Rina: Yahooooo! Chapter 11 jadi!
Rin: … *cuma ngeliat sambil makan jeruk*
Len: … *makan pisang sambil ngeliat saja*
Rina: ^^; Apa ada masalah?
Rin: Tidak ada? Memang kenapa?
Len: Kau memperpanjang jalannya cerita mungkin?
Rina: Ara~ Jadi itu masalahnya ya… kalian sudah tidak sayang nyawa?
Rin+Len: KAMI MASIH SAYANG NYAWA!
Rina: *tutupin telinga* santai ja, jangan teriak keras-keras kayak begitu! Nah, kalau kalian masih sayang nyawa, cepat baca disclaimer na… *aura dark keluar*
Rin: Oke oke, author gila biar aku ja deh!
Disclaimer: Author Rina tidak punya Vocaloid, ataupun lagu-lagu vocaloid. Semuanya adalah milik pemilik kami masing-masing. Don't like don't read! Dan jangan main api, ntar kebakaran.
Rina: Nah, makasih Rinny~ Kapan-kapan aku belikan jeruk deh! *kagak dengar bagian author gila*
Rin: Kapan-kapan itu kapan?
Len: Ya, sudah para reader yang terhormat, silahkan baca fic ini!
Mel: *ketawa ndak jelas di belakang* Sepertinya author kasih aku peran disini…
Rin POV
Aku masih berada di rumah sakit, dan aku tidak bertemu dengan Len lagi setelah kejadian hari itu. Kejadian yang mana kau bilang? Kejadian dimana ibuku, Lily, mengusirnya beserta teman-temanku untuk berbicara padaku, bahwa aku akan dijodohkan dengan rekan bisnis orang tuaku! Siapa? Jangan tanya!
Aku sendiri sudah diizinkan keluar dari kamarku, meski belum diizinkan keluar dari rumah sakit. Aku baru akan dikeluarkan dari rumah sakit lusa. Setidaknya aku bisa bermain ke kamar Teto dan berbicara dengan Teto. Insiden yang kemarin itu juga sudah dianggap tidak ada, dan sepertinya Miku sudah memaafkan Teto tentang hal itu.
Omong-omong soal Miku, kini dia dekat dengan Kaito-nii, karena Kaito-nii mendapat giliran menjaganya dari beberapa… bahaya, iya, bahaya. Aku heran, bukannya Miku itu pacar Len? Bagaimana dengan hubungan mereka?
"Hei, Teto kau sudah dengar tentang pentas kita itu?" tanyaku pada Teto yang sibuk dengan kartunya. Omong-omong, saat ini kami sedang bermain kartu di kamar Teto.
"Mm… Bisa atau tidak, Mel-senpai akan mengatur semuanya. Kita hanya perlu menunggu sampai dia memberitahu saja, tapi dari e-mail yang kudapat dari Luka, dia bilang kita akan membuka dan melakukan medley, serta membantu klub fashion show, setelah itu menutup pentas yang diselenggarakan pada hari pertama," jawab Teto yang masih berkonsentrasi dengan kartunya, sementara menggigit sepotong roti.
"Oh, begitu ya…" ucapku. Kini aku memperhatikan kartuku, sepertinya akan jadi Full House. Segera aku berkata, "Teto apa kau sudah?" tanyaku lagi.
Teto hanya mengangguk sembari membuka kartunya, dan berkata, "Royal Straight Flush, bagaimana dengan kartumu Rin-chan?" ucap Teto.
Wajahku pucat, dan kemudian aku berkata, "Kalah lagi…" ucapku. Aku memaparkan kartuku yang berupa Full House. Aku sudah kalah dari Teto sekitar, 10 kali dari 10 kali pertandingan. Artinya aku tak pernah menang!
Saat itulah kami mendengar suara pintu yang dibanting oleh seseorang atau sesuatu. Segera kami melihatnya dan tampak Mikuo yang sepertinya terburu-buru. Segera Teto bertanya, "Ada apa Mikuo?" tanya Teto.
