LuMin/XiuHan
Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Mohon tulis review sebagai masukan. Kritik dan saran sangat di butuhkan. Karakter lain muncul sesuai alur.
.
Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia. Khusus untuk Zitao, ceritannya dia ngomong pake bahasa Mandarin. Ceritanya dia gak(Belum) bisa bahasa Korea.
.
Dokter Shim sudah pergi, di antar Luhan sampai ke pintu lalu menghilang di balik gerbang. Luhan kembali, ke kamar Minseok dan duduk di sisi kepala yang sedang tertidur, setelah meletakan botol bening berisi obat Minseok, Luhan memposisikan setengah tertidur sehingga dengan jelas dan dekat dapat melihat si mungil.
Mengusap, pipi bulat sehalus sutra menggunakan ibu jarinya dan sesekali mengecupnya pelan. "Sampai kapan kau akan tidur sayang?" bisiknya, terdengar lelah, putus asa dan rasa rindu yang mendalam. "Kau tidak merindukan aku, Sehun? Atau ayah dan ibumu?"
"Aku baru menemui mereka, mereka sangat merindukanmu." Dan bisikannya semakin lirih, takut mengganggu tidur cantik Minseoknya. Tidur yang terlihat begitu damai dengan nafas yang teratur. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi dan sudah tidak dingin, kini tubuhnya malah menghangat, menyengat.
Air yang kemungkinan tertelan, telah ku keluarkan. Sebentar lagi tubuhnya akan merespon obat yang kuberikan, jika nanti tubuhnya memanas, jangan panik, karena itu gejala biasa, tapi kemungkinan dia akan demam. Demam yang di akibatkan karena berendam terlalu lama.
"Ah, kaupun sangat merindukan mereka kan?"
Dalam percakapan seorang dirinya, Luhan tersenyum, senyum miris yang akhir-akhir ini sering terbit di wajah Luhan, wajah tampan yang biasanya tegas, kini tampak lelah dan kusam. Jika dari usianya, Luhan wajar memiliki wajah yang mulai menunjukan kalau dia telah berumur. Namun tidak dengan mereka yang mengenal dirinya sejak lama.
Luhan, meskipun sudah berumur, namun ketampanannya masih setia dan enggan pergi. Dalam sekejap wajahnya terasa begitu cepat menua karena Minseok, otaknya di penuhi Minseok yang tak kunjung membaik malah semakin menyita pikirannya.
Ketika dia mulai menyukai Baekhyun sebagai isterinya namun dia di paksa menikah lagi, bahkan tidak semenyiksa ini, membuktikan kalau Minseok mengambil hati Luhan lebih dari pada Baekhyun. Menggeser segala hal tentang Baekhyun di hati Luhan, dan menempatkan dirinya di pusat hati Luhan.
"Cepat sembuh, agar aku punya kekuatan lebih untuk menyelesaikan masalah ini. Agar aku bisa mempertemukanmu dengan ayah dan ibu." Luhan terkekah, ayah dan ibu? Yah, dia ingin memanggil seperti itu pada orang tua Minseok.
Menjadi suami sesungguhnya dan menjadi menantu. Tidak lupa menjadi ayah yang bisa di banggakan oleh anak mereka.
"Sehun."
Suara serak bangun tidur, terdengar jelas. Ketika Luhan mengusakan hidungnya di helaian rambut Minseok. Secepat kilat, dia duduk, menjauhkan dirinya dari Minseok, takut kalau Minseok akan menjauhinya dan membutnya ketakutan. Namun apa yang Luhan lakukan seakan malah tidak di inginkan Minseok, tangan mungil lemahnya menarik pergelangan tangan Luhan.
"Sehun, bogosiposo."
…
Inheritors
NurL99
LuMin/XiuHan
…
Sekolah HanLu gempar di tengah jam pelajaran sedang berlangsung, dua orang berseragam hitam memasuki area sekolah tanpa di hadang oleh satpam dan menyeret pangeran sekolah, Sehun. Sampai-sampai Yoo Youngjae, selaku direktur HanLu turun dari singgasananya, meleraikan pembrontakan Sehun yang menyebabkan kehebohan.
Pelajaran mendadak terhenti karena keingin tahuan siswa melihat Sehun yang di seret secara paksa.
"Ada apa ini?" Yoo Youngjae, bertanya dengan wajah galak karena telah merusuh di areanya. Salah satu dari dua orang yang memegangi tangan Sehun, melepaskan diri, membungkuk dengan hormat dan menunjukan semacam id card. LH7 Security tertulis di ujung atas sebagai tanda, dari mana para pria berbaju hitam ini berasal.
LH7? Induk perusahaan Hangeng Tan. Youngjae menggumam, merasa bingung terhadap kedatangan tiba-tiba orang-orang Luhan, atau mungkin ayah Luhan. Wajah galaknya berubah bingung, kaget yang bercampur menjadi rasa panik.
