaiannya. "Pakaian musim dingin mungkin tidak terlalu buruk. Kalau aku ingat-ingat, jaket coat yang diberikan Ayahku tahun lalu mungkin pantas di pakai Naruto..."
Pencarian Hinata terhenti tiba-tiba. "Tapi itu kan bekas. Masa aku harus memberinya pakaian bekas!" raung Hinata frustrasi.
Seonggok kain jatuh menimpa kaki mulus Hinata, turut mengundang atensinya. Hinata berjongkok, mengambil kain panjang yang biasa disebut syal. Di telitinya syal rajutan itu. Warnanya merah menyala. Bagus.
"Sepertinya, aku pernah melihat syal ini..." ingatan Hinata menerawang. Lalu kemudian, Hinata membulatkan matanya seiring mulutnya yang ikut membulat juga.
"Aku lupa! Ini kan syal yang lima tahun lalu aku rajut untuk Naruto pakai di hari Natal saat itu. Oh ya ampun!"
Hinata tersenyum manis, pipinya bersemu merah. "Kurasa, sekarang waktu yang tepat untuk memberikannya,"
"Hanabi-neechan! Ten Ten-nee datang!" lagi-lagi suara adiknya menginterupsinya.
Hinata menyimpan syalnya di punggung kursi kayu yang letaknya tidak jauh darinya lalu berjalan keluar hendak menyambut kedatangan Ten Ten.
Baru saja ia keluar dari kamar, sosok Ten Ten di samping pintu kamar sukses mengagetkan Hinata.
"Ehe, Selamat Natal, Hinata," Ten Ten langsung memeluk Hinata hangat.
"Bisakah kau mengucapkannya dengan normal tanpa harus mengagetkanku?" dan Hinata membalas pelukan Ten Ten lalu menggiringnya masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan permohonan maaf dari Ten Ten.
Ten Ten sedikit membulatkan matanya begitu melihat isi kamar Hinata yang jauh dari kesan rapi.
"Jadi ada apa?" tanya Hinata tanpa berbasa-basi.
"Sakura akan mengadakan pesta Natal malam ini di rumahnya, teman-teman kita juga turut di undang, kau mau ikut kan?" tanyanya setelah ia duduk di karpet berhadapan dengan Hinata.
"Tidak. Malam ini aku ada acara, Naruto dan aku akan bertukar kado Natal dan melihat kembang api bersama di bukit! Kyaa!" wajah Hinata memerah membayangkannya.
Ten Ten terkekeh, lalu, "Semoga berhasil dengan kencanmu. Sudah berapa tahun kau tidak bertemu dengannya?"
"Semenjak Naruto pergi ke Ame untuk melanjutkan studinya di sekolah asrama Kemiliteran, aku dan dia tidak bertemu lagi selama 4 tahun. Kami hanya bicara lewat ponsel saja. Uhh, aku sangat merindukannya," bibir Hinata melorot ke bawah, sedih.
Ten Ten manggut-manggut mengerti. "Tenang saja, rindumu akan terobati. Malam ini kau akan bertemu dengan Naruto," Hinata mengulas senyumnya.
"Hey, boleh aku meminjam salah satu syalmu? Aku lupa membawanya. Hari ini dingin sekali," Ten Ten memeluk dirinya sendiri dan pura-pura menggigil.
Hinata tertawa, "Sejak kapan aku selalu melarangmu, Ten Ten?"
"Terima kasih, Hinata! Kau sahabat terbaikku!" dan Ten Ten langsung menuju lemari pakaian Hinata dan melihat-lihat isinya.
Syalnya begitu banyak warna dan motif. Ten Ten bingung untuk memilihnya. "Hinata, bisa-"
Ring! Ring! Ring!
Suara telepon rumah di kamar Hinata berbunyi, memotong pembicaraan Ten Ten. Hinata mengangkat gagang telepon.
