Jihoon tidak sedikitpun melihat sosok Woojin ketika ia membuka mata.

Tapi persetan dengan itu.

Kau tahu betul satu-satunya hal yang tak karuan berkecamuk dalam pikiran Jihoon saat ini.

"Kau lagi saem." Ia berujar lemah dengan senyum yang dipaksakan. Bagaimana mungkin ia tidak tersenyum pada seseorang yang selalu berada di sampingnya setiap waktu?

"Ya. Jangan pernah bosan untuk melihat wajahku setiap kali kau terbangun." Daniel membalas senyuman itu. Ia menatap Jihoon prihatin. Yakin bahwa perasaan tidak khawatir yang Jihoon tunjukkan hanyalah kamuflase. Jihoon tidak menampilkan raut kesedihan. Tidak, atau mungkin belum? Entahlah. Tapi yang jelas Daniel berharap dalam kondisi Jihoon yang membutuhkan banyak istirahat ini Jihoon tidak akan melakukan sebuah drama yang akan menguras tenaga dan pikiran keduanya.

Jihoon mencoba bangkit untuk duduk. Daniel menahannya. "Berbaring saja."

Tapi Jihoon bersikeras, "Tidak apa-apa. Kurasa aku sudah terlalu banyak tidur hingga kepalaku begitu sakit."

Jadi pada akhirnya Daniel tidak punya pilihan lain selain membantu Jihoon untuk duduk secara perlahan.

"Mungkin itu sebenarnya adalah pengaruh obat penenang yang diberikan padamu." Daniel langsung mengutuki dirinya yang salah bicara.

"Apakah aku setertekan itu?"

Benar kan?

Daniel jadi salah tingkah.

Seharusnya ia membuang jauh topik ini.

Akibatnya ia melihat senyum palsu di wajah Jihoon memudar. Dengan segera tergantikan raut kesedihan yang kentara. Daniel sudah melihat ada air mata yang menghalangi mata Jihoon beberapa detik yang lalu. Dan sekarang air mata itu menggenang semakin banyak di pelupuk mata beningnya.

"Aku tidak punya pilihan lain selain menyelamatkan suamiku dengan segera saat itu..." dan air mata itu mulai menetes satu-persatu, "Tapi tidak mengira bahwa Lai Guanlin ternyata akan menghilangkan nyawa anakku dengan cara seperti ini..."

"Jihoon..."

"Aku mengajak anakku berbicara dan bermain setiap waktu. Ketika aku bahagia, tertawa, sedih, ia selalu mendengar ceritaku. Ia mendengarkan dengan baik, aku tahu itu. Karena ia selalu bereaksi setelahnya. Ia selalu bersamaku kemanapun aku pergi. Aku melakukan apapun. Mengorbankan segalanya. Tidak peduli apa yang terjadi, aku tetap memperjuangkan kehidupannya sehingga aku bisa melahirkan dan bertemu dengannya. Aku ingin sekali memeluk dan menciumnya..."

"Park Jihoon-"

"Aku bahkan sudah membayangkan bagaimana rasanya ketika pertama kali mendengar suara tangisnya ketika lahir ke dunia. Bagaimana rasanya ketika pertama kali memeluk hangat tubuh mungilnya yang berlumuran darah di dadaku yang penuh dengan keringat kesakitan dan perjuangan. Tapi sepertinya aku harus menghapus bayangan itu dari dalam otakku. Karena ternyata aku tidak akan merasakan itu..." Jihoon berusaha keras agar suara tangis tidak keluar dari bibirnya. Tidak, itu terlalu buruk dan memalukan. Tapi ia berakhir terisak hebat hingga bahu ia bergerak naik turun. Ia mencoba menutupi wajah dengan kedua telapak tangan tapi Daniel menahan pergelangan tangannya.

