BTS Kim Seokjin (Jin) | BTS Kim Taehyung (V) | NCT Lee Taeyong (Taeyong)

BTS Jung Hoseok (Hoseok) | BTS Jeon Jungkook (Jungkook)

BTS Min Yoongi (Yoongi) | BTS Kim Namjoon (Namjoon)

NCT Kim Doyoung!GS (Doyoung) | NCT Youngho Seo (Kim Johnny)


© all chara(s) belong to their agency


T = True Love

Because T aims for True Love


Target 10: Great Surprise


"Ngapain, sih, kamu? Kok ada di sini?", aku terkikik sambil meninju lengan V pelan.

V mengangkat alisnya sambil tersenyum jahil, "Iseng, ngikutin kamu."

"Basi!", kali ini aku mencubit lengannya.

V mengaduh tapi tetap terkekeh. Kuperhatikan sekarang V agak kurusan dibandingkan terakhir kami bertemu. Lalu, kantung matanya juga terlihat jelas sekali. Walaupun begitu, dia tetap terlihat sangat tampan dan style berpakaiannya tetap sangat keren.

"Kamu kelihatan oke sekarang, nggak ada mata panda, pipi juga gemukan.", canda V sambil menoel pipiku.

Aku menepis tangannya pelan, bercanda. "Apa, sih, kamu! Haha."

"Jarang begadang lagi, ya, Jin?"

"Hm.", Aku mengangguk. "Aku kan pengangguran beberapa bulan terakhir."

"Wait, seriously?!"

"Ceritanya panjang, V.."

"I have time."

"Well.. Oke, deh, aku cerita."

Tiba-tiba V menarik tanganku, "Yaudah, ayo kita makan."

Aku sempat terseret beberapa langkah sebelum aku menggerakkan tanganku tak nyaman. Entah kenapa aku merasa (sedikit) berdosa pada Taeyong kalau tanganku dipegang oleh V. Padahal V kan cuma temanku, harusnya tidak apa-apa, dong? Kenapa juga aku harus merasa tidak enak pada Taeyong?

Sepertinya V merasakan kalau aku tidak nyaman digenggam terus olehnya, lalu ia pun melepaskan tangannya. "Sori, kamu udah ada yang punya, kan, ya?", candanya sambil menyengir kotak. Oh, how I missed that smile..

"Apaan, sih, kamu..", sanggahku. "Aku cuma nggak enak aja, banyak yang liat ntar. Mana tadi Edith melototin kita gitu.."

"Oh, si Edith? Dia pasti jealous sama kamu.", kata V santai sambil lanjut jalan. Aku mengekorinya.

"Jealous kenapa memangnya?"

"Ya, karena kamu anak baru tapi langsung nyuri perhatian aku dari dia, haha."

Aku mendadak kesal. "Memangnya Edith siapa kamu?"

V berbalik, aku berhenti berjalan. "Kok nada bertanyanya cemburu gitu, sih?", tanya V sambil nyengir-nyengir-kuda. Duh, seharusnya aku mengontrol nada bicaraku dulu tadi.

"Apaan, GR! Aku cuma nanya doang, kok.", kataku sambil berjalan mendahului V.

Aku tidak tahu ekspresi V seperti apa, tapi aku mendengar kekehannya di belakangku. Walaupun pelan, aku bisa mem-filter-nya dari suara bising orang-orang kantor. Wow, kok bisa ya? Aku jadi heran sendiri.

Karena masih kesal, aku merogoh tasku, mencari si kesayangan.

"Nyari apa, sih, Jinseok?", tanya V yang sudah ada disapingku lagi.

"Rokok."

"Jangan!"

"Kenapa, sih? Kamu masih mau jadi duta anti rokok juga di sini?"

"Ini kan gedung ber-AC, ada alarm kebakaran juga.. Ntar kalau kamu ngerokok, alarmnya nyala gimana?"

"Oh, gitu, ya?", aku pun berhenti merogoh tasku dan lanjut berjalan bersama V. "Eh, tapi tadi aku ngerokok di ruangan Mr. Sandeul? Berarti sebenarnya kita bisa ngerokok di gedung ini, kan?!"

"Heh, kamu lupa Mr. Sandeul siapa? Dia mah orang s-p-e-s-i-a-l, ruangannya juga spesial. Nggak ada alarm dan nggak ada CCTV di sana."

"Jadi kalau aku mau ngerokok harus ke ruangan Mr. Sandeul terus? Ya nggak apa-apa, sih. Dia seru kok."

