Chapi 11, ini menandakan sudah setengah dari fic Luck yang di update..
Senengnyaaaa bisa up date cepet. he. he. he.
Terimakasih buat semua yang sudah mensupport.. buat star makin semangat.
Yah..langsung aja..
Naruto sudah pasti punya Masashi Kishimoto-sama
Luck adalah fic karya Yuugiri-san
Nerjemahin kerjaan Star (yah..yang masih kepedean menerjemahkan fic bahasa inggris padahal ulangan bahasa inggris kemarin harus remedial..hiks..hiks..hiks..emang sulit ngomong ngikutin Grammar)
Ino tak tau sama sekali apa yang dibicarakan para Samurai dan Naruto tentang ukuran dari kolam pemandian air panas ditaman batu adalah bohong atau tidak. Atau mungkin defenisi 'kecil' para samurai berbeda dengan yang dibayangkannya. Karena tempat ini luas.
Tidak, bahkan lebih tepatnya terlalu luas.
Sebutan kolam pemadian air panas terbuka rasanya juga tak cocok dengan tempat pemandian yang terletak di sisi timur benteng, yang dikelilingi dengan tembok-tembok tinggi dan bebatuan besar yang menghalanginya dari luar. Mungkin karena daridalam kolam ini mereka masih bisa melihat Langit luas yang kini tampak gelap dan suram serta siap memberi jalan bagi butiran salju untuk menghujanimu. Meskipun butiran salju itu tak pernah sampai keatas kepalamu karena uap air dari kolam yang sangat luas ini sehingga bisa menjaga suhunya tetap berada pada kehangatan yang nyaman, dan tak ada apapun selain angin yang sesekali bertiup dari atas dan juga fakta bahwa tempat itu sangat ... sangat ...sangat...
"Ini ... intim," Gaara menyuarakan isi pikiran tertahan Ino saat dia keluar dari balik taman batu, dan menggeser pintu bambu di belakangnya. Gaara datang dengan membawa handuk yang disampirkan disalahsatu bahunya dan sebuah ember kayu yang akan digunakan untuk menyiram air keatas tubuh mereka.
Yah..tak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan tempat itu selain apa yang baru meluncur dari mulut Gaara. Karena itulah kenyataannya, tempat itu begitu...intim. Bahkan Ino harus mengakui kalau saja dia tidak sedang berada pada kondisi seperti ini, dia mungkin sudah sangat menikmati keindahan panorama susunan bebatuan alam yang mengelilingi mereka, sederhana tapi sangat menakjubkan dengan latar belakang pepohonan hijau di salah satu sisi tembok, dan belum lagi kolam air panas yang tampak sangat mengasyikkan untuk segera terjun ketengah-tengahnya.
Tapi, Ino tiba-tiba serasa akan roboh saat dia mengingat fakta kalau sekarang dia sendirian hanya bersama Gaara dan kemungkinan-kemungkinan yang membuatnya bergidik, Gaara sudah menuju ke gazebo kecil di sebelah kiri mereka, jelas ditempatkan di sana untuk berganti pakaian. Ino mengikutinya dengan tergesa-gesa, sampai-sampai kakinya hampir tergelincir bebatuan basah.
Dengan hati-hati Gaara meletakkan barang-barangnya diatas bangku kayu yang ada di gazebo kecil itu dan melirik Ino dari balik bahunya, mata birunya menemukan Ino yang sibuk menyeimbangkan diri karena tergelincir hingga akhirnya berhasil berhenti beberapa langkah dibelakangnya.
Ino melingkarkan tangannya memeluk dirinya sendiri saat menyadari Gaara meliriknya. "Apa?" tanyanya gelisah.
Gaara menatapnya lama sebelum kemudian mengangkat bahunya tak acuh menunjukkan dia tak berminat pada tubuh gadis itu. "Kenapa kau menjadi begitu sulit?"
