Disclaimer: Not mine but this story is mine

Warning: OOC. Typo(s). miss-typo(s). AU. And many more.

.

.

.

행복한독서

Haengboghan Dogseo!

Selamat membaca! ^^

.

.

Chapter 11: Sasuke

Seperti biasa, Naruto sudah bangun pagi-pagi sekali. Kemudian ia bergegas membangunkan temannya yang lain untuk lari pagi. Satu persatu anggota SHINee tersebut keluar dari kamar dengan pakaian olah raga. Namun, Naruto merasakan suatu keganjilan di antara mereka.

Cowok pirang ini terus menerus menghitung dengan jarinya sambil sesekali mendongak untuk melihat wajah anggota SHINee yang lain. Kerutan samar nampak di dahinya ketika Naruto menautkan alis.

"Ada apa, hyung?" tanya Gaara yang sejak tadi memerhatikan tingkah aneh Naruto yang celingukan mencari sesuatu.

Naruto menelengkan kepala ke arah Gaara. "Sepertinya ada yang kurang. Seharusnya kita ada lima, kenapa cuma ada empat dihitunganku?" tanya Naruto sambil menunjukkan telapak tangan dengan kelima jarinya dan kemudian jempolnya dilipat sehingga menunjukkan keempat jarinya yang panjang-panjang itu di depan wajah Gaara.

"Ha? Masa?" Gaara bertanya ulang dan mulai menghitung teman-temannya.

Gaara melihat Sasori yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana dan Sai yang sedang merenggangkan tangannya, lalu Naruto yang berdiri di sampingnya.

"Benar! Cuma ada empat. Satu lagi siapa?" tanya Gaara.

"Kalian meributkan apa sih?" Sasori menghampiri keduanya—Naruto dan Gaara—yang sibuk dengan jari jemari mereka.

"Sasori-ah, sepertinya salah satu dari kita ada yang hilang," sahut Naruto. "Tapi, siapa?" lanjutnya sambil mengelus dagu—pose berpikir.

"Siapa yang hilang?" seru Sai yang langsung menghampiri Naruto, Sasori dan Gaara.

"Molla," sahut Gaara.

Mereka berempat terdiam sejenak untuk memikirkan siapa kira-kira yang absen pagi ini di antara seluruh anggota SHINee. Keempatnya sontak menaikkan alis mereka dengan mata agak melebar dan menjentikkan jari.

"Sasuke!" seru mereka berempat.

"Di mana dia? Jangan-jangan dia kabur dari sini karena ditolak Sakura!" seru Naruto. Sasori, Gaara dan Sai tampak cemas.

"Atau jangan-jangan Sasuke bunuh diri karena ditolak?" gumam Sai. Mendengar apa yang Sai katakan membuat Naruto, Sasori dan Gaara memekik histeris.

"Cepat cari Sasuke!" perintah Sasori pada ketiga temannya yang lain. "Kau jangan berspekulatif yang tidak-tidak dulu, hyung!" omel Sasori pada Sai.

Keempat namja ini lantas berlari ke sana-ke mari mencari sosok magnae mereka yang tiba-tiba menghilang. Mereka mencari dengan wajah panik dan bingung. Mereka sangat khawatir pada adik mereka karena mereka tahu Sasuke itu masih sangat labil, jadi bisa saja Sasuke melakukan hal-hal yang nekat.

Trang!

Pergerakan mereka berempat segera berhenti saat mendengar sesuatu yang jatuh dari arah dapur. Mereka saling pandang satu sama lain sebelum akhirnya Gaara mengayunkan tangan agar ketiga temannya yang lain mengikutinya ke arah dapur—di mana suara itu berasal.

Mereka berjalan dengan pelan-pelan sampai akhirnya kepala mereka menyembul satu persatu di kusen pintu dapur. Sesosok cowok dengan rambut bermodel pantat ayam sedang sibuk memindahkan sesuatu dari konter dapur ke meja makan.

"Annyeong achim, hyungs!" sapanya dengan senyum lebar saat melihat kepala keempat hyungdeul-nya menyembul dari balik kusen pintu.

"Sasuke-ah, kami pikir kau menghilang," sahut Naruto sebagai pengganti "Annyeong".

Sasuke menaikkan alisnya bingung. "Menghilang?"

"Ne. Kami pikir kau putus asa karena ditolak oleh Sakura," sahut Sai ceplas-ceplos membuat Sasori mendelik padanya. Sedangkan Sasuke tidak menjawab apa yang baru saja Sai katakan karena sepertinya ia sangat sibuk dengan kegiatannya memindahkan makanan.

"Kau sedang apa di dapur pagi-pagi begini, Sasuke -ah?" tanya Sasori mencoba mengalihkan suasana yang mendadak agak tidak enak tadi.

Sasuke menoleh pada hyung-nya itu dan tersenyum lebar. "Aku membuatkan sarapan untuk kalian, hyungs!" serunya bangga sambil merentangkan kedua tangannya di atas meja makan, menunjukkan hasil masakannya pagi ini.

"Jinjja?" Gaara yang hobinya makan segera berjalan cepat menuju meja makan, diikuti oleh ketiga temannya yang lain.

"Eh? Apa ini?" tanya Gaara—sweatdrop—mewakili ketiga temannya yang lain saat melihat telur mata sapi sebagian ada yang gosong, sebagian lagi kuningnya tidak bulat, lalu roti panggang yang hangus, sosis yang banyak sekali minyaknya.

"Tentu saja sarapan ala Inggris, hyung." Sasuke menyahut sambil menggeser kursinya keluar dari kolong meja dan mendudukinya. "Ayo hyungs, kita harus cepat sarapan lalu lari pagi supaya kualitas vokal kita makin bagus."

Gaara, Naruto, Sasori dan Gaara saling lirik dan akhirnya mereka menarik kursi dan duduk di atasnya. Mereka berempat sangat memahami niat baik dari dongsaeng mereka ini, tapi kalau harus memakan semua masakan Sasuke, rasanya mereka tidak tega juga pada perut mereka.

"Terima kasih Tuhan atas apa yang telah kau berikan pada kami. Kami sangat mensyukurinya. Semoga sarapan ini dapat menyehatkan kami. Amin!" Sasuke memimpin mereka berdoa.

"Apanya yang menyehatkan kalau semuanya gosong begini?" batin Naruto nelangsa.

"Apa aku harus memakan ini semua?" pikir Gaara dan menghela napas berat.

"Aku tidak yakin kalau perutku akan baik-baik saja setelah memakan sarapan ala Inggris buatan Sasuke ini." Sai membatin ragu.

"Aigo~ Sasuke membuang-buang bahan makanan saja kalau begini caranya," rutuk Sasori dalam hati.

"Kenapa diam saja? Ayo hyungs dimakan! Aku sengaja bangun pagi untuk membuat sarapan ini sebagai ucapan terimakasihku karena kalian akan membantuku mendapatkan hati Sakura," ucap Sasuke riang.

Sai, Sasori, Gaara dan Naruto saling lirik satu sama lain dan perlahan mereka memakan sarapan mereka yang terlihat tidak begitu gosong. Pada gigitan pertama mereka langsung terdiam dengan ekspresi yang sangat aneh.

"Bagaimana, hyungs?" tanya Sasuke dengan senyum innocent-nya.

Sasori langsung berdiri hingga menyebabkan kursinya terjatuh. Naruto yang tahu Sasori akan mencak-mencak dan menghina masakan Sasuke—yang jujur sangat tidak enak itu—segera menggenggam pergelangan tangan Sasori.

Sasori menoleh pada Naruto dan menatapnya tajam. Sedangkan Naruto dan Gaara menggelengkan kepala dan memasang tampang yang seolah mengatakan kasihan-Sasuke-dia-sudah-berusaha.

"Kenapa, Sasori hyung?" tanya Sasuke dengan tampang polosnya.

Sasori segera menoleh pada Sasuke dan tidak tega jika harus mengomeli magnae SHINee ini. Sasuke terlihat sangat tulus membuatkan sarapan untuk keempat hyung-nya meski sarapan itu adalah sarapan paling tidak enak yang pernah mereka makan.

Sasori menggelengkan kepala dan segera membetulkan posisi kursinya lagi. "Aniya, masakanmu ini enak sekali sampai aku terlalu terkejut. Iya, begitu." Sasori nyengir aneh yang terkesan seperti orang sedang sakit gigi.

"Sasori, kau bilang apa? Perutku saja—aduh!" Sai menggosok-gosok kakinya yang baru saja diinjak oleh Sasori.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya memandang Sasori dan Sai bergantian. "Kau kenapa, Sai hyung?" tanya Sasuke khawatir.

Sai hendak menjawab, "Kakiku diinjak oleh Sasori," namun diurungkan niatnya itu setelah melihat Sasori sedang menatapnya dengan tajam.

"Kepentok kaki meja, Sasuke-ah," sahut Sai dengan cengiran aneh.

Sasuke menganggukkan kepala kemudian menoleh pada Gaara dan Naruto. "Bagaimana, hyungs? Kalian suka?" yang ditanyai hanya bisa nyengir kaku dan mengangguk.

Sasuke tersenyum makin lebar, kemudian ia berkata, "Kalau begitu selamat menikmati sarapannya, hyungs. Aku sudah sarapan roti tawar tadi pagi. Besok aku akan membuatkan kalian sarapan lagi," kata Sasuke.

"Andwe!" teriak mereka berempat dengan kompak. Sasuke memandang mereka dengan bingung.

"Maksudku, biar besok Sasori saja yang memasak. Itu kan sudah jadi tugasnya. Ne, Sasori-ah?" tanya Naruto pada Sasori dengan senyum yang kelewat lebar.