"Aku tidak tahu apa maksud tuan-tuan datang ke kemari dan membuat keributan. Dan apa maksud anda menunjukan kartu pekerja anda?" meski demikian dia tetap mencoba tenang, tidak mau menjatuhkan wibawanya di depan semua orang.
"Sesuatu terjadi pada sang ibu, tuan muda diminta segera kembali."
Dan muka kagetnya kembali lagi. Sang ibu? Sang ibu mengarah pada sesuatu yang besar, jika sudah terucap hal itu dari lingkaran Luhan, maka Baekhyun noona dalam bahaya. Youngjae meneguk salivanya secara gugup. Teringat kembali perkataan Daehyun dan pikirannya menjadi bercabang.
"Se-Sehun, Sehun. Bawa Sehun dengan cara benar dan jangan membuat keributan." Dengan tergagap Youngjae memberikan perintah, lalu membalik badan dan meninggalkan kerumunan. Mengabaikan panggilan Sehun yang meronta dan meminta pertolongan. Sementara itu Youngjae, malah sibuk dengan ponselnya, mencari-cari nomor kontak dengan tangan sedikit bergetar.
…
Luhan terbahak dengan begitu puas dan lepas. Ketika mendengar laporan orangnya. Mendengar betapa terkejut dan panik isteri sepupu tampan Baekhyun sepertinya membuat Luhan begitu terhibur. Rencananya sukses berat. Luhan boleh saja terlambat tapi semua begitu memuaskan.
"Ini bahkan belum di mulai. Jika dalam dunia hiburan Korea, biasanya para penggemar menyebutnya sebagai teaser. Bukankah teaser ini begitu menggoda?"
Lagi, gelak tawa terdengar memenuhi ruangan. Ruangan dalam kamar Minseok yang hanya dirinya yang bisa membuka. Tempat tersembunyi lain yang isinya adalah, rak-rak buku, satu set komputer dan sofa. Ruangan ini baru Luhan pakai sekitar satu bulanan, ketika kecurigaannya mulai timbul. Dan sejak Luhan menemukan pohon keluarga Lu yang disusun Jaehyo di kamarnya, sejak saat itu Luhan menjadi sering di ruangan rahasia ini.
…
"MWO?"
Aapa lagi yang terjadi? Batin Baekhyun menggeram, belum satu masalah selesai, masalah baru telah muncul.
"Tunggu aku di sana. Aku dalam perjalanan pulang." Tutup Baekhyun. "Katakan pada HanLu aku mengurungkan niat bertemu ketua yang baru, kita langsung pergi ke rumah Daehyun."
Tanpa bertanya Soojung langsung mengarahkan kendaraan roda empatnya menuju kediaman Jung. Sekembalinya dari Bucheon, Soojung ingin Baekhyun langsung istirahat karena sudah beberapa hari wanita itu terus memforsir tenaganya untuk perusahaan.
Yang selalu ada di pikiran wanita itu hanya perusahaan, tapi ketika melihat raut wajah yang mengeras dan begitu tidak tenang, Soojung memilih menuruti, bertanyapun akan percuma, karena bukannya mendapat jawaban, tapi bisa saja ia yang di usir pergi.
…
Seperti dua anak kecil sedang bermain bersama. Minseok dan Sehun, duduk berdampingan di atas tempat tidur menggunakan piama yang sama, sama-sama warna putih maksudnya, karena Minseok lebih memilih menggunakan pakaiannya yang biasa namun kini di lapisi cardigan warna senada, untuk semakin menghangatkan tubuhnya.
"Aku ingin memukul wajahnya, kalau saja mereka tidak mencengkramnya terlalu erat, tanganku pasti tidak akan merah." Pengaduan bocah, pada ibunya sambil megulurkan tangannya. Memperlihatkan bekas merah yang cap tangannya terlihat sangat jelas.
Minseok yang awalnya hanya melihat, kini mengusap pelan, di bagian yang terdapat warna merah tersebut. "Apa rasanya, sakit?" tanyanya. Benar-benar seperti bocah.
"Tentu saja, seperti tidak tahu kalau orang-orang Luhan itu bar-bar."
"Kenapa mereka menarikmu begitu? Biasanya dengan sopan? Apa Jaehyo yang melakukannya?"
Jaehyo? Bukan. Yang tadi menyeret Sehun bukan Jaehyo, atau setidaknya orang-orang yang sudah dikenalnya. Semua yang datang adalah orang-orang baru, yang bahkan Sehun tidak mengenali satupun dari mereka. Semua orang yang membawa Sehun berparas oriental.
"Ani, Luhan sepertinya mengganti orang, dan Jaehyo sekarang malah menjadi supir. Dia bahkan sekarang sering menghantuiku di sekolah."
