Summary :

Setiap waktu, setiap detik.. Kau bukan indigo yang bisa membaca apa yang kupikirkan.

Aku bahkan lebih memilih berpura-pura tidak tau agar tidak menderita hingga akhir nafasku.

Cast :

Byun Baekhyun

Wu Yifan

Park Chanyeol

Do Kyungsoo

Xi Luhan

Byun Baekbeom

Etc..

.

.

Thanks for all supports.

Wish you like this story.

I suggest you to listen Yoon Mirae - I'll Listen What You Say (OST Who Are You - School 2015) or Shin Yong Jae - Kiss The Rain when reading this ff. ^-^

Don't forget to review and don't be plagiator.

The story is 100% mine.

Thank you.

.

.

.

.

.

"Aku tidak akan bisa hadir di upacara pernikahanmu, hyung,"

"Jika Chanyeol tidak memberi tauku, sampai kapan kau akan menyembunyikan ini dariku?!"

"Hingga aku mati? Mungkin,"

"…"

"Aku menemui Albee Huang sebelum ke sini. Perusahaan kita terus berjalan karena bantuan perusahaan keluarga Jung So Min. Kau berhutang budi dan dia menyukaimu. Karena itulah kalian menikah. Kau sudah terlalu banyak menderita sejak ibu meninggalkan rumah. Aku tau meninggalkan orang yang kau cintai untuk menikah dengan orang lain bukanlah hal yang menyenangkan, hyung. Aku tidak bisa tiba-tiba datang dan mengatakan padamu aku sekarat sementara kau sedang terluka,"

"Tapi—"

"Kau mau aku mengatakannya?! Ya! Ya! Aku sekarat! Setiap hari aku takut tidak sempat memberi taumu dan tiba-tiba kau menemukan tubuhku sudah di dalam peti mati! Aku benci ketika aku juga tidak tau apa-apa dan tiba-tiba menemukan berita kematian ayah dari artikel orang-orangku! Aku takut meninggalkanmu, hyung. Karena di dunia ini hanya kau yang ku miliki bersamaku di semua hari-hari sulit sekali pun. Bahkan saat akhirnya satu demi satu orang-orang meninggalkanku; aku hanya punya kau sebagai harta yang selalu ingin ku lindungi, hyung—"

Bahunya bergetar hebat. Baekbeom memahami apa yang dirasakan adiknya. Ia mengerti alasan Baekhyun dengan baik. Sengatan-sengatan listrik serasa mulai menyetrum seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Air mata Baekbeom menetes. Bahkan air mata itu tidak keluar di hari pemakaman ayahnya.

.

.

.

.

.

Jam di dinding menunjukkan jam enam pagi. Di saat semua orang mungkin baru saja bangun tidur atau bahkan masih tertidur, Baekbeom, Chanyeol, Jung So Min, dan Kris sedang mengantarkan Baekhyun hingga ke depan pintu operasi bersama beberapa perawat dan seorang asisten dokter. Baekhyun terlihat cerah dengan setelah baju hijau khas pasien yang akan menjalani operasi. Ia tidak terlihat takut sedikit pun; atau mungkin lebih tepatnya menyembunyikan rasa takutnya. Bahkan ketika ranjangnya di dorong menuju ruang operasi, dia masih sibuk berceloteh dengan lelucon garingnya yang membuat orang-orang di sekitarnya tertawa sedikit dibuat-buat; lelucon lucu macam apa yang mampu membuat mereka tertawa ketika sedang mengantarkan seorang malaikat kecil mereka menuju ruang operasi untuk mempertaruhkan nyawanya.

Sialnya jadwal operasi Baekhyun diundur keesokan paginya dari jadwal semula. Baekbeom tidak bisa menunggu di kursi tunggu hingga operasinya selesai. Upacara pernikahan mereka akan diadakan pagi ini juga jam sepuluh pagi. Sedikit lucu memang melihat ada sepasang orang dengan gaun pengantin berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang mengantarkan seorang pasien menuju ruang operasi.

Mereka berhenti sejenak tepat sebelum memasuki ruang operasi.

