Di dalam kamar yang tertutup, Sulli berusaha meredam tangisnya. Beberapa kali ia sudah menggeleng tak setuju. Tapi, abeoji nya begitu memaksa, menekannya. Ia tidak mampu melawan orang yang sudah merawatnya hingga sekarang ini. Lalu, ia mendengar lagi helaan napas sang abeoji.

"Sulli, ini yang terbaik. Kau harus melakukannya, demi abeojimu ini." Perdana Menteri Jang menekannya lagi. Terus seperti itu.

"Andwae, abeoji... itu akan menyakiti Permaisuri Kim. Permaisuri Kim akan membenciku jika aku melakukannya. Lalu, bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya?"

"Aish, Jang Sulli! Sejak kapan kau peduli dengannya?" Kata Perdana Menteri Jang yang mulai tersulut emosi. Ia menghembuskan napas kasar kemudian melanjutkan ucapannya, "Memang itu rencananya, kita akan membuat Permaisuri Kim dibenci banyak orang dan kemudian kau akan naik tahta, sebagai Permaisuri baru Raja Yesung."

"Aku tidak mau. Aku tidak mau menjadi Permaisuri jika membuat Permaisuri Kim menderita."

Deretan gigi Perdana Menteri Jang bergemeletuk saking marahnya. Ia tidak mengerti jalan pikir putrinya itu. Sudah bagus ia berikan tahta yang tinggi, namun putrinya itu malah menolak? Benar-benar.

"Katakan apa alasannya! Apa Permaisuri Kim berhasil mencuci otakmu?! Katakan pada abeoji!"

Sulli menundukkan kepala. Hanboknya sudah benar-benar kusut diremas jemari lentiknya. Sulli sangat takut sampai-sampai tubuhnya mulai bergetar ketakutan. Sambil menggigit bibir bawahnya, Sulli memberanikan diri menatap sang abeoji.

"Aku mencintai Kim Ryeowook."

"Apa?!"

Plak

Sulli hanya bisa meringis sakit memegangi salah satu pipi yang memerah. Rasanya pedih sekali. Apalagi hatinya yang jauh lebih sakit. Cintanya memang terlarang. Tapi ia tidak bisa menghentikannya. Cinta itu tak melihat status ataupun kedudukan. Cintanya tak melihat apapun itu.

"Kau mencintai namja menjijikan itu? Bagaimana bisa Jang Sulli?! Di mana akal sehatmu! Dia adalah istri Raja, kau tak malu mencintai namja seperti itu?!" Perdana Menteri Jang terlampau marah.

"M-mianhae, abeoji..."

"Aku tidak peduli lagi. Kau akan melakukan apapun yang kuminta." Tunjuk Perdana Menteri Jang di depan wajah Sulli. "Aku tidak mau kau melakukan hal konyol untuk namja menjijikan itu atau aku akan mencampakkanmu sama seperti eomma mu!"

Lalu pintu tak bersalah ditutup dengan keras. Tinggallah Sulli sendirian, memikirkan bagaimana ke depannya. Ia akui ia tidak bahagia selama tinggal di sini, akan tetapi Ryeowook selalu menemaninya. Ryeowook namja yang baik, ia tahu itu.

.

_`Evanescence`_

.

by : Denies Kim

.

Disclaimer : Semua anggota dalam fic ini milik Tuhan dan kedua orang tuanya. Saya hanya meminjam nama, dan untuk keseluruhan isi cerita milik saya seutuhnya.

.

Warning : Yaoi, BL, Boys Love, Typo(s), bahasa aneh, alur terlalu lambat/terlalu cepat, membosankan, OOC, dll.

.

Summary : Seorang pangeran yang tengah memasuki usia matang, dipaksa untuk menikah. Sementara pengeran itu sendiri mempunyai prinsip yang aneh. Bagaimana jika akhirnya ia menemukan permaisuri pilihanya? Dan bagaimana juga kehidupan yang akan mereka jalani?

.

Chapter 11 : Say, Good bye

.

.

~Selamat Membaca~

.

Sulli jadi merasa tidak enak. Ia sudah dihadapkan pada sosok yang mengisi hatinya, namun ia tak bisa berkata apapun. Canggung, begitu sebutannya. Dilihatnya Ryeowook tampak santai-santai saja, meski matanya terlihat sembab dan Sulli tak tahu penyebabnya.

"Sulli, ada apa?" Suara lembutnya yang Sulli suka. Begitu lembut memanggil namanya.

"A-ani, hanya saja... um, apa ada sesuatu yang kau butuhkan?"

Ryeowook mengernyit bingung. Ia menggeleng pelan lalu baru mengerti maksud pertanyaan Sulli. Yeoja itu kebingungan dan menanyakan maksud kedatangannya. Ryeowooklah yang berkunjung. Ia tidak diundang melainkan datang sendiri. Ryeowook butuh teman untuk bicara.

"Aku hanya ingin bicara denganmu. Belakangan ini kita jarang bicara berdua, kan? Aku juga merasa sedang membutuhkan teman."

Sulli tertawa canggung, menutupi mulut dengan punggung tangannya padahal pikirannya berkeliaran ke mana-mana.

"Sulli, maafkan aku jika aku berbuat sesuatu yang tidak kau sukai."

"Eh? A-aniya! Kau tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Kau selalu benar di mataku."

Ryeowook hanya terdiam tanpa menanggapi lanjutannya. Cangkir tehnya belum ia sentuh seujung jaripun, Ryeowook sedang tak ingin minum. Dan ketika merasa perasaannya tak kunjung membaik meskipun ia sudah bersama Sulli, Ryeowook akhirnya memutuskan untuk pergi.

"K-kalau begitu, aku akan kembali. Terimakasih sudah bersedia meluangkan waktu untukku." Ryeowook membungkukkan badannya. Lalu segera pergi dari sana, Sulli memang tak ingin kehadirannya. Oleh sebab itu, Sulli tak mencegahnya pergi atau pun mengatakan sesuatu. Ryeowook menghembuskan napas.

