Author Note: Sorry if I took so long to update guys! Ini bukan karena kemauanku, tetapi karena belakangan aku tidak focus menulis karena terganggu sesuatu… Enjoy the story and don't forget to review! XD

Kingdom Heart : Keyblade War

Chapter 10

Sebelum keyblade master itu menyerang Xion, Xion terlebih dahulu berlari kearahnya dan menyerangnya. Kuperhatikan bahwa Xion cukup kuat dan kurasa dia tidak memerlukan bantuanku untuk melawan keyblade master itu. Kekuatan Xion terlihat lebih unggul dibandingkan keyblade master itu dan entah mengapa aku merasa cara bertarungnya sangat mirip denganku, hanya saja dia lebih mengandalkan magic dibandingkan dengan menggunakan keyblade.

Beberapa menit kemudian, dia berhasil membuat keyblade master itu terdesak dan dia berhasil mengalahkannya. Kuperhatikan, setelah mengalahkan keyblade master itu, Xion terlihat berniat membunuh keyblade master itu dan sebelum dia berhasil melakukannya, aku segera menghentikannya karena tubuh ini reflex bergerak untuk mencoba menghentikan Xion.

"Hentikan!" kataku yang langsung memegang lengan Xion.

"K…kenapa?" kata Xion yang terlihat terkejut dan bingung saat kuhentikan.

Aku langsung bingung ketika Xion bertanya mengapa aku menghentikannya karena aku sendiri tidak memiliki alasan khusus. Keyblade master ini bukan orang yang kukenal dan dia juga bukanlah temanku.

'Apakah… aku mengkhawatirkan jika orang berjubah ini mati, maka itu akan membuat orang-orang yang mengenalnya bersedih akan kematiannya seperti ketika aku kehilangan orang tuaku?' pikirku dengan bingung.

"Mengapa kau menghalangiku Sora?" Tanya Xion sekali lagi. "Apakah kau berpihaknya padanya?" tanyanya dengan curiga.

"Aku… tidak berpihak padanya." Jawabku.

"Lalu, mengapa kau menghalangiku?" Tanya Xion dengan heran.

"…karena, membunuh itu salah." Jawabku sambil menatap matanya.

"tetapi, jika aku tidak membunuhnya, maka aku tidak akan bisa mendapatkan keybladenya untuk di jadikan milikku. Jika kau masih tetap menghalangiku, maka kau akan kuanggap sebagai musuhku juga." Kata Xion memperingatiku.

"Dan jika kau tetap ingin membunuhnya, maka aku akan tetap menghalangimu." Kataku sambil menatapnya dengan expresi yang sedikit marah.

Xion terlihat kesal saat mendengar jawabanku. "Kalau begitu, maka aku akan menganggapmu sebagai musuh dan keyblademu akan kuambill juga!"

Xion langsung menyerangku dan serangannya segera kutahan dengan keybladeku. Dia langsung melakukan serangan berikutnya dan kutahan sekali lagi. Xion terlihat cukup kesal karena aku dapat menahan serangannya beberapa kali. Dia lalu berhenti menyerangku dan menggunakan magic sebagai ganti serangan fisik.

Xion menembakkan magic missile sebanyak mungkin kearahku dan kucoba untuk menghindari semuanya. Aku lalu berlari kedekatnya dan ingin menyerangnya, Xion menghindari seranganku dan mencoba menjauh dariku dengan cara berlari menjauh sambil menembakan magic missile kearahku. Jika kuperhatikan sejak dia bertarung dengan keyblade master tadi hingga pertarungannya denganku, dia lebih mengandalkan magic dibandingkan menggunakan keyblade sebagai serangan utamanya. Meski begitu, kurasa ini cukup menguntungkanku karena kurasa magic powernya akan habis sebentar lagi karena dia lebih banyak menggunakan magic secara terus menerus sebagai serangan utamanya…

Terkadang, aku menggunakan magic juga untuk meredam serangan magicnya agar tidak mengenaiku karena dia menembakkan begitu banyak magic kearahku dalam satu tembakan, sehingga itu cukup membuatku sedikit kesulitan untuk menghindari seluruh magicnya sekaligus.

Aku terkadang harus berlari ataupun melompat untuk menghindari serangan magic missilenya itu. Tampa terasa, selagi aku menghindari serangan magicnya, aku semakin mendekat dengannya karena reflex menghindar kearahnya dan ketika sudah terlanjur dekat dengan sendirinya dan tampa rencana, maka aku serang saja sekalian karena sudah berada di dekatnya.

Aku melompat kearah Xion dan menyerangnya dari udara. Xion mencoba menghindari seranganku dan mencoba menembakkan magic dalam jarak dekat, tetapi sebelum dia berhasil menembakkannya, aku langsung menyerangnya lagi dan seranganku berhasil melukainya sedikit.

