Last update for this week! see you next week, i guess? c:

Disclaimer: check chapter 1 c:


K – Kiss
Summary: "Bukankah manusia selalu mencium satu sama lain jika mereka berterima kasih?"
World: Kinda canon?
Genre: Romance/Friendship
Words: 585

Chung: Base
Eve: Base

.

.

.

Chung memegangi pipinya. Matanya melebar—begitu lebar hingga Eve menduga kalau bola matanya bisa lepas dari tempatnya kapan saja.

Perempuan berambut perak itu memiringkan kepalanya, kemudian menanyakan apa yang terjadi pada laki-laki pirang itu. Menemukan yang di tanya tidak menjawab selama lima menit penuh, Eve hanya mengangkat bahu dan berbalik, hendak meninggalkan Chung sambil memeluk Moby yang baru saja selesai di perbaiki—

"T-Tunggu, Eve!"

Perempuan itu melakukan hal yang di minta Chung, kemudian menoleh kebelakang. Hanya untuk melihat Chung sudah mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah.

Eve pernah mendengar dari Rena—yang saat itu tengah merawat Raven yang sedang demam—kalau wajah memerah merupakan tanda-tanda manusia sedang tidak merasa baikan, bahkan bisa saja mereka terkena penyakit mematikan tanpa manusia itu sadari.

Jadi Eve langsung saja berjalan ke arah Chung, duduk di hadapannya dan menempelkan punggung tangannya di kening laki-laki itu. Justru membuat rona di pipinya memiliki warna yang sama dengan rambut Elsword.

"E-Erm—Eh, Eve? A-apa yang—"

"Kau tidak apa-apa?"

Pertanyaan Eve justru membuat Chung memasang wajah bodoh.

"Maksudku," Perempuan itu memutar bola matanya, seolah tengah menjelaskan tentang kenapa manusia tidak bisa terbang pada seorang anak kecil, "Kau terlihat tidak sehat. Wajahmu merah sekali."

Chung berdeham. Tentu saja, siapa yang tidak akan memerah jika dicium oleh seorang perempuan—oh, dan sudahkah dia bilang kalau orang yang menciumnya adalah orang yang disukai?

Beberapa jam yang lalu, Eve datang kepada Chung untuk meminta pendapatnya tentang keadaan Moby. Nasod drone yang disebutkan entah mengapa terlihat memproses perintah Eve lebih lambat dari biasanya ("Terlambat sepersekian detik itu lama sekali," kata Eve). Sebagai salah satu—lebih tepatnya satu-satunya jika Eve tidak dihitung—yang mengerti tentang mesin dan teknologi, Chung memutuskan untuk membantu teman seperjalanan sekaligus orang yang disukainya itu.

Keduanya bersyukur kalau masalah yang dialami Moby bukanlah hal yang besar, dan dalam beberapa menit masalah itu bisa diatasi.

Dan beberapa menit setelah Chung mengumumkan bahwa Moby sudah siap untuk bekerja lagi, bibir sang ratu Nasod langsung mendarat di pipi Chung.

"K-Kenapa k-kau m-m-menciumku?!" Adalah pertanyaan yang meluncur dari bibir Chung setelah beberapa menit berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi, masih berwajah merah dan memerah.

Eve terlihat tersinggung sekarang, dan Chung menelan ludah. Dia tidak bermaksud untuk terdengar ketus ataupun tidak berterima kasih, sungguh!

Namun alasan itu sepertinya tidak diterima oleh sang ratu nasod, yang sekarang terlihat sangat kesal sambil melipat tangan di depan dada dan memalingkan wajahnya. "Aku hanya mencoba berterima kasih." Dia menjelaskan, terdengar begitu kesal. "Rena bilang, jika kita berterima kasih pada seorang laki-laki, kita harus menciumnya di pipi."

Memang Rena. Chung membatin. Mengutuk—sekaligus berterima kasih—pada Elf berambut hijau tersebut.

Chung berdeham, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar tidak menentu, kemudian menjelaskan dengan wajah serius, "Eve, penjelasan Rena tidak terlalu tepat, maksudku—" Dia terlihat kebingungan, entah bagaimana menjelaskan tentang hal ini pada ratu nasod yang tidak memiliki perasaan tersebut, "—kami, erm, manusia, hanya memberikan ciuman pada orang yang kita cintai..."

Eve memiringkan kepala, dan Chung menampar keningnya. Ini akan sulit.

"Cinta? Maksudmu, seperti jantungmu yang berdebar-debar, bukan? Aisha pernah bercerita padaku—"

Ketika Eve menunduk dan memegang tempat jantungnya berada, Chung langsung memanfaatkan kesempatan itu dan mendaratkan bibirnya di kening Eve.

Kedua terdiam. Masih dalam posisi seperti itu.

Ketika Chung menjauh, Eve langsung mendongak. Mata emasnya melebar.

"C-Chung—" Sang ratu nasod memulai, wajahnya sedikit demi sedikit memerah dan dia terlihat panik. "Jantungku berdebar-debar—"

Dan langsung saja Chung melarikan diri dari tempat, wajahnya semerah tomat.