Lohaaa kali ini apdet kilat ya :v
kali ini juga review gak author bales dulu, mungkin di chapter depan :v
ohya, di chap kemaren ada yang bilang kalo chapternya agak pendek. Sebenernya jumlah wordnya sama kok sama chap-chap sebelumnya, tapi entah kenapa feelnya jadi kerasa agak pendek. Jadi chapter ini wordnya sedikit aku panjangin :D dari yang kemarinnya 4,2K+ jadi 5,5K :D dan karena itu author saranin jangan terlalu deket sama layar Hp atau PC :D
.
.
.
.
YOSH!
Happy Reading
Chapter 11: My Precious Gold
Pagi yang hangat di Magnolia.
Hiruk pikuk warga Magnolia yang tengah sibuk memulai harinya terlihat begitu jelas dari balik jendela kamar seorang gadis pirang dengan iris karamelnya yang bekilauan menggantikan Matahari yang tak muncul pagi itu.
Lucy tersenyum, sedetik kemudian matanya berbinar tak kala melihat butiran-butiran putih yang mulai berjatuhan dari langit Magnolia. Seketika senyuman dibibir indahnya itu bertambah lebar. Sajlu pertama di penghujung tahun ini telah turun. Tahun yang lama akan terganti dengan yang baru dan kenangan yang lama pun akan terganti pula dengan kenangan yang baru.
Meskipun tak semua kenangan dapat tergantikan, namun semua kenangan buruk yang telah terjadi di masa lalu sebaiknya memang harus dilupakan. Itulah yang Lucy pikirkan.
Sangat banyak hal yang dia lalui sepanjang tahun ini, semuanya terekam dengan jelas di otaknya. Hal yang menyenangkan, dan juga menyakitkan. Sangat banyak.
"Lucy.. apa kau masih belum siap?"
Suara lembut seorang wanita menginterupsi lamunannya.
"Sebentar lagi!"
Jawabnya kemudian terburu-buru merapikan rambutnya didepan cermin. Pakaiannnya terlihat begitu rapih, jaket bulu tebal berwarna biru muda lengkap dengan kaus kaki panjang dan sepatu boot-nya, tak lupa sebuah syal yang melingkar dilehernya itu membuatnya terlihat begitu cantik hari ini. ini adalah hari penentuan yang sangat penting baginya.
Cepat-cepat ia menyambar tasnya, kemudian menuruni anak tangga menuju meja makan dimana Sting dan Anna telah menunggunya.
"Yare-yare.. apa kau melamun lagi?" tanya Anna seraya meletakkan sepanci sup panas diatas meja.
Lucy tertawa ringan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil duduk di kursinya.
"Salju pertama pagi ini indah sekali. Aku jadi ingin menatapnya terus." Jawabnya.
"Salju? Jadi sudah turun ya?" tanya Sting dengan mulutnya yang penuh dengan sepotong roti.
Lucy hanya mengangguk.
"Lucy, kau sudah mempersiapkan dirimu kan? Hari ini kau akan mengikuti tes tertulis untuk masuk Universitas. Apapun itu aku tidak ingin kau gagal." Ujar Anna yang kini sibuk menghidangkan sarapan itu untuk Sting dan Lucy.
"Aku janji aku akan berhasil dalam ujian ini. Bibi jangan khawatir."
Lucy tersenyum. Namun setelah itu Lucy terlihat melamun.
Universitas yang ia masuki itu merupakan salah satu dari Universitas unggulan di Fiore yang terkenal dengan sistem pendidikan yang maju serta pengajar yang disiplin. Ia memang sudah berencana untuk berkuliah disana sejak dulu, tapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa Gray, Natsu, dan bahkan Lisanna juga mendaftar di Universitas yang sama.
Apakah ini sebuah ujian baru baginya?
Entahlah.. ia bahkan tidak yakin jika semua ini hanyalah kebetulan.
...
I Fated To Love You
...
Magnolia University
Para calon mahasiswa baru itu kini mulai memasuki gedung kampus, bersiap mengikuti tes tertulis yang diadakan hari ini.
"Nee-san. Jaga dirimu ya! Telfon aku jika kau sudah pulang nanti. Udaranya dingin jadi sebaiknya kau jangan terlalu lama berada dlura." Kata Sting sambil sedikit membenarkan syal Lucy.
"Iya aku tau itu dasar cerewet."
Lucy tertawa, kemudian berjalan meninggalkan Sting memasuki gedung besar dihadapannya itu. Sting tersenyum, kemudian kembali masuk kedalam mobilnya dan kembali pulang sebelum sang ibu memarahinya.
Lucy menatap sekelilingya, dalam sekejam kampus itu telah menjadi begitu ramai dipenuhi oleh para calon mahasiswa baru. Ada sangat banyak wajah yang belum pernah Lucy lihat disini. Ya, itu karena sangat banyak siswa dari SMA lain yang mendaftar disini.
"Natsu, memangnya setelah lulus tes kau ingin masuk fakultas apa?"
Lucy terdiam begitu mendengar suara seorang gadis yang tak asing lagi baginya itu. Itu seperti suara Lisanna.
Menutupi wajahnya dengan tas, perlahan Lucy berbalik menatap Lisanna dan Natsu yang kini berdiri tak jauh darinya. Syukurlah mereka berdua tidak melihatnya.
"Aku akan masuk jurusan bahasa inggris, uhhuk!" jawab Natsu yang kemudian terbatuk.
"Hee? Memangnya kau bisa bahasa inggris?"
Tanya Lisanna mengejek. Terlihat jelas kini raut wajah Natsu berubah kesal.
"Lisu, apa kau lupa aku pernah tinggal di Amerika selama tiga tahun?! Uhhuk!" Natsu terbatuk lagi.
Apa-apaan itu? apa dia sedang batuk? Dan lagi.. sebelumnya Natsu mengatakan bahwa ia pernah tinggal di Amerika selama tiga tahun? Kenapa Lucy tidak pernah tau hal itu? bahkan jika semua itu benar seharusnya Natsu sudah lancar berbahasa inggris. Lalu kenapa saat masih menjadi guru privatnya Natsu selalu susah untuk belajar bahasa inggris?