Xion terlihat terkejut saat seranganku mengenainya, dia lalu berhenti menggunakan magic dan menggunakan keyblade untuk menyerangku. Serangannya dapat kuhindari ataupun kutangkis. Xion tiba-tiba menembakkan magic thunder padaku dan disusul oleh serangannya…

"Woah!" teriakku terkejut dan tubuh ini reflex menghindari magic thunder itu, tetapi aku tidak memiliki persiapan untuk menghindari serangan dari Xion.

Lalu Xion tidak ingin melepaskan kesempatan ini, dimana pertahanku sedang turun. Dia lalu menyerangku sekuat tenaga dan kutangkis dengan susah payah. Tiba-tiba keybladeku terlempar akibat serangannya…

"Terima ini!" teriaknya hendak membunuhku ketika aku sedang tidak memegang keyblade.

'Ugh!' pikirku dalam keadaan terdesak.

Tampa terasa, aku reflex memanggil keybladeku yang lain, Ultima Weapon dan menahan serangannya dengan Ultima Weapon. Keybladeku yang tadi terlempar, kini kembali ketanganku setelah aku memanggil keyblade itu untuk kembali ketanganku.

'Wew, hampir saja…' pikirku dengan perasaan lega karena aku berhasil menahan serangan Xion.

"Du…dua?" kata Xion dengan wajah terkejut melihat aku memegang dua keyblade sekaligus. "Bagaimana kau dapat memegang dua keyblade sekaligus?" tanyanya yang terheran-heran.

"Heh, kalau itu, aku juga tidak tau!" kataku yang langsung menyerangnya ketika dia lengah.

Xion berhasil menghindari seranganku meski tadi dia dalam keadaan lengah, tetapi tidak semua seranganku berhasil dia hindari karena gerakanku lebih cepat dari sebelumnya ketika aku sedang memegang dua keyblade. Aku berniat menyelesaikan pertarungan ini secepatnya dalam satu serangan, aku menyerang Xion dengan tenaga penuh dan ketika dia mencoba menangkisnya, keybladenya terlempar ketika dia menangkis seranganku. Keybladeku yang satu lagi langsung kuarahkan kewajahnya dan dia terkejut ketika melihat keybladeku tepat didepan wajahnya.

"M… mengapa kau tidak langsung membunuhku?" Tanya Xion dengan heran.

"Karena, membunuh itu salah…" kataku mengulangi ucapanku yang sebelumnya. "… Jika kau membunuh seseorang, maka orang-orang yang mengenal orang yang kau bunuh akan bersedih dan merasa sangat kehilangan…" kataku sambil menatapnya. "Misalnya saja jika kau membunuhku, maka orang-orang yang mengenalku seperti, Riku, Roxas, dan Axel akan bersedih saat mengetahui kematianku. Begitu juga denganmu, Xion, aku akan merasa sedih jika kau mati…" kataku memberitaukannya.

"Mengapa kau akan bersedih jika aku mati? Padahal, kau baru saja mengenalku dan aku juga hendak membunuhmu tadi…" tanyanya dengan heran.

"Meskipun aku baru saja mengenalmu dan kamu juga hendak membunuhku tadi, tapi yang namanya nyawa, sekali hilang tidak akan dapat diganti dengan apapun…" kataku menjelaskannya dengan wajah sedih. "…Meskipun ada penggantinya, nyawa yang telah hilang itu tidak akan sama dengan penggantinya itu."

"…" Xion langsung terdiam sejenak setelah mendengar penjelasanku.

Akupun ikut terdiam selama beberapa menit, tetapi tiba-tiba aku merasakan aura membunuh yang tertuju padaku, namun aura membunuh tu bukan berasal dari Xion.

"Awas!" Teriak Xion sambil mendorongku.

Orang berjubah yang tadi Xion kalahkan hendak menyerangku dan serangannya meleset karena Xion tadi mendorongku. Orang berjubah itu lalu menyerang Xion dan Xion segera menahan serangannya. Orang berjubah itu terlihat ingin segera mengalahkannya ketika kondisi Xion sedang lelah setelah bertarung denganku. Xion terlihat cukup terdesak oleh serangan orang berjubah itu karena lelah.

Aku lalu menembakkan magic blizzard kearah orang berjubah itu untuk menolong Xion. Magic blizzard kutembakkankearah kaki orang berjubah itu dan lantai sekitar kakinya berpijak, aku sengaja menembak kearah lantai dimana kakinya berpijak untuk membekukan kakinya di lantai itu. Gerakannyapun jadi terhenti akibat dari magicku dan perlahan, magic blizzard menjalar perlahan-lahan kelututnya hingga mendekati badannya. Magic blizzardku kuhentikan ketika sudah merambat sampai kedadanya…

"Masih ada cara lain untuk mengambil keybladenya tampa harus membunuhnya, Xion…" kataku sambil mendekati orang berjubah itu.

"Bagaimana?" Tanya Xion bingung.

