[Chaptered]
Title : Sasuke itu Kamseupay
Chapter : 11 / ?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Namikaze Naruto & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Family, Sad
BGM : Home Made Kazoku - Kimi ga Kureta Mono


Akhirnya...


"Jadi, dia kembali lagi?", tanya Shikamaru.
"Hn!", anggukku.
"Bukankah kakekmu sudah mengembalikannya?",
"Kakekku mengasingkannya dariku",

Shikamaru dan Kiba menunjukkan ekspresi 'capek deh'.

"Kurasa, aku butuh pembantu seperti dia. Dia sangat penurut dan mudah dibohongi", jelasku.

Aku terpaksa berbohong pada kedua sahabatku ini. Aku tidak mungkin menceritakan kebenaran ini pada orang lain. Ini terlalu beresiko.

"Semoga saja dia tidak menyakitimu", ucap Kiba.
"Dan semoga kau bisa mengendalikan emosimu", sambung Shikamaru.
"Beres!", kuacungkan jempolku pada mereka.


Sepulang sekolah, aku tidak mendengar sambutan dari Sasuke. Aku berkeling untuk mencarinya, aku lapar dan aku ingin dia menemaniku makan siang.
"Kau mulai menyayangiku"

No, no, no!
Aku tidak menyayanginya, perlakuannku ini hanya agar dia betah, bahaya kalau dia pergi.

Di belakang rumah, Sasuke sedang termenung duduk di pinggir kolam renang, kedua kakinya menjuntai ke dalam air. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, yang jelas aku ingin mengisenginya.

Aku berjalan mengendap-endap agar dia tidak menyadari kedatanganku, setelah sampai di belakangnya, aku berteriak dan mendorong punggungnya.

SPLaaaaSH
Dia terjebur ke kolam karena kudorong.

"TADAIMAAAA!", teriakku sambil menertawakannya.

Aku berhenti tertawa saat tidak melihat tubuhnya di permukaan, dia tampak berusaha menggapai-gapai di dalam air. Barulah aku sadari bahwa dia tidak bisa berenang!

Tanpa melepas sepatu dan seragam, aku langsung melompat ke kolam untuk menyelamatkannya. Pergerakanku terasa berat dan lambat karena beban sepatu di kakiku.

"Hey! Tenanglah! Aku di sini!", teriakku sebelum menyelam ke dalam air.

Kuraih tangannya yang masih mengapai-gapai pelan.
"Jangan takut!", teriakku, tapi yang keluar adalah gelembung.

Tidak ada gunanya berbicara di dalam air, ini membuat nafasku semakin pendek, hal yang bodoh dan aku melakukannya tanpa sadar.

Dadaku mulai berdenyut, kucengkram seragamku, mengapa harus kambuh di saat genting seperti ini?

Kulihat Sasuke sudah tidak bergerak lagi, beban tubuhnya semakin berat hingga menyeretku ke dasar kolam sedalam 2,5 meter ini.

Aku tidak boleh mati, aku masih punya impian! Aku tidak ingin mati tenggelam bersama si Kamseupay ini!

Kukerahkan semua kemampuanku, menggerakkan kedua tangan dan kakiku, berenang dan terus berenang hingga ke permukaan.

"Uhuk..uhuk..tolong...", ucapku terbatuk-batuk, kuhirup udara sebanyak-banyaknya, sesak dan rasa nyeri di dadaku tak kunjung hilang.

Kuangkat kepala Sasuke agar tidak terbenam di dalam air, aku harus membawanya ke tepian.

"Astaga, Naruto-sama!", teriak Aya-san -seorang maid- yang kebetulan lewat, dengan cepat dia berlari menyelamatkan kami.

Aya-san mengangkat tubuh Sasuke terlebih dahulu, kemudian dia membantuku naik ke pinggir kolam. Aku menyuruh Aya-san untuk memanggil ambulance, karena Sasuke tidak sadarkan diri, aku takut dia sekarat.

"Hey! Bangun!", aku menampar kuat pipi kiri Sasuke, tapi dia tidak bereaksi.

Kutekan-tekan dadanya untuk mengeluarkan air yang diminumnya.

"Come on, Kamseupay!", tidak ada air yang keluar dari mulutnya.

Kutempelkan telingaku ke dadanya, aku sama sekali tidak mendengar detak jantungnya.

