MY DAY WITH YOU
Keseharian Hinata dan Naruto, asam manis cinta yang mereka berdua rasakan.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem
Rated T
Genre : Romance
Pair : NaruHina, slight SasuSaku, ShikTema, SaiIno, NejiTen.
Warning : Typo, OOC, plus rada-rada gaje hihi~
.
.
.
Chapter 11 : Spoiled Hinata?!
"Hachii!"
"Hinata kau tidak apa-apa kan?" Naruto sedikit kaget mendengar suara bersin dari gadis indigo itu.
"A..aku tidak apa-apa Naruto-kun." Jawab Hinata seraya mengusap-usap tangannya yang terasa dingin.
Naruto tentu saja tidak percaya, melihat gerak-gerik kekasihnya yang tidak seperti biasanya.
OoOoOoOoOo
Pagi itu udara terasa dingin di pertengahan desember ini, Hinata sengaja menggunakan syal yang sangat tebal untuk menutupi lehernya, walau rambut panjangnya itu sudah mampu mwngurangi rasa dinginnya, tapi hanya untuk siap-siap saja. Dan ketika gadis itu berniat untuk berangkat sekolah.
"Salju!" ternyata salju sudah turun, untunglah tidak begitu lebat jadi dia masih bisa berangkat sekolah, tapi lain halnya Hanabi. Adik perempuannya itu malah senang luar biasa begitu keluar dari rumah dan langsung disambut dengan salju.
"Hore Salju! Nanti aku harus membuat boneka salju!" pekiknya senang, padahal salju kan baru turun hari ini jadi mana mungkin benda putih itu akan menumpuk secepat kilat. Yah~ biarkan saja~
"Kakak! Aku berangkat sekolah dulu ya!" teriak gadis itu, Hinata mengangguk kecil seraya melambaikan tangannya pada adiknya itu.
Gadis indigo itu masih menunggu kedatangan Naruto, mata lavendernya melirik ke kanan dan ke kiri jalan. Tapi nihil, pemuda pirang itu entah kenapa lama sekali datangnya.
Hinata mulai sedikit khawatir, mencoba untuk mengambil handphone untuk menghubungi kekasihnya itu, sampai..
Grep, sebuah tangan menutupi penglihatannya, gadis itu panik. 'Ja..jangan-jangan orang jahat!' batinnya takut.
"Si..siapa?" tanyanya gugup. Berharap kalau perkiraannya itu salah.
"Ayo tebak~"
"..." suara itu sepertinya Hinata mengenalnya. Dan gadis itu juga samar-samar dapat mencium arom jeruk yang menguar dari tubuh orang yang kini menutupi kedua matanya.
"Na..Naruto-kun?" ujarnya kecil.
"Salah~"
Lho?! Apa Hinata salah dengar, kenapa pemuda di belakangnya ini bilang salah. Dia jadi malu, karena menebak-nebak seperti tadi.
Perlahan gadis indigo itu dapat merasakan deru napas pemuda di belakangnya yang kini semakin mendekati telinganya. Dan membisikinya sesuatu.
"Aku kekasihmu~" ujar pemuda itu.
"..." kembali Hinata terdiam, sampai..
"Eh?! Itu..kan artinya Naruto-kun!" serunya sedikit kesal, karena di jahili pagi-pagi seperti ini!
Naruto terkikik geli melihat kekasihnya itu gugup padanya pagi-pagi seperti ini, akhirnya pemuda itu melepaskan tangannya yang menghalangi penglihatan Hinata. Dan segera berdiri di depan gadis itu.
"Hehehe~ Kau tahu saja Hinata~" ujarnya senang.
Hinata sedikit kesal karena Naruto sudah menggodanya pagi-pagi seperti ini, gadis itu hanya bisa mengembungkan pipinya plus memasang wajah cemberut.
"Pa..padahal aku sudah khawatir dengan Naruto-kun.." gumamnya tapi masih bisa terdengar oleh Naruto.
"Hee~ Jangan cemberut seperti itu Hinata~" Pemuda pirang itu sedikit merasa bersalah, perlahan ia mendekati gadis yang kini tengah berjalan di depannya. Dan..
Grep, kembali Naruto menarik Hinata ke dalam pelukannya, "Kau pasti kedinginan kan? Kupeluk ya~" ujarnya seraya mengeratkan pelukannya pada Hinata.
"Ja..jangan mengagetkanku seperti itu lagi Naruto-kun." Ucap Hinata, membiarkan pemuda pirang itu memeluknya, lagipula dia juga masih kedinginan. Jadi tidak ada salahnya kan. Naruto mengangguk kecil.
"Siap!" serunya.
OoOoOoOoO
Dan setelah Hinata, Naruto tiba di sekolah. Ternyata salju malah turun semakin lebat, membuat semua murid yang tadinya berada di luar terpaksa harus masuk ke gedung sekolah. Daripada merelakan diri mereka terkena flu~
Kelas~
Naruto membuka pintu kelasnya dengan cepat, tangannya sudah kedinginan dari tadi. Udara di luar benar-benar dingin sekali, begitu juga dengan Hinata. Gadis indigo itu lebih parah, dia malah menggigil kedinginan. Memang pertahanan Hinata terhadap salju tidak begitu bagus, tubuhnya rentan dengan udara sedingin ini.
