THE HALF BLOOD VAMPIRE

.

Chapter 11

.

Cast : Kai, Sehun, Luhan, Chanyeol, Suho, Baekhyun

.

Genre : Fantasy, Roman, Sad

.

Author KILLA8894

.

Kembali ke Rated T

.

HAPPY READING

.

Jongin menatap ke arah Luhan yang terus menunduk di hadapannya. Ini sungguh berat untuknya, menghukum tunangannya sendiri bukanlah hal yang ingin dilakukan Jongin. Namun melihat tatapan tegas dari ayahnya, Jongin tau, ia harus tetap melakukannya, suka ataupun tidak.

" Aku benci melakukan ini padamu, tapi... kau dan ibumu sudah melakukan pengkhianatan. " Gumam Jongin.

" Tidak bisakah kalian memaafkanku, sungguh bukan ini yang ingin aku lakukan, aku hanya... terpaksa... ya, terpaksa... ibuku yang memaksaku. " Ucap Luhan dengan raut wajah memelas.

" Jangan tertipu dengan wajahnya Pangeran. " Ucap Chen memperingatkan. Ia sudah muak berada di tempat ini. Kalau saja dibolehkan, ia sudah ingin kabur dari tempat ini dan mencari Sehun. ia merasakan firasat yang buruk pada orang yang dikasihinya itu.

" Bagaimana dengan ayahmu, apakah dia juga ikut campur dalam hal ini? " tanya Jongin pelan.

Luhan tertegun untuk sejenak, benar, dimana ayahnya sekarang, kenapa tidak muncul juga, apakah ayahnya tau perbuatan jahat yang dilakukan ia dan ibunya ? " Aku tidak tau. " Jawab Luhan lirih.

" Kau yakin ? aku mendengar ayahmu sempat bicara bertiga denganmu dan ibumu sebelum ia pergi entah kemana. "

" Aku benar benar tidak tau Jonginie. " Ucap Luhan.

Jongin memejamkan matanya sejenak. " Baiklah, aku akan meminta pengawalku untuk mencari keberadaan ayahmu nanti, sementara itu... "

" Ku mohon Jongin, bagaimana bisa kau melakukan ini padaku. Ingat, aku ini tunanganmu, orang yang kau cintai. Kau tak mungkin tega melakukan ini padaku kan. " Ucap Luhan penuh harap. Ya, satu satunya jalan untuk menghindari kematiannya adalah dengan menggoyahkan tekad Jongin. Dan ia yakin kalau Jongin masih sangat mencintainya, dan itu akan mempermudahkannya untuk memuluskan jalannya.

" Apa kau juga mencintaiku? " tanya Jongin pelan.

" Tentu saja, aku sangat mencintaimu Jonginie. " Jawab Luhan yakin.

Jongin membuka matanya yang sedari tadi terpejam, lalu tersenyum tampan. " Aku tak meragukan itu Luhanie. "

" Pangeran... " ucap Chen tak percaya. Sihir apa yang dilakukan Luhan, hingga seorang pangeran vampire seperti Jongin terlihat menatapnya dengan aura penuh cinta. " Sadarlah pangeran, Luhan tidak bersungguh sungguh mencintaimu. "

" Diamlah pengawal... " desis Jongin. " Aku tau apa yang harus aku lakukan. "

Dalam sekejap semua rantai yang mengikat tubuh Luhan menghilang, dan gadis cantik itu terlihat bernapas dengan lega saat menatap kearah Jongin.

" Maukah kau ikut denganku tuan putri? " Jongin melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya.

" Tentu saja pangeranku. " Luhan tersenyum manis dan segera menyambut uluran tangan Jongin.

Keduanya berjalan menyusuri aula istana dengan diiringi Chen yang meski masih terlihat marah karena tindakan pangeran Jongin, namun tetap tak bisa mengabaikan tugasnya sebagai pengawal pangeran Jongin.

" Kita mau kemana Jonginie? " tanya Luhan dengan suara manja, yang membuat Chen mengeluarkan ekspresi ingin muntah di belakangnya.

" Sabar sebentar putri, kita hampir sampai. " Jawab Jongin dengan tenang. Ia menuntun langkah Luhan untuk menyusuri lorong yang gelap.