"Jangan mati dulu...", aku kembali menamparnya agar dia bangun.

"Naruto-sama!", Iruka-san datang menolong.
"Ambulance segera datang", Aya-san memberiku handuk besar untuk menutupi tubuhku yang basah.

Kutarik seragam Iruka-san.
"Tolong dia, jangan biarkan dia mati!", pintaku seperti perintah.

Iruka-san segera mengambil tempat dan berlutut di samping kanan Sasuke. Iruka-san menempelkan telinganya di dada Sasuke.
"Jantungnya tidak berdetak", jelasku.

Iruka-san melakukan pernafasan buatan dari mulut ke mulut, tapi usaha itu sama sekali tidak membuat Sasuke bereaksi. Kugenggam kuat tangan kiri Sasuke yang dingin.

"SASUKEEEE!", teriakku melampiaskan rasa sakit di dadaku.

Rasa sakit karena penyakit sialan ini, rasa sakit karena melihat Sasuke yang tak kunjung tersadar, rasa sakit karena akulah penyebab Sasuke seperti ini.

"Uhuk..uhuk..",
"Muntahkan lagi, Sasuke-sama!", Iruka-san menekan-nekan perut Sasuke.

Sasuke terbatuk-batuk, banyak air keluar dari mulutnya. Kedua kelopak mata yang tertutup tadi, kini mulai terbuka kecil.

"Sasuke-sama?", panggil Iruka-san.
"Naru...jatuh...", lirihnya pelan.
"Aku di sini!", kuremas tangannya yang masih kugenggam agar dia menyadari keberadaanku.
"Tolong...Naru...", pintanya yang tampak setengah sadar, kemudian kelopak mata itu kembali menutup.

Kutarik wajahnya menghadapku.
"Hey, Kamseupay! Aku di sini!", teriakku.

Matanya membuka kecil dan menutup lagi, dia tidak berkata lagi tapi aku bisa merasakan pergerakan tangannya di genggamanku.


Kini aku berada di kamar putih, lebih tepatnya di rumah sakit, dokter menyuruhku untuk beristirahat karena aku pingsan dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kondisi jantungku sangat memprihatinkan, kapan saja aku bisa mati.

"Kuso!", desisku sambil mencengkram selimut yang menutupi tubuhku.

"Jangan takut, kau masih punya harapan", kalimat yang pernah mama ucapkan padaku.

Harapan? Apa aku masih punya harapan?

Aku menuruni ranjang, melangkahkan kakiku ke luar kamar. Di sana ada Iruka-san yang sedang duduk berjaga di depan kamar. Aku menyuruh Iruka-san untuk mengantarku ke kamar Sasuke.


Sesampainya di sana, aku melihat Sasuke terbaring, matanya terpejam, mulutnya terpasang ventilator. Iruka-san bilang pernafasan Sasuke sedikit bermasalah, tapi itu tidak parah.

Hey, Kamseupay! Jika kau adalah satu-satunya harapanku, kapan kau akan menyerahkan harapan itu padaku?

Kusentuh punggung tangan kanannya yang hangat. Tangan itu merespon sentuhanku.

"Hey, kau tidak tidur?", tanyaku.

Sasuke membuka kedua matanya perlahan, oniksnya berusaha mencari keberadaanku.
"Aku di sini!", kutarik wajahnya mengarah padaku.
"Naru...", ucapannya terputus, suaranya serak dan terasa berat untuk berbicara.

Aku tahu apa yang ingin dia katakan.
"Aku baik-baik saja. Istirahatlah!",

Tangannya terangkat rendah, dia ingin aku menggenggam tangannya. Aku tidak menghiraukannya, kutarik kursi dan duduk di sampingnya.
"Maaf...", aku tidak tahu mengapa dia tiba-tiba meminta maaf padaku.

Aku mendengus.
"Aku tak menyangka bahwa kau tidak bisa berenang, kupikir semua anak kampung pasti bisa berenang",
"Aku bodoh, Naru...",
"Kau memang bodoh!",
"Aku akan belajar berenang, agar tidak menyusahkanmu...",
"Kau memang selalu menyusahkanku!",
"Maafkan aku...",
"Tidurlah!",

Sasuke menarik lengan sweater biruku, tatapannya mengatakan bahwa dia ingin aku menemaninya.
"Maafkan aku, Naru~",
"Untuk apa? Untuk semua kebodohanmu?",

Dia mengangguk pelan.
"Aku memang bodoh, tapi kumohon, beri aku kesempatan untuk pintar agar aku tidak menyusahkan bagi siapapun",

Aku heran dengannya, dengan nafas terputus-putus seperti ini, dia sanggup berbicara panjang lebar.