"Maaf, kalian hanya boleh mengantar sampai sini," tutur seorang perawat dengan aksen bahasa inggrisnya yang sangat fasih dan sopan kepada Baekbeom dan yang lainnya.

"Aku ingin bicara sebentar pada keluargaku," pinta Baekhyun sopan. Tiga pria berpawakan tinggi itu mendekat karena suara Baekhyun mulai melemah; mungkin karena obat biusnya mulai bekerja.

"Bagaimana pun akhir dari operasi ini, kalian harus ingat bahwa aku telah mencobanya. Kris-hyung, terima kasih atas semuanya. Kau guardian angel-ku,"

Bola matanya mulai bergerak ke arah Baekbeom yang sedikit membungkuk sambil menggenggam tangannya yang sedingin es, "Hyung, aku sangat mencintaimu,"

Dan kini wajahnya berpaling ke arah Chanyeol yang berada di sisi berseberangan dengan Baekbeom. Senyum getirnya membuat Chanyeol takut. Senyuman yang paling ia benci, "Giant, jangan menangis. Aku mencintaimu.."

Itu adalah sederet kalimat yang terakhir yang Baekhyun ucapkan sebelum akhirnya ia tertidur lelap di bawah pengaruh obat bius. Wajahnya tampak begitu damai dalam raut letihnya. Jemari Baekbeom seolah tidak ingin melepaskan genggamannya dari jemari Baekhyun dan semakin terlepas karena menjauh. Para tim medis segera membawa Baekhyun masuk mengingat sudah saatnya operasi dimulai.

Dengan langkah limbung Baekbeom berjalan menghampiri Jung So Min. Perutnya terasa sangat mual. Hatinya terasa begitu nyeri. Dadanya seolah mengalami kesulitan bernafas. Jung So Min membimbingnya berjalan ke mobil dan pergi menuju gereja tempat pernikahan mereka akan dilangsungkan. Chanyeol ikut dalam mobil mereka karena itu adalah permintaan Baekhyun agar Chanyeol merekamkan seluruh prosesi pernikahan kakak yang paling ia cintai dan paling berharga untuknya. Tinggallah Kris yang dengan suka rela menawarkan diri untuk menunggu di rumah sakit hingga operasi selesai.

.

.

.

.

.

Mereka berdua berdiri di atas karpet merah dan berjalan perlahan menuju altar di mana seorang pendeta telah menunggu keduanya dengan sabar. Gereja yang tak bisa dibilang kecil itu penuh dengan rekan dan keluarga dari kedua belah pihak mempelai. Suasana begitu mengharu biru. Keberadaan Zitao di deret kursi paling depan menggantikan posisi Kris mewakili keluarga Baekbeom yang tersisa. Begitu miris mengingat bagaimana dua bersaudara Byun itu hidup sebatang kara dalam perjuangannya untuk bertahan hidup selama ini.

Hati dan pikiran Baekbeom mulai bergelut. Di saat semua tinggal selangkah lagi, pikiran dan hatinya justru mulai rapuh. Tekat yang ia buat atas dasar nekat mulai runtuh seiring dengan air matanya yang mulai mengalir membayangkan Baekhyun yang tengah berbaring di meja operasi yang begitu dingin. Seluruh tubuhnya terasa ngilu membayangkan kesakitan yang Baekhyun alami selama ini sendirian.

"Tunggu!" seorang wanita dengan paras khas ras China menyita seluruh perhatian. Ia dengan blazer coklat muda yang menutupi kaos putihnya tiba-tiba muncul dan berdiri di ambang pintu yang dilalui karpet merah panjang itu. Belum selesai mereka dikejutkan dengan kemunculan gadis itu, sekarang dari belakangnya muncul seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dengan kulit putihnya yang masih terlihat kencang.

Rambut panjangnya yang mulai berwarna putih berkilau di bawah pantulan cahaya matahari yang masuk melalui celah. Pakaiannya sangat rapi dan sopan. Alisnya berkerut sedih melihat sosok Baekbeom yang hampir tak bisa ia kenali. Ia telah tumbuh dewasa dengan sangat baik.

"Baekbeom, putraku," air matanya menetes begitu saja menyebut nama Baekbeom.