Saat ketiganya tiba di tempat yang terbuka di ujung lorong, Jongin segera mengisyaratkan pada Chen untuk menjauh. Meski enggan, namun akhirnya ia melangkah menjauh dari keduanya saat Jongin menarik Luhan untuk berdiri tepat di tengah tengah ruangan yang terbuka itu.

" Bagaimana dengan lukamu Luhanie? " tanya Jongin penuh perhatian. Ya, saat di lorong tadi, secara tak sengaja tangan Luhan terluka karena pedang milik Jongin.

" Sudah tidak apa apa Jonginie. " Ucap Luhan lembut. " Sudah tidak berbekas. "

Jongin tersenyum tipis dan menatap Luhan dengan penuh arti. " Aku senang mendengarnya, karena itu artinya, tujuanku akan segera tercapai. "

" Tujuan ? apa maksudmu? " tanya Luhan tak mengerti.

Jongin melepaskan pegangan tangannya dan melangkah agak menjauh dari Luhan. " Tujuanku, untuk menghukummu. " Jelas Jongin dengan suara dingin.

" A... Apa... " baru saja Luhan ingin melangkah, entah datang dari mana tiba tiba saja seluruh tubuhnya sudah terlilit rantai dari perak. " Jonginie, apa yang kau lakukan? " tanya Luhan dengan rasa panik yang begitu kentara.

Jongin tersenyum dingin. " Kau pikir aku tidak tau apa yang ada di pikiranmu itu, kau berkali kali ingin mencari kesempatan di lorong tadi untuk menusukku dengan pisau perak yang kau sembunyikan di balik pakaianmu itu, karena itulah aku sengaja menggores tanganmu dengan pedang beracunku. "

" A... Apa... " mata Luhan terbelalak kaget. Pedang beracun ? ia melirik kearah lengannya. Tak ada bekas goresan ataupun sesuatu yang nampak seperti terkena racun.

" Racun yang ku miliki berbeda dengan yang dimiliki ibumu. Ini adalah racun terkuat yang kumiliki, sebentar lagi... seluruh isi perutmu akan hancur dengan perlahan. Aku sengaja melakukannya, karena ku pikir ini hukuman yang paling pantas untuk seorang pengkhianat sepertimu. "

Jongin melangkah mengelilingi Luhan yang tampak mulai melemah. " Kau sudah berkhianat kepadaku, apa kau pikir aku akan memaafkanmu begitu saja. Aku tak mencintaimu seperti apa yang kau pikirkan Park Luhan. Sekarang nikmatilah beberapa jam kehidupanmu, sebelum matahari terbit. "

" Jongin... aku membencimu... "

" Dan aku lebih membencimu Park Luhan. "

Seiring berakhirnya ucapan Jongin, Luhan berteriak kesakitan. Tubuhnya ambruk keatas tanah dan terus menggeliat.

Chen yang mendengar teriakan Luhan segera melangkah mendekat. " Pangeran anda tidak apa apa? " tanyanya cemas.

" Tidak. Sepertinya racun yang ku masukkan ke tubuh Luhan, mulai menghancurkan tubuh bagian dalamnya. Karena itu ia berteriak. "

" Maksud pangeran? "

" Aku sudah bilang kepadamu, bahwa aku akan menghukumnya dengan caraku sendiri. " Jongin menjentikkan jarinya, dan seketika tubuh Luhan tergantung di udara dengan sebuah tali yang melilit lehernya. " Nikmati kesakitanmu Putri Luhan. "

Jongin yang ingin melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, tiba tiba saja terdiam, saat ia merasakan perutnya terasa basah. Ia meraba perutnya dengan kedua tangannya yang bebas.

" Pangeran, apa yang terjadi, kenapa perut anda berdarah. Apa wanita itu yang melakukannya? "

Jongin terdiam, perutnya tidak terluka namun kenapa ia mengeluarkan darah ? Sehun. nama itu terlintas seketika di pikirannya. Mate. Telah terjadi sesuatu pada pasangannya itu. Jongin memejamkan matanya sejenak, mencoba mencari tau apa yang sedang terjadi.