Sulli sebenarnya senang Ryeowook datang, ia senang sekali. Akan tetapi, waktunya tidak tepat. Sulli sedang mengalami masalah dalam lahir dan batinnya. Ia belum juga melakukan apapun tapi ia sudah merasa bersalah. Saat ia beranjak keluar, sesuatu terasa mengganjal di bawah kaki berbalut kaus kaki putihnya.

"Eh?"

Sulli menemukan sesuatu, sebuah kalung yang putus. Dengan cincin perak sebagai liontinnya. Ia sangat hapal cincin dalam genggamannya itu. Dengan melihat ukiran dalam cincin, Sulli langsung tahu. Itu milik Permaisuri Kim.

Sementara di luar, Ryeowook melangkah pelan-pelan. Didampingi beberapa pelayannya, ia tak sadar jika sesuatu hilang darinya. Ryeowook benar-benar tak mengerti ke mana arah tujuannya. Kemudian, batu besar tempat ia dulu pertama kali bicara dengan Siwon dan Donghae menjadi tujuannya. Ia ingin duduk di sana, menatap jauh ke dalam danau kecil yang tampak tenang.

Puk

Ryeowook menoleh cepat. Ia sudah menahan napasnya, ketika bahunya di tepuk dari arah samping. Ia bisa bernapas lega. Rupa-rupanya Donghae yang datang.

"Apa terjadi sesuatu lagi? Mengenai orang itu?" Kata Donghae langsung menentukan topik. Ryeowook menggeleng sebagai balasan.

"Sejak yang terakhir itu, tidak ada lagi yang menggangguku." Ryeowook menundukkan kepala. Sambil menatap telapak tangannya, Ryeowook teringat sesuatu.

"Donghae-ya. Apakah kau sudah akrab dengan Eunhyuk?"

"Eh? Kenapa bertanya begitu?" Sesuai dugaan, Donghae akan bertingkah gugup ditandai dengan tangannya yang tak bisa diam mengusap tengkuknya.

"Ani. Masalahnya, waktu kau menolongku dan memberikan bantuan napas padaku, Eunhyuk melihatnya. Dia berpikir kita berdua melakukan hal yang aneh. Tolong kau bicara padanya, Eunhyuk pasti akan mengerti."

Yeah, meskipun Ryeowook sudah menjelaskan pada Eunhyuk malam itu, ia merasa Eunhyuk tidak akan puas hanya mendapat penjelasan dari pihaknya saja. Donghae juga harus bicara. Mengapa begitu? Karena Ryeowook tahu perasaan Eunhyuk pada Donghae.

"Baiklah, sesuai keinginanmu." Donghae membungkukkan badan, "Aku harus pergi sekarang."

Ryeowook membuang napas melalui mulutnya. Memundurkan punggung mencari sandaran, Ryeowook tersenyum ketika punggungnya menyentuh batang pohon. Lalu Ryeowook memejamkan matanya. Ia berniat tidur, sudah cukup lelah dengan semua ini.

Ketika ia bangun, senja yang indah menyambutnya. Ryeowook meregangkan badan sambil melirik ke kanan kiri. Aigoo, ia membuat kedua pelayannya kebosanan menunggunya yang enak-enakan tidur.

"M-mian, aku ketiduran tadi. Kajja, kita kembali ke kamar."

Melewati jalan setapak menuju kamarnya, Ryeowook bertemu dengan Yesug. Keduanya terdiam sambil saling menatap. Lalu Yesung memutusnya dan langsung pergi dari hadapannya. Ryeowook... masih diam beberapa saat.

"Aku... mencintaimu." Katanya tanpa suara. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya.

Sampai di kamarnya, Ryeowook menuju tempat pemandiannya. Biasanya kalau sudah siap dengan air, seorang pelayan akan menghampirinya. Namun, karena terlalu lama Ryeowook langsung menuju halaman belakang kamarnya. Di sana ia melihat Pelayan Park mempersiapkan kolam berendamnya. Ke mana pelayan yang lain?

"Pe—"

Ryeowook mengurungkan niat untuk memanggil. Ia merasa ada yang aneh. Pelayan Park, terlihat memasukkan sesuatu ke dalam air. Semoga saja bukan hal yang buruk.

"Permaisuri Kim." Bisik suara di belakangnya.

Ryeowook tersenyum saja lalu mengikuti langkah Eunhyuk. Ia melangkahkan kaki jenjangnya, menapakkan satu persatu kakinya menuruni tangga memasuki kolam. Sedikit demi sedikit mulai tenggelam di bawah air bertabur bunga. Lalu kecurigaannya terbukti ketika ia mencapai dasar.

"Akh!" Tubuhnya terhuyung, cepat-cepat ditangkap Eunhyuk di sampingnya.

"Apa yang terjadi, Permaisuri Kim?" Eunhyuk berseru sarat akan khawatir.

"Kakiku sakit sekali, Hyuk...ukh!"

Para pelayan menarik Ryeowook menjauhi air. Keluar dar air, darah sudah membanjiri telapak kakinya. Namja manis itu semakin meringis setelah tahu apa yang terjadi pada kakinya.

"Hyuk! Sakit sekali..."

Eunhyuk memerintahkan pelayan lain untuk mengecek dasar kolam itu. Semuanya langsung terkejut mendapati beberapa kaca tajam di tangan pelayan itu. Jadi, Ryeowook terluka karena ada yang sengaja melakukannya?

"Siapa yang berani memasukkan kaca ke dalam air?!" Serunya galak. Karena ia adalah satu-satunya pelayan namja di sana, Eunhyuk harus bertindak tegas. Semua pelayan bawahannya menunduk ketakutan.

"Panggil tabib!"

Eunhyuk dan beberapa pelayan lain membantu Ryeowook masuk, meninggalkan bulatan-bulatan merah di atas lantai kayu. Saat tabib itu mengeluarkan kaca-kaca kecil dari telapak kakinya, Ryeowook terus meremas keras tangan Eunhyuk dalam genggamannya. Rasanya pedih sekali. Untunglah Tuhan masih baik padanya, hanya satu kakinya yang terluka.

