'She's My Wife'
Genre : Romance, A bit angst.
Cast: Lee Donghae x Lee Hyukjae
Rated : M (Mature)
Warning : Genderswitch for uke, out of character, Typo(s)
.
.
.
.
.
Heechul menatap tajam sepasang suami istri muda yang tengah duduk di hadapannya. Matanya semakin memicing ketika retinanya bersibobrok dengan mata bening milik si perempuan yang langsung menundukkan kepalanya cepat. Helaan nafas berat terdengar. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan tangan yang masih betah bersedekap di dada.
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Heechul berusaha setenang mungkin. Bagaimana dia bisa tenang jika putra bungsunya datang membawa istrinya dan meminta untuk membawanya tinggal di rumah ini. Memang tidak ada yang salah dengan permintaan Donghae, tapi masalahnya, perempuan di depannya ini adalah seseorang yang tidak ia sukai. Tak masalah jika hanya Donghae saja yang ingin menginap disini seperti kemarin, toh supaya dia tidak kesepian dan juga dia bisa dekat kembali dengan Sungmin. Berbicara tentang gadis itu, Heechul mendapat pesan jika ia tidak akan pulang dan ijin akan menginap di tempat temannya lagi. Ah sudahlah, lebih baik ia mengurus dua pasangan muda ini.
Hening.
Heechul berdecak sebal, baru saja ia akan membuka mulutnya kembali namun suara Donghae yang akhirnya terdengar membuat mulutnya terkatup.
"Aku hanya tidak ingin Hyukjae sendiri di apartement kami. Aku tak tega meninggalkan eomma, dan aku juga tidak bisa menjadi suami buruk yang hanya bisa meninggalkan istrinya. Alasanku tak salah kan?" Donghae menjawab dengan tegas dan yakin. Sementara Hyukjae yang sedari tadi duduk di sampingnya hanya bisa mengerat dress-nya pelan. Jujur dia sempat tersentuh dengan ucapan Donghae tadi.
Walaupun Hyukjae masih bingung dengan sikap suaminya yang pada waktu itu tampak sangat marah sampai bermain fisik padanya dan hari ini dia datang dengan segala keputusannya yang membuat perempuan itu tentu saja terkejut. Ia sebenarnya tak apa jika disuruh menginap di rumah mertuanya ini, apalagi tadi Donghae bilang sang nenek juga tengah berada disini. Namun dengan keadaan yang tengah carut-marut saat ini ditambah dengan sikap mertuanya yang memang dari dulu tidak bersahabat dengannya, wajar saja Hyukjae merasa sangat gelisah.
Keheningan kembali berlanjut sebelum Heechul akhirnya membuka suaranya kembali. "Baiklah, kau boleh membawa Hyukjae bersamamu. Walaupun awalnya yang aku minta untuk menemaniku hanya Donghae, tapi tak apalah."
Donghae memandang eommanya dengan pandangan tak suka. Jelas sekali jika eomma nya tidak suka dengan keputusannya untuk membawa Hyukjae menginap bersamanya, ia menolehkan kepalanya ke samping, sedikit banyak pasti perkataan eomma-nya membuat istrinya sakit hati. Dahinya berkerut ketika melihat kepala Hyukjae yang sedari tadi menunduk tiba-tiba terangkat, menatap eomma-nya seraya tersenyum.
"T-tak apa, eomma. Aku sepertinya akan pulang nanti, memang tampaknya lebih baik aku di apartement saja, banyak pekerjaan yang belum aku selsaikan." Hyukjae menggigit bibir bawahnya, mengabaikan Donghae yang menatapnya tajam. Lagipula yang memaksanya untuk kesini kan memang Donghae, jika suaminya tidak memaksa dia pasti sudah di apartement-nya sekarang.
"Tidak, eomma. Hyukjae akan tetap disini bersamaku."
Hyukjae hanya bisa menghela nafas ketika suara Donghae yang penuh dengan penekanan terdengar. Harus bagaimana dia jika Donghae terus memaksa sementara sang tuan rumah sudah sangat jelas menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Hyukjae? Sementara Heechul, yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu kembali mendesah pelan. Anak bungsunya ini memang keras kepala, berbeda dengan Hyung-nya yang lebih mirip sang ayah.
"Baiklah, terserah kalian saja." Heechul bangkit dari atas sofa, memperbaiki pakaiannya yang sedikit kusut. Mata kucingnya menatap kearah Hyukjae, sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman yang justru membuat Hyukjae semakin gugup.
"Semoga kau nyaman disini, Hyukjae-ah."
Kaki berbalut celana kain hitam itupun bergerak menjauh.
Donghae menghela nafas gusar ketika mendengar sambutan manis sang eomma untuk Hyukjae. Ditatapnya sang istri yang tengah menundukkan kepalanya dalam, cukup menjelaskan bahwa perempuan itu sedang tidak baik-baik saja. Hm, bukan tanpa alasan Donghae melakukan ini semua. Alasannya yang mengatakan jika dia tak tega meninggalkan Heechul sebenarnya lebih kepada fakta jika dia takut paket-paket yang dikirim bajingan itu akan membuat Heechul sadar bahwa perempuan yang dimaksud adalah Hyukjae, istrinya. Tentu akan sangat fatal jika Heechul tau. Maka dari itu setidaknya jika ia disini paket-paket tersebut akan terpantau dan sebisa mungkin setiap paket yang datang, Donghae yang akan menerimanya terlebih dahulu atau bahkan berusaha supaya eomma-nya tidak tau tentang paket-paket itu lagi.
Dan mengenai Hyukjae, Donghae tidak bohong jika ia tak tega meninggalkan perempuan itu terlalu lama. Sudah seharusnya ia melindungi istrinya disaat-saat seperti ini, bukan malah meninggalkannya begitu saja. Baiklah, Donghae memang benar-benar suami yang buruk. Karna alasan-alasan tersebutlah Donghae memutuskan untuk membawa Hyukjae ke rumah orang tuanya. Selain bisa memantau paket-paket itu sebelum pelakunya bisa ia tangani, Donghae juga bisa selalu bersama dengan istri tercintanya. Tentu saja lelaki ini tak munafik jika ia sangat merindukan perempuan yang masih saja menunduk dalam di sampingnya.
Donghae memejamkan matanya sesaat lalu menggerakan tangannya ke arah Hyukjae, menggenggam lembut tangan perempuan tersebut. Hyukjae mendongak, menatap Donghae dengan pandangan sayu yang sarat akan kegelisahan. Donghae memandang lembut mata-mata indah tersebut, menjawab kegelisahan istrinya dengan elusan pelan pada tangan putih Hyukjae yang terasa dingin.
"Semuanya akan baik-baik saja, percayalah."
.
.
.
Kibum menghela nafas dalam-dalam.
Perempuan berambut hitam itu terlihat menggigiti kecil kuku-kuku lentiknya. Ia merasa menjadi orang paling bodoh saat ini. Tepatnya setelah ia memutuskan untuk menghubungi Siwon dan membahas tentang hal apa yang akan dimintanya kepada mantan pacarnya tersebut. Oh ayolah, secara tidak langsung Kibum memberi peluang pada lelaki tinggi itu untuk menjadi pacarnya kembali.
