Hello, ehm, ini terjawab di chapter sebelumnya, tapi saya cuma mau klarifikasi aja, siapa tau ada yang belum jelas. Waktu Aurelian bilang paman Fred dan ayahnya ada dikastil diatas awan waktu dia datang pertama kali itu karena George meninggal sebelum Aurelian lahir, jadi Aurelian tidak mengenal George, jadi semuanya meninggal kecuali Ginny, Charlie, Teddy, James dan Aurelian, juga Pernie.

Aurelian

By: BittyBlueEyes

HARRY POTTER MILIK JK. ROWLING

Chapter 11. Air mata, Penjelasan dan Tawa-

"Hermione?" panggil Harry tak yakin ketika dia mendengar tangisan dari dapur. Harry melirik Draco dan berdiri. "Hermione?" panggilnya lagi masuk ke dapur dan perlahan berjalan mendekati meja. "Kau baik-baik saja?"

Hermione mengangguk dan terdengar tangis pelan. "Yeah, hanya.. hanya terlalu banyak."

"yeah," Harry mengakui sedih.

"Harry, aku minta maaf!" pengakuan Hermione mengagetkan Harry.

"Untuk apa?"

"Itu salahku. Dua. Dua kali aku dapat membunuhnya dan aku tak melakukannya," Hermione menangis. "Kau, Luna, Fred, Malfoy… kalian tidak seharusnya mati jika itu bukan karena untuk aku." Draco meneliti kata-kata Hermione dan mendengarkannya.

"Hermione. Ini sungguh mengelikan," kata Harry tak percaya. "Ini bukan kesalahannya, Hermione dimasa depan. Dia melakukan apa yang dia bisa. Aku yakin akulah yang mengambil semua keputusan itu. Dia tak melakukan sesuatu yang salah. Itu bukan kesalahannya dan bahkan bukan kesalahanmu. Kau tak melakukan apapun."

"Dia itu aku, Harry," Hermione mengingatkannya.

"Ya. Dia itu kau, tapi kau bukan dia. Bukan kau yang membuat semua keputusan itu. Dan jikapun kau melakukannya, itu bukan keputusan yang buruk. Jadi berhentilah menangis," kata Harry. "Kau tidak menanggung semua ini. Tapi jika kau ingin mencoba bertanggung jawab untuk semuanya, kalau begitu cobalah untuk menyelematkan semua. Itulah kenapa dia mengirim Aurelian untuk kembali kesini. Karena keputusan itu mungkin tak ada seorangpun yang akan mati nanti."

Hermione mengangguk dan mencoba menghapus air matanya. "Tidak. Jangan hanya mengangguk. Aku ingin kau percaya," paksa Harry.

"Hermione mengangguk lagi. "Aku tau… kau benar. Aku minta maaf kau bisa kembali ke ruang tamu. Aku akan.."

"Tidak, biar aku yang membuat teh. Kau duduklah," Harry menawarkan.

"Tidak. Aku baik-baik saja. Aku dapat-"

"Duduk," perintah Harry. Hermione sedikit tertawa patuh ketika Harry sudah mulai mengitari dapur. Beberapa tahun ini Harry benar-benar sudah tumbuh dewasa dan itu mengejutkan Hermione. Ketika Hermione melihat Harry, dia masih teringat bocah berusia sebelas tahun dengan sikap yang sedikit canggung, tak percaya diri dan ingin membuktikan diri. Sekarang bocah itu sudah dua puluh tahun dan sudah menjadi pemimpin yang sabar. Well, tidak selalu sabar, namun dia sedikit demi sedikit meningkatkannya. Dia tak lagi perlu membuktikan diri dan pandangannya tentang keadilan. Dia kuat dan dihormati.

"Gula… Gula…" Harry mengeramang dan dia berbalik mencari gula. Hermione berdiri dan berjalan ke arah konter dibelakang Harry. Hermione melewati lenganya dan mengambil wadah gula dan menaruhnya di nampan. "Kau yang menaruhnya di sekat pemanggang."

"Aku tau itu," kata Harry bercanda. Hermione tersenyum lembut dan berjalan bersama Harry kembali ke ruang tamu. "Maaf yang tadi," Hermione meminta maaf pada Draco.