"Iya, iya. Aku mengerti apa yang kau rasakan. Sangat mengerti. Tapi jika takdir berkata begini, apa yang bisa kita lakukan?" Daniel menyesali dirinya yang di saat-saat seperti ini malah tidak mampu memberi kalimat motivasi terbaik untuk menenangkan Jihoon.

"Aku mencintainya. Bayangkan bagaimana rasanya kehilangan darah dagingmu yang sangat kau cintai selama ini? Bahkan jika belum pernah bertemu dengannya sekalipun..."

"Tenanglah Jihoon..."

Tapi Jihoon tidak mendengarkan. Tangisnya pecah semakin hebat.

Daniel mencengkeram kuat kedua bahu Jihoon, "Kubilang diam Park Jihoon!"

"Anakku..."

Inilah drama yang Daniel takutkan.

Park Jihoon yang mendadak menjadi tuli dan meratapi kepergian anaknya tanpa henti.

Daniel mendorong kasar Jihoon hingga kembali terhempas ke bantal dan berhasil membuat Jihoon terdiam ketika ia menautkan bibirnya dengan bibir pucat Jihoon.

Daniel menggerakkan bibir. Jihoon awalnya bingung. Baik ia menginginkan atau tidak menginginkan hal ini, sekarang bukanlah saat yang tepat. Tapi pada akhirnya ia mengikuti jejak Daniel untuk memejamkan mata dan membalas pergerakan bibir. Menikmati sentuhan intim itu.

Ada suatu perasaan lebih mendalam di dalam ciuman itu. Lebih dari sekedar perasaan kasih sayang antara seorang guru dan murid pribadinya. Sesuatu yang sangat sulit diungkapkan dalam sebuah aksara.

Daniel menjilati dan mengisap bibir Jihoon dalam ciumannya. Dan Jihoon mengerti. Ia membuka mulut untuk menjadikan dua lidah saling menyapa lembut.

Dan ketika merasa Jihoon sudah lebih tenang, Daniel melepaskan sentuhan. Jihoon menatap Daniel dengan penuh tanda tanya di wajahnya. Bukan bertanya kenapa Daniel menyudahi kegiatan tadi? Melainkan pertanyaan seputar alasan Daniel melakukan itu. Kenapa harus sampai sejauh itu jika hanya berniat untuk menenangkan? Kenapa tidak cukup memeluknya saja?

Daniel juga merasa bingung bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Karena ia sendiri saat ini telah dibuat bingung dengan perasaannya sendiri.

"Tinggal bersama sebuah keindahan seperti dirimu dalam waktu yang lama, siapa yang tidak akan jatuh cinta?"

Sekarang ia merasakan realisasi perkataannya sendiri pada Jihoon saat itu.

Seharusnya ia sadar bahwa ia juga tinggal bersama sosok indah Jihoon dalam waktu yang lama. Berapa hari? Atau berapa minggu? Ia tidak menghitungnya. Tapi ia yakin pasti sudah terlalu lama sehingga bisa menumbuhkan sebuah perasaan unik di antara mereka.

Tapi Daniel tersenyum. Ia tersenyum melihat Jihoon berhasil dibuat diam. Ia tersenyum melihat Jihoon tidak menolak perbuatannya. Dan yang paling penting dari semua itu, ia tersenyum mengetahui perasaan Jihoon yang sebenarnya padanya.

Ia terkejut ketika Jihoon menangkup wajahnya. Menariknya, membawa wajah keduanya mendekat. Dan kembali menghapus jarak.

Jihoon menyukainya, dan menginginkannya lagi.

Daniel mengangkat wajah untuk melepaskan sentuhan. Ia tersenyum lagi. Meskipun Jihoon tidak. Dan kali ini Daniel yang kembali menciumnya lebih dulu. Yang kemudian mengambil langkah dominan untuk menguasai pergerakan Jihoon di dalam rengkuhannya.