"Kau terlalu banyak bicara!", kutarik lengan sweaterku yang dipegangnya, "Tidurlah!",


Insiden Sasuke tenggelam itu, mama memarahiku, mama menyuruhku untuk berhenti menjahili Sasuke lagi. Kurasa aku harus menuruti perintah mama, karena ketika aku menjahili Sasuke, ujung-ujungnya akan selalu berakhir menyusahkanku.


"Naru, apa kau bisa mengajariku berenang?", tanya Sasuke penuh harap.

Aya-san bilang, Sasuke selalu bertanya hal yang sama pada semua orang rumah, tapi mereka semua menolaknya dengan halus. Mereka tahu pasti bahwa itu bukan pekejaan mereka dan mereka juga tidak bisa seenaknya menggunakan kolam renang.

"Aku tidak mau! Kau menyusahkanku!", tolakku.
"Aku ingin pintar, Naru~",
"Kau tetap bodoh, meskipun kau banyak belajar sekalipun!",

Dia terdiam.

Aku meninggalkannya termenung sendirian.

Huf~ Aku jadi ingin berenang!


Selama aku berenang, Sasuke terus memperhatikanku dari pinggir kolam. Jika kulihat dia, dia akan memasang wajah penuh harap. Aku tidak peduli! Aku tidak mungkin mengajarinya berenang di kolam yang sedalam 2,5 meter ini dan tanpa pelampung.


Sepulang sekolah, aku tidak melihat keberadaan Sasuke, bahkan di kamarnyapun tidak ada.

Aya-san bilang, Sasuke pergi membeli pelampung bersama Kakashi-san, Sasuke juga sudah minta izin pada mama.

Sambil menunggu Sasuke pulang, aku melihat isi kamarnya. Di atas meja belajarnya, tersusun rapi buku-buku SD miliknya, tidak ada yang menarik, hanya buku anak-anak. Kutarik laci meja, ada sebuah botol bekas selai berisi uang.

"Cih! Si bodoh itu menabung uangnya di sini!",

Setiap minggu, mama memberinya uang saku, dia menyimpannya dan tidak berani untuk membelanjakannya. Ketika dia ingin membeli rautan pensil dengan uang sakunya, dia malah meminta izin padaku untuk menggunaka uang sakunya itu. Aku memarahinya karena dia terlalu bodoh, sejak saat itu dia tidak berani meminta izin padaku untuk membelanjakan uang sakunya.

Laci berikutnya, aku melihat 1 set pensil warna pemberianku.

Aku jadi teringat saat dia membuka kado pemberianku. Dia sangat senang, dan terus mengucapkan terimakasih padaku berkali-kali.

Kubuka kotak pensil warna itu, ujung pensilnya masih tajam dan seperti belum pernah dipakai.

Apa dia tidak suka? Ternyata dia lebih suka barang murahan!

Abaikan dengan pensil warna. Aku membuka buku sketsa pemberianku juga, aku senang karena dia menggunakannya. Isinya beberapa gambar pemandangan, objek benda dan wajah orang-orang yang kukenal. Tapi ada 1 wajah yang tidak kukenal, wajah seorang pemuda dengan garis halus diagonal di pipinya, dia mirip Sasuke, tapi aku yakin itu bukan Sasuke, karena model rambut mereka berbeda. Hanya lembaran lukisan ini yang sedikit rusak terkena tetesan air.

"Naru?", mendengar panggilan Sasuke, aku langsung memasukkan buku sketsa itu ke laci dan menutup lagi.
"O, okaeri!", sapaku basa-basi.
"Tadaima, Naru! Bagaimana harimu di sekolah? Pasti menyenangkan!", tanya Sasuke yang tidak mempermasalahkan bahwa aku telah membongkar isi lacinya.
"Biasa saja!",

Sasuke menunjukkan pelampung donat berwarna transparan padaku.
"Aku membeli pelampung, Neji bilang aku butuh pelampung untuk belajar renang", ucap Sasuke.
"Neji?",

Bagaimana bisa dia berhubungan dengan Neji lagi?