Tapi hal ini ia lakukan semata-mata untuk Hyukjae, sungguh. Ia tidak sekaya itu untuk merogoh semua tabungannya untuk membayar seorang-ergh maksud Kibum melepaskan Hyukjae dari jeratan sang mantan boss gila keparat yang bisa-bisanya muncul dan membuat hidup sahabatnya sulit. Jika dikatakan Kibum dan Hyukjae merupakan sahabat yang sangat dekat, sebenarnya tidak juga. Namun Kibum berani bertaruh jika Hyukjae adalah sahabat terbaiknya walaupun kedekatan mereka terjalin belum terlalu lama, tapi ia sangat menyangi perempuan itu seperti saudaranya sendiri.
Sebenarnya bisa saja Kibum mememberi saran kepada Hyukjae untuk meminta suaminya supaya membebaskan Hyukjae dari jeratan laki-laki tua bangka itu. Dengan cara membelinya-ehm maksud Kibum membebaskan Hyukjae dengan menggunakan uang. Kibum tentu tau jika Donghae termasuk jajaran anak-anak konglomerat di kampusnya. Ya, mungkin mengeluarkan uang untuk membebaskan Hyukjae bukanlah perkara yang besar.
"Tapi-"
Benar. Bagaimanapun Hyukjae bukan sekedar barang yang mempunyai harga mutlak. Walaupun Kibum mengerti dengan jelas jika keparat itu pasti mematok harga yang fantastis untuk seorang Lee Hyukjae. Kibum menggigit bibir bawahnya gusar, sungguh ia merasa sangat tidak nyaman memikirkan hal tersebut. Lagipula bisa-bisanya hal seperti ini terjadi, memangnya tua bangka brengsek itu siapa? Orang tua Hyukjae? Sampai-sampai ia harus memberikan jaminan uang supaya Hyukjae bebas dan hidup tenang. Dasar keparat sialan!
"Kibum-ah!"
Perempuan berpipi tembam itu menoleh cepat. Ia mengangkat tangannya, memberi lambaian pelan pada seorang perempuan yang tengah tersenyum manis kearahnya. Kibum meringis pelan, bagaimana bisa orang semacam Lee Hyukjae mempunyai masalah yang begitu rumit. Diam-diam Kibum mensyukuri hidupnya yang walaupun jauh dari kata sempurna namun terbebas dari masalah-masalah yang bisa membuat hidupnya tak tenang.
Sementara disana, Hyukjae masih menampakkan senyum manisnya seraya menarik kopernya kearah Kibum yang duduk di dekat dinding kaca sebelah kanan. Koper? Setelah suaminya memutuskan untuk mengajak Hyukjae tinggal di rumah sang mertua yang entah sampai kapan, Hyukjae tentu saja perlu membawa beberapa setel pakaian miliknya dan Donghae serta keperluan-keperluan lainnya. Maka dari itu ia meminta izin untuk pulang sebentar ke apartement-nya, dan kebetulan Donghae yang mempunyai urusan di kampus bersedia mengantarnya terlebih dahulu.
"Ya, kau mau kemana?"
Kibum bertanya bingung kearah Hyukjae yang baru saja mendudukkan tubuhnya di atas kursi. Mau kemana Hyukjae dengan koper berwarna abu dengan ukuran sedang itu?
Hyukjae kembali mengulas senyum kecilnya. Membuat Kibum sebenarnya sedikit heran melihat sahabatnya yang tak pernah menampakkan raut wajah sedihnya ini. "Aku akan menginap di rumah ibu mertuaku."
"Eoh?!" Kibum sedikit membulatkan matanya. Sebagai pihak yang pertama kali mengetahui tentang masalah Hyukjae, membuat Kibum tak segan untuk mengorek kehidupan perempuan berambut coklat lembut dihadapannya ini. Toh Hyukjae tak mempermasalahkan apapun, justru ia senang mempunyai sahabat yang mau menampung semua curahan hatinya secara bebas.
Dimana ia bisa menceritakan tentang kehidupan rumah tangga-nya bersama Donghae, semua tentang masa lalu-nya. Tentu saja Hyukjae juga menceritakan tentang hubungannya dengan sang mertua, tak heran jika reaksi terlihat Kibum sekaget itu ketika mengetahui Hyukjae akan satu rumah dengan sang mertua.
Hyukjae terkikik kecil. "Kenapa, Kibum-ah?"
"K-kau serius? Ada hal apa sampai kau harus menginap disana?" Ujar Kibum seraya meletakan cup berisi americano coffee-nya diatas meja.
Hyukjae menyandarkan punggungnya yang terasa sedikit kaku, helaan nafas pelan pun terhembus dari bibir merah tersebut. "Kau tahu kan jika beberapa hari belakangan ini Donghae lebih sering menginap di rumah orang tuanya?"
Kibum mengangguk.
"Tidak ada yang salah kan jika istri mengikuti suami? Karna itulah aku juga akan menginap di rumah mertuaku untuk menemani Donghae." Jawab Hyukjae seraya menepuk-nepuk koper yang ia letakakan di samping kirinya. Dahi mulus Kibum terlihat berkerut, sekitar 2 hari yang lalu Kibum sempat bertanya kenapa Donghae selalu pulang ke rumah orang tuanya dan membiarkan Hyukjae sendirian di apartement.
Awalnya ia mengira jika mertua Hyukjae itu tengah sakit atau semacamnya, dan Kibum tak banyak bertanya ketika Hyukjae menjelaskan bahwa hubungannya dengan sang mertua memang kurang baik. Tentulah ia mengerti dengan pasti kenapa Hyukjae tak ikut bersama Donghae untuk menjaga mertuanya itu. Namun jawaban Hyukjae yang mengatakan jika mertuanya tidak sedang sakit sama sekali membuat Kibum sedikit bingung. Untuk apa mertua Hyukjae menyuruh anak lelakinya untuk menginap di rumahnya sedangkan istri dari anaknya tersebut sendirian meratapi suaminya yang tak kunjung pulang? Tapi lagi-lagi Kibum mencoba untuk tidak bertanya lebih jauh selama Hyukjae tidak bercerita terlebih dahulu. Tapi sepertinya saat ini Kibum dilanda rasa penasaran.
"Uhm.. tidak ada yang ingin kau ceritakan padaku?"
Hyukjae terdiam. Kibum sempat merutuki mulutnya, sudah seharusnya dia tetap menjungjung sikap tak akan bertanya jika Hyukjae tak bercerita terlebih da-
"Dia berulah."
-hulu. Eh? "Dia? Dia siapa yang kau maksud, Hyukjae-ah?"
Hyukjae menyesap mochacino latte yang sudah dipesan Kibum khusus untuknya sebelum ia datang. Mencoba mengenal Hyukjae lebih dekat membuat Kibum tahu jika selera perempuan di depannya ini sangat jauh berbeda dengan dirinya. Jika Kibum lebih menyukai americano yang cenderung pahit, Hyukjae adalah penyuka makanan dan minuman manis.
"Lee Sooman."
"Mwo?!" Kibum menutup mulutnya cepat. Ia tentu tidak akan lupa nama lelaki tua yang sangat gencar mengganggu Hyukjae akhir-akhir ini. "Berulah bagaimana maksudmu?"
"Ibu mertuaku mendapat paket mencurigakan beberapa hari belakangan ini. Sebenarnya bukan paket yang bisa dibilang berbahaya, namun karna ayah mertuaku sedang berdinas keluar kota tentu saja eomma merasa agak sedikit resah."
"Ah, jadi itu yang membuat Donghae selalu pulang ke rumahnya? Untuk menemani ibu mertuamu?"
