.
Just Like Now
By
Deushiikyungie
Cast :: Sehun/Kai/Chanyeol, Sehun/Lay, Kris/Suho, dll...
Disclaimer :: para pemain milik diri mereka masing-masing, keluarga mereka dan agensi masing-masing. Author Cuma meminjam nama mereka. jangan di plagiat ya?
Genre :: Drama, Brothership, Family, lilt Romance, lilt humor
Summary :: Banyak yang ingin ia sampaikan tapi entah kenapa tiba-tiba saja lidah nya kelu dan sulit untuk bersuara. Yang keluar hanya bisikan lirih. "Miss you, my love..." lirihnya.
Warning :: Shonen-ai/BL dan sejenisnya, GS, penulisan sesuai keinginan author, OOC, GaJe... awas Typo...
a/n: saya mengambil sudut pandang dari ketiga main cast dan author pov. Jadi mian kalau sedikit membingungkan…
tidak suka? Jangan maksa baca... tinggal back ajah...
Happy riding,,,.
.
.-Jongin POV-
Haah… membosankan. Ini yang aku tidak suka jika menginap di rumah sakit, meski sehari. Tidak ada yang menemaniku. Sepi. Daddy menyebalkan, melarang aku pulang. Lebih baik aku di rawat di rumah saja, kan.
Haah.. teringat daddy, aku jadi kembali teringat tatapan daddy tadi malam. Kenapa daddy menatapku seperti itu? Sendu dan… ugh, aku tidak suka dengan tatapan itu. Rasanya dadaku sakit melihatnya. Aku jadi ingin menangis. Apa yang terjadi? Apa terjadi sesuatu yang buruk pada ku? Haah, semoga saja kondisiku tidak semakin buruk.
Ugh, hanya bagian kepala-kan? Aku baik-baik saja. Aku merasa baik. Sedikit pusing, tapi kepalaku tidak terasa sakit seperti kemarin. Aku harus tenang, pikiranku harus tenang. Seperti kata dokter Min, aku harus berpikir positive.
Sudah siang, sebentar lagi makan siang. Haaah.. aku hanya bisa berharap siapa saja datang dan bosan menyebalkan ini hilang. Aku butuh teman… aku benci sendirian.
Sehun ah, kenapa kau pergi sekolah, sih!. Kenapa tidak bolos saja~
Tok tok tok
Uh? Siapa yang datang? Baru juga berharap sudah muncul saja. Haha lucky me. Mungkinkah itu Sehun? Tapi tidak mungkin. Sekarangkan jam 11 lewat dan tidak mungkin juga balok es itu membolos.
"Masuk saja," kataku sedikit keras. Mengubah posisi setengah tidurku menjadi duduk bersandar.
Klek
"Um, hai. Jongin?"
Deg!
O, oh… dia. Ya tuhan…
Jongin apa yang kau harapkan sebelum ini? Kena- kenapa 'orang' ini yang datang? Mom- mommy…. akh! Tidak kepalaku…
"Ugh!" aku langsung meremas rambutku. Kena- kenapa tiba-tiba?
"Ya, yah Jongin kau kenapa? Hei, nak. Ada apa? Kepalamu sakit lagi? Hei hei, aduh. Tu- tunggu sebentar, ahjussi panggilkan dokter,"
Hikss… sakit.. kenapa kepalaku tiba-tiba sakit? Apa yang terjadi?
Mom… hikss sakiit… mommy, kepala Jongie sakiitt… ughh,
Mom- mommy… jangan pergi.. hiks, akh!
-Jongin POV end-
Namja yang baru masuk itu langsung bergegas keluar saat melihat remaja yang ingin di jenguknya itu tiba-tiba menjerit sakit dan memegang kedua sisi kepalanya. Junmyeon kaget, tidak tau kenapa tiba-tiba anak dari seseorang yang baru di kenalnya kemarin begitu terkejut saat melihat dirinya.
Ah, apa wajahku terlalu sangar olehnya?
Uh, pemikiran konyol apa itu?
Lupakan.
Beruntung, Junmyeon tidak perlu mencari terlalu jauh. Tiba-tiba saja dokter yang ia lihat kemarin muncul tepat di persimpangan dan tanpa pikir panjang namja uhum manis uhum itupun menarik sang dokter dan langsung membawanya ke ruang rawat Jongin.
"Dokter, cepat periksa anak itu." Ucapnya, sesampainya mereka di kamar Jongin. Dan sang dokter, Yoona pun langsung saja mendekati Jongin dan memegang kepala remaja itu.
Yoona yang paham apa yang terjadi, meski beberapa saat lalu yeoja itu tersentak melihat sosok yang menariknya, langsung menangkup wajah Jongin dan mengarahkan wajah manis itu hingga mereka saling bertatap. Yoona berbisik menenangkan dan mengusap pelan bagian belakang kepala Jongin. Sebelah tangannya yang lain meremas lembut bahu remaja itu.