Hinata sedikit melirik Ten Ten. "Maafkan aku Ten Ten," Ten Ten hanya mengangguk mengerti.
"Hallo?"
"Hinata-chan!" Hinata tersenyum mendengar suara cempreng di sebelah sana.
"S-Sakura-chan..."
"Selamat Natal!"
"Selamat Natal untukmu juga, Sakura-chan,"
"Aku ada kabar bagus, malam ini aku akan mengadakan pesta Natal di rumahku, kau mau ikut?"
"Baru saja Ten Ten mengabariku soal itu. Maaf aku tidak bisa ikut, malam ini aku ada... kencan dengan Naruto," Hinata agak malu mengatakan kencan.
Suara kekehan renyah terdengar di seberang sana. "Oke, aku mengerti. Semoga berhasil dengan kencanmu,"
Setelah itu, obrolan mengalir begitu saja di antara mereka. Sementara itu, gadis surai coklat berkepang dua itu terlihat gusar di depan cermin yang mematut seluruh tubuhnya dari atas ke bawah.
"Tidak ada yang cocok untukku," katanya pada dirinya sendiri seraya melepas syal polkadot ungu di lehernya.
Mata hazelnut-nya menangkap syal merah di atas punggung kursi di samping kirinya. Ten Ten langsung mengambilnya dan melilitkannya di lehernya.
Senyum lebar menghiasi wajahnya. "Syal ini cantik sekali, dan cocok untukku,"
Ten Ten menghampiri Hinata yang membelakanginya. Tidak enak bila di ganggu di saat ini. Hinata tampak asyik berbicara di telepon.
"Hinata-chan, aku sudah menemukan syal yang bagus untukku. Boleh aku pergi sekarang?" tanya Ten Ten, berusaha tidak mengganggu Hinata.
Hinata menggangguk cepat, ia tidak mengalihkan tatapannya dari kertas note yang entah apa isinya sembari berbicara di telepon.
Sejenak, Hinata sedikit menjauhkan gagang telepon dan mencatat sesuatu, "Baiklah Ten Ten, terima kasih sudah berkunjung. Hati-hati di jalan ya,"
Ten Ten tersenyum dan berjalan menuju pintu keluar mansion setelah mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada Hinata.
.
"Terima kasih, Hinata. Resep kuenya sangat membantu! Oh ya, aku harus pergi berbelanja, sampai jumpa Hinata!"
Piip-
Hubungan telepon langsung putus begitu saja dari Sakura. Hinata sedikit mengorek telinganya sebentar, berbicara dengan Sakura selama 1 jam membuat telinganya pengeng seketika karena gadis itu kerap kali berteriak cempreng di telepon.
"Baiklah, sekarang waktunya untuk mengemas kado untuk Naruto," ucapnya lalu berbalik melihat kursi dimana ia menyimpan syal merah rajutannya.
Wajah Hinata memucat. Syal merah itu tidak ada. Hilang. "Ya ampun, dimana syal cintaku itu, aku masih ingat aku menyimpannya disini!"
Hinata mencari syalnya di seluk-beluk tempat yang tidak jauh dari kursi kayunya. Lalu Hinata berhenti mencari.
"Apa mungkin Ten Ten yang mengambilnya? Oh Tuhan! Jika itu benar... aku harus mengambilnya!"
Hinata segera berdiri, mengenakan coat tebal ungu pucatnya dan menyabet syal merah muda asal dan melilitkannya longgar di leher. Suara gedebuk-gedebuk di sepanjang lorong-lorong rumah di setiap langkahnya, menandakan ia sedang terburu-buru.
Tinggal selangkah lagi ia akan bersentuhan dengan kenop pintu menuju keluar. Neji telah menepuk pundak Hinata dan menghentikannya.
"Hinata-sama, kau terlihat terburu-buru sekali. Kau mau kemana?"