Hyukjae menggeleng pelan. "Aniya, Kibum-ah." Perempuan berambut dark brown itu tersenyum kecil ketika melihat Kibum menaikkan alisnya bingung. "Awalnya Donghae hanya diminta pulang untuk menemani Sungmin, anak teman eomma-nya yang juga merupakan junior Donghae dulu. Kau tau sendiri ia baru kembali lagi ke Korea setelah sekian lama. Tapi semenjak Donghae mengetahui isi paket yang dikirim untuk eomma-nya itu, ia lebih memilih untuk menetap lebih lama hingga akhirnya dia mengajakku untuk tinggal di rumah eomma entah sampai kapan."
Kibum menggaruk pipi tembamnya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. "Keunde, memangnya apa isi paket itu? Kau bilang jika paket itu tidak berbahaya, tapi kenapa aku merasa Donghae sangat mempermasalahkan tentang paket itu?"
Hyukjae menunduk, meremas tangannya kuat. "Paket itu berisi foto-foto ku sewaktu aku bekerja di club dulu. Tentu kau pasti tahu siapa yang akan melakukan hal itu, Kibum-ah."
Kedua mata Kibum membulat kaget. "A-apa?! Lalu bagaimana dengan ibu mertuamu, Hyukjae-ah? Jangan katakan jika ia sudah melihat foto-foto itu?!"
"Walaupun eomma sudah melihat foto-foto itu, eomma tidak akan tahu jika itu aku. Sooman sengaja mengirim foto yang tidak menampakkan wajahku sama sekali, namun ia selalu menuliskan tulisan-tulisan semacam clue di setiap fotonya. Aku cukup bersyukur karna eomma tidak terlalu mengenal dan tahu tentang diriku, berbeda dengan Donghae dan Halmonie yang langsung mengerti jika orang di dalam foto itu adalah aku, Lee Hyukjae."
"Jadi lelaki tua bangka itu mencoba untuk memberi tahu sesuatu lewat foto-foto itu kepada ibu mertuamu? Menunjukan pesan-pesan tersirat tentang masa lalumu yang bahkan tidak diketahui sama sekali oleh ibu mertuamu, begitu?"
Hyukjae mengangguk lemas. "Dan kau tahu sendiri bagaiamana tidak sukanya ibu mertuaku itu padaku, Kibum-ah. Bagaimana jika dia tau bahwa perempuan seperti jalang di dalam foto itu adalah menantu yang paling tidak ia harapkan ini? Hhh, aku tidak dibunuh pun sudah untung mungkin."
Kibum meringis ketika mendengar kekehan kecil dari bibir merah Hyukjae. Ia meraih tangan kanan sahabatnya, mengelusnya pelan. "Kau tenanglah, aku sekarang mengerti kenapa Donghae mengambil keputusan untuk tinggal lebih lama di rumah orang tuanya. Dan aku percaya Donghae akan selalu melindungimu, Hyukjae-ah."
Hyukjae menghela nafas gusar, "Tapi aku bingung, Kibum-ah. Dia memaki dan menyiksaku di satu waktu, lalu bersikap lembut di lain waktu. Aku yakin dia sebenarnya merasa jijik padaku, aku merasa sangat bingung."
"Jangan berpikiran macam-macam, Hyukjae-ah. Yang penting kau tahu sendiri jika Donghae berusaha untuk melindungi mu walaupun dia tidak secara vocal membahas hal itu."
Hyukjae hanya menundukkan kepalanya semakin dalam.
Kibum mendesah kecil. "Bagaimana dengan lomba dance itu?" Tanya perempuan itu berusaha mengalihkan pembicaraan. Melihat sahabatnya ini murung membuat Kibum merasa sedih juga.
"Aku masih mencari-cari gerakan dan hm, sepertinya aku harus banyak berlatih mulai saat ini." Jawab Hyukjae kembali ceria. Tentu dia harus banyak berlatih supaya dia menang dan bisa bebas dari tua bangka Lee Sooman itu. Sebenarnya jika Hyukjae mau, masalah uang bisa saja ia meminta bantuan kepada Donghae, namun- ia tahu diri. Lagipula jika ia berusaha sendiri dengan keras, pasti hasilnya akan lebih memuaskan. "Kau tahu Kibum-ah? Ini bukan semata-mata tentang uang yang bisa menebusku dari Lee Sooman, tapi harga diri. Jika aku bisa bebas dengan caraku sendiri, pria keparat itu tidak akan bisa merendahkanku lagi, kau mungkin mengerti apa yang ku maksud."
Kibum termenung sesaat sebelum tersenyum kecil. Ia merasa mendapat pencerahan dengan cara bagaimana ia bisa membantu sahabatnya ini. Bukan semata-mata uang. Kibum tentu sangat paham maksudnya.
"Dan aku harap kau tidak memberitahukan apapun tentang keputusanku pada Donghae, Kibum-ah. Mungkin Donghae akan menjadi salah satu lawan yang cukup sulit nanti, tapi aku tegaskan sekali lagi jika aku mau menang dengan caraku sendiri. Hanya kau yang tahu tentang masalah ini, jangan sampai ada orang lain yang tahu. Oke?" Hyukjae berpose lucu seraya membentuk bulatan dengan jempol dan jari telunjuknya, membuat Kibum tergelak.
"Tentu saja kau harus berusaha dengan keras, eoh! Lee Hyukjae, fighting!"
.
.
.
Donghae membantingkan tas-nya keatas sofa dengan sedikit kasar. Dia amat sangat lelah hari ini. Dimulai dari membujuk (memaksa) Hyukjae untuk ikut dengannya menghadap sang eomma, lalu kembali lagi ke kampus untuk menyelsaikan beberapa hal dan mencari refrensi lagu serta gerakan-gerakan untuk lomba dance yanga akan diselenggarakan di kampusnya nanti. Sebenarnya Donghae tidak terlalu berminat dengan lomba kali ini, mungkin karna pikirannya tengah penat dengan berbagai macam masalah. Tapi hey, mau dikemanakan harga dirinya yang sebagai The King Of Dance di Zaffiro University jika ia tidak berpartisipasi? Disamping istrinya sendiri yang menyandang gelar The Queen Of Dance, mungkin istrinya itu akan menjadi lawan yang cukup berat. Oh tapi tentulah Donghae yang harus keluar sebagai pemenang, ya, tentu saja! Liat saja nanti, Hyuk! Donghae terkekeh lucu dalam hati.
Lelaki dengan postur tegap namun tidak terlalu tinggi itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sepi. Kemana eomma-nya? Donghae mengedikkan bahunya pelan lalu berjalan kearah dapur, tenggorokan-nya terasa sangat kering. Langkah-langkah kaki Donghae terhenti ketika ia melihat seorang perempuan tengah berkutat dengan masakannya. Tentu saja itu bukan eomma-nya ataupun bibi Jung. Donghae tersenyum kecil ketika tangan-tangan putih itu bergerak menyingkirkan rambut-rambut yang sepertinya menganggu. Mata Donghae berpendar, senyuman kembali terulas ketika ia melihat kain tipis bersih yang tergantung di dekat kulkas.
Masih dengan langkah yang pelan, Donghae mengambil satu kain bersih berwarna putih tersebut lalu menyatukan ujung-ujungnya. Membuatnya seperti sebuah ikat rambut lalu berjalan mendekat kearah istrinya, sepertinya Hyukjae terlalu sibuk mengaduk-aduk masakannya hingga tak sadar jika seseorang tengah berjalan mendekat kearahnya.