Jihoon tidak ingat bahwa saat ini ia terdistraksi dari kesedihannya. Yang ia ingat adalah ia yang merindukan sentuhan tulus semacam ini. Sudah lama ia tidak merasakannya semenjak berpisah dengan Park Junghyun. Ia ingin lagi merasakan bagaimana nikmatnya disentuh. Ia ingin lagi merasakan bagaimana hangatnya dicintai. Tidak bisa dipungkiri, Kang Daniel adalah apa yang ia butuhkan saat ini.

Sampai dering telepon menghentikan keduanya.

Daniel meraih ponselnya. Dan nama yang terpampang di layar sebagai si pemanggil membuatnya seketika dilanda rasa bersalah.

"Halo sayang. Ada apa?" Daniel sudah berjalan ke dekat jendela ketika menyapa seseorang di seberang.

"Bagaimana kondisi Park Jihoon saat ini?"

Daniel selalu mengencangkan volume telepon dengan maksimal sehingga Jihoon bisa mendengar itu meskipun tidak dalam mode loudspeaker.

"Ia baik-baik saja, Seongwoo. Ia berada di tangan yang tepat. Semuanya aman."

"Ah, syukurlah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku yang berada di posisinya. Jadi aku harap ia bisa kembali ceria seperti yang kau ceritakan."

Daniel menatap Jihoon. Yang ditatap segera menunduk. Kau pikir Jihoon juga tidak dilanda rasa bersalah atas perbuatan yang telah mereka lakukan?

"Ya, aku harap demikian."

"Ia makan dengan baik, kan?"

"Aku selalu memastikan itu."

Terdapat jeda selama beberapa detik, sebelum Daniel melanjutkan.

"Kau tidak akan meneleponku seawal ini tanpa alasan."

"Tepat sekali. Kapan kau akan pulang?"

"Sepertinya seseorang merindukanku." Ia menggoda istrinya seakan semuanya baik-baik saja, dan rasa bersalah dalam dirinya tidak pernah ada.

"Sejak bangun dari tidur siangnya Justin tidak berhenti menangis. Ia mendapatkan mimpi buruk. Ia terus memanggilmu dan mengatakan jangan pergi. Aku sudah melakukan apapun untuk menenangkannya tapi semua itu sia-sia."

"Kau sudah memastikan ia tidak mengompol? Atau mungkin ia lapar? Atau ingin bermain?"

"Aku yakin kau adalah satu-satunya penenang baginya saat ini."

Daniel mendesah lelah.

"Pulanglah. Ia menginginkanmu. Ia membutuhkanmu. Peluklah dia agar dia merasa lebih baik."

"Mari kita lihat apakah aku bisa tiba di rumah secepat itu."

"Tidak hanya Justin. Tiba-tiba aku juga sangat merindukanmu. Aku ingin sekali memelukmu. Dan oh iya, aku juga sudah memasak makanan kesukaanmu. Kau tahu? Betapa sulit bagiku untuk melakukannya selagi menenangkan anakmu yang terus menangis tanpa henti."

Dan dalam keadaan hamil.

Seperti halnya Jihoon (beberapa jam yang lalu), istri Daniel juga kini tengah mengandung. Hanya terpaut satu bulan lebih tua dari kandungan Jihoon. Dan Seongwoo dan Daniel hanyalah orang berkecukupan. Setiap hari Daniel meninggalkan istrinya di dalam rumah kecil mereka yang terletak di dalam gang di pelosok kota. Mengurus rumah dan merawat anak balitanya sendirian. Dalam keadaan hamil. Tanpa pelayan. Dan Seongwoo selalu tulus melakukan semua itu karena ia yakin Daniel pergi dengan tujuan yang jelas. Dengan tujuan mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kecil yang sangat dicintainya. Dan dengan kesetiaan Daniel, itu semua sudah cukup membuat Seongwoo bahagia. Dan melupakan kesusahan yang selama ini dilaluinya.

"Jangan khawatir sayang. Katakan pada Justin bahwa aku akan segera datang."