" Sial... " gumam Jongin. " Chen- ya, bantu aku membuat pagar gaib untuk Luhan, setelah itu kita pergi. "

" Baik pangeran. "

' Sehuna, ku mohon bertahanlah. '

.

.

.

.

Suara tangisan seorang bayi terus terdengar di dalam hutan terlarang itu. Tepatnya berasal dari gua yang masih ditempati oleh beberapa orang vampire dan juga seorang manusia itu.

" Apa yang harus kita lakukan. Taeoh terus menangis. " Bisik Suho dengan nada putus asa. Ia melirik kearah putranya yang terbaring kaku dengan tubuhnya yang ditutupi memakai mantel panjang milik Chanyeol.

" Kita tak mungkin membawanya pergi dengan keadaan seperti ini, sangat berbahaya. " Gumam Chanyeol. Ia mengelus lembut surai Sehun. Masih tak bisa menerima kalau anaknya telah pergi meninggalkan mereka disini untuk selamanya.

" Huweeeee... Huweeee... "

Suara tangisan Taeoh terdengar begitu memilukan. Bayi vampire itu mungkin bisa merasakan kalau ibu yang telah melahirkannya sudah tidak ada lagi.

Suho terlihat mulai kewalahan menggendong Taeoh yang terus menangis dan menggerak gerakkan tangan dan kakinya.

Yixing melirik kearah bayi yang terus menghadapkan wajahnya kearah Sehun itu, lalu beralih pada wajah lesu Chanyeol dan Suho. " Mungkin ia ingin berada di dekat ibunya untuk terakhir kalinya. " Ucap Yixing.

Suho menatap kearah Taeoh dan tubuh kaku Sehun bergantian sebelum meletakkan tubuh mungil Taeoh yang hanya dibalut kain seadanya, tepat disamping Sehun. Bayi mungil itu langsung berhenti menangis, ia mengerak gerakkan tubuh mungilnya, hingga mantel yang menyelimuti tubuh Sehun perlahan melorot, hingga menampilkan dada mulusnya. Ketiga orang dewasa itu hanya bisa menatap tak percaya kearah Taeoh saat bayi itu berguling hingga berada tepat di atas dada Sehun.

Suho kembali menangis saat Taeoh dengan rakus menghisap puncak dada ibunya. Seakan tak peduli dengan kenyataan bahwa tubuh Sehun yang sedingin es.

Chanyeol menggerakkan tangannya untuk merangkul tubuh Suho. Ia berusaha keras menahan kesedihannya melihat cucunya yang sepertinya berusaha untuk mendapatkan susunya.

" Apa yang harus kita lakukan pada taeoh? " bisik Suho.

" Entahlah sayang, kita bahkan tidak tahu apa yang bisa dimakan olehnya. " Ucap Chanyeol dengan nada putus asa.

" Haruskah kita serahkan bayi ini pada pangeran Jongin? " tanya Yixing dengan suara pelan.

" Tidak. " Sahut Suho dengan suara tegas. " Aku sudah kehilangan anakku dan aku tak bisa lagi kalau harus kehilangan satu satunya peninggalan anakku. "

" Ya Tuhan Taeoh. " Ucap Chanyeol dengan nada kaget.

Yixing dan Suho serentak menatap kearah Taeoh dan keduanya langsung melotot melihat Taeoh dengan tanpa perasaan menancapkan taringnya di dada Sehun.

" Sayang, jangan lakukan itu pada ibumu. Kita akan mencarikan susu untukmu, berhentilah menyakiti tubuh ibumu. " Suho dengan suara putus asa segera mengangkat tubuh mungil Taeoh. Dan ia membersihkan sudut bibir Taeoh yang sedikit berlumuran darah Sehun.

Yixing menatap kearah wajah pucat Sehun, tak ada perubahan yang terjadi. Namja itu tetap terdiam dengan tubuh kakunya. " Setidaknya kali ini Sehun tidak merasakan lagi rasa sakit yang sempat dirasakannya saat Taeoh merobek perutnya. " Bisik Yixing.

