New York , America.

.

Disebuah gedung tua yang sudah tak terpakai lagi. Orochimaru duduk di sebuah kursi dengan sekujur tubuh yang diikat tali. Pria paruh baya itu sepertinya belum sadarkan diri.

"Ngh...". Sebuah lenguhan terdengar dari Orochimaru yang mulai sadar.

"Kau, Sudah sadar?" Tanya Sasori yang berdiri didepan pria itu.

Orochimaru mendongak , Matanya yang nampak masih sayu itu menatap Sasori dengan tatapan bertanya. Pemuda bersurai merah itu tersenyum sinis. "Kau, tak mengenalku?" Tanya Sasori.

Orochimaru mengerutkan dahinya. "Siapa kau?" Suara pria itu terdengar serak.

"Aa, Perkenalkan Sasori. Keponakan dari Tsunade, seorang dokter yang kau bunuh 12 tahun silam". Orochimaru terbelalak , Ia dapat melihat aura hitam yang berbahaya didalam diri Sasori saat ini. Raut wajahnya begitu dingin.

"Jadi, Kau ingin balas dendam padaku. Begitu?".

"Tentu. Kau tidak tau. Karna ulahmulah, kehidupan adikku berubah. Aku tak mungkin membiarkan orang yang menghancurkan kehidupan adikku dan menghilangkan nyawa bibi ku hidup damai." Tegas Sasori.

Orochimaru mendengus. "Salahkan bibi mu itu, Kenapa ia menghalangi jalanku. Seharusnya ia cukup diam dan tak menentang apa yang aku lakukan" Terang Orochimaru.

"Tentu saja bibi ku menentangmu. Kau menciptakan obat terlarang. Sebagai seorang dokter , mana mungkin bibi ku diam saja jika kau hendak menggunakan obat itu untuk seorang pasien" Ucap Sasori menahan emosinya.

Orochimaru menggerakkan tubuhnya yang terikat sangat kuat. "Percuma kau tak kan bisa lolos dari ikatan itu" Ujar mendelik.

"Coba lihat ini" Sasori mengangkat sebuah remote kontrol kecil yang ada ditangannya. "Jika aku menekan tombol merah ini. Coba tebak apa yang akan terjadi?" Sasori menyeringai.

Orochimaru mendelik lagi pada pria didepannya. "Kau gila! cepat lepaskan aku!" Bentak Orochimaru seraya terus meronta.

Sasori tertawa sinis. "Kenapa? Apa kau takut mati, heh?" .

"Lepaskan aku , brengsek!".

Sasori menggeleng sambil berdecak. "Sayang sekali , Aku bukan pria baik." Tugasnya seraya membalikkan badan dan menjauh dari Orochimaru.

"MAU KEMANA KAU! CEPAT LEPASKAN AKU!" Teriak Orochimaru. "DASAR BOCAH BRENGSEK!". Umpatnya.

Sasori terus berjalan menjauh dan saat ia keluar dari gedung itu , Ia menekan tombol merah pada remote kontrol yang ia pegang .

DUAAARRR

Gedung tua itu meledak seketika.

"Aku pulang. Sakura" Ujar Sasori.

.

.

Disclaimers : Masashi Kishimoto

.

.

Sasuke X Sakura

.

.

Warn : Typo's , OOC , Gaje , AU dll.

.

Police Story © JuliaCherry07

.

- DON'T LIKE , DON'T READ -

.

.

.

Tokyo - Japan.

.

Lidah Naruto menerobos masuk kedalam mulut Hinata. "Ngh...Ahh.. N-naru...". Desah wanita bersurai indigo tersebut.

Pria itu terus mencumbu bawahannya tersebut dengan kasar. "Shion..." Naruto bergumam menyebut nama perempuan lain disela sela ciumannya. Hinata terbelalak, Hatinya terluka saat pria yang dicintainya menyebutkan nama perempuan lain, Apa mungkin Naruto mengira dirinya Shion , untuk itulah pria ini menciumnya, Itulah yang ada dipikiran Hinata.
Hinata memberontak disela sela desahannya. Ia mendorong Naruto yang terus mencumbunya.

BRUAKK

Wanita bersurai indigo itu berhasil menjauhkan pria yang ingin menodainya. Pria blonde yang mabuk itu terpelanting kelantai. Hinata berdiri seraya meneteskan air mata. Hatinya terluka, benar benar terluka.