Naruto hanya bisa menggenggam tangan mungil Hinata, berharap pemuda itu dapat meringankan sedikit rasa dingin di tangan kekasihnya itu #Naruto memang romantis!#
...
"Ohayo Minna!" teriaknya, sapaannya pun hanya di jawab oleh segelintir temannya karena sudah dia tebak. Hampir semua teman-teman di kelasnya entah kenapa tidak masuk hari ini, mungkin karena salju yang turun semakin deras. Menyebabkan semuanya jadi tidak bisa berangkat ke sekolah atau ada alasan lain. Dia tidak tahu~
"Ohayo Naruto, Hinata~" jawab keempat ah bukan, kelima sahabat Hinata bersamaan.
"Dingin sekali pagi ini! Aku jadi ingin pulang sekolah!" keluh Ino ketika Hinata sudah duduk di tempat duduknya.
"I..iya." jawab gadis itu singkat, dan kembali mengusap-usap tangannya.
"Ingin rasanya aku berbaring di Kotatsuku!" seru Sakura.
Selang beberapa menit Sasuke, Sai, Gaara, dan Kiba datang. Sakura menghampiri semua anggota klub basket itu. "Kalian dari mana?" tanyanya, gadis merah muda itu sedikit aneh melihat keempat pemuda itu berpakaian seragam basket kebesaran mereka.
"Tentu saja kami dari pemanasan di lapangan Indoor sekolah, hitung-hitung menghilangkan dingin~" jawab Kiba yang langsung saja berlari kembali ke tempat duduknya. Diikuti dengan kedua temannya kecuali Sasuke.
"Nee~ Sasuke-kun, Kamu pasti lelah kan. Ini kubawakan handuk untukmu~" ucap Sakura seraya memberikan sebuah handuk kecil kepada pemuda raven di depannya itu.
"Hn, Arigatou." Sasuke mengambil handuk kecil itu dan segera meninggalkan Sakura di sana, meski dalam hatinya pemuda itu senang juga mendapat perhatian dari si gadis merah muda~
Sakura hanya bisa tersipu-sipu ketika Sasuke menerima handuk pemberiannya itu, dan dengan wajah yang berseri-seri gadis itu ikut kembali ke tempat duduknya. Dia langsung lupa dengan semua kedinginan yang sejak tadi menerpa tubuhnya, Toh sekarang pipinya sudah memerah dan hangat.
OoOoOoOoO
Akhirnya sampai pelajaran dan bel berbunyi pun yang datang hanya beberapa murid, sekitar dua puluhan. Sedikit sekali!
Dan untuk hari ini entah kenapa mata Hinata sedikit berkunang-kunang, gadis itu tidak memperhatikan penjelasan yang Kurenai-sensei berikan di depan kelas. Sekujur tubuhnya mendadak dingin, sepertinya syal yang ia bawa tadi benar-benar tidak ampuh, buktinya sampai sekarang badannya masih menggigil kedinginan.
'A..aku harus kuat, Ini kan hanya salju, sebentar lagi juga akan berhenti!' batinnya berusaha menyemangati dirinya sendiri. Tapi alhasil..
Permintaan Hinata tidak terkabul, Salju malah turun semakin lebat. Salju yang turun pertama kali memang selalu lebat, tapi tetap saja badan Hinata tidak tahan.
Naruto melihat Hinata dari kejauhan, mata Saphire pemuda itu sedikit khawatir dengan keadaan Hinata. Ingin dia memeluk kekasihnya itu, tapi karena pelajaran masih berlangsung, Ia segera mengurungkan niatnya.
'Kuharap Hinata baik-baik saja~" pikirnya. Pemuda itu mengambil sebuah kertas dan menulis sesuatu di sana. Dengan hati-hati dia melempar kertas itu tepat di meja Hinata.
Sedangkan Hinata, gadis indigo itu terlonjak kaget begitu melihat sebuah kertas menghampiri mejanya, perlahan ia membuka kertas itu.
'Hinata, Kau kedinginan?' (Naruto)
Gadis itu memalingkan wajahnya dan melihat Naruto kini menatapnya dengan tatapan khawatir, hati Hinata serasa meleleh melihat tatapan kekasihnya itu. Dia tidak ingin membuat Naruto khawatir. Gadis indigo itu segera menulis balasan untuk pemuda pirang itu.
'Aku tidak apa-apa kok Naruto-kun, Arigatou sudah mengkhawatirkanku.' (Hinata)
Naruto yang membaca surat balasan Hinata mendesah lega, sepertinya hanya perasaannya saja.