"Tenang. Tenanglah Jongin… kau harus tenang. Ambil nafas pelan-pelan dan hembuskan lewat mulutmu. Ayo Jongin, kau pasti bisa.. tenang, ne… jangan melawan-nya, semakin kau lawan pikiran itu, mereka akan mendesakmu. Sayang, lihat bibi. Pelan-pelan yah… tananglah…"
Junmyeon hanya bisa melihat dalam diam apa yang terjadi. Ia tidak tau remaja berparas manis itu sakit apa. Tapi hatinya tiba-tiba merasa sedih melihat wajah manis tan itu meringgis sakit, berkeringat dan tubuh itu sedikit bergetar.
Apa sangat sakit? Kenapa kau berteriak dan meremas rambutmu sekuat itu? Pikirnya, menatap sendu si remaja Wu.
Selama 10 menit setelahnya ruangan itupun sunyi. Kedua orang dewasa itu menatap Jongin, memperhatikan remaja itu yang mulai tenang. Yoona membaringkan tubuh lemah itu kembali ke kasur, masih terus menekan dan mengusap kepala remaja itu dengan lembut.
"Merasa lebih baik?" tanyanya lembut.
"Umm.." gumam Jongin pelan. Perlahan membuka mata yang sedari tadi tertutup menahan rasa sakit dan nyeri di kepalanya yang tiba-tiba menyerang. Menatap sang dokter yang sudah ia anggap bibi.
Jongin ingin bicara namun bibir tebal itu tertutup kembali saat satu jemari Yoona menempel di bibirnya. "Sst… tananglah. Bibi yakin kau sudah pernah melihat-nya. Jadi jangan berpikir dan menganggap dia mirip ibu mu. Yah.. dia mirip tapi berbeda Jongin. Kau paham maksud bibi, kan?" ujar Yoona. Menatap manic coklat Jongin, memberi pengertian tentang apa yang dilihat dan tengah dipikirkan remaja itu.
Dia, sosok namja yang mirip dengan mendiang sang ibu. Betapa terkejutnya Jongin saat melihat wajah itu tiba-tiba muncul dan seketika itu pula bayang-bayang sang ibu memenuhi kepalanya secara beruntun membuat aliran darahnya berpacu dan berdampak pada rasa sakit kepala yang dirasakannya tadi.
Jongin yang terdiam hanya menggangguk lemah, mengerti maksud sang dokter. Sejenak menutup matanya kemudian sepasang iris coklat itu beralih menatap sosok namja yang berdiri lumayan jauh dari ranjangnya. Menatap penuh arti wajah pria itu.
"Umm, hai. Apa kau baik-baik saja?" tanya Junmyeon.
Dengan ragu, Jongin membalas setelah menatap sekilas pada sang dokter yang mulai beranjak dari sisinya. "Uh, ya. Aku baik-baik saja… ahjussi."
"Haah, syukurlah. Kau tau, ahjussi panik sekali saat kau berteriak kesakitan seperti tadi. Untung saja ahjussi langsung bertemu dengan dokter ini," ujar Junmyeon.
"Ne.. gomawo, ahjussi.."
"Jadi.. apa yang anda lakukan disini, tuan..?"-Yoona bertanya.
"Ah, itu… saya hanya ingin menjenguk- yah, melihat keadaan Jongin. Dan juga Seokjin menitip salam untuk mu, Jongin ah. Ah, ya ampun, saya belum memperkenalkan diri. Saya Kim Junmyeon, paman nya Seokjin." Jawab Junmeyon.
"Seokjin hyung?" sepintas teringat oleh Jongin seorang pria yang mereka lihat di gang waktu lalu. Dan Jongin tidak menyangka jika namja itu adalah kerabat Seokjin.
Aah, pantas saja mereka terlihat dekat waktu itu, pikir Jongin.
"Jongin ah, bibi harus pergi. Kau tidak apa-apakan bibi tinggal?" kata Yoona. "Ne, bibi. Gomawo.."
Setelahnya hanya Jongin dan Junmyeon dalam ruangan itu. Namja yang lebih tua mendekat dan meletakkan kantong plastik berisi buah di atas nakas. Sepasang manik coklat Jongin tidak lepas dari pergerakan namja itu. "Ahjussi.." panggil Jongin. Jongin sudah bisa mengendalikan pikirannya agar lebih tenang.
"Ne? ada apa?" sahut junmyeon.
"Ahjussi-" tiba-tiba Jongin menghentikan ucapannya. Mirip dengan mommy, batinnya lirih.