Ayolah Lucy. Itu semua hanya alasan Natsu untuk bisa berlama-lama denganmu!
"Natsu batukmu itu sangat mengganggu! Lakukan sesuatu tentang itu!" omel Lisanna yang merasa terganggu.
Natsu tak mendengarkan, sibuk mengutak-atik ponselnya sambil sedikit terbatuk.
Masih sibuk mengamati Natsu, kini bisa Lucy lihat Natsu tengah menempelkan ponselnya ke telinga.
"Ada apa menelfonku pagi-pagi begini?" – "Iya! Aku tau itu, uhhuk!" – "Aku bukan anak kecil, jangan marahi aku seperti itu!" – "Itu karena ayah yang selalu memanjakan aku sejak kecil. Aku jadi seperti ini semua itu salahmu, uhhuk uhhuk!"
Ayah? Apa Natsu sedang berbicara dengan ayahnya?
Lisanna kini menatap Natsu malas, sedetik kemudian berjalan meninggalkan Natsu disana.
"Lisu? Kau mau kemana?!" teriak Natsu, namun Lisanna tak menjawab dan masih terus berjalan.
Kesal, Natsu mematikan telfonnya.
"Kau tunggu saja disitu. Akan aku bawakan obat batuk untukmu!"
Jawab Lisanna membuat Natsu sweatdrop. Padahal hanya batuk biasa, tapi Lisanna terlihat sangat terganggu dengan itu. lalu bagaimana jika Natsu menderita sakit yang lebih parah?
Ia jadi ingat bagaimana Lucy merawatnya saat ia sakit beberapa hari sebelum upacara kelulusan mereka.
Ternyata benar, emas memang jauh lebih baik daripada perak. Kilaunya, bahkan kualitas dalam dirinya.
Disisi lain kini Lucy masih menutupi wajahnya dengan tas. Ia mengendap-ngendap, perlahan berjalan menjauh dari sana sebelum Natsu melihatnya.
Brukh!
Lucy menubruk seseorang.
"Maafkan aku.. aku-"
Kalimat Lucy terpotong begitu melihat siapa orang yang baru saja ia tabrak itu.
"Gray!" serunya.
"Selamat pagi, Lucy." Sapa Gray.
"P-pagi.." jawab Lucy tergagap, sambil sedikit melirik kearah Natsu.
"Kenapa kau terlihat sedang waspada begitu? Ada apa?"
Tanya Gray yang merasa aneh dengan gerak-gerik Lucy. Lucy tak menjawab, masih sibuk menatap Natsu yang kini tengah meneguk obat batuk yang baru saja dibawakan oleh Lisanna itu. Namun detik berikutnya Lucy kembali menatap Gray.
"T-tidak apa-apa. Aku hanya sedikit canggung. Disini sangat banyak orang yang tidak aku kenal.. selain itu aku juga takut jika tesnya gagal." jawab Lucy bohong.
Gray yang memang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi itu hanya mengangguk dengan bibirnya yang terbuka membentuk huruf 'O'.
"Lucy, berapa nomor tesmu?"
Gray kembali membuka pembicaraan. Sekedar mengisi waktu luang sebelum ujian dimulai.
"178" Jawab Lucy, menunjukkan kartu tesnya pada Gray.
Lagi-lagi Gray hanya ber-'oh' ria. Detik berikutnya saat saat ia baru saja akan berbicara sebuah pengumuman dari salah satu sumber suara di kampus itu terdengar.
"Tes akan dimulai dalam 30 menit. Untuk semua peserta, diharapkan untuk segera mencari ruangan sesuai dengan nomor tes masing-masing. Sekali lagi, tes akan dimulai dalam 30 menit. Untuk semua peserta, diharapkan untuk segera mencari ruangan sesuai dengan nomor tes masing-masing. Terima kasih."
Begitulah kira-kira isi pengumuman itu. Mendengarnya membuat semua peserta tes yang berada disana kini langsung berhamburan mencari ruangan mereka masing-masing. Termasuk Gray yang menggandeng tangan Lucy untuk mencari ruangan mereka bersama-sama.
...
I Fated To Love You
...
Terlihat kini Lucy mondar-mandir di koridor kampus dengan tangannya yang masih setia memegangi kartu tesnya. Ia terlihat bingung, entah tidak ada, atau memang ia yang tak fokus membaca nomor-nomor yang tertulis disetiap pintu ruangan. Gray sudah menemukan ruangannya sejak tadi sementara ia belum. Bukan hanya dia, masih banyak peserta tes yang berkeliaran mencari ruangannya.
Lucy menghela nafas. Nomor peserta yang ada dalam satu ruangan tidak diatur secara berurutan. Semuanya diacak secara rata dan itu benar-benar membuat Lucy harus benar-benar teliti mencari nomornya.
Ini adalah ruangan ke 19 dan Lucy masih terus mencari. Diantara kerumunan peserta yang ada didepan ruangan itu Lucy kembali mencocokkan nomornya.
Bingo!
Betapa senangnya ia saat menemukan tiga digit angka bertuliskan "178" itu disana. Tanpa tunggu lagi, Lucy segera masuk ke ruangan itu.
Ia mengedarkan pandangannya, mencari-cari tempat duduk yang pas untuknya. Namun seolah kehabisan pelumas, bola matanya itu mendadak berhenti bergerak. Terpaku pada seorang laki-laki berambut dusty pink dengan syal putih kotak-kotaknya yang kini duduk di bangku nomor tiga tepat didekat jendela ruangan itu. Natsu.
Apa ia salah lihat? Tidak. Itu memang Natsu.
Terlihat kini Natsu menatapnya. Namun tak seperti yang ia duga, Natsu kini menatapnya dengan tatapan biasa saja. Bukan tatapan malas dan penuh benci seperti waktu itu. Sedetik kemudian Lucy bisa melihat Natsu tersenyum tipis kearahnya.