'Baiklah kalau begitu, tapi jika kamu kedinginan bilang saja ya. Nanti aku akan pindah ke tempat dudukmu.' (Naruto)
Hinata mengangguk kecil. Kekasihnya yang satu itu memang perhatian sekali dengannya, saking perhatiannya Hinata ingin sekali menangis. Terlalu bahagia mempunyai seseorang yang begitu peduli dengannya. Walau terkadang over protektif~
.
.
.
Skip Time~
Bel isthirahat pertama akhirnya berbunyi juga~ dua setengah jam pelajaran yang diisi hanya dengan menggosok-gosokan kedua tangan karena kedinginan pun berakhir. Naruto segera beranjak dari tempat duduknya menuju tempat duduk Hinata.
"Kau masih kedinginan?" tanyanya dengan nada lembut, tidak ada waktu menggoda kekasihnya ini kalau keadaannya seperti ini kan?!
Hinata pura-pura menggeleng kecil, senyum tipis pun ia berikan pada pemuda pirang itu.
"A..aku tidak apa-apa Naruto-kun, kan sudah kukatakan dari tadi." jawabnya singkat, berusaha menahan agar tangannya tidak menggigil.
Naruto yang melihat gadis indigo itu menggeleng kecil, mengerucutkan bibirnya kesal. Kenapa gadis ini tidak mau jujur dengannya, dia tahu kok kalau sedari tadi Hinata kedinginan, Hah~ kekasihnya ini memang terlalu pura-pura kuat.
Dengan perlahan Naruto meletakkan kedua telapak tangan yang tadi pertama-tama ia usapkan. Di pipi Hinata, ternyata pipi gadis itu sudah sedingin es!
"Kau ini Hinata~ Mestinya bermanjalah denganku sedikit dalam keadaan seperti ini. Aku kan kekasihmu~" ujarnya kembali.
Hinata yang mendengar perkataan Naruto padanya, hanya bisa menundukkan wajahnya malu. Seperti percuma saja menyembunyikan semuanya dari pemuda pirang ini.
"A..Arigatou Naruto-kun, tapi aku tidak mau merepotkanmu.." jawabnya setengah berbisik.
Senyum kecil terukir di wajah tan Naruto, dengan lembut pemuda itu mengacak-acak puncak kepala Hinata. Gemas melihat sikap gadis di depannya ini, kalau memerah wajah Hinata memang manis sekali di matanya.
"Baiklah, baiklah kalau Tuan Putriku berkata seperti itu. Tapi kau harus janji jangan memaksakan dirimu di tengah cuaca seperti ini?" tanyanya seraya menjawil hidung Hinata pelan.
"Ittai!! Na..Naruto-kun~ Iya, iya aku janji!" ringisnya pelan.
"Bagus~"
"Oh iya, Bibirmu juga dingin Hinata, jadi aku cium ya~" ujarnya pelan, sampai belum sempat Hinata merespon perkataan Naruto tadi, pemuda pirang itu sudah asal cium saja.
"Eh?!"
CUP, sebuah ciuman singkat ia berikan. Dan segera beranjak dari tempat duduk Hinata, meninggalkan gadis indigo yang masih terdiam di bangkunya dengan wajah yang semakin memerah. Memang dia akui ciuman kekasihnya itu membuat bibir Hinata yang tadinya sedikit membeku jadi perlahan-lahan hangat kembali.
'Arigatou Naruto-kun~' batinnya kecil, sambil menyentuh bibir mungilnya itu.
OoOoOoOo
Grek, Pintu kelas terbukan tiba-tiba, yang kini menampakkan wajah Sakura yang tengah tertawa senang.
"Teman-teman! Aku punya kabar baik dan kabar buruk!" teriak gadis merah muda itu, semua langsung menoleh ke arahnya dengan pandangan bingung.
'Kabar baik dan buruk?" batin mereka bersamaan.
"Kalian mau mendengar yang mana dulu?" ujarnya.
"Kabar baik!" teriak semuanya berbarengan, Hinata mengernyitkan dahinya bingung.
"Nah untuk kabar baiknya, Tadi ada pengumuman katanya semua kelas untuk hari ini di tiadakan karena cuaca yang tidak mendukung!" serunya senang. Dan tentu saja semua teman-teman yang mendengar bersorak-sorak riang, jadi mereka bisa pulang cepat dan diam di dalam mesin penghangat masing-masing!
"Dan kabar buruknya untuk yang tidak membawa payung! Salju turun sangat lebat hari ini jadi aku tidak bisa pulang! Huwee!" teriak Sakura, gadis itu merengek kecil. Tidak menyangka kalau salju akan turun selebat ini dan melupakan barang terpenting itu. Kalau misalnya dia menerobos salju yang turun sama saja dia mencari sakit kan?! Jadi alhasil menunggu di sekolah adalah alternatif terbaik~
"Siapa yang tidak membawa payung sepertiku?!"
Dan ternyata..
"A..Aku lupa membawa payung Sakura-chan.." ujar Hinata, Sakura pun kaget mendengar sahabatnya yang selalu siap apapun lupa membawa payung.
"Kau benar-benar lupa?" ujarnya kembali. Hinata mengangguk kecil.
"A..aku juga tidak mengira kalau saljunya akan turun selebat ini." jawabnya.
