Captivated

.

Chapter 11
— Boy In Luv —

.

© Alestie

.

.

Why do I care so much about you?

.

.


Story:

.

"Selamat sore, Sunsaengnim. Maaf mengganggumu di waktu seperti ini."

"Jungkook-ah?"

Kedua mata Seokjin membulat dengan binar terang ketika membuka pintu rumahnya, setengah terkejut. Senyumnya merekah lebar, menyaksikan siswa kebanggaannya tengah berdiri di ambang pintunya walau hari sudah beranjak petang. Namja yang disebut hanya mengangguk sopan sembari menyunggingkan senyum separuh yang canggung. Masih berseragam lengkap dan menggendong ransel gemuknya di balik punggung.

Akan tetapi, sudut bibir Seokjin lekas turun ketika menyadari ada yang janggal dari Jungkook saat ini. Samar-samar, Seokjin dapat melihat obsidian kembar siswanya yang selalu nampak sempurna, kini keruh dan memerah. Sembab.

Seokjin tahu bahwa Jungkook dipanggil BP hari ini karena memukul seniornya tanpa alasan yang argumentatif. Hatinya mencelos mendengar kabar yang begitu di luar sangkaannya. Jeon Jungkook, siswa teladan keemasannya, berkelahi seperti berandalan sekolah di kantin dan menolak untuk minta maaf. Langkah Seokjin sudah menderap secepatnya (bahkan ia meninggalkan kelas mengajarnya), namun betapa terkejutnya karena yang tertangkap di bola matanya adalah Kim Taehyung, dengan raut hancur dan menyedihkan yang sama persis seperti bagaimana Seokjin melihatnya satu tahun silam.

Mengurungkan segenap tanda tanya yang berkecamuk dalam nalarnya, Seokjin kembali mengukir senyum, alisnya melunak. "Di luar dingin, masuklah untuk secangkir teh hangat."

Jeon Jungkook adalah sosok yang tangguh—begitulah selama ini Seokjin menilainya. Posturnya yang tegap dan kokoh, perangainya yang kuat dan berwibawa, cara berpikirnya yang cerdik, kekayaan materi dan keluarga yang tinggi bermartabat. Kesempurnaan adalah esensinya; seolah terlahir untuk menjadi nomor satu dan selalu memimpin, Jungkook nyaris tak memiliki kelemahan. Ia mampu berdiri sendiri, menguasai tahta dan memerintah; dan Seokjin pikir, Jeon Jungkook sama sekali tak membutuhkan perlindungan.

Tetapi segala yang memancar di kilat netra Taehyung setiap memandang sosok Jungkook selama ini, membuat Seokjin senantiasa menyangsikan perspektifnya. Tatapan kecemasan, kecemasan, dan hanya kecemasan—murni sebuah kecemasan dan rasa takut yang begitu sukar untuk dimaknai. Dan bagaimana Kim Taehyung selalu menjadi tamengnya, berusaha melindunginya, nampak begitu kokoh walau Seokjin tahu betapa rapuhnya Taehyung sesungguhnya selama ini.

Seokjin selalu berpikir jika Taehyung lah alasan mengapa Jungkook harus dilindungi. Tetapi bahkan setiap kali Seokjin tanpa sengaja menangkap bola mata Jungkook yang melirik ke luar jendela, binar sendu yang membulat seperti menelan rindu, dan menyaksikan bahwa Kim Taehyung lah pusat segenap sangkar kecilnya—hari itu, Seokjin sadar bahwa pandangannya selama ini salah. Tentang Taehyung yang menghancurkan Jungkook, tentang Jungkook yang tersiksa dengan belenggu Taehyung, tentang siswa berandalan yang membenci murid teladan.

Salah.

Semua itu salah, dan kini Seokjin dapat melihat segalanya dengan jelas walau tanpa setitikpun penjelasan.

Lagi-lagi, Seokjin menunjukkan senyum lebarnya, "Akhirnya kau mampir juga ke rumahku, Jungkook-ah. Kau tidak tahu seberapa aku menantikanmu untuk datang suatu hari; dan berhenti menganggapku tak lebih dari sesosok guru," ada tawa kecil dalam ucapan Seokjin, mengundang senyuman pula di bibir siswanya, "Jangan terlalu kaku, oke? Panggil saja 'Hyung' di luar sekolah. Aku bukan penggemar panggilan 'Sunsaengnim', kalau boleh jujur." Celotehnya sembari meletakkan secangkir ginger tea di hadapan Jungkook.

"Oke, 'Hyung'," Jungkook mengangguk-angguk dengan cengiran tipis, menggumamkan terima kasih dengan santun. Matanya mengikuti langkah Seokjin yang kini beralih untuk duduk tepat di sampingnya.

Dengan halus, Seokjin menepuk pundak Jungkook. "Aku selalu bangga padamu, kau tahu?" ucapnya tulus, "Semenjak keluar dari klub sepakbola, akademikmu semakin membaik. Semua guru berdecak kagum dan membicarakan prestasimu setiap saat. Kepala sekolah mengandalkanmu. Kau seperti jantung akademi; tidak pernah mengecewakan sekolah." Sanjungan Seokjin membuat Jungkook menggigit lidahnya, merasa tak nyaman.