Lalu, ketika malam tiba, Ryeowook tidak bisa berharap banyak. Yesung tidak akan pulang ke kamarnya. Entah di mana suaminya itu malam ini. Ryeowook sudah cukup lelah. Pikirannya selalu terbebani banyak masalah selama tinggal di sini. Ia merasa ingin keluar sekarang juga, kembali pada kehidupannya yang normal. Tapi bagaimana dengan anaknya?

Saat malam itulah Ryeowook baru sadar kalau kalungnya sudah hilang. Dengan napas memburu ia mencari ke segala arah, tak menemukan apapun. Ia tidak bisa kehilangan kalung itu. Biar bagaimanapun caranya, Ryeowook harus menemukannya kembali.

Esoknya, Ryeowook menelusuri jalan yang terakhir kali ia lewati. Ia masih mencari kalungnya itu. Ia ingat, kalau ia sempat berkunjung ke kamar Selir Jang, jadi ia datang ke sana.

"Eh?" Ryeowook mengernyit heran ketika matanya mendapati banyak orang berkumpul. "Ada apa?" Ryeowook mendekati seorang prajurit istana.

"Kau belum tahu? Selir Jang disengat kelabang beracun." Bukan prajurit itu yang menjawab melainkan abeoji dari Selir Jang. Ryeowook jadi melupakan tujuan awalnya.

"Kapan itu terjadi?"

"Kemarin sore."

Ryeowook terdiam berpikir. Kalau ia bersama Selir Jung waktu itu, mungkin saja ia sudah tersengat juga dan pasti bisa membahayakan anaknya. Bolehkah Ryeowook bersyukur kali ini?

"Bagaimana kondisinya?" suara lain terdengar, milik orang yang ia rindukan.

"Yang Mulia," Perdana Menteri Jang bergerak gesit mencari muka. "Selir Jang masih belum sadar juga. Demamnya tak kunjung turun sejak kemarin."

Ryeowook memperhatikan interaksi dua orang terhormat itu. Sedikit merasa aneh karena Menteri tua berjanggut itu sempat menyeringai padanya. Apa yang terjadi? Kenapa Perdana Menteri Jang menyeringai padanya?

"Ini pasti bukan kebetulan, Yang Mulia. Ini pasti di sengaja. Ada yang berusaha menyakiti putriku."

Ryeowook memperhatikan Yesung. Kalau Yesung tidak mau menganggap serius kasusnya belakangan ini, pastilah Yesung juga tidak akan menindak lanjuti kasus Sulli.

"Kalau begitu segera cari kemungkinan bukti kejahatannya. Geledah seluruh kamar tanpa terkecuali, kalau kita temukan bukti, berarti benar ada yang berniat buruk padanya."

Sepasang mata Ryeowook membulat kaget. Yesung dengan enteng menyetujuinya. "Bagaimana kau berpikiran kalau ada orang yang berusaha menyakiti Selir Jang? Untuk apa dia melakukan itu? Bisa saja, kelabang itu masuk ke dalam kamar dan menyengat Selir Jang."

"Aku hanya berusaha melindungi putriku. Kenapa kau seolah-olah tidak mau kasus ini ditindak lanjuti?"

"Eh? A-aku…"

"Bukankah kau kemarin mengunjungi putriku? Apa kau yang—"

"Perdana Menteri Jang!" seru Yesung kemudian. Namja tampan yang baru beberapa hari menjabat sebagai raja itu menghela napas panjang. "Kita akan coba lakukan penyelidikan, jangan menuduh seseorang sebelum ada bukti yang benar."

"Ye, Yang Mulia."

Agaknya Ryeowook masih bisa merasakan senang di hatinya. Yesung tadi sedikit membelanya, tidak mau ia yang disalahkan. Untuk saat ini ia masih bisa tersenyum senang. Tapi tetap saja, tidak bisa memperbaiki keadaan.

.

.

.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan?" kata pertama Ryeowook saat memasuki kamarnya, siang hari selepas ia berusaha mencari kalungnya. Ia mendapati Pelayan Park melakukan sesuatu di kamarnya. Perasaan waspada sudah Ryeowook rasakan akhir-akhir ini pada yeoja itu.

"Aku merapikan kamarmu, Permaisuri Kim."

Ryeowook mengangguk. Lalu ketukan pintu terdengar. Di luar sudah ada beberapa prajurit, menteri, dan Panglima Kerajaan, Siwon. Ryeowook tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Jeosonghamnida, kami akan menggeledah kamar anda, Permaisuri Kim."

"Ne." jawab Ryeowook sambil keluar kamarnya. Sembari menunggu, Ryeowook meremas kain hanboknya. Ryeowook jadi merasa tidak enak. Seharusnya ia biasa saja. Ia tidak melakukan kesalahan apapun.

"Kami menemukan ini!"

Detakan jantung Ryeowook bertambah cepat dengan hentakan yang kuat. Seorang Menteri Kerajaan keluar dengan membawa kotak kayu yang tertutup. Bersamaan dengan itu, Yang Mulia Yesung datang. Namja tampan itu menatap Ryeowook dengan mimik yang sulit terbaca.

"Apa itu, Menteri Lee?" Yesung mendekat, hendak melihat apa isi kotak itu. Begitu kotak kayu itu terbuka, semuanya terkejut setengah mati. Lalu, semua tatapan mengarah pada Ryeowook, memusat mematikan.

"Bu-bukan! Itu bukan milikku." Kata Ryeowook sambil menggeleng keras.

"Barang ini ditemukan di dalam kamarmu, Permaisuri Kim. Perlu bukti apa lagi untuk membuktikan bahwa kau yang bersalah." Sahut Perdana Menteri Jang yang tadi datang bersama Yesung.