Ino tak tau harus berbuat apa tapi dia terkesiap dengan ucapan Gaara. Dia menjadi begitu sulit? Dia menjadi begitu sulit! Bagaimana mungkin Gaara menuduhnya menjadi begitu sulit? Apa yang Gaara harapkan darinya? "Aku tak bisa mempercayaimu!" katanya tak percaya. "Kau bersikap seolah-olah ini adalah hal yang biasa saja."
Kali ini, giliran Gaara mendesah. Dia melepas sandalnya dan mendorong mereka ke bawah bangku kayu dengan jari kakinya. "Ino, berapa kali kita harus membicarakan hal ini? Kita sudah membicarakan ini saat di berada di tubuhku. Aku berada ditubuhmu. Tak ada yang bisa kita lakukan tentang ini. " Hembusan angin membuat Gaara menggigil dan ia mulai mengusap-usap lengannya,"Dan sekrang aku mulai kedinginan.
Ino hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan ikut menggigil. Gaara, seperti biasa, selalu sudah berusaha mati-matian untuk selalu menjaga kesopanan dimanapun dan kapanpun itu, tapi hal ini tetap tak terelakkan. Dan jika diteliti lebih lanjut, semua hal yang terjadi saat ini jelas adalah salahnya. Bukan berarti Ino belum menyadarinya selama ini. Ino mencoba menyangkalnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya keras. Dan Ino memilih untuk berteriak.
"Aku tak percaya padamu yang ada dalam diriku"
Ino berharap Gaara akan menyangkal,atau setidaknya berpura-pura terkejut atas tuduhannya. Tapi apa, sebaliknya Gaara hanya berkedip padanya. Kemudian ia berkata, "Kau pikir aku akan ... Melakukan hal yang tidak pantas? Padamu? "
"Seolah-olah kau belum pernah melakukannya di saat kita bersama di bawah tanah," Ino mengungkitnya, namun tiba-tiba wajahnya terasa panas. Dia tak percaya akan memulai percakapan seperti ini dengan sang Kazekage.
Kali ini, Gaara menantang Ino dengan menaikkan alis coklatnya pada Ino. "Perbuatan tak pantas seperti apa yang telah kulakukan padamu?"
Ino bahkan tidak ragu untuk menyatakan insiden yang menurutnya tak pantas. "Pada jam pertama kita terjebak bersama di dalam gua, pasirmu membelai bokongku bahkan sebelum aku tau apa yang terjadi."
"Aku hanya berusaha menjaga agar bokongmu tetap hangat. Karena aku punya firasat kalau kau sangat menyayangi bokongmu." jawab Gaara sembari membuka ritsleting jaket antipelurunya dan melipatnya dengan rapi sebelum menaruhnya di bangku kayu. "Kalaupun ada, kau lah yang pertama kali bergerak, memanjat naik keatas tubuhku tanpa malu-malu ketika sekumpulan siput yang 'sangat berbahaya' keluar dari lubang di dinding gua."
Ino merasa tersinggugn. "Aku tidak naik keatas tubuhmu karena keinginananku sendiri!"
Gaara menyipitkan matanya ke arah Ino. "Kau yakin?"
"Kebetulan saja kau menjadi hal terdekat yang bisa kujadikan pegangan!"
"Bukan itu masalahnya. Sudahlah, itu tak penting sekarang."
Mulut Ino membuka dan menutup tak berdaya, Ia kehilangan kata-kata. Dalam upayanya untuk menyimpan apapun yang masih tersisa dari harga dirinya, Ino berkata "Yah, kalau bukan karena aku, kau pasti masih berada didalam gua."
Gaara mendesah, mengusap dahinya cepat. "Apa yang kau inginkan dariku, Yamanaka Ino? Percayalah, aku tak pernah merencanakan semua ini. Aku hanya ingin mandi" Dan dengan satu gerakan cepat, Gaara mengaitkan tangan mungilnya di lubang sabuk celananya dan tanpa basa-basi menariknya ke pergelangan kakinya. Lalu sekarang Gaara berdiri didepan Ino hanya mengenakan celana hitam pendek dan kaus jaring.