Luhan mendengar dengan jelas, menghantui? Apa menghatui yang di maksud Sehun adalah selalu berada di sekitar Sehun bahkan ketika di sekolah? Untuk apa?. Disaat sedang berfikir keras, pelayan tiba-tiba datang, mendorong meja berisi makan malam untuk Sehun dan Minseok. Mulut si pelayan sudah terbuka, siap menyapa namun Luhan menghentikannya dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir, lalu memyuruh si pelayan pergi. Biar dia saja yang membawa makanan untuk Minseok dan Sehun.
…
Tiba di kediaman Jung, Baekhyun di brondong dengan pertanyaan yang maksudnya sama, apakah Baekhyun baik-baik saja atau tidak, dari isteri sepepunya sementara sepupunya sendiri – Jung Daehyun tampak biasa saja, malah terkesan tidak peduli yang malah semakin menenggelamkan permainannya dengan Daeyoung dan Jaehyun – anak-anaknya.
Daehyun memang sejak isterinya mulai menjadi direktur sekolah HanLu menjadi seperti orang yang tidak peduli terhadap sekitar. Bukan tidak suka pada sepupunya, tapi Daehyun terlalu mengerti jalan pikiran Byun, mereka haus akan kekuasaan dan dengan membawa Youngjae dalam lingkaran mereka membuat Daehyun mau tidak mau terseret juga.
Niat Baekhyun membawa Youngjae adalah agar Daehyun mau membantunya dan wanita itu berhasil. Dan karena Youngjae dekat dengan Baekhyun jalan bagi sepupunya itu semakin mudah, namun semakin sulit untuk Daehyun, dia harus melindungi keluarganya, melindungi Youngjae sekuat tenaga agar Baekhyun tidak berbuat macam-macam pada isterinya.
Namun setiap kali Daehyun meminta Youngjae untuk berhenti menjdai kaki tangan Baekhyun, Youngjae selalu salah mengartikan, menganggap kalau dia meremehkan, mengira kalau Youngjae tidak memiliki kemampuan dan takut mengecewakan sepupunya.
"Jja saatnya tidur, besok kalian sekolahkan. Abeoji akan mengentar tidur."
Dan bagi Daehyun menghindar adalah cara yang selalu di lakukan, dia lebih memilih pergi daripada harus mendengarkan percakapan menakutkan Baekhyun. Terlebih ada anak-anaknya, jika mendengar bisa-bisa otaknya akan terkontaminasi. Mereka masih terlalu kecil untuk mendengarkan percakapan orang dewasa.
"Tapi ada Baek imo, Jaehyun rindu Baek imo." Si kecil Jaehyun merengek, ingin menghambur pada Baekhyun namun sekarang sedang duduk di pundak Daehyun. Sementara yang lebih tua sudah melarikan diri ke kamar, sudah sangat mengantuk karena menemani adiknya bermain. Jaehyun suka bermain tapi Daeyoung suka komputer, jika yang Jaehyun inginkan adalah bermain di komputer mungkin Daeyoung akan senang hati menemaninya tapi Jaehyun sangat benci permainan yang berisik itu, menurutnya akan merusak mata.
"Baek imo ada urusan dengan eomma, nanti kalau selesai baru Jae boleh menemuniya arrachi? Jja, susul Dae-hyung tidur."
"Dae-hyung belum tidur, dia hanya malas menemaniku bermain nanti pasti kalau di kamar akan berkutat dengan laptopnya. Seharusnya appa menyita benda itu." sepertinya Jaehyun sudah hapal sekali dengan kelakuan kakaknya itu.
Sementara Daehyun menjauhkan anak-anaknya dengan dua wanita di ruang tamu, Baekhyun memandang sepupunya, dengan mata menyipit curiga setelah mendengar seluruh penjelasan Youngjae tentang kenapa orang-orang Luhan atau Hangeng datang menjemput Sehun. Sang ibu?
"Kau yakin jika id card itu dari LH7?"
"Ne eonni, aku melihatnya dengan jelas."
Luhan membuat keributan, di HanLu menggunakan Sehun, menjemput dengan paksa membuat kejadiannya menjadi pusat perhatian, ini bukan Luhan, kecuali Luhan sengaja melakukannya untuk memancing.
Tatapan Baekhyun jatuh pada Youngjae, sekarang benang kusutnya sudah lurus. Menggunakan kata sang ibu, Luhan pasti tahu kalau Youngjae akan bereaksi demikian kalau dia menggunakan kata sang ibu. Tapi bagaimana caranya Luhan tahu kalau Youngjae mengetahui maksud dari kata sang ibu?
Daehyun mengatakan padaku kalau sang ibu mengarah pada sesuatu yang besar, jika sudah terucap hal itu dari lingkaran Luhan, maka Baekhyun noona dalam bahaya. Karena teringat itulah kenapa aku menghubungi eonni.
"Jung Daehyun."
"Ye?."