"Ya, Jongin? Ada apa? Apa kau terganggu karena ada ahjussi? Ah, lebih baik ahju-"
"Anni. Annia.. ahjussi, apa ahjussi pernah bertemu dengan daddy ku?" ucap Jongin. Entah kenapa tiba-tiba ia bertanya seperti itu. Ada satu harapan jika sang daddy pernah bertemu dengan namja di sampingnya ini.
"Eoh? Daddy mu?" Junmyeon sejenak terdiam. "Ah, pria bernama Kris Wu? Dia daddy mu?"
"Ya. Jadi ahjussi sudah bertemu dengan daddy?"
"Uh, yah.. kemarin. Pagi hari, kami tidak sengaja bertemu…" jawab namja itu. Junmyeon sedikit ragu menjelaskan pertemuannya dengan Kris. Pria tinggi yang menemaninya atau ia yang menemani pria itu kemarin? Ah entahlah. Dan, uh.. apa dia berdebar? Apa-apaan ini?
"Benarkah? Uaah… ahjussi, bagaimana menurut ahjussi daddy ku itu? Dia tampan kan? Yah, walaupun wajah daddy seperti angry bird jelek dan tinggi sekali seperti tiang listri berjalan, tapi daddy ku orangnya baik dan lucu!" kata Jongin, terlihat antusias. Jongin senang. Tentu saja.
Aah.. kenapa cepat sekali rasanya? Bukankah baru beberapa hari yang lalu Jongin berharap Kris dan Junmyeon bertemu dan sekejap angan-angan itu terwujud. Bahagia dan tidak percaya.. itulah yang dirasakan sang remaja Wu. Tuhan baik sekali…
Junmyeon menaikan sebelah alisnya mendengar ucapan remaja yang tengah terbaring itu. Menatap wajah yang terlihat lebih cerah dari sebelumnya. Tersenyum geli melihat si remaja yang antusias menceritakan sang daddy. "Yah, daddy mu itu tampan tidak seperti agy birt.. apa itu. Dan yah, dia baik. Daddy mu orang yang baik,"
Jongin tersenyum manis mendengar ucapan namja dewasa itu tentang sang daddy. Jongin masih tidak percaya jika namja yang mirip dengan sang mommy itu ternyata orang yang baik. Jongin… jadi tidak sabar membuat namja itu menjadi bagian dari keluarga Wu.
Oh, hei, Wu Jongin, jangan berangan-angan berlebihan. Belum tentu ahjussi itu juga suka dengan daddy-mu. Meski mereka pernah bertemu dan 'jalan-jalan' bersama.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang dan Junmyeon akhirnya pamit kembali bekerja setelah berbincang yang lebih banyak menjawab pertanyaan Jongin. Pria itu tidak menyangka, ia bisa merasa nyaman saat bersama remaja itu. Padahal mereka baru bertemu- yah, walau bukan pertama kali tapi beberapa jam yang lalu bersama remaja manis itu membuat sesuatu dalam dirinya menghangat. Ia merasa, muncul rasa kasih sayang saat menatap wajah manis Jongin. Rasa sayang yang sama untuk sang keponakan, Seokjin.
Dan senyum tak lepas dari wajahnya setelah melangkah lebih jauh dari ruang rawat Jongin saat mengingat kata-kata remaja itu yang akan mengunjunginya di restoran setelah benar-benar sembuh dengan wajah ceria.
Senyum bahagia namun sarat akan harapan dan angan-angan itu, terhias di wajah manis seorang Wu Jongin. Meski dia namja, namun bolehkan, Jongin mendapat kasih sayang sosok seorang ibu? Jongin dapat merasakannya, tatapan itu dan sentuhan lembut meski sejenak menyentuh puncak kepalanya. Jongin ingin merasakan lebih…
Just like now…
Just like when he was with he's mom...
He's hope.
Until he can feel the feeling of heaving the whole family back…
Just it.
-J _L_N-
Kris, pria itu kembali menghela nafas saat teringat kembali olehnya kata-kata dokter Min Yoona yang beberapa tahun ini menangani putra pertamanya.
Bingung, takut, cemas, dan marah memenuhi dirinya. Ia marah dan kesal pada dirinya sendiri dan sebersit rasa menyesal akan apa yang dialami sang putra.
Haah… entahlah ia harus apa. Bersyukur atau menangis?
Hah, seharusnya ia masih bisa bersyukur…
Jongin sayang, kenapa kau harus mengalami ini, nak? Haish!
Pandangannya kosong menatap pemandangan di balik kaca bening ruang kerjanya. Menutup matanya dan berusaha menekan perasaan cemas dan takut berlebihan serta pikiran-pikiran buruk mengenai kondisi Jongin.
-Flashback-
"Kondisi Jongin secara keseluruhan, untuk saat ini baik-baik saja." Yoona memulai. Kris menatap diam yeoja di depannya. "Tapi benturan itu tidak bisa dianggap remeh. Ada bagian syaraf yang hampir saja putus jika tadi aku tidak sigap." Kris tersentak mendengar penuturan sang dokter.