"Apa sih yang kau -" Ino hendak protes namun segera dihentikan oleh Gaara yang tiba-tiba menerjang kearahnya, mencengkram leher tubik merah marunnya dan merobeknya hingga terbuka,bahkan membuat beberapa kancingnya terlepas. Naluri wanitanya otomatis keluar, Ino melingkarkan lengannya menutupi dadanya- yang datar, sangat-sangat-sangat rata, dan Ino mulai berteriak - dengan suara Gaara - layaknya seorang gadis.
Gaara menunjuk tubuh bagian atas Ino yang terbuka. "Kalau kau masih belum pernah melihatnya, maka sekarang kita ada dalam tubuhmu, dan kau ada dalam tubuhku. Apapun yang mungkin kau khawatirkan di dalam kepalamu saat ini, percayalah, aku tahu. Tapi aku sudah berjanji padamu kalau aku akan merawat tubuhmu selama aku ada didalamnya. Dan sekarang tubuh ini kedinginan, begitu juga tubuhku. Apa terlalu berat bagimu jika aku memintamu untuk menjaga tubuhku juga? "
Ino tidak tahu harus berkata apa padanya. Ino masih terlalu sibuk menutupi dirinya untuk suatu alasan yang bahkan tak ia mengerti.
Gaara tidak membuang-buang waktu. Mengambil keuntungan dari diam Ino, Gaara hanya butuh waktu dus detik untuk melepas kemejanya dan tiga detik untuk melepas celana pendeknya. Lalu menumpuknya dengan rapi diatas bangku, berdiri tanpa mengenakan apapun selain celana dalam dan bra yang menutup tengah-tengah pemandian terbuka, bukankah itu hal yang normal dilakukan didunia ini? Tapi Ino tak bisa percaya Gaara tega melepas pakaiannya didepannya!
"B..B..Berhenti sampai disitu!" Ino mencicit dengan sedikit keyakinan ketika Gaara berbalik lagi dan mengulurkan kedua tangannya.
Tampak keseriusan diwajah Gaara ketika dia menyibakkan poninya yang jatuh diatas matanya karena hembusan angin dari atas. Sudah cukup dia mendengar Ino, karena itu dia segera mencengkram pergelangan tangan Ino dengan kekuatan yang Ino sendiri tak tau kalau dia mendorong Ino ke salah satu pilar Gazebo dan merobek tunik dibagian bahunya. Gaara membuang potongan kain itu sembarangan ke sandaran kursi sebelum menekan perut Ino dengan tangan kecilnya. Sentuhan tangan Gaara yang memberi sendasi geli, memunculkan perasaan tak biasa di tulang punggung Ino hingga membuatnya menelan ludah.
"Ino," perintah Gaara.
Ino menelan ludah. "Ya, Kazekage-sama?"
"Lepaskan pakaianmu. Kalau tidak, aku yang akan melakukannya untukmu. Dan aku jamin itu tak akan berakhir baik." Gaara mulai menggerakkan tangannya dan mengaitkan jari-jarinya ke ikatan celana Ino dan melepasnya perlahan.
Ino menepuk tangannya untuk menyingkirkannya. "Baiklah, cukup! sial!" Ino berusaha mengabaikannya tapi, walaupun kenyataannya itu tak bekerja sama sekali karena dia yakin dia memerah hebat seperti orang gila.
Gaara sendiri sudah mulai menyibukkan diri dengan bra yang melilit payudaranya, mencoba melepas pengait yang ada di bawah bra yang di kenakannya.
Ino menatap Gaara tak berkedip ketika dia berhasil melepaskan bra dan celana dalamnya, lalu berjalan dengan santainya menuju kolam air panas tanpa menoleh sedikitpun pada Ino. Gaara mendesah lega ketika air panas menyentuh permukaan kulitnya.
Ino ternganga tak percaya. Gaara bahkan tak repot-repot membungkus rambutnya dengan handuk. Ino tak bisa bayangkan bagaimana jadinya rambut itu setelah kering nanti...
"Ino," seru Gaara dari tempatnya di dalam air.
"Apa?" Ino tersentak.
"Kalau kau tak segera masuk kedalam sini, aku akan mencumbu payudaramu."