Menyaksikan tak ada respon berarti dari Jungkook, Seokjin menghela napas pelan, "Jadi, apa yang ingin murid kesayanganku diskusikan di sore hari seperti ini?" tanyanya kembali ke topik semula.

Wajah Jungkook seketika terangkat, keningnya mengerut samar, "Taehyung-hyung," sahutnya cepat nyaris tanpa jeda, "Sungsaeng—Hyung," ralat Jungkook segera, "Hyung tahu sesuatu, 'kan? Tentang Kim Taehyung, tentang abangnya—apapun."

Karena Yoongi sepenuhnya tutup mulut, sehingga Jungkook akan mencari apa yang ingin diketahuinya dengan caranya sendiri. Ia lelah pura-pura tidak peduli, ia lelah menggantungkan pertanyaan yang sama setiap harinya, menggelayutkan resah di setiap petang dan mengusik tidurnya. Jungkook lelah menjadi orang yang tak mengetahui apapun.

Bahkan senyuman yang terukir di bibir Seokjin tampak begitu palsu. "—Byun Baekhyun?" ungkapnya mengonfirmasi, mendapat anggukan sepintas dari Jungkook dan binar penuh harap.

Nama itu membuat telinga Jungkook berdenyut gusar. Ada nyeri ketika sepotong masa lalu Taehyung memaksa nalarnya untuk mencari jawaban. Jungkook ingin menghargai Taehyung dan segenap privasinya, tak ingin menanyakan apapun yang bukan urusannya dan menghidupi kepentingannya sendiri tanpa ikut campur dengan apa yang Taehyung sembunyikan darinya.

Tetapi segalanya tak lagi sama. Argumennya untuk menghormati Taehyung telah runtuh ketika ia menyadari bahwa selama ini hanya rasa takut—hanya rasa takut yang menyergap sesak napasnya sebab terlalu gentar untuk mengetahui kenyataan di balik segalanya.

Kali ini, Jungkook ingin berhenti bersembunyi dan berdalih. Sebab jika Taehyung tak akan menghampirinya, jika Taehyung bersikeras untuk tetap kabur darinya; maka Jungkook yang akan berlari untuk meraihnya lalu tak akan melepaskannya lagi.

Sebab Jungkook adalah puing-puing semenjak Taehyung pergi meninggalkannya, membuatnya mati-matian membenci sosoknya untuk kemudian kembali lagi mendambakannya; walau puluhan hari silih berganti berusaha memudarkan rasa cintanya.

Menyaksikan tatapan Seokjin yang penuh kebimbangan, Jungkook berucap pelan, "Seseorang harus menolongnya," tandasnya tak menentu. "Taehyung sedang menggapai-gapai meminta pertolongan—dan aku yang akan menolongnya." Obsidian indahnya penuh determinasi, membuat jantung Seokjin seperti teremas karena ketulusan yang begitu menyentuh sanubarinya.

"Jungkook-ah," suara Seokjin terseret dengan senyum getir, mengelus lengan siswanya tentatif. "Kau benar-benar menyayangi Taehyung-ah, hm?" imbuhnya retorik, menyaksikan dengan jelas bagaimana kedua pipi Jungkook yang bersemu samar karena pernyataan gamblangnya.

Jungkook tidak menyahut; ia hanya meraih secangkir teh suguhan Seokjin dan menyeruputnya sedikit. Berusaha menghilangkan kegugupannya.

"Baekhyun-ah…, satu tingkat di atas Tae," Seokjin memulai, kedua tangannya bertaut, "Cerdas kognitifnya luar biasa; sepertimu, Jungkook-ah. Dia sering bermain kemari dulu, bersama Taehyung-ah. Makanya kami akrab," renungnya menerawang. "Taehyung overprotektif pada abangnya. Kupikir memang begitu tabiatnya."

Jungkook menggigit bibir bawahnya, dengan seksama mendengar kisah Seokjin. "Tapi ternyata bukan itu. Ada sesuatu yang lebih dari itu." Intonasi Seokjin turun satu oktaf, kemudian menarik napas panjang yang bergetar, "…dan begitu mengetahuinya, segalanya telah terlambat." Timpalnya getir, "Kami memutuskan untuk tak akan pernah membicarakannya lagi. Pihak sekolah menutupi segalanya atas permintaan keluarga yang bersangkutan. Hingga saat ini."

Kening Jungkook mengerut, "Apa—apa yang terjadi, Hyung?" desaknya tak mengerti.

Seokjin menoleh ke arah siswanya, membiarkan hening menyelubungi udara yang tegang lalu tersenyum pahit. Ada penyesalan dan rasa sakit dalam binar bola mata Seokjin, dan Jungkook dapat menyaksikan raut kelam gurunya. Entah kenapa, mendadak kedua lututnya terasa lemas.

Ucapan Seokjin seperti mengeja, "Komatose," dan sebelum Jungkook sempat memproses kinerja nalarnya, Seokjin menambahkan. "Percobaan bunuh diri. Melompat dari balkon lantai empat. Di depan mata Taehyung."

Napas Jungkook seakan teraup habis ketika Seokjin menyelesaikan penjelasan singkatnya dengan senyuman yang sama,

"—apa Taehyung pernah bercerita padamu jika ia tidak suka ketinggian? Itu penyebabnya."