"Kapten.. hiks... Aku tau kau mencintainya, Tapi aku bukan dirinya. Aku Hinata Hyuga, Seorang wanita yang diam diam juga mencintaimu. Tak bisakah kau melihat itu? Hiks..." Hinata marah disela tangisannya.

Naruto mulai sadar dari mabuknya. Ia memijat kepalanya yang terasa pening. Ia mendongak menatap Hinata yang berdiri didepannya seraya menangis dan memarahinya.

"H-hinata, Kau ada disini? Kenapa kau menangis?" Suara Naruto masih terdengar seperti orang mabuk tapi kesadarannya sudah sedikit kembali.

Hinata menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya yang sedikit bengkak akibat ciuman kasar Naruto. "Aku membencimu." Naruto mengerutkan dahinya tak mengerti. Hinata menatap marah Naruto "Aku membencimu ,Kapten!" Bentak Hinata sebelum berlari pergi meninggalkan Naruto yang masih duduk dilantai dan menatap kepergian wanita itu dengan pandangan bingung.

"Ck! Sebenarnya apa yang ku lakukan".

.

.

.

.

Hari mulai pagi, Matahari menampakkan sinarnya yang begitu terang. Namun berbeda dengan keadaan di markas organisasi Black Jack. Seluruh anggota organisasi hitam itu terguncang hebat melihat jasad rekan wanitanya yang terbujur kaku dikantung jasad tersebut. Orang yang pertama kali menemukan jasad Karin adalah Jugo. Pria itu tiba tiba dihubungi oleh seseorang melalui ponsel Karin. Orang tersebut berkata bahwa pemilik ponsel ini tengah mabuk berat dan menyuruhnya menjemput diclub malam yang sering wanita itu kunjungi. Dan saat Jugo datang ke club malam yang sudah tutup tersebut, Jugo dikejutkan dengan kantung jasad yang ada tepat didepan club malam itu. Dan Saat ia membukanya, Pria itu tambah terkejut karna isi kantung jasad itu adalah rekannya, Karin.

Suigetsu maju kedepan jasad itu dan mengambil secarik kertas yang ada dikantung jasad Karin .

'Dengar, Nyawa dibayar dengan nyawa. Jangan anggap remeh kami, para polisi ANBU.' Suigetsu meremas kertas itu penuh emosi. Ia yang paling terguncang hatinya karna kehilangan wanita yang diam diam ia cintai. Jugo menepuk bahu rekannya itu.

"Mereka akan membayar semua ini." Suigetsu berkata dengan aura dingin.

Nagato, Yang sedari tadi diam terus memandangi jasad rekannya. Ia memperhatikan setiap tubuh jasad Karin. Dahinya mengerut. Hidan yang mengetahui hal itu pun bertanya. "Ada apa? kenapa kau memandangi mayat Karin seperti itu?".

Nagato berjongkok didepan mayat Karin. Semua mata kini menatap heran Nagato. "Lihatlah. Karin mati seperti polisi wanita yang kami bunuh" Ungkap Nagato.

"Apa maksudmu?" Tanya Suigetsu.

Nagato membuka lebar lebar kantung jasad tersebut. Ia menunjukan bekas tembakkan tepat dijantung kanan Karin. Dan Ia juga menujukkan bekas luka dipergelangan tangan Karin yang mirip dengan luka yang Karin perbuat dulu pada polisi wanita yang mereka bunuh. Karin dulu bilang ia sengaja melukai pergelangan tangan wanita itu sebagai tanda korban yang ia bunuh. Dan kini tanda itu ada dipergelangan tangan Karin.

"Apa maksudnya ini?" Tanya Jugo heran.

Nagato berdiri. "Aku juga tidak tau, Tapi yang jelas . Orang yang membunuh karin. Bukan polisi biasa." Ujar Nagato.

"Kau, Benar. Nagato" Timpal seseorang yang baru datang. Semua anggota organisasi itu menoleh dan menunduk hormat pada pimpinan mereka yang dipanggil Lady tersebut.

Lady, itu menghampiri jasad anak buahnya yang tak bernyawa. Ia tersenyum sinis. "Gadis itu benar benar merepotkan. Sepertinya kita harus membunuhnya terlebih dahulu." Ujar Lady.

Semua yang ada disana menatap pimpinannya dengan pandangan bingung dan bertanya.