"Uh, umm, a-aku ingin pe-pergi mencari Ten Ten..." ungkapnya dengan wajah yang berkeringat dingin. Neji datang di waktu yang tidak tepat.
"Oh, bisakah nanti saja? Tolong bantu aku membuat kue jahe dan pie, ya?"
Hinata hanya menghela nafas. Mau tak mau ia harus menuruti keinginan kakak sepupunya. "Baiklah, Neji-niisan,"
.
.
17:05
Naruto menatap deretan angka waktu di jam tangan Adidas hitamnya. Beberapa jam lagi, ia akan bertemu dengan Hinata di bukit tinggi Konoha. Dadanya berdegup kencang. Detik-detik momen yang di tunggu-tunggu akan datang.
Naruto mengelus dadanya saat degupannya semakin berdetak keras. Untuk sekian kalinya, ia kembali bercermin. Memeriksa penampilannya agar selalu terlihat rapi dan oke.
Tubuh tinggi kekar Naruto dibaluti baju turttle neck hitam panjang yang dilapisi bagian luarnya dengan jaket coat jingga sepahanya, di bagian kaki, ia hanya memakai celana kargo hitam panjang semata kaki yang di selipkan ke dalam sepatu boots hitam. Tidak lupa, ia melilitkan scarf hijau bergaris putih di lehernya.
Naruto tersenyum lebar lalu berjalan mengambil kotak cincin di sudut atas lemari. Namun, niatnya gagal ketika sang ibu berteriak memanggilnya dari dapur.
Naruto bergegas menuruni tangga, menuju dapur. "Ada apa, ibu?"
Kushina menenteng sebuah plastik ukuran sedang dan menyodorkannya di depan wajah Naruto. "Berikan kue mochi ini untuk Chiyo-baasan. Kau masih ingat rumahnya kan?"
"Aku masih ingat. Baiklah, aku pergi dulu. Ittekimasu," Naruto segera mengambil bingkisan plastik itu. Kushina mengantar Naruto sampai pintu rumah.
"Itterashai!" Kushina melambaikan tangannya ke punggung lebar anaknya yang makin jauh hilang di tikungan rumah.
Naruto terus berlari namun tidak terlalu cepat. Tidak butuh waktu yang lama, Naruto telah berada di depan rumah tujuannya. Rumah yang bergaya Jepang tradisional itu tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Terlihat seorang nenek yang surainya sudah memutih sepenuhnya sedang duduk di teras rumahnya, di temani dua cangkir ocha dan seorang pria surai merah darah.
Naruto memicingkan matanya, "Gaara? Gaara!" ia melambaikan tangannya kepada pria bermata jade itu.
Pria yang disebut Gaara itu terperangah, "Naruto..?"
Naruto memperlambat laju larinya ketika sudah berada di depan kedua orang itu. Senyumannya makin melebar saat Gaara memeluknya. Sudah lama mereka tidak bertemu. Naruto dan Gaara adalah teman semasa kecil, namun saat mereka menginjak bangku sekolah menengah pertama, Gaara pindah ke Suna.
"Apa kabar, Naruto? Kau semakin berubah saja," ucap Gaara setelah melepaskan pelukannya.
"Aku baik-baik saja. Kau juga sudah banyak berubah, maksudku, rambut merah klimismu itu. Aku sempat tidak mengenalimu tadi,"
Mereka berdua tertawa bersama, disambut kekehan kecil nenek Chiyo.
"Ah, Naruto-chan, angin apa yang membawamu kesini?" tanya nenek Chiyo setelah Gaara menggiring Naruto duduk bersama mereka.
"Bukan angin, nek. Ini, ada kue mochi dari ibu, untuk nenek," Naruto segera membuka bingkisan plastiknya dan mengeluarkan sekotak kardus berisi kue mochi yang bulat-bulat.