ェェェェ

Jungkook begitu ingin menemukan Taehyung dan mendekapnya; mengajaknya duduk berhadapan dan berbicara. Tetapi betapa bodohnya karena Jungkook bahkan tak tahu dimana Taehyung tinggal selama ini; dimana namja itu menghabiskan setiap malamnya; bagaimana namja itu bertahan hidup, dan bagaimana cara hidupnya menghancurkan dirinya sendiri. Isi kepalanya mendung oleh spekulasi. Otaknya terlampau nyeri untuk terus memikirkan alasan mengapa Taehyung pergi meninggalkannya.

Semula Jungkook berpikir apabila Taehyung sungguh-sungguh membencinya, tak menginginkannya dan menganggapnya tak lebih dari serangga mengganggu. Semula Jungkook berpikir jika Taehyung takut untuk terlalu dekat dengannya sebab kondisi tubuhnya—jantungnya, yang lemah dan rentan. Tetapi segenap kelembutan dan ketulusan yang tercurah dalam setiap bisikan Taehyung yang mengenyuhkan, setiap sentuhan penuh kehati-hatiannya; segalanya menghancurkan teori dan seutuh persepsinya. Kim Taehyung layaknya sebuah teka-teki yang begitu rumit untuk dipecahkan, sulit ditebak kemana jalur pikirannya, namun terkadang begitu polos dan sederhana.

Bertanya pada Yoongi, mustahil.

Maka Jungkook menekan nomor kontak di ponselnya penuh harap; mendengar nada tersambung yang berdengung putus-putus sembari menggigit bibirnya gusar.

Dan ketika mendengar ujung seberang menerima panggilannya, Jungkook menyahut cepat.

"—Hyung, bisakah kita bertemu sekarang?"

ェェェェ

Sebelah alis Jungkook terangkat ketika melihat gelas colada berisi cairan berwarna merah tipis disuguhkan kepadanya. Matanya hanya terpatri beberapa saat ke minuman di depan matanya, meragu, kemudian menatap namja di sampingnya dan menggeleng sopan.

"Seville Sangria," dikte namja itu setengah terkekeh. "Non-alkohol, cium saja aromanya."

Jungkook terdiam sejenak; berkontemplasi sekali lagi. Ia memang tidak mengendus aroma tajam dari alkohol; hanya wangi elegan buah yang menyegarkan. Jemari Jungkook menahan stem colada-nya sesaat, sebelum mengangkatnya mendekati bibir untuk sedikit menyesapnya.

Mata Jungkook membulat, "…mocktail?" terkanya gamang. Ia dapat merasakan manis glukosa yang tertinggal di pangkal lidahnya, sedikit meletup menyenangkan. Sensasi cita rasa alami tanpa pahit bahan sintetis dan kadar fruktosa yang rendah. Jungkook pernah membaca soal minuman jenis ini beberapa kali.

"Bingo," namja itu mengangguk mantap, "Sangria—salah satu favorit Taehyung yang selalu kujaga stoknya. Rasanya mirip red wine, karena komposisinya hampir serupa. Anggur merah, seperti Merlot atau Pinot Noir." Suaranya meredup, namun senyum masih tersungging di bibirnya. "Taehyung suka mocktail. Walau aku tahu dia sesekali menyampurkan vodka di dalamnya." Tawa kecil terselip dari kerongkongannya, ceria.

Ada hangat menjalari denyut nadinya tatkala Jungkook mengetahui sepotong detil tentang Taehyung yang selama ini tak diketahuinya. Ia hanya menunduk dan meresapinya; karena tak ada apapun yang dipahaminya soal Kim Taehyung, nyaris sama sekali.

"Rumah Min Yoongi," wajah Jungkook terangkat ketika melihat sebuah lipatan kertas di sodorkan kepadanya, membuatnya mengerjap beberapa kali. Namja itu tertawa geli, "Taehyung-ah tinggal di rumah si Ketua OSIS. Apa dia tidak pernah memberitahumu?"

Jungkook menggeleng kecil. Walau tak ada nada mencemooh dalam ucapan lawan bicaranya, Jungkook merasa ciut mendengarnya.

"Bukan salahmu, bocah itu tidak suka bercerita tentang dirinya sendiri," belaian singkat di punggungnya menyemangati, lembut dan menenangkan, "Taehyung mulai tinggal di rumah Yoongi semenjak—yah, setelah banyak hal terjadi. Sekitar satu tahun lalu, mungkin. Saat itu Taehyung benar-benar seperti tidak peduli dengan apapun lagi; dan Yoongi-ya, teman masa kecilnya sejak di Daegu, akhirnya menampungnya." Ia menatap lurus dengan tatapan menerawang. "Well, walaupun Yoongi seringkali meneleponku malam-malam menanyakan Taehyung ada dimana. Dia jarang pulang, entah menginap atau mengelayap kemana," ujarnya mengedikkan bahu ringan.

Jungkook hanya mengangguk-angguk. Menerima begitu banyak informasi hanya dalam satu malam saja membuatnya mengutuk dirinya sendiri. Mengapa selama ini ia menunggu begitu lama hanya untuk dapat memberanikan diri dan bertanya pada semua orang?