Secepat kilat Ino melepas celana dan pakaiannya lalu menceburkan diri hampir menyelam menuju kesamping Gaara
Ino bahkan tak peduli tentang...benda mengganjal di selangkangannya.
Gaara duduk nyaman disana dengan air yang naik hingga ke lehernya, dia menyandarkan punggungnya dengan nyaman disebuah batu mungkin karena sikap Ino yang berlebihan Gaara memutuskan untuk merentangkan tangannya menggantung di atas batu untuk menunjukkan pada Ino kalau tangan itu tak menyentuh tempat-tempat yang tak seharusnya dia sentuh.
Ino turut membenamkan dirinya di air, melipat kakinya ke dada dan membungkusnya dengan kedua lengannya. Memang,Kehangatan telah membuat keajaiban pada saraf-sarafnya hingga dia merasa lebih tenang, tapi itu tak berlangsung lama. Ino mendongakkan kepalanya keatas, menutup matanya dan mulai berhenti memikirkan Gaara - dan tubuh lelaki Gaara.
Itu sampai Gaara mulai berbicara dengannya.
"Kenapa kau sangat membenciku?" Mulai Gaara.
Ino memicingkan matanya yang perlahan terbuka dan melirik Gaara yang ada sampingnya. "Aku tak pernah bilang kalau aku membencimu, Kazekage-sama."
Gaara bergeser sedikit, menyebabkan riak di air pun mulai berhembus dari atas mereka menyebabkan suhu disekitar mereka menurun hingga uap air panas mengaburkan pandangan mereka. Ino bahkan tak terlalu bisa melihat Gaara yang hanya berjarak beberapa kaki darinya. Ino tak membenci Gaara. Bagaimana mungkin Ino bisa membencinya ketika dia tau semua ini adalah salahnya sendiri? Dia hanya mencari orang lain untuk disalahkan. Atau lebih buruk lagi, dia sedang mencari alasan untuk marah pada orang lain selain dirinya sendiri.
Ino sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan lebih bertanggung jawab, dan sial baginya satu malam bersama Kazekage seolah-olah me-reset-nya kembali selama satu dekade, mengembalikan dirinya seperti saat menjadi genin yang naif. Dia memalingkan muka. "Aku tidak membencimu ..." ulangnya dengan sedikit keyakinan.
"yah..kau memang tak membenciku, tapi kau juga sangat tak menyukaiku," kata Gaara padanya.
Ino memutar matanya frustrasi. Jangan membuatnya mengulang percakapan ini lagi. Kenapa Gaara begitu yakin kalau dia membencinya? Apa Ino benar-benar menguarkan aura seperti itu?
Yah, itu bisa saja Ino lakukan. Mungkin dia memang sedang memantik sedikit aura permusuhan dengan Gaara. Tapi itu tak benar-benar diinginkan bahkan tak pernah bermimpi akan berbicara dengan seseorang seperti Gaara. Tapi beginilah dia ketika harus menghadapi pria-pria bejat yang mencoba mencumbu payudaranya Jadi, apa masalahnya?
"Kenapa kau begitu terobsesi tentang aku yang menyukaimu atau tidak? Dengar ya tuan, saat ini aku tidak berada pada posisi bisa membencimu," ujar Ino diplomatis, dengan gerakan malas-malasan meriak-riakkan air dengan tangannya.
Ada percikan kecil dari sisi Gaara air, dan setelah beberapa saat, ia berkata, "Aku akan lebih bahagia mendengarmu mengatakan kalau kau membenciku, bukannya sesuatu yang menyiratkan seolah-olah kau tak peduli padaku."
Ino mengerutkan kening. Apakah itu imajinasinya, atau apakah Gaara ... gila? Ino menolehkan kepalanya dan mellihat siluet yang merunduk rendah di sebelahnya. "Aku peduli kok. Oh, sial. Apa yang salah denganmu? Kau terdengar seperti ... seperti seorang gadis."
Ada suara mendengus diikuti suara desahan dari Gaara. "Maafkan aku. Aku pikir ini karena hormon wanitamu yang mempengaruhiku. Mungkinkah ini yang di sebut mood swing? Ini benar-benar tidak nyaman."