Aku mengarahkan tanganku kearah orang berjubahitu dan mencoba memanggil keyblade orang berjubah itu. Keyblade orang berjubah itu menjawab panggilanku dan berpindah ketanganku. Orang berjubah itu dan Xion terlihat terkejut melihat keyblade itu berada ditanganku.

"Ba..bagaimana ini bisa terjadi?" kata orang berjubah itu dengan wajah yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat sendiri.

"…it because, your hearts are weak…" kataku menjelaskan. "…only a few people with strong heart can be the master of the keyblade it self." Kataku memberitaukannya.

"What!" kata orang berjubah itu dengan wajah kesal. "apa maksudmu! Jangan bercanda! Keyblade itu milikku dan I am the master of that keyblade!(A/n: maaf rada gado-gado bahasanya, karena terkadang saya bingung bagaimana mengartikannya secara tepat dalam bahasa indo…)" katanya dengan marah dan mencoba memanggil keybladenya agar kembali padanya, tetapi keyblade itu menolak panggilannya dan masih berada di tanganku. "Me…mengapa?" katanya dengan bingung melihat keyblade itu tidak mau kembali padanya.

"..Just like I said before, your hearts are weak… (A/n: maaf guys! Tapi aku sangat suka kata-kata ini n tidak mau kuubah jadi ! Please forgive me, guys! XD)" kataku mengulangi ucapanku lagi.

"Ta… tapi bagaimana kau dapat memiliki keyblade itu, Sora? Setiap keyblade mempunyai master-nya masing-masing dan tidak semudah itu keyblade itu berpindah tangan jika kau bukanlah master dari keyblade itu. Biasanya keyblade baru akan mau berpindah tangan jika pemiliknya mati…" kata Xion dengan bingung.

"Keyblade dapat merasakan hati setiap orang, hati yang lemah maupun kuat. Keyblade dapat memilih orang lain sebagai pemiliknya meskipun dia sudah memiliki pemilik. Keyblade itu akan lebih memilih hati yang kuat dibandingkan dengan hati lemah." Kataku menjelaskan. "Ambillah…" kataku sambil melempar keyblade yang baru saja berpindah dari orang berjubah kepadaku kearah Xion.

Xion terlihat bingung ketika dia menangkap keyblade yang kulemparkan kearahnya.

"Biarkan dia tetap hidup, Xion…" kataku dengan tersenyum. "…kau telah mendapatkan apa yang kau inginkan, jadi kau sudah tidak memiliki alasan untuk membunuhnya. Jadi, biarkan dia pergi…"

"…" Xion terdiam sejenak sambil menatap keyblade yang kuberikan padanya, lalu dia mengangguk.

"Dan kau…" kataku sambil menatap orang berjubah itu. "…sayangilah nyawamu sebaik-baik mungkin, hidup ini lebih singkat dari yang kau pikirkan…" kataku memberitaukannya.

"…" orang berjubah itu hanya terdiam sambil menatapku.

"Xion, bisakah kau menggunakan dark realm?" tanyaku.

"Ya…" kata Xion sambil mengangguk. "…aku akan membukakannya untukmu di tempat di mana teman-temanmu berada tadi…" katanya. Lalu dia membukakan sebuah dark realm untukku.

"Terima kasih, Xion." Kataku tersenyum padanya. Lalu aku berjalan mendekati dark realm itu dan sebelum memasuki dark realm itu, aku berhenti sejenak. "kau tidak ikut Xion?" tanyaku.

"Tidak…" katanya sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. "…Ada tempat lain yang harus kukunjungi." Katanya menjelaskan.

"Begitu ya…" kataku menatapnya dengan wajah sedih. "… semoga kita akan bertemu lagi, Xion." Kataku sambil tersenyum.

"Ya." katanya sambil tersenyum juga.

Lalu aku memasuki dark realm…

Setelah Sora memasuki dark realm, dark realm itu menghilang dan Xion terus menatapi kearah dark realm yang telah menghilang selama beberapa menit.

"Jika kita bertemu lagi Sora, kurasa, kita akan bertemu sebagai musuh, bukan sebagai teman lagi…" kata Xion tampa expresi.

Xion lalu medekati orang berjubah itu dan membunuhnya…

~Back to Sora~

Ketika aku melewati dark realm itu, aku kembali ketempat di mana sesaat sebelum aku dan Xion masuk ke dark realm dan berpisah dengan Roxas, Riku dan Axel. Mereka bertiga tidak terlihat berada di tempat ini lagi, kurasa mereka pergi ketempat lain karena mencariku dan Xion. Aku lalu mencoba ketempat lain untuk mencari mereka…

'Kemana mereka bertiga pergi…' pikirku sambil mencari mereka bertiga.

Tiba-tiba ada sebuah peluru melesat dengan cepat melintasi diriku dan nyaris mengenaiku. Aku langsung menatap kearah dimana peluru yang melesat itu berasal. Aku melihat seorang pria berambut silver panjang yang kukenal, dia bukanlah Riku, melainkan…

"Yazoo!" teriakku ketika melihatnya.