"Jungkook-ah," namja itu menjeda, "Taehyung menyukaimu, dan bagaimanapun dia berusaha menutupinya; ia begitu transparan," napas Jungkook seolah tercekat, kedua obsidiannya membulat dan mulutnya terasa kering. Tak satupun kata tumpah dari bibir Jungkook, sehingga namja itu melanjutkan ucapannya sembari tersenyum dan memandang kosong ke sudut ruangan, "Kawanmu yang pendek itu, siapa namanya?"

Kepalan tangan Jungkook mengencang, ia mengerutkan kening. "…Jimin?"

"Ah, ya, Park Jimin," namja itu menjentikkan jarinya, "Aku sering melihatnya berjalan pulang dengan Yoongi-ya belakangan ini. Aku tidak tahu banyak hal tentang Taehyung; tapi temanmu itu, mungkin tahu sesuatu," ungkapnya lalu menimpali, "—karena Park Jimin yang pertama kali menelepon Taehyung saat kau diseret BP siang tadi."

Cengkeraman jemari Jungkook pada stem gelasnya menguat, nyaris gemetar. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus dirasakannya. Merasa marah? Terkhianati? Jimin dan Yoongi telah memainkan sesuatu di belakangnya—dan bahkan Jungkook terlalu sibuk memendam perasaannya sendiri untuk menyadari gelagat janggal kawan terbaiknya.

"Taehyung tidak sekuat yang kau kira, Jungkook-ah," katanya seperti merenung, "Akhir-akhir ini, dia beberapa kali tiba-tiba limbung; mengeluh sakit kepala dan mual. Aku begitu mencemaskannya; tapi Taehyung selalu tertawa dan mengataiku berlebihan."

Jungkook mengangkat wajahnya, "…Taehyung-hyung… sakit?"

"Mungkin, tapi dia tidak cerita apapun," jawaban itu membuat hati Jungkook seakan teremas. "Kupikir kau lebih tahu karena kalian sering terlihat bersama. Tapi semua ini begitu tipikal Kim Taehyung. Mungkin dia terlalu menyayangimu dan tidak ingin membuatmu khawatir juga. Aish, bocah itu seperti opera sabun saja," kekehan terlepas dari bibirnya, namun sorot matanya sendu, "Kau luar biasa, Jungkook-ah. Taehyung sangat membingungkan; tapi sekarang kau di sini masih berusaha meraihnya. Kau bisa mempercayainya walau ia tak pernah mengatakan apapun. Aku—aku bersyukur ada orang yang dapat memahaminya, menerimanya dengan begitu sederhana sepertimu. Jangan menyerah, oke? Taehyung keras kepala; tapi dia membutuhkanmu. Dia memang terlihat jahat—tapi kau tahu dia tidak begitu, 'kan?" Penuturan itu begitu tulus; menelaga begitu saja dengan halus dan tenang.

Mendengarnya, Jungkook tersenyum samar. Pandangan matanya mengamati colada di genggamannya; menikmati bagaimana es batu berdenting menabrak dinding gelas dengan lembut. Ia menghela napas pelan.

"Hoseok-hyung,"

"Hm?"

"Kau menyukai Taehyung-hyung, 'kan?"

Hening menerpa ruang apartemen yang sempit. Jungkook masih mengulum senyum sembari memainkan gelasnya, sesungguhnya tak menunggu jawaban.

Lalu Hoseok tertawa hambar, "Sialnya iya."

Tak ada kecanggungan, pengakuan itu terasa begitu wajar dan tak ada satupun dari mereka yang mempermasalahkannya. Senyap mendera keduanya; namun sunyi ini terasa nyaman. Karena Jungkook dapat dengan jelas melihat tatapan mendamba yang membuncah setiap kali Hoseok mengisahkan setiap detil mengenai Taehyung; suara lembut bergetarnya setiap kali menyebut nama Taehyung; bahkan sorot mata yang telah terlalu lama memendam ungkapan cinta yang tak pernah terurai. Yang nyaris begitu serupa seperti bagaimana Jungkook melihat sorot matanya sendiri ketika bercermin setiap harinya.

Karena Jungkook tahu persis bagaimana rasanya memiliki getar cinta yang tak pernah terbalas. Dan begitulah Jungkook melihat ekspresi Hoseok yang bergerut keruh setiap Taehyung berada di sisinya selama ini.

Tetapi siapa manusia untuk dapat mengutuk perasaan yang menyemai dalam hatinya, dengan tanpa izin dan kurang ajar, kemudian mengajari kebahagiaan sederhana yang tanpa syarat; dan memahamkan kepadanya apa itu rasa sakit dan kesendirian yang sesungguhnya?

Kim Taehyung adalah rasa sakit terbesarnya, namun juga satu-satunya tambat hati dan imun yang tak satupun dapat menggantikannya.

Karena itu, Jungkook kemudian menegak Sangrianya habis, dan membiarkan Hoseok menuangkan kembali gelasnya hingga penuh.

"Wajah beringasnya seksi," tiba-tiba Jungkook berucap dengan separuh terkekeh, "Matanya tajam dan menakutkan; tapi seksi. Posturnya ramping dan kulitnya tan; seksi. Dia tampak keren mengenakan baju apapun. Selalu seksi." Ungkapnya seperti mabuk; baru kali ini mengakui segalanya dengan begini gamblang.

