Kehidupan ini di bagi menjadi 2 fase. Fase kesedihan dan kebahagiaan.
Aku sudah mengalami fase kesedihan sedari kecil, jadi bolehkah satu kali ini aku merasakan kebahagiaan?
.
Harry Potter © JK Rowling
Will you be My Parents? © Saitou-senichi
.
Chapter 11 : Unexpected
.
"Ibu."
"Ya?"
"Hari ini Al berjanji akan mengajakku ke rumahnya."
Hermione menoleh, "apa ia sudah tahu kau tinggal dengan Rose?"
Suri menggeleng pelan, "tapi ia berjanji akan menjemputku di pertigaan dekat Ottery St Catchpole."
Hermione melepas apronnya dan mendekat kepadanya, dengan lembut ia membelai rambut panjang Suri, "perkenalan calon kekasih? Huh."
"TIdak! Bukan begitu, itu hanya makan malam biasa!" Ini pertama kalinya Hermione melihat wajah merona Suri, "sebelum ke rumahnya, aku dan Al akan pergi jalan-jalan."
Ia tahu, ini adalah hal yang riskan sekali, bagaimana jika Ron bercerita tentang Suri kepada Ginny? Kau tahu perangai keluarga Weasley yang saling melindungi satu sama lain, terkadang mereka menjadi menakutkan. Tetapi Hermione sungguh tidak ingin merusak kebahagiaan Suri saat ini.
"Jam berapa?"
"Aku akan berangkat setelah mengikat rambut," Hermione mengangkat sebelah alisnya ketika melihat rambut Suri yang bahkan terlihat lebih kusut dari biasanya, "tapi rambutku terlalu panjang dan itu menyusahkan untukku."
.
Kebahagiaan terkadang datang ketika kau merasakan perih di perjalanan hidupmu.
Senyuman hangat yang tercipta membuatmu merasa semuanya akan baik-baik saja.
.
Hari ini memang lebih dingin dari biasanya, namun ia― Albus sama sekali tak ingin mengingkari janjinya. Ya hari ini ia terlalu bersemangat dan datang di tempat janjian limabelas menit lebih awal. Dan entah kenapa ia sedikit gugup. Well ini pertama kalinya ia mengajak seorang teman perempuan berjalan-jalan, ia ingat beberapa menit yang lalu ketika James (Al memutar bola matanya ketika mengingat hal itu) mengolok-oloknya tentang yeah dewasa sebelum waktunya. No! ini bukan ajakan kencan ini hanya jalan-jalan dan err membuatnya tertawa dengan ide aneh yang tiba-tiba terpikirkan olehnya ketika mendengar cita-cita Lily.
Mata Hijaunya menangkap sosok yang di tunggunya dari kejauhan. "Oh Merlin," gumamnya tanpa sadar, mungkin topi bodoh itu salah memasukan Suri ke dalam Slytherin, harusnya ia masuk asrama Ravenclaw. Batinnya mulai melantur.
"Kau datang cepat sekali," ucap Suri setengah geli melihat raut wajah Albus. "Maaf aku lama."
Albus berdehem, "tak apa," yang kemudian di susul kekehan Suri. "Kenapa kau tertawa?"
"Wajahmu aneh, seperti wajah jerapah menahan buang angin."
"WHAT?! Kau gila, aku sudah tampan begini disamakan dengan binatang berleher panjang," ia berkata dengan gerakan tangan yang berlebihan. "Memangnya kau tahu bagaimana raut wajah jerapah menahan buang angin?"
"Sudah."
Albus menaikan sebelah alisnya, "dimana?"
"Disini, di hadapanku."
"Oh shit!"
Tawa itu terdengar kembali, benar-benar seperti kotak music yang mengeluarkan nada dentingan dengan perlahan. Kedua mata Albus menatap wajah Suri yang kemerahan karena tawa. Baru pertama kali ini ia mendengar tawa itu, tawa lepas dari seorang Suri. Sebuah tawa yang mampu menghipnotisnya, membawa kebahagiaannya bersama mengudara di antara mereka. Tanpa sadar Albus ikut tertawa, ia tertawa bukan karena perkataan tentang wajah jerapah. Tapi ia hanya ingin ikut tertawa bersama.
Seperti orang bodoh, ya orang bodoh. Albus menekan kalimat itu dalam hati.
"Kenapa kau ikut tertawa? Aku sedang menertawakanmu," tanyanya jengkel.
"Kenapa? Aku hanya ingin tertawa bersamamu."
Kedua matanya menyipit, "kau aneh."
Albus mengacuhkan ucapan Suri dengan berbalik memunggungi, "ayo cepat jalan."