Ryeowook, entah bagaimana nasibnya. Ia tidak tahu bagaimana benda itu ada di dalam kamarnya. Satu kotak berisi beberapa kelabang beracun. Ryeowook benar-benar tidak tahu.

"Aku bersumpah! Itu bukan milikku, untuk apa aku berusaha menyakiti Selir Jang?"

"Karena kau tidak suka dengan kehadirannya, kau tidak suka Yang Mulia Yesung memiliki selir."

"A-ani…" Ryeowook mencoba mencari pertolongan. Namun, sepertinya Yesung tidak mau melakukan itu. Yang ia dapatkan hanyalah tatapan tak percaya dari orang yang dicintainya itu.

"Bawa dia." Ryeowook melotot tak percaya.

"Yang Mulia, ti-tidak! Ini bukan salahku, Yang Mulia. Aku tidak melakukan itu. Hyung!" Ryeowook berusaha melepaskan diri dari beberapa prajurit yang hendak membawanya. Sekali ia terlepas, ia langsung mendekat ke arah Yesung.

"Yang Mulia, percaya padaku." Satu tangannya menggenggam pergelangan tangan Yesung, langsung di tepis keras. Ryeowook mematung. Penolakan Yesung, tepat menusuk hatinya yang terdalam.

"Bawa dia."

Ryeowook menatap Yesung sarat akan luka. Kalau Yesung sudah berkata begitu, semua mematuhinya. Dua prajurit berdiri di jejernya, menangkap lengannya dan menariknya pergi. Ke mana Ryeowook akan dibawa? Ryeowook tahu, sebuah tempat berjeruji yang pengap dan kotor. Ia sempat menoleh lagi, hanya punggung Yesung yang makin menjauh.

Jika ia dipenjara bukan karena kesalahannya, lalu apa jadinya anaknya nanti? Apa setelah tahu kebenarannya, Yesung akan mengambil anaknya dan membiarkannya membusuk di penjara? Memikirkan hal itu terlalu jauh, membuat Ryeowook meneteskan air matanya. Hatinya hancur sudah. Tidak ada yang tersisa lagi.

Menapaki tanah kotor dan dingin. Ryeowook dimasukkan ke sana. Dengan tubuh bergetar, Ryeowook mendekati setumpuk jerami yang ada di sudut sana. Ia duduk dalam diam. Meredam isakannya yang terus terdengar. Dulu ia pernah bermimpi masuk ke sini, sebelum bertemu dengan Yesung. Dan dalam mimpi pun Ryeowook tidak pernah suka.

Ryeowook menekuk lututnya, memeluk kakinya didepan dada serta menenggelamkan wajahnya. Ryeowook akan menangis seharian. Kalau perlu Ryeowook tidak akan makan sampai ia sakit dan keluar dari sini. Tapi, kemudian ia berpikir tentang anaknya lagi.

"Aku tidak mau kau terlahir di sini." Ryeowook mulai bicara sendiri.

"Tolong jangan membenciku, aegi."

Ketukan sepatu terdengar mengisi kehampaan lorong sepi itu. Seorang berjubah kebesarannya datang, berhenti tepat di depan sel Ryeowook. Ia menampilkan raut datarnya, tanpa ekspresi dengan mata setajam elang.

"Kim Ryeowook."

Ryeowook tidak mau mengangkat kepala. Ia sudah hapal suara itu dan ia tidak mau menghadapinya. Tidak, jika itu malah membuat hatinya sakit lagi.

"Kau benar-benar tak bisa kumengerti. Setelah bertingkah aneh, kau bercumbu dengan prajurit istana. Dan sekarang? Kau berusaha membunuh Selir Jang?"

Ryeowook membisu.

"Bukankah kau sangat menyukai yeoja itu, kenapa kau malah melakukannya?" Yesung mendekat. Membiarkan ruji-ruji besi menjadi pembatasnya dengan Ryeowook.

"Kenapa kau diam saja, hah? Jawab aku!" sentak Yesung keras.

Hentikan semua itu, hentikan jika kau hanya ingin menyakitiku saja. Ryeowook menahan napasnya, satu tangannya bergerak memeluk perutnya sendiri. Ryeowook ingin pulang. Ia ngin bersama dengan Kyuhyun dan Sungmin saja. Di saat-saat seperti ini, Ryeowook ingin diselamatkan kedua orang itu.

"Kim Ryeowook," Yesung menggeleng pelan. "Aku kecewa padamu."

Ryeowook menahan diri untuk terisak keras. Ia menangis sesenggukan. Sudah cukup semua ini, sudah cukup baginya. Kim Yesung, meskipun Ryeowook tak bisa membencinya. Tapi Ryeowook juga tak bisa terus mencintainya. Yesung sudah terlalu jauh menyakitinya.

"Yesung hyung, kau seharusnya tak membawaku kesini." Bisik Ryeowook setelah mendengar Yesung pergi.

"Aku menyesal bertemu denganmu."

.

_`Evanescence`_

.

Siang hari yang terik, Ryeowook diadili. Tidak ada riasan di wajahnya, tidak ada pakaian yang mewah, tidak ada juga senyum menawan yang selalu mengisi harinya. Kim Yesung sudah merenggut semuanya. Bahkan juga hatinya. Di dalam pengadilan ini, Ryeowook dipermalukan di depan semua orang. Bisik-bisik itu mengganggunya, sangat.

"Kita buka pengadilan hari ini. Dengan kasus percobaan pembunuhan Selir Jang dan Permaisuri Kim sebagai tersangka."

Ryeowook duduk dalam diam. Di sebuah bangku kayu di tengah ruangan.

"Permaisuri Kim, apakah kau mengakui kesalahanmu ini?"

Tak ada jawaban, Ryeowook masih menunduk diam. Menimbulkan makin banyak bisikan mendatanginya.

"Kutanya sekali lagi, Permaisuri Kim apakah kau mengakui kesalahanmu?"

Satu gerakan, Ryeowook mengangkat kepala. Ia menatap pedih hakim di depan sana. "Bagaimana kalau kukatakan itu bukan kesalahanku?" katanya lirih.

