Prev Chapter :
Sungmin mengangkat bahunya, "Kami hanya berbicara sebentar, kajja. Antar aku pulang."
Sungmin langsung menghela Kyuhyun untuk menuruni tangga tanpa memperdulikan Kyuhyun yang sedang mengoceh dan bertanya mengapa Kris bisa bersama Sungmin tadi.
"YA! Kau tidak mau menjawab ku, huh?" dumel Kyuhyun kesal.
GyuMin407
Present
"Let Out the Beast"
Cast : Super Junior, and SMent artist.
Rated-T, GS, Typo's, Newbie, Gak jelas, Alur berantakan
Mystery, Romance, Fantasy.
Summary : Selama ini dia hidup normal seperti orang biasa, namun dia tidak pernah tahu jika jauh didalam sana ada sosok lain yang juga hidup bersamanya. Sosok yang kuat, dominan, dan misterius. Hidup dalam kegelapan terdalam yang dia buat sendiri, menunggu waktu yang tepat untuk keluar dan berkuasa.
Enjoy^o^
.
.
.
Sungmin berjalan dengan langkah ringan menuruni anak tangga rumah nya. Rumah nya tampak lenggang karena sang Eomma sedang ada pekerjaan diluar negri selama satu bulan ke depan.
Setelah kejadian malam itu, hubungan Sungmin dan ibunya luar biasa canggung. Hubungan mereka seperti orang asing yang terpaksa tinggal satu atap karena sebuah keharusan, namun walaupun begitu Sungmin tetap mengantar ibunya ke Bandara kemarin.
Dia tahu ibu nya tidak pernah benar-benar membenci nya, itu dibuktikan dengan ibu nya yang menangis semalaman dan terus menerus meminta maaf pada Sungmin ketika ada kesempatan. Walau seburuk apapun sikap ibunya, ibunya selalu mengkhawatirkan Sungmin, dari situlah Sungmin tahu bahwa ibunya tidak benar-benar membencinya, mungkin waktu itu dia hanya kelepasan.
Sungmin melewati meja makan begitu saja, dia tidak bernafsu untuk sarapan, mungkin dia akan sarapan disekolah. Sungmin langsung bergegas memakai sepatunya dan berjalan menuju pintu utama rumahnya.
Setelah mengunci pintu, Sungmin memasukan kunci nya ke dalam tas. Ia berbalik dan hendak melangkah, namun ketika ia mengangkat wajahnya ia terkejut melihat Chanyeol berdiri didepan pintu gerbang rumahnya, menunggunya.
"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Sungmin ketika sampai dihadapan Chanyeol.
"Ada yang ingin aku sampaikan pada mu,"
Sungmin mengangguk, "Kenapa tidak disekolah saja? Kenapa menunggu ku didepan rumah pagi-pagi buta seperti ini?"
Chanyeol memasukan sebelah tangannya ke dalam kantung celana seragamnya, "Karna disekolah aku dan yang lainnya tidak bisa mendapat kesempatan untuk berbicara dengan mu. Kyuhyun selalu menempeli mu kemana-mana."
Sungmin mengerutkan dahi nya ketika menangkap nada sinis dalam suara Chanyeol, "Lalu apa yang ingin kau sampaikan?"
Chanyeol tidak langsung menjawab, ia mengeluarkan sebuah kertas kecil dari saku baju nya dan memberikan nya kepada Sungmin. Sungmin menerima kertas itu lalu membaca nya, ternyata sebuah alamat.
"Sepulang sekolah, datang lah ke alamat itu, jika kau ingin menyelamatkan kekasih mu." Ucap Chanyeol menggantung sambil berlalu pergi.
Sungmin terdiam ditempatnya merenungkan apa yang barusan Chanyeol katakan begitu menggantung di pikirannya, kenapa Chanyeol menghubungkan ini dengan Kyuhyun? Ia baru saja akan mengejar Chanyeol ketika ia melihat sudah tidak ada siapa-siapa lagi disekitarnya,
"Secepat itukah Chanyeol menghilang?" bisik Sungmin seperti angin lalu.
.