"Tidak, tak apa," jawab Draco. Hermione memandangnya curiga. Dia menyangka Draco akan membalas dengan sedikit meremehkan dan membela diri atau tidak mengatakan apapun, tapi dia tak melakukannya sepanjang hari ini. Well, dengan ketidak sepakatan mereka dihari sebelumnya mengenai Draco tak bisa melihat Aurelian. Hermione cepat-cepat menyingkirkan pikiran itu. dia sudah banyak pikiran tanpa harus ditambah lagi.

"Jadi dari mana kita mulai?" tanya Harry.

"Pansy?" jawab Draco. "Jika kita berpikir bahwa dia dibunuh dan darahnya digunakan untuk menulis dinding kamarku ketika aku diserang, maka dia adalah orang pertama yang kita tau menjadi korban dalam masalah ini." Hermione dan Harry sedikit terkejut karena Draco berkata sangat cepat. Mereka tak menduga Draco akan ikut berpartisipasi dengan mudah.

"Aku setuju," kata Harry. "Seharusnya kita memang mulai dari sana, dia korban pertama. Dan penyerangan itu, dimasa mendatang waktunya tidak begitu jauh dari sekarang. Kita butuh tau kenapa Pansy menjadi target dan bisa mencegah serangan itu."

"Aku pikir," kata Hermione. "Mungkin saja orang tuanyalah yang merupakan target sebenarnya. Maksudku, aku punya perasaan kalau Pansy mungkin dibunuh untuk menghukum mereka atau…" Hermione menatap Draco curiga. "Seberapa dekat kau dengan Pansy?"

"Kami berteman sejak kecil," jawab Draco. "Kita masih teman baik, tapi kami tidak sering bertemu. Kenapa?"

"Apakah kau tidak berpikir ada seseorang yang akan menyakitinya untuk menghukummu?" Hermione memberikan alasan.

"Tidak," jawab Draco percaya diri. "Jika mereka ingin menghukumku dengan menyakiti orang terdekatku, maka harusnya itu adalah ibuku atau Zabini. Aku pikir kau benar, dia dibunuh untuk menghukum kedua orang tuanya."

"Ya. Apalagi mereka masih menjadi target setelah Pansy menghilang," jawab Hermione.

"Apa kau cukup dekat dengan Pansy untuk sekedar ngobrol dengannya?" tanya Harry.

"Ya," Draco mengangguk. "Aku baru saja berpikir untuk mengajaknya makan malam. Kita perlu tau dan aku bisa mencoba mencari tau apa yang terjadi."

"Good. Good," kata Harry tanpa sadar. "Tapi kau perlu berhati-hati waktu bicara dengannya. Kau tak bisa mengatakan sesuatu tenta-"

"Aku tau ini rahasia, Potter. Dan aku tau caranya mencari topik yang tepat untuk mencari informasi," jawab Draco meyakinkannya.

"Good," ulang Harry.

"Okey, Malfoy akan bicara dengan Pansy. Lalu apa berikutnya?" tanya Hermione.

"Dennis," jawab Harry, Hermione mengangguk setuju itu pulalah yang ada dipikirannya. "Dia adalah target berikutnya. Well, orang tuanya dibunuh, jadi kita berasumsi itu untuk menghukumnya karena orang tuanya adalah muggle dan tidak punya hubungan apapun dengan dunia sihir. Tapi untuk apa? Apa yang mereka inginkan dari Dennis?"

"Aku tak tau," kata Hermione serius. "Itu seperti target acak. Maksudku, bukannya Parkinson ikut serta dalam kegiatan pelahap maut, tapi, well mereka adalah keluar darah murni, mereka sangat pas untuk menjadi target. Dennis secara personal tidak punya adil apapun dalam perang."

"Yang mana artinya ada sesuatu yang terjadi dalam hal yang sedang mereka kerjakan," kata Harry. "Aku pikir dia adalah langkah berikutnya. Kita harus pergi dan bicara dengannya. Kita harus mencari tau apa yang terjadi dengannya. Bahkan besok. Waktu kita sedikit sampai pergerakan awal mereka –serangan terhadap Malfoy dan Pansy. Kita harus menemukannya secepatnya. Jadi besok pagi, tak perlu ke kantor lagi, kita mengunjungi rumah Creevey."

