Disclaimer : Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya
Alternate Universe.
"Aku dan Francis akan pergi berburu ke balik bukit. Kau mau ikut?"
Arthur menggelengkan kepala sambil mengaduk-aduk semangkuk sup di hadapannya. Sudah setengah jam ia melakukan hal yang sama; sup itu pasti sudah dingin.
"Hm. Baiklah. Kau mau kubawakan sesuatu?"
Lagi-lagi adiknya menggelengkan kepala. Pandangannya tak juga terangkat.
Sudut matanya mengejang. Ia menahan diri untuk tidak menarik belati dari wadah dan menghunuskannya ke depan muka adiknya, hanya agar ia berhenti bersikap seperti mayat hidup. Sudah satu minggu berlalu dan Arthur masih bersikap seolah-olah kelinci bodohnya baru mati tadi pagi. Dia harus melihatnya sendiri; kelinci bodoh kesayangannya telah dimakan belatung. Yang seperti itu sudah tidak mungkin hidup lagi, lalu apa yang Arthur harapkan? Apakah ia kira bersedih selama 10 hari dapat membangkitkannya dari kubur?
Bodoh.
Allistor menghela nafas dan bangkit dari kursi, menyandang perlengkapan berburunya. Sambil mengencangkan strap pundak, ia melirik pada adiknya. Masih saja mengaduk-aduk semangkuk sup dengan mata redup tak bernyawa. Kalau sudah begini, Allistor yakin Arthur tidak akan memakan sarapannya. Seperti yang sudah-sudah. Membuang-buang makanan saja. Apa dia pikir lauk pauk muncul di atas meja makan dengan sihir semata?
Bodoh.
"Arthur."
Adiknya masih tak mau mengangkat kepala. Masih mengaduk-aduk sup di hadapannya yang mulai encer.
"Kalau kau membuangnya lagi, maka itu akan jadi hidangan terakhirmu. Aku tidak akan menyiapkan makanan untukmu lagi. Kau boleh memilih, habiskan itu, atau mati kelaparan. Kalau itu membuatmu senang―kau mati dan menyusul kelinci bodohmu yang bangkainya sedang dinikmati belatung―silakan saja. Aku tidak peduli."
Sudah cukup seminggu ini ia bersabar menghadapi tingkah konyol Arthur. Kalau adiknya sangat ingin mati, memangnya siapa Allistor yang berhak melarangnya? Bukankah bebannya malah akan berkurang?
Tapi seperti tidak mendengarkan, Arthur tetap diam. Mungkin anak itu memang tidak mendengarkan. Bocah sialan.
Ia menghela nafas sebal, lalu berjalan pergi meninggalkan rumah. Dalam benaknya ia mencoba mengingat-ingat makanan apa yang paling disukai Arthur. Mungkin ia masih bisa menyuap adiknya; kalau tidak berhasil juga, ia perlu menyuapi Arthur dengan paksa.
"Hei, adikmu masih sedih?"
Allistor tidak menjawab. Tidak juga menunjukkan tanda-tanda kalau ia mendengarkan Francis. Kakinya terus melangkah dalam ayunan cepat, meninggalkan pemuda bermata biru tersebut beberapa langkah di belakang.
"Mon ami, hei, kenapa kau bersikap seperti itu padaku?"
Ia mendengus pelan, memutar bola matanya.
Akhir-akhir Francis lebih menyebalkan dari biasanya. Atau mungkin dirinya yang lebih mudah tersinggung dari biasanya. Tapi kalau mau dirunut akar permasalahannya, semuanya kembali lagi kepada Arthur.
Allistor tidak mau mengakuinya, tapi diacuhkan oleh Arthur benar-benar membuatnya kesal. Bagaimana tidak, harusnya dia yang mendiamkan adiknya, bukan sebaliknya! Anak itu tidak berhak menjawab pertanyaan yang Allistor lontarkan kepadanya dengan gelengan atau anggukan saja. Tidak tahu diri. Selama 12 tahun terakhir, rumah tidak pernah sesunyi ini. Benar-benar menyebalkan. Allistor mulai merasa ia tinggal dengan boneka.
"Mungkin sebaiknya kau mencarikan kelinci lagi untuknya. Atau anjing? Kudengar anjing bisa hidup dalam waktu lama, setidaknya sampai Arthur cukup besar dan punya teman betulan. Lagipula anjing bisa menjadi kawan berburu yang berguna. Bagaimana menurutmu, mon ami?"