Terlihat Roxas, Riku dan Axel sedang melawannya, Yazoo terlihat cukup terdesak karena satu(Yazoo) melawan tiga(Roxas, Riku dan Axel). Tetapi entah mengapa, Yazoo terlihat tidak mengalami kesulitan meski dia melewan tiga orang sekaligus. Wajahnya terlihat tenang melawan mereka bertiga.

Dia memakai strategi menyerang jarak jauh sekaligus jarak dekat untuk melawan tiga orang sekaligus. Beberapa kali dia menembakkan gunbladenya dalam jarak dekat dan juga menggunakan gunbladenya untuk menyerang jarak dekat. Dia mengkombinasikan kedua serangannya sehingga dia dapat melawan ketiganya. Dia dapat mengatasi serangan dari Riku maupun Roxas yang selalu menyerang dengan jarak yang dekat maupun serangan Axel yang terkadang menyerang dengan jarak dekat dan terkadang dengan jauh juga dengan cara melemparkan cakramnya.

Aku lalu berlari kearah Yazoo dan hendak menyerangnya. Aku mengarahkan keybladeku kepadanya yang berjarak masih sekitar beberapa meter dariku, aku sedang memfocuskan perhatianku pada gerakannya karena aku hendak menembakkan magic blizzard padanya.

"Blizzard!" teriakku sambil menembakkan magic blizzard pada Yazoo.

Yazoo menyadari magicku hendak mengenainya beberapa saat setelah aku menembakkannya, dia segera menghindarinya dan parahnya, magicku sekarang tertuju pada Roxas…

"Wah!" Teriak Roxas terkejut ketika magicku mengenainya sedikit.

"Ah! Maaf Roxas!" kataku dengan terkejut ketika melihat magicku mengenainya.

"Sora!" Kata Roxas dan Riku terlihat senang dan terkejut juga kerena melihatku.

"Kau baik-baik saja Sora?" Tanya Riku yang langsung berlari mendekatiku dengan wajah cemas.

"Ya…" kataku sambil mengangguk pelan.

Yazoo tiba-tiba menembak kearahku dan aku langsung menghindarinya dengan cara melompat. Aku lalu menembakkan magic thunder padanya dan magic itu hampir mengenainya. Axel lalu mencoba menyerangnya dari arah belakang ketika dia menghindari magic thunderku, Riku dan Roxas terlihat mencoba menyerangnya dari arah depan.

Tampa ragu-ragu, akupun ikut menyerangnya. Aku berlari kearah Yazoo dan melompat kearahnya dan mencoba menyerangnya dari atas.

Serangan pertama dari Axel berhasil dia hindari dengan mudah, serangan kedua dari Riku dan Roxas berhasil dia hindari dengan cara menahan kedua serangan mereka bersamaan dengan kedua gunbladenya dan dia langsung menembak kearah Riku dan Roxas secara bersamaan, Riku dan Roxas langsung menahan tembakkannya dengan keyblade mereka.

Serangan terakhir dariku, aku menembakkan fire ball sebanyak tiga buah kepadanya dan seranganku menyusul setelah aku menembakkan magic. Ketiga magicku dihindarinya, tetapi, seranganku tidak boleh dihindari olehnya! Sayangnya, dia berhasil menghindarinya dan dia berniat menyerangku ketika kewaspadaanku sedikit menurun melihat seranganku gagal mengenainya…

"Arg!" teriakku kesakitan karena terkena serangannya.

Serangannya hanya memberi luka yang tidak terlalu serius. Memang lukaku terlihat cukup dalam, tetapi tidak mengenai bagian yang vital, sehingga lukaku tidak terlalu berbahaya.

Tiba-tiba Yazoo mengarahkan gunbladenya padaku sekali lagi dan hendak menembak…

'Ugh!' pikirku dengan terkejut dan langsung menghindari tembakkannya dengan reflex.

Ketika Riku, Roxas, dan Axel hendak menyerangnya lagi, Yazoo tiba-tiba berlari menjauh dari kami sambil menembakki kami satu per satu supaya tidak mengejarnya.

"Damn, kurasa dia sudah tidak berada di sini lagi! Aku tidak punya banyak waktu untuk mengurus kalian semua!" kata Yazoo sambil menjauh dari kami. Dark realm muncul di depannya dan dia hendak memasukinya…

"Tunggu!" kataku sambil berlari mengejarnya dan menghindari seluruh tembakkannya, tetapi dia sudah menghilang ketika memasuki dark realm itu. Lalu aku menatap kepada Riku, Roxas dan Axel. "apa yang telah terjadi?" tanyaku pada mereka sambil menggunakan magic healing untuk menyembuhkan lukaku.

Wajah mereka bertiga terlihat bingung dan cemas, itu membuatku ikut-ikutan cemas melihat expresi mereka.

"Guys?" tanyaku dengan wajah cemas.