"Permaisuri Kim, kami sudah menemukan bukti dan bukti itu ada di hadapanmu sendiri." Ryeowook hanya melirik meja tiga meter di depannya. Ia sudah berkata benar, penuh kejujuran.

"Barang ini ditemukan di dalam kamarmu, Permaisuri Kim."

"Apakah itu membuktikan kalau aku yang bersalah? Bagaimana jika orang lain menaruhnya di sana?"

Ryeowook melemparkan tatapan datar. Ia sempat melirik Yesung yang duduk di sebelah hakim. Bukan berharap, Ryeowook sudah tak mengharapkan bantuan namja itu lagi.

"Tunggu." Semua yang ada di sana berhenti bersuara. Sontak melihat ke belakang tepat pintu terbuka. Perdana Menteri Jang melangkah sombong ke depan, membawa sebuah benda dalam genggamannya. "Aku menemukan bukti lain."

Berdiri di sebelah hakim, Perdana Menteri Jang membuka tangannya. Membiarkan sebuah cincin jatuh dari tangannya, kalau saja ia tak menggenggam rantai kalung yang menghubungkannya. Ryeowook tersentak. Ia ingat benda itu.

"Itu milikku!" seru Ryeowook keras. Ia ingin cincin itu kembali, cincin peninggalan umma nya.

"Jadi, kau mengakui ini milikmu?" Perdana Menteri Jang menatap Ryeowook sinis, lalu beralih ke arah hakim. "Aku menemukannya di kamar Selir Jang."

Deg!

"Benda ini ditemukan di kamar Selir Jang, sore itu. Sesaat setelah ia disengat kelabang beracun."

Ryeowook, hanya mendengarkan. Hanya ada satu keinginan di hatinya, ia ingin cincin itu kembali bagaimanapun caranya.

"Tolong kembalikan cincin itu padaku." Kata Ryeowook memecah keheningan.

Perdana Menteri Jang tertawa sinis. "Kau harus menjelaskan dulu bagaimana benda ini sampai di kamar Selir Jang, Permaisuri Kim."

"Apa jika aku mengakuinya cincin itu akan kembali padaku?" Ryeowook menatap datar orang-orang terhormat di depan sana.

"Jadi kau mengakui?" Ryeowook menarik napasnya. Ia melirik Yesung yang seperti tertampar keras dengan perkataannya.

"Aku mengakuinya. Aku yang melakukan semua itu, aku yang bertindak buruk pada Selir Jang. Aku juga berbohong kalau aku merasa diikuti. Itu hanya akal-akalanku saja, terserah kalian menganggapku gila aku tidak peduli lagi."

Tring! Tring!

Suara benturan cincin Ryeowook dan lantai keramik terdengar jelas. Setelah dilempar tanpa hormat, cincin itu bergerak mendekati Ryeowook yang langsung memungutnya. Cincin itu adalah segalanya. Ryeowook akan menggenggamnya erat-erat.

"Bagaimana, Yang Mulia Raja?"

Terdiam menunggu perintah lanjutan dari sang raja. Semuanya menanti-nanti raja yang baru menjabat beberapa hari itu.

"Hukum berdasarkan peraturan."

Meskipun Ryeowook terkejut dan mati-matian menahan matanya yang memanas. Ia tetap bisa tersenyum miris. Hidupnya berubah menyedihkan. Semuanya berjalan seperti yang Perdana Menteri Jang inginkan. Setelah mengorbankan anaknya, ia kini terkekeh senang tanpa bersalah. Melihat Ryeowook dibawa keluar prajurit istana.

"Permaisuri Kim, katakan kalau semua itu bohong." Di luar ia bertemu dengan Eunhyuk. Ia telah mengecewakan pelayannya itu.

"Permaisuri Kim?" Eunhyuk memanggil tak percaya. Memandang sedih punggung Ryeowook yang semakin menjauh. Ia masih buntu, Permaisuri Kim tadi hanya tersenyum padanya. Tak mengatakan apapun.

"Aku tak percaya semua ini." Eunhyuk berbalik. Menemukan Donghae di belakangnya. Donghae sudah melakukan perintah Ryeowook, menjelaskan pada Eunhyuk hingga Eunhyuk mengerti.

"Apa maksudmu?"

"Permaisuri Kim berbohong. Dia tak mungkin melakukan semua kejahatan itu. Dia mengaku berbohong kalau dia diikuti, padahal aku melihat dengan mataku sendiri orang yang mengikuti Permaisuri Kim." Donghae memijat keningnya.

"Apapun yang terjadi, aku akan tetap melanjutkannya. Aku akan menemukan orang yang menyakiti Permaisuri Kim dan membuktikan kalau dia tak berbohong. Aku sudah bersumpah untuk melakukan itu. Aku sudah bersumpah untuk mengabdikan hidupku untuknya."

.

.

.

.

.

Kembali ke tempat yang sama. Ryeowook duduk bersandar sambil menatap cincinnya. Ia tersenyum kemudian. Dikecupnya cincin itu penuh perasaan, menghantarkan perasaannya pada umma yang sudah tenang di atas sana. Sudah genap lima hari ia mendekam di sana.

Diperlakukan sama seperti penjahat lainnya, tanpa ada rasa hormat apapun. Yeah, karena ia sudah ditetapkan bersalah. Semua orang menghujatnya. Ia hanya tinggal menunggu hukuman mati menemuinya. Sudah ia putuskan, Ryeowook lebih memilih membawa mati anaknya itu daripada anaknya lahir dan menderita sama sepertinya.

"Mianhae, umma tak bisa memberimu kesempatan untuk melihat dunia yang kejam ini."

Lama berada di dalam penjara ini, Ryeowook jarang melihat matahari. Entah kapan terakhir kali ia merasakan hangatnya mentari pagi. Ryeowook merindukan eomoni nya. Ia sudah tidak pernah bertemu dengan yeoja anggun itu. Apa Heechul tahu ia sedang dipenjara? Apa Heechul akan menatapnya benci kemudian meminta ia tidak dihukum sampai anaknya lahir?