Mata Hyukjae membulat ketika merasakan rambutnya ditarik halus dan disatukan dengan sesuatu yang ia tidak tahu apa. Hyukjae masih terpaku sampai seseorang di belakangnya selsai dan ia merasakan bahu-bahunya tak terhalangi oleh rambut yang cukup mengganggu lagi. Perempuan itu mengerjap ketika ia mendengar suara langkah kaki yang bergerak menjauh.
Hyukjae menggigit bibir bawahnya pelan ketika melihat Donghae tengah minum dengan santai seolah tak terjadi apa-apa dan berdiri beberapa meter di hadapannya. Sebenarnya tanpa ia berbalik pun Hyukjae daritadi sudah tau jika seseorang di belakangnya adalah Donghae, wangi tubuhnya yang familiar sekalipun sudah bercampur dengan peluh, tentulah Hyukjae tahu.
"Bukankah kau sedang memasak? Lanjutkan masakanmu, aku sudah lapar."
Hyukjae mengangguk canggung lalu berbalik. Tersenyum kecil ketika mengingat ucapan Donghae yang terdengar seperti seorang bocah kelaparan. Ah betapa dia begitu merindukan suaminya ini, merasakan kembali moment ketika ia hanya berdua dengan suaminya ini tentu saja membuat Hyukjae cukup senang. Walaupun, entahlah, Hyukjae merasa agak berjarak dengan suaminya ini. Prempuan itu kembali fokus dengan masakannya, mencicipinya sesekali lalu menambahkan bumbu-bumbu yang terasa kurang. Dahi mulus Hyukjae berkerut, kemana suaminya itu? Ia tidak mendengar suara langkah kaki meninggalkan dapur tadi.
Hyukjae menolehkan kepalanya pelan kearah belakang, pipinya refleks bersemu ketika melihat Donghae tengah menatap intens dirinya seraya menyandarkan tubuhnya pada sisi meja. Hyukjae dengan cepat kembali berkutat dengan masakannya, diam-diam merutuk kenapa lelaki itu hanya berdiam diri dengan sangat tampan ketika Hyukjae melihat kearahnya tadi. Walaupun Hyukjae lebih merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya berbalik dan sempat terpaku memandang suaminya tadi.
Drrt Drrt
Hyukjae menoleh, handphonenya bergetar menandakan sebuah panggilan masuk. Ia mendesah kecil ketika kedua tangannya tengah sibuk, yang satu mengaduk dan satu tangannya lagi tengah memasukan bahan-bahan yang akan dimasak. Ia tak mungkin menunda masakannya dahulu, bisa-bisa masakannya kacau. Diam-diam ia berharap Donghae akan mengambil tindakan, tentu, selain ia satu-satunya orang yang ada di dapur selain Hyukjae, suaminya itu juga sudah biasa mengutak-atik handphone miliknya dan tak jarang pula mengangkat panggilan serta membaca pesan yang masuk ke ponsel Hyukjae.
Drrt Drrt
Perempuan itu mengigit bibir bawahnya pelan. Handphonenya itu terus bergetar dan suaminya pun hanya diam saja. Ia juga enggan untuk berteriak pada Donghae untuk mengangkat panggilan itu, sudah dikatakan jika Hyukjae merasa sedikit canggung dan berjarak dengan suaminya ini. Dengan terpaksa Hyukjae meletakan bahan masakan yang separuhnya belum dimasukan, tangannya bergerak meraih handphone itu dan-
- mata Hyukjae membulat ketika merasakan tangan sang suami menangkup diatas tangannya. Tubuhnya sedikit bergetar ketika tangan hangat suaminya itu bergerak mengelus pelan tangannya. Dan bola mata Hyukjae nyaris keluar ketika melihat Donghae menarik tangannya ke arah mulut lelaki itu. Ciuman lembut di punggung tangannya membuat nafas Hyukjae memendek. Hyukjae hanya bisa memandang sayu Donghae yang tengah mengusap-ngusapkan tangannya ke pipi lelaki itu seraya menutup matanya damai. Suaminya itu seolah terlalu menikmati tindakannya sendiri.
Hyukjae tercekat ketika sepasang mata Donghae terbuka dan menatap mata-nya intens, sungguh tatapan sayu Donghae membuat Hyukjae lemas. Tangannya yang lain bergerak meremas dress cream yang digunakannya ketika mendengar suara serak Donghae menyapa pendengarannya.
"Kau tak merindukanku, hm?"
.
.
.
Jari-jari lentik Hyukjae meremas pelan rambut brunette milik lelaki yang tengah menindihnya. Ia melenguh pelan ketika bibir bawahnya digigit cukup keras lalu dilumat lembut setelahnya. Jangan tanya apa yang terjadi karna Hyukjae juga masih linglung saat ini. Yang ia ingat hanya Donghae yang memainkan tangannya dengan lembut, menatapnya dengan mata sayu yang membuat sesuatu di dadanya berdebar, lalu Donghae tiba-tiba mengangkat tubuhnya, membawanya kedalam ciuman lembut hingga tak sadar jika suaminya itu membawanya ke kamar.
Dan disinilah Hyukjae, terbaring pasrah di atas ranjang dengan bibirnya yang ditawan oleh Donghae dan tubuhnya yang dikungkung lelaki yang sangat ia cintai itu. Yang Hyukjae pikirkan saat ini hanyalah rasa nikmat yang bersarang di bibirnya, bagaimana ketika bibir tipis Donghae melumat bibir atas dan bawahnya dengan lembut, dan ketika lidah panas suaminya itu mengajak lidahnya untuk bertarung. Begitu ia sangat merindukan suaminya ini, dan ciuman semacam ini, tentu Hyukjae sangat menyukainya. Hyukjae tak mempermasalahkan masakannya yang ia tinggalkan begitu saja, seingatnya tadi Donghae sempat mematikan kompor terlebih dahulu, itu juga jika Hyukjae tak salah.
Berbeda dengan Hyukjae yang terlihat sangat pasrah, Donghae terlihat sangat bersemangat melakukan semua aksinya. Bahkan ia terlalu menikmati, sungguh. Walaupun Donghae dan Hyukjae pernah beberapa kali berciuman akhir-akhir ini, namun semuanya berbeda. Lembut, tidak memaksa, dan sama-sama ingin. Tentu Donghae sangat-sangat menikmatinya. Bagaimana ketika bibir manis istrinya ia raup dengan rakus, bagaimana ketika lidah istrinya itu membiarkannya masuk untuk beradu. Dan bagaimana ketika rambutnya terasa ditarik lembut oleh jari-jari halus sang istri. Tentu ia sangat merasa intim dengan hal-hal tersebut belum lagi posisinya yang merapat dengan Hyukjae diatas tempat tidur. Rapat tanpa ada celah.
Donghae menggeram ditengah ciumannya ketika kaki Hyukjae bergerak melingkar di sekitar pinggangnya. Tentu saja hal itu membuat tubuh bagian depannya semakin merapat dengan tubuh sang istri. Lenguhan Donghae lolos ketika tangan-tangan halus Hyukjae yang sedari tadi bergerilya di rambutnya kini bergerak perlahan menuju tengkuknya, memijatnya pelan. Sedangkan Hyukjae sendiri juga hanya bisa menggeliat resah ketika tangan-tangan Donghae bergerak di sekitar pinggul rampingnya, mengelus dan meremas pelan bagian tersebut.
