Sudah delapan tahun berlalu. Tempat ini semakin indah saja. Bunga sakurapun mulai bermekaran. Seperti waktu itu, kita terakhir bertemu. Aku tersenyum. Warna pink berjatuhan, seperti salju yang turun dengan lembut. Aku sangat suka bunga sakura. Karena bunga sakura melambangkan orang-orang yang sangat aku sayangi. Ibu, Ayah, IA, Luka-sensei, Lily-obasan… juga Shion.

桜の花びら (Sakura no Hanabira)

Sae Kiyomi

[Rin.K, Len.K]

All Rin's POV

Warning: gaje, aneh, abal, typo, OOC, alur cepat, bad summary, dll

Disclaimer: Vocaloid bukan milik Sae, namun cerita ini punya Sae!

Memenuhi request dari Kiriko Alicia-senpai.

Aku melangkah mantap menuju sebuah sekolah yang sangat familiar kepadaku. Sekolah lamaku. Ya, yang sekarang juga tetap menjadi sekolahku. Sudah delapan tahun terlewat. Tidak kusangka, ternyata sangat cepat waktu yang aku lalui. Dengan senyum, aku menapakkan kakiku, melewati jalan yang dulu selalu kulewati, dan sampai sekarang juga.

"Selamat pagi, Kazura-sensei," ucap para murid yang lewat menyapaku. Aku mengangguk, membalas sapaan mereka.

"Selamat pagi," ucapku penuh kewibawaan.

"Selamat pagi, Kazura-sensei!" teriak beberapa murid dari jauh. Mereka dengan mudah mengenali guru SMP mereka ini. Karena hanya aku satu-satunya guru yang berbadan mungil. Ngomong-ngomong, kayaknya masalah tinggi badan ini pernah kubahas, ya? Sepertinya… dicapter 3 deh…

"Pagi," balasku sambil memiringkan kepala. Kutenteng tasku.

"Pagi, Kazura Rin!" aku menoleh.

"Hu-uh! Luka-sensei, kalau memanggilku, panggilah dengan Kazura-sensei!" ucapku cemberut. Tampak wanita berambut panjang berwarna pink bunga sakura ini terkikik.

"Maaf deh, Ka-zu-ra-sen-sei," eja Luka-sensei. aku mengembungkan pipiku.

"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan pekerjaan sensei?" ucapku sambil berjalan beriringan.

"Lumayan. Ngomong-ngomong kamu tahu dari mana pekerjaan sampinganku?" kata Luka-sensei bingung.

"Tentu saja aku tahu! Kan aku ini pendengar setia radio! Nama Luka-sensei sering sekali disebut lho! Oh iya, aku sangat menyukai suara sensei yang bernyanyi dalam lagu TRACK," kataku nyerocos. Luka-sensei malu, wajahnya memerah.

"Ka-kazura!" ucap beliau malu. Aku tersenyum, nyaris tertawa.

"Hei, Luka-sensei, Rin!" kata seseorang. Aku menoleh, dan tersenyum.

"Hei, IA!" kataku berteriak dan melambaikan tangan.

"Sedang apa kalian di sini?" kata IA.

"Kami yang seharusnya bertanya," ucapku.

"Aku sedang melihat bunga sakura. Itu saja kok," katanya tersenyum manis. Aku membalas senyumannya.

"Jadi, bagaimana kabar bayimu?"

Wajah IA memerah, dan mata Luka-sensei membulat.

"Riiiiin," kata IA malu.

"BAYI!?" teriak Luka-sensei kaget.

"Dia baik-baik saja," kata IA tersenyum malu.

"KAMU HAMIL, IA-CHAN!?" teriak Luka-sensei kaget.

"Baru dua bulan," kata IA malu.

"Memang Luka-sensei enggak tahu? Kan aku diundang ke pernikahannya," ucapku pede.

"Hei!? Bener!? Kok aku enggak diajak!?" kata Luka-sensei kaget.

"Go-gomen, senseiii… aku lupa," kata IA meminta maaf.

"Oke, tak apa. tapi aku minta traktiran dobel!" kata sensei mantap.