"Lebih baik kau bersama umma saja ne, aegi-ya."

Seseorang datang mengunjunginya, sama seperti waktu Yesung mendatanginya. Yeoja itu berdiri tepat di depan jeruji besi yang mengekang Ryeowook, tak bisa masuk. Akan tetapi mampu membuat Ryeowook melotot tak percaya. Ryeowook mendekat, raut khawatir begitu terlihat di wajahnya.

"K-kau di sini." Yeoja itu menganggukkan kepala.

"Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?" yeoja itu, Jang Sulli hanya mampu menatap Ryeowook miris.

"Bagaimana bisa kau masih mengkhawatirkanku?" Ryeowook terdiam.

"Kau temanku, tentu saja aku khawatir."

Sulli memejamkan matanya. "Semua ini bukan kesalahanmu kan? Kenapa kau berbohong di depan semua orang? Kau membahayakan dirimu sendiri."

Ryeowook tersenyum kecut, "Cincin ini, ada pada mereka. Aku harus melakukan itu untuk cincin ini." Ryeowook membuka genggamannya. Sebuah cincin perak yang tidak semengkilap dulu lagi. Melihat itu, Sulli benar-benar sakit hati.

"Ryeowook-ah, maafkan aku." Sulli menatap Ryeowook dengan mata yang memerah. "Ini semua salahku. Aku tak berdaya dan malah membuatmu merasakan akibatnya."

"Sulli, apa maksudmu? Aku tidak mengerti."

Sulli mengusap pipi yang sempat dilewati air matanya. "Kau ingin bertemu Cho Kyuhyun, saudaramu?"

Ryeowook menatap Sulli tak mengerti, "Kau mengenalnya? Kau sudah bertemu dengannya? Di-di mana? A-aku sudah mencarinya sejak lama tapi tak kunjung menemukannya. Tolong pertemukan aku dengannya." Kata Ryeowook bersemangat kembali sambil menggenggam jeruji besi pembatasnya.

"Kau akan bertemu dengannya, sebentar lagi. Tapi berjanjilah padaku satu hal," Sulli menggenggam tangan Ryeowook erat. "Berjanjilah kau akan hidup dengan baik. Kau akan membesarkan anakmu dengan baik."

Ryeowook menatap Sulli tak percaya, "S-sulli?"

"Aku sudah mendengarnya dari pelayanmu, Eunhyuk. Dia mengatakannya. Aku bahagia kau bisa memiliki anak kandungmu sendiri, tapi aku juga merasa sedih." Sulli menjeda ucapannya, ia menatap Ryeowook dengan beruraian air mata.

"Aku sedih, karena aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Ryeowook-ah."

"A-apa?" Ryeowook menggeleng makin tak percaya, "Aniya, Sulli-ya, jangan bicara begitu. Kau tidak boleh berkata begitu."

"Ini memang terlarang. Tapi perasaanku tulus padamu. Kau begitu baik, aku selalu tenang ketika bersama denganmu. Aku tahu ini salah, terlebih lagi kau mencintai Yang Mulia Yesung dan tak lama lagi kau akan memiliki bayi. Tapi aku senang mengatakan semua ini padamu, setidaknya aku merasa lega."

Ryeowook terdiam, ia tak bisa bicara apapun lagi. Perilaku Sulli memang tidaklah benar, akan tetapi ia tak bisa menyalahkan perasaannya. Ini salahnya, karena telah memberi harapan pada yeoja itu.

"Ryeowook-ah, kau tidak perlu memikirkan itu. Aku hanya ingin kau mengetahui perasaanku saja." kata Sulli saat melihat Ryeowook berpikir keras.

"M-mianhaae, Sulli. A-aku…"

"Tak apa, Ryeowook-ah." Sulli menghembuskan napas lega. "Aku akan datang lagi. Jaga dirimu baik-baik. Kau harus perhatikan anakmu juga. Aku pergi."

Setelah itu Sulli benar-benar pergi. Ketika Ryeowook menghantar Sulli sampai keluar dengan matanya, Ryeowook tak melihat siapapun. Tidak ada penjaga ataupun tahanan yang lainnya. Tempatnya sekarang pastilah pilihan Yesung. Yesung ingin ia sendirian di tempat menakutkan ini.

Akan tetapi, Ryeowook sedikit merasa senang. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan Kyuhyun. Setelah sekian lama berpisah, Ryeowook akan bertemu lagi. Lalu Ryeowook jadi memikirkan perkataan Sulli. Perkataan mengenai anaknya ini. Apa Sulli akan mengeluarkannya dari sini?

.

_`Evanescence`_

.

Kim Yesung. Jangan berpikiran kalau ia adalah orang terjahat di sini. Yesung juga sebenarnya tak mengerti apapun. Tapi itulah kesalahannya, ia tak ingin mencari tahu kebenaran dan hanya melihatnya sebelah mata. Yesung sendiri yang membuatnya menjauh dari Ryeowook. Dan kini ia membiarkan Ryeowook di penjara.

"Aku… tidak tahu harus bagaimana."

Yesung banyak berharap. Seandainya abeoji nya masih ada pastilah abeoji nya itu akan melakukan tindakan yang lebih bijaksana darinya.

"Kenapa semua ini terjadi? Ada apa sebenarnya di Kerajaan ini?" Yesung mengusap matanya, ia mau menangis. Namun, ia menolak untuk melakukan itu. Ia tak akan menangis untuk Ryeowook, orang yang sudah mengkhianatinya, begitu pikirannya.

"Kenapa kau mengkhianatiku? Kau melukaiku." Kalau Yesung tahu yang sebenarnya, ia akan lebih terluka lagi atas semua yang dilakukannya dan yang akan terjadi berikutnya. Ia sudah berusaha, Ryeowook tidak akan dihukum mati, hanya hukuman penjara. Tapi semua itu tidaklah cukup.