Sasori tertawa canggung. "Ne. Dapur itu daerah teritorialku," sahutnya sambil melirik dapurnya yang sangat berantakan. "Kalau bukan karena kau melakukan ini dengan niat ucapan terima kasih, aku pasti sudah mengomelimu habis-habisan, Sasuke!" geramnya dalam hati.

Sasuke tersenyum lebar, lalu meyangga dagunya dengan tangan kanan yang bertumpu di meja makan. "Mianhae, Sasori hyung. Ya sudah, kalian cepat habiskan sarapannya, kita harus bergegas lari pagi!"

Glek!

Sasori, Gaara, Naruto dan Sai menelan ludah mereka dan memandang makanan hangus di atas piring mereka dengan nanar.

"Apa ini harus dihabiskan? Aigo~," batin mereka kompak.

.

.

.

Setiap hari dilalui Sasuke dengan semangat. Ia jadi bangun lebih awal dari Naruto dan selalu berlatih dan terus berlatih agar kualitas vokalnya makin menanjak. Setelah pulang latihan bersama Sakura—dan anggota SHINee yang lain, Sasuka selalu latihan kembali bersama Naruto maupun Sai. Dan jika mereka ada show, Sasuke tidak mengurangi jadwal latihan intensifnya, malah ia semakin berlatih dengan sungguh-sungguh.

Semangatnya yang tak pernah padam membuat Naruto, Sai, Sasori dan Gaara yang membantunya pun tidak merasa kelelahan meski sejujurnya mereka juga butuh istirahat yang cukup—mengingat latihan Sasuke sampai tengah malam terus.

Sasuke juga sadar diri dengan keadaan hyungdeul-nya yang membutuhkan istirahat—apalagi setelah pulang show—maka terkadang Sasuke latihan seorang diri di studio latihan yang ada di gedung SME. Para security juga sudah terbiasa dengan kehadiran Sasuke di gedung itu pada malam hari.

Yang Sasuke inginkan hanyalah satu, ia ingin diakui oleh Sakura dan mendapatkan cinta Sakura.

Sasuke belum pernah merasakan ini sebelumnya, mencintai seorang gadis hingga begitu dalam. Sasuke sangat takut jika harus kehilangan Sakura, apalagi jika harus menerima kenyataan jika suatu hari nanti gadis itu berpaling pada pria lain—meski saat inipun Sakura belum bisa dikatakan miliknya.

Sasuke akan melakukan apapun sekuat tenaga dan kemampuannya agar ia bisa menarik Sakura ke dalam pelukannya dan tidak akan mau ia lepaskan begitu saja. Ambisius? Ya, memang. Sasuke merasa jika sudah menyangkut soal Sakura, ia bisa menjadi sangat ambisius dan terobsesi sekali.

Setidaknya sifat ambisius dan obsesinya itu membawanya ke dalam dampak yang baik. Menurut Naruto dan Sai, Sasuke sudah mengalami banyak kemajuan dalam tekniknya bernyanyi dan olah vokalnya.

Sakura diam-diam juga merasakan kemajuan yang Sasuke alami tersebut, meski ia tidak menampilkan ekspresi yang berarti apa-apa, tidak seperti Sasori, Sai, Gaara dan Naruto yang heboh menyemangati Sasuke dan memberikannya ucapan selamat karena Sasuke sudah mendapat nilai B- dari Sakura.

"Baiklah, hari ini cukup sampai di sini saja." Sakura mengakhiri latihan vokal SHINee setelah menempelkan kertas nilai di papan pengumuman lalu segera memakai ranselnya dan berniat meninggalkan ruangan.

Baru saja Sakura akan membuka pintu, tapi pintu tersebut sudah terbuka duluan dari luar. Terlihat Kakashi dengan pakaiannya yang rapih—kaus putih yang dilapisi jas biru dan celana jeans biru dongker—seperti biasa sedang berjalan ke arah Sakura.

"Annyeong!" sapa Kakashi pada SHINee dan juga Sakura.

"Annyeong," sahut keenam orang itu dengan ekspresi yang berbeda-beda.

Sakura dengan tampang datarnya. Sasuke dengan tampang ogah-ogahan. Sasori, Sai, Naruto dan Gaara dengan tampang bingung—mereka bingung harus ceria atau sinis karena Kakashi adalah saingan berat Sasuke.

"Ayo Sakura kita pergi! Tapi, temani aku dulu membeli kue untuk orangtuamu besok," ajak Kakashi.

"Orang tua Sakura?" gumam Naruto.

"Besok?" gumam Sasori dengan menautkan alisnya.

Kakashi menoleh pada kedua anggota SHINee yang bergumam tadi dan melempar senyum ramahnya. "Ne, besok keluargaku akan berkunjung ke rumah Sakura," sahut Kakashi lalu ia menggendikkan kepala pada Sakura. "Ayo kita harus cepat pergi," ucapnya. "Jalgaseyo, SHINee!" Kakashi pamit pada SHINee dan bersama Sakura dia pergi dari gedung SME.

Sasuke yang mendengar ucapan Kakashi hanya bisa berdiri mematung. Jadi, Kakashi sudah maju sangat jauh di depannya. Bahkan kedua orang tua Kakashi dan orang tua Sakura sudah saling mengenal. Bagaimana jika orang tua Kakashi dan Sakura memutuskan untuk menyatukan mereka? Kalau benar begitu, masihkah ada harapan untuk Sasuke mendapatkan cinta Sakura?

"Jangan terlalu dipikirkan. Belum tentu ada hubungan spesial di antara Kakashi dan Sakura," kata Naruto sambil menepuk bahu Sasuke.

"Benar. Sampai saat inipun skandalmu dengan Sakura belum hilang sepenuhnya. Dunia tahunya kau dan Sakura mempunyai hubungan khusus," hibur Sasori.

Sasuke menggelengkan kepala. "Bukan masalah dunia tahu atau tidak, hyung. Tapi yang lebih penting adalah hati Sakura. Ke mana hatinya itu berpihak? Sampai saat ini ia terlihat dekat dengan Kakashi hyung. Ketika ia mengalami kesulitan, aku yakin Kakashi hyung selalu ada untuknya," sahut Sasuke dengan lemas.

"Kalau begitu, kau juga harus ada disaat Sakura susah dan senang juga. Berusahalah, aku yakin kau bisa!" ujar Gaara.

"Geundae…, sampai saat ini Sakura masih mengacuhkanku. Setiap kali kujemput dan ada Kakashi hyung juga menjemputnya, ia selalu memilih untuk naik mobil Kakashi hyung."

"Mungkin Sakura masih err… trauma padamu. Maksudku, kau ingat kan skandal waktu itu?" tanya Sasori hati-hati.

Sasuke mengangguk. Cowok ini mengerti dan bisa memahami jika Sakura masih trauma padanya karena kejadian tempo hari. Tapi, sikap Sasuke sudah berubah banyak sekali untuk mencairkan hati beku Sakura. Apa Sakura tidak memahami hal tersebut?

"Hyungs, apa aku bisa mengalahkan Kakashi hyung?" tanya Sasuke dengan ragu.

Sekuat apapun Sasuke untuk menguatkan hatinya kalau ia mampu mengalahkan Kakashi, tapi tetap ada dinding bernama kenyataan yang membuatnya ragu untuk menghancurkan dinding itu. Dinding itu adalah perbedaan status Sasuke dengan Kakashi, perbedaan status Sasuke dengan Sakura.

"Kakashi hyung berasal dari keluarga terpandang. Perusahaan Hatake's Corp sudah membuka cabang di mana-mana. Kakashi hyung juga pria yang sempurna, ia memiliki segalanya. Lalu, Sakura adalah anak perdana menteri yang juga sempurna. Sedangkan aku—"

"Sasuke! Kau tidak boleh bicara begitu!" sela Sasori dengan suaranya yang meninggi, Sasuke sampai terkejut mendengarnya.

Sasori menghembuskan napasnya perlahan dan bicara dengan suara lebih lembut. "Cinta tidak memandang kedudukan, status atau apalah yang kau sebutkan tadi. Aku yakin, dan hyung-mu yang lain juga yakin—" Sasori memandang Sai, Naruto dan Gaara yang juga menyimaknya baik-baik, "—kalau kau bisa mendapatkan cinta Sakura. Apapun penghalang di antara kalian, itu tidak akan berarti selama kau masih punya niat dan kesungguhan dalam usahamu." Sasori memegang kedua bahu Sasuke dan tersenyum padanya.

"Hyung…,"

"Ya…, lagipula keluargamu memiliki kedudukan yang tinggi pula. Ingat, guru itu adalah pahlawan tanpa tanda jasa—Ayahmu guru kan, Sasuke? Itachi juga merupakan aktor yang sangat terkenal dan Ibumu adalah seorang ibu yang sangat baik pada anak-anaknya," tambah Sai dengan lembut mengusap kepala Sasuke.

"Lagipula jika kau ingin menyaingi Kakashi, kau bisa masuk universitas dan menyabet gelar sarjana. Setidaknya kau bisa bangga dengan status kependidikanmu—ingat, calon mertuamu adalah perdana menteri!" Naruto juga ikut bicara.

"Kami akan selalu mendukungmu, Sasuke." Gaara menepuk bahu Sasuke pelan.

"Hyungsgomawo. Aku tidak tahu akan berbuat apa jika tidak ada kalian." Sasuke tersenyum getir. "Aku malu karena sudah putus asa duluan," lanjutnya dengan tawa aneh.