"Hn! Neji mau mengajariku, besok pagi Neji akan...",
"Aku yang akan mengajarimu!", selaku.
"Tapi besok kau harus sekolah, Naru",
"Sepulang sekolah aku akan mengajarimu!",
"Tapi aku tidak ingin menyusahkanmu...",
"Aku bilang, aku akan mengajarimu! Dan kau harus mau!",
"Naru... Aku...",
"Aku tidak suka kau bersama Neji, aku benci Neji!",
"Mengapa kau membenci Neji?",
"Aku tidak suka! Jika kau bersamanya, kau pasti akan lupa padaku!",
"Aku tidak akan melupakanmu",
"Jika kau terus mendekatinya, maka jangan anggap aku adikmu lagi!",

Kuso! Mengapa aku mengancamnya seperti ini?

"Neji temanku, aku tidak boleh menjauhinya, aku ingin punya teman",
"Aku tidak peduli! Jauhi dia atau akulah yang akan menjauhimu!",

Aku berlari keluar dari kamarnya, aku tidak ingin mendengar bantahannya lagi! Aku tidak suka dibantah!


Dari tadi siang hingga malam ini, aku tidak menghiraukan keberadaan Sasuke. Dia bertanya banyak hal padaku, tapi aku tidak menjawab apapun.


Toook..TooooK..
Pintu kamarku diketuk.

"Naru, boleh aku masuk?", tanya Sasuke dari balik pintu.

Dengan cepat aku berlari untuk mengunci pintu kamar agar dia tidak masuk.

"Naru, aku sudah janji dengan Neji, aku tidak boleh mengingkarinya. Kumohon, jangan jauhi aku",

BRaaaaK
Kugebrak pintu kamarku.

"Besok pagi, jam 10, aku akan mengajarimu berenang!", teriakku.
"Besok kau tidak sekolah?",
"Oyasuminasai!", ucapku sambil menggebrak pintu lagi.

Setelah itu aku tidak mendengar bantahan Sasuke lagi.

Huf~ Terpaksa aku harus bolos sekolah besok.
Persetan dengan sekolah, apapun akan aku lakukan untuk menjauhkan dia dari si gondrong itu!
Besok aku akan mengajaknya ke hotel Starish, kolam renang di sana lebih dangkal, jadi Sasuke bisa menapakkan kakinya di dasar kolam.


Keesokan paginya, saat aku sedang bersiap-siap untuk pergi. Aku tidak melihat Sasuke, biasanya dia akan membangunkanku, menyapaku dan menungguku untuk sarapan bersama, Tapi pagi ini, aku tidak mendengar suara berisiknya itu.

Aya-san bilang, Sasuke pergi menemui Neji.

Mengapa dia masih menemui Neji? Apa Neji begitu berarti daripada aku?


1 jam kemudian.
Aku menunggu kepulangan Sasuke di kamarnya. Entah apa yang membuatku menunggunya selama ini? Padahal aku tidak suka menunggu!
Bodoh! Seharusnya aku tidak perlu menunggunya, dia pasti pulang sore. Bersenang-senang bersama Neji sampai tidak ingat padaku!

"Arggghh!", erangku sambil mencoret-coret gambar Gundam yang kugambar di buku sketsa Sasuke.

CeKLeeeeK
Pintu kamar Sasuke terbuka.

"Naru, kau di sini?", tanya Sasuke yang baru saja pulang.
"Dari mana kau?", tanyaku.
"Menemui Neji", jawabnya tersenyum tanpa dosa.

Dia sengaja bersikap seperti itu, dia pasti ingin memancing kemarahanku!

"Ayo, Naru! Ajari aku berenang!", Sasuke mengalungkan donat pelampung di lengan kanannya.

Aku menarik kerah kaos putihnya, donat pelampung itu jatuh ke lantai, kulayangkan tinjuku ke wajahnya yang menatapku was-was.

BuuuuG
Dia tersungkur.

"Naru, kenapa?", dia memengang pipi kirinya yang nyeri.

Kujambak rambutnya, kuseret dia menuju dinding. Kubenturkan kepala belakangnya ke dinding.