"Ah, syukurlah. Terima kasih sayang. Aku tahu kau memang adalah yang terbaik bagiku. Dan anak kita."

Satu tangan Daniel mengepal. Ia merasa telah menjadi pria terburuk di dunia. Bagaimana bisa ia mengkhianati kepercayaan manusia sebaik Seongwoo padanya?

Pesona yang dipancarkan Park Jihoon memang benar-benar luar biasa. Pesona yang telah mengalahkan kesetiaan Daniel pada istrinya.

"Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu."

Daniel kembali menghampiri Jihoon ketika memutus sambungan.

"Jatuh cinta padamu bukanlah sebuah kesalahan. Tapi aku telah melakukan kesalahan besar ketika memiliki perasaan itu di saat yang salah dan tidak bisa mengendalikannya. Karena itu aku benar-benar minta maaf, Park Jihoon."

"Tidak, saem. Kau tidak perlu. Aku yang salah. Tolong maafkan aku. Aku bukanlah seorang murid yang baik. Dan tidak akan pernah. Siapapun yang menjadi guruku, tidak akan ada yang bisa mengubah sifat burukku sampai kapanpun. Aku adalah makhluk paling hina di muka bumi ini."

"Kau ini bicara apa? Itu terlalu berlebihan. Jangan berkata seperti itu tentang dirimu. Itu tidak benar."

"Tidak. Itu adalah kenyataan."

"Sudahlah, nak. Aku hanya ingin kita melupakan kejadian tadi. Mari kita sama-sama berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Dan kembali menjalani hari-hari dengan baik, oke?"

Jihoon hanya bisa mengangguk lemah sebagai jawaban.

"Sebenarnya Park Woojin adalah anak yang baik. Mungkin aku akan menamai anak keduaku Woojin ketika ia lahir nanti." Ujar Daniel. Ia menepuk pelan pundak Jihoon dan tersenyum lebih lebar. "Aku harus pergi. Tapi tenang saja. Woojin akan segera datang. Kau akan berada di tangan yang tepat."

Dan tidak berselang beberapa lama, ia segera berlalu. Meninggalkan Jihoon sendirian di dalam ruangan serba putih berbau khas obat-obatan itu.

Daniel telah pergi. Distraksi itu hilang, duka mendalam Jihoon kembali menyelimuti.

Jihoon mengusap perutnya. Mengeluarkan air mata dan terisak, lagi.

Untuk yang kesekian kalinya dalam hari ini.

.

.

.

Woojin mengaduk lesu jus yang ia pesan di kafe rumah sakit. Apa yang baru saja ia saksikan benar-benar berhasil merenggut gairahnya.

Beberapa menit yang lalu ia hendak memasuki kamar inap Jihoon tapi ia tidak menyambung langkah karena ia pikir ia tidak siap. Ia sudah mengeluarkan air mata di sekolah tadi karena perasaan sakit akan kehilangan sesuatu yang begitu berharga dalam hidup Jihoon – yang juga berharga bagi dirinya. Ia takut kembali tidak akan bisa menahan perasaan dukanya jika bertemu Jihoon dan mengeluarkan air mata lagi.

Ia terlalu banyak berpikir sehingga pada akhirnya ia melihat Jihoon menangis. Dan berciuman.

Ia merasa sakit. Rasa sakit yang berbeda, tapi tidak tahu untuk apa? Ia selalu bersikap tak acuh pada Jihoon. Apakah salah jika di satu waktu Jihoon bahagia ketika akhirnya ada seseorang yang melihatnya?

Ia merasa kecewa, tapi entah untuk apa? Ia masih memiliki ingatan yang baik, dan tidak mendapatkan dalam memorinya bahwa ia pernah meminta Jihoon untuk menjadi seorang istri yang setia. Jadi apa yang harus ia kecewakan?