"Kami mengerti. Remaja memang labil, ne?" sahut Sai mencoba melawak tapi tidak ada yang tertawa, kemudian dia berdeham menghilangkan rasa canggung karena ditatap datar oleh keempat dongsaeng-nya.

"Ya sudah, sebaiknya kita latihan lagi!" seru Naruto dengan semangat menggebu-gebu. Keempat anggota yang lain pun ikut terangkat semangatnya.

.

.

.

Sakura memandang hampa ke taman bunga yang berada di halaman rumahnya. Dari kamarnya, Sakura memang dapat melihat jelas taman bunga yang terletak di bagian samping rumah tersebut. Sesekali ia menghela napas seperti nenek-nenek yang kelelahan. Pikirannya saat ini entah berada di mana, hanya tubuhnya saja yang tetap berdiri tegak di balkon kamarnya.

Suara ketukan pintu menyadarkan Sakura dari kegiatannya memandang hampa taman bunga di bawah sana. Ia menoleh dan berseru untuk memersilakan orang yang mengetuk pintu itu agar segera masuk ke dalam kamar. Pelayan dengan rambut cokelat pendek mendekatinya dengan sikap hormat dan sopan.

"Aggassi, tuan besar dan nyonya sudah menunggu anda bersama tamunya di ruang tamu," katanya dengan senyum lembut.

Sakura menghela napas lagi. "Geurae. Joah, aku segera turun. Kau bisa kembali, Misaki."

Pelayan itu mengangguk, lalu berjalan mundur sebelum membalik badan dan menutup pintu kamar Sakura.

Sakura berjalan menuju pintu yang terletak di sudut kamar, membukanya dan masuk ke dalam ruangan yang tidak begitu kecil namun tidak sebesar kamarnya itu. Ia mengambil sebuah dress yang panjangnya selutut dengan motif bunga-bunga.

.

.

.

Kakuzu mengerang putus asa saat kembali menjulurkan lehernya melihat gedung apartemen yang tidak begitu mewah itu. Ia mengerling arlojinya dan sudah hampir tiga jam ia menunggu seseorang keluar dari apartemen itu namun orang itu tidak kunjung kelihatan batang hidungnya.

Kakuzu mengulurkan tangannya ke dalam kotak donat yang ia letakkan di sebelah kursi pengemudi di mobilnya, namun kemudian ia mendecakkan lidah karena sarapannya sudah habis—donat itu yang menemaninya menunggu orang yang Kakuzu tunggu keluar dari kediamannya.

Dering ponselnya yang lumayan keras mengalihkan perhatian Kakuzu yang tadi sedang mengelap kameranya. Ia segera mengambil ponsel itu yang terletak di samping kotak donat, lalu mendecak setelah melihat siapa yang menelponnya.

"Yoboseyo. Ada apa?"

"Kakuzu-ah, di mana kau? Oh, terserahlah kau ada di mana, itu tidak penting! Yang terpenting sekarang adalah kau cepat datang ke kantor untuk mewawancara panitia 25th Golden Disk Awards. Sajangnim memerintahkan kita untuk segera menemui mereka satu jam lagi dan kuharap kau sudah sampai di kantor sebelum satu jam. Aku tutup."

"Tck!" Kakuzu mendecak. Seperti biasa, Hidan selalu berbuat seenaknya. Kakuzu heran kenapa bosnya selalu memasangkannya dengan pria berambut klimis itu? Tapi, Kakuzu juga mengakui kalau Hidan itu partner-nya yang paling sabar bekerjasama dengannya.

Kakuzu menoleh sekali lagi ke gedung apartemen. Sepertinya niat untuk menyelidiki hubungan Sakura dan Sasuke harus berakhir sampai sini dulu, pekerjaannya yang lain sudah menunggu. Menyalakan mobilnya, Kakuzu pun meninggalkan kawasan apartemen yang Sakura tempati.

.

.

.

"Kau semakin cantik saja, Sakura-ya." Sakumo—Ayah Kakashi, tersenyum memandang Sakura yang duduk di sebelahnya di sofa panjang.

"Kamsahamnida, ajeonim." Sakura balas dengan tersenyum tipis.

"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Dulu ketika kau kecil, kau sangat manis sekali dan sekarang setelah kau dewasa kau menjadi gadis yang sangat cantik." Sakumo berujar dan Sakura hanya menanggapinya dengan senyum simpul. "Aku membawakanmu sesuatu."

Kakashi menunduk dan mengambil sebuah kantong kertas yang diletakkan Sakumo di dekat kaki sofa, lalu menyerahkannya kepada Sang Ayah. Sakumo mengucapkan terima kasih dengan senyum kebapakannya dan menepuk tangan Kakashi lembut.

Sakumo menyerahkan sebuah kantong kertas pada Sakura. Sakura menerimanya dan menggumamkan terima kasih.

"Lihatlah, kau pasti menyukainya," kata Sakumo dengan lembut.

Sakura melirik Yamato dan Reina. Kedua orang tua Sakura itu memberikan senyum mereka dan menganggukkan kepala seolah menyuruh Sakura untuk melihat apa isi kantong tersebut.

Sakura membuka kantong kertas berwarna merah muda bercampur putih itu dengan alis terangkat. "Ini…"

"Kuharap kau masih menyukai susu strawberry dan hal-hal yang menyangkut soal strawberry, Sakura-ya," ucap Sakumo.

Sakura segera menoleh dan memandang Sakumo dengan mata berseri-seri. Ia sangat amat menyukai susu strawberry. "Kamsahamnida, ajeonim!"

Sakumo tertawa dan menepuk-nepuk kepala Sakura dengan lembut. Sakura merasa nyaman sekali dengan apa yang dilakukan oleh Ayah Kakashi ini padanya. Sangat lembut dan penuh kasih sayang, seolah Sakura adalah anaknya sendiri.

"Kau tetap sama seperti Sakura yang dulu. Syukurlah, aku sangat takut jika Amerika membuat gadis kecilku ini berubah menjadi sosok yang berubah drastis." Sakumo membelai rambut Sakura.

Mengerti tatapan bingung anaknya, Yamato pun berkata, "Dulu Sakumo-seonsaengnim sering datang untuk melihatmu, chagiya."

"Oh, tentu saja aku datang atas bujukan dan rengekan anakku ini, katanya dia sangat ingin bermain dengan Sakura." Sakumo mengerling ke arah Kakashi dan langsung membuat Kakashi sedikit salah tingkah. Sakumo tertawa bersama Reina dan Yamato. Sedangkan Sakura bingung dengan situasi itu.

"Aboji…," gumam Kakashi.

Sakumo menepuk-nepuk bahu Kakashi. Beliau duduk di antara Kakashi dan Sakura di sebuah sofa panjang yang kelihatan mewah.

"Itu masa lalu yang manis, Kakashi-ah," ujarnya. Kemudian dia berpaling pada Yamato dan Reina. "Ah~ kenapa tidak kita satukan saja kedua anak kita ini? Menurutku akan sangat bagus jika kita menjadi sebuah keluarga."

Ucapan Sakumo membuat Sakura melebarkan matanya, sementara Kakashi juga terlihat terkejut. Yamato dan Reina tertegun.

"Bagaimana Yamato-ah, Reina-ya?" tanya Sakumo.

Yamato dan Reina saling bertatapan. Reina tampak ragu-ragu untuk menjawab, Yamato sendiri terlihat sangat terkejut dengan apa yang dikatakan mantan dosennya itu.

"Sebaiknya kita tanyakan itu kepada kedua anak kita." Akhirnya Yamato mendapatkan suaranya yang terasa sulit untuk dikeluarkan tadi.

Sakumo lantas menoleh pada Kakashi dan Sakura yang duduk mengapitnya.

"Bagaimana, Sakura-ya? Apa kau setuju jika kujodohkan dengan Kakashi?" tanya Sakumo dengan senyumnya yang lembut.

Sakura tercengang. Gadis ini bingung harus mengatakan apa. Jantungnya berdetak dengan cepat namun ia merasa tidak nyaman. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Lalu, apa yang harus ia jawab sekarang?

Sakura yang dingin sudah pasti akan langsung menolak perjodohan ini seperti perjodohan-perjodohan yang pernah dilakukan Ayahnya dulu. Namun, sampai saat inipun Sakura masih membuka sedikit mulutnya dan tidak mengeluarkan sepenggal kata apapun.

Matanya bergerak gelisah dan saat itu ia menangkap sepasang mata onyx yang sedang menatapnya di belakang bahu Sakumo. Tatapan mata Kakashi terlihat berbeda. Entahlah, Sakura tidak dapat mendeskripsikan arti tatapan Kakashi itu, yang jelas mata Kakashi memandangnya dengan lembut.

"Sakura-ya." Panggilan Sakumo mengalihkan mata Sakura dan kembali menatapnya. "Apa kau mau jadi menantuku?" tanyanya penuh harap.

Sakura merasakan itu lagi—perasaan tidak enak yang muncul di hatinya—ketika melihat sepasang mata obisidian Sakumo yang memandangnya dengan lembut dan terlihat memohon.

Reina memandang Yamato dengan gelisah. Ia tahu betul watak putrinya seperti apa. Wanita ini sangat takut jika sifat dingin Sakura muncul dan menyakiti hati Sakumo. Apalagi mengingat Sakura sangat tidak menyukai yang namanya perjodohan.

Yamato juga mengerti dan bisa merasakan apa yang Istrinya kini tengah rasakan. Ia masih ingat betul dan tidak akan pernah lupa tentang alasan yang membuat Sakura sampai tinggal sendiri di apartemen sederhana—mencari seseorang yang mau mencintainya apa adanya. Lalu, sekarang tiba-tiba Sakumo meminta Sakura untuk menjadi menantunya.

