Chapter 11
warn: typos/ gaje/woman rape man/ rate: M for language and lemon/ mohon maaf apabila cerita agak melenceng dari summary-nya(maybe). Newbie author/NOT FOR UNDER 21 YEARS OLD, and etc
Summary: "Kehidupan bahagia Naruto bersama 7 istrinya yang sudah berlangsung selama 13 tahun harus berantakan karena sebuah masalah baru yang menimpa Naruto. Kali ini masalah tersebut jauh lebih ekstrem dari sebelumnya. Kira-kira apa masalah baru yang menimpa Naruto kali ini?"
Perubahan usia chara:
Naruto: 20 tahun
Konan: 22 tahun
Yugao: 23 tahun
Tayuya: 20 tahun
Shizuka: 20 tahun
Guren: 22 tahun
Hinata: 20 tahun
Hanabi: 18 tahun
Kaguya: 22 tahun
Sara: 20 tahun
The owner of Naruto is Masashi Kishimoto
Let the story begin...
Di dalam kamar tempat Naruto dirawat saat ini...
Terlihat dua perempuan dengan paras yang cantik terlihat saling diam satu sama lain. Sepertinya kedua perempuan berparas cantik tersebut sedang sibuk dengan apa yang mereka pikirkan saat ini.
Srettt
Beberapa saat menunggu, pikiran mereka langsung buyar saat mereka mendengar suara pintu kamar tempat mereka menunggu dibuka oleh seseorang.
"Naruto kun, kau kemana-saja..." Ucap seorang perempuan cantik dengan surai merah saat telinganya mendengar suara pintu yang terbuka. Akan tetapi nada ucapan perempuan berparas cantik tersebut terdengar semakin pelan saat mendekati akhir kalimatnya.
"Maaf anda berdua ini siapa ya?" Tanya seseorang yang baru saja membuka pintu yang tidak lain adalah seorang perawat bergender perempuan dengan paras yang terbilang manis. Sepertinya perawat tersebut akan melakukan check up pada pasien yang seharusnya berada di dalam kamar tersebut. "Apakah anda berdua adalah saudara atau teman perempuan cantik bersurai kuning yang menghuni tempat ini?" Lanjut perawat bergender perempuan tersebut bertanya pada dua perempuan yang berada di dalam kamar tersebut.
"Hah? Jadi anda belum tahu siapa sebenarnya penghuni kamar-" "Kami adalah teman onna tersebut." Ucapan perempuan bersurai merah yang hendak memberitahu siapa sebenarnya Naruto langsung dipotong cepat oleh perempuan cantik bersurai putih yang terlihat sedang duduk di samping kasur.
"Kaguya san, mengapa kau memotong-" "Jika boleh saya tahu, bagaimana keadaan onna tersebut sebelumnya?" Lagi-lagi, perempuan cantik bersurai putih tersebut yang tidak lain adalah Kaguya memotong kalimat yang akan dilontarkan oleh perempuan cantik bersurai merah yang sedang berdiri di dekatnya.
"Um..." Setelah mendapat pertanyaan tersebut, perawat perempuan berparas manis tersebut terlihat memasang pose berpikirnya. Sepertinya perawat tersebut mencoba mengingat-ingat bagaimana keadaan pasien yang sempat membuat heboh seantero rumah sakit tersebut.
Kaguya dan seorang perempuan cantik bersurai merah aka Sara, terlihat sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut perawat berparas manis tersebut.
"Sepertinya kondisi onna tersebut baik-baik saja sejak dia mulai datang ke rumah sakit ini." Ucap perawat tersebut setelah berhasil mengingat bagaimana kondisi Naruto sebelumnya. "Akan tetapi, waktu itu fisiknya terlihat dalam keadaan lemah. Dan selain itu dia sebenarnya baik-baik saja." Lanjut perempuan tersebut menjelaskan.
"Oh... Begitu ya..." Ucap Kaguya sambil memegang dagunya. "Lalu apakah anda tahu dimana kami bisa menemuinya?" Lanjut Kaguya bertanya pada perawat yang mengenakan sebuah tag name bertuliskan Naomi tersebut.
"Barusan saya mau bertanya hal serupa pada anda." Ucap Naomi sambil mengangkat sebelah alisnya. "Sebenarnya saya datang kemari untuk melakukan check up pada onna cantik tersebut. Dan kukira kalian berdua tahu dimana dia saat ini." Lanjut Naomi panjang lebar menjelaskan apa maksud kedatangannya ke kamar Naruto.
'Naruto kun...' Panggil Kaguya dalam hati dengan nada yang terdengar khawatir. 'Apa jangan-jangan dia pergi dari rumah sakit untuk mencari Messiah?' Lanjut perempuan tersebut dengan nada yang sama. Akan tetapi di kalimat keduanya ini terdengar ada nada khawatir yang sangat kental disana.
'Naruto kun, sebenarnya dimana dirimu saat ini?' Ucap Sara yang ternyata mengkhawatirkan keadaan perempuan bersurai kuning selutut tersebut.
Sementara itu di sebuah tempat yang terlihat gelap dan banyak barang-barang tidak terpakai...
Terlihat seorang perempuan cantik sedang berdiri dengan wajah panik. Mulutnya terlihat dibungkam oleh seseorang di belakangnya. Lalu tangan serta tubuhnya dipeluk dengan sangat kuat oleh seseorang yang sedang membungkam mulutnya. Iris biru perempuan cantik tersebut terlihat memancarkan ketakutan bercampur rasa panik.
"Ma-maafkan aku, Na-Naruto..." Ucap seorang perempuan yang sedang membekap perempuan lain yang ada di depannya. "Ta-tapi entah kenapa aku begitu menginginkan dirimu~" Lanjut perempuan yang sedang membekap Naruto dengan nada suara yang berubah erotis dan sexy.
Ternyata perempuan yang sedang terbungkam tersebut tidak lain adalah seseorang yang keberadaannya sedang dikhawatirkan oleh dua orang perempuan berparas cantik tadi.
"Hmmm... Hmmm..." Gumam Naruto tidak jelas sambil berusaha meronta-ronta dari pelukan perempuan yang ada di belakangnya. Sepertinya arti gumaman dari perempuan bersurai kuning selutut tersebut adalah sebuah permohonan agar orang yang sedang menahannya mau melepaskannya.
Naruto terus meronta-ronta di dalam pelukan perempuan di belakangnya. Sepertinya perempuan tersebut tidak mau menyerah untuk berusaha melepaskan diri dari seseorang yang ada di belakangnya.