Dan lebih menyakitkan bagi Woojin ketika melihat Jihoon menyukai sentuhan yang diberikan gurunya, dan meminta lebih.

Woojin benar-benar tidak menyukai itu.

Jadi ia pergi meninggalkan koridor rumah sakit untuk menenangkan pikiran. Tidak tahu bahwa Daniel telah meninggalkan Jihoon beberapa menit setelahnya.

Woojin sudah merasa sakit dan khawatir setengah mati sejak dikabari di jam sekolah tadi. Tidak perlu ditambah-tambah dengan perasaan sakit hati yang lain.

Baiklah, lupakan hal itu. Lupakan sejenak perasaannya pada Park Jihoon saat ini. Lupakan sejenak Park Jihoon yang sampai sekarang terus menangis tanpa henti, tanpa ada satu orangpun yang menemani. Tanpa ada satu orangpun di sisinya yang menenangkan sebagai ungkapan bahwa ia dikasihani.

Sekarang yang harus Woojin pikirkan adalah bagaimana mengatakan musibah ini pada kedua orang tuanya? Ia tahu ibunya pasti akan sangat kecewa karena ia tidak bisa menjaga Jihoon dengan baik sehingga sesuatu yang buruk harus terjadi. Tapi tetap saja. Ia harus memikirkan kalimat terbaik untuk menyampaikannya.

Atau mungkin ia bisa memikirkannya nanti?

Karena saat ini Jihoon butuh ditemani.

Mungkin yang diinginkan Jihoon untuk saat ini adalah Daniel. Bukan dirinya.

Tapi ia yakin. Ia harus bertemu dengan Park Jihoon.

Jadi ia segera menghabiskan setengah dari jus di dalam gelas, dan bergegas ke ruangan Jihoon.

Dan benar saja. Jihoon masih menangis. Meskipun tanpa suara kali ini. Sepertinya ia sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan suara tangis lebih keras.

Kenapa aku harus ragu? Ayolah. Hanya menenangkannya sebagai bentuk simpati kok. Apa susahnya? Aku pasti bisa.

Tanpa perasaan ragu lagi, Woojin melangkah masuk.

Berjalan menghampiri Jihoon.

Tidak. Bukan simpati. Melainkan empati. Anak itu adalah anak kandungku. Aku merasakan sakit luar biasa yang sama seperti Park Jihoon saat ini. Aku merasa kehilangan. Kami, kehilangan.

Mendekat, dan semakin dekat.

Hingga jarak keduanya hanya tinggal berbatas beberapa jengkal.

Dan tebak apa yang terjadi setelah itu?

.

.

.

TBC

.

.

.

S: Momen yg baper baper dikit tuh kek 2park ini skinship kek atau apalah.

R: Skinship mereka udah banyak. Kan hampir tiap malem mereka melakukan itu. Tapi ujin nya ga pake hati sih. Cuma nuntasin hasrat jihoon aja wkwkwk. Jadi so far ujin belom pernah kasih sentuhan yg bener-bener tulus.

.

G: Jangan jangan istri mas niel ini kak ong yaaaaaa.

A: Correct.

.

S: Aku akan coba spam review dengan log out akun.

R: #terniat2k18

.

Q: Anaknya lee woojin ya?

A: Iya tapi itu anak keduanya nanti wkwkwk. Soalnya aku jadiin justin anak pertama mereka.

.

Q: Apakah jinyoung akan jadiin daehwi pelampiasan perasaannya yang tak terbalas pada jihoon?

A: baejin move on dan sepenuhnya mencintai daehwi dengan tulus.

.

S: Si daniel udah nikah? Kirain aku, nanti si daniel juga demen sama jihoon.

R: Udah nikah juga tetep demen kan tuh /shy/

.

D: Coba daniel single, bisa tu ditikung, jadi si jiun ga kesiksa terus liat ujin mikirin ucup.

F: Ujin udah ga mikirin hyungseob lagi kok. Dia sekarang mikirin jihoon mulu malah xD

.