"Panggilkan Daehyun aku ingin bicara dengannya."
…
"Waktunya makan malam." Seruan Luhan itu di buat seceria mungkin namun reaksi yang di dapat hanya, Minseok dan Sehun menoleh sejenak lalu sibuk lagi pada pembicaraan mereka. Luhan yang di abaikan mengerut bingung. Mengusapi tenguknya seraya mendorong meja ke sisi lain dan duduk di samping Minseok.
"Kau membuat tangannya merah. Ini jelas sekali, kau harus menghukum mereka yang melakukannya." Tertegun, ini adalah kalimat terpanjang bernada rajukan yang Minseok keluarkan, bahkan sebelum Luhan berkata mulut mungil itu sudah membrondong tuntutan, sembari menunjukan cap tangan di pergelangan Sehun.
Luhan tidak bisa tidak melihat, karena bekas itu begitu jelas, ah. Apa orang-orang barunya berbuat terlalu kasar? Lagi-lagi Luhan hanya bisa mengusapi tengkuknya. Jadi gugup, tatapan Minseok itu seperti seorang kekasih yang meminta sesuatu pada pasangannya. Eh, Minseokkan memang kekasihnya, kekasih hidupnya, isterinya, belahan jiwanya dan segalanya baginya, ugh, cheesy sekali.
"Ne, aku akan menghukum mereka, tapi sekarang makan dulu, arachi. Kemudian minum obat, setelah itu bisa main lagi."
"Kita akan makan bertiga?" Sehun bertanya, raut wajahnya khawatir, terakhir kali mereka makan bersama, Minseok menjadi aneh, apakah akan baik-baik saja kalau mereka makan bersama lagi? Bukannya tindak ingin, tapi hanya khawatir.
"Tentu saja, atau kau mau aku makan sendirian di meja makan, uh tega sekali."
"Guende Lu-ah abeoji-
"Tidak akan terjadi apa-apa." Seakan tahu kekhawatiran Sehun, Luhan menepuk, meremas pundak anak remajanya. Beranjak dan membentangkan karpet tebal lantai. Meletakan semua makanan di atas karpet, membuatnya seperti mereka sedang piknik. Piknik keluarga di taman.
"Jja"
…
Daehyun dan Baekhyun duduk berhadapan di sofa ruang kerja Daehyun. Si laki-laki tampak malas dan si perempuan tampak curiga.
"Aku sibuk noona, jika kau memanggilku hanya untuk menatap curiga, aku tidak punya waktu." Daehyun yang merasa malas buka suara, ingin cepat mengahiri pertemuan yang pasti akan menimbulkan pembicaraan panjang.
"Ku dengar kau dari Bucheon, tidak lelah?" lagi tanya Daehyun, karena Baekhyun seperti belum mau membuka pembicaraan.
"Sang ibu? Apa maksudmu dengan mengatakan tentang sang ibu pada Youngjae?"
Dan kalimat pembuka Baekhyun berhasil menarik minat Daehyun, terlihat dari yang awalnya duduk bersandar, kini duduk dengan benar dan tegap, berdeham sekali lalu menyunggingkan senyuman pada Baekhyun. Luhan hyung sudah menemukannya.
"Kau pikir apa? Tentu saja untuk melindungi Youngjae. Adakah niat lain bagiku?"
"Bodoh, seharusnya kau menyimpan itu untuk dirimu sendiri. Dengan memberitahunya kau lah yang membuatnya dalam bahaya."
…
Sampai makan malam berakhir, kektakutan Sehun menguap begitu saja, nyatanya tidak terjadi apa-apa. Hanya pemandngan yang membuatnya seperti obat nyamuk, melihat ayah dan ibunya tebar kemesraan, seakan lupa kalau ada manusia lain yang duduk di antara keduanya.
Bahkan tadi, jika Sehun tidak pura-pura menjatuhkan sumpitnya Luhan sudah akan mencium Minseok, menjengkelkan sekali, memangnya pantas di tunjukan pada anak yang masih di bawah umur. Yeah, Sehun menganggap dirinya masih di bawah umur, dia masih belum memiliki KTP dan tanda pengenalnya hanya kartu pelajar dan akta kelahiran. Jadi dia masih di bawah umurkan?.
dan janji Luhan adalah janji yang benar-benar palsu. Katanya setelah makan malam dia boleh tetap berada dengan Minseok namun karena alasan "Ibumu masih sakit, jadi harus istirahat lebih banyak" dan menggiringnya kembali kerumah utama.
Mengantarnya sampai ke kamar dan dia duduk di sofa, sambil mendengarkan setiap gerutuan Sehun yang sedang mencoba untuk tidur.
"Sehun-ah."
"Sehun sudah tidur, lebih baik keluar saja."