"Seonsaeng—"

"Akan kupikirkan." Sakura membuka mulutnya dan memandang obisidian Sakumo yang memancarkan perasaan penuh kelegaan. Yamato sendiri menutup kembali mulutnya yang tadi hendak mengatakan sesuatu namun terpotong oleh suara putrinya.

"Jeongmalyo?" tanya Sakumo dengan senyum yang merekah sembari menggenggam kedua tangan Sakura dengan lembut. Pria tua ini terlihat sangat bahagia hanya karena sebuah harapan yang diberikan Sakura.

"Ye. Akan kupikirkan," sahut Sakura sambil mengangguk.

"Yamato, Reina. Bagaimana pendapat kalian? Apa kalian setuju?" tanya Sakumo memandang pasangan suami-istri itu.

"Kami setuju saja asal Sakura juga menyetujuinya," jawab Yamato, Reina yang duduk di sebelahnya mengangguk sembari tersenyum.

Sakumo kembali menatap Sakura dan mengeratkan genggamannya di telapak tangan Sakura. "Gomawo, Sakura-ya." Sakura mengangguk membalasnya.

"Bagaimana dengan Kakashi?" tanya Yamato yang mengerling ke arah Kakashi yang sejak tadi diam saja dan terus memandang Sakura di balik bahu Ayahnya. Kakashi yang mendengar namanya disebut-sebut langsung menoleh ke arah Yamato.

"Ne, bagaimana denganmu, nak? Kau mencintai Sakura kan?" tanya Sakumo yang sudah melepaskan genggaman tangannya pada Sakura dan kini memandang Sang Anak dengan sorot mata yang teduh. Sakura yang mendengar pertanyaan Sakumo langsung menoleh dan memandang Kakashi.

Tidak perlu ditanya, Sakura juga sudah tahu jawabannya karena beberapa hari yang lalu Kakashi dengan terang-terangan sudah mengatakan isi hatinya pada Sakura. Namun, Sakura masih penasaran apa yang akan dijawab oleh pria yang memiliki rambut perak melawan gravitasi itu.

Kakashi terdiam beberapa saat memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Sakumo dan Yamato, hingga akhirnya dengan kesungguhan yang ada di matanya dan senyum terlukis di balik maskernya, ia memandang Yamato lurus-lurus seolah ingin meyakinkan pria dengan rambut cokelat itu bahwa apa yang akan dia katakan adalah hal yang serius.

"Ya, aku mencintai Sakura dan aku menerima perjodohan ini."

Saat berikutnya yang terjadi adalah obrolan mengenai harapan dan bayangan Sakumo jika kedua keluarga itu dapat bersatu. Sedangkan Sakura merasa obrolan itu tidak sampai di telinganya. Ia duduk mematung setelah mendengar jawaban Kakashi. Di sebelahnya—Sakumo sudah pindah dengan duduk di dekat Yamato dan Reina karena ingin membiarkan Sakura dan Kakashi duduk berduaan—Kakashi diam-diam terus memerhatikan Sakura.

.

.

.

Sakura duduk termangu di meja makan dan mengabaikan roti panggang yang sudah mendingin di piringnya. Tatapannya jauh menerawang entah ke mana. Terdengar helaan napas yang berat ketika ia memejamkan mata. Bayangan pertemuan keluarga kemarin kembali terlintas di benaknya dan Sakura merasa menanggung sebuah beban tak kasat mata.

Suara bel apartemen menyadarkan Sakura dari lamunan pagi. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan melihat tamu yang datang dari monitor pengawas di ruang tamu. Terlihat Kakashi sedang berdiri di depan pintu apartemennya sambil melambaikan tangan. Sakura menekan nomor pin dan pintu apartemen pun terbuka.

Kakashi segera masuk ke dalam apartemen sederhana itu setelah melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Seketika itu pula ia melihat Sakura yang berdiri di ruang tamu dengan pakaian rapih.

"Yo, Sakura-ya!" sapanya dengan ceria.

Sakura membalasnya dengan mengangkat sebelah tangan dan ekspresi datar. Lalu ia berbalik menuju dapur, Kakashi mengikutinya di belakang.

Kakashi melihat di atas meja makan—yang muat untuk empat orang—ada roti panggang yang ia yakini sudah dingin dan susu strawberry yang masih penuh sekali di gelas bening. Kakashi memandang punggung Sakura yang berjalan menuju lemari es.

"Mau minum apa?" tanya Sakura tanpa repot-repot membalikkan badannya.

"Terserah kau saja," sahut Kakashi.

"Itu bukan jawaban."

"Oh, baiklah. Jus jeruk kalau ada."

Sakura membuka lemari es dan mengambil sekaleng jus jeruk, lalu ia meletakkannya di atas meja makan di depan Kakashi yang masih saja berdiri.

"Duduk," kata Sakura datar.

Kakashi tersenyum dan menarik kursi kayu itu lalu mendudukinya. Ia membuka kaleng jus itu kemudian menghirupnya sedikit. Kakashi mengerling sekali lagi pada sarapan yang belum tersentuh sama sekali oleh Sakura.

"Kau belum menghabiskan sarapanmu?" tanya Kakashi sambil meletakkan kaleng jus ke atas meja makan.

Sakura yang tadi sedang asik memandangi ruang tamu segera menoleh. "Hn?"

"Kau belum menghabiskan sarapanmu." Kakashi menunjuk piring Sakura. Sakura segera melihat piringnya dan ia menyadari kalau sejak ia membuat sarapan itu, dia belum menyentuhnya sama sekali.

"Aku tidak lapar."

"Lalu kenapa kau membuat sarapan? Sepertinya ini bukan Sakura yang sangat tidak suka membuang-buang makanan," sahut Kakashi membuat Sakura terdiam menatapnya.

Pria di hadapan Sakura ini entah kenapa sudah dapat mengenal Sakura dengan baik sekali. Ya, Kakashi memang sudah mengenal Sakura sejak kecil, tapi mereka kan sudah lama sekali terpisah dan tidak bertemu, lalu kenapa seolah Kakashi mengenal Sakura sangat dekat hingga mengetahui hal apapun dari Sakura?

Akhirnya Sakura hanya mendengus dan membuang mukanya ke ruang tamu. "Aku tidak tahu."

"Apa kau ada masalah?" tanya Kakashi dengan lembut.

"Tidak," sahut Sakura.

Mereka terdiam cukup lama. Sakura sibuk memandangi ruang tamu yang tertata sangat rapih itu. Matanya mengarah pada sebuah sofa panjang yang dulu dipakai Sasuke untuk tidur. Mengingat kenangan itu membuat perut Sakura mencelos. Gadis ini tidak mengerti apa yang terjadi dengannya.

Suara piring yang digeser membuyarkan lamunan Sakura. Ia menoleh dan melihat Kakashi sedang mengoleskan selai pisang ke roti panggang—yang sudah dingin—Sakura.

"Daripada dibuang, lebih baik aku makan. Kau tidak keberatan kan?" tanya Kakashi dengan senyuman yang mengembang—ia sudah melepaskan maskernya.

Sakura menaikkan sebelah alisnya, heran melihat sikap Kakashi yang mau memakan makanan yang sudah dingin karena biasanya pria ini bahkan membuang makanan yang dingin, bagi Kakashi makanan yang sudah dingin itu tidak enak dan tidak mengundang nafsu makan.

"Kau yakin mau makan roti yang sudah dingin itu?" sangsi Sakura.

Kakashi meletakkan pisau yang ia pakai untuk mengolesi selai ke piring di depannya. Ia menggigit roti itu dan mengunyahnya pelan. "Hm… ternyata selai pisang itu enak juga. Aku jadi mengerti kenapa Sasuke sangat menyukai pisang. Tapi menurutku, anggur jauh lebih enak."

Sakura tertegun mendengar apa yang Kakashi katakan. Ia baru sadar kalau akhir-akhir ini ia suka sekali makan sesuatu yang berhubungan dengan pisang. Buah yang satu itu entah kenapa menjadi buah favoritnya selain strawberry. Dan yang dikatakan Kakashi tadi seolah menusuk dirinya.

Ya, Sakura mulai menyukai pisang sejak Sasuke menginap di rumahnya tempo hari dan mencekokinya dengan buah yang satu itu dan jujur saja buah itu—selain tomat—mampu membuat Sakura teringat pada Sasuke.

Kakashi yang menyadari perubahan ekspresi Sakura—yang sangat jarang terjadi—mencoba mengembalikan alur pembicaraan. "Manusia bisa berubah kan, Sakura?"

Sakura yang sejak tadi terus memandangi selai pisang, mengerjapkan mata dan memandang Kakashi. "Hn?"

Kakashi terkekeh pelan meski dalam hatinya ia merasa sangat panas hanya karena melihat perubahan ekspresi Sakura menjadi murung ketika nama Sasuke tidak sengaja terucap di bibirnya.

"Kataku, manusia bisa berubah kan, Sakura? Kau bilang aku suka sekali membuang-buang makanan, oleh karena itu sekarang aku akan belajar menghargai makanan seperti halnya dirimu," kata Kakashi.

"Oh…"

Jawaban singkat Sakura dengan ekspresi datarnya itu membuat Kakashi merasa tidak puas. Entah perasaannya saja atau tidak, Sakura terlihat berubah sejak pertemuan keluarga kemarin. Dan Kakashi merasa sangat takut jika apa yang ada di pikirannya soal Sakura itu tepat sasaran, karena itu adalah bukan hal yang baik untuk dirinya dan Sakura.