"Maaf. Tapi aku sudah berjanji pada Baekhyun untuk memastikan kau melihat ini sebelum pernikahanmu," wanita China itu menyerahkan sebuah handycam pada Baekbeom.

Wajah Baekhyun terlihat jelas pada layar mungil handycam setelah Baekbeom menekan icon play. Dari latar di sekitar Baekhyun, Baekbeom menebak rekaman itu belum lama di buat karena itu adalah kamar Baekhyun di apartmentnya. Baekhyun terlihat melambaikan tangan ceria dengan senyum lebarnya yang khas.

"Annyeong, hyung! Jika kau melihat rekaman ini, itu artinya aku sedang tidak bersamamu. Uhuk," kalimat Baekhyun terjeda karena Baekhyun sedikit terbatuk. Di sekitar mulutnya membleber darah segar yang keluar dari mulutnya dan tidak sengaja terseka oleh tangannya. Wajahnya mulai terlihat sangat pucat.

"Hyung, maaf aku tidak memberi taumu tentang ini," ia terlihat kepayahan menahan air matanya.

"Hyung, aku sangat menyayangimu. Kau adalah kakak, ibu, sekaligus ayah untukku. Jika aku bertemu Tuhan nanti, akan ku adukan pada-Nya semua kebaikanmu. Maaf, aku tidak berniat untuk tidak memberi taumu. Aku datang ke New York untuk memberi taumu ini. Tapi aku terkejut mengetahui kau akan menikah. Aku sangat sedih membayangkan dirimu, hyung. Aku tidak akan bisa hadir di pernikahanmu yang hanya sekali seumur hidup itu. Kau adalah kakak yang sangat penting untukku. Itulah kenapa aku menangis sekarang. Karena aku sekarat. Aku takut tidak bisa melihatmu lagi. Aku takut tidak sempat bertemu ibu lagi,"

Di sana Baekhyun terlihat mengambil beberapa lembar tisu di sampingnya karena ia mulai mimisan, "Aku menemui Albee Huang bersama Chanyeol semalam dan bicara dengannya. Hyung, ketika anak-anak lain masih sibuk bermain dan bersenang-senang, kau sudah harus menjadi ibu pengganti untuk menjagaku dan mengatur rumah. Kau membersihkan kamarku dan membuat roti bakar untuk kita bertiga setiap pagi. Kau juga masih harus belajar agar ayah tetap bangga padamu. Aku sangat bangga memiliki saudara sepertimu. Maaf, tapi apakah kau bahagia menikah dengan Jung So Min? Bisa kau pikirkan sekali lagi? Ku mohon bahagialah. Menikahlah dengan Albee Huang. Aku tau kau masih sangat mencintainya. Kau tidak bisa berbohong padaku, hyung. Berhentilah memikirkan orang lain dan pikirkan kebahagiaannmu sendiri. Aku percaya ayah akan mengerti mengenai perjodohan ini. Berhentilah menderita, kau menyakitiku, hyung,"

Baekbeom menyeka air matanya dan menatap wanita China di hadapannya yang tidak lain adalah Albee Huang. Alisnya mengkerut sangat sedih mendengar bagaimana suara Baekhyun terdengar begitu lemah.

"Maaf, Baekhyun kritis sekarang," ucap Zitao menyela setelah mendapat telpon dari Kris. Mereka sudah tidak memperdulikan para tamu lagi.

"Apakah upacara ini bisa dilanjutkan?" suara pendeta itu menyadarkan mereka semua tentang kenyataan yang sedang berlangsung. Sebuah tanggung jawab yang tidak bisa mereka lupakan.

Sesaat Baekbeom menatap Jung So Min sedih. Ia merasa begitu jahat pada wanita sebaik So Min. Ia merasa begitu hina dan malu pada ayahnya, tapi—

"Maafkan aku, So Min-ah. Aku harus ke rumah sakit,"

Dengan langkah sangat cepat Baekbeom meninggalkan gereja dan mengendarai mobil pengantin yang telah menunggunya di luar gereja. Chanyeol mengikuti di belakangnya bersama Albee Huang dan wanita paruh baya yang mengaku sebagai ibu Baekbeom. Sementara itu Zitao mencoba menghandle keriuhan yang ditinggalkan Baekbeom di gereja. Semuanya mulai membubarkan diri dan acara secara resmi ditunda untuk sementara. Sampai akhirnya Zitao menyadari satu orang yang masih tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeming sedikit pun; orang yang mungkin dilupakan dan tidak dianggap.