Seketika Lucy merinding, wajahnya memerah, jantungnya berdegup sangat cepat dan keringat dingin bercucuran. Natsu tersenyum padanya? Apa yang terjadi? Apa Lisanna salah memberinya obat?
Belum sempat menghilangkan rasa terkejutnya itu, kini pengawas tes sudah memasuki ruangan. Cepat-cepat Lucy duduk dikursi paling belakang di deret ketiga. Dari sana Lucy bisa melihat Natsu dengan jelas.
Tak lama setelah mengecek jumlah peserta dan memberitahu peraturan tesnya. Pengawas tersebut langsung membagikan soal tes dan tes pun dimulai.
Awalnya Lucy merasa sangat gugup, namun setelah membacanya ternyata soal itu cukup mudah. Jika hanya soal seperti ini, dengan kemampuannya saat ini bahkan Natsu pasti bisa menjawabnya. Lucy memulai pekerjaannya. Menggoreskan ujung pulpen pada lembar jawaban dengan begitu lincah tanpa kendala sedikitpun.
..
Tak terasa 40 menit telah berlalu dan Lucy pun telah selesai dengan soal-soal itu. Ia bahkan sangat percaya diri bahwa dirinya pasti akan lulus dalam tes ini. Lalu bagaimana dengan Natsu?
Diliriknya Natsu yang berada tak jauh darinya itu. Ia tak terlihat gugup ataupun kebingungan. Sepertinya Natsu benar-benar menguasai materi dalam soal tersebut.
Lucy tersenyum, cukup lama memandangi punggung tegap Natsu itu. Namun lama-kelamaan Lucy menyadari ada sesuatu yang janggal. Natsu memang terlihat tenang, tapi bukankah ini aneh? Natsu tak bergerak sedikitpun.
Jangan bilang.. dia tertdiur?!
'Dasar bodoh! bagaimana bisa kau tertidur disaat seperti ini Natsu Dragneel!' teriak Lucy dalam hatinya. Sungguh, ia ingin sekali melemparkan benda apa saja untuk membangunkan Natsu. Tapi mustahil, ini ujian!
"Perhatian. Sisa waktu tinggal 3 menit lagi!"
Suara pengawas yang cukup tegas itu membuat semua peserta yang belum selesai buru-buru menyelesaikan soalnya.
Jangan lupakan Natsu yang kini terbangun akibat suara pengawas itu dan Lucy yang kini hampir berjingkrak ditempatnya. Ia pikir Natsu tidak akan bangun sampai tes selesai.
Natsu kini mulai kembali mengerjakan soalnya. Melihat itu membuat Lucy bernafas lega.
'haah.. apa yang sebenarnya dia pikirkan?' batin Lucy.
Pikirannya terus bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan 'mengapa Natsu bisa tertidur?'. Kemungkinan demi kemungkinan ia pikirkan, mencoba menghubungkannya agar masuk akal. Detik berikutnya matanya melebar begitu tersadar akan satu hal.
Pagi ini, sebelum ujian dimulai ia melihat Natsu meminum obat batuk yang Lisanna berikan. Beberapa obat memiliki efek samping membuat seseorang mengantuk bukan? jika dugaan Lucy benar maka penyebab semua ini adalah obat batuk itu. Bukan, tapi Lisanna. Ya, Lucy harus menemui gadis perak itu setelah ini.
.
.
.
I Fated To Love You
.
.
.
Tes telah berakhir 10 menit yang lalu dan para peserta kini telah membubarkan diri keluar ruangan, menunggu pengumuman selanjutnya.
Terlihat Lisanna kini terlihat berjalan menuruni tangga dengan santai. Tersenyum senang membayangkan apa yang sudah terjadi pada Natsu saat tes tadi. Ia tidak menyangka bisa mempermainkan Natsu hanya dengan sebuah obat batuk.
"Tunggu!"
Terkejut, Lisanna berbalik saat seseorang tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya dengan keras, dan menghentikan langkahnya.
"Lucy? Apa yang kau lakukan? lepaskan!" bentaknya.
"Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku!" jawab Lucy tegas, dengan tatapan tajamnya.
Lisanna menghela nafas, balas menatap Lucy dengan malas.
"Apa yang ingin kau tanyakan? Natsu sudah menungguku jadi cepat katakan!" ujarnya ketus.
"Obat apa yang tadi kau berikan pada Natsu?"
Lucy semakin mengeratkan genggamannya pada Lisanna, membuat Lisanna kini meringis karena pergelangan tangannya yang terasa sakit.
"Tidak perlu memegang tanganku sampai sekeras itu!"
Ditepisnya tangan Lucy dengan kasar, detik berikutnya Lisanna merogoh tasnya, mengambil botol obat batuk yang tadi ia berikan pada Natsu dan menunjukkannya pada Lucy.
Lucy menyambar botol tersebut, kemudian membaca semua tulisan yang tertera disana. Dugaanya benar. Obat ini adalah penyebabnya. Natsu tertidur saat tes karen obat ini.
"Lisanna. Kau bisa membacanya bukan?! Efek samping dari obat ini bisa membuat seseorang mengantuk dan kau masih tetap memberikannya pada Natsu?!" Kata Lucy, tidak percaya dengan apa yang Lisanna Lakukan pada kekasihnya sendiri.
"Lalu kenapa?" tanya Lisanna dengan santainya membuat Lucy naik pitam.
"Kau! Apa kau tidak tau jika Natsu tertidur selama ujian karena obat ini?! bagaimana jika dia gagal dalam tes ini?!"
"..."
"..."
Lisanna tertawa sarkastik, kemudian kembali merampas botol tersebut.
"Efek samping dari obat ini tidak bekerja secepat itu, Lucy. Karena itu aku menambahkan beberapa butir obat tidur di dalamnya. Bukankah aku ini cerdik?" katanya, masih dengan nada yang begitu santai.
"Kau?!"
Lucy mengangkat tangannya, berniat menampar Lisanna. Namun ia urungkan niatnya itu. Ia tidak boleh melampiaskan emosinya ditempat seperti ini. ia-harus-sabar.