Chanyeol tak mengatakan apa apa. ia hanya terdiam sambil menatap wajah tenang Sehun.

" Chanyeol- ah, kau harus memutuskan sekarang, apa yang harus kita lakukan dengan mayat Sehun. "

" Aku bahkan tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan Yixing- ah. "

Tepat di saat itu, tubuh Sehun tersentak satu kali. Ketiganya membeku, sementara taeoh hanya diam sambil menghisap jempolnya di gendongan Suho.

" Taeoh- ya, apa yang kau sudah kau lakukan pada ibumu. " Bisik Suho. Taeoh melepaskan isapan pada jempolnya dan tersenyum kearah neneknya, menampilkan seluruh gusinya.

Di lain tempat, Luhan terus menerus berteriak kesakitan saat merasakan tak hanya organ dalamnya yang meleleh, namun juga secara perlahan dari ujung kakinya juga mulai meleleh.

Teriakan memilukan Luhan di barengi dengan sentakan yang makin kuat di tubuh Sehun.

Chanyeol menyibakkan mantelnya yang masih menutupi separo tubuh Sehun dan hanya bisa terpaku melihat garis garis biru menjalar dari kaki Sehun dan semakin naik keatas membentuk sulur sulur panjang. Tanpa di tanyakan lagi pun ia tahu, itu garis milik keturunan khusus yang hanya dimiliki oleh seorang raja dan keturunannya. Gigitan Taeoh dan darah Jongin yang berhasil diminum Sehun sebelum kematiannya sepertinya bekerja sama membangkitkan lagi jiwa Sehun yang mati.

" Apa itu? " tanya Suho dengan nada ketakutan.

" Tidak apa apa sayang, itu garis keturunan khusus milik keluarga kerajaan. Sepertinya gigitan Taeoh yang mengaktifkannya. " Ucap Chanyeol menenangkan.

Ini terlihat seperti pertukaran kematian, pikir Yixing. Siapa yang mati ?

Seiring pagi yang datang menjelang, teriakan membahana dari arah istana mengejutkan ketiga orang itu. bersamaan dengan teriakan itu, sulur sulur biru itu mencapai pundak Sehun dan berkumpul di sana, berputar putar membentuk simbol rumit dan akhirnya menghilang secara perlahan.

Tak ada yang terjadi. Tubuh Sehun kembali diam. Hanya satu yang membedakannya dengan semula, simbol rumit yang tercetak jelas di pundak Sehun. Simbol kepemilikan. Pasangan. Mate. Atau apapun itu.

Yixing mendekat untuk mengamati simbol rumit itu. " Ini... "

" Milik siapa? " tanya Chanyeol dengan suara pelan, meninggalkan Suho dalam kebingungan.

Yixing terdiam sejenak. " Ini... milik Pangeran Jongin... "

Suho yang hanya mendengarkan hanya terdiam, meski ia bukan seorang vampire tapi ia tau pasti terjadi sesuatu pada anaknya.

" Tidak mungkin. Simbol itu hanya bisa terbentuk, saat keduanya sama sama menginginkan. Dan Pangeran Jongin... apa dia mencintai putraku? "

" Tidak ada yang bisa menebak jalan pikiran Pangeran Jongin. Dia pangeran terkuat yang dimiliki kerajaan. " Sahut Yixing.

" Tanda? " tanya Suho.

" Ya, sayang, setiap vampire pasti akan menandai pasangannya sebagai tanda kepemilikan. Dan itu juga simbol kesetiaan. Bahwa tidak akan ada yang lain, selain pasangan kita sendiri. " Jelas Chanyeol.

" Tapi aku tidak mempunyai itu. " ucap Suho dengan suara lirih. " Apa kita bukan pasangan? "

Chanyeol tersenyum lembut. " Kau mempunyainya sayang, hanya saja karena kau seorang manusia, tanda itu tidak terlihat. "

" Jadi Baekhyun punya? "

Chanyeol menggeleng. " Aku tidak mencintainya, karena itu ia tidak memilikinya. "

" Apakah kalau aku juga vampire sepertimu, tanda itu akan muncul? " tanya Suho lirih.