"Kau masih di sini?"

"Aku.. aku tidak tau kalau aku sejahat itu?"

"…"

"Kalau aku tau Baekbeom-oppa sudah punya pacar, aku tidak akan menerima perjodohan ini," tawanya terlihat sangat miris dengan air mata yang mengalir menuruni pipinya.

.

.

.

.

.

-China, 05:45 a.m-

Sehun akhirnya mengambil penerbangan menuju China setelah orang bayarannya menemukan tempat dimana Luhan berada. Seperti kata Baekhyun, ia sudah memutuskan untuk tidak membiarkan Luhan pergi darinya. Ia memutuskan untuk tidak membiarkan yang penting baginya hilang lagi; tidak ketika Luhan sudah menjadi bagian yang sangat penting baginya. Bagaimana ia melihat bahwa ia dapat mempercayai Luhan atas segala rahasia hidupnya yang tak ia bagi dengan siapa pun. Bagaimana Luhan sering membuatnya tertawa. Bagaimana Luhan membuatnya begitu ingin melindunginya dan berada di sisinya. Ia bukan pecundang yang membiarkan kekasihnya pergi tanpa alasan.

Dan di sinilah dia sekarang. Berdiri di depan sebuah rumah mewah yang memiliki kebun bunga luas di pekarangan rumahnya yang dipisahkan sebuah jalan setapak menuju rumah utama. Sangat cocok dengan kepribadian Luhan, rumah itu terlihat begitu hangat dan manis. Ia ingat kenapa ia pernah menyukai Baekhyun dan melepaskannya. Dan kali ini ketika ia mendapatkan Luhan, ia hanya ingin menjadi pantas untuk Luhan; tidak seperti ketika ia merasa Chanyeol lebih pantas untuk Baekhyun dari pada dirinya sendiri.

Pagi terasa dingin ketika embun masih melekat pada dedaunan basah di pekarangan rumah. Bau lembab khas tanah yang basah karena hujan semerbak mendamaikan jiwa. Fokus matanya tertuju pada sesosok yang baru saja muncul dari dalam rumah. Tubuhnya terbungkus oleh jaket tebal yang terlihat hangat dan topi hitam serta masker yang menutupi wajahnya yang manis. Walau pun mayoritas wajahnya tertutupi oleh masker, tapi sepasang mata rusa itu tak pernah asing untuk seorang Oh Sehun. Ia sangat mengenali mata sipit nan mungil itu. Ia selalu dapat melihat dirinya sendiri dari kedua mata itu. Dalam bisu keduanya membatu dalam keterkejutan. Oh betapa Sehun ingin merengkuh tubuh itu.

Seluruh tubuh Luhan serasa membeku tak bergerak sedikit pun ketika Sehun berjalan menghampirinya dan memeluknya. Dunia seakan berhenti berputar dalam beberapa detik itu. Dunia seakan berhenti bergerak, begitu juga dengan waktu. Tubuh mereka tidak dapat berbohong bahwa mereka saling merindukan. Yang mereka harapkan sekarang hanyalah tetap seperti ini. Mereka berharap bahwa mereka terjebak dalam waktu seperti itu. Begitu nyaman dan aman. Rasanya tidak ada yang perlu mereka hawatirkan lagi di dunia ini. Bahkan jika mereka mati dalam hitungan detik sekali pun, asalkan bersama seperti ini tidak ada ketakutan yang menggetarkan.

"Kumohon jangan pernah lari dariku. Aku kesepian. Sungguh,"

Alisnya berkerut sedih. Luhan meraih wajah Sehun, "Kenapa kau kurus sekali?"