Roxas lalu menatap Axel. "Uh, apakah tadi aku tidak salah lihat, Axel?" Tanya padanya.

"Tidak, kau tidak salah lihat…" jawab Axel.

"Kenapa?" tanyaku bingung.

"Xemnes…" Jawab Riku.

"Xemnes!" kataku dengan terkejut.

Mereka bertiga mengganguk ketika aku mengulangi kata-kata Riku.

"Tadi, setelah kau dan Xion menghilang ketika memasuki dark realm, kami bertiga bertemu dengannya sesaat setelah kalian berdua menghilang. Dia…" Kata Roxas menjelaskan, tetapi tiba-tiba berhenti.

"…Terlihat berbeda…" kata Riku meneruskan. "…rambutnya berwarna cokelat, bukan silver dan dia memegang sebuah keyblade."

"Keyblade!" kataku dengan terkejut.

Ketiganya menggangguk saat aku mengatakannya.

"Dia sempat menyerang kami sebentar, setelah itu dia tiba-tiba melarikan diri ketika orang yang berambut silver(Yazoo) tadi datang dan langsung menyerang kami bertiga. Kurasa dia(Yazoo) sedang mengejar Xemnes." Kata Axel memberitaukanku.

"Begitu ya…" kataku sambil menatap mereka bertiga.

"Sora, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanya Roxas.

"Huh? Um…" aku lalu mencoba memikirkan apa yang hendak kulakukan selanjutnya. 'Kurasa informasi yang kita butuhkan sudah di beritau oleh Xion, menetap di dunia ini lebih lama juga tidak akan menambah informasi apapun karena akan sulit mendapatkan informasi dari para keyblade master tadi yang menyerangku dan juga Xion…' pikirku selama berpuluh-puluh menit.

"Sora?" Tanya Riku yang wajahnya terlihat sangat dekat denganku.

"Ah!" kataku terkejut dan reflex melompat mundur darinya. "ah, maaf Riku, kau mengagetkanku…" Kataku meminta maaf padanya sambil menjelaskan alasanku. "Kurasa kita akan meninggalkan dunia ini dan menuju kedunia berikutnya." Kataku memutuskannya setelah berpikir cukup lama.

~Back to Gummy Ship~

Kami kembali ketempat di mana Gummy ship berada, aku mencoba memeriksa keadaan gummy ship, apakah masih layak terbang setelah menabrak meteor besar ataukah tidak. Jika tidak, aku mencoba memperbaiki gummy ship itu dengan peralatan seadanya.

"Hm, kurasa kita harus pergi ke dunia terdekat dari dunia ini untuk memperbaiki gummy ship, kerusakannya cukup parah dan aku hanya dapat memperbaiki kerusakan yang ringan saja…" kataku sambil menghela napas setelah mengecek keadaan gummy ship ini.

"Sora…" Tiba-tiba Roxas memegang bahuku. "…Siapa yang akan mengemudikannya?" tanyanya.

"Hm?" kataku dengan heran. "Tentu saja aku." Jawabku dengan polos.

"Maaf Sora…" Kata Roxas meminta maaf secara mendadak dan membuatku kebingungan.

Tiba-tiba, tubuhku diikat oleh Axel dengan sebuah tali tambang…

"Apa-apaan ini!" kataku terkejut melihat tubuhku diikat dan akupun meronta-ronta.

"Maaf Sora, tapi biarkan aku saja yang mengemudikan gummy shipnya, aku tidak ingin terjadi tabrakan lagi seperti waktu itu…" kata Roxas sambil membantu Axel mengikatku dengan kencang.

"Ah! Riku, tolong aku!" kataku meminta tolong padanya.

Riku hanya terdiam sambil member i tatapan maaf padaku karena dia setuju dengan Roxas…

"Ugh…" kataku tidak berkutik sama sekali. "Kalian jahat!" teriakku kesal.

~Traverse Town~

Traverse Town, kota ini adalah dunia yang paling dekat dengan dunia sebelumnya. Roxas mengemudikan gummy ship ini dengan perlahan-lahan dan berhati-hati agar tidak menabrak meteor ataupun terserang heartless. Setelah sampai di Traverse Town, kami semua turun dari gummy ship…

Aku turun dari gummy ship ini dengan wajah marah dan kesal dengan bekas ikatan di tangan yang masih terlihat dengan jelas. Aku lalu diam seribu bahasa pada mereka bertiga sebagai hukuman karena membuatku marah dan kesal. Axel maupun Roxas meminta maaf berkali-kali padaku dan berusaha mengajakku bicara, tetapi aku memutuskan untuk terus diam. Setelah berpuluh-puluh menit berlalu, Axel mulai lelah meminta maaf dan berhenti meminta maaf padaku karena dia menyerah, sedangkan Roxas masih terus mencoba meminta maaf padaku. Akupun akhirnya memaafkan mereka semua karena aku tidak enak pada Roxas yang terus menerus meminta maaf padaku. Aku jadi merasa kasian padanya…

"Aku akan memaafkan kalian, asalkan kalian mau mengizinkanku mengemudikan gummy ship lagi…" kataku memberi syarat sebelum memaafkan mereka.