"Lisanna.. apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?!"
Nada bicara Lucy melemah, ia tidak ingin emosinya kembali naik.
"Tentu saja aku sadar. Kau pikir aku masih tertidur? Sudah ku katakan.. aku hanya ingin mempermainkan Natsu. Apa kau lupa?"
Perktaan Lisanna itu benar-benar diluar dugaan. Lucy yang tadinya tengah berusaha untuk sabar itu malah kembali emosi, tak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan gadis dihadapannya ini.
"Kau.. apa kau tidak tau bahwa Natsu benar-benar mencintaimu?! Hentikan ini! hentikan semua permainan ini Lisanna. Kenapa kau tega melakukan semua ini padanya? Kumohon mengertilah.."
"Diam kau!"
Lucy tersentak, saat Lisanna kini menunjuk wajahnya dan menatapnya dengan tajam.
"Kau yang tidak mengerti dengan semua ini. Selama ini Natsu sudah mempermainkanku! Dia menyembunyikan semua itu dariku dan kau menyuruhku untuk menghentikan semua ini?! Apa kau gila?! Tidak. Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikanku!"
Bentak Lisanna kasar, masih menujuk wajah Lucy. Lucy hendak menjawab namun langsung kembali bungkam saat Natsu datang menghampiri Lisanna.
"Kau disini rupanya. Aku menunggumu sejak tadi."
Omel Natsu dengan wajah kusutnya. Lisanna hanya tertawa, kemudian menggandeng tangan Natsu dengan manja.
"Maafkan aku, aku tersesat tadi. Kau jangan marah ya!"
"Hng.."
"Natsu ayolah.. kau janji akan mengajakku ke fast food resto hari ini kan?"
"Hng.."
"Natsu kau marah padaku?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau seperti itu?"
Lucy hanya terdiam. Menatap keduanya yang semakin menjauh itu.
Percuma. Ia sudah memutuskan untuk membuat Lisanna menyadari bahwa Natsu mencintainya. Tapi semua usahanya itu sia-sia. Bukannya mendengarkannya Lisanna malah membentaknya. Jika begini terus lama-kelamaan Natsu hanya akan menjadi mainan Lisanna. Bagaimana jika Lisanna melakukan hal yang lebih buruk lagi?
.
"Natsu.. apa yang akan kau lakukan saat kau mengetahui kebenaran dari Lisanna? Akankah kau berpaling padaku?"
.
.
.
I Fated To Love You
.
.
.
Eucliffe Family's House
06:45 pm
Seminggu telah berlalu sejak tes itu. Hasil tes telah diumumkan dan hasilnya cukup memuaskan bagi Lucy.
Namun satu hal yang ia takutkan sejak tes itu juga terjadi.
Natsu gagal.
Dia benar-benar tertidur sepanjang tes berlangsung dan hanya menjawab dua dari sekian banyak soal yang ada.
Yang aneh adalah, sesaat setelah pengumuman hasil tes itu Natsu terlihat biasa saja. Sama sekali tak ada raut wajah sedih dan kecewa yang terlihat darinya. Apa dia menyembunyikannya? Atau memang merasa biasa saja? Lalu bagaimana dengan kuliahnya? Memikirkannya malah membuat Lucy pusing.
"Aku harus mengumpulkan berkas untuk masuk fakultas besok, apalagi yang kurang ya?"
Gumam Lucy, kemudian mondar-mandir di kamarnya mencoba memastikan dokumen apa yang belum ia masukkan kedalam map-nya.
"Lucy, Gray mencarimu.."
Lucy berhenti. Segera ia berlari menuruni tangga menuju ruang tamu begitu mendengar suara Anna.
"Kau masih belum siap-siap?" Heran Gray, melihat Lucy yang masih memakai pakaian rumah itu.
Seketika Lucy langsung menepuk jidatnya sendiri. Ia lupa bahwa dia sudah membuat janji dengan Gray untuk hari ini.
"A-aa.. maafkan aku. Kau tunggu disini ya! Aku akan segera bersiap-siap. Hanya 10 menit!"
Katanya, kemudian berlari secepat kilat menuju kamarnya, bersiap-siap dengan cepat tak ingin membuat Gray menunggu lebih lama lagi.
...
...
Di dalam mobil Gray, mereka berdua kini tengah berbincang-bincang, masih belum menemukan tempat tujuan.
"Kau masih ingat kan? Seminggu yang lalu aku memintamu untuk menjadi modelku?" tanya Gray, pada Lucy yang kini tengah mengeratkan syalnya.
Lucy tak menjawab, hanya mengangguk sambil menatap butiran salju yang kembali turun dari balik jendela mobil.
"Aku cukup terkejut dengan syarat masuk fakultas seni yang kau bilang itu." Lucy tersenyum.
"Yah, mereka mengharuskan untuk menyertakan foto dari karya seni yang kita buat sesuai dengan minat dan bakat masing-masing." Balas Gray yang kini ikut tersenyum.
"Ya, bukankah hobimu fotografi? Dan karena itu kau memintaku untuk menjadi modelmu.."
"Itu benar. Maaf ya, aku malah jadi merepotkanmu."
"Tidak apa-apa kok. Jadi sekarang kita akan kemana?" tanya Lucy.
Namun Gray tak menjawab, masih fokus dengan jalanan bersalju didepannya.
Hening, tak ada yang membuka pembicaraan hingga mereka pun sampai di tempat tujuan.
-I Fated To Love You—
.
"..."
"..."
"L-Love Hotel?!"
Kaget Lucy begitu mereka berhenti tepat disebuah bangunan besar bertuliskan "Love Hotel". Apa maksudnya ini? Bukannya ia meminta Lucy untuk menjadi modelnya?! Kenapa Gray membawanya kesini?
"Maaf. Kau pasti sangat terkejut."
Lucy masih terdiam, mematung menatap bagunan dihadapannya itu. Seumur hidupnya sekalipun Lucy bahkan tak pernah membayangkan bahwa ia akan menginjakkan kakinya ketempat ini. Kenapa harus kesini?