Luhan terkekah, Sehun itu bukan anak-anak tapi kekanak-kanakan, jelas sekali sedari tadi hanya menutup diri dengan selimut tapi mulutnya mengumpati Luhan dengan sangat keras, Luhan tidak tuli dan tentu saja mendengarnya.
Sampai sebuah ketukan di pintu, Luhan menghentikan kekahannya. Berjalan menuju pintu, seorang pria bertubuh kurus membungkuk, menyerahkan map coklat besar kemudian pergi, Sehun yang belum tidur mengintip, dia pikir Luhan akan langsung pergi tapi malah masuk dan duduk lagi di sofa.
"Kemarilah Sehun, ada yang ingin ku katakan padamu."
"Sehun sudah-
"Tidak mau menghabiskan satu minggu dengan ibumu? Ya sudah, aku tidak jadi menghubungi Youngjae untuk meminta perizinanmu" Sela Luhan, sesuai dengan dugaan, secepat kilat anak tinggi itu bangun dari bergelung dengan selimut dan duduk di hadapan Luhan, lucu sekali anaknya itu.
"Ah, seperti laki-laki mata kranjang saja, mengancam dengan wanita." Grutu Sehun, masih saja tidak terima kalau dia kalah, Sehun memang selalu kalah dari Luhan, sekedar informasi saja. Dan Luhan berbangga hati tentang itu.
"Yah, akui saja kalau ayahmu ini hebat Hun-ah" bangga Luhan, sambil melemparkan amplop coklat di atas meja, bermaksud untuk Sehun membuka.
Dan Sehun yang mengerti, tidak menunggu lama, langsung mengambil dan membukanya.
"Choi Taemin?" Sehun mengeja, menyebutkan sebuah nama yang tertera di sebuah kertas putih lengkap dengan foto, terlihat tidak asing tapi dalam versi yang berbeda, wanita maksudnya. "Guru? Sekolah dirumah? Satu minggu? Shireo. Kau bilang aku akan libur satu minggu, tapi kenapa aku akan sekolah di rumah, apa ini home schooling?"
"Ini bukan home schooling. Kau hanya akan belajar dirumah satu minggu. Setelah itu kau kembali ke sekolah seperti biasa." Jelas Luhan.
"Tidak mau. Apa bedanya dengan di sekolah-
"Kau hanya akan belajar sampai jam satu, dari jam delapan. Setelah itu kau bebas berada di pavilion. Kau harus memperbaiki nilai-nilaimu. Dan juga tulisanmu, kau tidak tahu betapa buruknya tulisanmu. Kau harus melemaskan jarimu dengan menulis, bukan bermain game di kamar atau tab mu."
"Memangnya ada apa dengan nilaiku?"
"Kau-
Luhan menghentikan kalimatnya, ketika tiba-tiba kepala bagian belakangnya terasa nyeri, Sehun ini tidak sadar atau bagaimana. Buku sekolah di kamarnya tidak ada, seakan dia ini tidak sekolah, dan ketika Luhan melihat tulisan Sehun yang begitu, bagaimana cara mendeskripsikannya ya, ya intinya sangat buruk dan sulit di baca, seperti garis-garis abstrak, dan nilainya? Jangan bertanya, karena Sehun selalu masuk sepuluh besar(dari bawah).
"Kau bahkan rengking satu, dari bawah, nilai bahasa Korea mu bahkan tidak bisa menyentuh lima, kau bilang ada apa dengan nilaimu?"
"Itu gurunya saja yang bodoh, tidak bisa memahami kata-kataku. Aku yakin merangkai semua kalimat dengan benar agar membuat paragraf yang sempurna, tapi nilaiku tidak pernah berubah jadi jangan salahkan aku." masih saja membela diri.
"Itu karena tulisanmu. Kalau saja kau membuat huruf M dan Ng itu berbeda dan benar mungkin nilaimu tidak hancur, tapi semua huruf Hangeul mu itu sama. Aku bahkan yang bukan orang Korea bisa membuatnya lebih baik"
"Itulah, orang pintar seharusnya memahami isi tulisan bukan karena bentuknya, tapi maknanya."
…
Itulah kenapa aku melarang Youngjae, tidak mau dia ikut dalam masalah mengerikan ini. Noona seharusnya menjadi yang paling mengerti Luhan hyung, yang dilakukan sekarang pasti bukan sesuatu yang tidak direncanakan.
Kalimat Daehyun terdengar lagi, ketika Baekhyun berpapasan dengan Luhan di tangga, sepertinya dia baru saja dari kamar Sehun.
Luhan hyung adalah laki-laki. Seorang suami yang berhak mendapatkan apa yang seharusnya di dapatkan seorang suami, jika pada nyatanya kau tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan, maka dia akan menuntut. Tapi pada nyatanya kau bukan tidak bisa, tapi tidak mau.
