sassy.chessy present :

A Hunkai Fanfiction

NEVER TOO FAR

Cast : Kim Jongin, Oh Sehun

It's Sequel of Fallen Too Far

Happy Reading!

Fallen Too Far : Chapter 11

"Aku akan bekerja di klub. Kita akan… umm… bertemu di lain kesempatan. Aku bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain tapi aku butuh uang dari klub." Aku menjelaskan hal ini kepada diriku sama seperti aku menjelaskannya pada Sehun. Aku tidak begitu yakin apa yang akanku katakan saat aku muncul disini. Aku hanya tahu bahwa aku harus berhadapan dengannya. Pada awalnya Yuri telah memohon padaku untuk memberitahu Sehun tentang kehamilanku.

Akan tetapi, setelah dia mendengar apa yang sebenarnya terjadi dengan ayahku dan Irene dan ibunya, dia tidak berpihak lagi pada Sehun seperti sebelumnya. Dia setuju bahwa tidak ada untungnya memberitahu Sehun mengenai apapun.

Mengumpulkan keberanian untuk kembali ke rumah ini setelah aku meninggalkannya tiga setengah minggu yang lalu adalah hal yang sangat sulit. Harapanku bahwa hatiku tidak akan bereaksi saat melihat wajah Sehun telah sia-sia. Dadaku mengerut sangat parah sehingga suatu keajaiban bahwa aku masih bisa bernapas. Tidak perlu berbicara. Aku hamil bayinya… bayi kami. Tapi kebohongan. Penipuan. Siapa dirinya. Semua itu telah menahanku untuk mengucapkan kata-kata yang seharusnya dia dengar. Aku tidak bisa.

Itu salah. Aku telah menjadi seseorang yang egois. Aku tahu itu. Itu tidak akan mengubah apapun. Bayi yang aku kandung sekarang mungkin tidak akan pernah tahu tentangnya. Aku tidak bisa membiarkan perasaaanku padanya mengaburkan tujuanku akan masa depanku… atau masa depan anakku. Ayahku, ibunya dan adiknya tidak akan pernah menjadi bagian dari kehidupan anakku. Aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak bisa.

"Tentu saja. Yeah, bekerja di klub akan menghasilkan banyak uang."

Dia berhenti dan menjalankan tangannya di rambutnya. "Jongin, tidak ada yang berubah. Tidak bagiku. Kau tidak butuh izinku. Ini adalah yang benar-benar aku inginkan. Adanya kau disini. Melihat wajahmu. Ya Tuhan, sayang, aku tidak bisa melakukan ini. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak gemetar dengan adanya kau berdiri di rumahku sekarang."

Aku tidak bisa melihatnya. Tidak sekarang. Aku tidak pernah mengira dia akan mengatakan semua hal itu. Percakapan yang kaku dan menegangkan menjadi lebih dari yang aku perkirakan. Itu adalah yang aku inginkan. Hatiku tidak bisa menerima yang lainnya. "Aku harus pergi, Sehun. Aku tidak bisa, aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak masalah dengan adanya diriku di kota ini. Aku akan menjaga jarak."

Sehun bergerak sangat cepat hingga aku tidak menyadari sampai dia berdiri antara aku dan pintu. "Aku minta maaf. Aku mencoba untuk bersikap tenang. Aku mencoba untuk berhati-hati tetapi aku menghancurkannya. Aku akan berbuat lebih baik. Aku janji. Pergilah ke tempat Yuri. Lupakan apa yang baru saja aku katakan. Aku akan bersikap baik. Aku janji. Hanya saja… hanya saja jangan pergi. Tolonglah."

Apa yang akan kukatakan? Dia berusaha membuatku untuk menenangkannya. Untuk meminta maaf padanya. Dia senjata mematikan bagi emosi dan akal sehatku. Jarak. Kami butuh jarak.

Aku mengangguk dan melangkah melewatinya. "Aku akan… umm… mungkin akan bertemu lagi denganmu." Aku berhasil mengeluarkan suara parau sebelum membuka pintu dan melangkah keluar rumah.

Aku tidak menoleh ke belakang tapi aku tahu dia melihatku pergi. Itu satu-satunya alasan aku tidak berlari. Jarak… kami butuh jarak. Dan aku butuh menangis.