"Dan tato brengseknya," timpal Hoseok seraya menegak pilsener berisi Bloody Mary-nya rakus, "Kau harus melihat dia topless, demi apapun," Hoseok menggeleng dengan geraman tertahan, menggambarkan visualisasinya. "Namjoon yang mengukir tato Taehyung, astaga—dia jenius."

Tiba-tiba Jungkook merasa kerongkongannya panas, bibirnya kering. "Lalu suara seraknya," entah kenapa, perbincangan tanpa arah ini membuat mulutnya bekerja seperti reflek, "Rambut oranye bodohnya; aroma sampo bodohnya; dan parfum maskulin bodohnya."

"Sifat solidernya yang membuat orang salah paham," tukas Hoseok yang membuat Jungkook mengangguk-angguk setuju, "Lalu gaya cueknya yang sok misterius. Apa-apaan," celanya lalu mendengus, "—saat dia bilang ingin memasang labret di bibirnya; aku memarahinya habis-habisan. Terlalu seksi, dasar bajingan seksi." Bahkan Hoseok sekalipun, tak pernah secara terang-terangan memuja kawannya seperti ini. Namun semua ini, walaupun terdengar salah, tak ada dari satu pun mereka yang mempedulikannya.

"Dia itu kriminal," Jungkook mendesah frustasi, "Bahkan wajahnya saat bonyok dan berdarah pun seksi. Nada memerintahnya yang menyebalkan dan mendominasi. Itu juga seksi."

Hoseok nyaris mengerang sambil meremas pilsenernya, "Kim Taehyung sialan."

Jungkook mengangguk, "Kim Taehyung sialan," ulangnya setuju.

Kemudian, tawa keduanya tiba-tiba pecah dan membahana; memenuhi ruangan yang tadinya sunyi menjadi penuh gema. Mereka tenggelam dalam pingkal tawa tanpa sungguh-sungguh tahu apa yang sebenarnya lucu. Karena keduanya hanya lelah; penat. Dan ketika menyadari betapa menggelikannya ternyata mereka telah terjerumus dalam pesona Taehyung, menyadari seberapa terlambatnya untuk mengubur dan membuang rasa yang telah terlanjur terukir terlalu dalam; keduanya hanya menertawai dirinya sendiri, merasa tolol, bodoh, dan menyedihkan.

"Jungkook-ah, berjanjilah padaku kau akan menolongnya, oke? Ini sungguh sesuatu yang tak pantas untuk diucapkan oleh seorang senior, tapi aku tahu aku bisa mengandalkanmu soal si brengsek yang satu itu," Hoseok tersenyum lebar sembari mengacungkan gelasnya mendekat ke gelas Jungkook, "—cheers untuk si Bangsat Kim Taehyung yang sukses membuat kita terdengar seperti cewek kasmaran yang menjijikkan." Tandasnya terkekeh geli.

Jungkook tertawa mendengar gurauan Hoseok.

Bingkai colada-nya membentur lembut puncak pilsener Hoseok; menimbulkan suara denting yang menggaung.

"—untuk si Bangsat Kim Taehyung."

ェェェェ

Keesokan harinya, seolah sudah mengetahui raut berbeda dari sahabatnya, Jimin hanya mengangkat wajah dengan senyum separuh ketika Jungkook menahannya seusai pulang sekolah. Keadaan kelas telah lama sepi, dan keduanya telah terdiam dalam posisi yang tak berubah untuk waktu yang cukup lama. Jungkook yang berdiri di ambang pintu menatap Jimin, dan Jimin yang tersenyum penuh arti tanpa mengucapkan apapun.

"Hei, Kawan, bisakah kau minggir? Yoongi-hyung menungguku di gerbang," tukas namja yang lebih pendek dengan santai.

"Sejak kapan kau dekat dengan Yoongi-hyung?" Jungkook bertanya dengan intonasi mendesak, namun tidak cukup tega untuk mengintimidasi, karena Jimin adalah sahabat terbaiknya. Walaupun Jimin telah bersekongkol di balik sepengetahuannya, Jungkook tahu bahwa Jimin selalu peduli padanya, dan ia selalu memiliki alasan. Oleh karena itu, Jungkook hanya menghela napas panjang, "Ayolah, Jim, bisakah kau berhenti berpura-pura? Ini konyol."

Jimin tak sedetikpun melepaskan senyuman dari bibirnya, "Kau tidak ada di situ, oke?" tiba-tiba, Jimin terkekeh, membuat Jungkook mengernyitkan kening tak mengerti. Lalu Jimin kembali berkata tanpa melihat ke bola mata sahabatnya, "Aku sedang bicara sendiri, Jeon Jungkook tidak ada di sini." Ulangnya sekali lagi penuh penekanan.