"T-tapi ke-kenapa harus disini?!"
Tanya Lucy terbata-bata. Sekeras apapun ia berusaha menjernihkan pikirannya tetap saja otaknya itu berhenti bekerja saat melihat bangunan bertuliskan "Love Hotel" didepannya ini.
"Jangan salah paham dulu, Lucy. Aku akan menjelaskannya." Kata Gray sebelum Lucy salah mengartikan maksudnya itu.
Lucy mengangguk-angguk, masih shock sambil sesekali mengelap keringat dingin yang mengalir dari dahinya itu dengan syalnya.
"Awalnya aku ingin membawamu ke apartemenku. Tapi aku yakin security tidak akan mengijinkan kita masuk. Terlebih.. pasti akan sangat memalukan jika seseorang yang melihat menyebarkan gosip miring."
Benarkah itu? Tapi tidak ada yang terjadi saat ia dan Natsu tinggal dalam satu apartemen? Security maupun orang-orang yang tinggal di apartemen itu terlihat baik-baik saja dengan mereka berdua.
Lucy sibuk dengan pikirannya sendiri.
"B-bagaimana kalau kita mengambil foto outdoor saja. D-di taman, atau didekat sungai.. misalnya." Lagi-lagi Lucy tergagap.
"Pencahayaan diluar pada malam hari tidak terlalu bagus untuk berfoto. Jika kau percaya, sebenarnya aku ingin membawamu ke hotel biasa. Tapi aku yakin mereka tidak akan mengizinkan pasangan yang belum menikah untuk masuk. Aku tidak tau harus kemana lagi jadi aku membawamu kesini. Lucy.. sekali lagi maafkan aku."
Jelas Gray, sedetik kemudian membungkukkan badannya pada Lucy membuat Lucy tertegun. Ia merasa bersalah karena sempat meragukannya. Ia tidak menyangka Gray sampai membungkukkan badannya seperti ini. Akan sangat keterlaluan jika Lucy masih meragukannya.
"Tapi jika kau tidak mau aku tidak akan-"
"Tidak apa-apa kok."
Gray menatap Lucy, memastikan apakah Lucy benar-benar tidak keberatan dengan itu. Sementara itu kini bisa ia lihat kini Lucy tersenyum.
"Aku serius ingin membantumu. Lagipula berkas itu sudah harus dikumpul besok bukan? aku tidak ingin kau gagal untuk masuk fakultas seni." Jawab Lucy.
Dengan itu pun Gray balas tersenyum, kemudian mengajak Lucy masuk tak lupa membawa sebuah tas yang didalamnya terdapat kamera itu.
'kena kau'
.
.
.
Mereka kini berada didalam sebuah kamar bernomor 103 di hotel tersebut.
Lucy menatap sekeliling, merasa merinding dengan atmosfer aneh disekitarnya. Kamar ini benar-benar terlihat menjijikan baginya. Sebuah kasur busa dengan seprai berwarna merah, kamar mandi yang hanya dibatasi oleh kaca, dan aroma parfum yang aneh.
Tunggu dulu.
Sebelumnya Gray mengatakan "pencahayaan diluar ruangan pada malam hari tidak terlalu bagus untuk berfoto." Karena itu ia mengajaknya untuk mengambil foto dengan pencahayaan lebih bagus didalam ruangan.
Lalu apa bedanya mengambil foto diluar dengan mengambil foto di kamar ini? Ini aneh. Tidak ada yang bagus dari pencahayaan dikamar ini. yang ada hanyalah beberapa lampu berwarna-warni yang terlihat remang-remang.
Selain itu.. ada yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
Jika mereka mengambil foto dikamar ini dengan Lucy sebagai modelnya dan mengumpulkan foto itu bersama berkas-berkas Gray besok, apa yang akan pihak universitas katakan saat melihat latar belakang foto itu? Pantaskah seorang mahasiswa melampirkan fotonya yang tengah berada didalam kamar sebuah hotel cinta seperti ini?
Lalu bagaimana pendapat yang lain? Lucy bisa saja dihina dan dipermalukan jika sampai orang lain melihat foto itu.
Tidak. Lucy harus membujuk Gray untuk mengambil foto ditempat lain. Dimana saja, asal jangan ditempat terkutuk ini.
"Gray.."
Lucy mengurungkan niatnya untuk berbicara, saat dengan matanya sendiri ia melihat Gray yang kini tengah menyeringai menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Apa maksud tatapan itu? Apa maksud seringaian itu?
Gray berdiri dari duduknya. Selangkah demi selangkah mendekati Lucy sambil melepaskan kancing kemejanya satu-persatu.
Lucy tak bisa berpikir jernih. Otaknya berhenti bekerja dan rasa takut kini menyelimutinya. Ia melangkah mundur seiring dengan Gray yang semakin mendekat kearahnya.
Apa maksud dari semua ini? Apa yang akan Gray lakukan?!
Tidak!
Lucy tak bisa membuang waktunya hanya untuk berpikir. Dengan cepat ia berbalik. Berlari kearah pintu berusaha keluar dari kamar itu.
Namun sial, Gray telah mengunci rapat pintu kamar itu, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Lucy tak tinggal diam. Dengan sekuat tenaga berusaha mendobrak pintu tersebut. Tapi semua itu sia-sia. Lucy hanya seorang wanita lemah.
"Kenapa? Kau ingin lari huh?"
Lucy tak mempedulikan omogan Gray, terus berusaha mendobrak pintu itu sambil memikirkan cara lain untuk lari.
"Lucy.. aku tidak menyeretmu masuk kesini. Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau kau ingin membantuku?"
Gray kini tepat berada didepan Lucy. Membelai poninya dengan tatapan seduktif, detik berikutnya ia mencengkram tangan Lucy dan menyertenya dengan kasar. Mendorongnya keatas ranjang kemudian menindih tubuhnya.
"Kau sendiri yang melangkahkan kakimu kesini!"