"Belum resmi jadi pegawai sini aja kamu udah akrab banget sama Mr. Sandeul kayaknya..?"

Gantian, aku yang menggoda V. "Kenapa? Jealous?"

Berbeda dengan sikap dan jawabanku ketika digoda V, sikap dan kata-kata V sekarang membuatku tidak bisa bernapas. Karena ia menjawab, "Iya."


"Sebenarnya kita mau makan di mana, sih, V?", tanyaku ketika aku dan V sudah keluar gedung kantor.

"Udah ikut aja. Tempatnya bebas rokok, kok."

"Serius?! Bilang dari tadi, kek. Jadi aku bakal semangat jalannya."

Tadinya kupikir V mau mengajakku makan di kafe dekat kantor, terus duduk di area smoking area-nya. Tapi, ternyata dia malah menarikku ke dalam tenda pinggir jalan, warung tteokbokki yang entah kenapa buka di siang bolong begini.

"Ahjumma, tteokbokki dua, sama sundae dua. Sundae yang satu pake odeng goreng, ya, terus minta saus tteokbokki dipisah."

Aku tertegun. "Masih inget aja, kamu."

"Selera kamu? Iya, lah. Habis, cuma kamu yang ribet minta ini itu sedangkan pelanggan yang lain cuma makan yang ada saja."

Aku mencubit pinggang V kesal. "Biarin, aku yang makan kok kamu yang ribet?!"

"Silakan."

"Silakan apa?", semburku, masih sewot.

"Katanya tadi mau merokok?"

"Udah nggak napsu. Keburu males gara-gara kamu."

V jadi senyum-senyum sendiri, "Bagus kalau gitu."

Aku diam saja sambil manyun, masih sebal pada anak ini.

"Ayo, dong, katanya mau cerita."

"Hm, kamu dulu deh yang cerita. Kenapa kamu ada di TVN?"

"Kerja, lah.."

"Aku tau kamu kerja, masa nyolong?!", semburku. "Maksudnya, kamu kerja sebagai apa? Masih jadi music director?"

"Bukan. Aku Public Relation sekarang."

"What? Jauh amat dari kerjaan yang kemarin."

"Iya, haha. Dan, anehnya, aku suka kerjaan ini."

Aku mengangkat bahu, "Mungkin kamu emang suka kerjaan yang berurusan dengan orang."

"Maybe..", balas V. "So, sekarang giliran kamu."

"Aku juga kerja di sini.. Officially started nanti hari Senin.", selanjutnya, aku pun menceritakan kisah bagaimana aku bisa jadi pengangguran. Aku juga menceritakan tentang Yoongi yang sempat koma.

"Baguslah kamu sudah resign dari kantor si monyet gendut itu.", kata V sambil ngangguk-ngangguk.

"Iya, kan. Aku heran kuat juga kerja di sana bertahun-tahun."

"Terus, Yoongi apa kabar sekarang"

Aku mendadak merasakan sesuatu yang berat di dadaku. "Yoongi.. dia sudah pulang ke rumah, sih. Rawat jalan. Sejauh ini dia sudah bisa jalan, tapi masih pakai alat bantu.."

"Syukurlah kalau ada kemajuan, kan?", kata V. "Sudah, jangan sedih lagi. Ini makan sundae-nya."

"Hm..", aku pun mulai menyeruput kuah sundae-nya, enak juga. "BTW, kita kan sekantor sekarang, berarti ketemu tiap hari juga.."

"Yup."

"Berarti setiap hari kamu bakal kampanye anti rokok terus?"

Tanpa jeda apapun, V menjawab dengan semangat, "Yup."


"Selamat, sayang..!", Taeyong memelukku ketika kami akhirnya bertemu untuk makan sepulang ia ngantor.

"Makasih, babe.", balasku sambil mencium pipi Taeyong sekilas.

"Bener, deh, bos kamu nggak salah pilih. Kamu memang yang paling cocok ada di posisi itu."

"Hehe, makasih, sayang.. Aku seneng tadi diwawancara Mr. Sandeul. Dia seru banget. Masa aku dibikinin long island ice tea sama ditawarin rokok? Hihi. Terus, ruangannya adalah satu-satunya ruangan yang nggak ada sensor asap, jadi aku bebas ngerokok di ruangannya."

"Kayaknya klop banget, ya, sama kamu. Berapa usianya Mr. Sandeul? Dia bos kamu?"

"Bukan, Mr. Sandeul bukan bos langsung, tapi dia megang posisi teratas juga di kantor. Usianya aku nggak nanya, tapi kayaknya 32-something, deh."

"Terus, yang lain gimana?"