"Tanpa pemberitahuan?" tanya Draco.

"Ya," jawab Harry. "Jika sesuatu sedang terjadi, dia mungkin saja takut untuk mengatakannya. Dia tidak datang pada kita dimasa depan. Dia pasti merasa ketakutan dan mencoba menyelesaikannya dengan menutupi kebenaran. Dia anak yang baik, tapi orang tidak selalu membuat keputusan tepat saat mereka sedang ketakutan. Berdasarkan pengalamanku, akan lebih baik kalau kita datang tanpa pemberitahuan."

Draco mengangguk.

"Apa kau mau bergabung dengan kami?" tanya Harry pada Draco.

"Maksudmu, kau memberiku pilihan?" tanya Draco.

"Bukannya aku selalu memberimu pilihan?" balas Harry. "Kau disini sukarelawan. Selama kau mau terlibat, kau harus merahasiakan semua informasi dalam investigasi ini. Kau hanya sedikit berkewajiban untuk membantu dalam hal ini. Pilihan selalu diberikan sebagaimana kau terlibat, semua tergantung kau."

Draco membuang muka dari pandangan keduanya yang bertanya. Ini semakin membuatnya tak nyaman ketika Harry melakukannya. Ini bukanlah kali pertama, dia sangat terbuka akan semua pilihan, dibandingkan membiarkan Draco merasa seperti seharusnya melakukan hal itu, perlahan mengajaknya masuk dan memberi jawaban yang kongkret.

"Aku sudah katakan padamu, aku ikut bagian dalam kasus ini," kata Draco. "Ini sangat serius untukku sama seriusnya untukmu. Aku tak mungkin keluar."

"Baik. Teima kasih," respon Harry. "Kami sangat mengapresiasinya."

Mata Draco melebar. Dia tak tau hubungannya dengan harry. Mereka punya sejarah panjang, batas sikap bertolak belakang dan saling membenci itu sangat dalam, selama perang mereka merasa kasian pada peran mereka satu sama lain. Untuk pertama kalinya, mereka saling melihat penderitaan satu sama lain. Ketika perang berakhir, Draco sangat ketakutan dengan takdir yang menunggunya. Dia ingin menyakinkan orang-orang bahwa dia tak menginginkan apa yang telah dia lakukan. Dia cukup terkejut seperti banyak orang ketika Harry menolongnya dan memberi kesempatan. Harry sepertinya tidak merasa berpuas diri untuk terus memperpanjang tensi diantara mereka, tapi dia tidak pernah tidak baik. Dua tahun yang lalu, tidak hanya Harry yang 'tidak tidak baik' tapi dia bersikap benar-benar ingin meninggalkan sejarah buruk mereka, Draco tak ingin terus hidup dengan masa lalu, tapi dia tak yakin apa yang dimaksud menjadi pria dan dia tak merasa nyaman dengan apapun ide mengenai membangun persahabatan. Itu terlalu kuno dan sopan, tapi sopan pastilah terasa lebih baik dari pada apapun yang berdasarkan pada kemarahan. Mereka membutuhkannya untuk satu dan lainnya.

"Jadi besok pagi, pukul Sembilan," kata Harry. "Apa kau tak masalah kalau kita bertemu lagi disini, Hermione? Cuma sebelum kita berangkat kesana?"

"Tidak, tak apa. Lebih mudah kalau dari sini dibandingkan tempatmu dengan semua mantra pelindung itu," kata Hermione tersenyum.

"Aku akan mengusahakannya," kata Harry pada Draco yang tampak bingung kenapa hal ini mengacu ke dirinya. Dengan cepat dia menyadiri bahwa Harry pasti mempersiapkan sesuatu yang serius dan ini mungkin membutuhkan kerja ekstra untuk menemukan caranya. "Oh, dan ya, kita mungkin harus mengikut seratakan Orde of Phoenix untuk beberapa hal. Jika kita tidak mendapat progress yang bagus, kita akan butuh bantuan. The Weasleys adalah yang pertama harus tau, dan mungkin tak lama mereka juga akan tau, mereka tau tentang Aurelian."