Allistor mendecakkan lidah.
Ia sudah cukup direpotkan anak sialan itu, tidak perlu tambahan lagi. Anjing, katanya? Apa Francis kira anjing itu makan rumput depan rumah? Dia tak akan sudi membeli daging hanya untuk memberi makan anjing. Itu jauh lebih mahal daripada apel. Tidak, terima kasih.
"Mon ami, anak itu membutuhkan teman betulan."
Ia hanya memutar bola matanya.
"Kau lihat, dia begitu tergantung pada kelincinya itu, makanya ia sangat terpukul saat kelincinya mati. Kalau ia punya teman betulan―bukan hanya seorang, tapi beberapa orang sekaligus―akan ada yang menghiburnya. Dia tidak akan kesepian. Bagaimana?"
Akhirnya ia melirik tajam ke arah Francis dari sudut matanya. Pemuda itu mengerjapkan sepasang mata birunya dengan polos, seperti tanpa dosa. Sudut mata Allistor mengejang melihatnya.
"Menurutmu di mana aku bisa menemukan anak kecil seusia Arthur di sekitar sini? Apa aku harus membeli budak murahan yang dijual di tempat-tempat tersembunyi? Atau menculik anak dari pasar?"
Karena, lihat saja kondisi sekitar tempat tinggal mereka. Tidak ada orang yang cukup bodoh untuk tinggal di pinggiran hutan sepi begitu. Bahkan Allistor mulai bertanya-tanya, apa yang dipikirkan ayahnya saat membangun rumah isolasi di tempat terpencil itu? Apakah orang tua itu berniat hidup dalam pengasingan? Allistor bahkan terlambat menyadari kalau dirinya pun tidak pernah punya teman betulan. Francis tidak dihitung; dia itu kodok, bukan teman.
"Err, kau tidak perlu melakukannya sejauh itu, mon ami… Kau bisa dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah kalau menculik anak kecil, bahkan lebih buruk lagi, berakhir di tiang gantungan."
Tepat sekali! Allistor mendengus keras. Kadang-kadang Francis bisa menjadi sangat bodoh dan itu ratusan kali lipat lebih menyebalkan daripada dirinya yang biasa.
"Tapi mon ami―"
"Kalau kau terus bicara, Francis, aku akan menjejalkan anak panah ke dalam mulutmu!" Urat berkedut muncul di pelipis kirinya. Ia menghentak-hentakkan kakinya dengan sebal.
"Mon ami―"
Bagian mana dari ancaman Allistor yang tidak ia mengerti?
"Mon am―"
Ia membalikkan badannya dengan cepat, kedua tangannya ada di pinggang. "Francis! Sudah kubilang kalau―"
"Lihat! Lihat sekelilingmu!"
Sepasang mata biru Francis beredar. Allistor mengernyitkan alis, tapi kemudian ia melakukan hal yang sama.
Ah, di mana mereka? Ke mana perginya pohon-pohon berdaun jarum yang tadi mengiringi jalan? Dan mana bukit kecil yang tadi tampak olehnya?
Sepasang alisnya mengernyit semakin dalam.
"Frog, di mana kita?"
Francis menoleh ke arahnya dengan tidak percaya. "Kau sedang bercanda kan, mon ami? Aku tidak tahu! Kau yang tahu jalannya. Aku hanya heran kenapa sepertinya kita melalui jalan yang berbeda, kukira kau punya jalur alternatif yang lebih cepat." Ia mengangkat bahu.
Allistor berdecak kesal, kedua tangannya masih diletakkan di atas pinggang. Sekali lagi ia mengedarkan pandangannya mengamati sekeliling. Dia sama sekali tidak mengenali daerah ini, dan pohon-pohon tumbuh terlalu rapat menghalangi pandangan. Ia tidak melihat sesuatu yang familiar di kejauhan. Tidak ada pohon besar yang ia kenali sebagai penanda jalan.
Di mana mereka?
"Mon ami, kita tidak tersesat, kan?"
Ia memicingkan sepasang mata emeraldnya ke arah Francis.
Terkutuklah si kodok buta arah itu, sehingga Allistor harus menunjukkan jalan tiap pergi berburu. Terkutuklah Arthur karena telah menyita perhatiannya dan membuatnya tidak konsentrasi sehingga melangkah ke arah yang salah.