"Kondisi anak itu berbeda drastis dari sebelumnya. Jongin akan mudah merasa sakit di kepalanya jika ia memikirkan hal-hal berat atau kenangan-kenangan yang beruntun mengisi pikirannya. Dan bisa saja salah satu penyebabnya adalah kenangannya dengan ibunya. Anda tau sendiri bagaimana Jongin sangat merindukan mendiang istri anda dan keinginan dan kerinduan itu akan menumpuk di pikirannya sehingga respon dari syaraf akan melambat. Dan itu bisa menghambat aliran darah dan menimbulkan rasa sakit pada bagian otak belakangnya.
"Jika rasa sakit itu terus berulang maka kemungkinan besar akan melumpuhkan kinerja otak dan bisa saja… akan menghapus sebagian atau lebih memori Jongin. Intinya, perasaan Jongin lebih sensitive dan itu sangat berpengaruh pada kinerja otaknya."
-Flashback End-
"Aaaarrgghh! Hikss.. kenapa? Kenapa semakin parah…? Suho ya… apa yang harus aku lakukan?" bisiknya pedih. Menunduk dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat. berbalik dan menyandarkan tubuh lelahnya pada dinding kaca. Hatinya sakit dan pikirannya kacau. Nafasnya memburu dan dadanya sungguh sesak.
Tubuh itu bergetar pelan dan perlahan semakin bergetar kencang. Kris tak sanggup lagi dan tangis pun terdengan lirih di dalam ruangan pribadinya.
-J_L_N-
Chanyeol melangkah ragu menuju ruang rawat Jongin. Perasaan takut masih menghantuinya sejak kemarin. Takut jika remaja manis yang baru beberapa hari ia kenal itu masih marah padanya dan tak mau melihatnya lagi. Aah, pemuda tinggi itu resah.
Haah.. tenang Chanyeol. Baekhyun dan Seokjin hyung bilang jika Jongin anak yang baik dan pemaaf, berharap saja dia tidak membencimu. Pikirnya, berdiri tepat di depan pintu rawat Jongin.
Dengan perasaan ragu dan khawatir, di ketuknya pintu itu beberapa kali hingga terdengar suara 'masuk' dari dalam. Chanyeol sejenak memejamkan matanya dan meraih ganggang pintu dan mendorong pintu itu ke dalam.
Di dalam sana, sosok remaja manis itu duduk nyaman di bangsalnya dengan sebuah buku dipangkuan si remaja. Sejenak Chanyeol terpana melihat wajah tenang Jongin. Gurat wajah manis, tatapan polos dan sikap yang tenang. Terpana hingga Chanyeol merasa ia tengah melihat pahatan indah. Ah, berlebihan memang meski perban itu sedikit mengganggu.
"Eoh? Chanyeol hyung? Kenapa berdiri disitu?" suara Jongin sedikit membuat pemuda tinggi itu tersentak dan dengan langkah ragu-ragu, pemuda tampan itu mendekati ranjang Jongin.
Jongin melirik ke belakang Chanyeol dan bertanya bingung. "Hyung? Kau sendirian?"
"Uh? Aah, ne. Aku- aku datang sendiri, Jongin ah.." jawab Chanyeol gugup. Mengusap leher belakangnya dan menatap kearah lain selain kedua mata bulat lucu Jongin. Jongin terus saja menatap pemuda tinggi di sampingnya, kemudian beralih pada kantong plastik di genggaman Chanyeol. Penasaran iapun berniat bertanya dan meraih kantong itu.
Namun belum jemarinya menyentuh plastik, jemari panjang Chanyeol tiba-tiba bergerak dan tanpa sengaja jemari lentik Jongin malah mengenggam tangan Chanyeol yang masih memegang kantong plastik itu. Keduanya tersentak dan terdiam. Sesaat setelahnya remaja manis itu menarik tangannya.
"Ah!"
"Uh, Hyung.."
"N-ne.. Jongin ah. Ah, ini. Hyu-hyung bawa es krim untukmu…"
Chanyeol semakin gugup dan salah tingkah. Pemuda tinggi itu sedikit menjauh dan meletakkan bawaannya di meja nakas samping bangsal Jongin. Sejenak menutup matanya dan membatin. Chanyeol, you're stupid.
Tak beda jauh dengan Jongin, ramaja manis itu menundukkan kepalanya. Merasa malu. Issh, Jongin pabbo. Gumamnya lirih.
Beberapa saat tidak ada yang bicara. Jongin masih setia menunduk, memegang tangan kanannya yang memegang tangan Chanyeol tadi dan terus menggumam kenapa dirinya bisa memegang tangan Chanyeol yang besar itu, kalau Sehun melihatnya menyentuh orang lain pasti dia kena marah. Haah.. tapi Sehun kan tidak ada. Dan lagi ia memegang tangan Chanyeol kan tidak sengaja.