Sementara itu Chanyeol belum terlalu jauh melangkah, ia berdiri dibalik tembok diujung jalan memperhatikan Sungmin. Ia menghela nafasnya dan meletakkan tangan kanan nya diatas dada kiri nya, tepat dimana jantung nya berada.
Chanyeol menutup matanya kemudian membuka nya perlahan, matanya tidak lepas dari sosok Sungmin yang masih berdiri didepan pagar rumah nya,
"Kau sangat dekat sampai aku merasa begitu mudah jika ingin menangkap mu. Tapi ketika aku melakukannya, kau menjadi jauh seperti hembusan angin."
.
.
.
Kyuhyun mendudukan tubuhnya ke meja makan dan langsung melahap setangkap roti bakar didepannya, hari ini Kyuhyun hanya sarapan ditemani dengan ayah nya saja karena kakak laki-laki nya sedang tidak ada dirumah.
Tuan Cho menyuruput kopi hitamnya sambil melirik ke arah Kyuhyun yang makan dengan lahap. Ia tersenyum kecil melihatnya, seburuk apapun sikap Kyuhyun yang membangkangnya, ia tetaplah Kyuhyun, anak laki-laki nya yang manja dan juga ceroboh.
"Kenapa appa melihat ku seperti itu?" ucap Kyuhyun risih dilihati sedemikian rupa oleh ayahnya.
"Tidak apa-apa, teruskan makan mu-Oh ya, kemarin ada yang mencari mu ketika appa sedang ada dirumah." Ucap Tuan Cho dengan nada datar dan terkesan tidak peduli.
Kyuhyun mengerutkan dahinya, "Siapa? Namja?"
"Ya, seorang laki-laki. Dia tidak memberitahukan nama nya, hanya saja untuk ukuran teman, apakah dia tidak terlalu dewasa untuk menjadi teman mu?"
Kyuhyun mengangkat bahu nya, "Apa yang sedang kau bicarakan appa? Aku tidak memiliki teman yang sudah dewasa, pengecualian untuk Nichkhun hyung."
"Aneh sekali.." bisik Tuan Cho sambil kembali menyesap kopi hitamnya.
Sementara itu Kyuhyun tetap melanjutkan makannya, namun pikirannya berkeliling entah kemana. Entah kenapa tiba-tiba ia dikelilingi perasaan takut. Takut? Takut kenapa?
Siapa yang mencarinya? Seorang pria dewasa? Siapa? Kyuhyun membatin.
.
.
.
Sungmin menatap kertas kecil yang tadi pagi Chanyeol berikan dengan tatapan kosong, ia masih memikirkan apa maksud dari ucapan Chanyeol setelahnya,
"Sepulang sekolah, datang lah ke alamat itu, jika kau ingin menyelamat kan kekasih mu."
Lagi. Kata-kata itu kembali memenuhi kepala Sungmin.
"YA! Lee Sungmin!"
Sungmin hampir saja terjungkal kebelakang jika ia tidak berpegangan pada sisi meja nya. Sungmin melotot marah pada Hyukjae yang membuatnya hampir mati muda karena terkejut.
"Kau mau membuat ku mati muda, eoh?" ucap Sungmin hampir berteriak.
Hyukjae melipat tangan nya diatas dada, "Ck! Kau yang aneh, Min. ini bahkan masih pagi tapi kau sudah melamun sendirian dikelas, kau tidak takut kerasukan, ya?"
"Aku masih mengantuk bukan melamun. Aish sudahlah jangan ganggu aku." Sungmin langsung menelungkupkan kepalanya di meja dan menutupi wajahnya dengan tas.
Hyukjae memutar bola mata nya malas dan menatap Sungmin jengah, ia berlalu ke meja nya dan segera mengeluarkan ponsel dan earphone dari ranselnya. Hyukjae pun ikut merebahkan kepala nya di meja dengan earphone yang menempel ditelinga nya.
.
.
.
"Bum, bisakah kita ke sekolah dimana Victoria mengajar? Entah kenapa perasaan ku mendadak jadi tidak enak," ucap Nichkhun sambil menoleh kepada Kibum yang tengah fokus menyetir.
