! PROLOG !
"Psstt! Chanyeol?"
Chanyeol menoleh kepada sang kakak yang baru saja memanggil namanya dengan suara pelan.
"Jiyeon menunggumu di lobi, ada hal yang ingin ia sampaikan padamu" ucap sang kakak lagi dengan suara setengah berbisik.
Chanyeol menoleh sebentar kearah baekhyun yang masih mengobrol dengan ibu chanyeol dan ibunya. Kelihatannya baekhyun sedang serius, kemudian chanyeol kembali menatap sang kakak.
"Sepertinya itu penting"
Chanyeol mengangguk mengerti, lalu tanpa pamit terlebih dahulu pada baekhyun chanyeol lantas keluar dari ruangan. Setelah ia sampai lobi ia melihat wanita bernama jiyeon itu tengah duduk disalah satu kursi tunggu sambil bersedekap tangan.
"Noona bilang ada hal yang ingin kau sampaikam padaku"
Jiyeon mendongak saat mendengar suara yang sepertinya memang ditujukan padanya, melihat chanyeol yang berdiri di hadapannya jiyeon segera bangkit dari kursi. Dengan wajah yang amat serius ia menatap wajah chanyeol baik baik.
"Yah, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu chanyeol"
Chanyeol mengernyit, "apa itu?"
"Aku tak tahu apakah ini suatu ketidak sengajaan atau bukan, tapi sejak kita bertemu tadi siang. Aku mulai memikirkanmu"
Chanyeol tersenyum kecil, apakah wanita yang lebih tua darinya ini ingin mengatakan kalau ia jatuh cinta pada chanyeol?
"Aku pikir ada hal yang lebih penting dari ini, maaf aku sudah punya kekasih, baekhyun adalah kekasihku dan kami akan segera bertunangan akhir tahun ini... Aku tahu mungkin ini membuatmu terkejut, tapi bagiku baekhyun tak bisa tergantikan oleh siapapun... Jika tak ada hal lain yg akan kau sampaikan, aku permisi noona"
Jiyeon menghela nafasnya, ok..sepertinya ia salah bicara hingga chanyeol salah sangka padanya.
"Bukan, maksudku! Ini tentang baekhyun!"
Tap
Chanyeol mengurungkan niatnya untuk mengambil langkah selanjutnya, ia terdiam sesaat sebelum memutar tubuhnya kembali menghadap jiyeon.
"Saat ini nyawa seluruh anggota keluarga baekhyun sedang terancam"
DEG!
Ekspresi chanyeol berubah dengan cepat saat mendengar hal itu, ia menghampiri jiyeon lalu mengguncang pelan bahu jiyeon.
"Dari mana kau tahu hal itu?"
"Aku sudah mengatakannya padamu, aku punya sixth sense, sejak kita berjabat tangan saat itu aku melihat wajah baekhyun, dan entah mengapa aku melihat sesuatu yang aneh darinya, sesuatu yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, sesuatu yg sulit untuk ditafsirkan"
Tangan chanyeol melemas, entah ia harus percaya atau tidak.
"Apa yang kau lihat selanjutnya?"
"Aku tidak tahu, hanya itu yang bisa aku lihat..."
"Kalau begitu, bisakah kau melihat sosok seperti apa yang menganggu baekhyun?"
Jiyeon menggeleng, "maaf, aku tidak tahu, aku bukan paranormal, kemampuanku hanya sebatas melihat ingatan seseorang... Aku jg tidak mengerti mengapa aku bisa melihat hal yang akan terjadi"
Grap..
Jiyeon terkejut ketika chanyeol menggenggam kedua tangannya, raut wajah chanyeol kembali berubah.. Raut wajah yang sendu, raut wajah yang menunjukan rasa keputus asaan. Chanyeol mengerti, saat ini mungkin hanya jiyeon yang bisa membantunya untuk menemukan sebuah jawaban.
"Bisakah kau membantuku?"
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa aku bukan seorang paranormal, aku hanya mengatakan hal yang aku lihat. Terlepas dari benar atau tidaknya dugaanku, dengar chanyeol.. Aku tidak bisa membantumu lebih dari ini, jujur saja aku tak punya keahlian khusus pada hal hal semacam itu, jadi jangan berharap banyak padaku"
"Se—"
"Chanyeol!"
"Baekhyun?"
.
.
.
.
.