"A-aku akan melepaskan bekapanku, dengan satu syarat..." Ucap perempuan yang sedang membekap Naruto.
Naruto yang mendengar hal itu hanya bisa diam dan mulai berhenti meronta. Akan tetapi iris biru perempuan cantik bersurai kuning selutut tersebut masih terlihat bergetar. Mungkin perasaan panik yang ia rasakan masih belum mereda.
Setelah beberapa saat diam untuk memikirkan kalimat perempuan yang ada di belakangnya, akhirnya Naruto memutuskan untuk menganggukkan kepalanya.
Perempuan yang ada di belakang Naruto akhirnya langsung melepaskan tangannya yang menutup mulut Naruto. Akan tetapi tangan yang sedang menahan tubuh Naruto tidak dia lepaskan.
"Ten-Tenten chan, bisakah kau melepaskan pelukan tanganmu dari tubuhku? Ju-jujur saja, ak-aku bisa merasa agak ke-kesulitan bernafas." Ucap Naruto yang masih merasakan pelukan erat dari perempuan di belakangnya.
Ternyata perempuan yang berada di belakang Naruto saat ini adalah Tenten.
"Maaf Na-Naruto kun..." Ucap Tenten tanpa melonggarkan pelukan tangannya dari tubuh langsing Naruto. "Akan tetapi aku tidak mau melepaskanmu begitu saja~" Lanjut Tenten dengan nada yang terdengar seperti perempuan saat horny.
"Me-memang, ka-kau mau apa Ten-Tenten chan?" Tanya Naruto lagi dengan nada tergagap saat mendengar nada horny Tenten barusan sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan wanita bercepol dua tersebut yang sangat erat.
"Se-sebenarnya, ak-aku horny karena melihat senyumanmu tadi saat di depan ruang gawat darurat~" Jawab Tenten dengan nada horny bercampur malu-malu. "Dan-dan sekarang ak-aku ingin ka-kau me-memuaskanku~" Lanjut Tenten sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ta-tapi bagaimana jika sampai Lee tahu?" Tanya Naruto takut-takut.
"Ja-jangan pikirkan so-soal Lee, Naruto kun~" Jawab Tenten dengan nada yang semakin tidak karuan. "Po-pokoknya in-ini semua salahmu. Dan-dan kau yang harus bertanggung ja-jawab~" Lanjut Tenten dengan nada tergagap.
'Cih, dasar sial!' Ucap Naruto merutuki dirinya dalam hati. 'Andai saja aku tidak tersenyum padanya dan menjelaskan siapa diriku, pasti ini semua tidak akan terjadi.' Lanjut Naruto sambil mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
Flashback start...
Di depan pintu ruang gawat darurat...
Terlihat seorang perempuan cantik bersurai kuning selutut sedang berdiri. Wajah cantik perempuan tersebut terlihat sudah tidak sabaran.
"Kenapa terasa lama sekali?" Tanya perempuan tersebut yang tidak lain adalah Naruto pada dirinya sendiri. "Apa Chojuro san memang terluka separah itu?" Lanjut tersebut masih bertanya pada dirinya sendiri.
"Onna san, apa yang anda lakukan disini?" Tanya seorang wanita cantik bercepol dua pada Naruto yang sedang berdiri di depan pintu ruang gawat darurat. "Apakah anda sedang menunggu seseorang?" Lanjut wanita cantik tersebut bertanya pada Naruto.
"Eh?!" Naruto yang terkejut langsung refleks menolehkan kepalanya ke asal suara barusan. Iris birunya melihat Tenten sedang berdiri di belakangnya sedang memandangnya dengan pandangan penasaran. "Eh... Ettooo..." Naruto langsung gelagapan saat ia mengingat pertanyaan yang dilontarkan wanita bercepol dua tersebut.
"Atau sedang tersesat onna san?" Ucap Tenten melontarkan pertanyaan kembali.
"Eh... I-iya. Se-sepertinya aku tersesat." Ucap Naruto sambil cengengesan dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Wajah manis Tenten langsung memerah saat melihat senyuman Naruto barusan. Entah kenapa wanita berparas cantik tersebut langsung merasakan gejolak di dalam hatinya saat ia melihat senyuman manis(cengengesan) milik Naruto.
"Ma-mari biar ak-aku antarkan kau ke-ke kamarmu..." Ucap Tenten sambil memalingkan wajah cantiknya lalu berjalan menjauh dari depan pintu ruang gawat darurat.
"Hah..." Naruto langsung menghela nafas panjang saat ia mendengar ucapan wanita cantik bercepol dua tersebut. 'Kenapa aku harus bilang jika aku sedang tersesat?' Ucap Naruto dalam hati sambil melangkahkan kakinya untuk menyusul Tenten yang sudah berjalan lebih dulu.
'Kenapa tiba-tiba, aku merasa horny seperti ini?' Tanya Tenten dalam hati sambil menundukkan wajahnya yang ia rasakan semakin memanas. Saat ini wajah cantik Tenten terlihat sudah terlihat semerah kepiting rebus. 'Tidak mungkin kan aku merasa horny karena melihat senyuman perempuan bersurai kuning itu? Aku kan masih normal.' Lanjut Tenten dalam hati sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Naruto yang melihat gelagat aneh dari Tenten hanya bisa mengangkat sebelah alisnya. Perempuan cantik bersurai kuning selutut tersebut langsung merasakan firasat buruk merayapi hatinya. Akan tetapi Naruto langsung menepis firasat buruk tersebut jauh-jauh.
Dan setelah itu mereka berjalan menyusuri lorong tersebut dengan keheningan menyelimuti mereka berdua. Lagipula kedua perempuan tersebut sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
'Apa aku harus memberitahu Tenten siapa aku sebenarnya ya?' Tanya Naruto dalam hati setelah berjalan beberpaa saat di belakang Tenten dalam keheningan yang menyelimuti mereka berdua.
"Ma-maaf onna san..." Ucap Tenten menggantung sambil menolehkan wajahnya kebelakang. "...A-aku lupa bertanya nomor berapakah kamar tempatmu dirawat?" Lanjut Tenten bertanya tentang sesuatu yang ia lupakan.
"Tenten chan..." Panggil Naruto sambil menatap iris coklat Tenten yang indah.
"Ba-bagaimana kau mengetahui namaku, onna san?" Tanya Tenten gelagapan. 'Perasaan tadi kami tidak melakukan perkenalan, tapi bagaimana dia tahu namaku?' Tanya Tenten dalam hatinya.
"Sebenarnya..." Ucap Naruto menggantung. Sebenarnya ia masih agak ragu untuk memberitahu tentang siapa dirinya pada wanita cantik beriris coklat tersebut.