Dan tidak hanya Hinata yang lupa, bahkan semua anggota klub basket termasuk Sasuke ikut-ikutan lupa, begitu juga dengan kelima sahabat Hinata. Entah mereka semua janjian untuk tidak membawa payung sama-sama atau cuma kebetulan saja, Sakura sedikit sweatdrop melihat kekompakan teman-temannya itu.
"Jadi nanti kita diam disini sampai salju reda, Oke!" serunya kecil, dan dijawab anggukan semuanya.
Nah sedangkan untuk yang membawa payung, mereka semua langsung pergi meninggalkan kelas dengan semangat empat lima. Ada yang bersama kekasihnya masing-masing, (Konan dan Pein), dan ada juga yang sendirian.
...
Dan kesebelas peran utama kita sekarang tengah diam di kelas yang tidak ada penghangat ruangannya, berbekalkan sebuah Kairo yang mampu meredakan rasa dingin walau hanya selama beberapa jam.
Udara dingin mulai menyelimuti seluruh ruangan kelas, Sakura mulai menggigil kedinginan seperti Hinata. Sasuke yang melihat itu langsung menghampiri gadis itu yang kini tengah meringkuk di bangkunya seraya mengusap-usap kedua tangannya. Pemuda raven itu mengambil syal tebalnya.
Sret, Sasuke dengan perlahan mengalungi syalnya ke leher Sakura, membuat gadis itu kaget.
"Sasuke-kun, kenapa kau malah memberikan syalmu padaku? Kau saja yang pakai!" ujarnya sedikit memerah.
"Hn, rambutmu itu pendek jadi tidak bisa melindungi lehermu dari kedinginan." Jawab Sasuke singkat kemudian berjalan meninggalkan gadis itu (lagi) menuju tempat teman-temannya. Dan Sakura, gadis itu menatap punggung Sasuke dengan senyum kecil di wajahnya.
"Padahal rambutmu kan lebih pendek dari pada rambutku, Sasuke-kun~" gumamnya kecil.
...
Selama beberapa jam mereka berdiam diri di kelas,
Grek, pintu kelas terbuka yang kini menampakan seorang pemuda berambut nanas dan pemuda berambut panjang coklat.
Shikamaru Nara aka kekasih Temari langsung memasuki kelas yang sudah sepi itu diikuti dengan Neji Hyuga aka kekasih Tenten sekaligus kakak sepupu Hinata.
Pemuda nanas itu menghampiri Temari yang tengah meniup-niupkan tangannya agar tidak kedinginan. "Ayo pulang~" ucapnya, membuat Temari sedikit terlonjak kaget begitu melihat kekasihnya itu sudah ada di sampingnya.
"E..Eh?! Kenapa kau ada disini Shika!" pekik gadis itu kaget, Shikamaru hanya menguap sesekali dan menarik lembut tangan Temari.
"Aku akan mengantarkanmu pulang, pasti kau lupa membawa payung kan?" tanya singkat tapi langsung menohok hati gadis pirang di depannya itu, Temari menunduk malu.
"I..Iya.." ujarnya setengah gugup. Wajahnya malah ikut-ikutan merona seperti Sakura.
"Gaara nanti Temari-nee akan meminta Kankuro menjemputmu." Ucapnya pada Gaara yang ternyata adalah adiknya yang hanya selisih beberapa hari darinya. Pemuda merah itu hanya mengangguk kecil.
Akhirnya gadis itu menyerah juga dan pulang bersama Shika setelah berpamitan dengan sahabat-sahabatnya itu. Satu Teman terselamatkan dari Salju~
...
Dan Hyuga Neji, pemuda berambut panjang coklat itu menghampiri Tenten aka kekasihnya. Melihat gadis itu menggigil kedinginan, dia segera melepaskan jaket yang sedang ia gunakan dan memberikannya pada Tenten.
"Ayo kita pulang." Ucapnya dengan nada khawatir.
"Arigatou Neji," jawab gadis itu setengah menggigil.
Setelah Neji memakaikan jaketnya pada Tenten, pemuda itu kembali menghampiri Naruto dan adik sepupunya yang kini tengah duduk bersama di sudut ruangan kelas. Mencari kehangatan.
"Ayo pulang Hinata." ujarnya lagi. Hinata mendongakkan wajahnya dan melihat bahwa Neji-nii nya hanya membawa sebuah payung, bagaimana dia bisa membagi payung itu untuk berempat termasuk Naruto. Kalau hanya bertiga masih bisa, tapi tetap saja Hinata tidak mau meninggalkan kekasih pirangnya ini sendirian dan kedinginan di sini.
Akhirnya Hinata menggeleng kecil, "Ti..tidak apa-apa Neji Nii-san, Aku akan menunggu sampai salju reda. Lebih baik Neji Nii-san pulang dengan Tenten saja." Jawab gadis itu.
"Tapi Hinata.." belum sempat Neji menyelesaikan kata-katanya, Hinata langsung memandang dirinya dengan tatapan memohon, yang pasti selalu ampuh untuknya.