"Dobel?"

"YUP! Traktiran perkawinan, dan traktiran ucapan syukuran kehamilan!" kata sensei sambil menunjukkan jempolnya.

"Senseiii," kata IA merengek.

"So? Suaminya si Yohioloid kah?" kata Luka-sensei menyikut IA.

"I-i-i-i-i-iya," kata IA gugup, malu.

"CIEEEEE!" teriak Luka-sensei makin senang menggoda IA. "Artinya, aku harus menelepon si Yohio, nih! Jadi traktirannya tripel!"

Aku hanya tertawa melihat kedua orang yang aku sayangi ini terus meledek satu sama lain.

"Sensei sendiri? Bagaimana kabar sensei dengan kepala sekolah?"

"Kepala sek- apa hubungan dengannya?" kata Luka-sensei.

"Kan Gakupo-sensei sangat menyukai sensei, bukan? Kok belum kawin-kawin sampai sekarang?"

"BENERAN!?" kali ini aku yang berteriak. IA mengangguk mantap. Luka-sensei cengo, lalu semburat merah terlukis dalam wajah cantiknya itu.

"Nah, nah, blushing kan," goda IA.

"CIEEEEEEEEE, SENSEI!" teriakku sambil mencubit guru cantikku ini.

"SUDAH AH!" kata Luka kalah. Aku tertawa, bersama IA.

"Wah, sudah mulai panas, ya," kataku merasakan sengatan sinar matahari.

"Iya, tidak baik buat kulit. Aku pergi dulu ya. Sampai jumpa, sensei!" kata IA melambaikan tangan.

"Lho? Enggak pamit sama aku nih?" kataku menggoda.

"Kan Rin sudah menjadi sensei!" kata IA pergi. Wajahku memerah.

"Cie, senseeei," goda Luka-sensei.

"Ihh… sudah ah! Ayo, kita masuk. Panas banget di sini," kataku mendorong Luka-sensei masuk ke sekolah.

Yah, yang seperti yang kalian lihat. Aku tidak kesepian. Tidak. Err… yah, mungkin. Sedikit.

Jam pelajaran mulai. Seperti dari dulu, aku masuk ke dalam kelas. Tapi kali ini beda. Bukan sebagai murid yang mendengarkan pelajaran, namun sebagai seorang pengajar yang mendidik murid-muridnya.

"Yak, Nekomiru. Baca," ucapku. Seorang murid berambut merah membuka bukunya, dan melanjutkan kalimat yang sebelumnya aku ucapkan.

"Yes, sensei. 'SHUT UP! Say the cat. But the dog smile, and say, I always pray for your happiness, so, don't be sad. And the cat was crying, it say. You such a idiot. But the dog…"

Aku tidak mendengarkan perkataan Nekomiru lagi. Aku duduk, membenamkan wajahku di meja. Menangis. Aku kesepian. Sedih. Aku teringat akan semua tingkah lakuku kepada Shion. Aku jahat.

"Err… sensei?" kata Nekomiru. Dia panik, dan menghampiriku. "Ma-maaf! Apa aku melakukan sesuatu yang salah?" kata Nekomiru. Aku tersadar, menangis di kelas, sebagai guru.

"Maafkan aku," ucapku mengusap mataku. Aku di sini, sebagai guru,mengajar. Bukan sebagai murid yang manja lagi. "Baiklah, Utauke, tolong lanjutkan."

Utauke melanjutkan barisan pembacaan Nekomiru. Aku memperhatikan. "Baik, cukup." Akupun melanjutkan pembacaan Utauke, walaupun suaraku masih agak kecil.

"Maaf, sensei. Bisa diulang?" ucap beberapa muridku.

"Maaf, suaraku tidak terlalu jelas, ya?"


"Hei, Kazura. Kamu sakit?" kata Luka menghampiriku.

"Apanya?"

"Kata Utauke kamu nangis."

.

.

.

Wajahku memerah. "Tolong jangan dibahas lagi."

"Kenapa? Seringnya kamu sakit pasti nangis."