"Kau dan ibumu tidak perlu repot-repot. Kalian sudah terlalu baik padaku. Bagaimana dengan keadaan ayah dan ibumu?" tanyanya sembari memindahkan sebutir demi sebutir mochi ke atas piring.
"Ayah dan ibuku baik-baik saja, nek. Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama, aku harus pergi,"
Gaara menangkap pergelangan kiri Naruto, mencegah Naruto pergi. "Kau baru saja bertemu dengan kawan lamamu dan kau akan pergi secepat ini?"
"Iya, Naruto-chan. Tetaplah disini dulu barang sejenak," timpal nenek Chiyo.
Naruto menggaruk tengkuknya, merasa tidak enak sekaligus salah tingkah.
"Duduklah disini dan minum ocha bersama kami, aku akan membawa secangkir ocha lagi untukmu."
"Tidak usah, Gaara," pria bermata jade itu berpura-pura mendengarkan Naruto barusan dan lantas bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Tinggallah Naruto dan nenek Chiyo berdua di teras.
.
.
Sudah tigapuluh menit, Naruto menghabiskan waktunya dengan mengobrol dan sesekali meresapi ocha hangat. Ia pun pamit pergi dan ber-ojigi kepada Gaara dan nenek Chiyo.
Langkah kakinya pergi menuju bukit tinggi Konoha yang jaraknya kira-kira satu kilometer setengah dari rumah nenek Chiyo. Wajahnya berhiasi senyuman lebar di setiap langkah. Tangannya meraba-raba saku coat dan saku celana kargonya mencari sesuatu. Langkahnya terhenti.
"Aku lupa bawa cincinnya." Naruto segera berbalik kembali ke rumahnya.
Sementara itu, tidak jauh dari simpangan jalan yang Naruto lewati. Hinata tampak berlari terengah-engah Ia berlari berbeda arah dengan Naruto. Anehnya, mengapa mereka tidak menyadarinya...
Tujuan Hinata sekarang adalah rumah Sakura. Berharap Ten Ten ada disana. Rumah berlantai dua sudah ada di depan matanya. Itu rumah keluarga Haruno.
Hinata segera menaiki tangga dan mengetuk pintu dengan keras tanpa ampun.
"Sakura-chan!" teriaknya di sela gedoran pintunya yang membabi buta.
"Aku datang! Aku datang!" balas seseorang dari dalam sana.
Cklek!
"Eh, Hinata-chan? Kau datang untuk berpesta? Aku tahu kalau kau-"
Hinata menerobos masuk ke dalam dan matanya mengedarkan ke segala arah. "Dimana Ten Ten?" tanyanya lirih.
Kepala yang sangat dia kenali timbul di balik dinding, di ikuti kepala pirang lainnya. "Ada apa kau mencariku, Hinata-chan?" tanya Ten Ten sembari berjalan mendekati Hinata.
"Jadi, kau ikut berpesta, Hinata-chan?" Ino ikut nimbrung.
Hinata membisu. Matanya terus memandang syal merah yang di sampirkan di bahu Ten Ten. Tanpa babibu, Hinata menarik syal itu.
Sret!
"Kyaa!"
"Maafkan aku, Ten Ten!"
Hinata langsung pergi keluar, menenteng syal merah miliknya. Ketiga gadis itu masih mematung di tempat, masih memproses kejadian yang begitu mendadak tadi. Tidak disangka, Hinata kembali lagi dan mengalungkan syal merah mudanya di leher Ten Ten.
"Maafkan aku, Ten Ten," kata Hinata lagi, lalu kembali-lagi-keluar.
Dari arah dapur, ibu Sakura, Mebuki terheran-heran dengan kedatangan juga kepulangan Hinata yang tiba-tiba.
"Ada apa tadi?" tanyanya.
Ino, Sakura dan Ten Ten menggelengkan kepalanya, tidak tahu. Plus bingung.
.
.
Kristal-kristal es salju mulai turun lebat. Semilir angin mengelus pipi gembil Hinata dan surainya lembut. Surai indigo milik Hinata terlihat memutih di atasnya karena salju.