"Lalu bagaimana dengan rencana awal kita untuk bermain golf diwaktu senggang?" tanya Kibum dengan nada bercanda.
"Itu bisa lain kali, yang jelas sekarang aku harus bertemu Victoria dulu,"
"Baiklah…"
Kibum langsung memutar arah mobil nya dan melaju dengan kecepatan sedang, ia melirik kepada Nichkhun yang terlihat gelisah. Kibum mengeryitkan dahi nya, namun memilih untuk tidak memikirkannya terlalu jauh.
.
.
.
Victoria sedang berjalan santai melewati koridor yang menyambungkan lorong dengan taman belakang sekolah. Entah mengapa hari ini sangat ingin bersantai ditaman belakang sekolah yang jarang didatangi siswa itu.
Victoria mengikat rambut nya menjadi ekor kuda sambil terus melangkahkan kaki jenjang nya menyusuri jalan setapak yang ada dihadapannya. Namun langkah nya berhenti ketika melihat seorang siswa yang berdiri membelakanginya terlihat sedang berbicara dengan seseorang.
'Bukan kah itu Changmin?' batin Victoria memperhatikan punggung siswa itu dari belakang.
"Kita tidak bisa mengambil Black Pearl sekarang, inang nya belum berusia delapan belas tahun kau tahu. Dan jika Black Pearl direnggut sebelum waktu nya tiba, maka Black Pearl sudah bukan apa-apa lagi," ucap Changmin penuh penekanan.
Victoria menjinjitkan kaki nya yang jenjang untuk melihat siapa yang berbicara dengan Changmin, hari ini dia tidak memakai sepatu hak tinggi dan itu mempersulitnya untuk melihat dengan siapa Changmin berbicara karna tubuh tinggi dan besarnya benar-benar menutupi seseorang yang ada didepannya.
"Apa yang kau pikirkan, heh? Sang Monster baik-baik saja didalam tubuh Kyuhyun, hari ini adalah tanggal lima belas, sang monster akan mencari korban lain agar tetap bertahan hidup ditubuh Kyuhyun." Tegas Changmin.
Victoria mengerutkan keningnya mendengar nama adik sepupu nya disebut Changmin bersama dengan kata 'sang monster' dan 'korban', tanpa sdar bulu kuduk Victoria meremang di tengkuk nya.
"Kyuhyun biar aku yang urus, kau pergilah." Ucap Changmin santai.
Victoria membulatkan mata nya terkejut ketika melihat Changmin berbalik, ia tidak melihat siapapun yang tadi Changmin ajak berbicara. Victoria mengarahkan pandangannya kepada Changmin yang kini menatap nya datar, namun seringai lebar ada di bibir nya.
Victoria ingin berlari saat itu juga, tapi kaki nya sulit untuk digerakkan. Seperti sudah menempel ditanah, Victoria hanya menatap Changmin takut ketika pemuda tinggi itu berjalan menghampirinya,
"Mengintip bukanlah perbuatan yang baik, kau tahu itu kan, Songsaengnim?" ucap Changmin dengan seringai lebarnya.
.
.
.
"Akh…"
Kyuhyun menggenggam sisi meja nya kuat ketika rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Kyuhyun menundukan kepala nya dan fokus pada genggamannya ketika merasakan sesuatu mencengkram organ dalam nya didalam sana.
"Kyuhyun-ssi, gwenchana?" tanya Guru Go ketika melihat Kyuhyun merintih kesakitan.
"A… Aku butuh ke kamar kecil, songsaengnim," ucap Kyuhyun susah payah.
Guru Go hanya mampu mengangguk dan mempersilahkan Kyuhyun keluar kelas. Kyuhyun berjalan keluar kelas dengan langkah tertatih-tatih, berjalan dengan dinding disamping nya sebagai tumpuan.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Kyuhyun menatap bayangan dirinya di cermin wastafel toilet. Tangannya mencengkram erat sisi keramik watafel hingga ia merasa seperti akan meremukkan keramik itu.