"Ya…" jawab Roxas. "…tetapi, asalkan kau tidak mengemudikannya secara gila-gilaan seperti waktu itu, Sora." Kata Roxas setuju, tetapi dengan syarat juga.

"Kay~" kataku sambil tersenyum menyetujui syarat mereka dan mereka juga menyetujui syaratku. "Tapi aku usahakan ya!"

Mereka bertiga langsung menatapku dengan cemas setelah aku mengatakannya. Sebenarnya aku ingin bertanya mengapa wajah mereka terlihat cemas, tetapi aku membatalkan niatku bertanya setelah perutku berbunyi karena lapar…

"Uh, kita cari makan dulu ya?" tanyaku dengan muka memerah.

Mereka bertiga lalu mengangguk dan kamipun berjalan ke sebuah restoran terdekat. Ketika memasuki restoran itu, aku melihat tiga sosok orang yang kukenal berada di salah satu meja di restoran ini, tadinya aku ingin bertanya pada Riku atau Roxas, aku ingin bertanya apakah kita mengenal tiga sosok orang itu, tetapi ketika aku hendak bertanya, ada sesuatu yang membatalkan niatku untuk bertanya, yaitu jeritan.

Aku lalu menatap keluar, tetapi tidak terjadi hal aneh maupun sesuatu yang mencurigakan di luar…

"Mengapa tadi ada yang menjerit?" tanyaku dengan heran.

"Karena itu…" Kata Riku sambil menunjuk kearah yang dia maksud.

Terlihat dua orang sedang berkelahi, perkelahian kedua orang itu menimbulkan kekhawatiran orang-orang yang berada di sekitar tempat perkelahian itu dan juga membuat mereka panic. Beberapa orang terlihat berusaha menghentikan perkelahian mereka, tetapi sia-sia. Orang yang berusaha menghentikan mereka malah terluka akibat dari serangan mereka.

"Ini tidak boleh dibiarkan!" kataku dengan marah dan berjalan mendekati orang yang berkelahi itu.

"Sora…" kata Roxas yang tiba-tiba menahanku agar tidak berjalan mendekati orang yang berkelahi itu.

"Kenapa?" tanyak dengan heran.

Roxas lalu menghela napas pelan. "Lihat baik-baik…" katanya.

Lalu aku memperhatikan kedua orang yang berkelahi itu, mereka berdua terkadang saling menembak magic dan memegang senjata yang tidak asing bagiku, senjata mereka adalah keyblade…

"K… Keyblade?" kataku terkejut ketika aku menyadarinya. "Ugh, apakah saat ini ada banyak sekali keyblade master sehingga mereka mudah ditemui?" Tanyaku dengan terheran-heran.

"Aku kurang begitu tau…" Jawab Roxas. "Tetapi, ada baiknya kita membiarkan mereka bertarung, karena aku yakin mereka bertarung untuk memperebutkan keyblade dari lawan mereka…" katanya menjelaskan.

"Tapi…" kataku masih ingin menghentikan pertarungan kedua keyblade master itu.

"Now…" kata Axel tiba-tiba menyela pembicaraanku dengan Roxas. "…daripada kalian memusingkan kedua keyblade master itu, lebih baik kita mengisi perut~" katanya sambil menimpa kepalaku dengan kedua lengannya. "Aku sudah meminta Riku untuk memesan makanan dahulu agar begitu kita masuk, kita bisa langsung makan." Katanya yang langsung menyeretku dan Roxas setelah selesai mengatakannya.

"T...Tapi!" aku ingin protes kepadanya tetapi Axel menyelaku lagi.

"Sora, seperti yang tadi Roxas katakan, 'ada baiknya kita membiarkan mereka bertarung'. Jadi lebih baik kau memikirkan perutmu yang bernyanyi terus daripada memikirkan mereka." Kata Axel menggodaiku dengan senyum sinis.

Setelah Axel mengatakannya, perutku lalu bernyanyi seperti yang Axel katakan. Mukaku langsung memerah mendengarnya dan akupun membatalkan niatku untuk terus protes. Akupun membiarkan Axel membawaku dan Roxas menuju restoran tadi.

Ketika kami masuk, aku melihat ketiga orang yang terasa tidak asing lagi tadi ketika pertama kali memasuki restoran sedang berbicara dengan Riku. Riku terlihat sangat santai berbicara dengan mereka…

Kami bertiga berjalan mendekati Riku dan ketiga orang yang terasa tidak asing itu. Begitu kami dekat dengan mereka, aku lalu mengenali ketiga orang yang terasa tidak asing itu.

"Donald! Goofy! Your Majesty!" kataku dengan wajah gembira ketika melihat mereka.