Memahami implikasi dalam bicara Jimin, Jungkook menajamkan pendengarannya, mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Jimin menarik napas lirih, lalu membuangnya kasar, "Semenjak dua bulan lalu, ada sunbae menyebalkan yang memintaku 'menguntit' sahabatku sendiri, gila sekali. Dia memintaku mengabari setiap kejadian kecil soal sahabatku; absensinya, hal-hal yang mengganggunya, dan kondisinya secara umum. Itu sangat merepotkan, astaga. Jika bukan karena Yoongi-hyung yang memintanya, mana sudi aku," Jimin menggelengkan kepalanya sambil berdecak, sibuk dengan dirinya sendiri. "Sebulan lalu, tiba-tiba Yoongi-hyung meneleponku dan memintaku datang ke salah satu bangsal rumah sakit; ternyata orang itu tengah berbaring rawat inap di sana. Dia sangat tidak betah dengan aroma antiseptik dan hidup dalam kurungan, jadi walaupun belum sepenuhnya pulih, orang itu sudah check-out di hari ketiga."

Dengan langkah lebar, Jimin berjalan melewati Jungkook dengan menubruk bahunya ringan. Ia berbisik sebelum berlalu,

"Pusat Medis Asan, Poongnap-dong," ejanya sembari menepuk pundak Jungkook sekali, "Semoga berhasil, Jungkookie."

ェェェェ

Lalu dengan langkah cepat dan lebar, napas terengah dan memburu, Jungkook membuka pintu dan memasuki bangunan kecil kumuh dengan begitu banyak sisa memori yang tak akan bisa dilupakannya.

"Ah, Jungkook-ssi! Kau sendiri? Dimana Taehyung-ah?"

Parlor Kim Namjoon.

Jungkook memberikan senyum simpul dan mengangguk sopan, "Aku sendiri, Namjoon-ssi. Maaf, tapi aku sedikit terburu-buru," dengan sigap, Jungkook menarik salah satu kursi tinggi di depan konter bar Namjoon dan duduk di atasnya. Ia sedikit mencondongkan tubuh dan menemukan Namjoon yang menaikkan sebelah alis skeptis ke arahnya, "…uh, bisakah kau meretas situs instansi swasta untukku?"

"Tidak," jawaban Namjoon begitu mantap dan segera, mengalihkan tatapan matanya dari Jungkook dan kembali sibuk mengelapi gelas-gelas minuman yang berderet di hadapannya. "Aku tidak menerima pelanggan dadakan, Jungkook-ssi. Kecuali Taehyung-ah dan wanita seksi."

Ucapan Namjoon nyaris membuat Jungkook tercengang. Betapa berbedanya Namjoon tatkala Taehyung ada di sampingnya dan ketika nihil, betapa berbedanya cara memandang, cara bicara, bahkan tatapan matanya. Hatinya bagai mencelos, gagal mengenali sosok kawan baik Taehyung yang kini tampak begitu berbeda di hadapannya. Kegamangan merasuki jantungnya; menyadari bahwa sepotong dunia ini bukanlah miliknya. Dunia bawah tanah adalah milik Taehyung, dan Jungkook tidak tahu cara melakukan semua ini tanpa Taehyung yang memimpin setiap jalurnya.

Jungkook menggigit bibir bawahnya kalut, merogoh sesuatu dari ranselnya dan meletakkannya di atas konter. Kartu debit.

"Aku bisa membayar, Namjoon-ssi," kilahnya belum menyerah.

"Aku tidak melayani bocah ingusan SMA, Jungkook-ssi," Namjoon menghela napas pendek, tak ada seulaspun senyum di bibirnya. "Kecuali Taehyung-ah."

Kemudian terdiam. Segenap titah kata Namjoon membuatnya bungkam, terpasung tanpa kata. Semua ini membuat Jungkook bertanya-tanya.

Mengapa ia harus begitu peduli dengan Taehyung? Mengapa Taehyung harus membuatnya berjuang seorang diri? Semua ini tidak masuk akal; seharusnya bukan begini 'cinta' sesungguhnya bekerja. Jika memang benar Taehyung membagi rasa yang sama dengannya, bagaimana bisa segalanya tak kunjung mencapai titik temu? Mengapa segalanya begitu sulit dan Taehyung tak juga datang menolongnya sekali lagi? Sebenarnya pantaskah Taehyung mendapat semua darah dan keringat usahanya? Sebenarnya apa yang selama ini dilakukannya?

Segalanya begitu membingungkan sehingga Jungkook tak tahu lagi apa yang sedang dilakukannya. Mungkin memang ia seharusnya menunggu misteri itu tersingkap dengan sendirinya, bukan berlari mengejar sesuatu yang sesungguhnya belum waktunya untuk Jungkook dapat mengetahui. Semakin lama Jungkook semakin kehabisan akal untuk terus mempertahankan Taehyung. Jungkook telah menyerah atas segenap alasan, ia telah menyerah untuk memperoleh latar belakang, bahkan Taehyung dan setiap cerita kehidupannya.

Lalu apa lagi?

Dan Jungkook akhirnya menyadari, bahwa satu-satunya yang belum dapat ia menyerah atasnya adalah tak lain dari dirinya sendiri.

"—Kook-ssi? Hei, kau mendengarku?"

Lamunannya buyar ketika tiba-tiba Namjoon menepuk sebelah pipinya sambil terkekeh, rautnya melunak dan tidak sedingin sebelumnya. Perlahan, Jungkook mengangkat wajahnya ragu.

"Instansi apa?" tanyanya kemudian dengan tawa tertahan. "Jangan tegang begitu, aku hanya menggodamu barusan. Teman Taehyung-ah temanku juga, mana mungkin aku menampikmu seperti tadi? Ayolah, aku tidak terlihat sekejam itu, 'kan?" Namjoon menimpali seraya meletakkan gelas terakhirnya dengan hati-hati, lalu kembali pada Jungkook. "Jadi, instansi apa?"