PLEASE LEAVE UR REVIEW AFTER READ OR BEFORE U LEAVE THIS PAGE, I'M NEVER TIRED TO REMIND U GAES :)
.
I'M GLAD IF U ENJOY THE STORY, AND SORRY FOR MANY TYPO(S)
.
ENJOY TO READ~
.
.
.
ChanBaek : A Silent Soul
Chapter 8
.
The Uncomfortable Truth (2)
.
.
.
.
Suara petir mulai terdengar menggelegar menambah suasana malam ini terasa semakin kelam.
Chanyeol membuka pintu toilet dengan hati hati sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam. Tak lama chanyeol kembali dengan ponsel di tangannya. Baekhyun yang menunggu diluar menatap gerak gerik chanyeol yang tengah mengotak ngatik ponselnya.
"Bagaimana handphonenya?" tanya baekhyun.
"Baik baik saja, tidak rusak seperti dugaanku"
Hening sesaat..
"Chanyeol?"
Chanyeol menoleh pada sosok tercinta disampingnya.
"Jadi kau tidak mau mengatakan apapun padaku?" ucap baekhyun seraya menatap chanyeol dengan tatapan yang amat menusuk.
"Apa yang harus aku katakan padamu? Sudah aku bilang aku tidak tahu apa apa"
"Kau berbohong kan? Kita sudah bersama lebih dari 3 tahun, aku tahu sifatmu chanyeol, kau menyembunyikan sesuatu dariku, benar?"
Chanyeol menghela nafas, "apa kau benar benar akan membunuhku jika aku tidak mengatakan hal yang aku tahu padamu baek?" raut wajah chanyeol berubah agak cemas.
"Jika kau ingin melihatku menjadi gila karena hal ini, aku bisa saja melakukannya"
Duaaarr!
Suara petir kembali terdengar menggelegar, terasa menggema menyelimuti setiap sudut ruangan luas itu. Wajah baekhyun tampak tak berekspresi apapun, mata monolidnya tajam menatap tepat ke wajah chanyeol. Angin terasa seperti menghembus tengkuk chanyeol, ia sedikit gemetar menatap wajah baekhyun yang tampak tak biasa.
"Apa yang ingin kau tahu?" ujar chanyeol memutus keheningan diantara mereka.
"Ceritakan aku apa yang kau sembunyikan dariku, semuanya, jangan ada satu hal pun yang kau tutup tutupi, biarkan aku tahu kebenarannya"
Chanyeol menarik nafasnya sebelum ia bersiap menceritakan semua hal yang ia tahu kepada baekhyun. Ia mengkerutkan dahinya, semoga tindakannya tidak akan berbuah buruk baik itu untuknya, untuk keluarga baekhyun ataupun untuk baekhyun sendiri.
.
.
.
Ayah baekhyun hari ini di izinkan pulang, namun ayah baekhyun menolak untuk pulang kerumah. Ia dan sang istri memilih untuk mengunjungi taehyung di rumah sakit untuk menggantikan baekhyun dan chanyeol yang sudah menjaga taehyung semalaman.
Sedangkan itu kondisi taehyung berangsur membaik dan stamina tubuhnya yang kembali stabil. Sedikit sedikit taehyung mulai bisa bersuara, namun sayang, taehyung tidak bisa menceritakan apa yang telah ia alami. Taehyung bahkan tak mengerti mengapa ia bisa ada dirumah sakit dan mengalami luka parah di bagian kerongkongannya, tetapi rasa ingin tahu taehyung belum berakhir. Ketika ia sembuh ia berjanji akan kembali mencari jawaban dari pertanyaan yang terus mengganggunya, taehyung merasa ada yang ganjil disini.
.
.
.
"Baek, kau baik baik saja?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya tanpa bersuara, lantas ia segera membuka seat beltnya kemudian membuka pintu mobilnya. Chanyeol menghembuskan nafasnya.
Sejak malam itu, sejak chanyeol menceritakan semuanya, baekhyun tak bersuara barang sedikitpun. Chanyeol mengerti, mungkin baekhyun merasa marah dan kesal, pasalnya kekasihnya sendiri pun telah menyembunyikan kebenaran darinya. Chanyeol sadar ia salah, maka ia tak menuntut sedikitpun penjelasan dari baekhyun, ia akan memberi waktu untuk baekhyun sampai baekhyun siap kembali bicara dengannya.