.

.

.

Sakura merasa ada suatu hal yang terjadi pada SHINee, lebih tepatnya pada Sasuke. Bocah itu sekarang sudah tidak pernah lagi mengeluh, protes maupun melawan apa yang Sakura ucapkan ketika mereka latihan vokal. Malahan, bocah itu selalu menuruti apa yang Sakura katakan.

Sakura melirik di balik celah pintu yang terbuka di studio vokal. Saat ini memang sedang istirahat dan kalau matanya tidak salah melihat, di dalam studio itu ada Sasuke, Sai dan Naruto yang masih berlatih.

Samar-samar Sakura mendengar Naruto dan Sai menjelaskan teknik bernyanyi yang bagus di nada tinggi dan ketika bernyanyi sambil menari. Sai juga menjelaskan tentang teknik memegang mikrofon yang baik.

Tanpa gadis itu sadari, ia sudah menarik sudut bibirnya dan mengulas sebuah senyum tipis. Sedikit banyak ia merasa senang dan bangga mempunyai murid yang tidak pantang menyerah.

Sementara itu, Sasori dan Gaara sedang berjalan menuju studio latihan. Sasori memegang secarik kertas memo kecil, ia tersenyum lebar memandangi kertas tersebut. Sedangkan Gaara berjalan di sisinya dengan tenang.

Langkah Sasori terhenti ketika Gaara menarik tangannya. Sasori langsung menoleh dan menautkan alis. "Aish! Kenapa menarik tanganku?"

"Itu Sakura kan?" tanya Gaara sambil menunjuk ke arah pintu studio yang lumayan jauh dari tempatnya berdiri.

Sasori segera menoleh ke arah yang ditunjuk Gaara. "Tentu saja itu Sakura. Memangnya siapa lagi di gedung ini yang punya rambut pi—" Sasori membiarkan sedikit mulutnya terbuka, lalu dengan cepat menoleh lagi pada Gaara. "Sedang apa dia di sana? Omo! Jangan-jangan dia memerhatikan latihan Sasuke?" pekik Sasori tertahan.

"Sebaiknya kita buktikan saja." Gaara menyahut dan kemudian melanjutkan langkahnya.

Sakura yang terpaku di tempat memandang bagaimana Sasuke tertawa saat tiba-tiba mendengar suara Sai yang melengking di nada tinggi sehingga tidak menyadari langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Ia mendengus menahan tawa saat Sai yang tersedak setelah mencoba nada tinggi dari keyboard yang dimainkan Naruto.

"Sai hyung memang sedang ada masalah dengan tenggorokannya tapi dia tidak menolak saat Sasuke memintanya untuk melatih vokal bocah itu."

Sakura membeku saat mendengar suara Sasori di belakangnya. Gadis ini dapat merasakan ketika Sasori berjalan ke sampingnya dan ada satu orang lagi yang juga berjalan di sisinya yang lain, jadi ia ada di tengah-tengah.

"Selama ini Sasuke berlatih sangat keras hanya untuk diakui olehmu. Semangatnya tidak pernah menurun malah semakin membara karena sebentar lagi kami akan jadi pengisi acara di 25th Golden Disk Awards. Aku jadi tidak sabar melihat kemajuannya nanti di atas panggung. Dia pasti akan sangat bersinar, benar kan Gaara?" Sasori mengerling pada Gaara sambil menyeringai mendapati ekspresi Sakura yang sedikit terkejut namun berubah menjadi datar lagi.

Gaara balas menyeringai saat dilihatnya mata Sakura yang sempat melebar tadi. "Benar. Apalagi senyumnya itu sangat manis hingga dapat membuat ribuan gadis jungkir balik. Beruntung sekali gadis yang mampu mencuri hatinya," sahutnya.

Sakura mengerti betul kalau posisinya saat ini sedang dipojokkan oleh duo cowok berambut merah ini. Perasaannya campur aduk saat mendengar penuturan keduanya. Senang, jengkel, dan juga sedih.

Berdeham pelan, Sakura mendorong pintu di depannya hingga terbuka lebar. "Sebaiknya kita masuk, latihan akan segera dimulai." Sakura berjalan duluan meninggalkan duo cowok imut itu di depan pintu.

Sasori dan Gaara saling menatap dengan seringai mereka masing-masing.

"Sudah kuduga!" seru Sasori. Dan mereka ber-high five.

Sasuke, Naruto dan Sai yang mendengar pintu dibuka segera menoleh dan melihat Sakura berjalan masuk ke dalam studio. Sedangkan di belakang Sakura, Sasori dan Gaara sedang melakukan high five. Mereka bertiga memandang bingung ketiga sosok tersebut.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Sasuke belum juga pulang ke apartemennya. Keempat namja yang berada di ruang keluarga itu sedang asik menonton televisi.

Naruto kembali mengerling jam dinding yang berada di belakangnya. Ia terlihat cemas dan gelisah. Gaara yang sejak tadi main game tidak sengaja melihat kecemasan yang terpancar dari wajah hyung-nya itu.

"Ada apa, hyung?" tanya Gaara sambil meletakkan stick playstation-nya.

Naruto menoleh cepat ke Gaara dan meringis. "Sasuke belum pulang juga."

"Biasanya dia memang pulang jam dua belas," sahut Gaara.

"Iya aku tahu. Tapi, aku jadi khawatir dengannya. Tidakkah kalian pikir dia terlalu memaksakan diri?" tanya Naruto memandang satu persatu teman seapartemennya.

Sasori menghembuskan napasnya dengan berat. "Tentu saja aku khawatir. Lalu kita harus berbuat apa? Kau tahu sendiri Sasuke itu kalau sudah ada maunya tidak bisa dihentikan."

"Aku punya ide!" seru Gaara. Sai, Sasori dan Naruto lantas menoleh padanya.

"Apa?" tanya Sai.

Gaara berdiri dan menepuk tangannya dengan antusias. "Kita beritahu Sakura tentang apa yang Sasuke lakukan sekarang. Setidaknya jika Sasuke tidak mendengarkan kita, dia akan mendengarkan Sakura."

Naruto mengerutkan keningnya. "Tapi jika Sakura tidak mau membujuk Sasuke, bagaimana?"

"Aku yakin dia mau," jawab Gaara.

Sai mendengus dan tertawa hambar. "Yakin sekali kau, Gaara-ah?"

Gaara mendecakkan lidahnya dan bertolak pinggang. "Hyungs, dengar! Aku yakin sekali Sakura itu sudah punya perasaan pada Sasuke. Dan saat ini tugas kita adalah membantu Sakura untuk mneyadari perasaannya itu. Bukan begitu, Sasori-ah?" Gaara mengerling Sasori yang sedang duduk di sofa dengan melipat kakinya.

Sai dan Naruto memutar kepala mereka dan memandang Sasori yang duduk dengan manis. Sasori tersenyum memandang keduanya.

"Itu benar, hyungs. Kita harus membantu Sakura menyadari perasaannya pada Sasuke karena menurutku Sakura itu tipe gadis yang tidak mau mengakui perasaannya sendiri," ujar Sasori sembari berdiri kemudian.

Sai mengangkat bahu. "Ya sudah, kalau begitu kita ke apartemen Sakura sekarang."

"Pakai mobilmu ya, Sai hyung?"

.

.

.

Suara bel yang ditekan lebih dari tiga kali membuat Sakura cepat-cepat berlari menuju pintu apartemen tanpa melihat dulu di monitor dinding yang ada di ruang tamu. Ia masih menggunakan celemek karena ia baru saja memasak makan malam untuknya. Kesibukannya yang lain—melatih club dance di kampusnya—telah menyita waktunya lebih banyak namun ia bersyukur karena dengan begitu, ia dapat mengalihkan perhatiannya dari terus menerus memikirkan Sasuke ataupun Kakashi.

Sakura mengangkat alisnya tinggi-tinggi saat melihat keempat laki-laki berdiri di depan pintu apartemen. Mendadak dia mempunyai firasat buruk.

"Kalian…? Ada apa bertamu malam-malam?" tanya Sakura dengan suaranya yang terdengar dingin.

Keempat pria yang berdiri di hadapan Sakura meringis dan saling melirik satu sama lain, hingga akhirnya Gaara berhasil di dorong untuk maju di antara mereka. Sakura memandangnya dengan datar.

"Sepertinya kau sedang sibuk." Gaara memulai dengan berbasa-basi. Dia bingung harus memulai dari mana. Sementara ketiga rekannya di belakang mendengus mendengar basa-basi Gaara. Oh, sekarang sudah pukul 09.25 malam. Jika Gaara masih suka berbasa-basi, ucapkan selamat tinggal pada rencana untuk membuat Sakura sadar akan perasaannya pada Sasuke.

"Ya, seperti yang kaulihat. Kalau begitu, sebaiknya kalian pulang," sahut Sakura.

Gaara dan ketiga temannya mendengar hal itu langsung panik. Dan ketika Sakura hendak menutup pintu, Gaara cepat-cepat menahan pintunya.

"Kami mohon tolong Sasuke!"

.

.

.

Sakura baru saja turun dari busway dan dia langsung berlari menuju gedung SM Entertainment. Kata-kata Gaara, Sasori, Sai dan Naruto lima belas menit yang lalu terus terngiang-ngiang di otaknya. Sakura bahkan tidak peduli dengan makan malam yang baru saja ia buat. Ia juga melepas asal celemek yang ia pakai di teras rumah sebelum berlari keluar dari apartemen.

"Sasuke akhir-akhir ini berlatih keras agar bisa diakui olehmu dan mendapatkan cintamu."