Ditahannya kedua tangan Lucy diatas kepalanya dengan satu tangan. Gray kini mulai mendekatkan wajahnya berusaha meraih bibir Lucy. Namun Lucy tidak sebodoh itu. Ia terus memalingkan wajahnya dan terus menghindar, memejamkan matanya yang kini mulai berkaca. Apa ini? Apa yang terjadi?
"Kau benar-benar keras kepala ya."
Tangan Gray yang satunya perlahan melepaskan kancing jaket Lucy satu persatu membuat Lucy terbelalak dengan airmata yang kini tengah mengalir dari sudut matanya.
"Apa yang kau lakukan Gray?! Hentikan! Aku mohon!" tangisnya.
Seolah tuli, Gray tetap melanjutkan kegiatannya itu tak peduli dengan tangisan Lucy yang kini pecah. Lucy terus memberontak berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Gray namun sia-sia.
"Gray.. hiks.. aku mohon.."
Gray tetap tak peduli.
"Kau pernah bilang jika kau mencintaiku bukan? jika kau mencintaiku maka hentikan ini. Aku akan melakukan apapun.. apapun asalkan kau menghentikan semua ini Gray.. aku mohon!"
Seketika gerakan tangan Gray berhenti. Kini ia menatap Lucy yang masih menangis dengan tatapan iba. Namun setelah itu Gray kembali menyeringai, didetik berikutnya tertawa keras.
Melihatnya membuat Lucy menghentikan tangisannya. Lagi-lagi ia tak mengerti dengan apa yang Gray lakukan.
"'Mencintaimu' kau bilang? Hhahahah!"
Gray kembali tertawa.
"Kau bodoh. Sangat bodoh, Lucy Heartfilia! Kau tidak pernah bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Kau selalu salah dalam langkahmu. Sudah kuduga sejak awal kau hanyalah gadis culun yang tidak pernah tau bahwa sejak lahir kau terlahir sebagai sampah!"
"Apa kau benar-benar tidak menyadari bahwa aku hanya ingin mempermainkanmu sejak awal?" lanjutnya.
Lucy terbelalak. Ia tak percaya dengan apa yang Gray katakan barusan. Apakah yang sedang berhadapan dengannya ini benar-benar Gray? Kemana Gray yang ia kenal itu?
"Kenapa kau berubah Gray?! Kenapa kau jadi seperti ini?!" ia kembali menangis. Membuat Gray pun kembali tertawa.
"Berubah? Kau salah besar sayang.. ini adalah aku yang sebenarnya! Tidak ada yang berubah dariku!"
"Jadi selama ini.."
"Apa aku harus mengulanginya?! Aku hanya ingin mempermainkanmu! Aku ingin kau hancur! Apa kau tau? Saat itu aku sudah benar-benar jatuh cinta padamu. Tapi kenapa kau malah mencintai Natsu sialan itu hah?"
Lucy terkejut, inikah alasan Gray mempermainkan dan ingin menghancurkannya?
"Kau tidak bisa melakukan apapun saat ini. Sekarang diam. Dan biarkan aku menghancurkan harga dirimu seperti yang ku mau!"
Gray kembali mendekatkan wajahnya, masih berusaha mendapatkan bibir Lucy. Namun karena Lucy yang terus memberontak, kini Gray berlalih menuju lehernya, sambil masih berusaha melepaskan pakaian Lucy.
"Tidak.. hentikan.. hentikan!"
"HENTIKAN ITU BRENGSEK!"
DUAGH!
BRAAK!
Lucy terkejut saat dengan tiba-tiba seseorang memukul Gray hingga terlempar menabrak meja yang ada disamping ranjang itu dengan begitu keras.
Ini tidak mungkin. Apa dia sedang bermimpi? Pahlawan macam apa yang datang menyelamatkannya disaat seperti ini?
Ia bangkit, membenarkan dan membenarkan pakaiannya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa orang yang baru saja memukul Gray itu.
"Natsu.."
Gumamnya sambil berlinang air mata. Segera, ia berlari kearah Natsu dan memeluknya dengan begitu erat. Jika saja Natsu tidak datang.. maka sedikit lagi.. sedikit lagi harga dirinya itu akan hancur ditangan Gray.
"Natsu.. aku takut.. hiks.. aku takut sekali.."
Tangisnya.
Natsu balas memeluk Lucy, mendekapnya dengan begitu erat berusaha menenangkan Lucy yang masih menangis.
"Kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?" Natsu menatap Lucy, mengelus rambutnya dan memastikan apakah Lucy baik-baik saja.
Lucy mengangguk, detik berikutnya kembali memeluk Natsu, mengusir semua rasa takut dan kepanikannya itu.
Natsu melepaskan dekapannya, kemudian berjalan mendekati Gray yang kini tengah merintih menahan sakit disekujur tubuhnya.
Ditariknya kerah baju Gray dengan kasar. Dengan penuh emosi kembali menghajar Gray tanpa ampun. Gray yang masih kesakitan itu tidak dapat melakukan apapun.
BUAGH!
Satu tinjuan akhirnya berhasil ia berikan pada Natsu, namun dengan cepat, Natsu membalas pukulan itu berkali-kali lipat membuat Gray benar-benar tak bisa berkutik.
Lucy yang melihat itu menutup mulutnya. Ini benar-benar jauh berbeda dengan saat Erigor menculiknya. Saat ini yang ia lihat adalah Natsu yang benar-benar mengamuk. Tapi ia rasa ini sudah cukup. Jika Natsu tetap melanjutkannya maka nyawa Gray bisa terancam.
"Natsu.. sudah cukup. Aku mohon hentikan."
Ajaib, kalimatnya itu langsung menghentikan Natsu.
Namun tak sampai disitu, Natsu kini menatap Gray dengan tatapan membunuhnya.
"Aku sudah pernah mengatakan ini padamu. Jika kau seenaknya memperlakukan Lucy seperti barang. Maka aku tidak akan segan untuk membuatmu menjadi barang rongsokan yang lebih buruk dari sampah manapun didunia ini."