Dengan sedikit mendesah, "Hah~ Baiklah, tapi kalau sampai malam salju belum reda juga. Aku akan menjemputmu." Ujarnya.
"Iya~"
Setelah pemuda coklat itu mengacak lembut rambut indigo Hinata, Ia segera berbalik menuju arah kekasihnya. "Kalian semua, Aku pulang dulu ya!" seru Tenten, semua mengangguk kecil.
Satu temannya lagi terselamatkan dari salju~
...
Tak sampai beberapa jam Kaasan Shion datang membawa payung,
"Shion, Ayo pulang." Ucap Kaasannya, sebenarnya Shion masih ingin tinggal disini. Tidak enak melihat teman-temannya kedinginan disini sedangkan dia bisa pulang sekarang. Tapi.
"Tidak apa-apa kok Shion, sebentar lagi kami akan pulang~" ujar Ino menenangkan gadis pirang itu. Sampai akhirnya Shion mengangguk kecil dan segera berpamitan pulang.
OoOoOoOoOoO
Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 p.m
Yang kini tersisa di kelas hanya Hinata, Naruto, Sakura, Sasuke, Gaara, Kiba, Sai, dan Ino. Sudah hampir tiga jam mereka menunggu salju reda tapi kenapa masih saja lebat.
Naruto yang masih menopang tubuh Hinata dengan pundaknya, memandang khawatir kekasihnya. Sampai..
"Hachii!"
"Hinata kau tidak apa-apa kan?" Naruto sedikit kaget mendengar suara bersin dari gadis indigo itu.
"A..aku tidak apa-apa Naruto-kun." Jawab Hinata seraya mengusap-usap tangannya yang terasa dingin.
Naruto tentu saja tidak percaya, melihat gerak-gerik Hinata yang tidak seperti biasanya. Dengan cepat ia memegang kening Hinata, dan mendapati kening gadis itu sudah panas sekali!
"Hinata, Kau demam! Badanmu panas sekali!" seru Naruto. Suara keras Naruto tentu saja masih dapat di dengar teman-teman mereka yang langsung ikut menghampiri kedua pasangan itu.
"A..Aneh sekali ya, pa..padahal badanku dingin sekali." Gumam Hinata setengah menggigil.
"Ada apa Naruto?!" Ino, dan Sakura panik.
"Badan Hinata panas sekali!" jawabnya seraya mengalungkan syal yang ia pakai tadi pada gadis indigo itu.
Sakura menyentuh pelan kening Hinata, dan "Waa! Panas sekali!" pekiknya.
"Aku harus membawanya ke UKS!" Naruto perlahan membantu Hinata berdiri, tapi entah kenapa gadis itu tidak mau.
"Ti..tidak usah Naruto-kun, Aku baik-baik saja.." ucap Hinata cepat.
Dengan terpaksa pemuda pirang itu menggendong kekasihnya itu ala Bridal Style. Hinata terpekik kaget, melihat Naruto yang menggendongnya seperti ini. Ingin ia memprotes perbuatan Naruto tapi kepalanya serasa berputar-putar. Jadi dia hanya bisa pasrah saja~
"Aku akan membawamu ke UKS, sabar Hinata!" serunya, dan berlari meninggalkan kelas dengan kecepatan maksimum. Sakura dan semuanya ikut membuntuti langkah Naruto dari belakang.
.
.
.
.
UKS~
Brak! Pintu Uks terbuka dengan paksa, menampakkan Naruto yang kini terengah-engah sambil menggendong Hinata. Wajah gadis itu sudah memerah, bukan karena malu seperti biasanya tapi karena demamnya semakin meningkat.
"Shizune-sensei!" teriak pemuda pirang itu panik. Mata Saphirenya mencoba meneliti ke seluruh ruangan dan mendapati Senseinya itu tengah duduk di kursinya. Shizune yang tadinya sedang mengecek obat-obat di mejanya langsung terlonjak kaget mendengar suara teriakan Naruto. Cepat-cepat wanita itu menghampiri Naruto yang kini tengah menggendong kekasihnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Hinata, Sensei!! Badan Hinata panas sekali!" seru Naruto, otak pemuda pirang itu sudah tidak bisa berpikir lagi melihat suhu badan Hinata yang semakin panas.
"Baiklah, coba kau baringkan dia di tempat tidur itu." jelas Shizune, kekhawatiran Naruto yang terlalu berlebihan membuat wanita menahan agar tidak tersenyum. Sepertinya dia benar-benar menyukai gadis indigo itu.
Naruto mengangguk keras dan berjalan menuju tempat tidur yang di tunjukan Senseinya tadi, membaringkan Hinata dengan pelan-pelan.
Shizune mengambil Stetoskopnya,dan memeriksa keadaan Hinata. Napas gadis itu terdengar naik turun. Dan suhunya juga sudah hampir melebihi suhu normal orang biasa.
"..."
Harap-harap cemas Naruto menunggu hasil cek Hinata, "Bagaimana keadaannya Sensei?" tanyanya.
