WARNING : TYPO, NO BASH, NO FLAME, NO PLAGIAT, YUNJAE GS, DON'T LIKE DON'T READ,
Sorry for a very very very very late update :* #deep bow#
Joongiekitty presents~
Persetan
Itulah yang terbenam dalam benak Yunho saat ini dan sejak entah berapa menit lalu. Terus terulang-ulang dalam otaknya tanpa menyisakan tempat untuk secuil pun akal sehat. Apalagi ditambah kehangatan rongga mulut Jaejoong yang kini mengirimkan gelenyar panas ke sekujur tubuhnya. Akibat cumbuan panas mereka.
Semuanya dimulai sejak beberapa jam lalu saat Yunho mengantar kekasihnya pulang setelah kencan dadakan mereka, dimana ibunda Jaejoong memanggil Yunho untuk kembali berdiam di rumahnya menemani Jaejoong yang sendirian karena tugas mendadak dari rumah sakit. Sementara Changmin sang sepupu tidak dapat dihubungi untuk tugas rutinnya menemani Jaejoong saat sendirian.
Dan tentu saja Yunho tidak keberatan, lagipula lebih aman bersamanya daripada sang kekasih sendirian di rumah. Itulah yang ada dalam otaknya, tanpa tahu kejadian mengerikan ini akan terjadi.
Hubungan mereka yang baru saja membaik memang menjadikan Jaejoong lebih manja daripada biasanya, belum lagi keputusan sang gadis untuk tidak lagi menyembunyikan hubungan mereka yang mendatangkan ketenangan tersendiri dalam diri Jaejoong.
Semua baik-baik saja, pada awalnya. Mereka hanya duduk di sofa membicarakan hal apapun yang dapat mereka bicarakan ditemani televisi yang menyala. Sebelum dahi Jaejoong berkerut dan merapat padanya, menyentuh sudut bibir Yunho yang menampakkan luka samar.
Membuat Yunho dengan ringisan kecil menceritakan kejadian beberapa hari lalu diatas ring, bersama Seunghyun. Sontak gadis itu murka dan Yunho hanya melakukan apa yang dapat dilakukannya untuk membuat gadis itu tenang. Tanpa mengira dampaknya akan begitu berbahaya.
"Mmhh…" Jaejoong melenguh tertahan saat Yunho mengapit bibir bawahnya. Jemarinya meremas helaian rambut Yunho hingga berantakan. Sejenak Yunho melepaskan tautan bibir mereka, membiarkan Jaejoong mengambil napas. Sebelum menarik tubuh indah dalam pangkuannya untuk lebih merapat.
Entah untuk keberapa kali bibir Jaejoong yang terasa manis tenggelam dalam lumatan bibirnya sendiri, sedangkan tangan Yunho sudah gatal ingin menelusuri punggung sempit yang kini berada dalam rengkuhannya.
Bibir keduanya bergerak teratur memagut satu sama lain, mencecap rasa manis yang semakin membuat keduanya terlena. Lidah Yunho menelusup masuk dan menyapa deretan gigi kekasihnya hingga rengkuhan Jaejoong di tengkuk Yunho mengerat.
Mengikuti naluri lidah Jaejoong ikut bergerak membelit milik Yunho, Jaejoong bisa merasakan cengkeraman Yunho di pinggangnya mengerat. Suara kecipak basah yang dihadirkan cumbuan keduanya hanya menambah rasa sesak yang menyenangkan.
Kedua tangan Jaejoong menangkup pipi Yunho dan melepaskan ciuman keduanya, menghadirkan erangan tidak rela Yunho. Tertawa kecil dengan gemas Jaejoong menggigit bibir kekasihnya. Sebelum mengulum bibir yang membuatnya lupa diri dalam pusaran gairah itu lebih dalam.
Dibutakan nafsu tangan Yunho terulur turun ke arah bongkahan lembut di tubuh bagian belakang kekasihnya, membuat pinggul Jaejoong merangsek maju. Yang hanya menambah sesak celana santai yang Yunho kenakan.
Dengan kedua tangan yang masih setia meremas mainan barunya lidah Yunho terjulur turun pada leher Jaejoong. Membuat lenguhan manja Jaejoong lolos dengan sempurna, mengalirkan adrenalin Yunho lebih cepat.