Tenten yang mendengar ucapan Naruto langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya untuk menatap intens Naruto.
"Sebenarnya aku adalah Naruto, Tenten chan." Ucap Naruto akhirnya setelah diam selama beberapa menit.
"Naruto?" Ucap Tenten sambil mengangkat sebelah alisnya. "Apakah namamu adalah Naruto? Wah... Namamu ternyata sama dengan Hokage kami." Lanjut Tenten dengan nada senang.
"Bukan..." Ucap Naruto sambil menggelengkan kepalanya. "Maksudku adalah aku adalah Naruto. Uzumaki Naruto sang Sichidaime Hokage." Lanjut Naruto menjelaskan.
"Ka-kau bercanda kan, onna san?" Tanya Tenten dengan nada tidak percaya bercampur takut. Sepertinya perasaan horny perempuan tersebut sempat teralihkan untuk sejenak.
"Lihatlah mataku, Tenten chan." Ucap Naruto dengan nada serius sambil memegang kedua bahu wanita bersurai coklat bercepol dua tersebut. "Apakah mataku terlihat sedang bercanda atau berbohong?" Lanjut Naruto bertanya sambil menatap Tenten dengan pandangan serius sekaligus tajam.
Tenten yang ditatap tajam seperti saat ini oleh Naruto malah jadi salah tingkah. Perasaan hornynya malah kembali merayapi dirinya.
"Ha-hai'." Ucap Tenten tergagap karena perasaan hornynya mulai menyelimuti tubuhnya kembali. Bahkan kali ini perasaan tersebut terasa lebih kuat dari sebelumnya.
Wajah cantik Tenten yang awalnya sudah kembali normal, dipaksa memerah kembali saat Naruto menatapnya seperti saat ini.
"Hah..." Naruto langsung menghela nafas lega saat mendengar jawaban Tenten barusan. Setelah itu perempuan cantik bersurai kuning tersebut melepaskan kedua tangannya yang memegang wanita penjual senjata shinobi tersebut.
Tenten langsung mengelus salah satu bahu tangannya yang barusan dipegang Naruto. Ia mengelus pundaknya bukan karena merasakan sakit di bagian itu, melainkan dia merasakan sesuatu yang bisa dibilang, nyaman mungkin?
'Ke-kenapa sentuhan Naruto terasa begitu hangat dan... Nyaman?' Tanya Tenten dalam hati sambil terus mengelus salah satu bahunya yang tadi disentuh tangan Naruto.
"Kau kenapa, Tenten chan?" Tanya Naruto saat melihat Tenten sedang menunduk sambil memegangi salah satu bahunya yang tadi ia pegang. "Ap-apakah bahumu sakit? Ma-maafkan aku jika aku tadi memegangmu ter-terlalu kuat." Lanjut Naruto yang kini malah merasa bersalah pada wanita berparas cantik tersebut.
Tenten yang mendengar ucapan Naruto tidak langsung menjawab pertanyaan perempuan cantik bersurai kuning tersebut. Melainkan dia lebih memilih diam untuk memikirkan sebuah cara untuk memuaskan hasratnya.
Sementara Naruto yang melihat Tenten diam saja malah semakin panik. Sepertinya perempuan tersebut tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini.
"A-aku baik-baik saja, Naruto kun." Ucap Tenten setelah wanita cantik tersebut mendapatkan sebuah ide untuk memuaskan hasratnya.
"Oh... Syukurlah..." Ucap Naruto dengan nada lega sambil mengusap wajah cantiknya.
"Oh ya, tadi kita mau kemana ya, Naruto kun?" Tanya Tenten dengan nada yang dibuat senormal mungkin. Dia berusaha mati-matian untuk tidak mengeluarkan suara erotisnya agar perempuan cantik bersurai kuning tersebut tidak lari darinya.
'Maafkan aku Naruto kun. Aku tidak peduli jika aku dianggap tidak normal, akan tetapi untuk saat ini, aku benar-benar menginginkan dirimu menjadi milikku.' Ucap Tenten dalam hati
"Sebenarnya tadi aku sedang menunggu Sakura yang sedang menangani Chojuro san." Ucap Naruto jujur. "Tapi karena bertemu denganmu aku malah pergi dari depan ruang gawat darurat." Lanjut Naruto dengan sambil mendesah panjang.
"Kalau begitu, mari aku antar kau kembali ke depan ruang gawat darurat." Ucap Tenten menawarkan diri. "Anggap saja ini untuk menebus rasa bersalahku tadi karena sempat tidak mempercayaimu." Lanjut Tenten menjelaskan.
Naruto tidak langsung menjawab ajakan Teten barusan. Perempuan tersebut terlihat berpikir sebelum ia menjawab pertanyaan wanita berparas cantik tersebut.
"Baiklah, jika begitu." Ucap Naruto tanpa curiga sedikitpun.
"Baiklah, mari kutemani kau kesana." Ucap Tenten dengan nada senang sambil melangkahkan kakinya. 'Bagus, sepertinya Naruto kun tidak curiga sedikitpun.' Lanjut Tenten dalam hati sambil tersenyum manis.
Dan setelah itu mereka kedua wanita berbeda usia tersebut berjalan menuju ruang gawat darurat.
"Naruto kun, bisakah kau menemaniku ke kamar mandi?" Tanya Tenten sambil memasang wajah tidak tahan.
"Eh?!" Naruto langsung salting saat mendengar pertanyaan Tenten barusan. Kini perempuan berparas cantik bersurai kuning selutut tersebut langsung bingung mau menjawab apa.
"Hisss... Jangan terlalu lama berpikir, Naruto kun." Ucap Tenten sambil langsung menarik tangan lentik Naruto.
Mau tidak mau, Naruto hanya bisa pasrah saat salah satu tangannya diseret oleh Tenten.
Saat sampai di sebuah perempatan lorong rumah sakit, ada sebuah papan tulisan yang menunjukkan 'Toilet ke =' dan 'Gudang Penyimpanan Barang ='. Bukannya belok ke arah toilet, Tenten malah belok ke arah kiri yang bertuliskan menuju gudang penyimpanan barang.
Naruto langsung merasa aneh saat Tenten menyeretnya bukan menuju toilet, melainkan ke tempat lain.
"Uh... Tenten chan, bukannya toilet menuju kesana ya?" Tanya Naruto saat ia melihat papan tulisan yang berada di perempatan lorong rumah sakit.
Bukannya menjawab pertanyaan Naruto, Tenten malah mempercepat langkah kakinya dan mempererat pegangannya pada tangan Naruto.