Shizune tersenyum kecil, "Tenang saja, Dia hanya terkena demam biasa. Hanya perlu isthirahat yang banyak. Kemungkinan dua hari lagi Hinata bisa sembuh." Jelasnya.
Mendengar penjelasan Shizune, Kaki Naruto serasa lemas. Dia benar-benar khawatir Hinata terkena penyakit parah! Napasnya yang tadi tidak teratur perlahan-lahan kembali normal.
"Untunglah~" bisiknya kecil. Perlahan pemuda pirang itu menghampiri kembali Hinata yang kini terbaring di sana. Ia menyentuh kening gadis itu dengan lembut.
Shizune melihat keluar ruangan dan mendapati ternyata salju sudah mulai mereda~
"Sepertinya Salju juga sudah reda, jadi kalian bisa pulang sekarang. Dan ingat setelah nanti dia sampai di rumahnya. Kompres keningnya untuk meredakan demamnya." Jelas wanita itu kembali.
Naruto mengangguk kecil, mencoba membangunkan kekasihnya itu dengan menepuk pelan pipinya. "Hinata, Kau bisa berdiri. Salju sudah reda, jadi kita bisa pulang~" bisik Naruto di telinga Hinata.
"..." tidak ada jawaban dari gadis itu.
"Mungkin dia terlalu lelah, dan pusing. Lebih baik kau saja yang menggendongnya." Ujar Shizune, Naruto mengangguk lagi.
Grep, dengan satu kali angkat pemuda pirang itu langsung menggendong Hinata di punggungnya. "Kalau begitu kami pulang dulu, Shizune-sensei!" serunya dan kembali meninggalkan ruangan itu.
OooOoOoOoOo
Sebenarnya Sakura dan Ino ingin ikut ke rumah Hinata, tapi Naruto tidak ingin kedua gadis ini ikut-ikutan terkena demam. Jadi ia meminta Sasuke dan Sai untuk mengantar Sakura, Ino pulang ke rumah mereka masing- masing.
"Aku juga ikut Naruto!" pekik Sakura.
"Hn, aku akan mengantarkanmu pulang, Ayo." Sasuke tiba-tiba saja menggenggam tangan Sakura dan menarik gadis itu pergi dari sekolah itu.
"Ta..tapi Sasuke-kun, Aku kan.."
Mata Onyx Sasuke menatap manik emerald Sakura. Gadis merah muda itu menunduk malu ketika mendapati pemuda raven itu tengah memandanginya.
"Aku lebih khawatir lagi kalau kau ikut terkena demam kalau tidak segera pulang ke rumahmu." Ujar Sasuke.
"Eh?!" Sakura terpekik kaget mendengar perkataan pemuda itu padanya. Hati gadis itu serasa berbunga-bunga karena Sasuke ternyata masih mengkhawatirkannya. Jadi dengan sedikit gugup Sakura menganggukkan kepalanya dan membalas genggaman Sasuke padanya.
"Ba..baiklah kalau begitu~" gumamnya kecil, menyembunyikan rona merah di pipinya.
...
Sedangkan Sai dan Ino~
"Sai, Kau pulang dulu saja. Aku akan pergi ke rumah Hinata." ucap gadis pirang itu kepada kekasihnya. Tapi tanpa basa-basi lagi...
Grep, Sai malah menggendong gadis itu menjauh dari sekolah setelah mengucapkan selamat tinggal dengan teman-temannya.
"Sa..Sai, turunkan aku!" pekik gadis itu malu.
Sai hanya tersenyum kecil, "Aku juga sedang kedinginan Ino, jadi setelah kita di rumahmu. Aku ingin berteduh disana. Bolehkan?" perkataan Sai sontak membuat wajah Ino ikut-ikutan memerah seperti tomat.
"Geez~ Kau ini!" pekiknya kembali.
...
Sedangkan Gaara dan Kiba, ternyata kedua pemuda itu seperti yang dijanjikan tadi. Kankuro aka saudara Gaara datang menjemputnya. Dan Kiba, Akamaru tiba-tiba saja datang bersama kakaknya, Hana Inuzuka.
Jadi mereka pun ikut mengucapkan selamat tinggal pada Naruto yang kini tengah menggendong Hinata di punggungnya.
.
.
.
Sekarang hanya tinggal mereka berdua, Naruto dan Hinata.
Pemuda pirang itu berjalan secepat mungkin seraya menjaga Hinata yang ia gendog agar tetap hangat. Gadis indigo itu masih tertidur sampai beberapa menit kemudian, mata lavendernya mengerjap-ngerjap.
"Di..dimana ini?" gumamnya kecil. Pemandangan yang ia lihat kini bukanlah kelasnya lagi melainkan pemandangan jalan.
"Kita akan pulang ke rumahmu Hinata." suara itu menyadarkan Hinata dari khayalannya.
"Eh?! Ke..kenapa kau menggendongku seperti ini Naruto-kun?!" pekik gadis itu kaget. Matanya pun kembali berkunang-kunang sehabis berteriak seperti itu.