S: Gak ngerti lagi lah sama woojin :[ ke anak sendiri ga sayang.

R: Udah sayang kok sekarang mah. Dia mah kudu ngerasain kehilangan dulu ya baru bisa ngerti gimana rasanya cinta sama anak tuh.

.

D: Jangan lah dibuat terlalu menderita gini, terlalu sakit... ntar juga bisa keguguran loh...

F: Ujung ujungnya tetep aja kan jihoon keguguran dengan cara lain wkwkwk.

.

S: Jihoon semakin lama menjadi bucin.

R: Tapi lama lama mah ujin juga yg jadi bucin xD

.

S: Daniel suami idaman sekali.

R: Benar. Sampai tiba saatnya dia nyium jihoon.

.

S: Ucup udah ngilang aja masih gamon sih jin.

R: Maklum, mantan terindah.

.

S: Kukira bakal ada momen nielwink

R: ADA BANGET NOH.

.

S: Pasti ong lah istrinya daniel, mana mungkin ada yg lain.

R: Asique. Udah ketebak ya meskipun ga aku kasih clue sama sekali wkwkwk saking udah jelasnya.

.

G: Bakal ada jinhwi ya...

A: Ada. Tapi cukup implikasi aja. Somehow buat ff ini aku cuma pengen fokus ke pasangan utama aja. Gpp kan? Ehe.

.

D: Pengen nih ff cepet diselesain.

F: Ga bisa. Masih lama xD

.

S: Ujin jahat banget sih ntar jiun nya keguguran baru tau rasa.

R: Bener bgt tuh dia udah ngerasain rasanya ga enak bgt. Ckckck.

.

S: Kalo anaknya keguguran gegara stres ibunya pokonya ini salahnya si buluk.

R: Secara ga langsung, iya. Kegugurannya sih gegara ujin. Lebih tepatnya gegara nyelametin dia. Atau yg lebih tepat dibilang yg bikin jihoon keguguran itu guanlin? xD

.

S: ROKOK BAHAYA BUAT BUMIL.

R: Iya, tapi kan emang udah kebiasaan ya gimana xD

.

D: Olengin dong jiun nya biar agak mepet mepet daniel terus ujin nya cemburu.

F: Udah ya xD

.

S: Plot twist, istrinya daniel bukan ong tapi nah.

R: Mtsj

.

D: Kutunggu ongniel momentnya kak.

F: Udah nih tapi teleponan doang gpp ya? Wkwkwk.

.

S: Suka banget loh sama pemilihan cast yang bakal jadi masalah buat hubungan pink sausages.

R: Baejin, hyungseob, daniel. Yah, siapa lagi kalo bukan mereka? Guanlin? Dia jadi jahat sih di sini xD

.

D: Request masukin guanlin gitu kak.

F: Udah. Tapi bukan jadi pho wkwkwk.

.

D: Jangan jadiin hyungseob pelakor please.

F: Engga kok. Dianya juga tau diri tuh kalo ujin nya nikah mah xD

.

D: Tolong jihoon daniel momennya kurang berasa meresap gimana gitu :[ tapi ya jangan meresap meresap deh, kasian istri dan anak daniel.

F: Emang kasian sih ong di sini. Dia tuh adem adem aja ngeliat daniel di depannya. Ga tau di belakangnya kek gimana.

.

S: Yah kak... target lagi...

R: Harus dong. Biar kalian semangat review wkwkwk.

.

Q: Apakah hyungseob juga hamil, terus karena jiun udah kehilangan bayinya dia bakal diceraiin ujin, terus ujin nya nikah sama hyungseob?

A: ujin ga bakal cerain jihoon dan ga bakal nikah sama hyungseob soalnya mamanya ujin kan udah klop gt ama jihoon. Jadi apapun yg terjadi, 2park ga bakal cerai karena ujin selalu nurut sama ortunya.

.