Mereka berjalan sembari memperhatikan pemandangan, Suri tidak bertanya kemana tujuan mereka. Ia tetap terdiam, karena berjalan seperti ini saja sudah membuatnya senang. Senang karena sudah membuatnya lupa akan permasalahan yang selama ini mengusiknya. Salah satu kegiatan yang menyenangkan. Suri sudah memutuskan bahwa selain Ayah, Ibu dan Clara, yang mampu membuatnya nyaman sekaligus melupakan sejenak masalahnya adalah jalan kaki bersama Albus. Pendengarannya masih menangkap berbagai celotehan Albus, hingga sebuah pertanyaan membuatnya teringat kembali semua kejadian menyakitkan itu.
"Kenapa kau jarang tertawa?"
Memorinya kembali berputar memperlihatkan kilasan-kilasan kejadian ketika ia bersama Tom dan Hermione, "karena tidak ada hal yang lucu dalam hidupku."
Langkah kaki Albus terhenti, kepalanya menoleh pada Suri. Dengan mata menyipit ia mencoba mencari raut canda di wajahnya yang ternyata tidak ada. Mendengus pelan ia tersenyum sinis, "dewasa sebelum waktunya, bahkan usia kita baru belasan tahun."
"Kau tidak akan mengerti," Suri bergumam sembari merunduk. Helaian rambutnya yang tidak terikat menutupi pipinya. "Terlebih anak dari trio emas."
"Apa maksudmu?" nada Albus meninggi, tidak terima pernyataan Suri yang membawa-bawa trio emas.
Seketika Albus menahan napas dengan cepat saat Suri menatapnya, langsung di kedua boia matanya. Hatinya mencelos, meski ia hanyalah anak lelaki berusia belasan tahun, tapi ia sudah mengerti perasaan yang di pancarkan oleh bola mata. Mata keabuan milik Suri begitu gelap, seperti menyimpan suatu kesedihan didalamnya. Membuang napas perlahan untuk meredam amarah, ia kembali melanjutkan kalimatnya, "baiklah, aku memang tidak mengerti kehidupanmu, jangan memandangku seakan aku ini adalah seorang yang bersalah."
"Jangan di lakukan lagi."
"Hah? O…okay ma'am."
Mereka kembali berjalan tanpa pembicaraan, pikiran Albus kembali kalut. Sebenarnya ia telah merencanakan suatu hal gila. Tapi hatinya begitu tergelitik dengan rencana ini. Semua itu didukung dengan kediaman Suri, ya tanpa bertanya mau kemana mereka. Ekor matanya sudah melihat tempat itu, yeah taman di rumah kosong.
Berdeham pelan, ia meminta perhatian Suri. Namun sial, Suri malah sibuk dengan pikirannya.
"Ehem."
"…"'
"Ehem, ehem, EHEM! UHUK, UHUK."
Suri menoleh, mendapati Albus yang memukul pelan dadanya. "Kau kenapa?"
Tubuh Albus menghadap pada Suri, dengan wajah di buat serius dengan rona merah― yang membuat Suri terheran-heran, ia berkata, "kau lihat rumah kosong itu?" ia menunjuk pada rumah usang itu.
"Uh-huh."
"Di belakang rumah itu ada taman yang luas."
Kerutan di dahi Suri semakin mendalam ketika lengannya kembali di tarik oleh Albus. Melewati pagar yang berlubang, memasuki taman yang ternyata bersih tanpa dedaunan kering. Meski tidak ada bunga, hanya rerumputan hijau dengan jalan setapak terbuat dari bebatuan yang mengarah pada pintu belakang rumah usang itu. Tidak lupa pepohonan yang tinggi nan rimbun. Pandangan mata Suri menaruh curiga pada Albus yang kini berdiri di hadapannya. Sebelum bertanya Albus terlebih dahulu berbicara.
"Ya aku tahu ini hal tergila yang pernah di lakukan seorang lelaki seusiaku," meski Suri ingin bertanya, ia tetap menunggu kalimat selanjutnya. "Mungkin Dad atau Mom bahkan Jamie akan menyebutku gila tapi siapa peduli, aku tak akan memberitahu mereka."
Suri masih terdiam, menatap wajah Albus yang semakin memerah.
"I think… I wanna Marry you," suaranya semakin mengecil di akhir kalimat.
Kedua mata Suri membulat sempurna, bahkan mulutnya pun terbuka. Sebelum mengeluarkan protes atau bahkan makian, Albus kembali mengintrupsinya.
"Okay! Okay, aku sudah bilang ini hal gila, tapi aku hanya― ya, err itu."