Drrrrtt—
Chanyeol terhenyak dengan getaran ponsel disaku jaketnya. Ia membuka kunci layar ponselnya lalu membaca pesan singkat yang tertera di layar ponselnya. Dahinya mengkerut membaca deretan kalimat itu, lalu matanya beralih kearah pintu rumah baekhyun yang tertutup rapat.
.
.
"Mmhhh"
Dari balik selimut tebal itu terlihat tubuh baekhyun yang menggeliat, sesekali suara raungan kecil terdengar dari balik selimut.
Baekhyun merasakan rasa sakit yang amat luar biasa dari dalam perutnya, rasa sakit yang tidak biasa. Baekhyun rasa ia tak memakan makanan pedas atau semacamnya, tadi pagi ia dan chanyeol hanya sarapan roti isi dan susu pisang saja, setelah itu baekhyun tak makan apa apa lagi sampai sekarang. Tapi entah mengapa baekhyun bisa sakit perut seperti ini.
"Baekhyun, bisakah aku masuk sekarang?"
Terdengar suara chanyeol dari balik pintu kamarnya. Ah yah, sejak tadi ia tak mengizinkan chanyeol masuk ke kamarnya. Baekhyun menyibak selimutnya dan bangkit dari pembaringannya, ia meringis sambil memegangi perutnya yang terasa sakit sekali, rasa sakit yang terasa seperti ada sesuatu yang mengoyak seisi perutmu, rasanya sakit, dan panas sekali.
"Baek?"
"Yah! Ma—masuklah chanyeol"
Cklek—
"Baekhyun!"
Chanyeol berlari kearah tempat tidur kala melihat wajah baekhyun yang begitu pucat sambil meringis kecil.
"Baekhyun, apa kau sakit? Katakan padaku bagian mana yang sakit?"
Baekhyun menggeleng sambil tersenyum kecil, "aku tidak apa apa, maaf telah mengabaikanmu chanyeol"
"Aku tahu kau tidak baik, apa perutmu sakit? Badanmu juga panas sekali"
Sekali lagi baekhyun menggelengkan kepalanya kecil sambil tersenyum, ia tak ingin membuat chanyeol khawatir dan kerepotan. Baginya ia sudah cukup membuat chanyeol repot. Baekhyun mendorong tangan chanyeol yang memegang bahunya, dan mendongak menatap wajah kekasihnya yang khawatir.
"Tolong ambilkan aku air"
"Kau yakin baik baik saja? Kau mau aku ambilkan obat juga?"
"Tidak, ini hanya sakit perut biasa, aku hanya mau air chanyeol"
Chanyeol mengangguk kecil, ia segera keluar dari kamar dan terburu menuruni anak tangga untuk mengambil segelas air di dapur.
"Kenapa rasanya sakit sekali, ada apa di dalam perutku?" tanya baekhyun keheranan dengan nada kesal.
Karena penasaran baekhyun beranjak dari ranjangnya dan berdiri tepat di depan cermin, menyibak ujung pakaiannya untuk melihat kondisi perutnya. Dan kemudian mata sipitnya terbelalak melihat kondisi perutnya yang membiru, semakin lama baekhyun memperhatikan perutnya semakin ada hal aneh disana.
Kulit perutnya yang biru itu bergerak gerak, lalu timbul bentuk sebuah telapak tangan yang lama lama terlihat semakin jelas.
"Hmmp!"
Melihat itu baekhyun tak kuasa menahan rasa mualnya sekaligus takutnya, baekhyun spontan berlari ke kamar mandi dan membanting pintu kamar mandinya dengan keras.
.
Chanyeol menatap wajah baekhyun dengan cermat, mengusap perlahan keringat dingin yang bercucuran dari dahinya. Baekhyun meringis kesakitan, chanyeol sudah memeriksa perut baekhyun dan keadaannya baik baik saja. Sejak ia menemukan baekhyun tergeletak di kamar mandi, baekhyun tidak menceritakan apapun padanya. Baekhyun juga menolak untuk pergi memeriksakan diri ke dokter, dan sekarang chanyeol bingung harus melakukan apa, baekhyun juga melarangnya untuk memberi tahukan hal ini pada orangtuanya.
"Baek, kau yakin kau baik baik saja? Tubuhmu panas sekali"
"Aku baik baik saja, jangan khawatir, aku hanya sedikit mual saja" ucapnya seraya mengenggam tangan chanyeol.