"Tidurlah Hinata, Kau masih sakit." Mendengar perkataan Naruto Hinata kembali memejamkan matanya, wajahnya yang tadi sedingin es perlahan-lahan mulai menghangat. Dan tanpa sadar gadis itu menggumamkan sesuatu yang membuat senyum kecil terukir di wajah tan Naruto.
'Naruto-kun, punggungmu hangat sekali~'
OoOoOoOoOo
Skip Time~
Akhirnya setelah waktu menunjukan pukul 15.00 p.m, Naruto sampai juga di rumah kekasihnya itu. Dengan cepat ia segera membunyikan bel rumah Hinata, berharap Hanabi sudah ada di dalam.
Ting, Tong~
"Tunggu sebentar!" Naruto mendesah lega begitu mendengar suara nyaring Hanabi di dalam sana, itu artinya gadis kecil itu sudah datang dari sekolahnya.
'Syukurlah~' batinnya.
Ckleck, tak selang beberapa lama pintu langsung terbuka yang kini memperlihatkan Hanabi yang kini menggunakan pakaian yang sangat tebal. Rencananya untuk membuat boneka salju dihentikan dulu sementara waktu. Jadi sekarang gadis itu hanya bisa diam di kursi penghangat dan menonton televisi.
Manik Hanabi terbelalak lebar melihat Naruto tengah menggendong kakaknya. Wajah kakaknya itu terlihat sekali memerah karena demam.
"Kakak!" Dengan panik Hanabi menghampiri Naruto. Mengguncang-guncangkan tubuh pemuda pirang itu.
"Kakak kenapa, Kak Naruto?!" serunya.
Naruto tersenyum kecil, ternyata reaksinya tadi dengan Hanabi tidak jauh berbeda. Dengan lembut ia mengusap puncak kepala gadis itu.
"Tenanglah Hanabi, Kakakmu hanya terkena demam saja kok~" jelasnya.
"Benarkah?!" serunya lagi, Naruto mengangguk kecil.
"Sekarang Kakak mau membaringkan Hinata dulu di kamarnya. Kau bisakan menyiapkan kompres untuknya?" pinta Naruto.
Tanpa basa-basi lagi Hanabi mengangguk kencang, dan segera berlari menuju arah dapurnya.
OoOoOoOoO
Kamar Hinata~
Naruto membuka hati-hati pintu kamar Hinata, dan begitu melihat kamar gadis itu. Pemuda itu pun tersenyum kecil. Melihat corak berwarna biru di setiap kamar Hinata, dan banyaknya boneka-boneka kecil di meja gadis itu. Kekasihnya itu memang suka sekali mengoleksi benda-benda lucu~
Dengan perlahan Naruto membaringkan tubuh Hinata di tempat tidur. Menyelimutinya agar tetap hangat.
"..." Pemuda pirang itu menatap lembut wajah Hinata, wajah polos yang hanya gadis itu perlihatkan kalau sedang tertidur. Tangannya pun langsung mengusap kepala Hinata, memperbaiki rambut gadis itu yang kini sedikit menutupi wajahnya.
"Semoga kau cepat sembuh Hinata~" ujarnya pelan.
"Naruto-kun..." Hinata terbangun begitu mendengar suara Naruto, mata gadis itu kembali mengerjap-ngerjap.
"Gomen, Aku membangunkanmu ya?" tanya pemuda pirang itu.
Hinata menggeleng kencang, "Un, Tidak kok Naruto-kun." Jawab gadis itu sambil tersenyum kecil.
"Kalau kau kedinginan bilang saja padaku."
"Iya."
"..."
"Kak Naruto, kompresnya sudah ada!" suara teriakan dari bawah menyadarkan Naruto. Dengan segera ia beranjak dari lantai dan berniat bangun kalau saja..
Grep, tangan mungil Hinata menarik tangan Naruto. Membuat pemuda pirang itu tidak bisa bergerak.
"Hinata.." Dia sedikit kaget melihat gadis itu bersikap seperti ini~
Entah kenapa Hinata malah menggeleng kencang, "Naruto-kun tidak boleh pergi!" pekiknya kecil seraya mengembungkan pipinya.
"Eh?" Naruto cengo sebentar.
"Aku hanya ingin ke bawah sebentar, Hinata~" lanjutnya.
Hinata kembali menggeleng kencang, "Naruto-kun tidak boleh meninggalkan Hinata disini!" pekik gadis itu.
Mata Saphire Naruto membelalak lebar melihat sikap Hinata yang berubah total. Dari yang tadinya seorang gadis yang selalu berpura-pura kuat menjadi gadis manja! Apalagi hati Naruto serasa ingin meleleh melihat wajah Hinata yang semakin imut kalau sedang mengembungkan pipinya ditambah mata lavendernya yang berkaca-kaca. Membuatnya kalah telak!
"Baiklah~ Aku tidak akan pergi." Ujarnya kembali duduk disamping tempat tidur gadis itu.