Allistor menghela nafas panjang.
"Mon ami?"
"Sudahlah, terus berjalan." Ia membalikkan badan, melangkahkan kakinya meneruskan jalur yang tadi.
Tidak masalah. Ia hanya perlu mencari tempat yang lebih terbuka untuk mengecek arah mata angin. Matahari tidak terlihat di sini, saking lebatnya pohon-pohon yang tumbuh berjajar berhimpit-himpitan.
"Kalau kita pergi ke tempat yang biasa, mungkin sekarang kita sudah sampai ke pasar, mon ami. Tempat baru memang tidak selamanya menguntungkan. Hmm."
Allistor memutar bola matanya. Ia sudah bosan mendengarkan Francis mengoceh. Dan pemuda itu sendiri yang punya ide untuk pergi ke balik bukit. Frog.
"Hei, mon ami, apa menurutmu kita bisa pindah ke kota? Maksudku, di sana kita bisa mencari pekerjaan tetap, dan Arthur bisa punya teman bermain. Kita tidak perlu pergi berburu, khawatir akan bertemu serigala atau diterkam beruang. Kurasa tinggal di kota adalah pilihan yang tepat, mon ami."
Ia terus melangkah.
"Aku punya simpanan uang, kurasa cukup untuk menyewa tempat tinggal selama dua bulan pertama. Aku bisa bekerja kepada pembuat roti, dan kau―hmm, kurasa kau cocok bekerja di pandai besi. Arthur bisa ikut kelompok belajar, kalau kau punya uang lebih. Aku akan membantumu, jangan khawatir. Karena kita tidak ingin anak itu tumbuh besar tanpa didikan dan arahan yang tepat, seperti kita, kan?" Francis tertawa kecil.
Allistor tidak ingin mendengarkan ocehan Francis tentang hidup yang sempurna seperti itu. Dia tidak ingin mulai membayangkan bagaimana rasanya tinggal di pemukiman, memiliki pekerjaan tetap, dan melihat Arthur bermain dengan teman-teman sebayanya.
Allistor tidak ingin memikirkan hal itu, karena ia belum siap meninggalkan rumah mungil yang penuh kenangan baginya. Dan tentu saja uang masih menjadi masalah utama. Dia terlalu sibuk memastikan kebutuhan Arthur tercukupi sehingga tak sempat menyimpan koin cadangan. Ia juga belum siap dengan perubahan lingkungan yang begitu drastis, karena jujur saja, ia menyukai ketentraman yang hanya bisa didapatkan di pinggir hutan.
Tapi bagaimana dengan Arthur? Apakah Arthur bahagia tinggal di lingkungan mereka sekarang? Karena Allistor masih ingat benar ekspresi girang yang adiknya kenakan tiap kali ia membawanya ke pasar. Riuh rendai keramaian orang-orang dan semarak warna-warni kota tentu tampak menarik bagi Arthur.
Haruskah ia meninggalkan rumah mungil peninggalan ayahnya dan mengadu nasib di ibukota?
Lagi-lagi ia kehilangan konsentrasi, kakinya terus melangkah tanpa diawasi. Menuruni lereng yang mulai terjal berbatu. Hingga ia menginjak batu berlumut yang tidak stabil dan kehilangan pijakannya. Sebelum sempat membenarkan diri, Allistor telah tergelincir jatuh dan baru sadar curamnya area itu.
"Ah―"
"Mon ami!" Francis melangkah cepat menyusulnya, berpegang pada batang pohon yang bisa ia raih.
Allistor baru akan meraih ranting yang terulur di dekatnya untuk membantunya membenarkan langkahnya. Tapi tebing itu terlalu curam dan tidak stabil, membuatnya terperosok dan berguling beberapa kali, sebelum akhirnya terhenti oleh batang pohon besar, membenturnya tepat di punggung dan membuatnya merintih kesakitan.
"Mon ami! Ya ampun, kau ― kau tidak apa-apa?!" Francis harus bersusah payah menahan kakinya agar tidak ikut terjerumus juga, dan berlutut di sampingnya dengan khawatir.
"Aaargh, sial…" Allistor mengerang pelan. Ia tidak tahu mana yang lebih buruk, punggungnya yang terasa seperti ditendang kuda atau kenyataan bahwa ada ranting pohon yang tertancap pada betis kirinya. Selebihnya, ia merasa mati rasa.
Sial.