Nafas Donghae memburu ketika merasakan pergerakan tubuh Hyukjae yang semakin tak bisa diam. Tentulah adik kecilnya merasakan sesuatu ketika tubuhnya ditekan dari belakang oleh kaki Hyukjae yang melingkar erat di pinggangnya dan dihadapkan pada sesuatu yang tidak bisa diam. Istrinya ini memang tak salah diakui sebagai salah satu dancer handal, tentu saja tubuhnya sangat luwes untuk bergerak. Bahkan gerakan yang sebetulnya biasa saja bisa terlihat dan terasa sangat sexy sekaligus panas. Ah, Donghae jadi berpikir bagaimana jika istrinya menampilkan sexy dance untuknya? Ergh, dia bisa gila!
Deg!
Lumatan Donghae terhenti seketika. Walaupun begitu, bibirnya masih bersentuhan dengan bibir Hyukjae, membuat perempuan itu mengernyit bingung ketika hanya nafas memburu Donghae yang dapat ia rasakan. Hyukjae mendorong pelan bahu Donghae, semakin keheranan ketika ia melihat wajah tak fokus suaminya tersebut. Mata Donghae seolah memancarkan ketidak nyamanan, apa Hyukjae melakukan kesalahan?
"Kenapa?"
Mata Donghae berkedip, sepertinya lelaki itu benar-benar sedang melamun tadi. Tapi kenapa tiba-tiba? Baru saja beberapa detik matanya beradu dengan mata Donghae yang kembali membalikan fokus kearahnya, Hyukjae dibuat terkejut ketika suaminya itu mengarahkan kepalanya ke perpotongan leher Hyukjae, membuat perempuan itu bisa merasakan nafas panas Donghae yang masih terasa memburu walau tidak sehebat tadi. Perempuan yang masih dilanda kebingungan itu hanya bisa mengelus punggung lebar Donghae, berharap jika lelaki yang sudah menghentikan kegiatan manisnya secara tiba-tiba tadi mau menjawab pertanyaannya.
Tangan Donghae bergerak menyelinap ke bawah, membawa punggung Hyukjae naik supaya bisa ia dekap erat. Sedangkan wajahnya sudah tenggelam di atas kulit halus perpotongan leher sang istri, menempatkan ciuman yang cukup lama beberapa kali. Jangan tanya Hyukjae karna sudah jelas-jelas perempuan itu semakin dilanda kebingungan.
"Sebenarnya ada apa, Donghae-ah?"
"Aku, aku-"
Donghae berusaha bangkit namun usahanya gagal ketika kaki Hyukjae masih melingkar manis di pinggulnya dan jangan lupakan posisi Hyukjae yang tengah memeluk dirinya, begitupun Donghae yang belum melepaskan dekapannya pada tubuh Hyukjae. sebut saja jika Donghae sebenarnya mau tidak mau untuk beranjak dari posisi yang sangat nyaman bagi dirinya ini. Semenatara Donghae berkutat dengan pikirannya, Hyukjae masih memberikan tatapan super herannya kearah Donghae.
Tak biasanya Donghae bertingkah seperti ini. Menghentikan semuanya secara tiba-tiba bahkan disaat suaminya itu sudah mulai kehilangan kendali. Dan bahkan Hyukjae bersumpah jika saat tubuhnya dan Donghae menempel erat tadi, perempuan itu bisa merasakan sesuatu menyapa bagian tubuh miliknya walaupun memang tidak- belum benar-benar terasa. Suaminya ini termasuk tipe lelaki yang tergolong pervert, bahkan jika ia sudah memulai, ia bisa lupa akan segala hal. Dan lagi, Donghae merupakan tipe-tipe yang gampang terangsang. Tentulah hanya dengan godaan-godaan tubuh Hyukjae saja. Kembali ke topik, sebenarnya suaminya ini kenapa? Walaupun Donghae dan Hyukjae tidak sampai lupa dengan rasanya ciuman beberapa hari ini, namun yang barusan itu sudah Hyukjae anggap lebih dari sekedar ehm-bercumbu. Yang sudah jelas biasanya akan berlanjut ke sesi selanjutnya.
Biasanya.
Dipikir-pikir, kapan terakhir Donghae dan Hyukjae melakukan itu? Seingat Hyukjae sudah cukup lama mereka tidak melakukannya. Atau entah hanya perasaannya saja karna terlalu merindukan sang suami yang jarang menemaninya tidur akhir-akhir ini. Ah benar, mengingat suaminya yang jarang pulang untuk tidur dirumah sang eomma mertua membuat ingatan Hyukjae samar-samar terbuka. Hari dimana ia dan Donghae terakhir kali melakukan hal itu. Hari dimana keduanya mabuk berat setelah dengan sok-nya menghabiskan sebotol wine. Dan hari dimana ketika Donghae mengetahui siapa dirinya, mengetahui bagaimana Lee Hyukjae di masa lalu. Tentu, tentu Hyukjae ingat jika mereka melakukan hal 'itu' tanpa persiapan dimana ia menemukan dirinya sendiri di esok paginya dengan keadaan yang jauh dari kata baik. Apartementnya yang acak-acakan seperti bajunya yang sudah tidak berbentuk sebagaimana mestinya, merasakanya betapa ngilunya bagian bawah tubuhnya ketika samar-samar ingatan Donghae yang seperti orang kesatanan menyentuh tubuhnya dengan marah-marah dan sedikit melakukan kekerasan.
Hyukjae ingat semuanya.
Ingat betapa marahnya Donghae setelah mengetahui tentang masa lalunya tersebut. Dan seolah mendapat kesimpulan tentang sikap suaminya yang tidak seperti biasanya ini. Donghae terlihat seperti... enggan? Atau mungkin jijik untuk meneruskan kegiatannya pada tubuh Hyukjae. Tentu Hyukjae merasa sangat-sangat menjijikan ketika ia masih bisa terdiam pasrah di bawah kungkungan Donghae dengan ia yang sangat menikmati service dari suaminya dan bahkan berharap lebih.
Hyukjae menggigit bibir bawahnya gusar. Matanya tiba-tiba terasa memanas.
"Hiks,"
Donghae tersentak ketika mendengar suara isakan yang sudah tentu berasal dari perempuan yang berada dalam kungkungannya. Ia menatap kaget sang istri yang tengah menundukkan wajahnya. Lelaki ini menaruh kedua sisi tangannya di sisi sisi tubuh Hyukjae, menegakkannya supaya tidak menindih sang istri yang masih saja menuduk itu.
"Hei, kenapa?"
Hyukjae mengelak ketika Donghae berusaha menaikkan dagunya, ia tak mau suaminya itu melihat wajahnya yang sudah memerah. Dahi Donghae berkerut, tentu saja dia merasa khawatir kepada istrinya ini. Jelas sekali tadi dia mendengar Hyukjae terisak, siapa lagi di kamar ini selain mereka berdua? Dengan sedikit kesulitan Donghae kembali berusaha mengangkat dagu perempuan yang sangat ia cintai itu.
"Sayang, kau sebenarnya kenap- "
"Aku tau kau jijik padaku."
Mata Donghae membulat ketika mendengar ucapan Hyukjae. Apa katanya?
"Jijik? Apa maksudmu?"
Lelaki itu dibuat tersentak ketika ia berhasil mengangkat dagu Hyukjae. Kedua mata milik perempuan tersayangnya itu sudah basah. Jangan lupakan wajahnya yang perlahan berubah memerah, bibir bawahnya juga semakin terlihat merah dan tebal karna Hyukjae menggigit-nya- tentu selain efek kegiatan bercumbunya beberapa saat yang lalu bersama Donghae.