"Kau bilang Weasley, atau eh, Ron," kata Draco tak nyaman. "Apa kau mengatakan semua ini padanya?"

"Ya," jawab Harry. "Ron termasuk dalam investigasi ini, tapi tidak secara langsung. Kita tak butuh terlalu banyak perhatian, dan meminta Ron untuk ikut serta dalam investigasi akan membuat banyak sekali pertanyaan. Jangan bilang-bilang, akan lebih baik kalau kita punya seseorang yang meneliti kasus kecil. Aku yakin kita akan senang kalau dia disini, dia akan melengkapinya. Aku punya rencana kesana setelah kita menyelesaikan ini."

"Jadi, kita sudah buat rencana, sekarang," kata Hermione. "Malfoy akan bicara dengan Parkinson dan kita akan pergi menemui Dennis Creevey."

"Okey, sekarang, aku tak meragukan kemampuanmu untuk bicara dengan Parkinson, tapi aku mau mengingatkanmu untuk mencari apapun yang sepertinya penting. Kau juga harus mengingat semua, dan memberikan yang terbaik yang kau bisa," kata Harry pada Draco.

Draco mengangguk.

"Kata McGonagall dia tak terlalu membutuhkan pensieve sekarang dan kita bisa meminjamnya selama kita membutuhkannya. Jadi kita bisa melihat lagi kalau ada sesuatu atau detail yang kita lupakan atau terlewatkan."

"Sempurna," kata Harry.

"Jadi ada lagi yang harus kita tuju?" tanya Hermione.

"Masih banyak yang belum jelas. Tapi kita sudah membuat rencana sekarang," jawab Harry.

"Ya. Tapi ada satu hal yang aku butuh tau," kata Draco. "Apa itu Horcrux?" Harry dan Hermione bertukar pandang yang membuat Draco merasa tak enak. Mereka tak seperti ingin menyembunyikan ini, tapi mereka terlihat tak yakin akan menjelaskan saat hal ini disebut.

"Itu adalah sihir hitam," kata Hermione memulai. "See, ketika seseorang memutuskan untuk membunuh. Itu adalah dosa yang tidak hanya melawan orang tersebut, itu juga dosa yang melawan alam. Itu bukan hal yang natural. Membunuh merusak jiwa, tepatnya merusaknya. Sejarahnya ada penyihir hitam, mengerikan sebenarnya, yang mengambil keuntungan dari kerusakan jiwa itu dan dibandingkan dia menerima saja jiwanya hancur, mereka mencoba memaksakan jiwa mereka membelah menjadi setengahnya. Mereka mengambil setengah dari jiwa itu dan menyimpannya di luar tubuh mereka. Dan itu membuat apabila mereka terbunuh dan bagian dari jiwa mereka hancur maka setengah dari jiwa mereka masih bertahan. Dan sesuatu yang menyimpan bagian jiwa itulah yang disebut Horcrux."

"Dan apa itu? apa yang bisa menyimpannya?" tanya Draco. Dari apa yang dilihatnya di memori, dia bisa melihat dari cara orang-orang membicarakan horcrux seperti mereka sekarat, tapi tak pernah membayangkan kemungkinan kalau tubuhnya hancur. Bisa dia bilang itu tidak nyambung.

"Apa saja," kata Harry simpel. "Bisa apa saja."

"Dan pangeran k- Voldermort punya satu?" tanya Draco.

"Tidak," jawab Harry dengan suara tergangu tapi Draco tau itu bukan ditujukan padanya. "Voldermort punya tujuh."

"Apa?" kata Draco tak percaya. "DIa membagi jiwanya menjadi tujuh?"

"Tidak. Dia membagi jiwanya tujuh kali," kata Harry mengoreksi.

"Dia tidak membagi jiwanya. Dia memutilasi." Kata Hermione jijik. "Dia bukan lagi manusia waktu dihancurkan."

"Jadi, kau harus menghancurkan Horcrux sebelum kau bisa menghancurkannya. Apa aja itu? bagaimana kau bisa menemukannya?" tanya Draco. Hal ini membuatnya sedikit marah.