D: Jihoon harus kuat pokoknyaaa.

F: Ga kuat dia. Susah. Teralu berat.

.

Q: Jihoon keguguran? Kok bisa?

A: Ya bisa. Kan abis dipukul ama guanlin pake kursi masa iya kandungannya tetep baik baik aja? :']

.

D: Jan ada konflik lagi.

F: Lah. Ff ga pake konflik ya mana seru wkwkwk.

.

S: Woojin aja netesin air mata buat bayinya jihoon, gimana jihoon pas sadar ntar :'

R: Ya gitu. Nangis lebih banyak :']

.

Q: Bukannya pernikahan jihoon dan woojin tertutup...? Apakah chungha plus teman woojin sudah tau?

A: Pernikahannya emang tertutup. Biar gada yg ngintipin buat saat itu aja. Tapi selebihnya ujin cerita ke temennya bahwa dia udah nikah dan langsung nyebar ke seisi sekolah termasuk semua gurunya.

.

Q: Entar tamat berapa chap lagi ya?

A: Dua puluh? Wkwkwk gatau dhink.

.

Q: Kakak ini author dari ff meanie dan rabin yang bernuansa mafia itu?

A: Iya. Ff ini juga remake dari ff meanie itu tapi ga pake genre crime aja.

.

D: Tiati kak jangan banyakin spolier.

F: Sebenernya ga begitu ada niatan buat spoiler sih. Cuma kalo ada bagian yg aku males nulisin di dalem cerita, aku ceritain di sesi tanya jawab gini, ehe. Biar ceritanya juga ga terlalu bertele tele.

.

S: Dokter itu uisa.

R: Iya kalo jadi orang ketiga (yg dibicarakan) namanya uisa. Tapi kalo jadi orang kedua (yg diajak bicara) manggilnya jadi sonsaengnim :']

.

S: Jihoon plis di situ ada suami lu yang cembokur tapi ngga ngaku dan lu tetep mau ngegoda itu dokter?

R: Salah sendiri ujin napa ga ngelarang? Jadi jihoon bisa godain hyunbin sepuasnya wkwkwk.

.

Q: Woojin beneran ngomong istrinya keguguran? Di sekolah? Karena saking kalapnya?

A: Gpp sih. Semua orang udah tau bahwa jihoon yg waktu itu mereka hujat gegara dia hamil, ternyata hamil anak ujin. Kalo buat ujin ga masalah sih karena gada larangan pernikahan buat anak sekolah. Apalagi ujin kan murid teladan. Apapun yg dia lakuin di sekolah itu ga pernah salah di mata temen temen dan gurunya. Cuma ya malu aja dia nikah ama preman sekolah xD

.

D: Sekali2 pengen dong double update.

F: Heleh. Daripada gitu mah aku prefer sekalian aja kasih satu chap yg panjang ._.

.

Q: Kenapa ngga dari awal dipake pistol biusnya?

A: Soalnya jihoon kan pengennya berantem. Obat bius itu cuma pas udah mendesak bgt aja xD

.

Q: Woojin kenapa gampang banget ketangkep deh?

A: Ujin itu kuat. Lebih kuat dari jihoon. Dia mampu ngelawan. Cuma ya gitu. Kan guanlin nya juga pakein bius ke ujin wkwkwk.

.

Q: Kapan dilanjut? Udah lama iniii.

A: Belom ah. Baru juga enam hari. Kalo enam bulan itu baru lama, haha.

.

S: Sempet bingung and prustasi apa nama ff dan authornya, setelah berbulan2 akhirnya ketemu juga.

R: Fav ama follow makanya biar ada notif update dan ga susah nyari wkwkwk.

.