"Maaf Lady, Tapi siapa gadis yang anda maksud?" Tanya Nagato mewakili rekan rekannya.

Lady memandang anak buahnya satu persatu. Ia tersenyum menyeramkan dimata setiap orang yang melihatnya. Lalu ia menatap Nagato dengan pandangan datar. "Tentu saja, Haruno Sakura" . Wanita berpakaian serba hitam itu menyeringai setelahnya.

.


.

Markas Kepolisian ANBU , Tokyo - Jepang.

.

Tap Tap Tap

Derap langkah kaki mengema dikoridor markas kepolisian ANBU. Gadis bersurai soft pink yang mengenakan seragam polisinya itu menghentikan langkahnya tepat didepan pintu lift yang tertutup. Sesekali ia menguap, membuat seorang pria yang berdiri disampingnya memandangnya heran.

"Apa yang kau lakukan semalam ,hingga kau terlihat mengantuk dipagi hari, Pinky?" Tegur Sasuke. Ia sama seperti gadis disampingnya, menunggu pintu lift terbuka.

Sakura menoleh dan menatap malas Sasuke. "Aku habis membunuh orang" Ujarnya dengan wajah innocentnya.

Sasuke mendengus geli, Seakan ucapan gadis itu hanyalah bualan semata. "Benarkah? ku kira karna ciumanku semalam" Celetuk Sasuke seraya memamerkan seringainya.

Sakura menegang. Ia sekarang jadi teringat kembali ciuman itu. Wajahnya sedikit memerah. "Diam kau" Hardik Sakura. Sasuke terkekeh.

TING!

Pintu lift terbuka dan segera mereka masuk kedalam. Sakura berdiri dan bersandar pada dinding yang ada didalam lift. Sasuke mendekat membuat Sakura berkesiap.

"Mau apa lagi , Kepala ayam ini" Gerutu Sakura dalam hati.

Pria berseragam polisi lengkap itu mengunci gerak Sakura dengan kedua tangannya yang bersandar pada dinding. "Apa?" Ketus Sakura. Sasuke tersenyum tipis.

"Kau, Terlihat cantik pagi ini"

"Benarkah? Jadi maksudmu biasanya aku tak cantik, eh?"

Sasuke terkekeh dan menyentuh dagu gadis didepannya. "Dimataku, Kau selalu terlihat cantik" . Sakura bisa merasakan deru nafas Sasuke. Gadis itu memejamkan matanya saat kaptennya itu mencondongkan kepalanya dan memberikan morning kiss pada bibir ranumnya.

TING!

Pintu lift terbuka, Namun sepertinya kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu tak menyadarinya. Letnan Yamato dan Kapten Fugaku yang berdiri didepan pintu lift yang terbuka, melihat mereka bercumbu. Letnan Yamato melongo dengan wajah yang memerah sempurna. Sedangkan atasannya yang berdiri disampingnya menatap datar putranya yang mencium seorang gadis dilift. Pagi pagi pula.

"EHEM EHEM" Fugaku berdehem cukup keras sehingga membuat Sasuke dan Sakura mengakhiri ciuman pagi mereka. Sakura dengan wajah memerah menunduk dan memberi hormat pada kepala polisi ANBU tersrbut dan berlalu pergi. Tak lupa ia memberi umpatan pada Sasuke. Pria itu nampak biasa saja dan memasang wajah stoic andalannya. Bahkan Ia juga bersikap seolah tak terjadi apa apa didepan ayahnya.

"Pagi , Kapten. Letnan." Sapa Sasuke datar. Fugaku dan Yamato pun masuk kedalam pintu lift. Mata onyx pria paruh baya itu melirik pada putranya yang berdiri disampingnya.

"Jaga sikapmu. Ini dimarkas polisi." Tegur Fugaku pada putranya.

"Hn. Mau bagaimana lagi. Ayah kan tau, Sudah lama aku mencarinya." Jawab Sasuke tanpa menoleh lawan bicaranya. Yamato menjadi pendengar obrolan anak dan ayah itu.

Fugaku menghela nafas. "Ya. Ayah tau. Tapi jaga sikapmu. Kau kapten divisi disini.".

"Hn. Akan ku usahan." Jawabnya datar.

TING!