Yesung bangun dari posisinya berbaring. Ia tidak bisa tidur sementara memikirkan keadaan Ryeowook di sana. Ia harus menemui eomoni nya, satu-satunya yang bisa membuatnya tenang. Yesung membuang napas keras. Ia harus pergi sekarang juga.

"Eomoni," panggil Yesung seraya mendekati eomoni nya yang sedang duduk bersandar sambil membaca.

"Yesung, kau datang. Ada apa?" Heechul memang tidak tahu apa-apa. Yesung memerintahkan semuanya untuk menutup mulut. Heechul tidak boleh mengetahui apapun atau yeoja itu akan terkejut sampai terkena serangan jantung.

"Eomoni, ini sudah malam kenapa eomoni tidak tidur saja?"

Heechul mengerutkan kening. "Apa terjadi sesuatu?"

Yesung sudah menduganya, "Tidak, tidak terjadi apapun." Yesung duduk di sisi ranjang.

"Apa kau memiliki masalah? Kau bermasalah dengan Ryeowook?" tanya Heechul setelah melihat raut kesedihan tercipta di wajah putranya. Yesung menggeleng saja.

Heechul menghela napas saja. Ia mengangkat tangan dan menusap lembut bahu Yesung. "Kalau kau memiliki masalah, selesaikanlah. Jangan membutakan matamu."

Yesung terdiam lagi. Bagaimana jika Heechul tahu yang sebenarnya? Apa yang akan terjadi?

"Eomoni sudah lama sekali tak melihat Ryeowook. Apa dia baik-baik saja?"

Yesung memutar matanya ke sisi lain. "D-dia baik-baik saja."

"Jeongmal? Suruh dia datang. Sudah berhari-hari dia tak mengunjungiku." Yesung tidak mengangguk tak juga menggeleng. Ia hanya terdiam seperti yang akhir-akhir ini ia lakukan.

Ketika malam semakin larut, ketika semuanya berusaha tertidur. Yesung masih membuka matanya. Ia merasa kalau sebentar lagi akan terjadi hal-hal yang menyesakkan hatinya. Memang benar saja, Yesung tidak tahu kalau sekarang sel Ryeowook didatangi orang tak dikenal.

Orang itu berhasil membuka pintu besi yang mengurung Ryeowook. Melangkah pelan mendekati tubuh yang meringkuk kedinginan di pojok ruangan. Ia pun berjongkok, menyejajarkan dengan wajah lusuh yang sedang tertidur itu. Sebelah tangannya bergerak, menyibak rambut yang sedikit menutupi wajah manisnya.

"Ngh…" Ryeowook melenguh, tidurnya diganggu. Ia terpaksa membuka mata. Ryeowook memekik tertahan. Ia sangat terkejut dengan orang di dekatnya itu. Namun, kemudian ia menatap sosok itu dengan mata berkaca-kaca. Tangannya terulur menyentuh pipi tirusnya.

"Kyuhyun!" Ryeowook menerjang sosok itu. Ia begitu senang sampai memeluk Kyuhyun kelewat erat. "Hiks… kau darimana saja? Kau meninggalkanku sendirian."

Kyuhyun memejamkan matanya. Ia balas memeluk Ryeoowook dan mengusap punggung sempitnya. "Mianhae, Wookie hyung. Kami membuatmu menderita seperti ini."

"Aku sangat senang bertemu denganmu, aku merindukanmu." Kyuhyun meringis sedih. Ia tak kuat melihat kondisi hyung nya itu. Menyedihkan, Ryeowook terluka dan tidur di tempat yang tak layak. Setiap malam Ryeowook pasti kedinginan tapi namja manis itu berusaha menahannya. Kyuhyun sangat menyayangkan keputusan Yang Mulia Yesung.

"Wookie hyung, kajja kita pergi dari sini." Kyuhyun melepaskan pelukannya.

"Eh?"

Kyuhyun mengangguk, "Kita akan pergi dari sini. Aku akan mengeluarkanmu dari tempat ini. Lalu kita akan hidup bahagia bersama lagi."

Ryeowook menatap Kyuhyun bingung. "Kita akan keluar? Kita akan meninggalkan Kerajaan ini?" Ryeowook sepertinya terlihat tidak setuju.

"Ne, kita akan pergi. Memangnya apa lagi yang kau harapkan dari Kerajaan ini?"

Ryeowook menggeleng pelan, "Kyuhyun-ah, ini tidak benar. Kita tidak boleh melakukan ini. Jika kita pergi maka…" Ryeowook tak bisa melanjutkan ucapannya. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Ryeowook tak ingin pergi. Ryeowook masih berharap pada Yesung yang akan menarik dirinya keluar dari semua kesedihan ini.

"Kita harus pergi, Wookie hyung. Sudah tidak ada waktu lagi." Kyuhyun menyampirkan selimut tipis yang dibawanya ke punggung Ryeowook. Lalu ia bangkit berdiri dan membantu Ryeowook berdiri juga

"K-kyuhyun-ah, kita tidak boleh pergi dari sini. Aku takut—"

"Lalu kau ingin melanjutkan hidupmu di sini? Kau ingin melahirkan anakmu di sini?!"

"K-kyuhyun…" Ryeowook mengerjapkan matanya. Ia benar-benar bingung, dari mana Kyuhyun tahu menahu mengenai anaknya ini.

"Cepat keluar, sudah waktunya." Lalu suara halus seorang yeoja terdengar.

"Sulli?" Ryeowook memandangi yeoja itu kebingungan. "Kau yang melakukan semua ini?"

Yeoja itu menghela napas berat, kemudian mengangguk sekali. "Aku tidak bisa membiarkanmu terus berada di sini. Kau tidak melakukan kesalahan."

"T-tapi—"

"Wookie hyung, apalagi yang kau pikirkan? Kenapa kau tidak mau menuruti kami? Kami akan membawamu keluar dari sini." Kata Kyuhyun. "Apa… apa kau masih mengharapkan Yang Mulia Yesung? Wookie hyung, jawab aku." Lanjut Kyuhyun lagi sambil mengguncang pelan bahu Ryeowook.