"Dia berlatih terlalu keras hingga pulang larut malam dan kondisinya semakin menurun."

"Sasuke tidak peduli dengan apa yang kami katakan untuk menghentikan tindakan gilanya ini. Karena baginya mendapatkan cintamu adalah segalanya."

"Kami mohon. Tolonglah Sasuke, ia anak yang tidak mudah putus asa tapi kondisinya benar-benar bisa memburuk kapan saja dan terakhir kali kondisinya yang paling fatal adalah ketika dia berbaring di Rumah Sakit selama satu bulan."

Ting!

Pintu lift terbuka dan Sakura langsung berlari menuju studio latihan. Gadis ini terengah-engah saat di depan pintu ruangan yang dibuat kedap suara itu. Setelah mengatur napasnya agar normal kembali, Sakura mendorong pintu itu hingga terbuka. Alunan lagu Replay langsung menyentuh gendang telinga.

Di sana, di depan cermin besar ada seorang namja berambut raven sedang menari dengan kelelahan. Namja itu bahkan berhenti menari padahal musik masih mengalun. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan di lutut sehingga posisinya membungkuk.

Sakura yang melihat keadaan Sasuke jadi teringat kata-kata Naruto yang mengatakan kondisi Sasuke perlahan menurun. Jika Sasuke terus berlatih seperti ini, apa yang dikatakan Naruto memang bisa saja terjadi. Sasuke itu hanya manusia biasa, dia bukan robot, sehingga ia butuh istirahat yang cukup.

Sakura berjalan menuju meja kecil di dekat keyboard lalu mengambil handuk yang ada di sana dan botol air mineral yang tinggal setengah. Ia memandang Sasuke yang masih mengatur napasnya dari cermin besar di ruangan itu, kemudian dia berjalan mendekat ke Sasuke.

Sasuke merasakan sesuatu menyentuh pundaknya. Ia berpikir kalau itu adalah security yang biasanya datang untuk mengingatkannya agar beristirahat di rumah. Namun, ketika ia menegakkan badannya yang ia lihat adalah Sakura dan itu cukup membuatnya terkejut—yang untungnya ia tidak melompat.

"Omo! Kau mengagetkanku!" seru Sasuke yang meletakkan telapak tangannya di depan dada.

"Apa aku terlihat seperti hantu sampai kau terkejut berlebihan seperti itu?" tanya Sakura dengan datar.

"Kau bahkan lebih seram dari hantu," bisik Sasuke.

"Ya! Aku dengar itu!" Sakura mendengus sebal, lalu ia mengulurkan air yang tadi ia pegang. "Ini. Minumlah."

Sasuke memandang botol itu dan Sakura bergantian. Apa Sakura sudah mulai perhatian padanya, ya?

"Cepat ambil!" seru Sakura tak sabaran.

Sasuke mendengus namun mengambil botol itu dari tangan Sakura juga. Ia langsung menenggak airnya hingga tandas.

Puk!

Sasuke meraba wajahnya yang baru saja dilempar handuk kecil oleh Sakura dan memegang handuk itu agar tidak jatuh ke lantai. Sasuke memandang Sakura yang masih berdiri di depannya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Apa aku sedang bermimpi?" tanya Sasuke sambil menepuk-nepuk pipinya.

Sakura mendengus menahan tawa, kemudian ia menatap Sasuke dengan tatapan datarnya. "Berkeringat di malam hari itu tidak baik untuk kesehatan."

"Wah… kau jadi perhatia sekali padaku," sahut Sasuke.

Sakura memutar bola matanya dan berbalik menuju tape di sudut ruangan. "Ini tidak seperti yang kaupikirkan. Hyungdeul-mu datang padaku dan memintaku agar kau tidak memaksakan diri untuk latihan keras seperti ini."

"Hyungs?" gumam Sasuke yang mendadak berhenti mengusap wajahnya dengan handuk.

Sakura mencari-cari sesuatu di tumpukan CD yang tertata rapih di meja tape. "Oleh karena itu, kau pulanglah dan besok jangan berlatih hingga larut malam lagi."

Sasuke mengerutkan keningnya. Kenapa hyungdeul-nya tiba-tiba menyuruh Sakura untuk menghentikan latihannya. Bukankah mereka yang mendukung Sasuke untuk bisa lebih baik lagi dalam kualitas vokal?

"Kenapa mereka menyuruhmu?" tanya Sasuke sangat penasaran. Ia tidak mau berpikiran negatif terhadap kakak-kakaknya itu.

"Tanyakan saja pada mereka."

Sasuke menggeram gemas. Sakura memang gadis yang sulit sekali untuk diajak bicara blak-blakan. Untuk mengatakan alasan kenapa Sai, Sasori, Naruto dan Gaara memintanya datang ke SME saja dia tidak mau mengatakannya.

Sasuke berjalan menghampiri Sakura dan mengambil sebuah album SHINee yang berjudul Lucifer. Ia menggeser Sakura dengan tubuhnya hingga Sakura terhuyung ke samping namun tidak sampai terjatuh.

"YA!"

"Dengar!" Sasuke melirik Sakura dengan tajam. "Aku tidak akan menuruti permintaanmu. Bagaimana pun aku akan terus berlatih hingga mencapai target, yaitu nilai A+ darimu dengan begitu aku pantas mencintaimu."

Sakura terdiam dan memerhatikan Sasuke membuka album SHINee itu kemudian mengeluarkan kepingan CD-nya untuk mengganti kepingan CD yang ada di dalam tape. Kenapa bocah ini keras kepala sekali? Dia ingin dapat nilai A+ agar pantas mencintai Sakura?

Sasuke sangat serius ingin mendapatkan hati Sakura namun Sakura sendiri masih bingung dengan apa yang dirasakannya. Lagipula, seseorang sudah melamar Sakura dengan lebih resmi—setidaknya bersama orangtuanya. Apa yang harus Sakura lakukan?

"Bagaimana kalau kita battle dance? Kalau aku menang, kau harus pulang sekarang." Sakura mengalihkan pembicaraan.

Sasuke menoleh pada Sakura dan tertawa meremehkan. "Memangnya orang kaku sepertimu bisa menari? Jalanmu saja seperti robot," ejek Sasuke.

Kening Sakura berkedut. Seenaknya saja bocah ini menghina jalannya seperti robot. "Kau takut?" tantang Sakura.

Sasuke mendengus dan kita menghadapkan dirinya di depan Sakura sambil melipat tangannya di bawah dada. "Jangan menangis kalau kau kalah."

"Kata-kata itu lebih cocok untukmu."

"YA!"

.

.

.

Sasuke mendengus kesal sambil memandang ke luar jendela taksi. Di sebelahnya, Sakura meliriknya dan mencoba menahan diri agar tidak tertawa melihat muka cemberut Sasuke yang ditekuk. Malam ini memang melelahkan karena Sakura menari hingga dua kali—saat melatih KU Dancer dan battle dance dengan Sasuke—namun hatinya merasa riang dan melihat raut wajah Sasuke yang terkejut melihat Sakura breakdance membuat Sakura merasa senang minta ampun.

Wajah Sasuke saat itu benar-benar seperti orang tolol. Bayangkan saja jika Sasuke menganga dan mata melebar tidak percaya. Sakura benar-benar puas telah mengerjai Sasuke.

"Harusnya aku curiga dari awal ketika kau menantangku battle. Kau memang gadis licik." Sasuke menoleh pada Sakura dan memandangnya dengan sinis.

Sakura memutar bola matanya. "Jangan pernah remehkan lawanmu atau kau bisa mati."

Sasuke mendecih dan melipat kedua tangannya. "Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau kau adalah handy girl?"

"Kau tidak tanya," sahut Sakura yang melempar pandangannya ke luar jendela. Tampak lampu di toko-toko dua puluh empat jam masih menyala. Kota Seoul memang tidak pernah tidur.

Kali ini giliran Sasuke yang memutar bola matanya. Sasuke memang tahu soal handy girl yang terkenal itu namun dia tidak pernah menyangka jika gadis yang disebut-sebut memiliki gerakan lincah dan energik dalam menari itu adalah Sakura.

Sasuke tidak dapat membayangkan sebelumnya kalau Sakura yang kaku itu bisa menari. Saat sebelum battle saja Sasuke tertawa sendiri membayangkan bagaimana gerakan tarian Sakura nanti, tapi sayang karena berikutnya dia yang dibuat tercengang oleh gerakan tubuh Sakura.

Gadis merah muda itu menyimpan banyak sekali kejutan. Dan menyadari itu membuat Sasuke tersenyum simpul memandangnya.

"Kau pikir aku tidak bisa melihat kau sedang menatapku? Wajahnmu itu terpantul jelas di kaca jendela ini, pabo." tanya Sakura tanpa menolehkan kepala.

Baru saja Sasuke menikmati hal-hal yang mungkin manis dari Sakura tapi, gadis itu kembali menghancurkan lamunannya.

"Kau terlalu galak tahu," kata Sasuke. Sakura tidak mengindahkan kata-katanya. "Meskipun kau sudah menang dan bisa menyuruhku pulang, tapi itu tidak akan membuatku berhenti berlatih keras."

Sakura kali ini menolehkan kepala menatap Sasuke yang sedang menatap lurus ke depan, sementara supir taksi yang sejak tadi menjadi pendengar setia tetap berkonsentrasi menyetir. Sepertinya dia tidak begitu peduli dengan kedua penumpangnya. Malam semakin larut dan pastinya dia ingin cepat-cepat mengantar penumpangnya sampai ke rumah mereka dan dia juga bisa cepat sampai rumah.