"Tenten chan, kenapa kau diam saja? Dan bisakah kau melonggarkan pegangan tanganmu? Kau menggenggam tanganku terlalu kuat, Tenten chan." Ucap Naruto sambil berusaha melepaskan tangannya yang digenggam lebih erat oleh Tenten.
Cklek srettt brakkk tep tep
Saat sudah sampai di depan pintu pemyimpanan barang, Tenten langsung membuka pintu tersebut dan memasukkan Naruto kedalam ruangan tersebut. Tubuh Naruto langsung menghempas tembok tempat penyimpanan barang tersebut. Akan tetapi saaat perempuan cantik bersurai kuning selutut tersebut akan mengeluarkan protesan, tiba-tiba Tenten langsung berpindah kebelakangnya lalu memeluknya dan membkeap mulutnya dengan sangat kuat.
Flasback end...
"Ten-Tenten chan, ku-kumohon padamu jangan lakukan ini..." Ucap Naruto memohon pada Tenten. Dia sangat berharap wanita bersurai coklat tersebut akan membatalkan niatnya setelah mendengar permohonannya.
"Tidak akan!" Ucap Tenten dengan nada yang tegas dan tidak menerima penolakan apapu dari perempuan yang sedang ia tahan saat ini. "Ak-aku jadi seperti ini ka-karena dirimu. Ja-jadi kau harus bertanggung jawab." Lanjut Tenten menjelaskan alasannya mengapa ia tidak mau melepaskan perempuan yang ia tahan saat ini.
"Ta-tapi Tenten chan, ba-bagaimana jika a-ada orang lain yang tahu?" Tanya Naruto yang masih mencoba mencari celah.
"Aku tidak peduli." Ucap Tenten sambil menarik kebawah celana pasien yang sedang di kenakan Naruto saat ini menggunakan salah satu tangannya. Sepertinya wanita bersurai coklat tersebut sudah tidak bisa menahan hasratnya lebih lama lagi.
Naruto yang merasakan celananya ditarik kebawah oleh Tenten langsung menutup kelopak matanya rapat-rapat. Sementara Tenten yang menjadi pelaku penarikan celana tersebut langsung membelalakkan matanya saat melihat apa yang ada di antara selakangan Naruto.
"Se-sebenarnya kau ini apa, Na-Naruto kun?" Tanya Tenten yang terkejut bukan main saat melihat ada alat kelamin pria di antara selakangan Naruto.
"Ak-aku sendiri-hiks... TI-tidak tahu hiks..." Ucap Naruto sambil mulai terisak. Kini air mata perempuan cantik bersurai kuning tersebut sudah membasahi pipinya yang memiliki kulit tan mulus.
"I-ini..." Ucap Tenten menggantung saat salah satu tangannya yang saat itu sedang meraba area selakangan Naruto merasakan sesuatu yang menurutnya tidak asing.
"Ah~ Ah~ Ten-Tenten chaaannnn~ Ja-jangan la-lakukaaaannn~ hal ituuuhhh~" Ucap Naruto diselingi desahan saat wanita cantik bersurai coklat yang ada di belakangnya menggosok daerah kewanitaannya. Naruto berusaha mati-matian untuk menahan desahan yang keluar dari mulutnya saat ia merasakan vaginanya digosok Tenten barusan.
"Ternyata benar, ini vagina..." Ucap Tenten dengan nada kagum sambil terus menggosok vagina Naruto yang semakin basah.
"Ah~ Ah~ Ah~ Ah~ Ah~" Naruto semakin mendesah tidak karuan saat tangan Tenten semakin gencar menggosok vagina miliknya.
Sementara Tenten yang mendengar desahan-desahan sexy dari Naruto merasa hasratnya semakin membludak dan tidak terkendali. Perempuan tersebut semakin mempercepat tempo gosokannya pada vagina perempuan berparas cantik yang tubuhnya sedang ia peluk saat ini.
"Bagaimana, Naruto kun?~ Apakah ini nikmat?~" Tanya Tenten dengan nada menggoda perempuan cantik bersurai kuning tersebut.
"Ah~ Ah~ Ha-Haiiiihhhh'~ Ahhh~" Ucap Naruto yang sepertinya sudah kehilangan akal sehatnya. Sepertinya akal sehat Naruto sudah menghilang karena kenikmatan yang dirasakan tubuhnya saat ini.
"Ah~ Ah~ Ah~ AHH-HMPPPHHH..." Suara desahan Naruto yang hampir mencapai puncaknya langsung berubah menjadi gumaman lalu terputus. Itu karena tangan Tenten yang sejak tadi menggosok vagina Naruto, tiba-tiba berhenti lalu berpindah masuk kedalam mulut Naruto yang hampir mengerang karena mencapai klimaks.
"Hmmppphhhh hmmmppphhh, hmpppphhh?" Gumam Naruto tidak jelas yang sepertinya adalah sebuah pertanyaan yang ia lontarkan pada perempuan yang sedang memanjakannya. Akan tetapi bisa terdengar nada kecewa dari gumaman Naruto barusan.
"Tenang saja, Naruto kun~" Ucap Tenten seolah mengerti dengan gumaman kecewa dari Naruto sambil menarik tangannya keluar dari mulut perempuan cantik bersurai kuning yang masih ia tahan. "Ini akan jauh lebih nikmat~" Lanjut Tenten dengan nada menggoda.
Naruto yang tidak mengerti dengan maksud Tenten hanya bisa mengangkat sebelah alisnya saat ia merasakan pelukan Tenten pada tubuhnya mulai lepas. Akan tetapi ia sudah tidak berniat untuk kabur lagi dari wanita berparas cantik tersebut.
Slurrrppp
"AHHHHH~" Naruto langsung mendesah sedikit keras saat ia merasakan ada sesuatu yang lembut dan lentur sedang memasuki vaginanya.
Ternyata ini maksud Tenten. Kini wanita cantik tersebut sudah berjongkok di belakang Naruto sambil menjilati vagina perempuan cantik bersurai kuning tersebut.
"Ah~ Ah~ Ah~ Ten-Tenten chan~ Ja-Jangan hi-hisap ter-terlalu kuaaatttt Ah~" Ucap Naruto saat Tenten menghisap vaginanya dengan kuat.
Akan tetapi jilatan dan hisapan Tenten pada vagina Naruto masih terus berlanjut. Bahkan jilatan Tenten semakin menggila saat wanita berparas cantik mendengar desahan Naruto.
Setelah beberapa saat menjilat, mata coklat Tenten langsung yang sedang fokus pada vagina Naruto mencoba melihat apa yang terjadi pada penis perempuan tersebut.
