Title : Through The Years
Genre : Romance/Fluff
Characters : Main! HunHan
Length : Chaptered (setiap chapter berisi drabble)
Summary : Kejadian-kejadian di kehidupan Sehun dan Luhan yang tumbuh bersama
Disclaimer : The Story is not mine! The translation in mine! This story belongs to rosavine and blake_maclaren
The original story can be found at asianfanfics . com story/view/690323/through-the-years-drabbles-fluff-romance-luhan-sehun-hunhan
Thanks for the authors who give me permission to translate it^^
Warn : Typo(s), aneh, rancu.
Sick
Luhan tidak suka sakit jadi merupakan hal yang bagus karena Luhan tidak mudah sakit. Tapi sekali dia sakit, biasanya sakit nya parah. Merasa haus, dia mengambil gelasnya yang ada di samping tempat tidurnya yang ternyata sudah kosong. Dia mengayunkan kakinya sampai ke sisi ranjang, dengan maksud mendapatkan air. Saat berdiri, tiba-tiba dia merasa pusing dan jatuh kembali ke tempat tidur nya.
"Tuan putri, butuh bantuan untuk bangun?" Luhan membuka satu matanya dan melihat Jongin, Sehun dan teman lainnya berdiri di ambang pintu.
"Sehun, tolong hilangkan Jongin." Luhan berkata dengan lemah.
"Aww, kau menyakitiku." Jongin meletakkan tangannya di dadanya seakan-akan dia tertembak.
"Kalau Jongin hilang, sepertinya aku merasa jauh lebih baik." Jawab Luhan yang membuat Sehun terkekeh. "Aku mau minum."
"Aku akan mengambilnya." Yixing menawarkan, mengambil gelas dari meja.
.
.
.
Saat Luhan bangun lagi, langit sudah gelap. Dia tidak tau sudah berapa lama dia tidur tapi dia tebak teman-temannya mungkin sudah pulang. Dia melihat ke meja belajarnya, dia melihat Sehun sedang duduk dengan buku di depannya. Mungkin Sehun sedang mengerjakan PR nya.
"Sehun? Kenapa kau masih di sini?" Luhan bertanya, mencoba bangun dari tempat tidur nya. "Aku sudah baikan sekarang, kau harus segera pulang."
"Aku menginap malam ini, aku sudah minta izin ibu ku dan Nyonya Lu. Mereka mengizinkannya." Sehun memberitahunya. "Kau lapar?"
Bicara soal lapar, Luhan mengelus perutnya dan teringat kalau dia belum makan apapun sejak makan siang. "Kau memasak? Jangan bilang kalau kau membakar dapurku- "
"Aku tidak bisa masak untuk menyelamatkan hidupku." Ada senyum yang menyakitkan di wajahnya. "Nyonya Lu membuat bubur untukmu. Aku akan memanaskannya untukmu."
"Jadi sekarang, aku punya pelayan pribadi yang bisa ku suruh-suruh? Sakit tidak buruk juga." Luhan tersenyum lebar.
"Jadi ada perintah lain, Tuan Putri?" Sehun memutuskan untuk menggunakan nama panggilan yang di pakai Jongin, membuat Luhan menatap terkejut pada Sehun.
"Hey, aku suka itu. Tidak semengganggu seperti saat Jongin memanggilku." Luhan tersenyum. "Jadi pelayanku, aku mau beberapa makanan dan segelas jus jeruk. Bawakan ke sini dalam lima menit- "
"Ya Tuan Putri, keinginanmu adalah perintah bagiku." Sehun menghela nafas panjang.
.
.
"Apa?" Sehun bertanya saat melihat Luhan menatapnya dengan penuh harapan. "Tidak, aku tidak mau melakukannya."
"Bukankah permintaanku adalah perintah bagimu?" Bibir Luhan melengkung ke atas dengan senang saat dia melihat Sehun mengangkat sendok dengan enggan dan menyendokkan satu sendok penuh bubur. Meniup bubur itu perlahan, ia menyodorkannya dan menunggu Luhan membuka mulutnya. "Aku harus lebih sering sakit."
Sehun tidak mengucapkan apapun selain memutar matanya dan melanjutkan menyuapi Luhan yang bangga pada dirinya sendiri.
Akhirnya, sudah waktunya bagi mereka untuk tidur. Nyonya Lu menggelar kasur untuk Sehun tidur. Sehun berganti pakaian dengan piyamanya dan masuk ke dalam selimutnya sampai dia melihat Luhan tidur di salah satu sisi ranjang dan menyisakan ruang kosong di sisi lain tempat tidurnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu, bagaimana jika aku sakit?" tanya Sehun, menyelimuti dirinya.
"Tapi ada petir." Luhan berbisik pelan. "Aku tidak suka petir, petir itu menakutkan."
Beberapa saat dalam keheningan, Luhan pikir Sehun sudah tertidur. Hanya beberapa menit kemudian, dia merasakan guncangan di tempat tidurnya. Luhan tersenyum lebar, dia melihat Sehun yang menatapnya jengkel.
"Tidurlah, Tuan Putri." Kata Sehun, berbalik menatap Luhan. "Kalau kau tidak mau segera tidur, pelayanmu tidak akan bisa- "
"Tidak lagi, kau bukan pelayanku lagi." Luhan menyela Sehun.
"Jadi apa yang membuatku- "
"Ksatria ku, satu-satunya ksatria ku." Luhan tertidur dengan sangat lelap malam itu. Esoknya, dia sudah sembuh total dan menyadari kalau Sehun sudah jatuh sakit.
-x-end-x-
T/N : Park minta maaf bgt ga update lama bgt... mian krn ngaret.. park ngak ktemu kartu buat isi pulsa modem ㅠㅠ.. ga internet pke modem selama ini.. mianhae...ㅠㅠ really sorry
ini aj pke hp nge publish ny... 정말 미안해.. 진심으로...
Maaf krn kelalaian Park
.
.
Sekali lagi Big Thanks buat yg msh baca review follow favorite...
감사합니다
P.s : kykny utk chapter selanjutny akan lama updateny.. sbnrny udh ketik d laptop tp lgi Park usahain utk updatenya..