"Well, Horcrux bisa berbentuk apa saja. Tapi Voldermort mencoba memakai benda-benda yang mempunyai nilai sejarah. Tidak banyak yang mau menyimpan bagian jiwanya yang berharga di gelas kecil. Voldermort atau Tom Riddle, bukanlah orang yang berada waktu dia di panti asuhan. Waktu dia kecil dia punya kebiasaan mengambil tropi untuk memenuhi misinya, dengan menggunakan sihir dan kelicikan," Harry menjelaskan.

"Tunggu, apa? Panti asuhan?" tanya Draco bingung.

"Yeah," balas Hermione. "Selain begitu seriusnya dia tentang kemurnian darah, dia sendiri berdarah campuran. Dia adalah pewaris Slytherin dan cukup bangga akan itu, tapi ayahnya adalah muggle. Sesuatu yang tidak dia bagi pada banyak orang."

"Bagaimanapun," kata Harry melanjutkan. " Dia memilih benda-benda yang sangat berharga dan menyembunyikan ditempat yang memiliki arti juga untuknya. Yang pertama adalah buku harian yang dia buat waktu dia ditahun ke tujuh. Dia membunuh Myrtle merana dan mengunci sebagian jiwanya di dalam buku harian itu, buku harian yang spesial. Ginny mendapatkan buku harian itu dan itu merasukinya. Aku menghancurkan Horcrux buku harian di kamar rahasia sebelum kita tau apa sebenarnya itu. Dumbledore menyadari ada sesuatu yang sangat hitam dan mulai mencari tau. Dia mencoba mencari kenangan-kenangan tentang Tom Riddle dari orang-orang yang pernah mengenalnya. Memori dari Slughorn yang membuat kita tau kalau dia berencana membuat tujuh. Selain buku harian ada cincin keluarganya, Dumbledore yang menghancurkannya sebelum kita memulai tahun ke enam. Dia tekena kutukan dan itu membuat tangannya menghitam. Lalu ada kalung Slytherin, lalu diandem Ravenclaw di kamar kebutuhan, itulah kenapa kita disana saat perang."

"Horcrux sangat sulit dihancurkan. Hanya sedikit yang bisa menghancurkannya." Hermione melanjutkan cerita itu. "Kita menggunakan bisa Basillisk untuk hampir semuanya, kebanyakan menggunakan pedang Gryffindor karena pedang itu menghisap bisa Basilliks saat Harry menggunakannya untuk membunuh Basillisk. Diandem, hancur karena api kutukan."

"Tapi itu hanya lima. Apa dua Horcrux lagi?" tanya Draco serius.

"Dua yang terakhir, kami tidak yakin apa itu," kata Hermione. "Ularnya, Nagini, adalah Horcrux terakhir. Aku rasa dia membuatnya diwaktu yang mendesak, dia tak membiarkan ular itu lepas dari pandangannya. Neville yang menghancurkannya."

"Kau kekurangan satu lagi. Kau bilang ular itu yang terakhir. Lalu apa yang keenam?" tuntut Draco. Dia merasa frustasi karena Harry dan Hermione masih menyimpan sesuatu darinya. Hermione menatap Harry empati, tapi Harry malah terlihat tak jelas.

"Aku," jawab Harry. Draco telihat lebih bingung. "Itu semacam ketidaksengajaan. Dia tak bermaksud membuatnya dan bahkan tidak pernah tau," kata Harry menyerigai.

Saat Draco masih tampak bingung, Hermione melanjutkan. "Ketika Voldermort mencoba membunuh Harry saat dia masih bayi, dia gagal karena dan Harry selamat berkat perlindungan dari pengorbanan ibunya yang mengorbankan dirinya sendiri. Ketika dia gagal, mantra itu berbalik menyerangnya. Karena jiwa Voldermort sudah sangat kecil, lemah dan termuntilasi. Mantra yang berbalik itu membuat jiwanya terpisah lagi setengahnya terbang tak bisa kembali ke tubuhnya, dan memaksa masuk ke tubuh Harry."