Tiba-tiba suara didalam sana berbicara, "Sekarang tanggal lima belas, ini adalah saat ku untuk menguasai tubuh mu,"
"Tidak," Kyuhyun menggeleng keras, "Kau tidak akan bisa menguasai tubuhku disetiap tanggal lima belas atau kapan pun itu. Sudah cukup kau menguasai ku disetiap tanggal lima belas empat bulan belakangan ini, aku tidak tahu apa yang kau lakukan dengan tubuh ku,"
Kyuhyun mengangkat wajahnya dan terkejut ketika melihat bukan bayangan dirinya lah yang ada dicermin melainkan sesosok monster. Monster dengan mata merah menyala tengah menatap nya geli.
"Aku tidak melakukan apapun dengan tubuh mu, aku hanya sedang menjaga eksistensi ku saja," ucap sosok itu menyeringai.
"Dengan cara?"
"Membunuh," Sosok itu tertawa kecil melihat wajah terkejut Kyuhyun, "Kita perlu membunuh disetiap tanggal lima belas untuk menjaga eksistensi ku, Kyuhyun. Kau harus mulai terbiasa dengan itu."
Kyuhyun menggeleng, "Kita? Bukan kita, tapi hanya kau. Brengsek, bisa-bisa nya kau menggunakan tubuh ku untuk membunuh, sialan."
"Kau terlalu naïf, bocah! Dan berhentilah memaki," Sosok itu tertawa kencang didalam cermin, "Aku adalah kau, dan kau adalah aku. Kita sudah bersama-sama bahkan sejak kau berusia dua tahun ketika para tetua bodoh itu mengirim dan mengurung ku didalam tubuh seorang bocah lemah seperti mu."
Sosok itu menatap Kyuhyun tajam, "Aku lah sumber kekuatan mu, karna aku kau tidak pernah mengalami patah tulang atau luka parah ketika berkelahi dengan puluhan atau ratusan orang yang kau hadapi. Secara tidak langsung kau telah memiliki hampir separuh dari kekuatan ku, tapi tentu saja kau tidak bisa menandingi ku. Kita satu, Kyuhyun. Kau dan aku adalah satu." Ucap sosok itu lalu menghilang seperti tertiup angin.
Kyuhyun seketika lemas, ia merosot ke lantai dengan tangan menutupi wajah nya, "Monster itu adalah aku, dan aku… aku adalah monster itu."
.
.
.
Victoria meringis ketika rahang nya dicengkram oleh Changmin, air mata sudah menggenangi mata nya. Changmin terlihat berbeda saat ini, ini bukan lah Changmin murid nya yang ia kenal, Changmin terlihat sangat menakutkan dan menyeramkan disaat yang bersamaan.
"Kumohon, lepaskan aku," pinta Victoria hampir menangis.
"Setalah apa yang kau lihat dan kau dengar, kau pikir kau akan melepaskan mu begitu saja, huh?"
Victoria membulatkan matanya ketika merasakan cengkraman Changmin semakin mengetat di rahangnya. Victoria merasa tulang rahangnya akan patah jika saja sebuah suara tidak segera datang memanggil namanya,
"Victoria!"
Victoria ingin sekali mencium Nickhun yang tengah berdiri tak jauh dari nya dengan nafas yang tersengal-sengal.
.
Nichkhun setengah berlari menuju taman belakang sekolah diikuti Kibum dibelakangnya. Tadi ia dan Kibum sempat mencari Victoria dikantor tapi para guru bilang tunangannya itu berada di taman belakang sekolah. Nichkhun mempercepat langkahnya, perasaannya semakin tidak enak, dan dia harus bertemu Victoria.
Nafas Nickhun sudah diujung mulut nya ketika menemukan Victoria yang sedang kesakitan dibawah cengkraman Changmin, Nichkhun sempat bingung melihat Changmin yang terlihat sedang membelai rahang Victoria. Tapi ketika melihat ekspressi tunangannya yang Nampak kesakitan, Nickhun langsung bergegas memanggilnya.
"Victoria!"
.
.
.
"Kita harus menemui Kyuhyun, monster itu menunjukan wujud nya didepan Kyuhyun di toilet tadi," ucap Kyungsoo kepada seseorang disebrang telfon, Siwon.
