Chap 11

DISABLED LOVE

Cast : Yunho, Yoochun, Jaejoong, Junsu, Changmin

Genre : Romance, Hurt, Family

Rating : T

WARNING! THIS IS YAOI/BOYS LOVE FANFICTION. FOR PEOPLE WHO DISLIKE YAOI, PLEASE DON'T READ THIS FANFICTION!

Credit : Nasty Cat


Hari sudah mulai sore. Cuaca juga mulai tidak bersahabat. Langit sore yang agak gelap semakin terlihat gelap karena langit mulai terlihat mendung. Sepertinya malam ini hujan akan turun dengan deras.

Jaejoong tampak tidak memperhatikan jalannya. Ia juga tidak menghiraukan teriakan orang-orang di sampingnya karena ia tidak menggunakan alat bantu dengar miliknya. Tatapan mata bulat besarnya itu tertuju pada sebuah dinding besar yang berisi harapan-harapan warga Korea.

Tapi, jika ia menulis harapannya mungkinkah harapan itu terkabul. Setidaknya ia sudah berusaha. Namun ia tetap berharap bisa bertemu dengan belahan jiwanya. Jaejoongpun menautkan kedua tangannya di depan dada lalu berdoa di dalam hati. Ia berdoa semoga belahan jiwanya baik-baik saja di sana, dan ia berharap semoga ia bisa bertemu belahan jiwanya itu.

Seorang pria berjalan dari arah yang berlawanan dari tempat Jaejoong berdiri. Pandangannya lurus ke depan. Ia sempat menolehkan pandangannya ke seorang pria cantik yang sedang berdoa di tengah jalan di pinggiran sungai itu. Ternyata masih ada saja orang seperti itu di Seoul. Ia pun melalui pria cantik itu dan tiba-tiba ia merasakan perasaan yang aneh saat melewati pria cantik itu. Perasaan yang sulit di gambarkan. Entahlah, dia merasa sedikit lega. Kira-kira perasaannya seperti ketika ia bertemu dengan Yoochun setelah dua tahun berpisah di Amerika, hanya saja perasaannya lebih lega dan senang.

Seketika ia menghentikan langkahnya. Yunho berbalik melihat pria cantik itu. Pria cantik itu masih saja berdoa di tengah keramaian. Ia pun membalikan badannya kembali. Mungkin hanya perasaannya saja. Ia berusaha menepis hatinya yang berkata bahwa pria cantik itu adalah Jaejoong, pria yang selama ini di carinya.


Jaejoong membuka matanya. Ia menurunkan tangannya dan memegang ujung kemejanya dengan kuat. Ia tidak ingin menangis disini. Ia harus kuat. Tiap kali ia berdoa untuk Yunho, Ia selalu menangis. Tapi hari ini ia sama sekali tidak boleh menangis begitu juga dengan hari-hari selanjutnya. Yang harus ia lakukan sekarang adalah melakukan apa yang di katakan Yunho. Ia harus mencari seseorang yang lebih baik dari Yunho. Seseorang yang lebih bisa menjaganya seperti Yunho, orang yang bisa mencintainya lebih dari rasa cinta Yunho padanya.

Jaejoong mulai melangkahkan kakinya. Namun, tiba-tiba kakinya terasa kaku. Dan tanpa ia sadari, Jaejoong membalikkan tubuhnya ke belakang. Matanya tertuju pada punggung seorang pria yang memakai jas berwarna biru gelap. Rambut pria itu di cat agak coklat dan style rambutnya jabrik seperti pria-pria yang sering ia lihat di tv. Mungkinkah itu…

Tidak. Itu pasti bukan orang yang ia cari. Lagipula ia tidak melihat wajahnya, hanya punggungnya. Jaejoong menepis hatinya yang berkata bahwa pria itu adalah Yunho, pria yang selama ini di tunggunya.


Yunho memandang box hijau berpita merah di tangannya. Sekarang ia sedang berada di sebuah kafe. Yoochun membuatnya tidak bisa membuka box itu di kantor. Jika ia membuka box itu di kantor, pasti Yoochun akan menanyakan ribuan pertanyaan padanya. Mungkin karena Yoochun menikah dengan pria bawel bernama Kim Junsu, jadinya Yoochun seperti pria yang bawel.