"Tapi aku sangat khawatir, wajahmu pucat dan tubuhmu panas sekali, apa sebaiknya kita pergi saja ke dokter?"
Baekhyun terkekeh, "kau bukan sekali ini melihatku sakit kan? Ayolah, aku tidak apa apa, nanti juga akan sembuh dengan sendirinya"
Chanyeol tersenyum, senyuman yang menyaratkan keraguan, ia ragu baekhyun mengatakan hal itu benar benar dari hati. Lihatlah baekhyun sekarang, ia tampak sangat kesakitan, dan ia menahan rasa sakitnya hanya karena tidak mau membuat chanyeol khawatir dan iba.
"Chanyeol?" chanyeol menoleh pada sang kekasih yang terbaring di sampingnya dengan lemah ketika ia merasakan tangan dingin yang menyapa punggung tangannya.
"Hm?"
"Tentang daehyun—"
Chanyeol mengernyitkan dahinya menanti kalimat selanjutnya dari baekhyun.
"Kenapa daehyun ingin mengambil tubuhku? Bukankah dia saudaraku? Apa dia marah padaku karena aku yang selamat dalam insiden itu?"
"Aku belum tahu pasti, kita semua belum tahu apa maksud sesungguhnya, apakah benar daehyun ingin mendapatkan tubuhmu atau hanya ingin mempermainkan kita saja"
"Mungkin seharusnya aku yang mati pada saat itu" baekhyun melirik chanyeol.
"Tidak baek, jangan bicara seper—"
Ding dong!
Chanyeol dan baekhyun sontak melirik kearah pintu kamar saat mereka mendengar suara bel rumah yang di tekan.
"Ada tamu, sebaiknya kau lihat ada siapa disana" ucap baekhyun dibalas anggukan dari chanyeol.
Setelah itu chanyeol bergegas beranjak dari ranjang dan berjalan keluar pintu kamar, langkah chanyeol sempat berhenti saat melihat ke sekeliling rumah besar itu. Rumah ini sekarang terasa sangat dingin, tidak hangat seperti dahulu.
Ding dong!
Sekali lagi suara bel rumah akhirnya memecah lamunan chanyeol. Dengan langkah tergesa-gesa chanyeol berlari kearah pintu utama dan membuka pintu berukir kayu itu perlahan.
"Chanyeol"
.
.
.
Gukk gukk!
Dahi baekhyun mengernyit mana kala anjing peliharaan yang dibawa jiyeon menatap kearahnya sambil menggonggong.
"Kenapa dia terus menatapku?" tanya baekhyun menatap jiyeon dengan ekspresi kesal.
"Ah maaf, myung selalu seperti ini jika bertemu dengan orang asing" ucap jiyeon lalu mengusap kepala anjing berbulu putih itu.
"Mungkin aku bisa membawanya ke halaman belakang agar tidak menganggu pembicaraan" chanyeol tiba tiba berujar setelah melihat ekspresi baekhyun yang nampak tidak nyaman dengan tatapan anjing lucu itu.
"Baiklah"
Lepas itu chanyeol segera menggendong anjing milik jiyeon ke pangkuannya dan membawanya ke halaman belakang rumah baekhyun, meninggalkan jiyeon dan baekhyun yang duduk saling berhadapan.
"Kau tampak tidak baik, wajahmu pucat sekali, apa kau sakit?"
"Ah yah maaf, kepalaku sedikit pusing, aku butuh istirahat. Oh iyah... Chanyeol bilang kau ingin bicara denganku jadi jika ada hal penting yang ingin kau sampaikan padaku maka segeralah"
Jiyeon tersenyum lembut, dari raut wajah baekhyun yang ia tunjukan jiyeon bisa melihat bahwa pria yang menjadi kekasih chanyeol ini tidak nyaman ketika bertemu dengannya. Entah baekhyun masih salah paham padanya, atau bagaimana, jiyeon tak paham. Yang pasti baekhyun benar benar menunjukan ekspresi tak senang, apalagi saat melihatnya dan chanyeol berinteraksi.
"Maaf menganggu waktu istirahatmu, tapi ada hal yang ingin aku tanyakan padamu"
Baekhyun mengangguk, "baiklah, apa itu?"
"Chanyeol sudah menceritakan semuanya padaku, dan sedikit sedikit aku mulai paham apa yang terjadi disini, aku minta maaf karena mungkin kau tidak nyaman dengan kehadiranku yang tiba tiba ini"
Baekhyun mengernyit, "menceritakan tentang apa?"