Ino tak bisa melakukan apapun, hanya menggeleng sedih. "Aku tahu perasaan seperti memelintir logika, hingga menjadi alasan yang sukup untuk lebih sensitiv terhadap hal-hal kecil. Begitulah wanita, ya kan?" Ino sedikit ragu ketika akhirnya memutuskan untuk mendekat kearah Gaara. Dia sadar telah berlaku tak adil terhadap Gaara. Yang menjadi korban disini bukanlah dirinya melainkan Gaara. Dan kalau pun ada kesulitan, tampaknya Gaara dapat lebih banyak dari dirinya.
"Gaara," Ino mulai berbicara saat ia berhasil sampai kesamping Gaara. Yang tertunduk rendah hingga rambut pirang panjangnya mengambang diatas air seperti kerudung. Wajahnya tak terbaca saat ia matanya tetap terpaku pada riak air dibawahnya. "Aku tidak membencimu," katanya lembut sambil mengumpulkan helaian emasnya dengan tangan dan menyampirkannya kebahu. "Aku benci keadaan yang kita alami saat ini. Aku benci ketika ada sesuatu yang merubah misi. Dan aku benci pada diriku sendiri yang berperilaku seperti ini padahal aku bisa menyikapinya dengan lebih baik. Itu saja."
Gaara menatapnya sedikit dan berkedip dua kali sebelum memalingkan wajahnya kembali. "Tidak ada yang bisa kita lakukan tentang hal itu."
"Aku tahu. Aku hanya mencari seseorang untuk disalahkan. Maafkan aku. Kau yang bilang untuk jadi diri sendiri. Aku menghargai pekerjaanku lebih dari apapun. Ini hidupku. Aku sangat ingat ketika aku masih muda, aku tak pernah serius melakukan apapun dan selalu teralihnya oleh ... "- anak laki-laki? Sasuke? - "... Oleh banyak hal, dan percayalah, aku benar-benar menyesali hari-hari itu sampai aku mati. Dan kini aku telah mencurahkan segalanya untuk bisa berada di tempatku sekarang. Dan inilah aku. Inilah yang aku lakukan. Aku tak memintamu untuk memahamiku. Bagaimanapun kau seorang Kazekage. Kau bisa menjadi sangat berharga. Sedangkan aku bukan apa-apa " Tangannya yang tadi menggenggam rambut panjang Gaara mulai bergerak untuk membuat sanggul asal-asal diatas kepalanya
.
Saat itulah wajah Gaara nyaris menyentuh wajahnya. Gaara bangkit dan berlutut didalam kolam hingga air menyingkap payudaranya yang tak terlihat dipikirkannya. Uap air dikolam menjadi sangat tebal membentuk penghalang antara mereka berdua, dan Ino hampir tak bisa melihat wajahnya. "Aku adalah Gaara, tak kurang dan tak lebih. Dan kau adalah Ino, tak kurang dan tak lebih. Dan kau akan makan malam denganku setelah semua ini selesai, karena aku yang memintamu. Dari seorang pria untuk seorang wanita, bukan dari Kage Suna ke Kunoichi Konoha. Kita akan menjadi diri kita sendiri tanpa apapun diluar itu. "
Gaara menjadi begitu bahkan tak mengerti kenapa hal itu bisa membuatnya gugup hingga keperutnya. Ino mencoba menutup rasa malunya dengan senyum yang ia ragu bisa dilihat olah Gaara. "Aku tak bisa mengerti dirimu."
Gaara menyandarkan kepalanya dan berendam kembali dengan nyaman kedalam air. "Kebanyakan orang memang begitu."
Ino meniru Gaara dan bersandar pada batu dibelakangnya, Selama beberapa menit mereka mencoba menikmati keheningan sebelum Ino melihatnya dan bertanya, "Bolehkah aku mencukur bilu kakimu?"
"Langkahi dulu mayatku," jawab Gaara.
Ino kembali menatap langit, kecewa. "Ya,aku sudah menduganya."
Dan mereka diam lagi.