Tentang pernikahan Yoochun dan Junsu. Mereka menikah setahun yang lalu. Setelah bersusah payah meminta izin pada orang tua Yoochun, akhirnya orang tua Yoochun merestui mereka. Bagi Yoochun itu adalah sebuah anugrah terbesar tuhan untuknya. Kini, Yoochun dan Junsu sudah hidup bahagia dengan anak mereka satu-satunya yang bernama Inhwan. Mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak sejak Yoochun melarang Junsu mengadopsi anak kucing lagi. Terdengar sangat lucu, tapi jika tidak lucu bukan YooSu namanya.

Yunho kembali memfokuskan pikirannya ke box hijau itu. Ia pun membuka box hijau tersebut. Ia mengambil tempat CD berwarna transparan itu.

Tuk

Sebuah surat berwarna merah muda jatuh dari tempat CD tersebut. Surat itu terlihat berdebu dan usang. Mungkin usianya sama seperti box dan tempat CD tersebut. Yunho pun membuka tempat CD itu dan menaruh CD tersebut di CD player portable yang ia bawa. Ia memasang headphone di telinganya dan menekan tombol play di CD player miliknya.

Hening

Awalnya hanya hening yang ia dengar. Mungkin CD ini rusak, pikirnya. Namun, setelah sekitar tiga puluh detik berlalu Yunho bisa mendengar sesuatu dari headphonenya. Suara piano. Indah sekali. Ia tahu lagu siapa itu. Richard Sanderson – Dreams Are My Reality. Jaejoong tidak menyanyikan lagu itu, ia hanya memainkannya dalam bentuk piano.

Yunho membuka surat yang ia pegang dari tadi. Matanya berbinar melihat tulisan yang ada di surat tersebut.

Selamat hari jadi pernikahan yang pertama Yunnie ^^

Tidak terasa sudah setahun ini kita hidup sebagai suami istri. Maaf jika aku sangat sibuk belakangan ini. Maaf juga karena aku sudah berbohong padamu. Sebenarnya aku tidak lembur di rumah sakit. Aku pergi ke salah satu tempat les musik. Seseorang mengajariku bermain piano.

Namanya Kyunnie nuna. Dia wanita yang sangat cantik. Dia juga sangat baik padaku. Dia rela menghabiskan waktunya untuk mengajariku bermain piano. Dan inilah hasilnya. Ku harap permainanku tidak terlalu buruk hehehe ^^

Kyunnie nuna sempat bingung kenapa aku bersikeras ingin bermain piano, padahal aku sendiri tidak bisa mendengar. Aku menjelaskan padanya kalau aku melakukan ini untuk hari jadi pernikahan kita. Aku ingin memberikan sesuatu yang special untuk Yunnie. Aku ingin memberikan sesuatu yang bisa di dengar untuk Yunnie, karena Yunnie hanya bisa mendengar :(

Hmm… saat Yunnie membaca surat ini atau saat seseorang membacakan surat ini untuk Yunnie, mungkin Yunnie sudah bisa menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Yunnie pasti sudah hidup bahagia sekarang. Aku tahu aku memang sangat tidak sempurna untuk Yunnie, tapi kenapa Yunnie memutuskan hubungan kita seperti ini. Kenapa Yunnie pergi begitu saja? Apa Yunnie marah karena Joongie terus bekerja sampai lembur?

Yunho menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya. Ia sama sekali tidak memikirkan perasaan Jaejoong yang pasti sangat sakit ketika di tinggal seperti itu. Yunho merasa seperti pria pengecut ketika meninggalkan Jaejoong seperti itu.

Joongie minta maaf…maaf…maaf sekali…Joongie tahu Joongie salah, tapi Joongie bekerja lembur selama ini karena Joongie sedang menabung. Saat Joongie masih bekerja di rumah sakit, Joongie membaca sebuah artikel dan disana tertulis ada seorang pria seperti Yunnie yang bisa sembuh kembali dari penyakit yang sama seperti Yunnie. Sejak itu Joongie terus bekerja untuk biaya pengobatan Yunnie. Joongie ingin Yunnie bisa sembuh dan melihat lagi. Lalu, Joongie menerima tawaran menjadi seorang model dan akhirnya Joongie selalu bekerja sampai malam hari. Maaf… sekali lagi maaf…

Ibu mertua… Saat Joongie datang ke tempat ibu mertua, Joongie memperlihatkan surat yang Yunnie beri untuk Joongie. Dia menangis dan memeluk Joongie. Itu adalah yang pertama kalinya ibu mertua menerima Joongie sebagai menantunya.