"Dengar.. untuk yang terakhir kalinya kuperingatkan padamu.. jangan coba-coba mengganggu Lucy lagi atau bahkan menyebutkan namanya dengan mulut busukmu itu! Jika tidak.. aku pastikan bahwa Gray Fullbuster hanya akan menjadi sebuah nama tanpa pemilik."
BUAGH!
Natsu memukulnya lagi, kemudian membantingnya ke tembok dengan kasar.
"Natsu sudah hentikan.."
Lucy memegang lengan Natsu, kemudian mengajaknya keluar dari gedung terkutuk itu secepatnya. Ia tidak ingin berada disini dan melihat wajah Gray lebih lama lagi. Ia muak. Ia benci dengan semua ini.
Sementara itu, kini Gray hanya bisa terduduk lemah dilantai merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya itu. Ia sama sekali tidak mendunga rencananya itu gagal. Ia bahkan tidak mengira bahwa Natsu akan datang dan menghajarnya seperti ini.
"Sial. Sial. Sial!"
...
I Fated To Love You
...
Didalam mobil Natsu, keduanya kini saling memeluk satu sama lain, meluapkan semua kekhawatiran dan kepanikan mereka sejak tadi.
Syukurlah.. meskipun sedikit terlambat Natsu masih sempat datang menolong Lucy. Jika tidak..
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika tidak ada kau.." lagi-lagi Lucy menangis.
"Sekarang sudah tidak apa-apa.."
Natsu mengelus helaian pirang Lucy sayang, kemudian tanpa sadar mengecup dahinya lembut membuat Lucy sedikit terkejut. Namun detik berikutnya Lucy tersenyum.
"Tapi bagaimana bisa?"
Lucy menghapus airmatanya.
"Itu.. sebenarnya aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Gray yang memintamu untuk menjadi modelnya. Aku mencurigainya.. jadi aku mengikutimu hari ini." jelasnya.
"K-kau mengikutiku?"
"Ya.."
FLASHBACK
Natsu terlihat was-was, memacu jaguar merahnya dengan kecepatan sedang berusaha membuntuti verrari hitam milik Gray itu. Ia masih ingat dengan apa yang ia dengar dari percakapan mereka di kampus seminggu yang lalu.
Gray meminta Lucy menjadi modelnya.
Entah kenapa dengan mengetahui sifat asli Gray membuatnya memiliki firasat buruk. Jadi ia memutuskan untuk mengikuti mereka.
Natsu terbelalak tak percaya begitu melihat mereka berdua berhenti tepat didepan sebuah Love Hotel. Apa yang si brengsek itu rencanakan?
Tak bisa tinggal diam, Natsu menepikan mobilnya. Berjalan perlahan-lahan mencari tempat terdekat yang paling pas untuk menguping pembicaraan mereka.
Dari tempat persembunyiannya itu ia bisa melihat Lucy yang kini terlihat sedikit takut sambil menatap gedung hotel didepannya.
Dan.. apa ini? Natsu bisa melihat dengan jelas bahwa Gray sedang menyeringai tanpa Lucy ketahui.
Ini buruk. Gray pasti sudah merencanakan sesuatu.
Natsu kini memasang telinganya baik-baik.
"Jangan salah paham dulu, Lucy. Aku akan menjelaskannya."
'Bohong.'
"Awalnya aku ingin membawaku ke apartemenku. Tapi aku yakin security tidak akan mengijinkan kita masuk. Terlebih.. pasti akan sangat memalukan jika seseorang yang melihat menyebarkan gosip miring."
'Luce itu bohong!'
"Pencahayaan diluar pada malam hari tidak terlalu bagus untuk berfoto. Jika kau percaya, sebenarnya aku ingin membawamu ke hotel biasa. Tapi aku yakin mereka tidak akan mengizinkan pasangan yang belum menikah untuk kesana. Aku tidak tau harus kemana lagi jadi aku membawamu kesini. Lucy.. sekali lagi maafkan aku."
'Tidak. Aku mohon jangan mempercayainya!'
"Tapi jika kau tidak mau aku tidak akan-"
"Tidak apa-apa kok."
'Tidak boleh..'
Natsu berlari kearah mereka.
"Aku serius ingin membantumu. Lagipula berkas itu sudah harus dikumpul besok bukan? aku tidak ingin kau gagal untuk masuk fakultas seni."
'Tidak boleh!'
Semakin dekat, namun mereka berdua sudah lebih dulu masuk kesana.
FLASHBACK END
..
"Aku lalu masuk kesana dan mengawasimu dari luar ruangan. Kau tau.. begitu mendengar teriakanmu tubuhku bergerak sendirinya dan mendobrak pintu itu. Entah bagaimana aku berhasil mendobraknya dan sekarang badanku rasanya sakit."
Jelas Natsu membuat Lucy tertawa. Namun ia kembali terdiam setelahnya.
"Tapi Natsu.. kenapa kau menolongku?"
"Hmm?" Natsu bingung dengan perkataan Lucy.
"Bukankah yang kau cintai itu Lisanna.. seharusnya kau tidak perlu memperdulikanku.."
Lucy menunduk, sementara Natsu hanya terdiam menatapnya.
Cup!
Lucy terbelalak, saat dengan tiba-tiba Natsu menciumnya dan melubat bibirnya dengan begitu lembut.
Selang beberapa detik ciuman itu terlepas.
"Aku hanya mencintaimu.."
Katanya dengan suara maskulinnya, menatap Lucy dengan begitu dalam membuat wajah Lucy memerah dan jantungnya berdegup kencang.
"L-lalu.. bagaimana dengan Lissana?" tanya Lucy.
"Kau tidak usah memikirkannya."
"Apa maksudmu..?" Lucy semakin tidak mengerti.
"Kau.. hanya boleh memikirkanku saja. Hanya aku.."
"Luce.. katakan padaku. Katakan padaku apa yang sebenarnya kau rasakan.." lanjut Natsu, mengelus pipi Lucy dengan lembut.