"Tapi, kenapa kau masih tetap hidup dan bukankah kau harus menghancurkan Horcrux?" tanya Draco mulai curiga.

"Well, itu adalah bagian yang rumit," kata Harry, dia terlihat terganggu. "Waktu aku mencoba memperlajari bahwa aku adalah Horcrux, saat dia memanggilku untuk keluar, aku berpikir akan menghancurkan salah satunya, maka dari itu aku pergi ke hutan terlarang. Aku datang tanpa perlawanan dan dia menyerangku dengan kutukan kematian. Dan disitu ada sedikit bagian aneh yang datang dari tongkat elder. Hal itu karena kau mengalahkan Dumbledore, kemudian aku mengambil tongkatmu dan Voldermort mengambil tongkat Dumbledore, itulah kenapa tongkat baru Voldermort tidak bekerja untuk melawanku, dan itu melawannya. Waktu dia menyerang dengan kutukan kematian, bagian dari jiwanya hancur tapi aku tetap bertahan. Tetap saja, aku tidak akan hidup hari ini, kalau tak ada ibumu."

"Apa?" tanya Draco, nyata bingung dengan pengakuan Harry.

Harry memberikan senyum kecil. "Aku rasa ibumu tak pernah mengatakannya padamu tentang ini. Aku tak begiu yakin kenapa. Aku mengatakan ini bukan untuk mengungkit masa lalu karena aku sudah melupakannya, karena ini merupakan bagian kenapa kau dan ibumu sekarang tak ada di Azakaban. Ketika aku terkaena kutukan kematian, aku pura-pura mati. Voldemort menyuruh seseorang untuk melihat apakah aku masih hidup, dan ibumu yang datang dan berbohong padanya bahwa aku sudah mati. Dia melakukannya untukmu. Dia berpikir kalau aku bisa mengakhiri ini kau bisa selamat, aku berhutang budi padanya."

"Kau membelaku karena ibuku?" tanya Draco.

"Aku bilang ini salah satu bagian dari alasanku membela kalian," kata Harry mengoreksi dengan serius. "Seseorang juga memberitahuku dimana aku harus berdiri dan membela dengan adil. Mereka bilang aku bisa menjadi tak adil kalau aku masih membawa rivalitas kita." Harry melirik ke arah Hermione. "Mereka percaya kau hanyalah salah satu dari orang-orang yang terancam dari Voldermort dan bertindak karena takut. Aku memutuskan untuk memberikan kau kesempatan untuk membutktikan diri."

"Dan?" tanya Draco, ada sesuatu dari cara Harry bicara membuatnya berharap. Dia mengingatkan dirinya dia hanya cukup bertanya untuk mendapatkan jawaban.

"Dan aku tak menyesal," kata Harry mengakui. Draco masih sedikit marah dengan arah percakapan ini, namun merasa sedikit bangga dan mungkin sedikit arogan, bahwa Harry tidak meragukan integritasnya.

"Jadi, bagaimana kau tau kalau kau adalah Hocrux?" tanya Draco mencoba kembali ke percakapan sebelumnya.

"Pensieve," jawab Harry. "Kebanyakan orang tau Snape memberiku beberapa kenangan sebelum dia mati dan salah satu kenangan itu ada percakapannya dengan Dumbledore yang menjelaskan bahwa aku harus mati untuk menghancurkan Voldermort. Jadi ya, itu masuk akal."

"Dan kau hanya menerimanya?" tanya Draco tak percaya dan sedikit jijik.

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" kata Harry beralasan.

"Kau seharusnya mengatakan pada sahabatmu," kata Hermione meliriknya.

Harry menarik nafas lelah. "Hermione kita sudah membicarakan ini-"

"Bukan berarti aku menerimanya. Itu bukan berarti aku melupakannya. Dan setelah apa yang baru saja kita lihat, aku sangat marah karena kau melakukannya lagi," kata Hermione marah.

"Hermione," Harry memulai, capek karena frustasi.

"Kau melakukannya lagi," kata Hermione dengan paksa. "Kau mengorbankan dirimu. Apa kau bisa merasakan betapa menyakitkannya itu?"