"Yang lain apanya, Taeyong?"

"Ya gimana, seumuran nggak sama kamu, udah ada yang kenal belum.."

"Rata-rata seumuran, sih, kayaknya. Aku cuma baru kenal sama beberapa yang kebetulan papasan aja. Nanti Senin aku baru keliling buat dikenalin sama yang lain."

"Oh, gitu..", sahut Taeyong. "Kamu serius nggak mau makan berat? Cuma ngemil aja?", tanyanya ketika aku cuma memesan sepiring Thai Beef Salad. Menurut Taeyong, makanan yang 90% sayuran ini adalah camilan.

"Hn.. Aku tadi sudah makan sama V."

"V? Siapa itu?"

Taeyong bukanlah tipe pacar yang pencemburu. Dibandingkan dengan mantan-mantanku dulu, ia adalah yang paling tenang dan berstrategi. Ia tidak pernah marah-marah tidak jelas pada cowok maupun cewek yang kiranya mau mendekatiku. Ia malah balik mendekati mereka, berteman dengan mereka, jadinya mereka pun minder sendiri untuk mencoba dekat denganku. Pintar sekali, bukan?

Biasanya aku dengan enteng bercerita tentang siapa saja teman-temanku pada Taeyong. Tapi, saat membahas V, kok aku jadi gugup, ya..

"Teman lamaku.", cuma itu yang bisa keluar dari mulutku.

"Teman yang mana, sayang? Kok aku belum pernah dengar?"

"Itu.. dulu nggak sengaja ketemu di Gangwon-do.", aku pun menyadari sesuatu. "Oh, aku ketemu dia sore sebelum aku ketemu kamu malamnya."

"Di hari yang sama?", tanya Taeyong, sepertinya tertarik dengan pembahasan ini.

"Iya, bisa begitu, ya? Haha."

"Tapi, untung kamu jadinya sama aku, ya, sayang?"

Aku jadi gelagapan, antara grogi digombalin dan grogi entah kenapa. "Apa, sih, Taeyong.. V itu temanku, nggak lebih."

"Okay kalau kamu bilang begitu..", lanjut Taeyong dengan nada menenangkan. "Lumayan kan jadi ada orang yang bukan complete stranger di sana."

"Iya, hehe.", sahutku. Aku senang karena Taeyong begitu dewasa dan pengertian.

"Terus, kapan kamu sign kontrak, sayang?"

"Senin, yang, sekalian hari pertama kerja."

"Mau ditemenin pas signing? Takutnya kamu ketipu lagi kayak waktu dulu di KBS."

"Idih, nggak usah, Tae.. Aku bisa sendiri kok.", kataku. "Terus gimana kerjaan kamu, sayang?"

"Hm.. aku lagi nggak terlalu sibuk sekarang. Aku malah sibuk ngangkatin telepon dari Namjoon dan mama kamu."

Aku tersedak. "Mereka neleponin kamu?"

"Yes, like five times a day.", lanjut Taeyong. "Kata mereka, handphone kamu mati?"

"Iya, aku sengaja matiin handphone. Habisnya mereka ngomongin undangan terus. Pasti itu juga yang jadi bahan obrolan kalian, kan?"

"Iya, mama ngobrolin itu, dan Namjoon memohon supaya aku bisa ngebujuk kamu."

"Nggak.", tegasku. "Sayang, masa kita harus bertemu dengan 2000 orang yang bahkan tidak kita kenal seluruhnya? Aku nggak mau."

"Dua ribu kan bisa dibagi-bagi ke acara pertunangan, resepsi, dan wedding party?"

"Hah? Kok jadi ada tiga acara begitu? Nggak mau, ah! Kenapa nggak resepsi dan party sekaligus saja? Kalau banyak-banyak acara begitu yang ada aku jadi makin gugup, Tae."

Taeyong tidak langsung menjawab. Mungkin aku terlalu kekanakan, tapi mau bagaimana lagi. Aku betul-betul tidak mau menyalami 2000 orang yang 80%-nya sama sekali tidak aku kenal.

Taeyong pun meraih tanganku yang ada di atas meja. "Sayang, jangan terlalu keras sama orang tua kita, dong.. Ini kan pernikahan anak-anak mereka yang pertama, jadi wajar kalau mereka banyak maunya."

"Ini kan pernikahan pertama aku juga, wajar dong kalau aku banyak maunya.", kataku, tidak mau kalah.

"Ini pernikahan pertamaku juga, sayang.. Pernyataan yang aneh.", Ludi masih sabar. "Tapi, jangan sampai karena kemauan kamu, situasi di keluarga kita jadi tegang. Ya, sayang?"