"Sora!" kata Donald dan Goofy bersamaan ketika melihatku, mereka berdua terlihat sama senangnya seperti diriku.

Donald dan Goofy langsung berlari kearahku dan memelukku, aku juga membalas pelukan mereka berdua…

"I miss you guys…" kataku sambil memeluk mereka.

"Uhyuk! Kami juga!" jawab Goofy dengan ciri khasnya.

"Kami sangat merindukanmu Sora, kami sempat berpikir bahwa kau tidak dapat melakukan apa-apa tampa kami berdua." Kata Donald dengan suara seraknya.

Aku lalu tertawa pelan mendengar kata-kata Donald. "Aku tidaklah selemah itu Donald…" kataku membantah perkataannya.

"Sora…" King Mickey memanggilku, lalu aku melepas pelukan Donal d dan Goofy. "Terima kasih karena kau memutuskan untuk menerima tugas baru ini…" katanya dengan aura kewibawaannya.

"Ya…" Kataku dengan tersenyum. "… lagipula aku menerima tugas ini karena aku juga ingin bertemu dengan teman-temanku di setiap dunia yang berbeda." Kataku menjelaskan dengan senyum sambil menatap Donald dan Goofy. "Ngomong-ngomong Your Majesty, apakah anda mengetahui mengapa saat ini banyak keyblade master? Padalah dulu, sebelum kami mengalahkan Xemnes, kami tidak pernah bertemu dengan keyblade master selain aku, Riku, Roxas, dan…" aku tiba-tiba teringat akan keyblade master yang pernah kutemui di sebuah portal yang berada di Disney Castle. "…Dia."

"Dia?" Tanya Riku dan Roxas dengan heran.

"Untuk masalah keyblade master yang saat ini banyak bermunculan, saya masih belum mendapatkan informasi yang jelas. Hampir seluruh keyblade master yang pada bermunculan itu sepertinya mempunyai niat untuk menjadi yang terkuat dengan merebut keyblade pada keyblade master lain. Mereka membunuh dan membunuh demi ambisi mereka dan dengan perlahan, kegelapan mulai memakan hati mereka karena ambisi mereka yang begitu kuat…" kata King Mickey menjelaskan sambil menatap kami semua. "…semakin banyak keyblade master yang mereka bunuh, maka semakin kuat juga kegelapan di hati mereka. Keyblade yang dapat merasakan kegelapan dihati mereka, dengan perlahan keyblade itu akan menyerap kegelapan itu dan berubah menjadi keyblade jenis kegelapan jika jenis keyblade itu netral. Keyblade yang berjenis cahaya milik mereka tidak akan dapat digunakan ketika kegelapan sudah mengusai hati mereka…" katanya menjelaskandengan wajah cemas. "…yang paling saya khawatirkan jika sampai itu terjadi adalah, ketika mereka tidak dapat mengontrol kegelapan mereka dengan baik."

'Apakah… setiap keyblade master yang pernah kami temui itu juga mengincar keyblade kami?' pikirku dengan cemas.

"Sora, siapa yang kau maksud dengan 'dia' yang tadi kau sebut?" Tanya Riku.

"Dia…" aku teringat lagi pada keyblade master itu ketika Riku menanyakannya lagi. "… aku tidak tau siapa dia, tetapi ketika aku menemuinya, dia berkata padaku, 'Mengapa keyblade itu memilihmu? Padahal bukan kau yang kupilih'. Lalu aku bertanya padanya tampa menjawab pertanyaannya, aku bertanya padanya apakah dia Xemnes, tetapi dia hanya mengulangi ucapanku tampa menjawabnya. dia lalu menyerangku dan kamipun bertarung…" kataku menjelaskan.

"Sora, seperti apakah ciri-ciri keyblade master itu?" Tanya King Mickey.

"Uh, aku tidak tau. Dia mengenakan armor lengkat dari atas hingga kebawah, makanya aku tidak dapat melihat wajahnya…" kataku menjelaskan. "…dia sangatlah kuat dan aku nyaris dikalahkan olehnya jika waktu itu Donald dan Goofy tidak membantuku…" kataku sambil menatap Donald dan Goofy. "… setelah mengalahkannya…" kataku ingin melanjutkan penjelasanku, tetapi terhenti karena tiba-tiba dinding dekat pintu masuk restoran ini hancur.

Semua yang berada di restoran ini langsung panic dan berteriak histeris karena kaget dan ketakutan. Terlihat beberapa orang terluka akibat terkena reruntuhan dinding itu, ada juga yang masih tertimpa oleh reruntuhan itu.

Aku segera berlari mendekati reruntuhan yang menimpa orang dan berusaha menyingkirkan reruntuhan yang sedang menimpa orang itu. Kucoba menganggak reruntuhan itu…

"Ugh!" keluhku saat mencoba memindahkan reruntuhan yang berat itu.