Bercumbu, ya.
Donghae ingat jika beberapa saat yang lalu ia dan istrinya itu tengah bercumbu panas dimana tiba-tiba semuanya terhenti begitu saja ditengah permainan. Dan Donghae yang menghentikannya. Ia menghela nafas gusar, sekelebat bayangan istrinya yang sebagai penari strip-tease dan dikerubungi banyak laki-laki tiba-tiba mengganggu pikirannya tadi. Walaupun Donghae sudah berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan selalu percaya pada istrinya, namun hal itu tetap saja masih sangat mengganggu-nya.
Deg!
Donghae kembali tersentak dengan pikirannya sendiri. Ia dengan cepat menundukkan wajahnya dan memandang sayu wajah Hyukjae. Seharusnya ia bisa mengontrol perilaku atau ucapannya. Perempuan di bawahnya ini tengah rapuh dan sensitif. Diam-diam Donghae merutuk dirinya sendiri. Harusnya ia bisa bertingkah sebagaimana biasanya dia saja, kenapa harus seperti ini, sih!
"Hiks, a-aku tau kau sebenarnya jijik dekat-dekat denganku apalagi untuk menyentuh tubuhku. A- aku, Hiks, ak-"
Semua ocehan Hyukjae terhenti begitu saja ketika bibir tipis Donghae dengan cepat membungkam bibirnya. Memberinya lumatan-lumatan pelan yang jujur saja membuat Hyukjae terbuai. Ia sempat ingin mengelak namun tubuhnya terasa sangat lemas. Suaminya ini memanjakan bibirnya terlalu lembut, tentu saja ciuman ini sangat berbeda dengan ciuman-cumbuan sebelumnya.
"Mianhae,"
Hyukjae rasanya ingin menangis kembali ketika mendengar Donghae berucap lirih dan dengan mata sayu menghanyutkan miliknya. Betapa Donghae benci dirinya sendiri saat ini. Disaat dia berusaha untuk membuat semuanya terlihat seperti baik-baik saja, namun tetap, hatinya tidak bisa berbohong jika ia masih sangat kecewa tentang hal itu. Lalu Donghae harus bagaimana? Berusaha untuk menghadapi masalah dan percaya pada istrinya sudah ia lakukan, namun kembali kepada masalah hati yang tidak bisa berbohong.
"Jeongmal Mianhae." Suara Donghae terdengar serak. Sebenarnya dia juga tak ingin dihadapkan dengan persoalan semacam ini. Namun bagaimana lagi, perempuan yang tengah bersimbah air mata dibawahnya ini adalah seseorang yang sangat ia cintai.
"H-harusnya aku yang berkata seperti itu-hiks, Donghae-ah."
Donghae berusaha keras mempertahankan ekspresinya. Dia termasuk tipe lelaki cengeng sebenarnya. Tentu melihat orang yang sangat ia kasihi tengah terisak hebat membuat hati kecilnya berdenyut.
Grep!
Raungan Hyukjae terdengar keras ketika Donghae menaruh tangannya di punggung Hyukjae dan menariknya keatas, membuat tubuh bagian depan Hyukjae menempel dengan tubuh Donghae. Lelaki itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hyukjae, menyembunyikan matanya yang perlahan berembun.
"Le-lepaskan saja aku, Dong-"
"Tidak, Hyukjae-ah. Jika aku mempunyai pikiran seperti itu aku, aku tidak akan melangkah sejauh ini. Lebih baik kita selalu bersama-sama, Hyukjae-ah. Aku yakin semuanya pasti akan baik-baik saja nanti, percayalah padaku. Kau mengerti?"
Hyukjae mengangguk ditengah tangisannya. Ucapan Donghae yang terlampau lembut dan dengan usapan tangannya di punggung Hyukjae membuat perempuan itu terbuai. Tentu ia sangat percaya pada suaminya ini. Bagaimanapun Donghae yang dia kenal selama ini adalah tipe lelaki yang sangat bertanggung jawab, maka dari itu Hyukjae sangat yakin jika ucapan Donghae sekarang pun bukan hanya bualan semata.
Dan waktu berikutnya hanya terisi oleh suara tangisan Hyukjae yang tak kunjung mereda, dengan tubuhnya yang didekap erat oleh sang suami yang masih betah menyembunyikan wajahnya di leher seputih susu itu, meresapi suara tangisan menyayat hati sang istri seraya menyembunyikan air matanya yang perlahan menetes. Membasahi leher terbuka itu.
Membuat si pemilik leher semakin terisak mengetahui suaminya tengah menangis karna dirinya.
.
.
.
Donghae mengusap wajahnya kasar. Pagi yang cerah namun semuanya terasa hampa tanpa kehadiran istri tercintanya. Sewaktu bangun tadi ia tak menemukan istrinya tersebut dimanapun dan ketika ia mengecek handphone-nya, sebuah pesan singkat dikirim Hyukjae jika ia ada kuliah pagi dan berangkat tanpa Donghae. Waktu sudah menujukkan pukul 08.30 dan 40 menit masih tersisa sebelum Donghae berangkat ke kampus.
Donghae mendudukan tubuhnya di meja makan. Menatap hidangan-hidangan yang kata bibi Jung selain dibuat olehnya, Hyukjae juga ikut membantu. Donghae tersenyum seraya mengunya nasi goreng kimchi yang Donghae tahu merupakan rasa masakan sang istri. Donghae tak ingat ia dan Hyukjae tidur selarut apa karna terlalu sibuk menangis. Yang Donghae tahu jika matanya pagi ini terlihat sedikit kurang begitu baik, entah bagaimana dengan keadaan mata istrinya yang menangis sangat hebat semalam. Ingat kan jika Donghae belum bertemu dengan istrinya pagi ini? Sebenarnya akan lebih bagus jika pagi ini ia melihat Hyukjae dulu sebelum perempuan itu berangkat kuliah, setidaknya memastikan keadaan istrinya itu baik-baik saja.
Kling
Donghae mendongak, suara bel yang terdengar membuat kunyahannya terhenti. Rumahnya sangat sepi sekali bahkan Donghae merasa menjadi manusia yang satu-satunya hidup disini. Bibi Jung sepertinya tengah sibuk di taman belakang, pelayan yang sangat dekat dengan eomma-nya itu memang diberi amanah khusus oleh Heechul untuk mengurus tanaman kesayangannya. Sedangkan eomma-nya sendiri, Donghae menebak jika eomma tersayangnya itu masih tidur. Donghae maklumi lah, toh eomma-nya itu memang sudah cukup berumur walaupun masih terlihat cantik. Hmm.
Kling
Donghae dengan terpaksa bangkit dan berjalan ke arah pintu. Orang tuanya memang tidak banyak memperkejakan pelayan, hanya bibi Jung dan paman Kang-supir pribadi Heechul serta beberapa satpam. Bukannya tidak mampu atau sayang uang, namun eomma-nya itu tipe yang sangat pemilih dan sedikit sulit untuk mudah percaya pada orang.
Cklek
"Maaf menganggu tuan, paket untuk anda."
Alis Donghae terangkat. "Paket? Untuk ku?" Kurir itu mengangguk seraya melihat kertas yang berisi data si penerima barang.
"Dengan tuan Lee Donghae?"
"Ya, itu aku."