"Daehyun, saudari kembarmu"
Baekhyun terdiam, ia mengatupkan mulutnya rapat seraya menatap lurus ke arah wanita yang bernama jiyeon itu.
"Ah aku sudah menduganya, kau pasti tidak mau mengatakan apapun padaku, tapi baekhyun... Aku disini untuk membantumu, mencari jawaban dari pertanyaanmu selama ini tentang daehyun, tentang sosok yang mengganggumu, aku punya sixth sense jadi semoga saja hal yang aku miliki bisa membantu banyak, a—aku tahu aku belum berpengalaman dalam hal ini, tetapi aku akan berusaha membantu kalian"
"Mungkin aku lupa memberitahu chanyeol untuk tidak meminta bantuan pada siapapun"
"A—apa?" tanya jiyeon lirih
"Aku tidak mau orang lain membantuku" lanjut baekhyun dengan penekanan pada setiap kalimatnya.
Jiyeon mendengus, kenapa baekhyun bicara seperti itu? Bukankah masalah yang dihadapinya bukan masalah sepele? Maksudnya, saat ini ia tidak berhubungan dengan makhluk hidup seperti manusia, yang ia hadapi adalah makhluk ghaib yang bisa saja membahayakan dirinya dan orang orang terdekatnya. Lalu mengapa baekhyun begitu percaya diri mengatakan hal itu?
Jiyeon menunduk, memainkan jemarinya, ia tertawa kecil tak percaya dengan perkataan yang baru saja ia dengar dari mulut baekhyun. Chanyeol memohon minta bantuan kepadanya untuk baekhyun, dan baekhyun sendiri? Ia malah menolak mentah mentah bantuannya, sungguh jiyeon masih tak percaya dengan hal ini.
"T—tap—"
DEG!
Mata jiyeon langsung terbelalak kala menemukan sosok wanita dengan mata melotot dan mulut terbuka, serta kepala yang patah ke arah kanan tengah menatapnya dengan tajam dari belakang tubuh baekhyun. Tatapannya sangat sangat sangat mengerikan.
"Aaaaa!" jiyeon menjerit shock sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Kau kenapa?" tanya baekhyun keheranan, saat menatapnya tadi mengapa jiyeon tiba tiba berteriak dan tangannya gemetaran? Itulah yang baekhyun pikirkan saat ini.
"Ada apa?" suara chanyeol mengejutkan baekhyun, baekhyun yang juga tidak mengerti apa yang terjadi hanya menggelengkan kepalanya.
"Di—disana!" tunjuk jiyeon kearah belakang baekhyun tanpa membuka matanya.
Baekhyun dan chanyeol refleks mengikuti arah telunjuk jiyeon, kemudian mereka saling bersitatap tak mengerti.
"Noona, apa yang kau lihat disana?" tanya chanyeol mengguncang sedikit tubuh jiyeon yang bergetar karena terkejut.
Jiyeon membuka perlahan matanya dan kembali menatap kearah jendela yang tertutup jauh di belakang tubuh baekhyun. Nafas jiyeon memburu tak tenang, bola matanya menerawang ke setiap sudut ruangan yang dingin itu. Sosok itu tidak ada...
Kemana dia? Dan siapa dia? Mengapa dia menatapnya seperti itu? Tatapan yang mengancam.
"Aku akan membawakan minuman untukmu" sahut baekhyun dan segera melenggang dari tempat itu.
.
.
"Akh!"
Baekhyun meringis lagi, merasakan rasa sakit di ubun kepalanya yang datang secara tiba tiba.
"Baekhyun?" terdengar suara chanyeol yang menghampirinya.
"Biar aku saja yang menyiapkan minuman untuk jiyeon noona"
Baekhyun menggeleng, menepis tangan chanyeol yang memegang lengannya. Baekhyun mengambil sebuah teko keramik putih yang berisikan air panas dan menuangkannya ke dalam cangkir yang sudah diisi dengan kantung teh.
"Sshh!"
Namun naas, karena kurang berhati hati air panas itu mengenai tangan kiri baekhyun. Chanyeol yang melihat kejadian itu panik dan segera mengusap tangan baekhyun yang terkena air panas.
"Sudah aku bilang kan, aku saja"
"Aku baik baik saja chanyeol" baekhyun menarik tangannya kembali kemudian menatap chanyeol.