DuaaaK
"Mengapa kau menemui Neji? Sudah kukakatan agar menjauhinya, tapi kau sengaja melanggarnya!",
"Naru, aku tidak...",

DuaaaK
"Mengapa kau tidak pernah menurutiku?",

DuaaaK
"Mengapa kau selalu membuatku marah dengan sikap bodohmu itu?",

DuaaaK
"Dimana otakmu! Mengapa kau begitu bodoh?",

Kubenturkan kepalanya berkali-kali untuk melampiaskan sakit hatiku.
"Ampun, tuan...", lirih Sasuke.
"Tuan? Kau sedang berbicara dengan siapa, hah!",
"Ampun, tuan... Jangan pukul aku...", pandangannya menatap lurus ke lantai.

Kutampar pipi kirinya agar di sadar.
"Siapa tuanmu?",
"Tuan...sakit...",
"Hey!",

Kutampar dia berkali-kali hingga dia sadar dengan siapa dia berbicara saat ini.

"Na...ru...", ucapnya pelan, bibirnya berdarah karena tamparanku.
"Kau sudah sadar?", tanyaku menatapnya sinis, dia terbaring lemas di lantai.
"Na...ru...ampun...", bibirnya bergetar menahan sakit.
"Kau pantas mendapatkannya!",
"Apa...salahku?", dia menatapku sendu.
"Kau tidak menuruti perintahku!",
"Aku menemui Neji... Aku hanya ingin membatalkan janjiku... Aku juga bilang pada Neji...bahwa aku...akan menjauhinya... Aku telah melakukan...apa yang kau perintahkan... Apa aku masih salah, Naru?",

Kuso! Seharusnya aku mendengar penjelasannya dulu, tapi aku malah gelap mata dan memukulnya lagi!

"Katakan...dimana salahku, Naru?", Sasuke menyentuh kakiku, menyadarkanku dari penyesalanku.
"Kau salah karena kau pergi tanpa minta izin padaku! Kau salah karena telah ingkar janji! Aku bilang jam 10 akan mengajarimu berenang, tapi kau malah pergi entah kemana! Kau membuatku menunggu terlalu lama!", aku sengaja mencari alasan untuk menyalahkannya, ya dia memang salah!

Sasuke menyeret tubuhnya, dipeluknya kakiku.
"Maafkan aku...", lirihnya.

Aku terjongkok, menyentuh puncak kepalanya.
"Jika kau ingin melakukan sesuatu, minta izin padaku terlebih dahulu, kau mengerti?",
"Maafkan aku...",
"Kau mengerti?", kujambak rambutnya agar dia menatapku.
"Aku...mengerti...",
"Good!", kuseka darah di sudut bibirnya, "Kau ingin belajar berenang sekarang?",
"Hn!", angguknya.
"Bersiaplah! Aku menunggumu di bawah!",
"Hn!", angguknya lagi.


Hanya perlu 4 hari belajar, Sasuke sudah bisa berenang tanpa pelampung. Tekadnya begitu besar, membuatnya cepat menguasai teknik yang kuajarkan.

Kecipak kecipuK
Kini Sasuke sedang berenang di kolam rumah, dia bisa mengambang di kolam sedalam 2,5 meter ini.

"Naru, kau tidak ingin berenang?", tanya Sasuke lagi, dia sudah bertanya hal yang sama 2 kali.
"Malas!", kusiram-siram wajah Sasuke dengan air.
"Hahaha...", dia tertawa.

Dia malah membalas menyiram-nyiramkan air ke arahku.
"Hey! Kau membuat pakaianku basah!",
"Hahahaa... Ayo, Naru! Siram aku lagi!",
"Akan kubalas kau!", aku menyiramnya bertubi-tubi hingga dia tidak sempat membalasku.
"Naru...uhuk...uhuk...", Sasuke tersedak.

Aku berhenti menyerangnya.
"Hey! Kau kenapa?",
"Aku tersedak",
"Kemarilah!", aku menyodorkan botol minumku untuknya.

Sasuke berenang menghampiriku.
"Minum ini!", ucapku.
"Terimakasih, Naru! Sudah tidak apa-apa...uhuk..uhuk...",
"Kau mau membantahku?",
"Ah! Tidak, Naru!", Sasuke langsung naik dan duduk di sampingku, dengan cepat dia mengambil botol minumku dan meneguk beberapa.