Kurir itu menyerahkan amplop coklat berukuran cukup besar kepada Donghae. Dilihat dari luar, amplop itu terlihat tidak terisi barang atau semacamnya. Surat? File penting? Tapi Donghae bukanlah seorang CEO yang mangkir dari urusan kantor. Dia masih berstatus mahasiswa, jika ada hal penting bagaimanapun pihak universitas biasanya mengirim lewat email. Daripada berlama-lama berkutat dengan pikirannya, Donghae memilih untuk menerima paket tersebut dan menandatangi data yang menyatakan jika paket sudah sampai ke orang yang tepat.
Dahi Donghae berkerut ketika hanya sebuah kertas putih yang ia dapatkan dari dalam amplop tersebut. Apa ini memang paket untuknya?
Deg
Mata Donghae membulat ketika ia ia membalik kertas itu dan menemukan angka 86404 yang tercetak cukup besar. Pikirannya bergerak cepat, ini pasti salah satu paket yang dikirim Sooman. Donghae membalikan tubuhnya sekilas, memastikan jika ibunya masih berada di kamar. Tapi kenapa kali ini tua bangka itu hanya mengirim kertas saja? Donghae tak menemukan foto-foto atau hal apapun yang tertinggal di dalam amplop itu selain kertas itu. Namun beberapa saat kemudian matanya memicing ketika melihat deretan angka di pojok kiri bawah. Ditulis dengan ukuran tidak terlalu besar. Dengan cepat Donghae merogoh saku celananya, mengambil handphone-nya cepat. Ia membasahi bibirnya gusar ketika mengetik angka-angka itu di lahuar handphone-nya dan menekan tanda memanggil.
"Yeoboseo?"
Dahi Donghae berkerut. Suara laki-laki berumur yang menyambutnya.
"Lee Sooman-ssi."
Terdengar gelak tawa di sebrang sana. "Kau tau begitu cepat, anak muda. Bagus sekali,"
"Aku tak butuh basa-basimu. Sekarang katakan apa yang sebenarnya kau mau?"
"Istrimu. Istrimu yang kembali padaku lalu menari dengan sangat sexy dan menjadi tambang emasku, hanya itu."
Bibir Donghae bergemeletuk. Otot-otot tangannya mengeras. Sialan sekali tua bangka ini, berani-beraninya dia berbicara begitu tentang istrinya. "Keparat kau!"
"Ssssst. Jangan terlalu keras, anak muda. Bagaimana jika eomma-mu mendengar dan tahu semuanya, eoh?
Donghae refleks menoleh ke belakang dan mengatur nafasnya yang terasa memburu. Benar, dia tak boleh gegabah. "Jangan macam-macam. Jika yang kau butuhkan adalah uang, berapa yang kau butuhkan?" Suara gelak tawa kembali terdengar dari sebrang sana, membuat emosi Donghae kembali memuncak.
"Oh betapa beruntungnya anak emasku mendapatkan suami yang sangat baik sepertimu. Sebenarnya aku mau saja menerima tawaranmu, anak muda." Helaan nafas terdengar. "Tapi aku dan istrimu sudah membuat sebuah perjanjian yang cukup menggiurkan, jadi maaf saja."
Nafas Donghae memburu. Perjanjian dengan istrinya? Jangan katakan Hyukjae-tidak mungkin! "Perjanjian apa yang kau maksud?!"
"Sayang sekali aku tidak bisa mengatakannya. Hanya beharaplah semuanya akan baik-bauk saja, anak muda."
Bip!
"Ya! Yeoboseo? Ya!"
Baru saja Donghae akan menekan tombol panggil kembali namun gerakannya terhenti begitu saja ketika suara langkah kaki mendekat kearahnya.
"Ya! Kenapa kau berteriak-teriak di depan pintu seperti itu, Donghae-ah?"
Mata Donghae membulat. Dengan gesit amplop ditangannya ia sembunyikan.
"E-eoh, eomma sudah bangun?"
.
.
.
'I know you were, you were gonna come to me'
Alunan lagu dark horse milik Katy Perry dan Juicy J terdengar menggema. Disana, Hyukjae dengan pakaian santai dan sepatu sportnya itu tengah meliuk-liukan badan pelan.
'Make me your Aphrodite, make me your one and only'
Hyukjae berputar lalu meletakkan tangannya di pinggang rampingnya. Memajukan kaki kanannya lalu menggoyangkan sedikit tubuhnya seraya mengangkat tangan yang sedari tadi bertengger di pinggangnya naik secara perlahan dan Hyukjae membuat pose dengan jari telunjuk diletakkan diatas bibir lalu kembali maju menggerakan tubuhnya sesuai dengan alunan musik yang tengah diputar.
'Baby do you dare to do this? cause im coming at you like a dark horse'
Hyukjae menghentikan gerakannya secara tiba-tiba. Sejujurnya ia masih bingung dengan konsep seperti apa yang akan ia pakai untuk di lomba dance nanti. Dia tidak bisa main-main kali ini dan tentu saja ia harus serius mengingat hal apa yang ia dan Sooman sepakati. Tapi Hyukjae benar-benar bingung. Entah mungkin suasana hatinya yang tidak terlalu bagus, membuat ia kurang bersemangat kali ini.
'Are you ready for, ready for, a perfect storm, perfect storm'
Musik yang ia pilih setidaknya untuk latihan saat ini masih terdengar ketika suara seseorang terdengar dari arah belakangnya.
"Ah, jadi yang seperti ini konsepmu nanti?" Hyukjae tersentak, dengan cepat ia membalikan tubuhnya, dan dengan cepat juga mematikan tape yang berada beberapa kaki disebelahnya. Membuat lagu yang sedari tadi terdengar menggema kini lenyap.
Hening.
Walaupun Donghae-ya suaminya masuk dengan beberapa anggota klub dance yang lain, Hyukjae tak bohong jika suasananya terasa sangat hening saat ini. Ia memang menutup pintu ruang dance untuk membuatnya fokus dengan kegiatannya mencari gerakan untuk penampilannya nanti. karna Hyukjae mengira jika yang lain tidak akan memakai ruangan ini, toh ini masih terhitung pagi. Namun perkiraannya salah, buktinya beberapa anggota klub dance yang lain sudah berdiri di hadapannya, termasuk suaminya yang tadi sempat bertanya padanya. Untung Hyukjae tak kepikiran untuk mengunci ruangan ini tadi, tapi ia malu jugasih kepergok saat sedang berlatih dan bodohnya lagu yang ia pilih pun sudah diketahui oleh sebagian orang.
"Aku pikir lagu itu memang cocok untukmu,"
Hyukjae memutar bola matanya malas. Sedikit banyaknya ia merindukan suaminya itu. Ia tidak berbohong ketika mempunyai kelas pagi, tepatnya urusan dengan salah satu dosen. Ia juga enggan membangunkan Donghae yang tengah terlelap damai, namun untungnya Hyukjae menyempatkan untuk memasak sebelum beragkat. Ah iya, mata Donghae terlihat sedikit berbeda namun ia tetap terlihat tampan. Berbeda dengan mata miliknya, ia sudah mencoba mengompresnya tadi, namun tetap saja. Beberapa anggota klub dance mulai mencari spot yang menurut mereka nyaman. Walaupun sesekali perhatian mereka terarah kepada The King Of Dance dan The Queen Of Dance yang sepertinya tengah berbincang di tengah ruangan itu. Tentu ini merupakan momen langka, dimana beberapa orang mencoba mempasang-pasangkan mereka walaupun kedua orang ini sebenarnya terlihat tidak begitu dekat.