Kakinya yang terbaluti sepatu boots hitam pucatnya terlihat menembus masuk ke dalam tumpukan salju, hanya sedikit. Kini ia telah berada di kaki bukit, tempat janji dia dan Naruto untuk bertemu, melepas kerinduan selama 4 tahun lamanya mereka tidak bertemu.
Berjalan sepanjang 1 km di saat cuaca yang ekstrim benar-benar menghabiskan separuh tenaganya. Saat ini, harusnya ia bergelut di kasur atau sedang memakan kue jahe dan pie di temani secangkir ocha hangat bersama keluarga di rumahnya. Tapi, mengapa Naruto malah memilih tempat sepi seperti ini? Apalagi dengan berdalih untuk melihat kembang api Natal secara leluasa. Alasan yang kekanakkan.
Mata lavendernya menangkap sosok pria pirang duduk di kursi panjang yang menghadap langsung pemandangan desa. Tatapannya lurus ke depan, seolah ada yang di pikirkan. Hinata menggelung syal yang dia genggam saat ujungnya menyentuh tanah bersalju. Syal itu, ia sembunyikan di belakang punggungnya.
Ia melirik syalnya. Syal itu sudah di pakai Ten Ten mungkin tidak akan istimewa lagi, tapi apa mau di kata. Hinata menarik nafas panjang.
Hinata berjalan mengendap-endap mendekati Naruto, berusaha tidak menimbulkan suara apapun. Saat beberapa meter dari Naruto, mata safir Naruto telah menangkap keberadaannya.
Hinata terkekeh karena ketahuan, tidak lupa goresan merah muncul di pipinya. Naruto hanya tersenyum lalu memberi tempat duduk untuk Hinata di sampingnya.
"Sudah menunggu lama?" tanya Hinata setelah ia duduk disamping Naruto. Kedua tangannya masih bersembunyi dibalik pinggangnya.
Naruto melirik jam di pergelangan kirinya. "Tidak, aku baru saja datang sepuluh menit yang lalu,"
Hinata bernafas lega. Untung cuma telat sepuluh menit, tidak apalah. Naruto menggeser tubuhnya agar semakin merapat dekat dengan Hinata. Hinata tidak bereaksi apa-apa.
"Aku sangat merindukanmu." bisik Naruto dengan semu merah tipis di kedua pipi tannya.
Wajah Hinata membara, menjalar hingga kedua telinganya, apalagi mengingat jarak mereka yang sedikit... ekstrim?
"Na-Naruto... Jangan lupa dengan tukaran kado kita..." Hinata menunduk saat Naruto memberi sinyal pertanda akan terjadi pertemuan bibir.
Naruto menjauhkan wajahnya dan memanyunkan bibirmya. "Hinata tidak asyik! Aku kan sudah setengah mati merindukanmu,"
Naruto menyengir lebar kepada Hinata, "Pertama-tama, ciumlah aku dulu," lalu ia memajukan bibirnya.
Hinata meringis sebentar, "Tidak!" sergah Hinata tegas lalu mendorong wajah Naruto agar tidak menghadapnya.
"Baik, baik, nona Hyuuga," Naruto mengangkat kakinya naik ke kursi dan bersimpuh berhadapan dengan Hinata.
"Jadi, siapa yang mau menunjukkan kadonya pertama kali?" tanya Hinata polos lalu menelengkan kepalanya ke samping. Hinata terlihat manis seperti itu. Naruto harus menahan diri agar tidak menerkam Hinata sekarang.
"Cara batu kertas gunting adalah cara yang terbaik," dan Hinata mengangguk setuju.
Hinata dan Naruto bersiap mengeluarkan senjata mereka dan...
"Batu kertas gunting!" teriak mereka serempak.
"Kkhh!"
"Yeah!"