S: Keinget the dark light nya ravbin (sama kan authornya)

R: Rabin say bukan ravbin. Kalo pake keyword ravbin tar ga ketemu :'] dan iya, udah disebutin kok di chap dua kalo aku adalah orang yg sama dengan ichinisan1-3. Akun yg tadinya dipenuhi ff krisyeol skrg ganti dipenuhi ff meanie wkwkwk jadi daripada gitu terus tiap aku bikin cerita dengan pair yg baru, mendingan bikin akun baru kan? Biar pembaca yg follow juga ga bingung dan ga diharkosin xD

.

Jadi para pembaca tercinta, hyungseob ga akan diceritain lagi di sini. Dia cuma pemanis buat konflik awal aja. Dan ketimbang dia yg hamil, aku jadiin ong aja yg hamil wkwkwk. Biar lebih berfaedah. Lagian keinspirasi juga dari mv i.p.u dimana wajah ong keliatan chubby di situ. Kalian ada yg nyadar ga sih kalo dia makin berisi? xD

Aku jadiin justin anaknya ongniel soalnya pas nonton idol producer episot satu kemaren liat dia kok mirip ama daniel ya? Dari pinggir, sama dari depan juga. hairstyle nya juga ala ala daniel era energetic kan. Terus karena ujin kecil a.k.a lee woojin umurnya lebih muda, jadi kujadiin anak keduanya aja deh wkwkwk.

Kemaren kemaren aku ga langsung lanjut meskipun udah hit target karena aku gabisa ngetik. Laptopku dipinjem dan what annoyed me was, SELAMA SEMINGGU. Dia ga bilang loh itu bakal lama. Kukira cuma sehari. Bngst bgt kan. Karena dia tau kalo bilangnya lebih dari sehari ga bakal aku kasih pinjem tuh.

Ah udah ah. Malah jadi nyinyirin orang wkwkwk.

Makasih buat yg udah ninggalin jejak di chap sebelumnya:

RiskaTae | Pygmy Puff | noviavirda

Pinkupinku | whaturname | Taman Mawar

Shineestar | Dark Woojin | linlinil

Deaddll | sugadt | the-park-duo

Defhun | sausages99 | sekaiza99

ChamseByongari | nikesulliha | seolhanna97

Carat17 | hanasariw | folkpeople

Whitebeaver | xiaoritaoktavia | Wangja

Ninata | nyangbinsausage | amypark

Baiqamalia23

Special thanks to:

Meimei | Park Youngie | sherllll26

Chotan | little sweetrara | inspirit94er

Bunny | chanchancy | Illan

Sulind15 | luxerrie | tong

Lee Junyoung | CellineJeonnie | Picos

Yuua | sayangnya woojin | bulanagustus

Berryberrypie | llia94 | Kwonfire

Devine GG | nerdaniel | ipu

Aya narita | byhoonce | maya han

Achoo | Afifah | rikaexo

gulaliJihoon | Mingoo Jeon | Guest

Kalian baca ff ini karena suka 2park atau mpreg? Semisal ff ini tamat dan aku nulis 2park lagi tapi bukan mpreg apa kalian masih mau baca? Well, juga banyak dari kalian yg nanya kapan ini tamat? Why? Udah bosen ya? Ehe, maaf ya masih belom bisa ngasih yg terbaik sampe sampe pembaca nanya gitu xD aku kalo udah keasikan nulis ff genre drama emang suka lama namatinnya karena chapter yg banyak. Tapi giliran udah tamat aja malah kangen kan ama pembaca :'] yg biasanya aku nulis tiap hari. Baca review tiap hari. Begitu tamat, kegiatan kek gitu ga ada lagi. Tapi aku harap ini bisa tamat sebelum wanna one disband *kalo mereka disband, momen 2park otomatis punah ya #purapurasenyum

Nantikan plot twist lainnya di chap depan *smirk* ada yg mau nebak dulu ga twist nya apa? xD

Next target 447 ya :B aku tau ini ketinggian tapi tenang aja, kalo aku lagi mood nulis, sebelum hit target juga bakal langsung aku lanjut kek waktu itu :]

See ya :*