Ting tong

Mereka bergegas turun, Naruto berjalan ke depan bermaksud membukakan pintu bagi si tamu tak diundang, sedangkan Hinata ke arah belakang untuk menyiapkan makan malam bagi dirinya dan sang suami.

"Ya ya ya, aku bukakan pintunya. aku kan juga harus berjalan..." Naruto geram dengan tingkah si tamu tidak diundang yang terus menekan bel rumahnya bertubi-tubi.

Sesaat kemudian Naruto dengan tampang malasnya memutar kenop pintu menampilkan si tamu.

"Hai, keluarga yang bahagia" sapa si tamu.

Naruto tidak mampu menutupi sorot keterkejutan yang terliha dari wajahnya yang bergurat kumis kucing, namun seper sekian detik kemudian wajahnya berubah menjadi dingin dan tidak bersahabat.

"Shion..."

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : M

Pair : NaruHina

Warning : Typo bertebaran

"Ada perlu apa?" Ucap Naruto yang tengah memasuki mode marahnya.

"Tidak dipersilahkan masuk dulu? Aku bawa banyak cemilan untuk kalian loh" Shion berusaha mencairkan nada suara Naruto yang dingin.

Dari dapur Hinata berjalan keluar dan menghampiri Naruto, dia berusaha melihat siapa tamu yang datang namun pintu yang hanya dibuka sedikit tidak membuat dia bisa melihat menembus tubuh besar suaminya.

"Siapa yang datang Naruto-kun? Kenapa tidak disuruh masuk?" Hinata yang penasaran menyusul dari belakang.

Naruto yang mendengar suara Hinata, membalikkan badan secara spontan hingga Hinata bisa melihat siapa yang tersembunyi dibalik tubuh besar Naruto.

"Hai istri yang sempurna" sapa Shion dari balik tubuh tinggi besar Naruto.

Dan disinilah mereka, duduk bersama di ruang tamu rumah Naruto dan Hinata. Naruto duduk bersebelahan dengan Hinata sementara Shion duduk dihadapan mereka. Ocha hangat dan berbagai kudapan disajikan untuk tamu tidak diundang mereka.

"Hiimeeeeeeeeh!! Kau jauh sekali, kemarilah!" Panggil Naruto dengan nada yang terlampau manja seolah melupakan eksistensi seorang wanita lain yang menjadi tamu rumah itu.

Hinata beringsut mendekat pada sang suami yang sekarang sudah terlihat seperti anak kecil. Naruto mengarik kepala sang istri dan menyandarkannya pada dada sebelah kirinya yang membentuk bidang keras berotot, tangan kirinya di gunakan untuk memeluk sang istri mungil yang tampak sangat nyaman dalam rengkuhannya.

"Ehem..." Shion tampak tidak nyaman dengan pemandangan didepannya.

Hinata mengalihkan atensinya kepada si tamu, sedangkan Naruto asik memainkan surai indigo panjang milik sang istri dengan tangan kanannya. Entah kenapa surai halus nan berkilau milik istri mungilnya itu tampak lebih menarik daripada si tamu yang hawa keberadaannya tidak terendus oleh Naruto.

"Anoo... maaf mengganggu kegiatan kalian malam-"

"Sudah tau mengganggu kenapa tidak pulang saja?" Shion berusaha menciptakan topik untuk mengalihkan atensi kedua makhluk yang sedang bermesraan, namun Naruto memotong ucapannya dengan bentakan kasar.

"Naruto-kun kasar sekali!" Hinata memperingatkan Naruto yang hanya dijawab dengan helaan nafas kasar sang suami.

"Silahkan dilanjutkan Shion-san"

"Aku hanya ingin minta maaf pada kalian atas semua perbuatanku selama ini, aku membawa sangat banyak makanan untuk kalian-"

"Makananmu tidak akan bisa menyogokku! Yang aku makan hanya masakan istriku! Kau pasti sudah memasukkan racun dalam makanan itu!" Lagi-lagi Naruto memotong ucapan Shion.

"Naruto-kun!" Hinata mendongak mengeluarkan nada tegasnya, tidak keras tapi cukup untuk membuat Naruto kaget. Pasalnya istri mungilnya itu tidak pernah mengeluarkan suara seperti itu bahkan saat mereka bertengkar hebat beberapa waktu lalu.

Melihat Shion yang terus menunduk seperti itu membuat Hinata merasa bersalah.

"Kami sudah memaafkanmu Shion-san, bahkan sebelum kau terfikirkan untuk minta maaf" ucap Hinata lembut dengan bibirnya yang mengurva membentuk senyuman ramah.

Naruto tidak paham dengan jalan fikir istri mungilnya yang sangat polos itu. Dia bahkan tidak mampu menilai orang lain dalam sekali pandang, tapi biarlah istrinya itu melakukan apapun yang dia suka.

'Jika nanti wanita komodo itu menyakitinya, aku yang akan turun tangan' batin Naruto.

Shion tampak tersenyum senang, tampak tulus dimata Hinata, namun tampak mengerikan dimata Naruto.

"Benarkah itu-"

"Kau sudah mendapatkan maaf, segeralah pulang! Aku ingin segera mengunci istriku dikamar" ucap Naruto dengan sengaja membuang jauh filter dari dalam otaknya, dia hanya ingin melihat reaksi Shion.

Seperti dugaannya, Shion berjengit terkejut. Hinata hanya merona, namun ia tidak merasa ada yang salah dari ucapan Naruto kecuali pengusiran kepada orang di seberang meja kristal itu.