"Jangan sekarang, dia pasti masih shock mengetahui selama ini ia hidup berdampingan dengan monster itu." Ucap Siwon tenang seperti biasa nya.
"Kita tidak memiliki waktu banyak, tidak boleh ada korban lagi hari ini jika tidak mau semua nya terbongkar,"
Siwon menghela nafas disebrang telfon, "Aku lebih suka berurusan dengan kesatria ketimbang bocah,"
"Sayang sekali, kesatria yang kau maksud kan memang masih bocah," Kyungsoo langsung menutup sambungan telfonnya dan memasukan ponsel nya ke kantung celana nya.
"Kenapa aku tidak pernah bisa akur sih dengan Siwon Hyung,"
.
.
.
Kyuhyun melempar tissue yang baru saja dipakai nya ke tempat sampah didepan pintu masuk toilet pria, ia baru saja akan melangkah ketika seseorang menubruk tubuhnya.
"Aw…." Pekik Kibum sambil berusaha bangun dari jatuhnya.
Kyuhyun mengerutkan dahinya, seharusnya dia yang jatuh ke lantai bukan pria didepannya ini, kan? Pria itu menabrak Kyuhyun cukup keras, tapi mengapa tubuh nya tidak bergerak satu centimeter pun dari tempatnya berdiri.
"Akulah sumber kekuatan mu,"
Secara tiba-tiba perkataan monster itu terngiang-ngiang didalam pikirannya.
"Ya! Apa kau tidak ada niat untuk membantu ku, heh?" ucap Kibum jengkel melihat Kyuhyun yang hanya diam dengan tatapan mata kosong, "Yya, gwenchana?"
Kyuhyun langsung tersadar ketika Kibum menepuk bahu nya, "Nan gwenchana, jeongmal mianhae aku harus kembali ke kelas," Kyuhyun menundukkan kepalanya sekilas.
Ketika Kyuhyun hendak berjalan, Kibum tidak sengaja melihat name-tag yang ada di blazer seragamnya.
Cho Kyuhyun…
Kibum membulatkan mata nya ketika mengingat nama pembunuh berantai yang sedang ia kejar tiga bulan belakangan, ia hendak mengejar Kyuhyun namun terlambat karna Kyuhyun sudah tidak ada disana lagi. Ekspressi Kibum berubah, rahangnya mengeras, dan tatapannya tiba-tiba kosong.
"Jadi, dia orangnya…" bisik Kibum.
.
.
.
"Kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat," ucap Nichkhun sambil memperhatikan wajah tunangannya yang memucat.
Victoria mengangguk pelan, "Aku baik-baik saja, Khun. Terima kasih karna kau datang disaat yang tepat,"
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Bukankah tadi Changmin, teman dekat Kyuhyun, kan? Kenapa dia bisa mencengkram mu sekeras itu? apa kalian bertengkar?" tanya Nichkhun berbondong-bondong.
"Aku tidak tahu, aku tidak mengerti situasi apa yang sedang aku hadapi saat ini," ucap Victoria bergetar, susah payah menahan tangis.
Nichkhun menghela nafas kemudian menarik tubuh langsing tunangannya kedalam pelukannya. Victoria langsung menangis keras ketika Nichkhun memeluknya, ia hanya merasa shock, tidak mengerti dengan apa yang baru saja dihadapinya.
"Ssstt… Tenanglah, aku ada disini," bisik Nichkhun bagaikan sebuah mantra.
.
.
.
Sungmin mengeratkan jaket nya ketika berjalan melewati lapangan sekolahnya. Sungmin melirik jam tangannya, jam tujuh malam, Ia baru saja selesai membantu petugas perpustakaan merapihkan buku-buku yang banyak berserakan dilantai perpustakaan. Sungmin menggeram ketika hawa dingin berhembus menusuk kulitnya.
"Ahh…. Shh…"
Sungmin menghentikan langkah nya ketika telinga nya menangkap suara desahan seseorang. Sungmin mengerutkan dahi nya ketika mendengar desahan itu semakin lama semakin keras masuk ke indera pendengaran Sungmin. Ini suara perempuan, sudah pasti.