"Sayang.." suara sarat akan gairah milik Jaejoong membuat dengusan napas Yunho berderu. Disesapnya kulit mulus yang ternyata terasa lebih menakjubkan dari bayangannya selama ini. Aroma keringat dan wangi tubuh kekasihnya memenuhi penciuman Yunho.
Setelah menyesapnya keras dikecupnya tanda menyala di leher kekasihnya dengan semangat. Mata berkabut dan rambut berantakan Yunho menjadi pemandangan paling indah yang Jaejoong dapatkan saat Yunho menjauhkan tubuh keduanya hanya untuk mengangkat Jaejoong dan merebahkannya di sofa empuk tempat pergumulan panas mereka.
Kembali digodanya bibir Jaejoong dalam lumatan-lumatan nakal diiringi seringai puas. Yunho mengangkat tubuhnya hanya untuk melepas kaos yang mulai terasa basah akibat keringat. Membiarkan Jaejoong menggigit bibir menatap tubuh sempurna Yunho yang baru pertama kali ia nikmati.
Selama ini Jaejoong hanya mampu membayangkan diam-diam dengan imajinasinya yang terbatas tentang bagaimana bentuk tubuh Yunho yang ia rasakan secara samar setiap kali memeluk pemuda itu. Dan ditambah segenggam gairah yang meleburkan akal sehat naluri wanita Jaejoong menggila hingga dengan kurang ajar ia telusuri pahatan-pahatan indah itu dengan jemarinya yang bergetar. Kekehan dalam Yunho dan rambutnya yang berantakan menempel di dahi membuat Jaejoong tidak mampu menahan diri untuk menarik tengkuknya, meminta kenikmatan.
Suara basah berdengung di telinganya setiap kali bibir Yunho mencumbu bibirnya sendiri. Bibir Yunho kembali meninggalkan tempatnya menuju bahu Jaejoong yang terbuka lebar akibat piyama yang sudah tersingkap. Menyisakan tali kecil yang Yunho yakin merupakan penutup keindahan gadisnya.
Dikecupnya dalam-dalam area selangka Jaejoong turun melewati bahunya dan kembali naik ke leher. Gadisnya hanya mampu melenguh nikmat meremas setiap otot Yunho yang dapat ia raih, putus asa menghadapi gairah yang baru pertama kali merayapi akal sehatnya.
Menggunakan giginya Yunho menarik turun tali tipis yang mengganggu kesenangannya hingga menggantung tak berdaya di bahu Jaejoong. Tubuh Jaejoong bergelenyar saat melihat sisi Yunho yang baru pertama kali dijumpainya. Tak ingin tinggal diam dicumbunya area telinga Yunho yang dapat ia jangkau hingga napas beratnya menggelitik Jaejoong.
Dengan tidak sabar Yunho menarik lepas piyama Jaejoong hingga kancingnya terburai jatuh. Dan jantung Yunho berhenti berdetak selama beberapa detik saat menatap tubuh atas Jaejoong yang nyaris telanjang. Gundukan menggoda dadanya hanya tertutup bra berwarna cream yang menempel longgar, dengan satu tali yang sudah turun hingga bahu. Akibat perbuatan Yunho.
Ditatapnya mata sang kekasih yang sama gelap dengan miliknya. Tanpa mengalihkan pandangan ia tarik turun tali bra Jaejoong hinga lolos dari kedua lengannya, teronggok di perut. Buah dada Jaejoong membulat indah, dengan puncak kemerahan dan ukuran yang pas hingga Yunho nyaris orgasme saat itu juga.
Yunho merunduk hingga bibirnya menyentuh puncak dada Jaejoong, lalu menggerakkan wajahnya merasakan tekstur kasar puncak tegang gadisnya di permukaan bibir Yunho. Jaejoong membusungkan dadanya meminta lebih. Lenguhan bernada merengek menggoda ujung selatan tubuh Yunho hingga terbangun sempurna.