"Kau berjanji tidak akan meninggalkanku, tapi kau pergi,"

"Aku tidak bisa berada di sisi mu,"

"Why? Kau yang bilang aku boleh datang kapan saja ketika aku membutuhkanmu. I'm dying without you, deer,"

Seakan meleleh dalam pelukan Sehun, yang bisa dilakukan oleh Luhan hanyalah menangis.

Mereka duduk di sepasang bangku di Seven Eleven yang tak jauh dari rumah Luhan dengan cup coklat panas yang masih mengepulkan asap dan membentuk embun di kaca. Sederet cerita telah Luhan bagi pada Sehun hingga mereka tiba di cup kedua mereka. Penyakit gagal ginjal yang dialami Luhan sudah parah. Hidupnya akan tergantung pada obat dan cuci darah dengan rutin. Walau pun Sehun mengatakan akan membayar berapa pun untuk ginjal Luhan, pria rusa itu sudah pasrah. Tapi melihat kesungguhan Sehun membuatnya ingin bertahan lebih lama. Setidaknya hingga ia yakin Sehun tidak akan sendirian lagi di dunia ini jika nanti dia mati.

.

.

.

.

.

5 Years Later

"Ayah, ayah bilang kita akan piknik?" suara imut itu membuat orang dewasa di sekelilingnya tergelitik gemas.

"Yah. Kita akan piknik di sini. Ayo beri salam kepada paman Baekhyun!" terang Baekbeom lembut.

"Apa dia juga sudah berada di surga bersama kakek? Seperti apa wajah paman?" rasa ingin tau anak tiga tahun ini persis seperti Baekhyun saat masih kecil.

Baekbeom menggendongnya dan mencubit hidung putra pertamanya dengan gemas, "Baekjun, pamanmu adalah orang yang sangat tampan seperti ayah," jelas Albee Huang yang berdiri di sisinya.

Kemudian ia dibantu dengan ibu mertuanya serta Chanyeol mulai menggelar karpet yang mereka bawa dan mulai menata bekal piknik mereka dengan rapi di sisi makam Baekhyun. Tak lama kemudian Zitao, Kris, Luhan, Sehun, Jongin, dan Kyungsoo datang dengan sisa perbekalan mereka yang tadi masih di dalam mobil. Mereka melambaikan tangan riang ketika Baekjun meneriakkan nama "Paman Kris!"

Hari ini tepat lima tahun peringatan kematian Baekhyun. Sejak hari itu semuanya berubah. Baekhyun merubah segalanya. Ia mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.

Baekbeom menemukan surat wasiat Baekhyun di dalam kamarnya di rumah Chanyeol. Semua terkejut ketika seorang dokter dari rumah sakit di New York mendatangi Baekbeom dan ibunya dengan seberkas dokumen pernyataan bahwa Baekhyun mendonorkan seluruh organnya yang masih dapat digunakan. Jantung, hati, ginjal, kornea mata. Dan hari itu ada seorang pasien gawat darurat di China yang sangat membutuhkan ginjal Baekhyun. Itulah kenapa Sehun bersumpah akan menjaga keluarga Baekhyun apa pun yang terjadi. Ya, berkat Baekhyun, Luhan mendapatkan ginjal barunya. Luhan selamat. Baekhyun memberinya teman hidup.

Malam begitu gelap dan dingin. Jam sudah menunjukkan jam sebelas lewat, tapi ibu Baekhyun masih terjaga di balkon dengan secangkir greentea hangatnya yang terasa sangat pahit dan tidak pernah disukai Baekhyun. Baekbeom yang menyadari jendela masih terbuka dan seseorang di sana, duduk bersama ibunya dan menatap langit yang sama. Deretan rasi bintang tampak menawan menemani bulan.

"Apa yang mengganggu pikiran ibu?" tanya Baekbeom sambil meraih cangkir di samping ibunya dan menyesap hasil curiannya.

Wanita paruh baya itu tersenyum melihat Baekbeom kemudian memberinya isyarat agar berbaring di pangkuannya lalu ia membelai sayang rambut halus putra sulungnya.

"Ibu penasaran apa yang sedang dilakukan adikmu di sana.."