Jungkook melongo beberapa saat sebelum akhirnya terpukul pada realita dan menjawab pelan, "Asan Medical Center, di Poongnap."

"Rumah sakit?" Namjoon mengangkat sebelah alisnya, mengambil MAC dari rak bawah dan meletakkannya di atas konter supaya Jungkook bisa ikut melihatnya. Namjoon menekan tombol power sehingga bunyi boot-up halus terdengar berdengung dari mesinnya. "Semula sebelum menjadi tenaga medis resmi, lembaga itu seperti laboraturium research yang mendalami biomedis dan berbagai vaksinasi, kudengar. Memiliki hubungan afiliasi yang baik dengan Ulsan dan Harvard, pre-internship. Jika kau mau, mungkin kita bisa mengintip beberapa perkembangan penelitian teknologi medis terbaru mereka, atau mungkin metode penanganan kanker dan transplantasi yang menjadi momok Asan. Well, selama semua entry tersambung dengan internet, tidak ada yang tak bisa diretas. Bahkan ketika mereka sudah menghapusnya."

Jungkook mengikuti jemari Namjoon ketika namja itu memasukkan kata sandi di halaman start-up, lalu berubah dengan halaman depan Macintosh. Ia menghembuskan napas pendek, "Wow, kau tahu banyak."

"Ayolah, Bung," Namjoon menyikut Jungkook sambil tertawa. "Pengetahuan umum," sahutnya dijawab oleh putaran bola mata dari namja yang lebih muda. Namjoon mengambil satu lollipop dari simpanannya dan mengulumnya ke sebelah pipi, "Jadi apa yang kita cari?"

"Entry pasien Instalasi Gawat Darurat sekitar satu bulan lalu atas nama Kim Taehyung."

"What?" bola mata Namjoon membesar dan ia sepenuhnya memandang Jungkook mencari kepastian. Meyakinkan bahwa ia serius, Jungkook mengangguk sekali lagi. Namjoon menggasak poninya kasar, "The hell, man. Dia tidak pernah bilang apapun soal itu," desahnya frustasi.

Jungkook hanya terdiam menggigit bibirnya, mengamati amarah menguar dari bagaimana cara Namjoon mengetik dengan gerakan begitu cepat melebihi sebelumnya.

"Holy shit, dua—tiga lapis, Jungkook," Namjoon menggeram. "Kau bawa laptop? Nyalakan dan bantu aku menembus firewall setebal Berlin ini. Meretas langsung ke server utama terlalu riskan. Kalau tertangkap basah dan MAC address-ku terdeteksi, kita harus menginstal ulang Ethernet card-nya sedangkan mereka akan memperketat pertahanan. We'll be damned. Sekali ketahuan, tidak akan ada lagi yang kedua. That's how hacking works." Terangnya dengan aksen Inggris yang tanpa cacat.

Dengan patuh menuruti Namjoon, Jungkook mengeluarkan laptop miliknya lalu menyalakannya. Ia mengernyitkan kening, "Uh, lalu bagaimana?"

"Sambungkan dengan milikku, sirkuit paralel. Kita tidak bisa menerobos kecuali menggunakan supercomputer, sebenarnya. Tetapi barang canggih itu hanya dimiliki pemerintah dan terdapat beberapa di universitas besar ternama, we stand no chance," Namjoon menggeritkan giginya sepintas.

Tidak memahami pembicaraan Namjoon, akhirnya Jungkook hanya melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Namjoon masih menatap layar dengan mata nyaris tak berkedip, jemarinya sibuk mengetikkan apapun pada kolom command di depannya, membuat Jungkook menelan ludah tegang. "Namjoon-ssi, apa yang kau lakukan?"

Namjoon menyeringai, sejenak nampak mengerikan. "Menciptakan supercomputer ilegal," tukasnya dalam sekali napas. "Biasanya seseorang butuh satu sampai dua ribu PC yang diparalelkan dengan P2P, seperti Limewire atau Napzter, untuk membuat satu perangkat dengan kecepatan 1.5 gigaflops. Tapi kita tidak punya waktu sebanyak itu," Namjoon menggigit kuku di ibu jarinya sesaat. "Baru saja aku menyebarkan virus pada jaringan peer to peer di setiap komputer dan laptop beberapa perusahaan besar serta rumah warga di kawasan ini. Setidaknya kita butuh seratus—no, dua ratus unit komputer untuk mencapai derajat megaflops yang memadai. Do the math, Genius. Jika satu algoritma bisa menghabiskan waktu sekitar dua puluh hari, dengan prosessor rangkap dua ratus, akan selesai kurang dari satu jam," jelasnya panjang lebar tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari layar.

Jungkook sepenuhnya tercengang. Astaga, siapa Kim Namjoon ini?

Hanya membayangkan betapa mudahnya mendobrak sandi smartphone-nya beberapa bulan lalu dibandingkan segenap kegilaan ini, membuat Jungkook bergidik ngeri. Ia kemudian melirik layar MACnya sendiri dan terkejut. Dekstop laptopnya freeze berwarna putih dengan logo bulletproof dan cetakan 'Rap Monster is Here' besar di tengahnya.