Iris coklat Tenten langsung membelalak saat ia melihat penis Naruto sudah ereksi dan ukurannya sangat besar.
'Besar sekali...' Ucap Tenten yang terkejut bercampur kagum saat melihat ukuran penis Naruto yang sudah ereksi seperti sekarang.
"Ah~ Ah~ Ah~ AAAHHHH~" Naruto langsung melenguh kenikmatan saat perempuan bersurai kuning tersebut berhasil mencapai puncaknya.
Tenten yang melihat cairan cinta Naruto mengalir keluar dari vaginanya langsung menghisap dan menelannya tanpa sisa sedikitpun.
"Hah... Hah... Hah..." Naruto langsung terengah-engah setelah ia mencapai klimaks pertamanya barusan. Perlahan akal sehat perempuan tersebut mulai kembali menghampiri dirinya.
"Apakah itu sudah cukup-" Srettt "Hmppphhh hmppphhh..."
Tanpa membiarkan Naruto beristirahat, tiba-tiba Tenten langsung membalikkan badan perempuan tersebut lalu menciumi bibirnya dengan ganas. Sehingga pertanyaan yang akan dilontarkan Naruto langsung terputus.
Tenten langsung melesakkan lidahnya untuk mengobrak abrik isi mulut Naruto yang tanpa pertahanan. Sepertinya wanita cantik bersurai coklat tersebut semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
Salah satu tangan Tenten langsung memainkan buah dada Naruto yang proporsional, sementara tangan yang lain langsung menggosok penis Naruto yang masih ereksi secara perlahan.
"Hmppphhhh~ Hmmpppphhh~" Naruto kembali mendesah tertahan dengan mata membelalak saat ia dimanjakan kembali oleh Tenten. Akal sehatnya yang sempat kembali padanya kembali pupus seketika itu juga.
'Sepertinya untuk saat ini aku hanya bisa menikmati sentuhan Tenten chan.' Ucap Naruto dalam hati sambil menutup kedua iris birunya yang sempat membelalak. Sepertinya perempuan berparas cantik tersebut sudah pasrah dengan keadaannya saat ini.
'Apapun yang akan terjadi, aku akan memilikimu meskipun hanya sekali ini saja, Naruto kun.' Ucap Tenten dalam hati saat melihat Naruto menutup iris birunya dan mulai menikmati sentuhan yang ia berikan pada tubuhnya.
Sementara itu di kamar tempat Naruto dirawat...
Terlihat Kaguya dan Sara masih terlihat setia menunggu kedatangan sang pasien yang harusnya berada di dalam kamar tersebut, meskipun mereka berdua sudah menunggu cukup lama.
"Kaguya san, tidak bisakah kau melacak keberadaan Naruto dengan mencari sumber tekanan chakranya?" Tanya Sara dengan nada khawatir pada perempuan cantik bersurai putih panjang yang masih berada di posisi yang sama sejak mereka baru datang tadi.
"Sara chan, ini sudah yang ke 5 kalinya kau menanyakan hal yang sama padaku." Jawab perempuan bersurai putih tersebut yang tidak lain adalah Kaguya. "Dan untuk yang ke 5 kalinya juga, aku tidak bisa merasakan tekanan chakra Naruto kun karena tekanan chakranya saat ini sedang kacau." Lanjut Kaguya menjelaskan mengapa ia tidak bisa mencari Naruto dengan tekanan chakranya.
"Bukannya jika tekanan chakra seseorang sedang kacau, bukannya orang tersebut lebih muda dicari ya?" Tanya Sara yang sepertinya baru sadar akan hal tersebut.
"Hah..." Kaguya hanya bisa menghela nafas panjang saat mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut manis Sara. "Pada umumnya memang seperti itu, Sara chan. Akan tetapi tekanan chakra Naruto kun yang saat ini, itu berbeda dengan tekanan chakra seorang shinobi normal." Ucap Kaguya menjelaskan.
"Apa maksudmu, Kaguya san?" Tanya Sara yang tidak mengerti dengan penjelasan Kaguya.
"Begini, jika aliran chakra Naruto kun sedang kacau, maka seorang ninja sensor pun akan kesulitan untuk mencari keberadaannya. Itu karena tekanan chakra Naruto terasa dimana-mana." Ucap Kaguya menjelaskan sedikit lebih detail tentang aliran chakra Naruto yang bisa terbilang unik tersebut. "Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padanya hingga dia bisa menjadi seperti ini." Lanjut Kaguya.
"Oh... Begitu ya..." Ucap Sara yang sedikit banyak mulai mengerti dengan penjelasan dari Kaguya barusan.
Setelah mendengar ucapan Sara, Kaguya langsung berdiri dari posisi duduknya dan mengalihkan pandangannya ke arah langit melalui jendela yang ada di dalam kamar tersebut.
Wajah cantik perempuan tersebut terlihat sangat serius saat menatap fenomena aneh yang sedang terjadi di langit Konoha saat ini.
'Aneh sekali...' Ucap Kaguya dalam hati sambil terus melihat awan hitam yang berada di atas langit desa Konoha. 'Awan-awan hitam ini seperti tidak bergerak sedikitpun meskipun angin diluar bertiup kencang.' Lanjut perempuan cantik beriris putih tersebut sambil terus memandang langit diluar.
Sementara Sara kembali diam dan tidak mengucapkan apapun lagi. Sepertinya perempuan cantik bersurai merah tersebut sedang mengkhawatirkan keadaan perempuan yang barusan menjadi topik pembicaraan mereka.
Sretttt
Tiba-tiba pintu kamar tempat Naruto dirawat kembali dibuka oleh seseorang. Kali ini seorang wanita bersurai merah muda yang membuka pintu kamar tempat Naruto dirawat.
Akan tetapi perhatian dan pikiran Kaguya atau Sara sepertinya sedang terlalu sibuk untuk menyadari jika ada seseorang yang baru saja membuka pintu kamar tempat mereka menunggu.
"Naruto, ada titipan dari Cho-ju-ro san..." Ucap wanita yang baru saja datang tersebut dengan nada semakin pelan saat mendekati akhir dari kalimatnya.
Sara langsung menolehkan kepalanya saat mendengar suara wanita tersebut. Sementara Kaguya masih fokus pada langit hitam di atas desa Konoha saat ini. Sepertinya perempuan bersurai putih tersebut sudah tahu siapa yang baru saja membuka pintu meski ia tidak menolehkan kepalanya.