"Ah, kau benar. Aku akan pulang sekarang" ucap Shion sambil berdiri, kemudian dia berojigi.

"Tolong jangan diambil hati ya, Naruto-kun hanya sedang lelah saja" Hinata membukakan pintu, dan langsung disambut Hangat oleh suara petir dan hujan deras.

"Sepertinya kau harus tinggal lebih lama" Naruto berjengit kaget pada pernyataan istrinya barusan.

"Tidak! Dia akan pulang sekarang! Hime, ambil jaket kita yang tadi pagi. Cepat!" Perintah Naruto tidak terbantahkan sebelum Hinata mulai protes. Shion masih terpaku di pintu depan.

Hinata bergegas melakukan apa yang diinginkan suaminya

"Tutup pintu itu baka! Nanti istriku bisa terpeleset" ucap Naruto kepada Shion dengan bentakan yang membuat Shion terkejut dan menutup pintu itu.

Naruto mengambil kunci di laci tv ruang tengah, meraih jaket yang disodorkan sang istri dan memeluk pinggangnya. Kemudian membuka kenop pintu di sebelah kanan ruang tamu yang terhubung langsung dengan garasi.

"Kau mau pulang atau tidak" ucap Naruto dengan ketus kepada Shion.

Shion segera mengekor kepada mereka masuk ke garasi,betapa terkejutnya dia saat memasuki garasi dan mendapati Maybach Exelero. Naruto yang mendapati Shion terus memandangi mobilnya dengan tatapan lapar segera menyentaknya.

"Jangan pandangi mobil istriku" Naruto seolah tau apa yang difikirkan oleh Shion.

Naruto membukakan pintu dan langsung mengarahkan Hinata untuk masuk ke mobil Toyota Supra putihnya yang hanya dia gunakan untuk acara keluarga atau jika ada keperluan mendadak.

Naruto menangkap raut kecewa Shion saat dia memasuki mobil pilihannya, Naruto hanya mendecih remeh dan seolah tau apa yang Shion fikirkan. Dimatanya, Shion seolah sedang meminta pada Hinata untuk diantarkan dengan Maybach Exelero itu, tapi Hinata sangat asyik dengan game di ponsel Naruto sehingga tidak memperhatikan gelagat Shion yang terus mengelus Exelero kesayangannya. Naruto yang geram dengan tingkah Shion terus saja menekan klakson mobilnya.

Shion dengan raut wajah kesalnya yang tidak bisa disembunyikan berjalan cepat dan masuk di kursi penumpang.

Selama perjalanan mereka hanya diam. Naruto tampak sangat senang memperhatikan ekspresi menggemaskan dari sang istri yang tengah serius bermain game di ponselnya.

"Ah aku lupa, Shion-" Hinata mendadak mengangkat kepalanya dan berusaha bercakap dengan Shion.

Naruto yang mengetahui kemana arah pembicaraan itu sontak mengerem mobilnya dengan mendadak.

"Ah maaf, aku sedang tidak fokus" Naruto berusaha mengalihkan perhatian Hinata.

Mendengar penuturan suaminya, Hinata mendadak lupa pada apa yang akan dia katakan pada Shion. Hinata mulai menawarkan beberapa hal yang mungkin dibutuhkan Naruto. Naruto melajukan mobilnya secepat mungkin menuju apartemen Shion sambil terus memancing pembicaraan dengan sang istri sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk melanjutkan ucapannya.

Setelah sampai di depan gedung apartemen Shion, Naruto menghentikan mobilnya sambil terus berbincang dengan Hinata dan memberinya tips agar bisa memenangkan game yang sedang dia mainkan. Shion turun dan berojigi sebelum mobil Naruto melaju meninggalkannya dengan wajah kesal. Dengan kesal dia berjalan memasuki kawasan apartemennya.

Shion tidak menjawab sapaan dari resepsionis apartemennya dan langsung berlalu ke arah lift menuju kamarnya. Di dalam lift Shion terus saja mengumpat.

"Sial sial sial... Keparat kau Hinata! Kau telah merebut Naru-kun dariku bahkan telah menghasutnya untuk membenciku! Wanita jahanam!" Umpat Shion meluapkan kekesalannya.

Lift terbuka dan dia langsung keluar begitu saja tanpa memperhatikan tatapan bingung dari orang yang dilaluinya. Sesaat kemudian dia tersadar bahwa dia merasa asing dengan tempat ini, sepertinya dia salah lantai. Tatapan bingung dari orang-orang yang berlalu lalang disertai kikikan geli karena mereka sadar bahwa Shion salah lantai.

Dia menekan kembali lift itu dan sekarang dia bersumpah untuk lebih memperhatikan tanda lantai yang dia tuju.

Shion melangkahkan kakinya keluar dari lift menuju apartemennya, kali ini ia yakin bahwa itu benar-benar apartemennya. Dia membuka pintu apartemennya dan membanting pintu keras-keras.

Dia mencari kontak di ponselnya dan menekan simbol panggilan.

"Moshi moshi, Sasori-kun? Kau sedang sibuk? Aku harus membicarakan proyek baru kita"

To Be Continued

Oh iya, buat reader sekalian yang pengen lihat cerita ini tapi ada gambarnya bisa check wattpad Mao dengan username yang sama yaaa. Soalnya beberapa chapter kedepan akan sangat bejat. Oh ya, Mao lagi ngerjain sequel dari We Don't Talk Anymore. Nanti Mao akan publish kalo udah jadi agak banyak -ini baru 3 chapter yang finish. Dan cerita ini udah mendekati konflik terbesarnya lohhh...Read and Review yaaa