"Jongin ah.." panggil Chanyeol dan sedikit membuat remaja manis itu tersentak.
"Ah, ne hyung. Waeyo?" sahut Jongin pelan.
"Kepala mu, masih sakit?" Chanyeol bertanya. Menatap cemas perban yang membalut remaja manis di depannya. Ingin menyentuhnya tapi takut.
"Um. Tidak, hyung. Aku baik-baik saja. Hehe… nanti malam aku sudah boleh pulang,"
"Begitu kah? Haah… syukurlah. Kau tau, hyung benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk padamu. Maafkan hyung, Jongin ah, seharusnya hyung bisa menangkap bola itu, tapi-"
"Hyung, sudahlah. Aku baik-baik saja.."
"Tapi Jongin ah, kau terluka dan-"
"Hyung aku mau es krimnya."
Jongin lagi-lagi memotong kata-kata Chanyeol. Sepertinya kebisaan remaja itu muncul lagi. Bersikap tidak sopan. Tapi Chanyeol sepertinya sudah terbiasa dengan sikap tidak sopan remaja Wu itu.
Chanyeol menghela nafas, sabar dan mengambil kantong berisi es krim itu. Mengeluarkan makanan dingin itu dan memberikanya pada Jongin. Dan kembali entah Jongin yang terlalu menginginkan es krim, jemari itu kembali bersentuhan. Tepatnya jemari panjang Chanyeol yang menangkup jemari mungil Jongin yang sudah memegang bagian ujung kotak es krim.
Dan sontak pandangan mereka bertemu. Saling menatap dan memandang kedalam manik masing-masing. Dan tanpa mereka sadari, ada desirian halus di hati mereka. Degup jantung pun ikut meramaikan suasana yang kembali canggung.
Chanyeol tersadar lebih dulu dan melepas jemarinya dari kotak es krim dan jemari mungil Jongin yang harus pemuda tampan itu akui, terasa halus dan lembut. Ah, padahal Jongin kan namja, kenapa remaja ini bisa memiliki kulit selembut itu.
"Makanlah.." ujarnya pelan. Salah tingkah, tangan panjangnya meraih kursi yang terletak di ujung bangsal dan meletakkannya di dekat si remaja.
Jongin pun terlihat berusaha menahan degup jantungnya yang seenaknya berdetak cepat. Dengan lugu, remaja manis itu membuka kotak es krim dan menyuap satu sendok ke dalam mulutnya. Brrrrm rasa dingin, manis dan nikmat bercampur menjadi satu yang langsung membuat remaja itu memejam erat merasakan sensasi dari es krim vanilla Stroberry yang lumer di dalam mulutnya.
Chanyeol yang tak sengaja memperhatikan ekspresi namja yang lebih muda, terpana dan merasa gemas dengan tingkah Jongin. Tanpa ia sadari jemari panjangnya mengusak lembut helaian rambut coklat madu Jongin.
"Aigoo… neomu kyiowo… Jongin ah~" gumamnya gemas.
Deg
Dan untuk sekian kalinya, degup jantung itu kembali berdetak cepat dan rona semu pun muncul di kedua belah pipi chubby Jongin. Membuat Chanyeol semakin gemas dan tersenyum tampan.
Untuk beberapa saat mereka memilih diam dalam posisi itu. Tidak ingin melepas pandangan yang kembali bertemu. Dan suatu perasaan pun mulai mengusik kedua namja itu.
Perasaan nyaman dan hangat..
Dan letupan aneh di hati masing-masing.
Namun keadaan manis itu tak berlangsung lama karena suara pintu di buka membuat kedua namja itu tersadar dan saling menjauh. Melihat siapa yang masuk membuat namja manis itu sontak berseru riang dan mengeluh manja.
"Yah Sehuniee! Akhirnya kau datang juga~ kau tau, aku menunggumu dari tadi, tau!"
Sehun, namja yang baru masuk itu sejenak terdiam melihat sang kembaran menyambutnya dan sekejap pandangan itupun beralih pada namja tinggi yang duduk di dekat Jongin-nya. Menatap tajam, seolah-olah Chanyeol musuh yang harus lenyap dari hadapannya/?
Melangkah cepat dan menarik kerah belakang namja yang lebih tua. "Menjauh." Ucapnya dingin.
"Uh? Eh, eeehh yah yah Sehun ah! Apa yang kau lakukan? Lepas oi," protes Chanyeol, berusaha meraih tangan Sehun yang menariknya ke belakang.
"Sehun, apa yang kau lakukan?" tanya Jongin, menatap aneh kembarannya. "Mejauhkan hama." Jawab Sehun datar yang langsung mendapat pelotot tajam dari Chanyeol.