"Gomen, sepertinya aku salah masuk kamar." Ucap wanita bersurai merah muda tersebut sambil membalikkan badannya saat melihat dua sosok perempuan berada di dalam kamar Naruto.
"Kau tidak salah masuk kamar, Sakura san." Ucap Kaguya sambil membalikkan badannya yang sejak tadi membelakangi wanita tersebut.
DEG
Jantung wanita yang baru saja datang tersebut serasa langsung berhenti saat ia mendengar suara yang menurutnya tidak asing menyapa indra pendengarannya. Lalu dengan sigap wanita cantik tersebut langsung membalikkan badannya dan sudah memasang kuda-kuda siap untuk bertarung.
"Tidak kusangka kau masih hidup, Kaguya." Ucap wanita cantik bersurai merah muda itu yang tidak lain adalah Sakura.
"Jangan sinis begitu padaku, Sakura san." Ucap Kaguya santai sambil melangkahkan kakinya untuk mendekati wanita bersurai merah muda tersebut. "Aku ada di depanmu saat ini bukan karena aku ingin menghancurkan dunia shinobi seperti beberapa tahun silam." Lanjut Kaguya sambil terus melangkahkan kakinya.
"Jangan main-main denganku!" Ucap Sakura dengan nada tegas sambil melayangkan pukulannya pada perempuan cantik beriris putih tersebut.
Tep
Iris Sakura dan Sara langsung membelalak saat melihat Kaguya hanya menggunakan ujung jari telunjuknya untuk menahan pukulan Sakura barusan.
"Jika aku memang datang untuk menghancurkan dunia shinobi seperti dulu, pastinya aku tidak akan berada di dalam kamar ini, Sakura san." Ucap Kaguya dengan nada tenang sambil menurunkan tangannya dan memasang sikap santai.
"Kalau begitu apa maumu saat ini? Dan bagaimana bisa kau hidup kembali setelah Sasuke kun dan Naruto membunuhmu saat itu?" Tanya Sakura beruntun meminta penjelasan dari perempuan cantik beriris putih tersebut.
"Hah..." Kaguya hanya bisa menghela nafas saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Sakura padanya. "Akan butuh waktu lama jika aku menceritakannya, Sakura san." Ucap Kaguya setelah diam beberapa saat.
"Kalau begitu persingkat saja!" Ucap Sakura dengan nada tegas. Sepertinya wanita cantik tersebut masih tidak percaya jika Kaguya memang tidak memiliki niat jahat seperti dugaannya.
"Begini saja." Ucap Kaguya sambil melakukan handseal panjang yang rumit.
Sakura yang melihat Kaguya melakukan handseal langsung meningkatkan kewaspadaannya.
"Jangan khawatir..." Ucap Kaguya tenang setelah selesai melakukan handseal. "Jutsu ini akan menjelaskan semuanya padamu." Lanjut perempuan cantik bersurai putih tersebut sambil menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya pada dahi Sakura.
Sementara itu di tempat Naruto dan Tenten...
"Ah~ Ah~ Ah~" Terdengar suara desahan dari ruangan tempat Naruto dan Tenten saat ini berada.
Suara desahan tersebut masih keluar dengan leluasa dari bibir manis Naruto yang penisnya sedang dikocok oleh Tenten.
Setelah beberapa saat mengocok, tiba-tiba Tenten langsung menghentikan kocokannya dan langsung melepaskan tangannya yang sedang mengocok penis Naruto.
"Ke-kenapa berhenti, Ten-Tenten chan?" Tanya Naruto dengan nada tergagap. Kini wajah cantik Naruto terlihat lebih menggoda karena wajah cantiknya saat ini sedang memerah padam karena hasrat yang bergejolak pada dirinya.
Akan tetapi Tenten tidak menjawab pertanyaan Naruto. Melainkan dia malah melepaskan semua pakaian yang ia kenakan saat ini hingga akhirnya tubuh indah wanita cantik bercepol dua tersebut terpampang dengan jelas di depan Naruto.
Naruto langsung menelan ludahnya dengan susah payah saat ia tahu apa yang akan dilakukan Tenten selanjutnya. Dan setelah itu Tenten melepaskan semua pakaian yang masih menempel di tubuh Naruto lalu, membaringkan tubuh perempuan cantik tersebut ke atas lantai dengan perlahan.
Entah mengapa, tubuh Naruto serasa lemas dan tidak bisa melawan saat Tenten membaringkannya ke atas lantai dingin ruangan tersebut.
Setelah membaringkan Naruto, Tenten langsung mengarahkan menggesek-gesekkan ujung penis Naruto pada pintu liang vaginanya.
"Ten-Tenten chan, ak-aku tidak mau bertindak lebih ja- Ahhh~" Ucapan Naruto langsung berubah menjadi desahan saat Tenten memasukkan penis Naruto yang masih ereksi kedalam vaginanya yang terbilang cukup sempit tersebut
"Ahhh~ Ahhhhhh~" Sementara Tenten langsung melenguh panjang saat ia berusaha melesakkan semua penis Naruto kedalam vaginanya secara perlahan.
Meskipun mulut Naruto mengeluarkan desahan, akan tetapi air mata Naruto kembali menetes saat ia merasakan penisnya masuk kedalam vagina sempit Tenten secara perlahan-lahan.
'Maafkan aku, Lee...' Ucap Naruto dalam hati dengan air mata semakin deras mengaliri wajah cantiknya saat penisnya semakin memasuki vagina Tenten.
Blesss
"AHHHH~" "AHHHH~" Kedua perempuan tersebut langsung melenguh bersamaan saat Tenten dengan tiba-tiba melesakkan semua penis Naruto kedalam vaginanya dengan sentakan sedikit lebih kuat dari sebelumnya.
"Ah~Ah~" Naruto langsung mendesah tidak terkendali sambil berlinangan air mata saat ia merasakan penisnya dipijat oleh dinding vagina Tenten. Kelihatannya Naruto merasakan perasaan antara rasa bersalah bercampur kenikmatan.
"Ughh~ Na-Naruto kun~" Panggil Tenten dengan nada erotis sambil merem melek saat merasakan penis besar ada di dalam vaginanya. "Pe-penismu~ Be-besar sekaliiihhh~ I-ini bahkan le-lebiiiihhh~ Besaaarrr ketimbang punya Lee kuunnn~" Lanjut Tenten meracau tidak karuan.
Sebenarnya pikiran Naruto menolak semua kenikmatan yang ia terima saat ini. Akan tetapi fisik perempuan tersebut berkata lain.