Belum sempat Mikuo menjawab, ada sesuatu atau seseorang yang menabraknya, sehingga mereka berdua sama-sama jatuh. Dari siapa yang menabrak, alias Ted-senpai, aku bisa menyimpulkan bahwa mereka beradu untuk berusaha datang ke kamar Teto lebih cepat.
"Ted-senpai juga, memang ada apa?" ucapku pada gundukan merah dan hijau di lantai kamar Teto.
Yang bangkit terlebih dahulu adalah Ted-senpai, dia membawa sekeranjang roti, makanan kesukaan Teto dan menepis bahunya sedikit, sebelum berkata, "Ah, aku hanya datang untuk berkunjung, ini untukmu Teto!" ucap Ted-senpai. Aku bisa melihat bahwa mata Teto berbinar melihat roti, dan bukan karena melihat Ted-senpai.
Mikuo yang baru saja bangkit juga berkata pada Teto tentang hal yang serupa, tapi dia tidak lupa memberiku satu kantung plastik, jeruk. Jadi Mikuo ingin mengambil perhatian Teto, sekaligus meminta persetujuan dariku. Orang yang sedang jatuh cinta memang aneh, meski aku tidak jauh beda.
"Terimakasih ya kalian semua! Aku senang sekali!" ucap Teto. Dia menerima pemberian mereka berdua sambil tertawa, karena dia mendapatkan makanan kesukaannya.
"Terimakasih, ya Mikuo!" ucapku pada Mikuo yang memberiku sekantung plastik jeruk. Tapi, dia tidak mendengarkanku karena terlalu sibuk dengan Teto.
Aku hanya menghela nafas, Teto sangat beruntung disukai oleh dua orang ini. Dan kini aku harus pasrah dijodohkan oleh kedua orang tuaku. Dan aku bahkan belum sempat berkata pada Len bahwa aku mencintainya…
Aku hanya bergumam, dan berharap agar tidak ada yang mendengar, "Len… aku ingin bertemu…" gumamku.
Len POV
Aku sudah lupa berapa hari yang berlalu setelah orang tuaku, yang menyebalkan itu, membawaku kembali ke rumah utama. Dengan pelayan yang berjajar hingga tak terhitung berapa jumlahnya. Hidup normal yang kujalani akan berakhir jika aku berada di sini terlalu lama.
Dan kini, aku berada di sebuah kamar, kamarku lebih tepatnya, dikurung selama beberapa hari, tanpa telepon ataupun internet, memang aku melakukan apa sehingga harus dikurung seperti ini? Ah, benar juga, sehingga aku tak menemui Rin, yang sekarang ada di rumah sakit. Tapi, aku hanya bilang pada orang tuaku bahwa dia merupakan seorang teman dariku. Pasti saja mereka langsung menarikku menuju rumah utama tanpa alasan.
"Sial, kenapa aku dikurung seperti ini, sih?" protesku dengan teriakan yang menggema di kamarku itu. Padahal, aku ingin berbicara dengan Rin. Dan mengatakan hal yang sebenarnya padanya. Tapi, mana mungkin aku menemuinya dan mengatakan itu jika aku dikurung disini?
"Len-sama…" panggil seseorang dari arah pintu.
Aku hanya melihat sekilas dan melihat ada Kamui-san, Kamui Gumi, iya, Kamui Gumi yang merupakan adik dari Gakupo itu! Kenapa dia ada disini? Aku tak bisa menyembunyikan rasa terkejutku dan hanya bisa terdiam melihatnya yang sekarang ada disini.
"Kamui-san, kenapa kau ada disini?" tanyaku.
"Saya bekerja disini sejak saya berada di kelas yang sama dengan Len-sama, Miriam-sama memerintahkan saya untuk mengawasi anda," jawab Gumi yang terlihat sangat malu.