Ketika tiba-tiba mata mereka jatuh pada titik yang sama dan beradu untuk sesaat, di saat itu semburat merah di wajah Baekhyun terbit. Seakan seluruh darahnya terpompa dan berhenti di kepala. Maka karena itulah Baekhyun memalingkan wajah. Memutuskan terlebih dahulu kontak tersebut.
"Kau sakit? Wajahmu tampak merah?." Tanya Luhan heran.
"Ani, aku hanya… Baekhyun kesulitan melanjutkan, gugup sekali tiba-tiba, kalimat Daehyun yang masuk dan teringat kenapa menjurus pada hal yang vulgar. "Aku hanya merasa panas." Dan berlalu begitu saja. Baekhyun butuh mandi air dingin agar menjernihkan pikiran. Baru setelah itu memikirkan ulang perkataan Daehyun.
Setelah Baekhyun menghilang di telan lorong, Luhan menyenderkan tubuhnya pada pegangan tangga. Menyunggingkan sebuah senyuman. "Jadi karena ini Busan Wonbin begitu mudah di tembus? Tunggu dan lihatlah Byun, kau akan tahu, dengan siapa kau berhadapan."
…
Luhan kembali kekamar Minseok, ia tertidur meringkuk, hal yang selalu di lakukan jika dia belum tidur, mungkinkah Minseok belum tertidur? Atau terbangun? Di sentuhnya punggung sempit itu perlahan dan benar Minseok bergerak, menolehkan wajahnya yang matanya memerah. Minseok pasti terbangun.
"Lu-sajang."
"Hmm"
Tangan dengan jari kecil-kecil itu terulur, meraih jemari Luhan dan menarik lelaki itu mendekat. Duduk, Minseok ikut duduk, memeluk Luhan erat-erat. Entah apa maksudnya. Hanya saja Luhan tidak ingin bertanya, tidak ingin menyia-nyiakan hangat tubuh Minseok yang sedang menyamankan diri di peluknya.
"Kau datang? Aku menunggumu. Aku bermimpi buruk." Adunya pada Luhan.
"Mimpi apa? Apa sangat menakutkan?"
"Hmm, dalam mimpiku kau meninggalkanku. Aku hanya ingin kau mengajariku bermain rubik. Tapi kau malah-
Sesuatu yang basah menembus piama Luhan. Di perpotongan lehernya dimana Minseok menempatkan wajahnya, dia meneteskan air mata. Luhan menghela nafas hati-hati. Ini adalah malam dimana Luhan sangat marah pada Baekhyun dan malah melampyaskannya pada Minseok. Luhan benar-benar takut. Jika yang di katakan Changmin akan menjadi kenyataan.
"Malah memarahiku. Aku takut."
"Jangan takut. Aku tidak pernah meninggalkanmu. Kaukan isteriku."
Hening, Luhan membiarkan Minseok menumpahkan semua yang memenuhi hatinya, biarlah, meski semalaman dia tidak tidur lagi, asal Minseok bisa merasa lebih baik, maka tidak ada yang lebih penting selain itu.
Tapi, lama-lama seperti dengan posisi seperti itu pegal juga, punggungnya ingin bersandar rasanya. Bagaimana caranya membiarkan Minseok berbaring ya? Dan jawabanya di temukan. Kotak rubik yang waktu itu ia letakan ternyata belum tersentuh, masih dalam posisi terakhir.
Sedikit mengulurkan tangannya, Luhan mengambil. Mengusap sebentar punggung si mungil lalu berucap. "Mau ku ajari mainnya?"
"Mwonde?" jawaban itu teredam pundak Luhan, tapi masih cukup untuk di dengar.
"Memainkan ini. Apa kau yang membuatnya menjadi brantakan?"
Sedikit Minseok menjauh. Memberikan jarak antara dirinya dan Luhan, sehingga bisa melihat apa yang ada di tangan Luhan.
"Aku tidak bisa menyusunnya."
"Aku sudah tau. Kemarilah." Luhan terkekah, sembari menyenderkan dirinya di kepala ranjang, Luhan menepuk dadanya, meminta Minseok bersandar disana.
"Aku hebat dalam hal ini. Mau seberapa cepat, yeobo?" selesai Luhan bertanya. Minseok malah mendongak, lalu mengulurkan tangannya, melingkari perut Luhan dan memeluknya. "Jangan terlalu cepat." Luhan terkekah, saat Minseok menggesekan wajahnya di dada Luhan.
"Wae? Apa kau berfikir kalau ini cepat selesai aku akan pergi?"
"Hmm, jangan terlalu cepat."
"Geurae, arraseo."
…
Luhan membuat keributan di sekolah, menggunakan kalimat sang ibu, yang membuat Youngjae terlihat begitu cemas.
Yang dilakukan sekarang pasti bukan sesuatu yang tidak direncanakan.