"Hermione, dia bukan aku. Itu belum terjadi. Itu tak akan terjadi," kata Harry melawan.

"Mungkin tidak akan seperti itu, tapi aku tetap melihatmu seperti itu. mungkin saja tidak akan terjadi seperti yang ada di pensieve, tapi bukan berarti sesuatu yang lain tidak terjadi dimana kau akan melakukan hal yang sama. Aku tak ingin kehilanganmu," kata Hermione.

"Kau juga melakukan hal yang sama, kau tau!" balas Harry. "Kau mengorbankan dirimu sendiri untuk mengirim Aurelian kembali berharap bisa menyelamatkan semua orang. Aku tak mengerti mengapa kau bisa marah pada seseorang yang melakukan hal yang sama. Tak ada cinta yang lebih besar dibandingkan menyerahkan dirimu untuk sahabat-sahabatmu."

"Yeah, well, itu lebih mudah untuk mencintai sahabatmu dibandingkan hidupmu," ulang Hermione. Harry menghela nafas dan membuang muka. Dia sadar, Hermione tak akan pernah mencoba melihat dari sudut pandangnya.

"Well, itu bentuk kepercayaan pada sahabat, bukan begitu?" kata Draco dengan serigai kecil.

Harry dan Hermione menatap Draco terkejut dan bingung, apa yang dikatakannya benar-benar mengena pada mereka. Mereka saling menatap dan dengusan sebelum Hermione mengikik, Harry pun bergabung dengan tawa.

"Kau benar," kata Harry pada Draco. Harry mendegus dan melihat Hermione yang kikikannya menjadi lebih intens dibandingkan miliknya yang berangsur menghilang. Hermione semakin tertawa dan Harry kembali mendengus melihatnya. Hermione menutup mulut dengan tangannya, tapi sepertinya tawanya tak bisa berhenti.

"Gezz, Granger. Ini seharusnya bukanlah hal yang lucu," kata Draco dengan menyerigai.

Harry dan Draco saling bertukar pandang keduanya hanya tersenyum melihat Hermione mencoba mengontrol dirinya.

"Stop," kata Hermione memohon menghapus air matanya. "Jangan lakukan itu, jangan membuatku tertawa. Aku mencoba untuk berhenti."

Harry mengikik pelan lagi pada sahabatnya itu. Hermione biasanya sangat tenang. Sangat lucu melihatnya seperti ini, tapi juga terasa sangat baik. Benar, Hermione tidak cukup tertawa dan Harry jarang melihat senyumnya dua hari ini. Mungkin saja karena masalah ini dan respon Draco yang kurang mengenakkan.

"Okay, okay," kata Hermione, mengeluarkan nafas perlahan. Setiap helaan nafas, tawa kecil tidak sengaja keluar, tapi dia berusaha menenangkan diri dan mengembalikan kontrol dirinya. "Aku minta maaf," kata Hermione, diikuti dengan tawa lembut. "Okay.. okay, selesai," Hermione mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Jadi, kita sudah memulai hari ini, Malfoy akan pergi menemui Pansy. Kita akan mengecek Ron, see apalagi, kita akan mencari sangkut paut antara Parkinsons dan Creeveys dengan hal ini dan file-file tentang pelahap maut yang buron. Dan kita akan bertemu besok disini puluk Sembilan, benar?"

Setelah jeda sebentar dua pria itu tak menjawab, Hermione menatap mereka aneh.

"Apa?" tanya Hermione innocent.

"Aku takut kalau aku mengatakan sesuatu, kau akan mulai tertawa lagi," kata Draco mengakui.

Harry memandang Draco dan tertawa kecil pada dirinya sendiri. Dia berpikir hal yang sama., tapi dia tak mau mengakui karena yakin Hermione mungkin akan mulai tertawa lagi dan dia melakukannya.

Hermione memutar bola matanya dan kembali mengikik kecil. "Well, aku mungkin tak apa-apa kalau kau tidak memilih untuk mengungkitnya kembali." Walaupun kikikannya tak berlanjut, namun dia tetap tersenyum lebar, dua puluh menit sebelumnya dia tak pernah berpikir dia akan mampu untuk sejenak tertawa tentang hal ini.