Tiba-tiba aku merasa reruntuh yang coba kupindahkan itu menjadi terasa ringan, lalu aku menyadari bahwa Riku sedang membantuku memindahkan reruntuhan yang berat itu bersama-sama. Tiba-tiba ada magic blizzard melintas di atas kepalaku dengan mengenai ujung rambutku yang spike ini, kulihat magic blizzard itu ditembakkan oleh keyblade master yang bertarung tadi…

'Damn, seharusnya tadi memang tidak boleh dibiarkan!' pikirku dengan marah atas perbuatan mereka.

Setelah selesai memindahkan reruntuhan itu dan menyelamatkan orang yang tertimpa reruntuhan itu, aku langsung menggunakan magic healing pada orang yang tertimpa reruntuhan itu untuk memulihkan semua luka-lukanya.

King Mickey maupun Donald membantuku meng-healing pada orang-orang yang terluka itu…

Ketika semuanya selesai di healing, aku menyadari bahwa Riku sudah tidak berada di sampingku. Kulihat dia, Roxas, Axel, dan Goofy berupaya menghentikan pertarungan kedua keyblade master itu. Pertarungan ketiganya sudah hampir selesai, salah satu dari keyblade master itu knock out akibat terluka parah, sedangkan yang satu lagi sedang ditahan oleh Riku dengan cara memegangi kedua tangannya agar dia tidak dapat menyerang mereka lagi.

King Mickey lalu mendekati mereka semua, aku dan Donald menyusul mengikutinya dari belakang…

"Lepaskan aku!" teriak keyblade master itu sambil meronta-ronta ingin lepas dari genggaman Riku.

Kuliha t Kng Mickey menghela napas dengan pelan. "Salah satu pemegang keyblade jenis kegelapan lagi…" katanya sambil menatap keyblade milik keyblade master itu.

"Lepaskan!" teriak keyblade master itu sekali lagi, dia berusaha meronta-ronta sekali lagi dan Riku memperkuat genggamannya.

"Hey Sora, kurasa orang ini perlu bantuan…" kata Axel sambil memapah keyblade master yang knock out akibat terluka parah.

"Letakan dia di tanah, Axel…" kataku dengan nada yang sedikit memerintah.

Axel meletakkannya di tanah sesuai perintahku dan aku segera menggunakanmagic healing untuk menyembuhkan luka-lukanya yang parah. Selama aku focus meng-healing keyblade master ini, aku mendengar King Mickey mencoba berbicara dengan keyblade master yang satu lagi.

"Siapakah yang memberikanmu keyblade itu?" Tanya King Mickey dengan halus.

'Memberi?' pikirku dengan terkejutmendengar pertanyaan King Mickey. 'Jadi, ada juga keyblade master yang di beri sebuah keyblade, bukan karena dia terpilih?' pikirku dengan bingung.

"Itu bukan urusanmu." Jawab keyblade master itu dengan ketus.

"Saya tau bahwa keyblade itu bukan milikmu karena kau terlihat tidak dapat mengendalikan keyblade itu dengan baik. Keyblade itu terlihat menolakmu sebagai masternya…" Kata King Mickey memberitaukannya.

"Aku adalah master dari keyblade ini! Dan aku dapat mengontrol keyblade ini dengan baik! Jangan sok tau kau!" kata keyblade master itu dengan amarah. "Keyblade ini adalah milikku karena keyblade ini diserahkan padaku!" teriaknya.

King Mickey terlihat menghela napas yang dalam. "Keyblade itu bukanlah milikmu dan kau sudah lepas kendali karena keyblade itu sudah memakan banyak sekali kegelapan di berada hatimu. Kurasa saya tidak memiliki pilihan lain selain harus menghancurkan keyblademu…" katanya memberitaukannya.

"Aku tidak akan membiarkannya!" teriaknya.

Genggaman Riku yang kuat berhasil dia lepas hanya dengan sekali ronta dan dia hendak menyerang King Mickey, dia hendak membunuhnya…

"Your Majesty!" teriakku, Donald dan Goofy bersamaan.

"King Mickey!" teriak Riku ketika melihat keyblade master itu hendak menyerangnya.

Goofy segera menggunakan tamengnya untuk melindungi King Mickey, King Mickey lalu menyerang keyblade master itu setelah Goofy melindunginya. Donald lalu menembakkan magic kepada keyblade master itu, sedangkan Riku dan Roxas bersama-sama hendak menyerang keyblade master itu, Axel juga membantu mereka sementara aku masih focus meng-healing keyblade master yang terluka parah ini.

Keyblade master itu terlihat kesulitan akibat dilawan (atau dikeroyok) oleh King Mickey, Donald, Goofy, Riku, Roxas, maupun Axel. Kesulitannya juga bertambah akibat dari luka-lukanya. Karena terdesak, tiba-tiba dia berlari kearahku yang sedang defendless karena sedang menggunakan magic healing…

To Be Continued…

Author Note: Done~ mind to review? Lebih mengharapkan sebuah kritikan dibandingkan pujian~