"Lupakan saja itu," ucap Sakura dengan mata yang cahayanya mulai meredup, entah karena lampu taksi yang tidak begitu terang atau karena kesedihan yang dia rasakan.

Sasuke menoleh cepat dan menatap Sakura dengan menautkan alisnya. "Kenapa?"

Sakura ingin sekali menyeringai namun yang ia hasilkan adalah senyum getir dan Sasuke dapat dengan jelas melihat hal itu. "Kakashi bersama Ayahnya sudah melamarku."

Sasuke melebarkan mata, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Jadi Kakashi sudah maju sejauh ini? Tapi, dia juga tidak begitu heran mendengarnya, mengingat bagaimana sifat Kakashi yang selalu serius namun santai.

"Lalu kaujawab apa?" tanya Sasuke dengan perasaan berdebar-debar tidak nyaman.

Sakura menghembuskan napasnya dan menjawab, "Sedang kupertimbangkan."

"Berarti masih ada kesempatan untukku. Meskipun kau mengiyakan lamaran itu, aku tetap akan berusaha mendapatkanmu sebelum kau mengucapkan janji di altar," ucap Sasuke dengan mantap.

Kali ini Sakura menatap mata Sasuke, menggali apakah bocah ini sedang bercanda atau tidak. Menatap matanya terlalu lama membuat Sakura terjerat dan takut tidak bisa lepas. Melihat senyum tulusnya membuat Sakura merasakan perasaan sedih dan bersalah. Sakura membuang muka dan memandang ke luar jendela.

Taksi itu menepi di depan pintu otomatis gedung apartemen sederhana yang ditempati Sakura. Sebelum Sakura membuka pintu taksi, ia menoleh pada Sasuke yang sedang menatapnya.

"Berusahalah." Hanya satu kata yang Sakura ucapkan sebelum ia membuka pintu taksi dan menutupnya. Mendengar satu kata itu membuat api semangat Sasuke semakin berkobar.

"Ajeossi, gadis yang tadi duduk di sampingku cantik kan?"

.

.

.

Sai terlihat terkantuk-kantuk di ruang keluarga meski televisi terus menyala menampilkan sebuah film horror yang menakutkan. Di sebelahnya, Sasori malah sudah bersender pada bahu Sai sambil memejamkan mata.

Naruto yang baru tiba dari dapur membawa empat cangkir yang berisi kopi panas yang baru saja ia seduh. Cowok pirang ini meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja yang berada di dekat tembok. Ia mendongak melihat jam dinding yang menunjukkan sekarang sudah pukul 10.20 dan Sasuke belum juga sampai di apartemen.

"Sasuke belum pulang, Gaara-ah?" tanya Naruto sambil menghirup kopi itu pelan-pelan.

Gaara yang sejak tadi sedang asik bermain game di I-Pad pun menoleh. "Belum hyung," sahutnya lalu kembali berkutat dengan I-pad nya dan melenguh saat ia gagal memasukkan bola ke gawang lawan.

Naruto menghela napas dan duduk di sofa single yang empuk. "Kubuatkan kalian kopi, sebaiknya diminum selagi hangat."

Kepala Sai yang hampir saja terjatuh ke sandaran sofa langsung terbuka dan celingak-celinguk mencari sesuatu yang membuat wajahnya terlihat aneh.

Naruto mendengus menahan tawa melihat hyung-nya itu. "Sai hyung, ini. Minumlah dulu, kau kelihatan mengantuk sekali." Naruto menyodorkan cangkir kopi pada Sai.

Sai yang belum sadar sepenuhnya menerima cangkir itu dan menghirupnya. "Drama musical membuatku lelah."

"Kau sebaiknya tidur saja, hyung. Biar kami yang menunggu Sasuke pulang." Sasori berkata setelah menegakkan diri dan mengambil cangkir kopi di atas meja lalu menghirupnya. "Ini kurang krim, Naruto hyung." Naruto meringis mendengarnya.

"Kalau kalian minum kopi, kalian bisa susah tidur." Gaara menghampiri mereka dan mengambil cangkir kopi itu juga.

"Ya, kami memang beda denganmu yang mudah tertidur, Gaara," sahut Sasori. Gaara mengangkat bahu.

Suara pintu yang dibuka membuat keempat namja ini saling bertatapan dan tidak lama kemudian muncul dari arah ruang tamu Sasuke yang kelihatan lelah namun tidak memudarkan keceriaan dari wajahnya.

"Hyungs, kalian belum tidur?" tanya Sasuke.

"Sasuke! Kau pulang sebelum jam dua belas! Wowowow!" seru Naruto sambil menghampiri Sasuke.

"Apa Sakura tadi menemuimu di SME?" tanya Sasori yang bersama Sai dan Gaara berjalan menghampiri Sasuke.

"Ne. Ah! Hyungs, kenapa kalian meminta Sakura untuk menghentikanku berlatih keras?" tanya Sasuke.

Naruto menghela napasnya, dia sudah menduga Sasuke akan bertanya seperti itu. "Jangan berburuk sangka dulu, kami hanya—"

"Kami hanya ingin membantu Sakura untuk menyadari perasaannya padamu." Sai memotong ucapan Naruto.

"Hyung, kau itu bocor sekali sih!" omel Naruto.

"Kupikir Sasuke perlu tahu, Naruto-ah," sahut Sai dengan senyum polosnya. Naruto menunduk dan menghela napas berat. Sai selalu ceplas-ceplos.

"Tahu apa? Menyadari perasaan apa?" tanya Sasuke tidak mengerti.

Sasori menggelengkan kepala melihat tingkah hyungdeul-nya. "Kami berpikir kalau Sakura itu mulai menyukaimu. Makanya kami memancing dia dengan mengatakan kalau kau akhir-akhir ini dalam kondisi buruk karena terus berlatih keras untuk mendapat pengakuan darinya."

"Hah?" Sasuke mengerutkan keningnya.

"Dan dugaan kami, jika Sakura datang ke SME dan memintamu pulang maka ia memang benar menyukaimu." Tambah Gaara dengan menepuk bahu Sasuke. "Chukhae, kau berhasil maju satu langkah."

Sasuke terdiam mencerna semua perkataan hyungs-nya. Jika benar Sakura menyukainya, kenapa dia tidak langsung menolak lamaran Kakashi. Ah, berbicara soal lamaran, sepertinya Sasori, Sai, Naruto dan Gaara juga patut mengetahui hal ini.

"Jika memang benar begitu, kuharap Sakura menolak lamaran dari Kakashi hyung."

"APA? Kakashi hyung melamar Sakura?" keempat namja itu kompak bertanya. Sasuke mengangguk.

"Kakashi hyung, jinjja… Kalau begitu kau juga harus melamar Sakura!" seru Naruto.

"HAH?" kali ini kompak Sasuke, Sasori, Sai dan Gaara yang berteriak.

"Aiiisssh! Kalian tidak perlu berteriak begitu!" Naruto mengusap-usap telinganya mendengar teriakan keempat temannya.

"Kau gila, hyung?" tanya Sasori sarkastik.

Naruto meringis dan kembali menatap Sasuke. "Kau tidak ingin Sakura direbut oleh Kakashi hyung kan?" tanyanya.

"Tentu saja," sahut Sasuke.

"Kalau begitu kau harus memastikan pada orangtuanya kalau kau serius dengan Sakura. Aku yakin sekali mereka juga sudah melihat pengakuan cintamu pada skandal yang waktu itu kaubuat." Naruto meyakinkan Sasuke.

"Benar juga. Jika Sasuke tidak melakukan tindakan nyata untuk mendapatkan Sakura, bisa saja orang tua Sakura menilai kalau Sasuke hanya mencari sensasi waktu itu," kata Sasori sambil mengusap dagu.

"Benar, kau bisa dibilang memanfaatkan Sakura kalau begitu," lanjut Sai.

Sasuke berpikir keras. Apakah ia siap melamar Sakura secara resmi? Apakah perdana menteri mau menerimanya begitu saja? Tapi, demi cintanya pada Sakura, apapun akan ia lakukan.

"Baiklah. Gaara hyung, Sasori hyung, kalian sudah dapat alamat perdana menteri?" tanya Sasuke dan menatap bergantian duo imut itu bergantian.

Mereka berdua tersenyum dan mengangguk.

.

.

.

Malam penghargaan untuk insan musik tidak lama lagi akan digelar. Tepatnya, besok sabtu pergelaran penghargaan termegah di Korea Selatan itu akan dilaksanakan di stadium indoor di Kota Seoul.

Para pengisi acara dalam penghelatan akbar itupun terlihat sibuk sekali latihan termasuk salah satu di antaranya adalah SHINee. Meskipun rumor mengatakan bahwa boyband yang satu itu sudah turun pamor, tapi kenyataannya mereka tetap diundang secara terhormat sebagai salah satu pengisi acara dalam 25th Golden Disk Awards.

Selesai latihan vokal bersama guru mereka—Sakura—SHINee terlihat sibuk di dalam sebuah ruangan yang lumayan besar di butik desainer mereka, Haku. Saat ini mereka sedang mencoba pakaian yang akan mereka pakai besok saat pementasan. Dalam penghelatan akbar seperti itu, mereka pastinya harus memiliki penampilan yang luar biasa.

Tirai bilik ganti disibak oleh Sasuke yang baru saja selesai mengganti pakaiannya lagi menjadi sebuah kaos oblong berwarna abu-abu dengan dilapisi blazer hitam, celana jins yang sengaja dibuat bolong-bolong, juga sepatu boots putih. Pakaian yang akan ia pakai saat pentas nanti ada di lengan kanannya.