Setelah beberapa saat, Gaara memecah kesunyian. "Kita harus keluar. Sudah larut dan semua orang pasti sudah menunggu di ruang perjamuan."
Ino mengangguk. "Kau benar. Kita harus berpakaian."
"Apa aku bisa berpakaian sendiri tanpa harus ada ancaman darimu?"
Ino mengangkat bahu malas, mandi air panas ternyata mampu membuatnya lebih santai hingga terlalu malas untuk mengeluh. "Aku yakin tanganmu sudah menyentuh seluruh tubuhku sementara aku tak melihatnya. Aku tak peduli apa yang kau lakukan dengan itu sekarang."
"Benarkah? jadi aku bisa-"
Ino mendorong dirinya ke posisi berdiri dan meraih lengan Gaara, lalu menyeretnya. "Jangan memaksakan keberuntunganmu. Jika kau tau apa yang terbaik untukmu."
Gaara tidak tampak terancam sedikitpun, tentu saja. Mereka melangkah keluar dari air ke udara malam yang dingin untuk berpakaian di gazebo, dan sungguh mengejutkan bagi Ino, melihat apa yang dilakukan Gaara. Dia berpakaian dengan efisien dari yang orang lain bisa lakukan. Di sisi lain Ino sedang mengalami masalah dengan tuniknya karena Gaara telah membuat banyak kancing terlepas. Sedangkan Ino terlalu lelah untuk peduli.
Ino melemparkan handuk di atas kepala Gaara. "Akan butuh waktu lama sampai rambut panjangmu mengering. Jangan sampai masuk angin."
"Terima kasih," jawab Gaara dari bawah handuk dan dia mulai menggosok kepalanya kuat-kuat dengan itu. "Akan lebih mudah kering jika berada didekat api yang ada diruangan tempat kita tadi. Kita harus kesana dulu dan bersiap-siap."
Ino hanya bisa mengangguk dan mengumpulkan barang-barang bekas mandi mereka dan memasukkannya kedalam ember kayu Gaara dan mengapitnya dibawah lengan. "Kita harus bicara dengan Naruto tentang konferensi besok."
"Tentu," kata Gaara, kepalanya muncul dari bawah handuk, rambut pirang berantakan kusut di kepalanya. Butuh segala kekuatan yang Ino miliki untuk menahan diri tak mengejar Gaara dengan sebuah sisir.
Ino memimpin jalan menuju pintu bambu geser yang mengarah keluar dari pemandian, Pikirannya sudah dipenuhi dengan makan malam dan bertanya-tanya apa yang sekiranya disiapkan oleh samurai untuk para delegasi dari kelima negara. Ino hampir yakin kalau akhirnya semua akan bisa diatasi.
Sampai dia membuka pintu dan menemukan Tsucikage ketiga, Ryoutenbin no Oonoki, dengan segala kemuliaannya, kebetulan melewati lorong di depan pemandian mereka dalam balutan jubah mandi oranye lembut, sepertinya ia juga baru saja keluar dari pemandiannya. Dia tampak sama terkejutnya mendapati pintu yang tiba-tiba terbuka hingga membatu didepan Ino, menatap dengan mata selebar piring.
Gaara datang dari belakangnya. "Apa ada masalah?"
Dan hidup Ino sudah berakhir saat itu juga.
Mata Oonoki yang melakukan perjalanan dari Ino ke Gaara, kemudian kembali ke Ino lagi. Ino perlahan menutup kembali pintu dorong di hadapan Tsuchikage, lalu berbalik ke Gaara. "Dia seorang pria tua. Ia tidak akan mengoceh tentang melihat Kazekage keluar dari pemandian dengan seorang wanita, kan?"
Wajah Gaara tampak sungguh-sungguh suram. "Dia tak benar-benar melakukannya sepertiku." Gaara mengulurkan tangan dan membuka pintu lagi. Seperti yang diharapkan, Oonoki sudah tak bisa ditemukan
.
/
.
/
.
/
.
/
To Be Continued...
Arigatou sudah bersedia membaca..
by : Star Azura