Oke, sekarang aku merasa amat sangat marah! Ibu-memperkerjakan-seseorang-untuk-mengawasiku-di-sekolah. Dan kini dia memaksaku untuk dijodohkan dengan rekan bisnis ayahku itu. Dan aku ingatkan sekali lagi, bahwa aku tidak terlalu mengerti tentang hal-hal seperti ini.
"Lalu, apa mau ibuku itu?" tanyaku dengan ketus.
"Dua hari lagi, anda sudah diizinkan kembali ke apartemen, ah, jangan khawatir, akan ada seseorang yang mengawasi anda selain saya. Tapi, Miriam-sama tidak menyebutkan namanya. Tapi, Miriam-sama bilang, bahwa anda mengenalnya dan dia juga ditugasi untuk menjaga tunangan anda…" jawab Kamui-san.
Aku tidak terlalu mengerti tentang perkataan Kamui-san, tapi aku merasa sedikit ganjil dengan bagian 2 hari lagi itu. Sepertinya aku melupakan sesuatu yang sangat penting.
"Ah, Kamui-san…" panggilku pada Kamui-san yang baru saja akan meninggalkan kamarku.
"Gumi!" tegur Kamui-san. Sepertinya dia ingin aku memanggilnya, Gumi.
"Ah, baiklah, Gumi, sudah berapa lama aku berada di rumah?" tanyaku, sekaligus mengkoreksi caraku memanggilnya.
"Jika dihitung dengan hari dimana anda dibawa, Len-sama sudah berada di rumah utama selama 5 hari," jawab Gumi. Dia kemudian meninggalkan kamarku, tapi karena aku tidak mendengar suara pintu yang dikunci, aku simpulkan bahwa Gumi lupa untuk menguncinya.
Kini aku harus berpikir kembali, aku sudah ada disini selama 5 hari, berarti aku akan meninggalkan tempat ini, jika sudah seminggu. 2 hari lagi… aku merasa bahwa aku melupakan sesuatu yang amat sangat penting.
"Rin, akan keluar dari rumah sakit setelah satu minggu, dan sekarang sudah 5 hari sejak hari itu, berarti 2 hari lagi dia…" aku kini sudah mengingat apa yang kulupakan, 2 hari lagi Rin akan keluar dari rumah sakit! Dan aku akan keluar dari rumah ini pada hari itu juga! Apa aku bisa tepat waktu pada saat keluarnya Rin?s
"Orang tua sialan!" teriakku. Aku benar-benar marah sekarang, lebih tepatnya jengkel. Kenapa kebetulan membuatku harus keluar pada hari dimana Rin keluar dari rumah sakit!
Setelah aku merasa sedikit lebih baik, aku segera melihat keluar jendela kamarku. Aku tidak mencoba untuk kabur melewati jendela, meski kamarku terletak pada lantai 2 yang tidak terlalu tinggi. Karena terdapat ladang kaktus tepat di bawah kamarku itu. Sepertinya orang tuaku sangat mengerti bahwa aku mungkin akan mencoba untuk lari dari rumah melalui jendela.
Tapi, aku melihat sosok yang sangat familiar bagi siapapun yang pernah melihat orang yang kusebut itu, dia memakai sebuah topi berwarna hitam dengan ukuran besar, cukup besar untuk menutupi seluruh rambutnya yang berwarna hijau emerald, dengan tubuh yang pendek dan aura orang tidak normal.
"Mel-senpai? Kenapa dia bisa ada disini?" pikirku.
Yup, orang itu seperti Mel-senpai, yang amat sangat aneh, aku berani bertaruh bahwa dia memiliki otak komputer! Tapi, kembali pada pertanyaanku tadi, kenapa dia ada disini?