"Itu jaman kapan, senseiii," kataku merengek.

"Jadi benar tidak apa-apa?" kata Luka-sensei khawatir.

"Iya."


"Salam!"

"Sampai jumpa, sensei!" kata para murid. Aku keluar dari kelas dengan wibawa.

Aku menaruh buku pekerjaanku di ruang khusus guru mata pelajaran bahasa inggris. Kalian ingin bertanya kenapa aku mengambil bidang studi bahasa inggris? Yaaah… aku tidak tahu alasan khusus. Tapi aku sangat menyukai bidang suka bahasa inggris.

"Sensei, bisa tolong aku?" ucap seorang muridku. Aku mengangguk. Aku mengajarinya pelajaran-pelajaran yang tidak ia mengerti.

"Nah, begini. Kamu paham?" ucapku mengakhiri pelajaran singkat itu.

"Ya. Sangat jelas, sensei. Terima kasih. Sensei pandai mengajar, ya," ucapnya gembira. Masa' sih?


Aku berjalan keluar dari gedung sekolah, dengan hoodku. Aku tidak peduli akan tatapan aneh para murid. Sudah beberapa kali aku ditanyai oleh muridku guna hoodku ini, dan aku selalu menjawab 'fashion'.

Aku melihat kelopak bunga sakura beterbangan, dan jatuh beberapa di kakiku. Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, sehingga pandanganku tertutup. Angin menerpa hoodku sehingga tersingkap.

Saat kubuka mataku, aku melihat sesosok orang yang selama ini aku rindukan.

"Shi… on…" kataku terkesiap. Pria itu tersenyum. Memang, kali ini dia banyak berubah. Tapi aku tidak dapat melupakan kelembutan suaranya, kelembutan senyumannya, semuanya.

"Hai, Rin." Aku segera berlari menghampirinya. Dia tersenyum. "Aku kembali."

PLAAAK! Suara nyaring beradu. Aku langsung menamparnya.

"Sambutan yang sakit, Kazura."

"BODOH!" teriakku kesal. "KENAPA KAMU LAMA SEKALI KEMBALI!?"

"Maaf, maaf. Apa Tou-san tidak bilang apa-apa kepadamu?" ucap Shion sambil mengelus pipinya bekas tamparanku.

"DIA BILANG, KALAU KAMU AKAN KEMBALI! TAPI KAMU PIKIR DONG! AKU SUDAH MENUNGGUMU SELAMA APA!?" kataku cemberut.

"Ehehe," kata Shion. "Yah, aku menyelesaikan semua tugasku dalam kurung waktu 8 tahun ini. Dan… kamu sudah banyak berubah, Kazura."

"APA!?" bentakku. Shion tersenyum.

"Kamu tetap saja cengeng."

"Cengeng?! Cengeng apanya!?" kataku. Jari telunjuk Shion mengusap mataku, dan ternyata tetap keluar air mata yang asin itu.

"Tuh kan? Siapa yang cengeng," kata Shion sambil menjulurkan lidahnya. Wajahku memerah. Aku memalingkan wajahku, kesal.

"Dasar menyebalkan."

"Tapi kamu suka, kan?"

Sial, kata-kataku ditangkis.

"Di negara sana kamu makin pintar menangkis perkataan orang ya. Alias nyolot."

"Eh, aku enggak nyolot, kok. Cuman Kazura aja yang makin enggak mau ngalah," balas Shion. Aku cemberut. Kukembungkan pipiku.

"Tuh kan," ucapku. Shion tersenyum geli, sambil mencubit pipiku. "APAAN SIH!?"

"Kamu makin imut saja."

"Kamu aja yang makin tua," balasku.

"Yah, tapi Kazura senang kan aku kembali?"

"Enggak."

"Bener?"

"Iya."

"Ya udah, aku balik deh ke Amerika."

"Eh, jangan!" otomatis aku mencegahnya. Shion tersenyum lembut.

"Tuh kan, kangen," kata Shion memelukku. Wajahku memerah.

"…"

"Hng?"

"I-i-i-iya."