Chanyeol hanya mengangguk sebagai jawaban. Perhatiannya teralih pada tubuh kaku Sehun. " Apa itu tidak berhasil? " tanyanya entah ditujukan pada siapa.

" Entahlah, kita akan menunggu hingga matahari terbit. " Ucap Yixing.

Suho meletakkan tubuh mungil Taeoh yang tertidur pulas di samping Sehun.

" Tidurlah sayang, kau juga pasti lelah. " Bisik chanyeol.

" Tapi Sehun... "

" Tidurlah, kita akan pikirkan nanti saat hari sudah pagi. " Tegas Chanyeol.

Suho mengangguk, dan ia segera meringkuk di pangkuan Chanyeol. Begitupun dengan Yixing yang tengah bersandar di dinding goa, namja yang merupakan seorang tabib itu segera tertidur dengan pulas.

.

.

.

.

Jongin memejamkan matanya sejenak, merasakan bagaimana tubuh Luhan akhirnya sepenuhnya menghilang saat matahari mulai menampakkan sinarnya ke bumi.

" Chen- ya, tunggu sebentar disini. " Perintahnya.

" Tapi pangeran anda mau kemana? " tanya Chen dengan suara cemas.

Jongin hanya tersenyum. " Jangan kemana mana sampai aku kembali. " Perintahnya lagi sebelum menghilang dari hadapan Chen.

Sekejap kemudian Jongin muncul di dalam gua tempat Sehun berada. Setelah menghilangkan aura dan bau tubuhnya agar tidak membangunkan ketiga orang yang masih tertidur dengan pulas itu, Jongin melangkahkan kakinya menghampiri Sehun yang berbaring tepat di tengah tengah gua.

" Jadi kau yang memanggilku kemari... " Ucap Jongin. " My son. "

Taeoh hanya mengedipkan matanya.

Jongin menggulurkan tangannya dan mengusap pipi Sehun dengan lembut. Pipi itu perlahan menghangat dibawah telapak tangannya.

" Apa kau nakal, hingga ibumu harus tertidur seperti ini? "

Taeoh lagi lagi mengedipkan matanya.

Jongin melirik kearah pasangan Chanyeol dan Suho lalu beralih pada Yixing. " Aku tak tau apa hubungan ayah Luhan dengan semua ini, tapi sepertinya dia yang membantu ibumu hingga berada disini. " Gumam Jongin.

" Sehuna, jika kau mencintaiku cepatlah bangun. Maaf, selama ini tidak berada di dekatmu. "

Jongin membungkuk dan mengecup kening Sehun dengan lembut. Ia melirik kearah simbol di pundak Sehun, simbol yang sama dengan yang ada di pundaknya.

" Jongin... " suara lirih itu menyadarkan Jongin dari lamunan sekejabnya.

" Sehun. "

Perlahan, Sehun bangun dari posisi berbaringnya. Namja cantik itu terlihat bingung, sebelum menatap bayi yang berbaring dengan tenang di sampingnya. " Ini... "

" itu anak kita... " ucap Jongin dengan suara tenang.

" Kau mengetahuinya? " tanya Sehun kaget.

Jongin tersenyum tipis. " Apa kau percaya kalau dia sendiri yang mengatakan padaku tentang ini semua. Dia masuk kedalam mimpiku tadi malam. Dan menceritakan semua tentangmu padaku. Karena itulah aku berada disini sekarang. "

Sehun terdiam. Tentu saja ia percaya. Bukankah anaknya juga seorang vampire. Ngomong ngomong tentang vampire dan bayi. Bukankah ia sudah mati sekarang ?

Jongin memperhatikan Sehun yang tampak sibuk memeriksa tubuhnya sendiri. " Kau masih hidup Sehuna, kalau kau mati, maka aku pasti juga mati, karena tubuh kita sudah terikat satu sama lain. "

" Tapi, bagaimana mungkin... "

" Taeoh memanfaatkan darahku yang ada di dalam tubuhmu, untuk menarik kembali jiwamu yang sempat pergi. "

" Apa aku seorang vampire sekarang? " tanya Sehun dengan suara pelan.

" Kau masih half blood hingga detik ini. " Jawab Jongin.