Jika memang Luhan sudah merencanakan segalanya dan apa yang di lakukan memang sesuatu hal yang sengaja? Maka Luhan memang sudah tahu. Tahu jika Youngjae akan bereaksi demikian. Jika memang benar. Bagaimana Luhan tahu? Dan sejauh mana? Apa Luhan memata-matainya selama ini? Tapi bagaimana? Tidak ada orang Luhan di sekitarnya selama ini? Atau salah satu dari orangnya adalah orang Luhan? Atau mereka ada yang berhianat darinya.
Sebanyak apapun Baekhyun memikirkan, semua hanya mengambang. Tidak menemukan jawaban. Pun, pembicaraannya dengan Daehyun tidak membantu.
"Aku ingin Youngjae menjauhimu?"
Kalimat itu tentu saja, sudah di prediksi. Baekhyun tahu sekali kalau Daehyun begitu menentang Youngjae menjadi orangnya. Meskipun tidak ada sedikitpun niat Baekhyun ingin menaruh isteri sepupunya dalam bahaya, Baekhyun tidak sejahat itu.
"Seharusnya tidak usah kau katakan. Apa kau tahu apa yang Luhan lakukan hari ini?"
Daehyun tidak bergeming. Duduk dengan tenang namun alisnya menaut, mengisyaratkan kata apa tanpa suara. Luhan melakukan sesuatu.
"Noona takut?"
Pertanyaan yang seharusnya Daehyun tahu jawabannya. "Kau tahu, aku ketakutan sepanjang hidupku. Kau pikir hanya dengan aku sendiri aku bisa menang melawan Luhan. Aku tidak bodoh, karena itulah aku-
"Luhan hyungpun tidak bodoh. Itulah kenapa aku melarang Youngjae, tidak mau dia ikut dalam masalah mengerikan ini. Noona seharusnya menjadi yang paling mengerti Luhan hyung, yang dilakukan sekarang pasti bukan sesuatu yang tidak direncanakan.
"Apa maksudmu?"
"Noona masih tidak tahu? Jika noona mengumpulkan semua antek agar bisa membantumu melawan. Luhan hyung juga melakukan apa yang kau lakukan. Luhan hyungpun sama."
Benar, seharusnya Baekhyun tahu. Tapi selama ini tidak terfikirkan olehnya.
"Jika akhirnya Luhan hyung menemukan apa yang menjadi kelemahan lawannya, maka di saat itulah dia menyerang. Memang sudah di rencanakan. Dan satu lagi. Luhan hyung adalah laki-laki. Seorang suami yangberhak mendapatkan apa yang seharusnya di dapatkan seorang suami, jika pada nyatanya kau tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan, maka dia akan menuntut. Tapi pada nyatanya kau bukan tidak bisa, tapi tidak mau."
"Karena aku tidak mencintainya."
"Kau yang terlalu egois. Mungkin sebenarnya kau tidak sekejam ini. Tapi kau sangat egois. Mungkin kau memang sang nyonya, tapi bukan sang ibu. Sebesar apapun kau mengendalikan sang tuan, pengaruhnya tidak akan sebesar sang ibu."
"Ini diluar dari apa yang kita bicarakan tuan Jung. Dan kenapa kau berkata seakan kau mengetahui jalan pikiran Luhan?"
"Mungkin Minseok hanya gadis biasa yang awalnya kalian gunakan hanya untuk pemuasan dan untuk keturunan. Dan disitulah kesalahanmu. Keegoisanmu yang tinggi. Ingin melindungi cintamu sampai membuat orang yang mencintaimu menjadi penjahat. Tidakkah ini seperti senjata makan tuan. Memberi apa yang tidak kau beri dan tidak meminta seperti yang kau minta. Dan laki-laki mana yang tidak akan berpaling."
"Kalau Luhan memang mencintaiku. Dia tidak akan menuruti hal gila itu. Jadi jangan bicara omong kosong."
Daehyun tersenyum miring, memalingkan wajahnya lalu mendengus. Terlalu banyak yang sudah ia katakan tapi terlalu sedikit yang di dengarkan. Setelah itu dia berdiri, berjalan menuju meja kerja dan mengambil sesuatu dari dalam laci.
"Ini, ini adalah bantuan terakhir yang bisa kuberikan. Luhan hyung bukan tandinganku. Meski aku akan lakukan apapun untuk Youngjae jika dia menjadi umpannya. Maka kuharap disanalah noona menyisihkan egomu. Mau membantuku, menolongku. Karena aku tahu, noona bukan orang jahat."
…
Permainan rubik terlama yang pernah Luhan lakukan. Hampir satu jam, dan ketika dia selesai, si pengamat yang sedari tadi melihat malah sudah terlelap. Tidur dengan kepala bersandar nyaman di dadanya. Tangannya yang awalnya memeluk erat sudah melemas.
Dengan perlahan dan hati-hati Luhan meletakan kepala Minseok di bantal. Menaikan selimut setinggi dada, mengecup keningnya dan dia menuju sisi ranjang, tertidur dengan posisi miring menghadap Minseok, mengamati dari samping simungilnya.