Aku diam saja, kesal karena dinasehati Taeyong.

"Dua ribu orang kan nggak semuanya stranger juga. Beberapa ratus orang pasti merupakan keluarga kita, walaupun keluarga jauh. Tujuan orang tua kita mengundang banyak orang karena tidak mau ada yang tertinggal. Kita mungkin tidak akan merasakan, tapi nanti orang tua kita yang kena imbasnya kalau ada kerabat yang tidak terundang, sayang.."

"Huh, ribet amat, tau gak?", sahutku.

Akhirnya Taeyong melepaskan genggaman tangannya. "Tidak semua orang berpikiran se-modern kamu, Seokjin..", ia menghela napas.

"Kan sayang uangnya juga, Taeyong, kalau banyak acara begitu. Banyak orang juga sama dengan banyak katering. Buang-buang duit."

"Ya nggak apa-apa, Jin.. Kan uangnya juga ada."

"Kenapa uangnya nggak dipakai beramal aja, daripada dipakai untuk pesta sehari doang."

Aku dapat melihat kalau Taeyong benar-benar sudah kehilangan kesabaran. "Susah, ya, kamu itu..."

"Maksud kamu?"

"Ya, susah aja. Jangan-jangan kamu juga nggak mau ada foto pre wedding, honeymoon, acara ngunduh mantu di kediaman keluarga aku..."

Aku diam lagi. Mood-ku hancur sehancur-hancurnya.


Hari Senin tiba. Kontrak yang dibawakan oleh Edith sudah kutanda-tangani. Cewek yang jadi agak dingin padaku ini mengantarkanku ke sebuah ruangan yang sekarang telah jadi milikku. Dan, ternyata ruangan ini bersebrangan dengan ruangan V.

V, si biang semangat, mengantarkanku berkeliling kantor dan mengenalkanku pada semua orang. Setelah itu, ia meninggalkanku karena aku harus diberi arahan dulu oleh bos tertinggi. Setelah si bos keluar dari ruanganku, V baru masuk lagi dan terkejut melihat raut wajahku yang mirip orang baru kejebur ke got.

"Kenapa kamu, Jinseok?", tanyanya khawatir.

Awalnya aku tidak mau cerita.. Entah kenapa rasanya aku agak aneh menceritakan rencana pernikahanku pada V. Tapi, aku butuh seseorang untuk bersandar, jadi akhirnya aku cerita juga.

"HAHAHAHAHAHAHAHA.", yang malah disambut oleh tawa heboh dari V. "Pengantin metal, kamu, Jinseok!"

"Bodo!"

"Eh, tapi, serius, deh. Kamu memangnya nggak mau nikah mewah ala-ala begitu? Bukannya semua orang ingin pestanya mewah, meriah dan memorable, ya?"

"Berarti aku bukan orang.", sahutku, judes. "Alasan aku banyak nggak mau begitu-begituan. Intinya sih aku ingin jadi orang yang paling bahagia saat pernikahan aku sendiri. Bukannya disiksa dengan menjadi patung yang disalami oleh 2000 orang yang tidak aku kenal."

V hanya memerhatikanku dalam diam. "Kamu pasti mau belain mereka juga, kan?"

"Nggak, kok. Aku ngerti sama kamu."

Jawabannya begitu simpel, tapi rasanya beban di dadaku terangkat banyak.

"Yaudah, kerja gih.", kata V sambil melengos ke arah pintu.

"Loh, udah, gitu doang?!"

"Apanya?", kata V setelah berbalik menghadapku.

"Aku cerita panjang lebar dan kamu cuma bilang 'Aku ngerti sama kamu'? Nggak ada solusinya apa?!"

"Jinseok.. sekarang kerja dulu aja. Yang jelas, kamu udah nggak sekusut tadi mukanya setelah cerita, kan?"

Aku tertegun, iya juga, sih..

"Yaudah, selamat kerja hari pertama, pengantin metal!"


TBC


orul2's spot:

hai hai balik lagi dengan lanjutan True Love. di sini jin kekeuh nggak mau nikah dengan acara yang ribet. terus dia juga jadi makin deket sama v. hwhwhwhwhwhwhhwhwhwhwhwhw

coba tebak ntar gimana hubungan jin, v, sama taeyong? XD

Aku ingin ngelanjutin Roughest Greed juga abis ini kayaknya. Yang belum baca, sebaiknya baca Roughest Desire dulu karena itu season pertamanya haha (promosi terselubung)