Aku melihat punggung, dada dan perut Sasuke yang kerempeng, kulit putihnya tidak mulus, ada beberapa bekas luka memanjang di sekitar dada dan punggungnya juga, seperti bekas cambukan.

Dia tidak mau cerita padaku tentang asal-muasal luka itu. Dia tidak ingin aku mengetahui masa lalunya. Itu membuatku semakin penasaran!

"Siapa yang melakukannya?", tanyaku menyentuh bekas luka di dadanya.
"Aku baik-baik saja, Naru", dia tersenyum padaku.
"Siapa yang melakukannya?", ulangku dengan penuh penekanan.

Sasuke menggeleng, dia bergeser menjauh dariku.
"Aku tidak mau mengingatnya, Naru..tidak mau...", lirihnya.
"Baiklah",

Aku tidak bisa memaksanya, ada ketakutan dalam dirinya saat melihat luka ini. Apa ini ada hubungan dengan 'tuan' yang sering disebutnya?
Kuso! Aku ingin tahu semuanya tentang dia!


Akhir-akhir ini, dadaku terasa lebih sakit dari biasanya, bahkan aku sering pingsan meskipun tidak melakukan aktivitas yang berat.
Apa ajalku telah dekat?

"Okaeri, Naru! Bagaimana hari-harimu di sekolah?",
"Biasa saja!", aku merebahkan tubuhku di sofa, kusuruh Sasuke untuk mengambilkanku air minum.

Kapan aku akan dioperasi?

"Ini, Naru!", Sasuke menyerahkan segelas air minum padaku.

Apa kau sudah siap mati untukku, Sasuke?

"Naru, nanti kau mau mengajakku kemana?",

Kuteguk habis minumanku.
"Berbelanja. 2 minggu lagi, pesta ulang tahun perusahaan",
"Pesta?",
"Hn!",
"Aku boleh ikut, Naru?", wajahnya sangat antusias ketika bertanya.
"Tidak boleh! Pesta itu khusus untuk orang-orang yang pintar saja! Dan kau tidak termasuk!"
"O, begitu ya? Hehehee...", dia tertawa bodoh, seharusnya dia kecewa atau memaksaku untuk ikut, tapi dia tidak melakukannya, dia bodoh.


Saat tengah berjalan melihat jas di display, penyakitku kambuh lagi. Aku berlutut, mencengkram kuat dada kiriku.

"Naru?", Sasuke menopang tubuhku agar tidak jatuh menyentuh lantai.
"Sa...kit...", kucengkram lengan Sasuke, aku tidak peduli dengan kuku-kukuku yang menembus kulitnya, ini sakit...sangat sakit!
"Tolong! Kumohon, tolong adikku!", teriak Sasuke panik meminta bantuan pada para pengunjung.

Pandanganku mulai menggelap, telingaku berdengung kuat.

"Kau kuat, Naru!",

Itu adalah kalimat yang kudengar sebelum penglihatan dan pendengaranku mati.


Ketika aku tersadar, aku sudah terbaring di tempat terkutuk ini, rumah sakit.

Mama masih setia menemaniku, tidak ada polesan make up tebal di wajahnya, keriput dan lingkar matanya terlihat jelas, mama sangat berantakan dan tidak menawan.

Jika aku mati, mama pasti akan lebih berantakan dari ini.

"2 bulan lagi, sayang", ucap mama menggenggam tanganku.
"2 bulan lagi?", aku mengernyit heran.
"2 bulan lagi, kau akan dioperasi",
"Apa aku bisa bertahan selama itu?",
"Kau pasti bisa, Naru! Karena kau Namikaze Naruto, ksatria mama yang paling kuat!",

Aku hanya tersenyum tipis dengan ucapan mama. Aku memang kuat, tapi aku bosan menjadi kuat hanya untuk melawan penyakit sialan ini.

"Ini tidak lama, hanya menunggu 2 bulan saja, kau akan memiliki jantung yang baru",

Jantung yang baru. Milik Sasuke...
Itu artinya, dia hanya memiliki sisa hidup 2 bulan lagi. Setelah itu, aku akan mengambil kehidupannya.

Kejam? Jangan salahkan keluarga Namikaze yang kejam ini!
Takdirlah yang kejam, takdir membuatku terlahir dengan penyakit sialan ini, dan takdir jugalah yang mempertemukan Sasuke dengan keluarga Namikaze.


Terputus


2 bulan lagi yey! #plak