"Ya."
"Hah?" Albus memandang Suri tidak percaya..
"Iya," Suri berucap sembari tersenyum lebar, ia tahu hal ini kelewat aneh untuk di jadikan permainan, tapi apa mau dikata ia pun menikmatinya.
Seperti orang bodoh, Albus hanya menganga. Suri menerima ajakannya. Ia gila, bahkan perempuan yang di ajaknya menikah pun lebih gila. Padahal ia sudah siap menerima makian bahkan lemparan mantra nantinya, tapi… tapi… Tersadar dari keterkejutan, dengan tergagap dan pandangan yang menyapu sudut-sudut taman seperti mencari sesuatu, "o…oh baiklah, tunggu disini, aku ambil cincin dulu."
Suri memandang gerak gerik Albus seakan mengambil sesuatu, dan kembali menujunya, "flower crown?" gumamnya.
"Asal kau tahu, aku tidak memiliki uang untuk membeli cincin," Albus mengedikan bahu sembari memasang flower crown dengan bunga putih di atas kepala Suri. "Lagipula ini sama-sama bulat."
Kedua mata mereka saling menatap, Suri dengan senyuman lebar dan Albus dengan wajah memerah bak lidah bayi, terjebak dalam suasana aneh kemudian ia bergumam pelan, Albus mulai mengucapkan janji.
"Ehem― Albus Severus Potter berdiri di hadapan pohon," Suri terkekeh pelan, "berjanji pada Suri―"
"Hermione Riddle." Sebuah suara memasuki pendengaran Albus.
"Hah? Oh― berjanji pada Suri Hermione Riddle, akan selalu bersama di saat susah maupun senang." Albus menggenggam kedua tangan Suri perlahan, "selamanya."
Setelah janji itu selesai terucap, tiba-tiba angin berhembus pelan meniup dedaunan pohon. Membawa sebuah bisikan penuh kebahagiaan bersamanya.
Ayah… Aku menikah…apakah kau melihatnya?
"Aku melihatnya…"
Apakah Ayah marah?
"Tidak."
Aku bahagia… meski ini hal bodoh.
"Ayah pun bahagia untukmu."
.
Kebahagiaan yang ia rasakan mungkin tercipta dari celetukan anak lelaki bodoh.
Tatanan rambut indah berasal dari kehangatan Ibu.
Angin yang berhembus pelan mungkin restu dari Ayah.
Untuk kedepannya dan seterusnya asalkan terus bersama, mengingat kenangan indah yang mungkin sedikit, itu lebih berguna menahan kesedihan yang bertumpuk selama ini.
.
"Aku tidak mau dicium."
"Heh? Siapa juga yang akan menciummu!"
.
Melupakan sesuatu yang dinamakan fase kesedihan.
Melupakan sejenak sesuatu yang akan menghadang di depan.
.
"Mom, aku pulang." Ucapnya ketika memasuki rumah.
Aku mengikutinya dari belakang dengan lengan menggenggam "cincin pernikahan kami", kalau di ingat kembali, sungguh membuat tertawa saja.
"Disini Al," sebuah suara yang ku yakini Ibunya, keluar dari ruangan dengan penerangan terang itu.
"Ayo Suri," Albus menarikku masuk ke dalam ruangan itu.
Mataku menyapu keadaan ruang makan itu, disana ada James Potter, adiknya, seorang wanita berambut merah― Ibunya. Seperti kaget akan kehadiranku, adik perempuan Albus dengan lantang berteriak.
"Daddy, Al membawa kekasihnya!"
"Siapa?" suara itu…
Kemudian mata kami saling bertemu, sosok yang pernah membunuh Ayahku. Harry Potter. Entah apa yang terjadi, namun setelah melihatku, ia… Terduduk di lantai dengan menutupi dahi. Kemudian berteriak kesakitan. Apa yang terjadi? Kenapa ketika Harry Potter melihatku, ia mengerang kesakitan?
"DADDY!"
Semua berteriak dan berlari menujunya. Apakah aku… membawa kesakitan untuknya?
Ibu… apakah aku pembawa kesedihan dan kesakitan seperti ucapan Ayah Rose?
.
.
.
To be continued
A/N : hehe hehe hehe (siap-siap di lempar buku telpon) jangan salahkan saya update lama, salahkan kominfo yang blokir situs ini. Terimakasih buat readers setia Suri, terimakasih untuk silent readers yang menghargai karya saya dengan tidak memplagiat.
Terimakasih untuk kak ookami yang sudah membantuku mempublish ini, maaf merepotkan.
Kritik saran di terima.