Setelah mendiamkan penis Naruto di dalam vaginanya selama beberapa saat, akhirnya perempuan bersurai coklat tersebut mulai menaik turunkan pinggangnya dengan tempo lambat.
"Ten-Tenten chaaannn~ Ku-kumohon hentikaaannn~" Ucap Naruto sambil mendesah. Kini wajah perempuan cantik bersurai selutut tersebut terlihat kenikmatan bercampur rasa bersalah luar biasa.
"Ah~ Ah~ Ah~ Ah~" Bukannya menuruti ucapan Naruto, Tenten malah semakin mempercepat tempo naik turun dari pinggangnya.
Naruto berusaha menutup mulutnya rapat-rapat dan memejamkan kedua kelopak matanya. Ia berharap jika ini hanyalah mimpi buruk dan sebentar lagi ia akan terbangun.
Setelah cukup lama menggoyangkan pinggangnya, mulut Tenten langsung kembali meraup bibir Naruto.
"Hmmppphhh~ Hmmppphhh~" Gumam Naruto tidak jelas sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Kedua tangan Naruto yang sejak tadi terkulai lemas di samping tubuhnya kini ia gunakan untuk mendorong tubuh Tenten yang berusaha meraup bibirnya.
Tep tep
Tenten dengan cekatan langsung menggenggam pergelangan kedua tangan Naruto yang berusaha mendorongnya. Setelah itu ia langsung menahan kedua tangan Naruto di atas kepala kuning perempuan tersebut.
"Naruto kun, ayo buka mulutmu~" Ucap Tenten dengan nada manja sambil menghentikan goyangan pinggangnya sejenak dan memandang Naruto dengan pandangan memohon.
Akan tetapi Naruto malah memalingkan wajahnya ke arah lain dan menghindari pandangan Tenten padanya.
Tidak kehabisan akal, Tenten langsung berusaha kembali meraup bibir Naruto yang tertutup rapat. Setelah itu dia menggigit lembut bibir Naruto untuk meminta izin menjelajah isi mulut perempuan cantik bersurai kuning tersebut.
Bukannya membuka akses masuk untuk wanita cantik tersebut, Naruto malah semakin rapat menutup bibir manisnya.
"Ihhh... Naruto kunnn!" Ucap Tenten setelah ia menarik wajah cantiknya menjauh dari perempuan cantik dibawahnya. Kelihatannya wanita tersebut mulai kesal karena Naruto tidak mau memberikan akses masuk untuk lidahnya.
Naruto yang ditatap kesal oleh Tenten kembali memalingkan wajahnya ke arah lain sambil menutup mulut dan kedua matanya rapat-rapat.
Tenten langsung menggembungkan pipinya saat ia melihat reaksi Naruto. Setelah itu, wanita berparas cantik tersebut terlihat memegang dagunya untuk memikirkan cara lain.
"Ah..." Ucap Tenten sambil melepas dagunya setelah dia berpikir selama beberapa saat. Sepertinya wanita berparas cantik tersebut sudah mendapatkan sebuah ide yang bagus agar Naruto mau memberikan akses untuknya.
Setelah itu wanita cantik tersebut kembali meraup bibir Naruto meski sedikit kesusahan karena perempuan cantik bersurai kuning tersebut memalingkan wajahnya ke arah lain.
Setelah berhasil meraup bibir Naruto, wanita cantik bersurai coklat tersebut langsung mengeratkan jepitan vaginanya pada penis Naruto.
"ARGGHHHH-Hmmmppphhh~ Hmmpppphhhh~" Naruto secara refleks langsung membuka mulutnya untuk berteriak saat ia merasakan sakit di penisnya. Akan tetapi teriakan perempuan tersebut langsung berubah menjadi gumaman saat Tenten melesakkan lidahnya kedalam rongga mulutnya dengan gerakan cepat.
Setelah berhasil menjelajah mulut Naruto, Tenten langsung memejamkan kedua irisnya lalu kembali menggoyangkan pinggangnya dengan gerakan yang sangat cepat.
Beberapa saat kemudian...
"Hmmppphhh~ hmpppphhh~" Kedua perempuan cantik tersebut terlihat masih berciuman meski beberapa saat telah berlalu. Gumaman mereka berdua terdengar menggema di dalam ruangan yang berukuran tidak terlalu besar tersebut.
"Hmmmpppphhhh~ hmmmpppphhhh~ HMMMPPPPHHHH~" "Hmmmpppphhhh~ hmmmpppphhhh~ HMMMPPPPHHHH~" Setelah beberapa saat terus menggoyang pinggangnya, akhirnya Tenten mencapai klimaksnya. Otot vagina wanita cantik tersebut langsung menjepit kuat penis Naruto yang masih berada di dalamnya. Selang beberapa detik saja, Naruto langsung ikut mencapai klimaksnya akibat tidak tahan dengan jepitan otot vagina Tenten yang terasa ingin memerah semua sperma yang ia miliki.
"Muaahhhh~" Setelah selesai menikmati detik-detik klimaksnya, Tenten akhirnya melepaskan bibir Naruto yang ia kunci sejak beberapa saat yang lalu.
"Hah... Hah... Hah..." "Hah... Hah... Hah..." Terdengar kedua perempuan berparas cantik tersebut sedang terengah-engah dan berusaha mengatur nafas masing-masing. Seluruh tubuh mereka terlihat dibasahi oleh peluh, sehingga memberikan kesan sexy untuk mereka berdua.
"Uh... Kau perkasa sekali, Naruto kun~" Ucap Tenten dengan nada menggoda perempuan cantik bersurai kuning yang ada dibawahnya. "Bagaimana kalau kita mulai ronde kedua?~" Lanjut Tenten bertanya pada Naruto.
Naruto yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan Tenten barusan, langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Hah..." Tenten langsung menghela nafas kecewa saat melihat gelengan Naruto barusan. Setelah itu ia mengeluarkan penis Naruto yang sudah lemas dari vaginanya dan mulai berdiri kembali.
Naruto yang melihat hal tersebut langsung ikutan berdiri dan mengambil semua pakaiannya. Setelah itu, perempuan cantik bersurai kuning selutut tersebut langsung mengenakan pakaiannya dengan gerakan cepat.
Sepertinya Naruto takut jika nantinya Tenten akan memperkosanya sekali lagi karena ia tidak kunjung memakai pakaian pasiennya yang tadi dilepaskan Tenten.
"Hihihi..." Tenten langsung terkikik geli saat iris coklatnya melihat Naruto yang mengenakan pakaiannya dengan gerakan cepat.
"Ap-apa yang kau tertawakan?" Tanya Naruto dengan nada takut-takut.