"Apa mereka tidak punya tempat lain selain sekolah untuk melakukan hal menjijikan itu? ck!" gumam Sungmin sambil melanjutkan langkah nya.
"Ah… Shh… Tolong….. Tolong aku…."
Sungmin langsung menghentikan langkah nya ketika mendengar suara yang begitu familiar ditelinga nya. Ia pun menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara, Sungmin melangkah maju setelah yakin sumber suara berasal dari gudang sekolahnya.
"Semoga saja hanya suara nya saja yang mirip," lirih Sungmin.
.
"Itu… bukankah itu Lee Sungmin?" lirih Kai ketika melihat Sungmin berjalan cepat melintasi lapangan, "Ya! Hyung, itu Lee Sungmin, kan?"
Baekhyun langsung tertarik kebelakang ketika Kai menarik ujung tas nya, ia mendelik sebal melihat Kai yang menatap nya tanpa dosa sambil terus menunjuk sesuatu didepannya,
"Hyung, itu Lee Sungmin, kan?" tanya Kai sambil terus menunjuk sesuatu didepannya,
Baekhyun mengikuti arah telunjuk Kai dan melihat bayangan Sungmin tengah berjalan cepat melewati lapangan, "Mau kemana dia? Itu…. Ya! Kita harus mengikuti Lee Sungmin," ucap Baekhyun datar yang kemudian berubah menjadi kepanikan.
Kai hanya bisa pasrah ketika Baekhyun menyeret tangannya secara paksa ke jalan yang tadi dilewati Sungmin.
.
.
.
"Kyuhyun… Ku mohon lepaskan aku, hiksss,"
Hyukjae menangis tersedu-sedu sambil terus beringsut menjauh dari tempat dimana Kyuhyun berdiri saat ini. Hyukjae tidak mengenal sosok Kyuhyun yang ada didepannya ini, ini bukan seperti Kyuhyun, sorot mata nya merah menyala, seperti bukan manusia.
"Kau fikir aku akan melepaskan mu begitu saja, heh? Gadis kecil…" ucap Kyuhyun seperti desisan,
Hyukjae menggeleng keras, ia terkesiap ketika melihat Kyuhyun mengeluarkan sebuah pisau lipat dari balik punggung nya. Apa yang akan dilakukan Kyuhyun pada nya? Apa Kyuhyun akan membunuh nya? Tapi… kenapa? Batin Hyukjae berkecambuk.
Hyukjae menahan nafas nya ketika logam tajam dan dingin itu menempel dipipinya, hanya menempel. Hyukjae ingin menangis sekeras-keras nya dan meminta tolong pada siapapun tapi tenggorokannya tercekik. Ia menggenggam erat ujung tas nya ketika Kyuhyun membelai pipi nya dengan pisau tersebut.
"Pipi mu halus, tapi sayang, besok kau tidak akan mungkin melihat nya lagi," Kyuhyun mengangkat pisau itu ke udara, seringai nya melebar ketika melihat Hyukjae yang pasrah dibawah nya.
Kyuhyun hendak akan melayangkan pisau itu ke wajah Hyukjae ketika seseorang menahan tangannya, ia menggeram lalu menoleh dan mendapati Sungmin tengah menatap nya dengan mata yang sudah basah dengan air mata. Kyuhyun merasa terkoyak hati nya, kesadarannya mulai kembali sedikit demi sedikit.
Sungmin masih menatap nya ketika ia berbisik, "Kau, siapa kau sebenarnya?"
.
.
.
TBC
Huaaa akhirnya part ini selesai juga *elap keringet* /tsaahhh
Aduh mau minta maaf banget ya ini diselesaikan nya lama banget, maklum baru selesai uas dan remedial dan classmeeting, baru buka laptop deh…
Maaf gak bisa sebutin reviewers satu-satu, yang pasti pelukcium buat kalian yang udah mau sempetin review, semoga aku tidak mengecewakan ya :D
Makasih banget buat yang gak pernah absen review buat yang baru review juga terima kasih, ditunggu saran-sarannya^^ dan buat siders, ya semoga kalian menikmati cerita saya^^
Sekian dari aku, akhir kata saya mau ucapkan terimakasih dan…
Review?^^