Aku yakin, aku tak pernah berbicara tentang diriku yang merupakan tuan muda ini pada siapapun. Bahkan tidak pada Miku ataupun Rin. Tapi, kenapa orang teraneh sedunia itu ada disini? Dan lagi, penampilannya yang menggunakan jaket berwarna hitam dan pakaian berwarna hitam, yang jelas terlihat sangat mencurigakan. Tapi, sebentar, ibuku menyapanya, dan dia segera memasuki rumahku. Jadi dia itu tamu ibu?
Karena penasaran aku keluar dari kamarku, yang tadi lupa tidak dikunci oleh Gumi. Dan melihat ke sekeliling, tidak ada pelayan atau orang sama sekali disini. Keadaan lorong rumahku sangat tenang dan lengang, sangat lengang hingga membuat pikiranku waspada.
Segera aku melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu, dimana aku mendengar suara ibuku dan suara orang lain, aku simpulkan itu merupakan suara Mel-senpai karena terdengar seperti suaranya, itu saja.
"Ah, sudah beberapa hari kau tidak melaporkan tentang pemeriksaanmu ini!" ucap Ibuku dari dalam ruang tamu.
"Maafkan saya Miriam-san, sulit sekali untuk melakukan apa yang mereka minta sementara saya mendukung anda dan dia," ucap Mel-senpai, membalas perkataan Ibu.
Aku merasa bahwa aku seharusnya tidak menguping pembicaraan mereka, tapi keingintahuan membabat semua rasa takutku dan aku tetap mendengarkan mereka berbicara.
"Jadi, apa yang akan mereka lakukan?" tanya Ibuku. Bisa kupastikan bahwa Ibu merasa khawatir.
"Putri mereka memang sangat menginginkannya Miriam-san, dan putri mereka itu memiliki sifat yang cukup berbahaya untuk keselamatan mereka berdua," jawab Mel-senpai.
"Yandere, kah? Apa aku bisa menghitung kehadiranmu untuk membantu mereka berdua?" tanya Ibu. Aku tak mengerti siapa yang disebut "mereka berdua" disini.
"Iya, lagipula kalian membayar saya, kemudian mereka juga teman saya, sehingga jika harus meninggalkan mereka dalam hal ini, saya menjadi sedikit tidak rela," jawab Mel-senpai. Aku bisa mendengarkan suara teh yang diminum dan suara cangkir the yang diletakkan kembali.
"Kau benar-benar baik, Mel-san… tapi, apa ini tidak terlalu beresiko untukmu?" ucap Ibu.
"Aku sudah menerima resiko ini sejak aku menerima pekerjaan ini, dan bisa dibilang, aku jadi tertarik dengan pasangan itu, lagipula semuanya sah dalam perang dan cinta, jadi jangan anngap saya sebagai orang yang sangat baik seperti itu," tanggap Mel-senpai.
"Kau merendah Mel-san, ternyata kau tipe anak Tsundere, ya!" goda ibuku.
"Aku tidak Tsundere!" bantah Mel-senpai.
Dan, aku mencatat bahwa Mel-senpai merupakan orang yang Tsundere, karena dia benar-benar terdengar seperti orang Tsundere. Karena tak ada hal lain yang bisa kudengarkan, aku kembali ke kamarku. Meski aku masih bingung tentang apa yang tadi mereka bicarakan.
Dan saat itu aku menjadi ingat, bahwa ada benda milik Rin yang masih aku bawa hingga saat ini. Dan aku masih belum membukanya, yah, meski tidak baik membuka barang miliknya tapi aku ingin tahu isi dari benda itu.
"Tapi, diary Rin tertinggal di apartemenku…" gumamku. Karena aku merasa sangat bosan, aku hanya berbaring di atas tempat tidur dan menggumamkan lagu yang kuhapalkan, karena dipaksa oleh Mel-senpai.
Normal POV
Terdengar suara langkah kaki yang cukup berat, berjalan meninggalkan pintu ruang tamu. Kedua orang yang sejak tadi mengetahui keberadaan pemilik kaki itu hanya berbicara seakan tidak ada siapa-siapa. Namun, setelah pemilik kaki itu pergi, mereka mulai berbicara kembali.