Ujung lidah Yunho terjulur keluar memutari area gelap di sekitar puting Jaejoong, menggoda sang gadis hingga Jaejoong meremas lengan sofa diatas kepalanya dengan frustasi. Menggerakkan tubuhnya sendiri dengan tujuan putingnya akan sampai pada lidah hangat Yunho. Dan Jaejoong menjerit puas saat puncak payudaranya tenggelam dalam mulut Yunho.
Ia cengkeram kepala kekasihnya hingga napas Yunho yang tidak beraturan menerpa panas payudaranya. Dengusan penuh gairah saat Yunho menyedot puting payudaranya membuat sudut mata Jaejoong berair menahan nikmat. Jaejoong merengek lebih keras, meminta Yunho memberikan atensi yang sama pada puncak satunya.
Ia hirup dengan puas aroma wangi rambut Yunho saat pemuda itu menggunakan tangannya untuk menyentuh payudara Jaejoong yang tak terjangkau mulutnya. Kewanitaan Jaejoong berdenyut dan mengirimkan gelenyar yang begitu nikmat. Membuat bibirnya mengeluarkan suara-suara yang bahkan tidak pernah Jaejoong bayangkan.
Yunho menarik puting Jaejoong dengan giginya dan beralih pada puncak lainnya. Meninggalkan denyutan yang sama kerasnya dengan genderang jantung Jaejoong. Mata Jaejoong terpejam dengan kupu-kupu yang beterbangan liar di perutnya menyadari sang kekasih, pria yang ia cintai tengah melakukan hal luar biasa pada tubuhnya. Bahagia karena Yunho adalah orang pertama yang mengajarinya tentang kenikmatan yang membuat Jaejoong ingin menangis sekaligus mengiba pada sang pemuda. Merasa candu akan rasa yang dapat ditimbulkan Yunho pada tubuhnya.
"Aku mencintaimu…. Aku mencintaimu" Yunho meracau dengan suara lirih nyaris berbisik yang hanya ia balas dengan lelehan air mata kenikmatan. Menarik bibir Yunho untuk ia cicipi kembali, berpagut lidah dengan liar dan menambah semangat Jaejoong saat kedua tangan Yunho meremas payudaranya dalam satu gerakan menggoda. Perasaan menggebu yang membuncah saat pemuda itu sama putus asa dengan dirinya.
Remasan Yunho terasa begitu menggebu hingga tubuh Jaejoong dibuat berjengit setiap kali telapak tangan Yunho beradu kencang dengan lembut kulit payudaranya. Kedua tangan Yunho meluncur ke bawah berganti dengan mulutnya yang kembali mencecap rasa manis payudara Jaejoong dengan berantakan. Sedikit mengangkat tubuhnya Jaejoong membiarkan tangan Yunho menarik turun celana piyama yang ia kenakan.
Wajah Jaejoong semerah tomat saat Yunho mengangkat tubuhnya sendiri untuk menikmati pemandangan indah bagian bawah Jaejoong. Tangan Yunho membelai paha dalam Jaejoong, yang pernah menghantui mimpi malamnya. Merasakan betapa lembut dan halusnya bagian sensitif sang kekasih.
Telunjuk Yunho menelusuri dari lutut hingga pangkal pahanya, lalu memberikan remasan kencang disana hingga Jaejoong memekik nikmat. Jari nakal itu beralih pada benda paling pribadi milik kekasihnya. Dengan gerakan pelan dua jari Yunho menyentuh kewanitaan Jaejoong dari balik celana dalamnya. Napas Yunho makin memburu mendapati jemarinya langsung basah begitu menyentuh permukaan lembut yang membuat kekasihnya menggelepar nikmat.
Yunho membuat gerakan memutar lalu menggosoknya dengan seluruh bagian telapak tangan. Membuat kaki Jaejoong terbuka lebih lebar dengan erangan nikmat yang lebih keras. Tidak tahan kembali Yunho pagut bibir merah Jaejoong yang terlihat membengkak. Dicumbunya dengan keras hingga kecipak basah bergaung dalam ruang. Tangan Yunho bergerak makin cepat, Jaejoong merengek dengan air mata yang terus-terusan mengalir dari sudut matanya, kenikmatan yang teramat sangat.