Ia menatap kearah Sehun yang kini sedang menggendong Taeoh dengan kedua tangannya yang masih gemetar.

" Sehun, kau tau, ini hanya ada dalam ilusimu saja. Aku tak benar benar berada di tempat ini. "

Sehun terdiam.

" Taeoh tidak membiarkan aku berada di dekatmu, selama aku masih belum tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya padamu. "

Sehun menunduk. " Maaf, karena darahku kau harus terikat denganku. " Bisik Sehun.

Jongin menggelengkan kepalanya. " Bukan karena itu aku menjadi pasanganmu. Ini memang rumit dan aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu. Akan tetapi... maukah kau berjanji sesuatu padaku. "

" Apa itu? "

Jongin mengusap surai tipis Taeoh sesaat. " Ini mungkin saatnya untuk kita berpisah. Aku harus memperbaiki keadaan di istana yang agak kacau dan... aku juga harus meyakinkan perasaanku sendiri padamu. Sebelum aku yakin dengan perasaanku sendiri. Aku tak akan pernah muncul dihadapanmu dan juga anak kita. sampai saat itu tiba, maukah kau menungguku? "

Sehun kembali diam. " Tidak bisakah kau tetap disisiku? " tanyanya lirih.

Jongin menggeleng. " Maaf mengecewakanmu, tapi untuk sekarang, aku benar benar tak bisa. Aku sudah berjanji pada Taeoh, kalau aku hanya akan datang saat aku yakin bahwa aku mencintaimu. "

" Bagaimana kalau tidak? " tanya Sehun lagi.

" Maka kita tidak akan pernah bertemu lagi selamanya. " Jawab Jongin. " Sehuna, ini mungkin sangat berat untukmu. Tapi aku juga tak bisa memaksakan diriku untuk memberikan harapan palsu padamu. Karena itulah aku mau melakukan perjanjian dengan anak kita. bagaimanapun Taeoh pasti tidak mau kalau kita hanya bersatu karena kehadirannya. "

" Jongina... "

Jongin tersenyum sebelum menunduk dan mengecup kening Sehun dengan lembut. " Bersabarlah dan tunggulah aku... "

Bayangan Jongin perlahan menghilang, dan kemudian muncul lagi tepat di samping Chen yang masih setia menunggunya.

" kita kembali. "

" Tapi pangeran, kita belum menemukan Sehun. " protes Chen.

" Dia sudah berada di tempat yang aman kau tak perlu khawatir lagi. Ayo pergi. "

Ya, hanya untuk beberapa saat. Jongin yakin ia pasti bisa secepatnya berkumpul dengan anak dan juga pasangan jiwanya.

.

.

.

.

" Bagaimana dengan Sehun? " tanya Suho saat ia bersiap siap menggendong Taeoh.

Ya, saat ini ketiganya memutuskan untuk pergi dari goa itu dan menetap di sebuah desa terpencil di ujung hutan terlarang.

Chanyeol melirik kearah putra semata wayangnya yang tampak berbeda setelah ia bangun dari tidurnya tadi. " Kita akan membawanya. "

Yixing mendekat kearah Sehun dan memegang tangannya. Ia mengerutkan keningnya saat merasakan suhu tubuh Sehun yang kembali normal seperti semula. Begitupun detak jantungnya yang perlahan kembali terdengar ditelinganya. Sehun telah kembali. Half blood vampire satu satunya itu masih hidup.

" Detak jantungnya kembali. " Ucap Yixing dengan suara penuh kebahagiaan.

" Benarkah? " tanya Suho dengan mata penuh harap.

" Ya, aku bisa merasakan kehadirannya kembali. " Jawab Yixing.

Suho tersenyum kearah Taeoh yang menghisap jempolnya dengan ekspresi tenang. " Kau dengar itu sayang. Anakku hidup kembali, ibumu kembali cucuku. "

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Chapter terkacau yang pernah aku buat. Membuat cerita vampire itu ga semudah bayangan. perlu menggali ide yang lebih dalam dari pada sekedar bikin cerita romance. So, kalau merasa ide cerita ini pasaran. Aku mohon maaf ya.

Review lebih dua puluh lanjuttttt lagi