"Mungkin sedang marah-marah karena ibu sedang membelai rambutku. Hahahaha.."

"Jangan seperti itu. Baekbeom?"

"Hm?"

"Terima kasih telah tumbuh dengan baik dan menjaga Baekhyun untukku. Maaf telah membuatmu memikul beban berat seorang diri,"

"Dan terima kasih telah kembali dan bertemu Baekhyun. Berkat ibu dia akan pergi dengan tenang,"

Air mata mereka menggenang sunyi dalam remangnya penerangan rembulan. Sumilir angin malam mengusik lembut membelai surai yang tergerai.

.

.

.

.

.

Hari ini akhirnya aku bertemu hyung lagi.

Akhirnya aku mengunjungi New York lagi bersama Chanyeol.

Kami pergi ke pusat perbelanjaan dan kupikir aku akan tersesat ketika dia menghilang.

Tapi Chan melamarku. Ia berlutut di hadapan puluhan orang dengan cincinnya dan itu membuatku seperti sudah mengalami kematian. Apa ini surga?

Ia membuatku bahagia sekaligus terluka.

Bagaimana bisa Tuhan mengirimkan Chanyeol untukku?

Tidak perduli walau hanya satu orang, ku rasa itu lebih dari cukup selama itu adalah Chan.

Belum selesai Chanyeol membaca habis lembar buku harian Baekhyun, irama ketukan pintu berhasil mengusiknya dan memaksanya berdiri dari sofa. Seorang gadis cantik berdiri di depan pintu apartementnya.

"Maaf, bisa aku bertemu Park Chanyeol?"

"Oh, shit! What kind of hell you made, noona?" gerutu Chanyeol pada dirinya sendiri.

"Maaf?"

"Ah, begini ya. Park Chanyeol sudah pindah ke Atlantis sejak lima tahun lalu. Maaf aku sibuk,"

Blam!

Dan pintu itu tertutup. Kepala Chanyeol terasa berdenyut seolah mau meledak.

"Noonaaaa!"

Minyoung yang sedang menyikat giginya buru-buru berlari ke ruang tamu dimana Chanyeol meneriakkan namanya.

"Mwo?"

"Ayolah. Kumohon hentikan permainan gilamu ini. Aku bosan dengan acara perjodohan dan kencan butamu ini," keluhnya.

"Sampai kapan kau akan terus—"

"Ini bukan tentang Baekhyun. Aku— hanya merasa belum menemukan seseorang yang membuat hatiku bergetar. Percayalah, jika nanti aku menemukan orang yang membuatku jatuh cinta lagi, aku pasti akan menikahinya," Chanyeol masuk ke kamarnya dan menutupnya. Lalu bersandar pada papan kayu jati itu dan memejamkan matanya.

"Yak! Chanyeol-ah! Apakah menurutmu sopan melakukan ini pada noona-mu? Apa menurutmu Baekhyun akan suka melihatmu berlarut-larut seperti ini?"

Entah bagaimana, walau sudah lima tahun berlalu tapi hati Chanyeol masih sakit setiap kali nama Oreo-nya disebut. Hatinya masih terasa sesak. Walau mulutnya mengatakan ia baik, tapi hatinya tidak.

Baek, kau berjanji akan selalu bersamaku.

Kau berjanji hanya akan berada di sisiku.

Kita sudah berjanji akan selalu bersama 'kan?

Aku bahkan telah mati sebelummu.

Kau tau bagaimana aku terbunuh?

Aku mati sejak mengetahui kau sekarat, Baek.

Aku mencintaimu..

.

.

.

.

.

~End of Story~

Tadaaaa~

Akhirnya cerita ini selesai juga.

Terima kasih untuk semua yang telah membaca, mereview, mendukung, dan selalu menantikan ff ini ^-^

Dan pada akhirnya kita sampai pada endingnya.

Bagaimana pendapat kalian?

Maaf jika feelnya kurang mengena.

Jangan lupa untuk review ne?

Sebagai tambahan, aku sudah menyiapkan halaman special untuk cerita tambahan.

If it reach 130 reviews or more, I promise to post a special story between 'Giant and Oreo' ^-^

Terima kasih!

*bow