"Apa tidak apa-apa seperti ini Miriam-san?" tanya seorang gadis yang memakai pakaian serba hitam dengan topi besar yang berwarna hitam pula. Dia meminum tehnya sedikit.
"Iya, tidak apa-apa, dia tak akan tahu apa yang kita bicarakan tadi. Len memang seperti itu, selalu ingin tahu," jawab wanita yang dipanggil dengan nama Miriam itu.
"Ba-baiklah…" jawab gadis itu.
"Mel, tapi apa 'dia' akan melakukan gerakan mencurigakan untuk memisahkan mereka berdua?" tanya Miriam pada gadis yang bernama Mel itu.
"Hingga saat ini, mereka hanya menguntit Len saja, dan aku tak tahu, kapan mereka akan melakukan hal yang berbahaya, mereka juga mulai kebingungan mendengar rumor perusahaan 'Mille' dengan perusahaan 'Lito' akan mengadakan kerja sama. Saat aku melihat folder perusahaan, diperkirakan mereka akan rugi besar. Yah, karena itu, keselamatan Len dan dia juga menjadi terancam. Tapi, aku bisa menghitung orang terdekat untuk melindungi nona perusahaan 'Lito', sih!" jawab Mel.
"Jadi begitu, selain faktor perusahaan yang akan rugi besar, putri mereka yang dikenal yandere itu menginginkan Len. Dengan ini, aku berharap mereka bisa ditangkap dan semua kasus pembunuhan yang mereka sebabkan bisa teradili. Jujur saja, aku jadi khawatir pada Len yang hidup sendirian dengan mereka yang berkeliaran…" ucap Miriam.
"Miriam-san tak perlu khawatir terlalu banyak, aku sudah menyelidiki dari dalam tentang putri mereka itu. Meski saya sempat ketahuan, saya harus bisa bertahan di ujung dua pedang untuk sementara waktu, maafkan saya," ucap Mel. Dia meminum teh-nya dan menatap Miriam dengan tatapan menyesal.
"Tak apa Mel, kalau itu kau, aku yakin kau pasti bisa bertahan. Lalu, bagaimana dengan keadaanmu sendiri? Kudengar kau juga tinggal sendiri," ucap Miriam untuk mencairkan suasana tegang.
"Tehee, terkadang aku memang menarik simpati dari kepala sekolah terlalu banyak, tapi, aku baik-baik saja, terimakasih atas jasa dari kalian…" jawab Mel.
Miriam tertawa kecil, tersanjung akan pujian dari Mel, kemudian dia berkata, "Lalu bagaimana sekolahmu? Lalu rencana yang kau bilang akan kau laksanakan pada Festival Kebudayaan itu?" tanya Miriam.
"Semuanya lancar, dan sepertinya tak ada yang curiga, aku sendiri juga sudah menyiapkan Len secara pribadi. Tunggu saja hasilnya pada saat Festival Kebudayaan! Mungkin Miriam-san dan Leon-san juga harus datang pada hari itu!" jawab Mel. Terlihat senyum iseng dari wajahnya, sepertinya dia menikmati rencananya itu.
"Baiklah, sekarang kau bisa pergi Mel, lalu hati-hati di jalan," ucap Miriam.
Mel menerawang sejenak kemudian dia mengangguk, kemudian dia meninggalkan kediaman Kagamine yang megah. Dia sempat melihat sekilas ke arah jendela yang ada di lantai 2. Menepuk kedua wajahnya sedikit, dan segera menuju ke sebuah mobil limosine berwarna hitam dengan orang-orang yang berbaju hitam.
"Bagaimana, apa kau mendapatkan informasi dari pemilik perusahaan 'Mille'?" tanya orang yang berada di bangku belakang dengan menggunakan pakaian resmi yang terlihat rapi.
