Will Death Do Us Apart

Last Chapter

New Future

.

.

Sesampainya mereka di inggris, Kurapika masih diam seribu bahasa, hanya mengucapkan kalimat-kalimat sederhana seperti selamat malam atau selamat makan dan kalimat tak berarti banyak lainnya. Ia tau Yumi ingin mendengar ceritanya tentang apa yang terjadi, tapi ia belum mampu mengatakannya kembali, ingin secepatnya mencurahkan sedihnya pada Yumi, namun Kurapika masih belum kuat. Yumi tak memungkiri ia tak bisa menebak apa yang terjadi, yang ia tau hanya sahabatnya mungkin tidak mendapatkan jawaban yang ia harapkan, tapi tak pernah ia pikirkan bahwa Kurapika akan menjadi diam seperti ini. Namun Yumi tak mau memaksa sahabatnya.

.

"Because your happiness is also my happiness…" gumam Yumi.

.

Ini malam kedua setelah mereka kembali dari rusia, besok mereka akan mulai bekerja seperti biasa. Memang tak nyaman karena suasana canggung yang mereka bawa saat pulang dari rusia masih berdiam disekitar mereka… Tapi Yumi sama sekali tak keberatan dan sekali lagi meyakinkan bahwa kebahagiaan Kurapika, kesedihan Kurapika adalah miliknya juga.

.

Seminggu kemudian, malam hari menjelang hari sabtu. Malam sebelum malam natal.

Yumi menatap malas kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang dari balkoni kamar apartemennya di lantai 16, ia pun menoleh ke balkoni beberapa meter disebelahnya, balkoni kamar apartemen Kurapika. Sedikit-sedikit cahaya kemerlapan kota mengalihkan pikiran Yumi, dan ia pun mengambil kameranya untuk mengabadikan beberapa objek. Ketika sedang sibuk memotret, bel apartemennya pun berbunyi… Yumi menyahut dan membuka pintu apartemennya, tamu tak diduga… Kurapika, setelah mengunci diri beberapa hari lalu setiap pulang kerja akhirnya ia mengunjungi Yumi, padahal sebelumnya ketika Yumi berkunjung pun Kurapika pura-pura sudah tidur.

"Silakan masuk ^_^" sambut Yumi ceria, mencoba menutupi rasa penasarannya.

.

Ia tak akan memulai berbicara, hanya menunggu Kurapika yang mulai berbicara. Yumi menyuguhkan secangkir teh dan cheese cake kesukaan Kurapika yang kebetulan ia beli tadi sore sepulang dari rumah sakit. Setelah beberapa saat, Kurapika pun beranjak untuk duduk di bangku di balkoni. Yumi mengikuti sambil melahap sedikit demi sedikit coklat di tangannya. Dan akhirnya Kurapika angkat bicara, ia memohon Yumi untuk mempercayai semua yang akan diceritakannya sebelum ia mulai bercerita. Yumi mengangguk pasti. Dan Kurapika pun menuturkan semua yang terjadi kepada Yumi, sementara Yumi mendengarkan dengan sabar dan bereaksi terkejut di beberapa bagian saat Kurapika bercerita, lalu sesaat Yumi menggenggam tangan Kurapika sambil terus mendengarkan sahabatnya bercerita dan akhirnya Kurapika menangis lemah dipundak Yumi. Memang rumit dan tampak mengada-ngada, namun Yumi mempercayai sahabatnya sepenuhnya.

.

"Pinjam dulu ya pundakmu…" kata Kurapika terisak.

"Ya…" jawab Yumi singkat.

.

Yumi menyandarkan kepalanya di kepala Kurapika, tangannya mengusap lembut punggung sahabatnya sedangkan tangannya yang lain menggenggam tanya Kurapika. Ia menunggu dengan sabar sampai Kurapika berhenti menangis.

.

"Kore wa hajimete da yo… I see you crying like this… Haha, gue gak nyangka lu bisa nangis juga…" ujar Yumi.

"Hiks… sialan lu…" balas Kurapika, lalu menangis lagi.

.

Yumi kini memeluk Kurapika untuk menenangkannya… Sejuknya angin malam dan wangi bunga lilac yang ia taruh di pot di ujung balkoni, mulai membuainya… Sebuah lagu akan perasaannya mengalun indah di benaknya.

.

.

.

Together hand in hand

we walk through evening gloom

long shadows on the pavement

cast from the sunset sky

if only this would last

until the end of time

and if this is forever

I swear that I could cry

.

The northern wind starts to blow

and the smell of winter in the air

as we take each step upon the ground

the season of love

grows near

.

We could share the very first

snowflowers of the year

in your arms where I belong

watch as the city turn from grey to white

and the day turn in to night

.

Love that floats like wayward clouds, that's not what we're about

Sure and strong is my love for you

And it comes from the bottom of my heart

.