"Kenapa kau tidak menunggu saja disana, dan mengobrol banyak hal bersama jiyeon noona? Kenapa kau malah mengikutiku kemari?" tanya baekhyun bernada sinis.
"Aku—aakkhh" baekhyun memegang kepalanya yang kembali merasa sakit bagai tertusuk ribuan jarum.
"Aku akan mengantarkan minumannya kepada jiyeon noona, kau tunggu disini setelah itu aku akan mengantarmu ke kamar ok? Kau harus istirahat" ucap chanyeol, menarik sebuah kursi dan membantu baekhyun untuk mendudukkan dirinya disana perlahan lahan.
Chanyeol pergi mengantarkan minuman untuk sang tamu, sedangkan baekhyun masih duduk disamping counter dapur sambil melamunkan sesuatu. Merasa tenggorokannya kering, baekhyun menuangkan segelas air kedalam gelas pelan pelan. Lalu ia tidak tahu apa yang terjadi dengan pengelihatannya, air yang bening itu perlahan lahan memerah dan akhirnya mengental bagaikan darah segar yang tertampung dalam tabung bening di tangannya.
'PRANG!'
.
'PRANG!'
Jiyeon yang baru saja menyeruput air minum dalam cangkirnya langsung mendongak menatap chanyeol saat mendengar suara barang pecah dari dapur.
"Ada apa?" tanya jiyeon di balas gelengan kepala dari chanyeol.
"Noona, aku tinggal kau sebentar yah, aku harus mengantar baekhyun ke kamar, dia sedang tidak sehat"
Jiyeon mengangguk mengerti, tanpa menunggu lagi jawaban dari jiyeon chanyeol berlari ke arah dapur.
Guk guk
Jiyeon refleks menoleh ke asal suara, ia tersenyum melihat anjingnya yang tengah duduk di dekat sebuah guci besar. Jiyeon tidak yakin, tapi ia melihat wajah seseorang yang mengintip dari balik guci besar itu.
.
.
"Sudahlah, pergilah chanyeol"
Baekhyun perlahan mendorong tubuh chanyeol setelah membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Kau aneh baek, kenapa kau bersikap seperti ini?"
"Kenapa kau meminta bantuannya chanyeol? Aku baik baik saja dan aku akan tetap baik baik saja... Aku tidak butuh bantuan siapapun, mungkin sebagian jiwa daehyun ada dalam tubuhku dan aku yakin kami bisa menyelesaikannya sendiri... Aku hanya tidak mau ada korban lain, aku tidak mau melukai siapapun hanya karena mereka mau membantuku chanyeol! Tidakkah kau mengerti?"
Chanyeol mematung, memperhatikan wajah baekhyun yang memerah karena marah.
"Tapi kau bisa mati baek"
"Bukankah seharusnya memang aku yang mati?! Jika daehyun menginginkan aku mati maka aku akan melakukannya! Jika itu bisa menyelamatkanmu dan keluargaku dari teror mengerikan ini!"
Tangan chanyeol mengepal erat, ia tidak percaya baekhyun bisa pasrah begini. Apa baekhyun akan menyerah?
"Kau juga harus mengerti baek! Bukan hanya kau saja yang akan mati, tapi semua keluargamu juga akan mati, taehyung! Ibumu! Ayahmu! Bahkan mungkin aku! Juga akan ikut mati bersamamu, pikirkan juga hal itu! kita bisa lepas dari teror ini, kau dan aku akan menemukan jawaban tentang daehyun! Dengan bantuan jiyeon noona"
"Sudahlah chanyeol! Katakan saja bahwa kau menyukainya! Iyakan? Kau menjadikanku sebagai alasan agar kau bisa bertemu dengannya sesukamu"
Mata chanyeol memicing, omong kosong apalagi yang baekhyun katakan sekarang
"Kenapa kau berpikir begitu?"
Baekhyun menunduk, mengusap wajahnya kasar. Membiarkan air matanya menetes percuma membasahi pipinya.
"Aku takut chanyeol, aku takut"
Nada suara baekhyun melemah tidak setinggi sebelumnya, bahkan kali ini terdengar amat lirih. Kedua tangannya bergerak memeluk erat tubuhnya sendiri.