Hinata mengeluarkan kertas sedang Naruto mengeluarkan gunting. Hinata jelas kalah, itu artinya ia yang harus menunjukkan hadiahnya pertama kali.
Perlahan-lahan, Hinata mengeluarkan syal merah yang sedari tadi ia sembunyikan. Naruto terbelalak namun hanya sebentar. Dari pandangannya yang mengarah syal, ia beralih menatap Hinata yang menyembunyikan wajahnya di balik poni ratanya.
"Hinata?"
"Hanya ini saja yang bisa kuberikan padamu, Naruto. Aku tahu, ini hanyalah sebuah syal rajutan biasa dan aku tahu kalau kau tidak menyukainya, ak..." Hinata tidak lagi melanjutkan ucapannya ketika Naruto menggenggam lengan kanannya lembut.
"Mengapa kau bilang seperti itu? Aku menyukainya, sangat. Ini buatanmu kan?" Hinata mengangguk lemah.
Naruto tersenyum lebar, "Selama dibuat dengan cinta, itu sudah melebihi apa yang kuharapkan, Hinata." ungkap Naruto.
Hinata mengangkat kepalanya, mencoba menelisik kebohongan di sepasang mata safir itu. Namun ia tidak melihatnya walau hanya sejumput. Hinata tersenyum manis.
Cup!
Hinata melebarkan matanya saat gerakan cepat poninya di sibak dan di kecup singkat oleh kekasihnya. Hinata sedikit menjauhkan wajahnya yang sudah memerah. Si pelaku hanya cengar-cengir tidak jelas.
"B-Baiklah, sekarang waktunya giliranmu, Naruto," ucap Hinata susah payah.
Hinata menangkap kegelisahan Naruto, itu semua terlihat dari gerak-geriknya dan cara duduknya yang tidak nyaman. Naruto bangkit dari duduknya lalu menatap lurus ke atas langit.
Hinata mengikuti arah pandang Naruto. Langitnya memang indah, ribuan bintang berkelap-kelip seolah sedang menyapa mereka disini. Sejenak, Hinata terdiam memandangi keindahan sang Pencipta.
Naruto menengok kebelakang, menatap Hinata yang asyik memandang langit seperti yang dia lakukan barusan. Naruto berjalan mendekatinya dan berjongkok di bawah Hinata yang masih terduduk di kursi.
Hinata tersentak saat tangannya yang masih tergenggam syal merah itu di genggam hangat oleh Naruto. Bahkan, ia baru sadar kalau Naruto sudah berjongkok di bawahnya.
"Kisah cinta kita, tidaklah seromantis Romeo dan Juliet atau kisah Cinderella atau pun seperti kisah Beauty and The Beast yang dulu kau bayangkan. Tapi-"
"Wowow, sejak kapan kau menjadi penyair? Apa teman-temanmu di sekolah militermu adalah pria-pria yang melankolis, ya?" dalam sekali hembusan nafas, Hinata telah merusak suasana romantis Naruto yang sudah susah payah dibuat.
Naruto memutar bola matanya lalu menghela nafas. Hinata mengernyit melihatnya.
"Kenapa kau menghembuskan nafas? Kau haus? Aku akan membeli kopi panas untuk kita, ya," entah kenapa, Hinata berubah menjadi sosok gadis yang tidak pengertian di depan Naruto.
Naruto menarik lengan Hinata agar tetap diam duduk, "Aku tidak haus, aku mau ngomongin sesuatu, dengerin aku dulu dan duduk diam disini-ttebayo,"
"Tinggal ngomong saja, apa susahnya, sih?" Hinata berlirih pelan, dahinya mengerut heran.
"Tidak semudah apa yang kau pikirkan, Hinata,"
"Ya sudah, mungkin tenggorokanmu kering kan? Aku akan membeli minuman sebentar, mesin minumannya tidak jauh dari sini kok,"
Naruto menyentak lengan Hinata kembali duduk sedikit kasar saat Hinata kembali bangkit.