Yunho menghentikan tangisannya. Jaejoong mengenal ibunya, bagaimana bisa.

Sekarang, Joongie sudah keluar dari pekerjaan Joongie sebagai model. Joongie bekerja di kafe milik Changmin, pria jahat yang sebenarnya baik itu. Joongie sudah bahagia sekarang. Banyak orang yang menyayangi Joongie. Tapi semua itu terasa kurang.

Jika Yunnie ada disini, pasti Joongie akan merasa senang sekali.

Apakah Joongie bisa meminta sesuatu pada Yunnie?

Joongie ingin bertemu dengan Yunnie, untuk yang terakhir kalinya.

Saat Joongie bertemu dengan Yunnie nanti, Joongie hanya ingin mengatakan satu kata untuk Yunnie.

Saranghae…

Selamat hari jadi pernikahan yang pertama…

Jaejoongie ^^

Air mata Yunho tumpah. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya. Yunho berusaha menghapus air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir itu.

Suara piano masih mengalun dengan lembut di telinga Yunho. Permainan yang indah sekali. Yunho sama sekali tidak habis pikir. Bagaimana Jaejoong bisa tahu apa permainannya bagus atau tidak. Jaejoong sama sekali tidak bisa mendengar. Pasti sulit sekali bagi Jaejoong untuk memainkan piano tersebut.

Sejenak Yunho menghentikan tangisannya. Ia mendongakkan kepalanya. Matanya tertuju pada satu arah.

Jaejoong.

Yunho beranjak dari kursinya. Ia berjalan dengan tatapan mata yang lurus ke depan. Ia membawa CD player portable dan headphone-nya. Langkahnya berhenti di depan kasir di kafe itu. Ia memakaikan headphonenya di telinga Jaejoong. Jaejoong merasa kaget dan dan mendongakkan kepalanya. Matanya membesar ketika melihat siapa yang ada di hadapannya.

"Yun…nie"

Yunho tersenyum sambil menitikan air matanya. Kemudian ia menyanyikan lirik lagu tersebut.

"Met you by surprise, I didn't realize… That my live would change forever…" Yunho menyanyikannya dengan suara yang bergetar karena air matanya tak henti-hentinya mengalir. Secara perlahan Yunho berjalan ke samping meja kasir dan berdiri tepat di depan Jaejoong.

"Tell me that it's true… Feeling that are new… I feel something special about you…"

Tangis Jaejoong tumpah. Tubuh kecilnya langsung memeluk tubuh Yunho yang lebih besar darinya. Jaejoong menangis dengan sangat kencang di dada Yunho, begitu pula dengan Yunho. Ia menangis di belakang kepala Jaejoong. Mereka berpelukan dengan sangat erat. Semua orang yang melihat kejadian mengharukan tersebut langsung bertepuk tangan. Doa Jaejoong akhirnya di dengar oleh Tuhan. Ia bisa bertemu dengan Yunnie-nya lagi. Bahkan ia bisa memeluknya dengan erat sekarang.


Sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar tidur Jaejoong melewati jendela kamarnya. Ia mengusap matanya dan membuka matanya perlahan. Ia menepuk-nepuk seseorang di sampingnya.

"Engh…" pria yang tidur di samping Jaejoong hanya bisa mengerang. Jaejoong merasa kesal dan menggoyangkan tubuh pria yang tidur di sampingnya itu. Pria itu hanya membetulkan posisi tidurnya yang tadinya tengkurap menjadi miring membelakangi Jaejoong.

"Apa?" pria itu berkata sambil melanjutkan mimpi indahnya.

Jaejoong memajukan bibirnya. Pria di sampingnya yang bernama Yunho itu memang sangat pemalas, apalagi saat hari minggu. Semenjak pertemuan tak terduganya bersama Yunho beberapa bulan yang lalu, Yunho kembali tinggal di apartemen lamanya bersama Jaejoong dan ibunya. Dan tentang ibunya, Yunho akhirnya kembali membawa ibunya ke rumah karena Jaejoong merengek ingin lebih dekat dengan mertua sekaligus orang tua satu-satunya itu. Yunho merasa tidak perlu mengkhawatirkan ibunya lagi, karena ia tahu Jaejoong pasti bisa merawat ibunya dengan baik.