"Aku takut kehilanganmu, aku takut kau pergi dariku chanyeol, aku ingin tetap bersamamu"
Perlahan langkah kecil kaki chanyeol membawanya mendekat pada baekhyun. Merengkuh tubuh bergetar itu kedalam pelukannya, membawa kepala kecil itu bersandar di dada bidangnya, mengusap lembut punggung baekhyun lalu mengecup pucuk kepala baekhyun, memberi kenyamanan dan ketenangan untuk baekhyun.
"Aku tidak akan meninggalkanmu baek, jangan berpikiran seperti itu. Aku akan selalu bersamamu, aku tidak peduli jika aku harus mati untuk melindungimu, kita hadapi ini bersama sama"
Baekhyun merengkuh pinggang chanyeol erat, menenggelamkan kepalanya lebih dalam kedalam pelukan hangat chanyeol.
.
.
.
.
"Jiyeon noona, kau disini rupanya!"
"Aku mencari anjingku tadi, oh bagaimana dengan keadaan baekhyun?"
"Yah seperti yang kau lihat, dia sedang istirahat di kamarnya, baekhyun agaknya mulai sedikit emosional"
Jiyeon mengangguk, ia sangat memaklumi hal itu.
"Chanyeol, apa kau tidak melihat sesuatu yang berbeda dari baekhyun?"
Chanyeol menggeleng, "tidak, dia tampak biasa saja"
"Aku benci mengatakan ini, tapi aku harap kau sedikit berhati hati dengannya"
"Kenapa aku harus berhati hati di dekat pacarku sendiri? Dia bukan makhluk yang membahayakan" ucap chanyeol diiringi tawa kecil yang membuat jiyeon juga ikut tertawa.
"Aku serius chanyeol, aku menangkap aura negatif di sekitarnya, aku belum tahu pasti dari mana asalnya aura negatif itu, entah itu dari baekhyun atau dari makhluk lain"
"Mengapa bisa begitu?"
"Mungkin baekhyun kerasukan sesuatu"
DEG!
Tubuh chanyeol menegang, "A—apa?"
Jiyeon sontak tertawa melihat ekspresi chanyeol, "aku hanya bercanda, tenang saja, baekhyun punya tameng sendiri, baekhyun tak akan semudah itu untuk dirasuki. Ngomong-ngomong, aku harus pergi sekarang, aku harus pergi ke dokter hewan" ucapnya lalu memangku anjingnya dengan hati hati.
"Aku antar kau sampai depan"
Jiyeon dan chanyeol berjalan bersama ke luar, jiyeon memasuki mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya.
"Tolong katakan pada baekhyun aku sangat minta maaf karena mengganggunya di waktu istirahatnya...aku tidak bermaksud membuatnya menjadi tidak nyaman"
Chanyeol mengangguk.
"Oh yah! Sampaikan juga rasa terima kasihku pada adik perempuan baekhyun karena sudah mengajak main anjingku! Dia sangat ramah, baiklah... Aku pergi dulu chanyeol! Samoai jumpa!"
Chanyeol melambaikan tangannya, dan mobil merah itupun melesat menjauh dari rumah besar itu. Chanyeol termenung sendirian di depan gerbang rumah baekhyun, kemudian menarik nafas panjang. Hhh~ sungguh kebenaran yang sangat tidak mengenakan jika benar di dalam tubuh baekhyun didiami sesuatu. Ia berdecak membuang segala pikiran negatifnya, bukankah seharusnya ia merasa lega karena perkataan jiyeon barusan? Yah.. Kalau ternyata baekhyun cukup kuat untuk menahan segala gangguan yang diterimanya.
Tap
Tangan chanyeol terhenti memegang pintu gerbang besi dingin itu, tubuhnya tiba tiba menegang ketika ia menyadari sesuatu.
Tunggu, ada sesuatu yang aneh...
.
.
.
.
CHAP 8 IS UP!
Hehe..chap 8 udh update dan ceritanya malah semakin garing dan gaje...kek nya ini ff musti buru buru diselesakan ya, karena ceritanya mulai gak karuan ngaler ngidul gk jelas kemana ujungnya :v but i hope you like this one too, biarpun masih ada cacadnya disana sini..
Sooo, it's time to review gaess! C'mon kasih reviewnya yah, pokonya makin banyak review makin cepet juga updatenya, ntar mau update sehari 3x kek minum obat? Atau seminggu 3x jg bissaaa bisaa ewkwkwkw *ngedusta*
Last word, hope we can meet again as possible as soon! :)
Zaijian~ :*