"Yah! Kau pikir aku binatang, huh?" protes Chanyeol.
"…"
Sehun tidak membalas, jemari remaja datar itu meraih kotak es krim di pangkuan Jongin dan memyimpannya di meja nakas. "Yaa… kenapa kau mejauhkan es krim ku juga," seru Jongin sedikit kesal.
"Tidak boleh makan es krim."
"Issh, baru satu suap, Sehun…. Aku ingin makan es krim. Kembalikan,"
"Tidak. Makan ini,"
"Aku tidak suka youghurt,"
"Kau suka."
"Tidak. Huniie kembalikan es krim ku!"
"Makan ini."
"Ani ani aniyaaa… shireo!"
Kedua remaja itu terus saja berdebat menghiraukan Chanyeol yang terdiam menatap interaksi antar dua saudara itu. Seulas senyum terukir di wajah tampannya, menatap wajah merengut Jongin yang terlihat sangat lucu dimatanya. Melihat kedua mata itu memohon dan bibir tebal itu yang di pout imut. Lucu sekali.
"Ugh, kau menyebalkan, balok es!"
Pekikan kesal Jongin menyadarkan Chanyeol dari rasa kagumnya dan beralih menatap Sehun yang juga menatapnya. "Apa?" tanya nya. Sebelah alisnya terangkat.
"Kenapa memberinya es krim?" bukannya menjawab, Sehun balik bertanya. Chanyeol sesaat meringis melihat tatapan tajam remaja yah, tampan itu. Chanyeol mau tak mau mengakui jika remaja yang tingginya hampir menyamai dirinya itu terlihat tampan. Meski wajah itu datar, minim ekspresi. Tapi sekalinya remaja itu tersenyum, wajah datar itu akan semakin terlihat tampan. Dan Chanyeol sedikit beruntung pernah melihatnya. Ketika Jongin tertawa, bibir tipis itu akan terangkat meski sedikit. Sebuah senyum tipis.
"Memangnya kenapa? Es krim kan bagus untuk orang sakit- Awh! Yak! Kenapa kau memukulku?"
"Idiot."
"Aish, jinjja! Anak ini. Bisakah kau sopan sedikit, eoh? Aku lebih tua darimu, Sehun!"
Lagi, Sehun mengabaikan namja di belakangnya, memfokuskan matanya pada perban di kepala sang kembaran. "Apa masih sakit?" tanya nya pelan.
Jongin yang merasa ada yang mengusap kepalanya, menoleh dan mendapati tatapan sayu Sehun. "Anni," gumamnya. Masih menyuap youghurt rasa pisang yang tadi dipaksa Sehun. Padahal dia masih ingin makan es krim.
"Daddy memberitahuku tadi, dia akan menjemput nanti malam." Kata Sehun. Meraih kursi yang di duduki Chanyeol tadi.
"Ung."
Setelahnya mereka terdiam. Sehun hanya memandangi Jongin yang masih lahap memakan youghurt-nya. Chanyeol mendekat, berdiri sedikit jauh dari Sehun.
"Baekhyun hyung dan yang lain sebentar lagi sampai." Ujar namja tinggi itu. Sedikit merasa aneh dengan suasana canggung yang menyelimuti mereka.
Chanyeol terdiam. Tiba-tiba saja terpikir olehnya pria tinggi yang datang bersama Junmyeon kemarin. Kris, ayah si kembar dan calon mertua/uhuk/. Chanyeol sedikit penasaran kenapa Kris bisa datang bersama Junmyeon? Apa mereka berteman? Apa Seokjin hyung tau? Lalu kemana ibu Sehun dan Jongin? Kenapa hanya ada sang ayah?
Pemuda itu penasaran namun sesaat ia akan mengeluarkan suaranya, Jongin lebih dulu bicara.
"Hun," panggil Jongin.
"Hm," gumam Sehun. Sibuk dengan ponselnya yang entah sejak kapan berada di tangannya.
"Tadi siang, paman nya Seokjin hyung datang." Ujar remaja tan itu tenang.
skak
Sehun dan Chanyeol tersentak. Kedua namja itu langsung menatap si remaja manis yang masih ayik dengan youghurt keduanya.
"Huh? Maksud mu-" Sehun terbata, bingung.
"Junmyeon ahjussi?" potong Chanyeol.
Jongin menatap polos dua namja tampan di depannya. "Ne…"
"Apa yang dia lakukan?"
"Berkunjung. Dia juga bawa buah dan titip salam dari Seokjin hyung. Hm… kalau Jin hyung menitip salam berarti Jin hyung tidak datang untuk menjengukku…" ujar Jongin santai. Mengambil novel yang tadi di bacanya. Sejenak menatap Sehun dari sudut matanya. "Dan kau tau, Hun? Junmyeon ahjussi ternyata orang yang baik! Dia juga mengelus kepala ku lembut Hun.. Aah.. aku senang sekali bisa bertemu dengannya lagi, Sehunie.." lanjutnya.