"Iya, saya akan memulai laporan bila kita sudah sampai di perusahaan, maaf telah menunggu lama," jawab Mel.
Orang itu hanya tertawa kecil, dan mempersilahkan Mel memasuki mobil itu, kemudian mereka meninggalkan tempat itu.
Rin POV
Aku sekarang berada di atap rumah sakit. Tempat ini sangatlah lengang, karena hanya ada kain-kain putih yang dijemur di tempat ini. Tempat yang cocok jika kau ingin sendirian atau… bunuh diri. Tapi, aku tak berniat melakukan yang kedua sungguh! Tapi mungkin aku akan melakukannya, kalau aku ingin.
"Len…" gumamku.
-Time Skip-
Hari ini aku akan keluar dari rumah sakit! Aku ingin segera pulang, latihan band, dan membantu persiapan Festival Kebudayaan! Meski setelah itu aku akan dijodohkan, setidaknya aku harus menikmati masa-masa bebas sementara aku bisa.
Aku memberesi barang-barang di kamarku, dibantu oleh Luka dan Mel-senpai. Mereka senang bahwa aku akan dikeluarkan dari rumah sakit. Karena itu berarti, pentas pada hari pertama akan aman!
"Rin selamat ya, atas keluarnya dirimu dari rumah sakit!" ucap Luka yang sudah selesai membereskan satu koper bajuku.
"Selamat atas keluarnya dirimu dari rumah sakit. Setelah ini, kau akan sangat sibuk!" tambah Mel-senpai. Sepertinya dia lebih senang dengan kata "sibuk" daripada aku keluar dari rumah sakit. Terkadang Mel-senpai bisa jadi sangat aneh!
"Terimakasih!" ucapku sambil tersenyum. Aku senang mereka masih memberi selamat kepadaku, karena satu-satunya yang memberiku selamat, sebelum mereka, hanya Teto dan Kaito-nii. Mikuo? Dia terlalu sibuk untuk mendapatkan Teto, begitu pula dengan Ted-senpai.
Tapi yang membuatku lebih sedih, Len tidak pernah menemuiku selama 1 minggu penuh! Dan aku tak yakin dia akan ada saat aku dikeluarkan dari rumah sakit! Itu membuatku menjadi amat sangat sedih.
"Jika kau penasaran soal Len, dia ada urusan keluarga, sehingga dia tidak bisa menemuimu Rin!" ucap Luka.
Aku menjadi sedikit heran, kenapa Luka tahu tentang keberadaan Len? Saat itulah Mel-senpai berkata, "Gakupo menerima surat izin yang berasal dari orang tua Len, karena adiknya itu bekerja untuk keluarga Kagamine," jawab Mel-senpai.
Aku hanya ber- "Ooh" ria sambil menyeret koper berisi baju, dan beberapa hal lain di tangan kananku. Omong-omong, orang tuaku sedang mengadakan pertemuan dengan calon "Mertua"-ku. Entah apa yang mereka bicarakan. Urusan perusahaan memang tak pernah menarik minatku sama sekali.
Setelah aku sampai di rumah, Mel-senpai dan Luka mengajakku, bukan, lebih tepatnya lagi, "Memaksa"-ku untuk menuju ke sekolah, tentunya dengan memakai kostum 'Magnet' yang sudah direvisi. Secara dasar tidak ada yang berubah, kecuali bagian rendanya yang menjadi lebih men-detail dan rok yang lebih mengembang. Dan Mel-senpai memberiku sepasang sarung tangan berwarna hitam tanpa jari untuk dipakai.
"Tidak, tidak, tidak mau!" protesku dengan kuat. Tapi, Mel-senpai yang bersama dengan Luka mampu memaksaku untuk pergi ke sekolah. Dan mereka juga memberi make-up pada wajahku. Hwaa, aku benar-benar merasa malu!