Pintu lift kembali terbuka. "...Tapi setiap melihatnya. Aku selalu tak tahan untuk menyentuhnya. " Sambung Sasuke mengidikkan bahu seraya berlalu pergi. Yamato tersenyum kaku mendengar anak atasanya bicara seperti itu pada kaptenyan. Sedangkan Fugaku menghela nafas pasrah dengan sikap putranya yang terkesan out of character tersebut .

"Anak muda sekarang selalu tak bisa menahan nafsu," Komentar Yamato yang dihadiahi tatapan tajam Fugaku.

GLEK

Yamato menelan ludahnya susah payah. Sepertinya ia salah bicara.

Naruto tertundung lesu sambil berjalan menuju ruangannya. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang hingga membuat orang tersebut hampir terjatuh kalau tidak ada sebuah tangan yang menangkap tubuh wanita itu.

"Maaf" Ujar Naruto. Wanita itu langsung menjauhkan diri dari dekapan Naruto. "Kau, baik baik saja?".

Hinata, Wanita itu diam tanpa kata dan mlengos pergi. Naruto mendesah. Sepertinya inspektur wanita itu masih membencinya karna ulahnya semalam yang keterlaluan.

"Aku harus meminta maaf padanya." Gumam Naruto.

Naruto melangkahkan kakinya lagi menuju ruangannya. Ia mendudukkan pantatnya kekursi kerjanya. Keningnya mengerut saat melihat amplob putih yang tergeletak dimeja kerjanya.
Tangannya bergerak mengambil amplob itu dan membukanya. Mata shappirenya terbelalak saat melihat isi amplob tersebut. Pria blonde itu sontak berdiri.

"I-ini..." Cicit Naruto menatap tidak percaya foto yang ada di amplob tersebut.

Saat ini, Tim dari divisi penyidik, Kriminal dan teroris serta tim detective dan para inspektur mendadak mengadakan rapat penting. Mereka membahas tentang foto yang dikirim pagi ini keruangan Naruto. Foto tersebut adalah foto jasad Karin dan dibelakang foto tersebut tertulis 'Nyawa harus dibayar dengan nyawa'.

"Anggota mereka tewas, dan mereka mengirim foto rekannya yang tewas dan mengancam kita. Apa mau mereka sebenarnya" Murka salah satu tim divisi.

Sasuke dan Naruto terlihat termenung ditempat duduknya. Kemudian onyx pria Uchiha bungsu itu melirik kesamping .

"Pinky, bukankah wanita itu yang waktu itu ada di club malam?" Tanya Sasuke pada gadis yang duduk kursi sebelahnya sambil menopang dagu. Sahabat kecilnya itu sepertinya benar benar mengantuk.

"Hn. Memangnya kenapa?" Tanya Sakura datar.

Sasuke berdecak. "Kau ini." .Gerutu Sasuke. Kemudian pria itu mencubit pipi inspektur bermata teduh dengan gemasnya. "Apa yang kau lakukan. Sakit" Protes Sakura seraya menipis tangan jail Sasuke dari pipinya.

Gaara yang melihat mereka begitu mesra menatap keduanya dengan pandangan yang sulit untuk di artikan.

Naruto tersenyum sinis dan berkata. "Bukankah ini bagus?" . Semua mata kini tertuju pada pria blonde tersebut. Pria itu pun berdiri.

"Dengar. Sersan Shion dibunuh oleh mereka. Lalu ada orang yang membunuh salah satu anggota mereka dan mengirim jasadnya pada mereka. Bukankah orang yang membunuh itu ada dipihak kita?" Terang Naruto.

"Tapi bagaimana jika orang itu hanya ingin mengadu domba saja? organisasi itu mengira kitalah yang membunuh anggotanya." Ujar Shikamaru.

Sakura mendengarkan. "Tenang saja orang itu dipihak kita." Sahut Sakura. Kini semua mata tertuju pada gadis soft pink tersebut.

Sasuke tersentak dan menoleh. "Apa maksudmu, Pinky" .

"Bukankah tadi pagi aku sudah bilang. Aku membunuh orang." Ungkap Sakura. Kening Uchiha bungsu itu mengerut dalam, begitu juga dengan yang lain.

"Jadi maksudmu kau yang..." Timpal Ino.

"Membunuh wanita yang ada difoto ini?" Sambung Naruto seraya mengangkat foto jasad Karin.

Sakura mengangguk. "Maaf, Aku tidak sengaja.".