Seolah dia tahu kalau aku datang. Aku sudah memutuskan akan langsung pergi ke ruang makan dan mencari Tao. Aku rasa Tao tahu dimana menemukan Mark. Tetapi Mark telah menungguku di pintu saat aku membuka pintu masuk belakang klub.

"Dan dia kembali. Sejujurnya aku mengira kau tidak akan kembali," Mark menggumam saat pintu tertutup di belakangku.

"Mungkin hanya sebentar," jawabku.

Mark berkedip padaku dan menganggukkan kepalanya menuju ruangan yang mengarah ke kantornya. "Ayo kita bicara."

"Oke," aku berkata sambil mengikutinya.

"Yuri sudah meneleponku dua kali hari ini. Dia ingin tahu apakah aku sudah bertemu denganmu. Memastikan kau mendapatkan pekerjaanmu kembali," Mark berkata sambil membuka pintu kantornya dan menahannya supaya aku bisa masuk kedalam. "Yang tidak kusangka adalah telepon yang baru saja ku terima sekitar sepuluh menit yang lalu. Itu mengejutkanku. Dari caramu melarikan diri dari sini tiga minggu yang lalu dan meninggalkan Sehun begitu saja, aku tidak mengira dia akan meneleponku untuk kepentinganmu. Dia tidak perlu melakukannya. Aku sudah setuju bahwa kau akan mendapatkan pekerjaanmu kembali."

Aku berhenti dan melihat ke arahnya. Apakah benar yang kudengar darinya? "Sehun?" Tanyaku, hampir takut bahwa aku berhalusinasi terhadap komentar itu.

Mark menutup pintunya kemudian berjalan dan berdiri di depan mejanya. Dia bersandar pada kayu berkilau yang terlihat mahal itu dan menyilangkan tangannya di depan dadanya. Senyum yang ada sejak aku datang telah hilang. Dia terlihat lebih khawatir sekarang.

"Ya, Sehun. Aku tahu kebenaran telah terungkap. Ravi telah memberitahuku sebagian. Setidaknya hanya yang dia ketahui. Tapi kemudian aku tahu siapa dirimu. Atau yang disangka Sehun dan Irene sebelumnya. Aku memperingatkanmu bahwa Sehun akan memilih Irene. Dia telah memilihnya saat aku memberimu peringatan. Apakah kau benar-benar ingin kembali ke semua ini? Apakah Alabama begitu buruknya?"

Tidak. Alabama tidak seburuk itu. Tetapi berusia sembilan belas tahun dan hamil sendirian tanpa keluarga cukup buruk.

Bagaimanapun hal itu bukanlah sesuatu yang ingin aku ceritakan pada Mark. "Kembali kesini tidak mudah. Melihat… mereka, juga tidak mudah. Tapi aku perlu mengetahui apa yang akan kulakukan selanjutnya. Kemana aku akan pergi. Tak ada yang tersisa bagiku di Alabama. Aku tidak bisa berada disana dan berpura-pura ada yang kumiliki disana. Ini waktunya bagiku menemukan hidup baru. Dan Yuri adalah satu-satunya temanku. Pilihan tempat untukku pergi sedikit terbatas."

Alis Mark bergerak naik. "Ouch. Lalu aku apa? Aku pikir kita teman."

Tersenyum, aku berjalan dan berdiri di belakang kursi di seberang Mark. "Kita teman tapi… bukan teman dekat."

"Bukan karena aku tidak mencoba yang terbaik."

Aku tertawa kecil dan Mark menyeringai. "Senang mendengar itu. Aku merindukannya."

Mungkin kembali tidak akan begitu sulit.

"Kau mendapatkan pekerjaanmu. Itu milikmu. Aku punya masalah dengan para perempuan pembawa minuman dan Tao masih merajuk. Dia tidak akrab dengan pelayan yang lain. Dia juga merindukanmu."

"Terima kasih," jawabku. "Aku menghargainya. Aku ingin jujur padamu. Dalam empat bulan, aku bermaksud untuk pergi. Aku tidak bisa tinggal disini selamanya. Aku punya…"

"Kau punya kehidupan yang harus kau cari. Yah, aku mendengarmu. Rosemary bukanlah tempat untuk menanam akarmu. Aku mengerti. Untuk berapapun lamanya, kau mendapatkan pekerjaan."

End for This Chapter

sassy.chessy