Tapi, Luka sendiri juga memakai kostum panggungnya yang sudah di revisi, Mel-senpai hanya memakai seragam sekolah dengan topi besar miliknya. Akhir-akhir ini, Mel-senpai selalu mengenakan topi itu kemana-mana, mungkin sama dengan aku yang memakan bando dengan pita besar berwarna putih.
"Nah, karena kalian sudah selesai, ayo kita pergi!" ajak Mel-senpai dengan bersemangat.
"Mel-senpai, bicara, sih gampang! Tapi kakiku sakit mengenakan sepatu ini!" protesku.
Mel-senpai hanya memberi tanda "No comment" dan berlari meninggalkanku dan Luka. Sepertinya Mel-senpai sengaja jadi aku tidak bisa protes lagi.
"Luka~ tolong aku!" pintaku pada Luka.
Luka hanya tertawa kecil kemudian dia berkata, "Tapi, kau harus memakai sepatu itu saat pentas, apa yang mungkin terjadi jika kau terjatuh Rin-chan?" ucap Luka.
Memang Luka ada benarnya, tapi kakiku merasa sangat sakit hanya untuk berjalan pelan. Aku tidak terbiasa memakai sepatu seperti ini. Semakin kugunakan untuk berjalan, aku merasa bahwa kakiku menjadi lecet.
"Rin-chan, coba ikuti cara aku berjalan dengan menggunakan sepatu ini. Lagipula, milikku lebih tinggi daripada milikmu bukan?" saran Luka. Dia kemudian mulai berjalan meninggalkanku.
Aku berusaha mengikuti Luka, dan melihat caranya berjalan, lambat laun aku tidak merasakan sakit di kakiku. Hehe, sepertinya aku mulai biasa menggunakan sepatu ini! Segera aku berlari ke arah Luka dan memeluknya dari belakang.
"Luka, aku menyukaimu!" teriakku. Hei readers yang terhormat! Jangan berpikir yang tidak-tidak! Aku masih mencintai Len, dan aku masih normal! Ini hanya caraku untuk menunjukkan rasa pertemanan pada temanku, tapi tidak untuk Len. Kenapa? Tentu karena aku malu!
Luka hanya terdorong sedikit dan tertawa kecil, "Iya, iya, Rin-chan, aku tahu!" ucap Luka dengan nada riang.
Setelah berjalan sebentar, akhirnya kami sampai di sekolah, yang sudah mulai terasa sibuk. Banyak kelas yang mulai mendekorasi ruang kelasnya. Tapi satu hal yang jelas, saat kami berjalan melalui lorong sekolah, semuanya menatapku dan Luka!
Wajahku memerah sekarang, aku merasa sangat malu diperhatikan seperti ini! Sementara itu, Luka hanya menarik tanganku sehingga aku tidak lari. Aku bisa mendengar mereka berbisik-bisik saat kami lewat.
"Hei, kau tahu siapa yang bersama dengan Megurine-san itu?" bisik salah satu anak perempuan yang kami lalui.
"Itu vocalist grup band yang katanya masuk rumah sakit itu kan?" bisik anak yang lain.
"Kudengar anak dari kelas X-2, tapi katanya masih ada yang lain lagi…" bisik anak yang lain.
"Bohong, kalau seorang sudah semanis itu, bagaimana dengan yang lain?" bisik yang lain dengan antusias.
Wajahku sedikit memerah dibilang manis, aku melepaskan gandengan Luka dan mulai berjalan sendiri. Mereka bilang aku manis, aku merasa wajahku kini menjadi semakin merah, aku senang dipuji seperti itu.
Setelah itu akhirnya aku sampai di ruang kelas, yang telah kutinggal selama kurang lebih satu minggu. Aku menarik nafas dalam-dalam dan membuka pintu kelasku sedikit. Nyaliku menjadi ciut, karena aku sama sekali tidak membantu mereka dalam persiapan Café.
"Se-selamat pagi…" ucapku seraya membuka pintu lebar-lebar. Dan memasuki ruang kelas. Aku bisa merasakan bahwa seluruh mata anak-anak sekelas menatap lekat diriku dari atas ke bawah.