Napasnya putus-putus, mulutnya mengeluarkan racauan yang tidak Yunho mengerti. Jemari Jaejoong mencnegkeram erat pundaknya, kepalanya melenting kebelakang. Tubuh Jaejoong menegang beberapa detik dan cairan hangat membasahi telapak tangan Yunho yang sama sekali tidak menghentikan gerakannya.
"Hhah… Yunh.. nghh… hhh…" dari balik kain tipis penutup kekasihnya Yunho dapat merasakan kewanitaan Jaejoong berkedut kencang. Begitu panas dan basah, begitu siap. Mengetahui sang kekasih mencapai puncaknya Yunho berhenti sejenak, membiarkan Jaejoong merasakan sensasi ajaib yang membuat kepalanya serasa melayang. Yunho menjatuhkan kecupan-kecupan basah di sekujur dada dan bahu Jaejoong. Lalu berbisik,
"Kita belum selesai sayangku" dijilatnya air mata yang membasahi pipi Jaejoong, lalu mengecup kedua mata Jaejoong yang terpejam. Yunho menurunkan pinggulnya hingga Jaejoong dapat merasakan sesuatu yang keras menekan perut bagian bawahnya. Dengan mata berlinang dan tangan lemas Jaejoong menangkup wajah Yunho dan menciumnya dengan berantakan.
Dengan sedikit tergesa Yunho melucuti penutup terakhir tubuh Jaejoong. Menatap takjub pada kewanitaan Jaejoong yang terlihat merah dan mengkilat basah. Gadis itu merapatkan kakinya karena malu namun Yunho menahan kedua pahanya dan membenamkan wajahnya disana, tanpa aba-aba.
"Anghhhhh…." Pinggul Jaejoong melengkung naik saat lidah Yunho menerobos rongga sensitive dalam tubuhnya. Ia bisa merasakan dengan jelas tekstur kasar lidah Yunho menggoda bagian paling sensitive dalam dirinya. Menyesapnya keras dan menjilatnya dengan gerakan yang tidak pernah Jaejoong bayangkan
"Yyah…. Ohh yahh…" jemari Jaejoong meremas rambut Yunho yang terbenam di selangkangannya saat lidah pemuda itu menyapu klitorisnya. Menyentil sesuatu dalam diri Jaejoong, sisi liar yang selama ini tertidur jauh dalam alam bawah sadarnya. Desahan Jaejoong menjadi simponi paling indah yang dapat Yunho dengar.
Lidah Yunho meliuk, berputar, menggoda setiap sudut rongga basah Jaejoong yang terasa bagai madu yang membakar kerongkongannya. Sesekali disesapnya kewanitaan Jaejoong hingga gadis itu meremas rambutnya lebih ganas. Seluruh tubuh Yunho berdenyut. Semua keindahan yang ada pada diri Jaejoong berhasil menyentil gairahnya hingga ke puncak.
Yunho ingin merasakannya, merasakan bagaimana rasa luar biasa seorang Kim Jaejoong. Yunho bukanlah seseorang yang berpengalaman, hanya saja ia juga tidak munafik jika hal semacam ini bukanlah hal yang tabu di kalangan lelaki. Ia hanya belum pernah memiliki keinginan yang begitu besarnya untuk memiliki seseorang.
Kenikmatan yang Jaejoong rasakan bertubi-tubi menghantam warasnya saat satu tangan Yunho terulur meremas payudaranya. Ia hanya mampu memekik dengan suara serak dan meremas sofa lebih erat. Jari-jarinya menggulung penuh nikmat, saat dua bagian sensitivenya menjadi sasaran Yunho.
Dengan racauan yang diselingi isakan lirih, Jaejoong meledak dalam gairah untuk kedua kalinya. Tubuhnya bergetar tidak berdaya, kenikmatan ini terlalu besar untuk Jaejoong tanggung. Sementara di bawah sana Yunho dengan lebih buas menyesap setiap tetesan panas bukti gairah Jaejoong yang terasa begitu nikmat. Membuat Yunho mencengkeram paha Jaejoong agar membuka lebih lebar hingga ia dapat dengan puas menyesap setiap teguk dari sudut kewanitaan Jaejoong.