"Hehehe~ Arigatou Naruto-kun~" Hinata tersenyum kecil seraya menarik Naruto tiba-tiba ke dalam pelukannya.
"Hinata kau baik-baik saja kan?" Naruto malah makin cengo melihat gadis itu yang dengan sendiri memeluknya seperti ini. Kan biasanya Hinata selalu malu.
"Aku baik-baik saja kok Naruto-kun~" ujar Hinata masih memeluk erat Naruto.
"..." lama mereka terdiam dalam posisi itu, sampai..
"Nee~ Naruto-kun,"
"Ya?"
"Arigatou mau mengkhawatirkanku seperti ini, Aku senang sekali~" ucap Hinata.
"Sudah seharusnya kan, Orang yang kucintai sedang sakit. Aku harus menjaganya." Jawab Naruto.
Hinata yang mendengar perkataan Naruto, tanpa sadar mengeluarkan air matanya. Dan menangis tersedu-sedu. Naruto malah semakin panik.
"Hi..Hinata, Kenapa kau menangis. Apa ada yang sakit?!" tanya Naruto berusaha menatap lavender Hinata.
"Aku tidak apa-apa Naruto-kun, Aku hanya bersyukur saja bisa menjadi kekasihmu. Kalau saja Kaasan dan Tousan ada disini.."
Naruto masih menunggu kata-kata lanjutan dari kekasihnya itu dan ternyata...
"Zzzz.." suara dengkuran kecil terdengar dari bibir gadis itu. Hinata kembali tertidur.
Naruto kemudian membaringkan gadis indigo itu di tempat tidurnya lagi, matanya menatap sendu wajah Hinata. Kekasihnya ini pasti sangat merindukan belaian kasih sayang dari kedua orang tuanya itu.
Dengan hati-hati ia mengusap air mata yang sejak tadi menjatuhi pipi mungil Hinata. Dan mencium lembut kening gadis itu.
"Oyasumi~ Semoga kau cepat sembuh Hinata~" bisiknya pelan. Dan perlahan-lahan Naruto meninggalkan gadis itu tertidur lelap.
TO BE CONTINUED~
A/N :
Eeeeiitt! Cerita ini belum selesai lho! Masih ada kelanjutannya di chap depan. Soalnya kalau di lanjutkan terus bakal panjang sekali, dan Ada sedikit kejutan yang menanti di cerita selanjutnya. Jadi stay terus ya!
Arti kata : Kotatsu : meja penghangat yang sering di pakai oleh penduduk Jepang kalau udara sedang dingin.
Kairo : sejenis benda yang bisa meringankan kedinginan dalam waktu beberapa jam, dipakai dengan menempelkannya di dalam baju penggunanya.
Sedikit bocoran buat cerita nanti :
"Apa kalian tahu seberapa rindunya Hinata pada kalian!"
"Naruto-kun, hiks..hiks.."
"Kalau kalian tidak ada niat menjenguk atau pun melihat keadaan anak kalian sendiri. Aku, Naruto Uzumaki tidak akan segan-segan membawa Hinata dan Hanabi pergi dari rumah ini!"
"Jangan pernah mendekati Hinata lagi!"
"Na..Naruto-kun, Ra..rambutmu!"
"Inilah bukti kalau aku akan terus berusaha mendapatkan Hinata. Aku mencintainya!"
Stoop! Nah segitu aja deh bocorannya. Kalian pasti sudah bisa menebak-nebak kan?! Nyehehe XD
Tunggu Next chapnya ya~ :D
...
Jawaban PM :
Lavenderbluesky : Nyehehe Arigatou! XD Walah-walah akan author usahakan deh hehehe :D
Pika-chan : Arigatou! XD Nyehehe bener banget! Nggak apa-apa kok, mau nge riview aja nie author haje udah nari-nari gaje #digampar#
Guest : Sip" Hee~ kebanyakan! XD #digampar# *Hidup NaruHina*
ShinRanXNaruHina : hahahaha, baru tahu ya #digampar# XD Arigatou *lho?!* hehehe, tunggu aja ya~
Manguni : Yosh Arigatou sudah meriview! :D XD
Uzumaki Kaito : Arigatou TOT, sip" :D
Kaoru Mouri : nyahaha Arigatou TOT
Cherry : Iya sama-sama :D Hihihi Sip" XD
mhyy'Tthaa : Arigatou :D udah ada kok, slight SasuSaku, ShikTema, SaiIno, NejiTen. Tapi masih sedikit :D
Blue Sky : Arigatou TOT Ternyata cerita nie author gaje bisa di terima,, hehehe nggak kerepotan kok #ikut nunduk dalem-dalem# XD
SyHinataLavender : Huwee! Arigatou! :D Oh iya baca Ficku yang baru ya 'Jealous You' *nebar-nebar iklan*
Vio-chaaan : Udah ada kok di chap sepuluh , tapi Gaara Cuma nganggep Hinata sebagai adiknya. :D
Nah segitu aja deh Cuap-cuap dari Saia
Akhir kata (lagi)
SILAKAN RIVIEW~ \^O^/\^v^/
JAA~