"Junmyeon ahjussi juga bilang dia sudah pernah bertemu dengan daddy, Hun-ah… bukankah itu pertanda baik? Hehe…" ujar Jongin. Tersenyum manis dan mulai memfokuskan matanya pada novel di pangkuannya.
Sehun tak membalas, hanya terdiam. Entah apa yang dipikirkan remaja itu. Sepasang matanya menatap dalam wajah Jongin yang terlihat ceria. Bibir penuh itu tersenyum lembut, kedua mata itu berbinar cantik dan… entah kenapa, Sehun dapat merasakan rasa kerinduan itu sedikit terobati.
Haruskah Sehun bersyukur? Bersyukur karena Jongin bisa bertemu dengan sosok yang mirip dengan sang ibu? Meski- meski dalam wujud seorang namja?
Jujur, Sehun belum-tidak- ingin memiliki sosok pengganti sang ibu. Terlebih ia dan Jongin terutama Kris belum mengenal siapa itu Junmyeon. Apakah dia benar-benar orang yang baik, bagaimana kehidupan namja itu, apakah pria itu sudah memiliki keluarga atau belum? Dan juga, apakah namja yang memiliki paras manis itu memiliki 'perasaan' yang sama seperti apa yang dirasakan olehnya dan sang kembaran?
Sehun tidak ingin terlalu berharap. Dan ia juga tidak mau Jongin, merasa sedih jika yang selama ini mereka harapkan tidak terwujud. Harapan untuk bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Tidak- tidak boleh. Jongin tidak boleh merasa sedih lagi. Sehun tidak sanggup melihat wajah itu sendu dan basah oleh air mata.
Tidak.
Chanyeol, namja tinggi itu memperhatikan perubahan ekspresi kedua saudara kembar non-identik itu. Jongin, wajah remaja itu terlihat manis dengan senyum yang mengembang indah. Entah, ia tidak mengerti kenapa Jongin senang sekali bertemu dengan Junmyeon? Kenapa? Dan apakah Junmyeon itu benar-benar orang baik? Mengingat dulu mereka pernah melihat namja itu berkelahi.
Dan wajah datar namja yang lebih muda di sampingnya ini. Raut wajah Sehun berbeda dengan Jongin. Terlihat resah, sedih dan… rindu. Sedikit sulit bagi Chanyeol menerka maksud tatapan Sehun pada Jongin.
Ah, entah lah…
Chanyeol perlahan-lahan akan mengenal mereka dan bolehkah, Chanyeol sedikit berharap? Ia ingin sekali bisa membuat senyum manis itu selalu bertengger di wajah manis Jongin-nya.
Bukan ukiran kesedihan ataupun goresan menahan rasa sakit.
-J _L_N-
Kris baru saja tiba di depan ruang rawat Jongin. Sesaat pria itu akan membuka pintu, Yoona menegurnya di kejauhan.
"Kris-ssi,"
"Ah, dokter Min. Ada apa?"
Kris berbalik dan menemukan Yoona berjalan kearahnya. "Saya ingin memeriksa keadaan Jongin sebelum dia pulang." Ujar Yoona.
"Ah… ya. Tentu saja. Ayo ma-"
"Tapi sebelum itu, ada hal yang ingin saya sampaikan." Potong sang dokter. Menatap dalam Kris yang tiba-tiba terdiam.
"Apa.. mengenai kondisi Jongin?" tanya Kris. Hatinya kembali resah. Entah apalagi yang disampaikan sang dokter mengenai putranya. Kris rasanya memiliki beban yang berat dipundaknya.
"Ya dan juga… mengenai seorang namja bernama Kim Junmyeon." Yoona sejenak menghentikan kata-katanya. Melihat reaksi dari pria di hadapannya, apakah terkejut atau tidak? Dan ya. Kris sedikit tersentak kemudian menatap penuh penjelasan kepada sang dokter.
"Tadi siang, sewaktu saya akan memeriksa keadaan Jongin, tiba-tiba saja Kim Junmyeon datang dan menarik saya untuk cepat-cepat ke ruang rawat Jongin yang ternyata putra anda mengalami hal yang saya katakan kemarin. Sakit dikepalanya mulai bereaksi. Mungkin saja karena Jongin melihat Kim Junmyeon dan ia tidak siap untuk bertemu meski rupa mereka sama, namun memuncul kenangan-kenangan akan mendiang istri anda,"
"Be-benarkah? La- lalu bagaimana kondisinya? Apa Jongin-"
"Tenanglah. Jongin tidak apa-apa dan untung saja saya tidak memberinya obat penghilang rasa sakit karena dapat membuat syaraf otaknya terkejut dengan reaksi obat. Saya hanya berusaha untuk menyuruhnya tenang dan berpikir bahwa apa yang ia lihat bukanlah sosok mommy nya. Dan yah.. butuh waktu cukup lama menenangkannya namun semua baik-baik saja."