Merangkak naik Yunho dihadapkan dengan keadaan Jaejoong yang berantakan. Matanya terpejam dengan beberapa anak rambut yang menempel disisi wajahnya. Pemandangan paling indah yang pernah Yunho lihat, hingga jantungnya dibuat bekerja lebih keras. Cantik, sangat amat cantik. Deru napas Jaejoong terlihat teratur dan dalam. Terkekeh Yunho saat menyadari bahwa kekasihnya jatuh tertidur, merasa bangga karena sadar bahwa hanya ia satu-satunya pria yang pernah menyentuh Jaejoong hingga sejauh itu.
Dan bahwa Jaejoong adalah gadis yang sama sekali belum pernah disentuh oleh lelaki manapun. Ingin rasanya ia menjadi egois dan menuntaskan sisa gairahnya namun wajah polos Jaejoong membuat Yunho sama sekali tidak ingin membangunkan sang kekasih dari tidurnya. Ahh.. haruskah Yunho ke kamar mandi ?
Sambil menetralkan napasnya sendiri, sekaligus meredakan gairahnya yang sempat membumbung Yunho merapikan kekasihnya. Menyingkirkan rambut-rambut nakal yang menyembunyikan kecantikan Jaejoong. Dipandanginya wajah gadis itu, setiap jengkalnya, setiap sudut pahatan sempurna yang diciptakan Tuhan. Mengingatkan Yunho akan kecantikan ibunya di masa yang lalu.
Gadis luar biasa ini, dengan mudah membuat gairah Yunho terganti dengan perasaan sesak yang membuat perutnya bergelenyar geli. Menunduk ia pagut lembut bibir gadisnya, menyalurkan perasaan yang tidak akan dapat ia jelaskan. Mencoba untuk tidak membuat Jaejoong terbangun dari tidurnya. Menyampaikan terimakasih tanpa kata-kata atas pengalaman singkat paling luar biasa selama hidupnya. Akal sehat Yunho bersyukur karena ia tidak bertindak lebih jauh. Karena mungkin, pada akhirnya ia akan menghancurkan dan melukai Jaejoong.
Dalam senyum lirih ia berjanji, ini adalah terakhir kalinya ia membiarkan akal sehatnya direnggut. Untuk selanjutnya ia ingin menjaga Jaejoong, sepenuhnya menjaga Jaejoong bahkan dari dirinya sendiri. Dikecupnya kening gadis itu lama, lalu bangkit untuk memakai kembali kaos yang teronggok di lantai. Ia sambar pakaian Jaejoong yang berserakan dan mendesah saat sadar tidak mungkin ia pakaikan kembali pada Jaejoong.
Sambil menggenggam pakaian kekasihnya Yunho menyelipkan satu tangannya dibawah lutut Jaejoong sementara yang lain menyusup dibalik bahunya. Mengangkatnya dengan mudah, mencoba membuat posisi Jaejoong senyaman mungkin dalam rengkuhannya. Dengan perlahan ia membawa Jaejoong menaiki tangga, dengan mudah menemukan pintu yang nyaris penuh dengan sticker gajah.
Dengan susah payah Yunho membuka pintu itu, matanya dimanjakan dengan warna pastel lembut dengan beberapa bagian yang dicat abu muda. Sebuah ranjang single size di sudut ruangan menjadi tujuan Yunho. Berdehem serak saat menangkap ketelanjangan Jaejoong. Kepala Yunho berputar dan menemukan lemari berwarna putih di sudut kamar. Yunho melangkah dan membuka pintunya. Semerbak harum menyapa Yunho, pakaian Jaejoong tertata dengan rapi. Ia sambar asal pakaian Jaejoong beserta pakaian dalamnya.
Yunho ingin mengubur dirinya sendiri saat ini, bagaimana mungkin tadi ia bisa dengan mudah melucuti satu persatu benda itu dari tubuh Jaejoong sementara saat ini menggenggamnya saja wajah Yunho sudah memerah parah. Ia letakkan pakaian itu disudut ranjang Jaejoong. Sebelum memakaikannya ia harus membersihkan tubuh Jaejoong. Yunho berjalan kearah pintu yang menurutnya adalah kamar mandi dan dihadapkan dengan desain pastel yang sama. Satu handuk tersampir di belakang pintu dan Yunho mengambilnya untuk kemudian ia basahi dengan air hangat.