"Apa maksudmu tidak sengaja?" Tanya Sasuke seraya menarik lengan Sakura dan menatapnya penuh rasa khawatir.

"Dia menyelinap di apartemenku. Dia mencoba membunuhku jadi aku melawan dan aku tanpa sadar menembaknya." Terang Sakura. "Lepaskan tanganku. Kapten!" Sambungnya ketus.

"Maaf" Sasuke melepas lengan Sakura. Namun sorot matanya masih penuh rasa khawatir pada gadis didepannya saat ini. Gadisnya semalam dalam bahaya dan dia tidak tau hal itu.

"Sakura, Kenapa kau tidak memberi tau ku?" Timpal Ino."Kita kan tinggal digedung yang sama".

"Waktu itu sudah terlalu malam, Ino". Sanggah Sakura.

"Lantas, kenapa kau mengirim mayat itu pada mereka?" Tanya Shikamaru.

Sakura mengidikkan bahu. "Aku ingin membalaskan perlakuan mereka pada sersan Shion." Ujarnya.

"Sakura-chan" Gumam Naruto menatap Sakura tak percaya. Sakura membalaskan kematian Shion. Padahal Sakura tak begitu mengenal Shion. Naruto benar benar ingin berterima kasih pada inspektur baru kesayangan Sasuke itu.

"Meski begitu , kau tak boleh berbuat semaumu. Inspektur" Tegur Shikamaru.

"Biar aku yang mengurus dia" Sahut Sasuke pada Shikamaru. Pria Nara itu pun mengerti.

Sasuke menoleh pada Sakura. "Ikut aku. Kau akan mendapat hukuman dariku." .

"Apa! Aku kan melakukan hal yang benar. Iya kan kapten Naruto?" Sakura mengharapkan bantuan dari pria berkulit tan tersebut.

"I-iya. Sasuke, Sakura-chan kan..."

"Jangan ikut campur kapten Naruto." Potong Sasuke denga raut wajah dinginnya. "Dia bagian dari tim divisi ku. Jadi jangan ikut campur." Sasuke menarik tangan Sakura dan pergi keluar dari ruang rapat.

Ino menatap khawatir kepergian Sahabatnya itu. "Kasian Sakura".

"Tenang saja. Sasuke tak kan menghukumnya dalam arti yang sesungguhnya." Sahut Sai. Ino pun menoleh kearah pria itu. "Apa maksudmu?" Tanya Ino tak mengerti. Bukannya menjawab Sai malah tersenyum. Dasar.

Hinata yang juga ikut rapat terlihat lega. Karna setidaknya kematian Shion sudah dibalaskan. Mata indahnya tanpa sengaja bersirobok dengan mata shappire Naruto. Ia pun langsung tertunduk. Naruto mendengus melihat wanita itu yang sekarang menghindarinya.

Sepertinya ia harus benar benar meminta maaf.

"Lepas!" Sakura menepis tangan Sasuke yang mengenggamnya. langkah mereka pun berhenti tepat dilobi. "Kita mau kemana? kau bilang mau menghukumku" .

Sasuke tersenyum sinis. "Hn. Aku memang akan menghukum mu. Jadi jangan banyak bicara dan ikut aku." Sasuke kembali menarik tangan Sakura dan kembali berjalan keluar gedung kepolisian ANBU.

"Untuk apa kita keapartemen ku, Kapten?" Tanya Sakura heran. Pasalnya saat ini mereka berada di depan pintu apartemen Sakura. Mau apa coba?

"Buka pintunya" Perintah Sasukd tegas.

Sakura mendengus dan membuka pintu apartemennya. Sasuke langsung masuk kedalam apartemen Sakura tanpa mengucap salam . Benar benar tidak sopan.

Sakura mengikuti Sasuke dibelakang. "Dimana kamarmu?" Tanya Sasuke seraya celingukan mencari kamar Sakura.

"Untuk apa?".Sakura benar benar tidak tau maksud atasannya ini. Dia bilang mau memberi hukuman padanya tapi malah datang ke apartemennya. Dan sekarang bertanya tentang kamarnya pula.

Sasuke menatap intens gadis didepannya. "Kemasi pakaianmu. Mulai sekarang kau akan tinggal di apartemen ku. Itu hukuman untukmu" Titah Sasuke.

"APA?!"

.

.

TBC

Thanks to Review , Favorite n Follow

With Love

JuliaCherry07