Dan benar saja, Jaejoong benar-benar merawat mertuanya dengan sangat baik. Mereka terlihat lebih dekat sekarang. Kadang kedekatan mereka membuat Yunho cemburu pada ibunya yang mendapat kasih sayang Jaejoong lebih banyak darinya.

"Eung!" Jaejoong menunjuk pintu kamar mandi yang ada di seberang tempat tidurnya. Yunho melihat ke arah yang di tunjuk Jaejoong, Ia tersenyum cerah sampai matanya tak terlihat.

Jaejoong menarik tangan Yunho dan membawanya ke kamar mandi. Jaejoong mengambil dua sikat gigi berbeda warna. Miliknya berwarna merah dan milik Yunho berwarna hijau. Yunho memberikan pasta gigi di kedua sikat gigi yang di pegang Jaejoong. Lalu mereka menyikat gigi bersama-sama.

Jaejoong terlihat sedang memotong sayuran di dapur sedangkan Yunho sedang merapikan meja makan sambil menata peralatan makan untuk mereka bertiga. Kalau dulu Yunho hanya duduk di kursi dan beranjak saat ia mendengar suara dari termos airnya, kini Yunho ikut membantu Jaejoong memasak.

Mereka bertiga makan di meja makan dengan tenang. Ibu Yunho sangat senang sekali memakan masakan menantunya. Sekarang ibu Yunho mulai ada kemajuan. Ibunya sudah bisa berbicara dengan lumayan lancar. Ibunya juga tidak pernah merengek pada Yunho lagi. Pokoknya sekarang semuanya terasa lebih sempurna.

Hidupnya benar-benar berubah. Ia tidak pernah merasa sakit lagi, baik di kepalanya ataupun di hatinya. Ia mendapatkan kembali apa yang dulu ia tinggalkan. Begitu juga dengan Jaejoong, meskipun bisa mendengar hanya dengan bantuan alat, tapi Jaejoong tidak merasa kekurangan. Jaejoong merasa hidupnya sudah lebih dari cukup. Dengan Yunho yang berada di sisinya, Jaejoong merasa sudah sangat bahagia.

Mungkin bagi mereka ini adalah akhir. Ya, ini memang akhir dari segalanya. Akhir dari segala perjuangan mereka selama tiga tahun lebih. Akhir dari segala rasa sakit yang menyerang tubuh. Akhir dari nasib buruk yang terus memihak mereka. Akhir dari penungguan panjang. Akhir dari kesendirian.

Tapi terlihat jelas, bahwa awal baru kehidupan mereka sudah di mulai. Setelah akhir dari perjalanan panjang ini, mungkin saja mereka kembali tersiksa. Tidak ada yang bisa menebak masa depan. Tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi esok. Tapi setidaknya, mereka masih bisa merangkai masa depan mereka. Bermimpi dan seolah merangkai mimpi mereka. Itu masih sangat mungkin.

'untuk memantul tinggi dan jauh sebuah bola harus dipantulkan keras ke bawah permukaan'

Kira-kira itulah kutipan yang Jaejoong baca di salah satu novel laris di Korea, So I Married an Anti Fan.

Dan sekarang ia merasa kutipan itu benar. Setelah terjatuh berulang kali dengan keras. Setelah ia harus kehilangan orang-orang yang ia cintai di yayasannya dulu. Setelah ia harus kehilangan Yunho. Kini ia merasa jauh lebih kuat sekarang. Ia merasa lebih hebat. Tentu semua itu tak luput dari bantuan teman-temannya.

Meskipun nantinya Jaejoong akan kembali terjatuh dengan keras, tapi hanya satu yang Jaejoong harap. Ia ingin Yunho berada di sampingnya. Meskipun tida ikut terjatuh dengannya, setidaknya masih ada tangan Yunho yang membantunya untuk kembali berdiri.

END


Akhirnya... Terimakasih banyak untuk semua readers yg sudah review ataupun sekedar melihat saja..untuk himawari ezuki terimakasih banyaaak sudah mau membantu memberi masukan untuk kelancaran FF ini.

sekali lagi thankyou ^^

Yunjae fighting ^^