"Aku mencintaimu! Menikahlah denganku!"
Deg!
Hinata membulatkan matanya sempurna, mulutnya menganga sedikit. Wajahnya bersemu merah. Naruto juga memerah dengan ucapan frontalnya tadi, rencananya ingin membuat pernyataan yang romantis tapi... ah.
"Menikahlah denganku, Hinata..." ulang Naruto sedikit berbisik.
Hinata menekan dadanya yang berdegup cepat, sangat cepat bagaikan atlet yang sedang berlari 200 meter. Naruto melamarnya? Benar-benar di luar dugaan Hinata. Ini sangat mendadak.
Mata lavender pucat itu berkaca-kaca saat Naruto mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil yang berisi cincin permata lavender terang, sangat berlainan dengan Hinata yang di dominasi lavender yang pucat. Warna yang sangat berani namun anggun.
"Will you marry me? Hyuuga Hinata?"
Air mata itu jatuh tidak tertahan. Hinata mengulum bibir bawahnya menahan isakkan yang akan keluar. Ia menangis bahagia, sangat bahagia.
Di saat posisi Naruto yang masih berjongkok di bawahnya, Hinata mengalungkan syal rajutannya di leher Naruto dan memeluk leher pria itu hangat.
"Apakah jawabannya iya?" Naruto tersenyum di balik pundak Hinata.
Hinata melonggarkan pelukannya. Di tatapnya pemilik kedua mata safir yang indah itu lekat-lekat.
"Yes. I will," dan Naruto tidak bisa menahan senyuman lebarnya dan segera memakaikan cincin itu di jari manis kiri calon istrinya yang akan berubah menjadi menjadi Hinata Uzumaki.
Mereka saling bersitatap. Naruto menarik tengkuk Hinata mendekat. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya hingga bibir mereka saling bersentuhan.
Puluhan percikan sinar-sinar warna-warni di langit desa Konoha seolah mewakili perasaan mereka yang meletup-letup bahagia seperti kembang api itu yang meletup-letup dengan liar.
Namun, rasa bahagia dan cinta mereka tidak akan sesingkat datangnya dan hilangnya kembang api. Mereka akan menjaganya sampai akhir hayat mereka.
.
.
END
.
.
.
Author Note:
Akhirnya selesai juga ni fic! #meregangkan otot
ok, mungkin end disini agak maksa dan terlalu cepat dan hal-hal apapun yang tidak berkenan di hati para reader. Gomenasai T_T
Balasan Review:
balasan review ini hanya untuk para reader yang sudah review tapi tidak login, yang login periksa kotak PM kalian ya~
Guest: ini udah di lanjut. Makasih udah nge-review :)
YuyuYu: ini udah di lanjut. Makasih udah nge-review :)
Piisuke: iya makasih, dan makasih udah nge-review :)
naruto boruto: ah masa? gomen T_T, hehe makasih udah nge-review :)
Vina: ini udah di update, makasih udah nge-review :)
.
.
Thanks's for reading, review, fave and follow. I Love You All! ^^
.
02.01.16
.
OMAKE
.
.
Di suatu ruangan, terlihat dua perempuan dan tiga laki-laki sedang duduk menikmati kue jahe dan pie, oh dan ocha panas.
"Mengapa Naruto dan Hinata lama sekali pulangnya?" tanya wanita surai merah panjang setelah melirik jam besar di belakangnya yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Mereka kan sedang berkencan, Kushina," jawab Minato asal. Dan Kushina hanya mengangguk mengerti.
Salah seorang pria surai coklat panjang berdehem dan sukses membuat semua kepala menoleh kepadanya.
"Minato," panggil Hiashi datar.
"Ya? Hiashi-sama?" sahut Minato dengan kalem.
"Segera kau tentukan tanggal pernikahan kedua anak kita."