"N-Namjoon-ssi, kau apakan laptopku?" tanya Jungkook terbata.

"Chill, dude. Ini bukan sejenis worm atau trojan horse destruktif," Namjoon terkekeh kecil, menenangkan namja di sampingnya. "Aku menggunakan software Master Tool. Program paralelisasi ciptaanku sendiri, beta-version. Semua komputer dan laptop yang ku-'pinjam' akan beku dan tampak seperti milikmu," gagasnya kemudian. "Mau tidak mau, kita harus 'mencuri' kinerja prosessor mereka dengan paksa, Jungkook. Bertingkah terlalu suci terkadang bisa membunuh dirimu sendiri. Mampus saja jika kita harus memecahkan semua bahasa sistem dan fungsi deret di prosedur terakhir. Meski kau pakar matematika sekalipun."

Parlor kumuh itu kemudian penuh dengan gema suara ketikan memburu Namjoon selama nyaris satu jam penuh. Jungkook diperintah untuk membalik tulisan menjadi 'CLOSED' yang terpampang di etalase, supaya mereka dapat berkonsentrasi dengan proyek cracking besar-besarannya. Jungkook dibuat takjub entah berapa kali oleh Namjoon; karena siapa yang menyangka bahwa berandalan pengukir tato yang tidak sekolah, mampu melakukan hal yang jauh dapat dibayangkannya dalam pikir paling rumitnya sekalipun.

Kim Namjoon adalah jenius. Tak salah lagi.

"Masuk!" seruan Namjoon membuat Jungkook kembali fokus. "All green. Infiltrasi sukses, tapi kita hanya punya waktu sekitar sepuluh menit untuk mencari record pasien. Lebih dari itu, Asan akan sadar ada pihak ketiga yang menerobos brankas pribadi mereka." Peringatnya dengan napas setengah tersengal, "Shit, supercomputer membutuhkan densitas termal yang tinggi. MACku bisa meledak jika terlalu lama dalam mode ini."

Dalam hati, Jungkook membatinkan doa, berharap jika satu lagi langkah menuju kebenaran kali ini akan merengkuhnya. Tak ada satupun dari mereka yang bicara, pasang mata keduanya sama-sama terpatri kuat pada layar MAC Namjoon yang menyala terang.

Hingga akhirnya satu entry dengan foto yang begitu familiar di mata Jungkook memampang di hadapan keduanya—Kim Taehyung, Februari 2011.

Namjoon dan Jungkook berucap lirih nyaris bersamaan.

"—Astrositoma Difusa…,"

Jungkook merasakan matanya memanas hanya dengan menemukan nama penyakit yang selama ini diidap oleh hyung kesayangannya, bibirnya nyaris gemetar dan matanya terus menurus menyusuri setiap detil yang dibacanya di layar Namjoon seolah tidak memercayai kenyataan di depan matanya.

Tumor otak? Seorang Kim Taehyung?

Menyaksikan namja yang lebih muda tampak begitu syok, Namjoon segera mengetikkan sesuatu kembali di MACnya dengan gerak cepat. Jungkook menunduk dengan mulut separuh menganga, keningnya berkerut karena realita ini menamparnya hingga padam dan tersungkur.

"Sudah ku-back up semua datanya, kau bisa membacanya lagi nanti, Jungkook-ah," ucap Namjoon segera, "Kemarikan ponselmu, aku akan mengirim map GPS tentang dimana lokasi Taehyung sekarang. Setengah menit lagi pelacakannya selesai."

Masih dengan wajah lemas dan sepenuhnya tak menyangka, Jungkook menyerahkan smartphone putihnya pada Namjoon. Dengan sigap, namja itu mengambil ponsel Jungkook dan menyelesaikan pekerjaannya dalam diam.

Beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Namjoon menyerahkan kembali ponsel tersebut dan menepuk pundak Jungkook, senyuman lebar terpatri begitu tulus walau roman Namjoon begitu kelelahan.

"Kejar dia, peluk, cium—apapun, " Namjoon meremas pelan bahu Jungkook, wajahnya terlipat menggambarkan kefrustasiannya. "Jangan biarkan keparat kecil itu lari lagi—tangkap dan marahi dia sesukamu—"

"—dan kau bisa menyeretnya ke rumah sakit bersamaku setelah itu."

.


- Bersambung -


Author's Note:

Annyeong, guysss! (≧▽≦)彡

It's been quite a long time! Makasih udah sabar banget nungguin selama ini! x"D
Ane harap semua yang ada di chapter ini bisa membalas kesabaran kalian yaa~
I have so much fun writing this chapter; I love all the characters! x))

The amount of brothership caused by BTS' comeback yang kurang ajar sekali /sobs.

Jadi, ada yang bener tebakannya?
Well, ane masih punya beberapa kartu tertutup yang nunggu buat dibuka ;)

Special thanks for Eclaire Delange, ichizenkaze, and eunhaezha!

As always, thanks for reading and reviewing!
Ane selalu baca satu per satu review kalian tanpa ada yang kelewatan,
thankyousomuch! It means a lot to me! X'D /bows/

.

Thankfully,

Alestie.
[ twitter - alestierre ]