Mencoba untuk tidak melakukan yang tidak seharusnya ia lakukan saat mengusap setiap sudut tubuh Jaejoong hingga bersih. Yang Yunho lakukan setelahnya adalah memakaikan celana Jaejoong. Sedikit kesulitan saat ingin memakaikan bra gadisnya. Mendesah pasrah Yunho memutuskan untuk menyingkirkan benda rumit yang menurutnya menyusahkan itu. Untung saja kaos Jaejoong memiliki bahan yang cukup tebal hingga cukup untuk melindunginya dari dingin. Setelahnya ia selimuti tubuh Jaejoong yang kini bergelung nyaman dalam selimut.
Yunho menutup pintu kamar Jaejoong sepelan mungkin dan turun untuk kembali menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Meraih ponselnya yang tergeletak di meja Yunho mengirim pesan pada ayahnya ia mungkin akan menginap di rumah teman malam ini. Menyangga kepalanya dengan sebelah tangan pikiran Yunho melayang apakah ibu Jaejoong sering bertugas hingga larut seperti ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan belum ada tanda-tanda sama sekali wanita itu akan pulang. Yunho juga sedikit heran bagaimana bisa ia dengan tenang meninggalkan Jaejoong dengan lelaki sepertinya. Sungguh ceroboh, seandainya ia bukan orang baik bisa saja itu membahayakan untuk Jaejoong. Yah meskipun yang ia lakukan barusan juga masuk dalam kategori membahayakan Jaejoong.
Menyamankan tubuhnya Yunho memejamkan mata. Bersyukur setidaknya sofa ini cukup luas dan terasa nyaman. Sekali lagi ia lemparkan pandangannya pada pintu kamar Jaejoong yang terutup rapat, membayangkan sang kekasih mungkin tengah berkelana dalam mimpinya membuat Yunho tersenyum simpul. Perlahan kantuk menjemput Yunho ke dalam mimpi.
Alarm yang berbunyi diatas nakas membangunkan Jaejoong, dengan mata setengah tertutup ia raih jam kecil bulat itu dalam pelukannya sebelum menekan tombol off setelah memastikan matanya tidak akan tertutup lagi. Tangan Jaejoong meraba sekitar bantalnya, mencari ponsel. Semacam kebiasaan setiap bangun tidur. Dan menemukan satu pesan dari ibunya
Mommy
Sweatheart.. mommy akan pulang sore hari oke? Buatlah sarapan atau pergilah sarapan di luar bersama Yunho. Sampaikan salam dan terimakasih mommy padanya. Love you~
Kening Jaejoong berkerut Yunho? Kenapa tiba-tiba membicarakan Yunho? Selama beberapa detik otak Jaejoong kosong sebelum melempar ponsel dan menutup mulutnya sendiri. Sudah ingat eh? Jemari Jaejoong mencengkeram helaian rambutnya, menggigit bibir merutuki dirinya sendiri mengingat apa yang terjadi semalam. Antara Yunho dan dirinya.
Astaga bagaimana ia harus menghadapi pemuda itu nantinya ? bagaimana bisa ia menatap Yunho setelah ini ? jaejoong bahkan masih ingat dengan jelas bagaimana ia merengek seperti gadis tidak tahu malu semalam. Bagaimana ini ? Jaejoong sangat malu. Merutuk pada satu sisi kepalanya yang mengatakan kegiatan itu amat menyenangkan hingga tidak perlu disesali.
Menggigit bibir ia menatap pintu kamarnya yang masih tertutup, bertanya-tanya apakah pemuda itu masih berada di rumahnya ? berjingkat turun Jaejoong diam beberapa saat memegang kenop pintu, menenangkan jantungnya. Mencoba bersikap sesantai mungkin Jaejoong menuruni tangga dengan tenang.
Namun begitu dihadapkan dengan punggung lebar Yunho yang tengah sibuk berkutat dengan sesuatu beraroma harum diatas penggorengan kaki Jaejoong berubah menjadi batu. Ia hanya diam ditengah tangga, menatap punggung Yunho tanpa berkedip. Tanpa dapat ia cegah semburat kemerahan menyebar di pipi Jaejoong.