"Bagaimana, Sasuke? Ukurannya sudah pas kan?" tanya pria yang memiliki rambut hitam panjang dan berparas manis seperti seorang gadis.

Sasuke mengangguk dan menyodorkan pakaian tadi pada Iruka yang berdiri tak jauh darinya. Ia yakin sekali besok saat menari ia akan tampak keren dengan kostum merah-hitam tersebut.

Tirai di sebelah bilik yang tadi Sasuke pakai juga tersibak satu persatu hingga semua anggota SHINee sudah memakai pakaian mereka yang biasa mereka pakai ketika tidak pentas. Keempatnya lantas dihampiri oleh Haku dan mereka menyerahkan kostum mereka pada Iruka.

"Hari ini kau jadi ke sana?" tanya Sasori yang sudah duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu.

Sasuke menaikkan seleting boots-nya sebelum menjawab pertanyaan Sasori. "Ne. Aku akan pergi setelah ini."

Tak lama setelah itu Iruka datang dengan menenteng beberapa tas kertas yang berisi kostum-kostum SHINee. Setelah itu Iruka bersama SHINee kembali ke apartemen kelima cowok tampan tersebut, ah! Kecuali Sasuke yang meminjam Volvo Sai dan pergi entah ke mana.

.

.

.

Yamato sedang bekerja di ruang kerjanya sambil ditemani musik klasik yang mengalun dari sebuah piringan hitam di sudut ruangan. Hari ini kesehatannya memang tidak cukup baik sehingga ia bekerja di rumah, bukan di kantor perdana menteri seperti biasanya.

Pintu ruangan itu terketuk dan terbuka setelah Yamato menggumamkan seruan masuk. Wanita berparas cantik meski usianya sudah tidak muda lagi sedang berjalan ke mejanya dengan sebuah nampan di kedua tangan, tampak sebuah teko dan cangkir.

"Jangan memaksakan diri. Kau juga butuh istirahat," kata Reina setelah meletakkan nampan yang ia pegang tadi di atas meja yang tidak jauh dari meja kerja Yamato.

"Tugasku sebagai perdana menteri memang seharusnya begini. Rakyat adalah nomor satu," sahut Yamato tetap bergeming dengan pekerjaannya.

Reina menghela napas dan menghampiri suaminya. "Tapi rakyat juga pasti sedih jika tahu perdana menteri yang sangat peduli dengan mereka sampai sakit parah. Istirahatlah sebentar," bujuknya dengan senyum lembut.

Yamato mendesah dan menyenderkan punggung pada sandaran kursi. "Kau benar."

"Tentu saja aku benar. Perdana menteri juga manusia biasa kan?" Reina tertawa kecil lalu mengamit lengan Yamato dan menggiringnya ke sofa yang ada di tengah ruangan.

"Teh ini bisa merilekskan pikiranmu," kata Reina yang menyodorkan cangkir teh mengepul pada suaminya. Yamato tersenyum menerima cangkir itu.

Reina berdiri dari duduknya dan berjalan menuju jendela. Ia menyibak gordennya lebih lebar dan menghirup udara segar dari taman yang ada di halaman depan rumahnya. Saat itu matanya menangkap segerombolan orang di dekat pintu gerbang. Ada apa di sana?

Suara pintu yang diketuk kembali terdengar dan kali ini yang muncul adalah salah seorang pelayan di kediaman megah tersebut.

"Tuan, ada seseorang yang mencari tuan. Ia sangat keras kepala sekali ingin bertemu dengan tuan."

"Siapa?" tanya Yamato.

"Namanya Uchiha Sasuke."

Mata Reina melebar dan tanpa berpikir panjang ia menjawab, "Biarkan dia masuk."

.

.

.

Di sanalah sekarang Sasuke duduk, menunggu perdana menteri datang. Suatu hal yang tidak biasa karena orang yang tidak memiliki jabatan penting di Negara gingseng itu dapat menemui salah satu pejabat terpenting negaranya. Tidak heran saat di gerbang saja ia menghadapi berbagai macam halangan untuk masuk dan menemui Sang Perdana Menteri.

Dua sosok yang penuh karisma akhirnya muncul dan Sasuke hampir saja melompat berdiri jika saja ia tidak ingat kata-kata Sasori yang mengajarkan dia agar tetap tenang dan tidak ceroboh. Tepat saat keduanya berdiri tepat di depannya, Sasuke membungkukkan badan dengan hormat.

"Je ireum eun Uchiha Sasuke imnida."

"Mannasseo bangapsseumnida, Uchiha-ssi. Silakan duduk," sahut Yamato lalu Sasuke pun menurut.

"Ternyata kau lebih tampan aslinya dibanding saat di Tv." Ucapan Reina membuat Sasuke segera menoleh padanya dan Sasuke baru menyadari betapa miripnya wanita itu—dari fisik—dengan Sakura. Sasuke tahu sekarang dari mana asal kecantikan Sakura.

"Ne?"

Reina tertawa kecil. "Kau lebih tampan jika kulihat langsung seperti ini. Bagaimana kabarmu?"

Sasuke tidak tahu harus berkespresi apa karena keramahan dari wanita yang mirip dengan Sakura itu membuat Sasuke benar-benar speechless. Sasuke kira orang tua Sakura adalah orang yang dingin dan kaku seperti anaknya, tapi ini berbanding seratus delapan puluh derajat.

"Saya baik-baik saja," sahut Sasuke berusaha terdengar ramah dan riang meski hatinya sekarang sedang berdentum tidak karuan.

"Bagaimana kabar kedua orangtuamu? Apa Ayahmu masih mengajar sejarah? Ah! Kudengar kakakmu, Itachi, sekarang sedang sibuk dengan drama serial terbarunya ya? Aku jadi tidak sabar untuk menontonnya, akting kakakmu itu bagus sekali." Reina mengetukkan jari telunjuknya di dagu.

Kenapa wanita ini bisa mengetahui tentang keluarganya? Ah… Sasuke lupa kalau wanita itu adalah orang penting juga di negaranya. Informasi apapun dapat mudah diketahuinya.

"Yeobo, kau membuat Uchiha-ssi bingung," tegur Yamato yang geli melihat sikap istrinya yang terlalu antusias dengan Sasuke.

Reina tertawa kecil dan menatap Sasuke dengan lembut. " Mianhae, Sasuke. Kau pasti ke sini karena ada hal yang berhubungan dengan Sakura, putri kesayanganku itu kan?"

Sasuke hendak menjawab namun pelayan yang datang dan meletakkan suguhan untuk Sasuke, Yamato dan Reina membuat Sasuke mengatupkan mulutnya lagi dan itu adalah kesempatan baginya memikirkan kata-kata yang tepat untuk disampaikan.

Yamato dan Reina mengambil cangkir berisi teh putih lalu memersilakan Sasuke untuk mencicipi suguhan mereka. Setelah menghirup teh putih yang sangat harum itu, Sasuke menunduk sebentar untuk berpikir lalu cowok ini menatap orang tua Sakura bergantian.

"Sebenarnya aku ke sini berniat melamar Sakura."

Yamato dan Reina melebarkan mata menatap Sasuke. Mereka tidak menyangka jika putrinya dilamar oleh dua orang pria.

"Jeongmalyo?" tanya Reina dengan wajah yang sangat sumringah.

Sasuke tersenyum dan mengangguk. "Ne, jeongmal. Saya benar-benar mencintainya. Saya tidak bisa hidup tanpanya. Saya tidak mengerti kenapa saya bisa sampai melakukan ini. Tapi, saya serius ingin menikahinya."

Reina menutup mulutnya yang sedikit terbuka dengan telapak tangannya. Wanita ini menoleh pada Yamato yang daritadi duduk diam memerhatikan Sasuke.

Yamato tersenyum menatap Sasuke yang juga menatapnya. "Geurae… aku tidak bisa memutuskan apapun karena jujur saja ada dua pria yang melamar putriku. Aku yakin kau juga tahu siapa pria lain itu."

"Kakashi hyung," gumam Sasuke.

"Oleh karena itu, aku membiarkan Sakura yang memilih sendiri siapa yang terbaik untuknya. Semua keputusan ada di tangan Sakura dan kami sebagai orang tua hanya bisa menyetujui yang terbaik untuknya," kata Yamato. Reina ikut menggangguk menyetujui ucapan suaminya.

"Geurae… baiklah saya tidak akan menyerah untuk mendapatkannya. Akan saya tunjukkan pada Sakura bahwa saya benar-benar mencintainya dengan pertunjukkan saya besok malam. Dan jika Sakura mau memberikan kesempatan pada saya, saya harap anda dapat menerima lamaran ini."

"Tentu."

.

.

.

To be continue…

Terjemahan:

Molla: tidak tahu

Andwe: tidak boleh, tidak bisa, jangan

Annyeong achim: selamat pagi

Jinjja: benar-benar, sungguh

Geurae: begitu

Yoboseyo: halo

Ajeonim: paman

Aboji: ayah

Jeongmalyo: serius, beneran?

YA!: hey!

Aigo: Aduh

Chukhae: selamat

Author's area: jwesonghamnida update-nya super duper lama banget. Banyak sekali kendala. Mohon maaf atas kesalahan dalam pengetikan dan yang lainnya. Episode yang ini udah dibikin super panjang sebagai permohonan maaf. Semoga readers mau maafin author. Maaf juga gak bisa balas review karena ini udah panjang banget. Terima kasih banyak atas review-nya dan terima kasih buat yang udah nunggu.

Apakah masih ada yang berkenan untuk review? Kamsahamnida... ^_^