"Tidak ada masalah kan, Donghae-ssi?"
Ujar Hyukjae lalu tersenyum. Tak biasanya ia dan Donghae mengobrol di hadapan orang lain seperti ini di kampusnya. Dan Hyukjae cukup menikmati moment dimana walaupun ia dan Donghae berbincang, namun bertindak seperti orang yang asing satu sama lain. Hyukjae merasa tengah acting kkkk.
"Sebenarnya bagiku termasuk masalah yang cukup serius." Giliran Donghae yang tersenyum kecil ketika melihat alis Hyukjae terangkat. "Aku takut kau mengalahkan ku nanti. Bukankah itu ketakutan yang wajar ketika melihat salah satu lawan mu terlihat sangat baik?"
Hyukjae tergelak. Suaminya ini, dalam situasi apapun tetap saja bisa menggoda-nya. "Ah, tolong ingatkan aku jika aku sedang berbicara dengan seseorang yang mempunyai julukan The King Of Dance-nya kampus ini, tentu yang seharusnya takut adalah aku, Donghae-ssi."
"Dan tolong ingatkan aku juga jika aku tengah berhadapan dengan The Queen Of Dance-nya kampus ini. Oh, ketakutan ku semakin bertambah sepertinya."
Donghae dan Hyukjae tergelak bersama-sama lalu saling melemparkan senyum setelahnya. Sementara beberapa orang yang sedari tadi memperhatikan mereka dibuat melongo. Ada yang sudah memasang wajah gregetan malah. Oh, ayolah kedua orang yang termasuk dalam jajaran mahasiswa populer tengah berbincang asyik melemparkan kekaguman dan senyum satu sama lain. Apakah ini tanda-tanda awal jika Donghae dan Hyukjae shipper akan menemukan titik terang?
"Kau bisa saja, Donghae-ssi."
Donghae tersenyum kecil ketika satu ide terlintas di pikirannya. Hmm, sepertinya menarik. "Hyukjae-ssi, bagaimana jika kita buat taruhan?"
"Taruhan?"
"Taruhan siapa yang lebih unggul. Siapa diantara kita yang akan mendapatkan posisi yang lebih tinggi atau bahkan juara pertama. Maksudku di lomba dance nanti,"
Deg!
"Woah itu terdengar menarik!"
"Itu pasti sangat seru!"
"Hey, kau menjagokan siapa?"
Hyukjae menggigit bibir bawahnya gusar ketika mendengar bisikan-bisikan antusias dari beberapa orang yang Hyukjae tahu memperhatikannya dengan Donghae sedari tadi. Sementara Donghae tengah tersenyum dengan tampannya, pasti istrinya ini menerima tawarannya. Toh ia dan Hyujae biasanya sangat senang taruhan-taruhan kecil yang seperti ini. Tidak ada maksud apa-apa, hanya mengukur sejauh mana kemampuan masing-masing saja.
Taruhan kecil, ya?
Dahi Donghae sedikit berkerut ketika melihat Hyukjae nampak tengah berpikir dan terlihat, gelisah? Tak biasanya istrinya itu semacam takut dengan tawaran Donghae untuk hal yang seperti ini. Dan perlu kalian tahu, walaupun mereka suami istri yang saling mengasihi satu sama lain, namun mereka mempunyai komitmen jika dalam taruhan-taruhan seperti ini semuanyai harus berjalan fair. Tidak ada istilah 'karna aku terlalu mencintaimu jadi aku mengalah' semua berdasarkan kemampuan yang akan dikerahkan, dan walaupun mereka bersaing, tetap saja jika salah satu diantara mereka menang Hyukjae dan Donghae akan ikut merasa senang. Untuk apa merasa iri kepada pasangan sendiri?
"Hyukjae-ssi?"
Hyukjae yang sedari tadi berkutat dengan pikirannya tersentak. Ia kembali memandang kearah Donghae yang sepertinya tengah menunggu jawaban darinya. Sejenak pandangannya terarah kepada beberapa orang yang sepertinya tampak menunggu keputusannya juga. Hyukjae tak masalah sekalipun jika ia dalam situasi yang baik-baik saja. Tapi- masa ia menolak tawaran Donghae di hadapan orang-orang yang sepertinya terlihat sangat antusias itu? Hyukjae menghembuskan nafasnya pelan, meyakinkan dirinya sendiri jika semuanya akan baik-baik saja.
"Ne, aku terima tawaranmu, Donghae-ssi."
Suasana kembali ramai ketika Hyukjae mengangguk dan menyetujui tawaran Donghae. Woah sepertinya lomba dance kali ini akan sangat seru!
Donghae tersenyum lalu terkekeh kecil setelahnya. Istrinya ini memang pemberani. Lihat saja, Donghae akan berusaha keras kali ini. Dua kali berturut-turut dikalahkan istrinya sendiri membuat semangatnya terpacu, Donghae baru bisa mengalahkan Hyukjae kembali di lomba dance yang dilaksanakan beberapa bulan lalu. Tentu ia akan menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Walaupun ia tidak terlalu mengejar hadiah atau peringkat, namun tentu saja memenangkan sebuah kompetisi merupakan perasaan yang menyenangkan. Terlebih kemenangan itu bisa ia gunakan untuk meminta 'sesuatu' yang lebih kepada Hyukjae. Ingatlah jika di setiap taruhan ada hal-hal yang ditetapkan sebagai hadiah? Kkkk Donghae tak sabar.
Ruangan tak terlalu luas itu kini ramai oleh orang-orang yang kembali berbincang dengan topik rata-rata 'kau menjagokan siapa?' sedangkan si penawar taruhan tengah tersenyum seperti orang gila dan sibuk dengan pikirannya. Mereka semua terlalu sibuk, mengabaikan raut wajah Hyukjae yang terlihat sangat pias. Sekelebat ingatannya tentang perjanjian antara ia dan Sooman terlintas.
'Kau akan benar-benar menjadi lawan terberatku, Donghae-ah.'
.
Haaaaaaaallloooooo guys! udah lama banget ya, author kurang ajar emang gini. Sorry ya ;_; ini dimulai pas buka buka lagi akun ffn dan ngecheck She's My Wife yang terakhir update sekitar setahun yang lalu. Seketika ngerasa jahat apalagi liat kotak review yang minta pada lanjut. Yang tadinya niat ngheapus ini cerita sirna gitu aja, serius guys tanpa kalian mungkin gak bakal ada feels buat lanjutin ini ff. Lots of love for you, my beloved readers! sebelumnya sorry banget buat yang udah nungguin lama, dan masih nunggu ff ini. Gak janji buat update kilat tapi author janji bakal sempetin update ditengah gempuran kelas 12 dan gak bakal sampe sengaret yang sebelum-sebelumnya. Dipikir-pikir juga kalo ff ini cepet selsai pasti rasanya plong banget dan gak ada istilah gantungin reders lagi, emang gak tenang sih berasa dikejar sesuatu gitu lol. So, author bakal berusaha keras mulai sekarang kkk. Cukup buat cuap-cuap gak pentingnya, buat yang udah review dan aku gak sebutin bukan berarti aku gak baca review kalian ya. Tahu kok siapa-siapa aja yang suka dan rajin review. Pokoknya thanksssssssss banget dan semoga kalian masih mau buat review. Love Love! 3 (and sorry for some typos)
Last,
Mind to Review?