Ryeowook meneteskan air matanya, ia menggeleng penuh kesedihan. "Aku tidak mau kau terkena masalah. Aku tidak mau seluruh Kerajaan memburumu karena telah mengeluarkanku dari penjara ini."

"Itu tidak akan terjadi. Karena kita akan pergi sangat jauh, sampai mereka tidak bisa menemukan kita."

Apakah itu berarti ia tak bisa bertemu Yesung lagi?

"K-kyuhyun…" Namja manis itu benar-benar bingung. Di satu sisi ia senang bisa bebas. Tapi, ia teringat pada Yesung. Bagaimana dengan namja tampan itu nantinya?

"Kajja, Wookie hyung. Kita akan memulai hidup kita lagi, bersama dengan Sungmin lalu dengan anakmu juga. Kita akan membesarkannya bersama-sama. Kau tidak perlu takut." Kyuhyun mengulurkan tangannya dan Ryeowook hanya memandanginya saja.

"Ryeowook-ah, bukankah kau sudah berjanji padaku bahwa kau akan hidup dengan baik setelah ini? Tepatilah janji itu." Sulli mendekat, ikut serta meyakinkan Ryeowook yang berada dalam keraguan besar.

Lama Ryeowook menatap tangan Kyuhyun dan juga wajah kedua orang itu bergantian, Ryeowook akhirnya menentukan pilihan. Dan pilihannya menerima uluran tangan itu. Artinya, ia mendapatkan keluarganya lagi tapi ia akan meninggalkan Yesung, orang yang dicintainya. Ryeowook tidak pernah berpikiran untuk hidup seperti ini, tanpa Yesung di sampingnya.

"Kajja."

Mereka berdua keluar dari istana. Keluar dari benteng terkuat Kerajaan dengan selamat. Kini berjalan cepat menyusuri jalan desa, semua ini berkat Selir Jang. Selir Jang lah yang mengatur semuanya. Selir Jang lah yang menemui Kyuhyun, dan membawa Kyuhyun kembali bertemu dengan Ryeowook. Selir Jang yang mengatur semuanya dengan apik.

"Akh! Jangan terlalu cepat, Kyuhyun-ah. Kakiku sakit."

Sontak Kyuhyun berhenti. Ia berbalik menatap Ryeowook yang kesakitan memegangi kakinya. Sebelah kakinya itu terluka, ingat. Pecahan beling di kolam waktu itu masih meninggalkan luka di kakinya. Kyuhyun mulai panik. Berulang kali ia melihat ke belakang.

"Kita harus sampai di dermaga sebelum mereka menemukan kita." Kyuhyun pun berbalik memunggungi Ryeowook, ia merendahkan badannya. "Naiklah ke punggungku."

Ryeowook terlihat ragu. Akan tetapi ia menurut juga. Pelan-pelan naik ke punggung Kyuhyun dan Kyuhyun membawanya cepat menuju dermaga. Kyuhyun terlalu cepat bergerak, membuat Ryeowook meringis karena perut bawahnya terasa nyeri. Yang bisa ia lakukan hanya berpegangan erat pada bahu Kyuhyun dan berusaha tak bersuara apapun.

Di dermaga, sebuah kapal sudah menunggu mereka. Salah satu awak kapal yang dikenalnya melambaikan tangan padanya. Kyuhyun semakin cepat melangkah. Sampai di sana, ia menurunkan Ryeowook. Membiarkan Ryeowook duduk di atas kotak tertutup.

"Tuan Cho, kita berangkat sekarang?" Kyuhyun mengangguk. Ia menghela napas berat, semua sudah ia lakukan. Dan ia berhasil membawa Ryeowook keluar.

Kyuhyun membenarkan selimut Ryeowook. Pada saat yang sama ia terheran karena Ryeowook yang terus tertunduk. Ketika ia menaikkan dagunya, ia melihat Ryeowook yang meringis kesakitan. "Wookie hyung, k-kau baik-baik saja? Bagian mana yang sakit?" tanya Kyuhyun khawatir.

"Astaga, tuan Cho! Hyungmu berdarah."

Kyuhyun terkesiap. Ia menatap ke bawah, darah, banyak darah merembes di celana putih yang Ryeowook gunakan. Ryeowook pendarahan, astaga apa yang harus ia lakukan? Di tengah lautan seperti ini?

"Mhh… perutku sakit sekali, Kyu…" kata Ryeowook lalu menggigit lengannya sendiri.

"Wookie hyung, bertahanlah. Bertahanlah, aegi." Kyuhyun memeluk Ryeowook erat.

Bukankah itu tandanya kalau sang aegi tak mau jauh dari appa nya?

.

.

*Bersambung*

AAA! Jangan bunuh aku! Jangan bunuh aku! Bunuh aja Perdana Menteri Jang :v

Inilah chapter yang paling nyesek buatku, hiks. Maafkan aku yang membuat Ryeowook pergi dari istana. Hiks… demi anaknya YeWook harus pisah. Ini juga, katanya pada kepingin Ryeowook pergi dari istana.

Makasih yaa yang terus dukung kelanjutan FF ini, makasih yang udah bersedia mengikuti sampai Ryeowook pergi dari istana T^T. tenang, ini bukan salam perpisahan kok. Semoga Yewook bahagia ya. Eh? :v

OK, yuk Berimajinasi :v Coba pilih kemungkinan apa yang bakalan terjadi selanjutnya :

A. Ryeowook keguguran

B. Yesung tahu Ryeowook kabur terus dia bunuh diri

C. Ryeowook dan Kyuhyun ketangkep

D. Yesung milih Permaisuri baru

E. Ryeowook nikahin orang lain

Silahkan komentari chapter ini sesuka hati kalian. Kritik saran diterima dengan senang hati. Mau curhat? Boleh. Aku bakalan baca semua isi komentar kalian~ Sampai jumpa di chapter depan^

Penuh Cinta,

Denies Kim