Kami terdiam cukup lama. Bunga-bunga sakura bermekaran, seperti yang dikatakan oleh IA. Dewi asmara akan menganugrahi pasangan yang ada di bawah pohon sakura.

"Hei."

"Hng?"

"Aku senang kamu kembali."

"Aku juga. Aku kangen akan makanan khas daerah sini. Aku kangen akan masakan ancur buatan Kaa-san. Aku kangen akan bunga-bunga sakura. Di Amerika enggak ada sih. Di sini juga banyak bonsainya. Kangen deh sama takoyaki, taiyaki, ramen, yoyo air, mainan tangkap ikan, festival budaya. Well¸walaupun di sana enak juga sih. Ceweknya seksi-seksi! Ada hot dog, burger, fast food…"

"Pikiranmu makanan aja!" kataku mendorongnya. Aku pergi meninggalkannya.

"Woi, tunggu, KAZURA!" teriaknya. Aku tidak peduli. Kupercepat langkahku. Tiba-tiba ada sebuah tangan besar menangkap tanganku. "RIN!"

"APA!?" teriakku kesal.

"Lihat ke bawah deh."

Aku lihat ke bawah. Tampak ada jurang di depan sekolah. Yah, memang dari dulu ada jurang sih. Tapi sedikit banget kasus jatuh dari jurang ini apalagi ini sekolah.

"Nyaris," gumamku menghela napas lega. Shion segera menarik tanganku, dan membuat diriku berada di pelukannya.

"Aku juga kangen sama Rin," bisik Shion Len tepat di telingaku.

Wajahku memerah. "Hei! Kamu kurang ajar memanggilku dengan namaku seperti itu!" kata-kataku mengalahkan semburat di wajahku.

"Jadi maunya dipanggil apa? Sayang?"

"Say- BODOH! Ya bukan lah! Pakai margaku!" ucapku memalingkan wajah, malu.

"Baiklah. S-H-I-O-N," kata Shion tersenyum. Aku membulatkan mataku.

"Kok Shion sih? Kan aku tidak pakai marganya Ayah, tapi pakai marganya Ibu! Kamu gimana sih! Pikun ya? Dasar-"

"Bukan!" kata Shion menutup mulutku dengan jari telunjuknya.

"Apa dong?"

"Tunggu saja. Satu tahun lagi margamu akan menjadi Shion."

"Ap-"

.

.

.

Mataku membulat. Wajahku memerah. Aku menangkap apa yang dimaksud oleh Shion.

"….!"

Aku kehabisan kata-kata untuk diucapkan. Shion tersenyum penuh kemenangan.

"Bagaimana?" kata Shion sambil menaikan alisnya.

"…" aku terdiam. Jujur, aku bingung karena ini seperti lamaran tidak langsung. Namun, aku tersenyum, dan membalas pelukannya.

"Jadi?"

"Jangan bicara," ucapku, lalu aku lebih banyak terdiam. "Aku sedang berpikir."

"Hei, jangan dianggap serius, dong," kata Shion membelai kepalaku.

"Jadi kamu main-main?" suaraku mulai melengking.

"Eh?"

"KAMU MENYEBALKAN!" bentakku mendorongnya menyingkir.

"Hei, jangan marah dong," kata Shion memelukku lagi. "Aku serius, kok."

"APANYA!?"

"Aku melamarmu, menjadi pengantinku."

Sekali lagi, aku kaget, dan cengo. "Ka-kamu serius?"

"Kamu pikir aku main-main?"

"Ta-tapi kenapa aku?"

"Tidak tahu? Karena aku menyayangi kamu."

"Kenapa aku? Kan banyak teman gadismu yang lain? Lagipula kamu bilang sendiri kalau di Amerika banyak cewek seksi," kataku.

"Karena Rin sangat menyenangkan. Aku sangat menyukai Rin. Tidak ada alasan lain, bukan?" kata Shion memelukku dengan hangat. Wajahku memerah.

"You know? All this time, you change my life. Thank you, Shion," kataku membenamkan kepalaku ke dada Shion. Shion tersenyum.