"Kamine-san, kau terlihat manis…" ucap salah satu anak laki-laki. Segera semua anak melihat ke arahnya, seakan-akan menatapnya dengan wajah iseng.
"Terimakasih banyak…" balasku.
Tanpa kuketahui ada seorang anak cewek yang tiba-tiba memelukku entah dari mana, dia kemudian berkata bahwa aku terlihat sangat manis.
"Hei, itu kostum panggung bukan?" tanya anak sekelasku yang seingatku, bernama Luna Amane.
"Ah, iya, Mel-senpai yang membuatnya…" jawabku, masih dengan bertahan agar tidak jatuh karena dipeluk oleh anak cewek yang tadi. Dan aku rasa, aku akan kehabisa oksigen cepat atau lambat.
Setelah itu, mereka menyuruhku pergi dari kelas, karena aku sekarang dibuat menjadi waitress, menggantikan Amane-san. Dia bilang, dia lebih suka di dapur, jadi aku diwajibkan menjadi waitress, omong-omong, Teto juga dijadikan waitress, dan Len menjadi waiter. Dan mereka berkata, bahwa mereka menunggu penampilan terbaik pada pentas jadi pekerjaan tentang Café tidak boleh kusentuh.
Saat itulah, ponselku berbunyi, menyanyikan ringtone "Meltdown" dan saat kubuka, aku melihat nama Len disana. Kenapa dia menelponku? Segera aku berlari ke arah kamar kecil dan mengunci diri di salah satu tempat itu, dan membuka flap ponsel.
"Halo, Len?" ucapku dengan nada bertanya.
"Rin, sekarang kau berada dimana?" tanya Len dari seberang. Sepertinya dia sehabis berlari atau semacamnya.
"Aku? Aku sekarang ada di sekolah, memang ada apa?" jawabku sambil menanyakan alasannya bertanya padaku, hanya penasaran.
"Eh, tidak, tidak apa-apa. Maaf, aku tidak ada waktu kau dikeluarkan dari rumah sakit," ucap Len dengan nada meminta maaf. Jika sudah begini, aku merasa tidak enak jika tidak kumaafkan.
"Baik, permintaan maaf diterima," ucapku.
"Lalu Rin…" ucap Len dari seberang sana.
"Apa Len?" tanyaku.
"Erm, tidak tidak ada apa-apa. Baiklah aku ke sekolah, ya!" jawab Len.
"Tu-…" belum selesai aku berbicara, sudah terdengar nada telepon diputus. Ada apa sebenarnya dengan Len?
Rina: Chapter 11 O-W-A-R-I! Nah, aku kan sudah berbaik hati memberitahu apa yang akan terjadi dan yang sedang terjadi. Dan sepertinya peran OC-ku jadi tambah banyak di fic ini.
Rin: OC author Rina itu gila, ya?
Len: Apa OC author itu manusia biasa?
Rina: Mel itu bukan manusia murni, sebagai jawaban dari pertanyaanmu Len.
Mel: Aku bukan manusia tapi setengah manusia! *muncul mendadak*
Len: *sweatdrop* Oh, begitu… *ambil pisang*
Rin: Nah, ayo di review supaya author ini ndak ngambek!
Mel: Readers, kasih review supaya saya bisa dapat peran yang penting!
Rina: Yak, saya minta review na ya! Dan sekali lagi, Troll Spoiler muncul lagi!
Troll Spoiler Chapter 12:
Dia adalah milikku dan milikku seorang!
Aku punya... Aku punya orang yang kucintai hingga aku rela mati demi dirinya...
Disaat semuanya mulai tersusun dengan rapi, terjadi suatu hal yang mengusik hari. Siapa yang bisa dipercaya? Siapa yang harus dipercaya? Apa dia layak dipercaya? Apa semuanya… akan baik-baik saja?