"Kau sudah tumbuh dewasa. Rasanya baru kemarin kita saling mengenal."
"Anyeonghaseo Kim Minseok imnida."
"Jadi kau yang namanya Minseok?"
"Ne Minseokieyo"
"Kau bohong ya? Minseok manamungkin dirimu. Minseok yang di ceritakan oleh Lee-saem itu pandai menari. Kau yakin?"
Bibir marmut itu mengerut dan maju beberapa senti, lucu sekali. "Ahjussi menghinaku ya? Karena aku gendut? Meskipun aku gendut aku bisa menari dengan baik."
Luhan terkekah, mengingat kejadian, ketika Minseok dan dia hanya sebatas mengenal, mengagumi kelucuan dan kepintaran Minseok dalam berbagai hal. Jika Minseok tidak terjebak dengan Luhan, mungkin dia saat ini sudah sangat terkenal. Minseok anak yang sangat multi talenta. Dan merupakan anak kesayangan di perusahaan. Meski dulu Minseok tidak memiliki tubuh yang seharusnya seorang idol miliki, namun namanya menjadi yang teratas yang akan di debutkan. Minseok siap debut dulu, untuk sebuah proyek girl group yang berkonsep anak-anak.
Tapi mimpi itu kandas. Bersamaan dengan hidupnya yang harus terenggut, rela tersembunyi dan di anggap mati. "Aku akan kembalikan kehidupanmu yang sesungguhnya sayang. Tunggulah sedikit lebih lama. Akan ku pastikan kau dapatkan balasan atas segala yang sudah kau alami."
…
Ahn Jaehyo
Kim Youngwoon
Mata Baekhyun terbelalak. Membaca lembaran bertumpuk empat berisi data lengkap Jaehyo yang sidang dicarinya. Yang baru saja di dapatnya dan semua itu di dapat dari Daehyun. Lengkap, benar-benar lengkap. Bahkan sampai hubungan pertemanan, pertemanan dengan Luhan, pertemanan yang tidak di ketahuinya karena merupakan nama asing, tapi yang begitu mengagetkan adalah, nama yang ada di kotak ke-empat dalam daftar.
Kim Jongdae?
Maka hanya satu nama yang terlintas dalam pikirannya.
Park Chanyeol.
Dengan tergesa, Baekhyun mengambil ponselnya. Menekan beberapa nomor dan menempelkannya di telinga.
…
Sehun terbangun kembali di tengah malam, tiba-tiba tidurnya terasa tidak nyenyak. Dan pikirannya tiba-tiba tertuju pada amplop coklat yang di berikan ayahnya tadi. Dengan kesadaran yang seakan sepenuhnya kembali, Sehun menyibak selimut. Berjalan menuju meja belajar dan mengambil aplop tersebut dari laci.
Di buka dan di tebar, satu tumpuk ada enam lembar. Lembar pertama adalah lembar profil lengkap Choi Taemin, lembar kedua data diri suami dan anaknya, lembar tiga empat adalah pengalaman kerja, lembar ke lima adalah data orang tua. Dan yang terakhir adalah data kakaknya – Kim Jongdae.
Tidak ada yang menarik, menurutnya dan setelah melemparkan lagi ke meja, sesuatu terasa menganggu, seperti ada yang salah. Kim Jongdae?
Kim Jongdae?
…
Panggilan terputus dari sebrang, benda kotak itu di letakan di tempat semula. "Apa maksud segalanya?" tanyannya dalam kebingungan.
…
To Be Continue…
…
Note*
Aku gak tahu banyak tentang Hacker atau Hacking. Tapi aku sangat menyukai komputer. Aku pernah baca novel tentang hacker dan hacking, itu keren banget. Dan belakangan aku belajar tentang Deep Web. Sebagai ilmu karena seperti yang di katakan di google, disana tmpat dimana para hacker bertebaran. Aku tertarik banget. Dan kalo pembahasan ku di chapter sebelumnya agak aneh dan sotoy, mohon maklumi.
…
Thanks To – semua readers-nim. Yang udah mau meluangkan waktunya buat baca Fanfiction abal ini. Maaf kalo bahasanya berbelit dan sulit dipahami, maaf kalo makin muter-muter dan gak nyambung. Maaf gak bisa bales satu-satu. Tapi aku tetep memohon, tinggalkan jejak setelah membaca. Karena dengan Review adalah cara kita melestarikan fanfic XiuHan/Lumin, dan bentuk penghargaan buat author. Ini kata-kata author yang FFnya sering ku baca. Hehe. Soalnya kata-katanya bagus jadi aku copy.
…
Sesuai janji, setelah UN aku update. Sekarang sampai pengumuman aku free dan Chapter 12nya dalam pengetikan.
…
Review Juseyooo. Buing Buing.