Penjelasan Yoona sedikit banyaknya melegakan hati Kris. Pria Wu itu benar-benar bersyukur dan berterima kasih pada sang dokter karena melakukan tindakan yang- yah… benar. Jika saja tidak ada yang menenangkan Jongin, pasti hal buruk akan terjadi.
Dan Kris tidak mau hal buruk itu terjadi.
Mengenai Junmyeon… haah, entahlah ia harus apa. Banyak yang harus ia pikirkan. Yang terpenting, sekarang Jongin baik-baik saja.
Setelah beberapa saat mereka terdiam, Kris dan Yoona pun masuk
an Yoona pun masuk
.
.
Sehun kembali melirik jam tangannya, hampir jam 9 dan sang daddy belum datang. Tepat pandangannya beralih pada pintu, benda itupun terbuka dan menampilkan sosok Kris dan dokter Yoona.
"Daddy, kenapa lama sekali?" tanya Sehun langsung. Terdengar nada protes dalam pertanyaannya.
"Mianhe Sehun ah, tadi daddy ada urusan sedikit. Mana Jongin?" jawab Kris dan sedikit heran saat pandangannya tidak menemukan putra tan-nya.
"Yah, pelan-pelan hyung! Kau mau aku jatuh, eoh?" tiba-tiba terdengar gerutuan Jongin dari arah kamar mandi. Baekhyun, sedikit merengut kesal mengacuhkan Jongin dan perlahan-lahan memapah remaja itu kearah ranjang. Kris yang melihat Jongin di papah seperti itu langsung mendekati Baekhyun dan Jongin.
"Jongin, kau kenapa?"
"Jatuh,"
"Dimana? Kenapa bisa? Kau baik-baik saja? Ad-"
"Daddy. Aku baik dan berhenti bertanya. Aku baik-baik saja!"
Kris langsung diam. Pria itu sontak terpaku, terdiam mendengar seruan kesal Jongin. Entah apa yang membuat sang anak tampak kesal dan bahkan nada suara Jongin terdengar membentaknya.
"Daddy minta maaf kalau daddy terlambat,"
"Aku ingin pulang."
Jongin memalingkan wajahnya dari yang lain. Terutama sang ayah. Tak ingin melihat raut wajah sendu Kris.
Mianhae, daddy. Jongin membatin.
Kris tidak mengerti kenapa Jongin terlihat menghindarinya. Dan, memangnya apa yang terjadi sebelum ia datang? Kenapa Jongin terlihat marah? Sejak kapan Baekhyun datang? Dan Sehun-
"Kau harus tenang, Jongin ah..."
Suara Yoona kembali menyadarkan Kris dari keterdiamannya. Dilihatnya senyum menenangkan sang dokter yang menatapnya dan beralih pada Sehun yang mentapanya penuh arti seolah remaja itu akan menjelaskan apa yang terjadi saat dirumah.
"Ya sudah, kalau Jongin baik-baik saja. Kita pulang." Ujar Kris. "Yoona-ssi, gomawo." Lanjutnya.
"Ne. tentu Kris-ssi."
Setelah berpamitan, Sehun yang mengendong Jongin dipunggungnya berjalan duluan dengan Baekhyun yang membawa tas berisi baju Jongin dan tas Sehun.
Kris menatap dalam kedua putranya.
Dan tatapan sendu pun kembali terlukis di sepasang iris kelamnya.
.
.
To be continue…
.
Gomawo bagi yang masih mau baca ff ini #bow
Gomawo for read, review, follow and Favorite ^^
Mianhae updatenya terlalu lama dan sepertinya saya gak bisa lanjutin ff ber-chapter yang lain selain ff ini. Ini pun nyicil per hari (kalo sempet megang laptop). Dan mungkin S love J story bakal update juga. Hanya dua ff itu yang bisa teruskan, selain ide yang gak dapat dan ngambang –bikin pusing- juga saya harus fokus dengan TA saya.. T_T jadi yaa… saya minta maaf. #boww
Khusus untuk Home, Wind and Rain rencananya saya mau lanjutin di aff. Jikalau banyak yang minta update juga di ffn saya akan bikin. Saya sedikit kecewa dengan siders… but,
THANKS for: Hun94Kai88/NameKaila/babyjunma/Jiji Park/HK/geash/cute/ulfah-cuittybeams/sejin kimkai/novisaputri/Yesaya-mei/nadia/Guset… dan di chapter sebelum-sebelumnya~ ^^
Makasi juga untuk yang udah pm saya , mian gk bisa saya balas
Umm boleh lah kasi saya saran atau kritik nya…
Review-nya?