Menunduk Jaejoong menatap jari-jari kakinya yang bertaut lucu satu sama lain, memikirkan bagaimana ia harus bersikap pada kekasihnya itu. Apakah ia harus turun dan menyapa Yunho atau kembali naik untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Pilihan kedua menjadi pemenang dalam perdebatannya sebelum suara Yunho membuatnya berjengit
"Sayang ? kau sudah bangun" Jaejoong mengintip dari balik bulu matanya "Aku membuat sarapan untuk kita" pemuda itu berjalan mendekat dan berhenti di bawah tangga. Membuat Jaejoong semakin membeku tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
Jung Yunho tidak pernah merasa sebahagia ini dalam hidupnya. Tersenyum tipis menikmati pemandangan sang kekasih yang Yunho yakin merasa malu padanya. Menggemaskan sekali. Ia meniti anak tangga satu persatu dan dapat Yunho lihat jemari kekasihnya memilin ujung kaos dengan lucu.
"Kenapa menunduk begitu hm ?" bisiknya mencoba mengintip wajah Jaejoong yang tertutup rambut. Jemari Yunho terulur mencoba menyibaknya saat sang kekasih buru-buru berjongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Yunho terdiam beberapa detik karena terkejut sebelum tertawa lepas. Yang mana hanya membuat Jaejoong semakin malu. Yunho tidak habis pikir dengan kekasihnya ini, apakah Jaejoong bahkan punya batas untuk segala tingkah imutnya itu?
"Oh sayangku kenapa kau menggemaskan sekali" Yunho berdehem dan mengangkat Jaejoong yang masih berjongkok hingga gadis itu memekik. Yunho kembali tertawa menuruni tangga dengan Jaejoong yang masih bergelung seperti bola besar dalam dekapannya.
Pun bahkan saat Yunho menurunkannya di sofa gadis itu sama sekali tidak berubah posisi, membuat Yunho gemas bukan main "Ayolah biarkan aku menatap wajah kekasihku ini" Yunho dengan jahil menarik-narik tangan yang menutupi wajah gadisnya, membuat Jaejoong merengek malu.
Dikecupnya berkali-kali punggung tangan sang kekasih yang terpampang dihadapannya, sebelum menyerah dan duduk di lantai mengahadap Jaejoong sementara si gadis masih setia menyembunyikan wajahnya. Jemari Yunho memijat lembut jari-jari kaki Jaejoong "Apa kau memikirkan yang semalam ?" ia bertanya lembut, menyerah Jaejoong melepas tangannya dan mengangguk, masih tanpa menatap Yunho.
"Kau malu padaku ya?" Yunho bertanya dengan tangan membalut kedua pipinya, hingga mau tak mau Jaejoong menatap Yunho dengan wajah memerah hingga telinga "Aku minta maaf jika apa yang ku lakukan semalam membuatmu tidak nyaman oke? Tapi meskipun begitu aku tidak akan menyesalinya, karena jujur saja malam itu adalah malam paling indah dalam hidupku. Aku berjanji akan lebih menahan diriku, agar kita tidak lagi ada di situasi tidak mengenakkan seperti ini. Bagaimana Jaejoongie ?"
Katakan bagaimana Jaejoong bisa focus jika bibir Yunho yang Jaejoong ketahui terasa sangat nikmat berada beberapa centi dari bibirnya, namun meskipun begitu Jaejoong tetap mengangguk.
Mereka aling menatap selama beberapa saat sebelum Yunho meraih tangannya dan mengecup setiap jari-jarinya "Ayo kita sarapan" ia tersenyum lebar dan bangkit diikuti Jaejoong.
TBC~
Haiiiiiiiii kangen banget sama kalian yalord~ TT
Maaf ya karena menelantarkan kalian sekali lagi *deep bow*
Ini udah jadi lumayan lama tapi baru sempet update…. Dan jujur aja susah membangun mood buat nulis lagi dan I've been so busy lately TT
Kedepannya bakal tetep update tapi sumpah ngga bisa mastiin bakal cepet atau ngga so sorry~
But well…. Im happy to see u guys :* :* :*
Berminat meninggalkan jejak buat saya yang kangen banget sama kalian? _