If there comes a time when you have lost your way

I'll turn myself into a star to guide you through

If ever you find tears upon your face

I will be there, always be there for you

.

We could share the very first snowflowers of the year

In your arms where I belong

Watch as the city turns from grey to white

The day turns into night

.

Love that floats like wayward clouds, that's not what we're about

Sure and strong is my love for you

The city turns from grey to white

The day turns into night

.

We could share the very first snowflowers of the year

In your arms where I belong

.

Cold winds from the North blow

The sky casts its last glow

But you and I are standing strong

.

Dan tepat ketika penggalan lirik lagu snowflower berhenti mengalun dalam benak Yumi… Salju pertama bulan desember turun. Yumi berseru ceria dan berputar-putar seakan-akan salju akan terbang dan turun ke arahnya. Kurapika menghapus air matanya dan ikut tersenyum senang melihat Yumi yang ceria.

.

"Dasar… lu tuh gak bisa sedih ya…?" tanya Kurapika masih sedikit terisak.

"Bisa kok ^_^" kata Yumi.

"Kapan… kapan lu bisa sedih…?" ejek Kurapika iseng.

.

Yumi tertawa bahagia, dan mencoba menyentuh snowflake yang turun perlahan. Lalu ia memutar tubuhnya menghadap Kurapika. Tersenyum tulus dan cerita seperti biasanya dan menjawab pertanyaan Kurapika.

.

"Whenever you sad… I'm sad…" kata Yumi ringan.

.

Kurapika tersenyum mendengarnya, lalu menyandarkan tubuhnya dibalkoni sambil menatap salju yang berjatuhan. Yumi mengikutinya tepat disebelahnya, sesekali Kurapika melirik sahabatnya yang tersenyum ceria dengan matanya ungu indahnya yang serasi dengan bunga lilac disebelahnya. Lalu Kurapika menatap lagi keindahan langit malam dan salju yang berjatuhan dengan anggunnya dari langit. Dan…

.

"Kurapika…" panggil Yumi.

"Ya…?" sahut Kurapika lalu menoleh

.

Hening…

…Diam

.

Lalu Yumi membuat jarak antara bibirnya dan bibir Kurapika dan membisikkan "I Love You"

Kurapika tampak sedikit terkejut… Jantungnya mulai berdetak tenang, detak jantung gelisah yang ia rasakan sedari pulang dari rusia waktu itu perlahan lenyap. Kurapika menatap wajah Yumi yang belum menjauh dari wajahnya setelah menyudahi ciuman itu. Ia ingin berbicara, tapi Yumi mendahuluinya, masih dengan wajah cerianya.

.

"Kau tak perlu membalas perasaanku… Aku tidak seperti kau di kehidupanmua yang lalu, bagiku, jika orang yang kucintai bahagia, maka aku bahagia, dan jika ia sedih, maka aku sedih… Sesimple itu, memang terlihat tak berkesan, namun aku tak pernah mau seseorang menderita hanya karena aku mencintainya. Jadi kau tak perlu membalasnya ^_^ Kimi no shiawase wa atashi no shiawase… Your happiness is my happiness, bahagiamu juga bahagiaku… " jelas Yumi ikhlas, ceria itu tak pernah meninggalkan wajahnya dan senyumnya.

.

Kurapika tersenyum… Ya, mungkin aku pun harus begitu, jika orang yang kucintai bahagia maka aku harus bahagia, karena jika ia sedih karena menanggung cintaku, maka aku bukan mencintainya, tapi menaruh dendam padanya. Jika ia bahagia dengan seseorang lain yang mencintainya, maka mungkin aku pun bisa bahagia bersama orang lain yang mencintaiku. Chrollo… Alexandra… cinta pertamaku… Sebagai Curapica dan Kurapika… Cinta indah yang tak dapat terbalas, aku tak akan melupakan kisah ini, tapi aku juga akan memulai kisah yang baru. Kisah cinta yang tak akan terpisahkan meski maut menjemput.

.

"Yumi…" panggil Kurapika.

.

Kurapika menyentuh lembut pipi Yumi, dan mencium gadis itu…

.

"Will you wait for me to love you too…?" tanya Kurapika lembut.

.

Yumi tersenyum…

.

"Of course…"

.

Dan gadis itu mencium sahabatnya sekali lagi.

.

Akankah masa depan berubah…? Siapa yang tau…? Manusia ternyata bisa begitu bodoh untuk berpikir demikian… Masa depan selalu rahasia, akankah masa depan berubah atau masa depan hanya berubah bentuk tanpa berubah cerita, hanya berwujud baru tapi berkisah sama, siapa yang tau ? Manusia hanya bisa berusaha namun hasilnya tak selalu seperti yang diharapkan. Kini aku mengerti aku tak akan lagi menyia-nyiakan hidupku, aku akan berusaha memperbaiki diriku, berusaha mengerti, bahwa masa depan adalah misteri.

.

.

.

Will Death Do Us Apart

The End