"Hihi... Tidak ada... Hihihi..." Jawab Tenten sambil terus terkikik. Sepertinya wanita berparas cantik tersebut mengerti mengapa Naruto memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa.
Setelah memakai seluruh pakaiannya, Naruto langsung mengusap pipinya yang masih terlihat ada bekas air mata dengan gerakan kasar.
"Cepat pakai pakaianmu, Tenten chan." Ucap Naruto sambil memandangi wanita cantik bersurai coklat tersebut. "Aku tidak mau berlama-lama disini." Lanjut Naruto.
"Hai'-hai'." Jawab Tenten dengan nada malas setelah mendengar ucapan Naruto barusan. Setelah itu, wanita cantik tersebut langsung mengenakan pakaiannya yang tadi ia lepaskan dengan gerakan santai.
Beberapa saat kemudian...
"Mari kita keluar dari sini, Naruto kun." Ucap Tenten sambil menggandeng tangan Naruto dengan manja.
"Tenten chan, apa yang kau-" "Biarkan aku menggandeng tanganmu untuk kali ini saja, Naruto kun." Ucapan Naruto yang hendak mengeluarkan protesan langsung dipotong oleh Tenten dengan cepat. Terdengar nada memohon di kalimat yang barusan dilontarkan wanita cantik bersurai coklat tersebut.
"Hah... Baiklah..." Jawab Naruto yang merasa tidak tega untuk menolak permohonan wanita bersurai coklat tersebut.
'Aishiteru, Naruto kun.' Ucap Tenten dalam hatinya. Tanpa sadar wanita cantik bersurai coklat tersebut mengeratkan pegangan tangannya pada tangan lentik Naruto.
Naruto yang merasakan pegangan Tenten menguat hanya diam saja. Dalam hati perempuan tersebut masih merutuki ketidak berdayaannya beberapa saat yang lalu.
Cklek
Setelah itu, Naruto langsung memegang gagang pintu yang ada di depannya menggunakan salah satu tangannya yang bebas.
Duk duk duk
Akan tetapi ada yang aneh dengan pintu tersebut. Pintu tersebut terasa sangat sulit untuk dibuka, seperti ada sesuatu yang menahan pintu tersebut untuk terbuka.
'Perasaan pintu ini tadi tidak macet. Kenapa sekarang macet begini?' Tanya Naruto dalam hati sambil terus mencoba membuka pintu di depannya.
"Ada apa, Naruto kun?" Tanya Tenten pada Naruto yang terlihat kesulitan membuka pintu di depannya.
"Entahlah..." Jawab Naruto sekenanya. "Tiba-tiba pintu ini macet." Lanjut Naruto menjelaskan.
"Hm?" Gumam Tenten sambil mengangkat sebelah alisnya. "Sini biar aku coba." Ucap Tenten meminta izin untuk mencoba.
Naruto hanya mengangguk lalu menyingkirkan tangannya dari gagang pintu tersebut dan membiarkan wanita cantik tersebut untuk mencoba membukanya.
Duk duk duk
Tapi hasilnya masih sama seperti tadi. Pintu tersebut tidak mau terbuka sedikitpun.
"Kenapa tidak mau terbuka? Padahal tadi pintu ini tidak apa-apa..." Ucap Tenten sambil terus berusaha membuka pintu di depannya menggunakan tangannya yang bebas.
"Bagaimana kalau kita dorong secara bersamaan saja?" Ucap Naruto memberi usulan.
"Hm..." Tenten terlihat berpikir terlebih dahulu sebelum akhirnya ia mengiyakan usulan Naruto barusan.
Setelah memberikan jawabannya, Tenten langsung melepaskan tangan Naruto yang sedang ia genggam dengan terpaksa.
Dan setelah itu, kedua perempuan cantik berbeda usia tersebut menempelkan bahu mereka pada pintu, lalu berusaha mendorong pintu tersebut sekuat tenaga mereka.
Kriekkk
Terdengar suara pintu tersebut mulai bergeser secara perlahan setelah mereka berdua bekerja sama untuk mendorongnya.
"Bagus, sedikit lagi..." Ucap Naruto sambil berusaha lebih keras dari sebelumnya. Tentenpun juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan saat ini.
Brakkk
Akhirnya pintu di depan kedua perempuan cantik berbeda usia tersebut bisa terbuka secara sepenuhnya dan menampilkan sebuah pemandangan yang cukup aneh.
"Hah?!" "Hah?!" Naruto dan Tenten langsung terkejut bukan main saat melihat apa yang tadi menahan pintu tersebut.
Ternyata apa yang membuat pintu ruangan Naruto dan Tenten sulit terbuka adalah puluhan orang yang sedang mimisan dengan wajah memerah.
Orang-orang yang sedang mimisan tersebut bukan hanya terdiri dari laki-laki, bahkan ada terlihat beberapa perempuan juga pingsan dengan hidung mimisan.
Sebagian besar dari orang yang pingsan tersebut merupakan perawat rumah sakit desa Konoha, sementara sisanya adalah pengunjung rumah sakit Konoha.
Setelah melihat pemandangan yang terpampang di depan mereka, Tenten dan Naruto langsung saling pandangn satu sama lain sebelum akhirnya mereka berdua pergi dari tempat itu dengan bergandengan tangan.
'Para istriku pasti akan membunuhku jika mereka tahu apa yang aku lakukan dengan Tenten barusan.' Ucap Naruto dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya bersandingan dengan wanita cantik yang ada di sampingnya.
'Naruto kun...' Ucap Tenten dalam hati sambil memandang wajah cantik perempuan bersurai kuning selutut tersebut dengan pandangan intens. '... Aishiteru.' Lanjut tenten masih dalam hati sambil menundukkan kepalanya. Tanpa ia sadari, tangannya yang sedang menggandeng Naruto saat ini mulai bergetar. Dan untuk menutupinya, perempuan tersebut mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Naruto yang sedang ia gandeng.
Naruto yang sedang fokus ke jalan di depannya dan terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, langsung mengalihkan pandangannya ke arah Tenten saat ia merasakan tangan wanita cantik tersebut bergetar barusan. Meskipun hanya sebentar, Naruto masih menyadari getaran tangan wanita cantik disebelahnya tersebut.
'Ada apa dengan, Tenten chan?' Tanya Naruto dalam hati sambil memandang puncak kepala wanita cantik bercepol dua tersebut.
TBC
Kira-kira masalah apa yang akan dibicarakan Kurama kepada Naruto? Lalu bagaimana reaksi Naruto saat mengetahui kedatangan Sara?
Simak terus kelanjutannya minna...