Deg..
Deg..
Deg..
Mendengarnya membuat jantung Lucy berdegup seratus kali lebih cepat dari yang tadi. Apa maksud Natsu adalah.. ia harus mengakui perasaannya pada Natsu sekarang?
Tidak.. Lucy terlalu gugup dan salah tingkah untuk mengatakannya. Memikirkannya saja sudah membuatnya ingin mati sekarang.
"Ayolah Luce, aku menunggumu.."
Deg..
Deg..
Deg..
Oh ya tuhan, Lucy merasa jantungnya akan copot sekarang!
Tidak. Ia harus berani atau tidak akan ada lagi kesempatan untuk mengatakannya.
Dengan susah payah, Lucy akhirnya mulai menggerakkan lidahnya, berusaha mengucapkan dua kata yang benar-benar sudah ia simpan rapat selema ini.
"Natsu.. aku.."
"Aku.."
Natsu senyum-senyum sendiri, tak sabar menunggu apa yang akan Lucy katakan itu.
"Aku malu untuk mengatakannya!"
. . . .
Blank~~
Senyum diwajah Natsu langsung hilang begitu mendengar pernyataan Lucy barusan.
"Lupakan, aku akan mengantarmu." Ujarnya dingin kemudian menyalakan mesin mobilnya dan mengantar Lucy untuk pulang.
Dalam perlajanan itu mereka hanya saling terdiam. Lucy sibuk menatap salju, sambil masih memikirkan cara untuk mengatakan itu pada Natsu. Dan tanpa sadar.. ia tertidur.
...
...
"Kita sudah sampai."
Ujar Natsu, pada Lucy yang kini diam tak menjawab. Natsu menoleh, tersenyum mendapati Lucy yang tengah tertidur. Ditatapnya wajah Lucy denga seksama. Dia begitu cantik.. tak ada yang berubah darinya sejak pertama kali mereka bertemu.
"Kau manis seperti biasanya."
Natsu tak kuasa menahan dirinya, kini ia kembali mencium bibir Lucy dengan lembut, takut-takut ketahuan tengah mencuri ciumannya.
Mendadak Lucy membuka matanya, terkejut dengan bibir Natsu yang kini masih menempel padanya.
"A-apa yang kau lakukan?"
Natsu terkejut, dengan cepat melepaskan ciuman itu.
"Membangunkan snow white yang sedang tertidur." Jawabnya sambil menunjukkan Grin khasnya.
"Aku tidak habis memakan apel beracun. Selain itu, snow white bangun karena dicium oleh pangeran, bukan dicium oleh jelmaan kodok sepertimu"
Ujar Lucy meledek membuat Natsu cemberut. Melihatnya membuat Lucy tertawa keras. Wajah Natsu saat ngambek memang sangat Lucu.
"Natsu.." panggilnya kemudian.
"Ada apa?"
"..."
"Aku mencintaimu."
"..."
"..."
"Aku sudah tau kok." Jawab Natsu santai.
"He? Heeeee?! B-bagaimana kau tau?!" tanya Lucy heboh. Sejak kapan Natsu mengetahuinya?
"Aku sudah berkali-kali menciummu dan kau tidak pernah menolakku. Itu adalah bukti yang kuat bahwa kau juga mencintaiku."
Natsu nyengir lebar membuat Lucy kini merasa benar-benar kesal. Jika seperti itu..
"Lalu untuk apa kau menyuruhku untuk mengatakannya?"
"Aku hanya ingin mendengarnya darimu, hahaha" tawanya meledak.
Lucy kini mempoutkan bibirnya. Pipinya mengembung lucu membuat Natsu gemas dan langsung mencubitnya.
Teridam, mereka berdua lalu tertawa bersamaan.
Semua ini begitu aneh, ketegangan, ketakutan dan semua kepanikan yang mereka rasakan itu seolah lenyap tak bersisa. Bahkan ditengah salju yang masih berjatuhan itu, Lucy bisa meraskan dengan jelas kehangatan didalam hatinya.
Greb
Lucy sedikit terkejut saat Natsu kembali menariknya kedalam dekapan hangatnya, menyandarkan dagunya pada puncak kepala Lucy.
"Aku selalu ingin melakukan ini sejak lama.." gumamnya pelan.. hampir tak terdengar.
"Apa yang kau katakan?" Lucy mendongak.
Natsu tersenyum lembut.
"Tidak ada.." jawabnya lalu kembali memeluk Lucy. Berikutnya ia kembali berkata..
"Jadi sekarang kau pacarku?"
"Ap-apa?!" wajah Lucy memerah mendengarnya. Benar-benar merah seperti kepiting rebus.
Tapi itu benar.. Jika dipikir-pikir, mereka berdua baru saja mengakui perasaan masing-masing.. jika sudah begitu maka.. maka..
"Ayolah Lucy. Mulai sekarang kau itu pacarku!" Natsu mulai menuntut karena Lucy yang masih terlihat linglung dan salah tingkah itu.
"..."
"..."
"Natsu, tapi aku.. aku.."
"Ada apa?"
Natsu menatap Lucy heran. Bertanya-tanya dengan apa yang akan Lucy katakan.
"Aku ingin menjadi satu-satunya bagimu.. aku tidak ingin ada yang lain lagi. Hanya aku.. hanya aku yang boleh bersamamu."
Kata Lucy, menunduk dengan wajahnya yang memerah. Natsu tak menjawab, hanya tersenyum, lagi-lagi memeluk Lucy dan mengelus rambutnya lembut.
"Ya.. kau satu-satunya. Tidak akan ada yang lain. Mulai sekarang tidak ada seorangpun yang bisa melukaimu ataupun mempermainkanmu. Karena kau adalah.."
.
.
.
.
"Emasku yang berharga.."
To Be Continue
Maafin Typo, keanehan dan karna udah bikin Gray jadi sebr*ngs*k itu..
buat kalian yang udah baca sampe sejauh ini harap sabar.. gak lama lagi ff gaje ini tamat kok :v
Thanks for reading
RnR