"Your welcome," ucapnya. Aku tidak bisa melihat ekspresinya. Tapi kurasa dia tersenyum. "Dan…"

"Hng?"

"Jangan panggil aku Shion lagi. Panggil aku Len."

"Eh?"

"Len. Panggil dengan namaku."

"L-l-l-l-le-le…"

"Once more."

"Le-le-le-len…"

"Sebut namaku."

"Len… Len…"

"Ayo…"

"Len… Len… Len…" aku memeluknya. Shio- maksudku Len membalas pelukanku.

"Sekarang ungkapkan perasaanmu dengan namaku di awal atau akhirnya. Apakah kamu membenciku? Atau sebaliknya?" bisiknya tepat di telingaku.

"Len… Len… aku mencintaimu, Len…"

Dia tersenyum. "Aku juga mencintaimu."


1 tahun kemudian

"Ayo, Rin! Cepat," kata seorang wanita cantik dengan rambut pirangnya yang terurai. Tampak seorang gadis berambut honeyblonde dengan gaun putih miliknya, itu aku.

"Kyaa," kata gadis bergaun putih itu. Angin bertiup sangat cepat. Kelopak bunga sakura yang bermekaran menghujaniku, sehingga gaun putihku penuh dengan kelopak bunga berwarna pink itu. Aku itu tersenyum.

Tampak Ibuku sedang berdiri di sampingku, membelai rambutku. "Selamat ya, Rin."

"Terima kasih, Ibu," ucapku memeluk Ibu. Ibu mengambilkan kelopak-kelopak bunga sakura yang berjatuhan di kepala dan gaunku.

"Ibu suka bunga sakura."

"Aku juga," jawabku. Di depan gereja, tampak sesosok pria sedang berdiri dengan jas rapihnya. Pria itu tersenyum, dan memelukku.

"Selamat, Rin," kata orang itu.

"Terima kasih, Ayah," kataku tersenyum. Aku menggandeng lengan ayahnya, dan pintu menuju gereja pun terbuka. Tampak pemuda berambut honeyblonde mellihatku, dan tersenyum. Aku membalas senyumannya. Ayah dan aku berjalan masuk ke dalam altar gereja. Tampak orang-orang tersenyum bahagia kepadaku. Diantaranya ada IA, Luka-sensei, juga Lily-basan. Ah, mungkin menjadi 'ibu'ku juga.

Sampai di depan altar, tampak dia tersenyum kepadaku.

"Apakah Shion Len, bersumpah mengambil Kazura Rin menjadi istrinya, dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat?" ucap pemimpin ibadat kepada Len. Len tersenyum.

"Yes of course! Ya, aku bersedia!" ucap Len dengan semangat. Wajahku memerah. Dasar.

"Dan Kazura Rin, bersumpah melindungi Shion Len dan mengambilnya sebagai suami, dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat?"

"Y-ya!" awal aku ragu, tapi aku merasa yakin dan mantap akan hal ini.

"Sekarang kamu boleh mencium pengantinmu."

Hei, Ibu. Margaku sekarang menjadi Shion. Seperti marga Ibu yang dulu.

Dan, aku sangat menyukai bunga sakura. Karena bunga sakura melambangkan kasih sayang Ibu yang berlimpah. Namun sekarang aku tahu, bahwa bunga sakura bukan hanya melambangkan kasih sayang Ibu. Tapi jug melambangkan kasih sayang orang-orang yang aku sayangi. Semua orang. Bahkan Len.

"Hei," bisik Len ke telingaku. "Aku akan membahagiakanku."

Aku tersenyum. "Kupegang janjimu."


END


SaeSite

Sae: selesai! Syukurlaaaah!

Nori: selamat, kak!

Rinka: #cemberut#

Lemon: kenapa Rinka cemberut?

Rinka: habisnya enggak ada inceeessst! #mewek#

All OC(-Rinka +Sae): #speechless#

Mitsu: udah, ayo… #tersenyum#

Hikaru: sip! RnR!

Yuu+Lemon: AKU MAU RNR! HIKARU CURANG!

Hikaru: eh?