dangerouSHIRO present :

"Maple Love Story"

All chara own by SMent

This fanfic using MALExMALE story

So, if you DON'T LIKE that thing…

Make it simple!

DON'T READ my fanfic!

I DON'T NEED FLAMER OR BASHING!

( ¯ _ ¯!)

And if you don't like all pairing in this story,

Just GO AWAY!

XOXOX

~ Our Love, Will Never Lose! ~

Jaejoong berlari keluar dari dalam rumahnya yang terletak tak jauh dari gedung sekolah SM Senior High-School, namja cantik itu terus berlari ditengah gelap dan sepinya malam. Sesekali Jaejoong menoleh kebelakang, berharap tak menemukan sosok Lee Soo Man- ayahnya.

Jaejoong berbelok untuk sampai ketaman belakang yang menjadi tempat perjanjiannya dengan Yunho. Ia percepat laju larinya karena tak ingin Yunho menunggu terlalu lama, setelah sampai ditempat yang dijanjikan, Jaejoong mendapati sosok Yunho tengah terduduk dibangku taman. Namja tampan itu segera berdiri dari duduknya ketika Jaejoong sampai, "kau telat dari waktu yang kuberikan Jae..."

Jaejoong menatap Yunho, nafasnya terengah-engah. "Aku-hhh...ak-uh tadinya ragu,"

"Hm? Apa yang kau ragukan?"

"A-aku, aku tadinya ragu untuk melakukan hal ini Yun..." kata Jaejoong ketika nafasnya mulai kembali normal.

Yunho mendekat kearah Jaejoong, "lalu kenapa kau tetap kemari?"

Sebuah senyum tipis terhias diwajah Jaejoong yang tampak kelelahan dan berkeringat, namja itu menatap Yunho dengan matanya yang bening, "karena aku percaya padamu Yun."

XOXOX

Jaejoong menatap ruangan kamar yang disewa oleh Yunho, namja cantik itu mengedarkan pandangannya ke segala sudut. Jaejoong mengernyitkan dahinya ketika ia menyadari betapa kecilnya kamar itu, bahkan Jaejoong berfikir kamar itu jauh lebih sempit dibanding kamarnya sendiri- dirumahnya.

"Kau benar-benar tinggal disini Yun?" tanya Jaejoong.

Yunho yang sedang tiduran dilantai kamar hanya menggumam sebagai jawaban, mendapati jawaban Yunho yang seperti itu, Jaejoong memilih untuk tak bertanya lagi. Namja cantik itu akhirnya mendudukan dirinya disebelah Yunho, "apa kau yakin ingin mengajakku tinggal bersama?"

"Kenapa kau menanyakan hal itu? Kalau aku tak yakin, untuk apa aku mengajakmu kabur seperti ini Jae?"

Jaejoong menundukan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajahnya dari Yunho. "Aku...takut merepotkanmu Yun."

Yunho bangkit dari rebahannya lalu duduk menghadap Jaejoong, ia ulurkan tangannya untuk meraih dagu namja cantik itu. "Kau tidak merepotkanku Jae, kenapa kau bisa berfikir begitu?" kata Yunho sembari menatap kedalam mata bulat nan bening milik Jaejoong.

"..."

Yunho meraih bahu Jaejoong dengan lembut dan segera memeluknya, "jangan pernah berfikir kalau kau merepotkan Jae. Aku minta maaf karena hanya kamar ini yang menjadi tempat tinggalku, aku tak bisa memberikan hal yang lebih dari ini. Kau tahu kalau aku tak bisa bekerja,"

"Maafkan aku," lirih Jaejoong sembari membalas pelukan Yunho, "karena ayahku kau tak bisa bersekolah lagi. Karena ayahku juga, kau tidak bisa mencari pekerjaan."

Yunho masih mengusap-usap punggung Jaejoong dengan lembut, sesekali ia juga mengusap rambut halus yang tumbuh dikepala Jaejoong. Yunho merasakan kemeja bagian dadanya basah, dan ia mulai mendengar isakan-isakan pelan dari Jaejoong yang berada dalam dekapannya. "Jangan menangis Jae, aku baik-baik saja selama ini. untuk masalah pekerjaan, terkadang aku suka menjadi pekerja paruh waktu dibeberapa restoran kecil."

"M-mian...mianhae," isak Jaejoong dalam dekapan Yunho.

"Sudahlah, kau tak usah meminta maaf. Ini bukan salahmu..."

Jaejoong menengadahkan kepalanya untuk menatap Yunho, mata bulat besarnya yang beriris gelap menatap Yunho dengan tatapan menyesal. "Ak-aku, aku...akan berhenti sekolah dan mencari pekerjaan bersamamu."

XOXOX

Tak terasa waktu enam bulan sudah dilewatkan oleh Jaejoong setelah melarikan diri dari ayahnya, kini namja cantik itu hidup bersama dengan Yunho disebuah apartment kecil yang lebih pantas disebut sebagai rumah susun. Sejak tiga bulan lalu setelah Jaejoong dan Yunho mendapat pekerjaan sebagai pelayan tetap disebuah cafe pinggiran dikota Seoul, mereka berdua akhirnya bisa pindah dan menyewa tempat tinggal baru yang lebih layak huni. Dan apartment kecil itulah yang menjadi pilihan mereka, dan Jaejoong bersyukur untuk itu.

"Yun, hari ini aku lembur." Kata Jaejoong disela-sela kegiatan sarapan mereka.

Yunho yang tengah menyantap sarapannya, hanya memandang Jaejoong sekilas lalu kembali fokus pada makanannya. Mendapati reaksi tak menyenangkan dari sang kekasih, Jaejoong pun mengerucutkan bibirnya. Dengan kesal ia meraih sendok berisi makanan yang ada dalam genggaman Yunho, lalu mengarahkan sendok itu kemulutnya sendiri.

Yunho melotot kearah Jaejoong, "kau kenapa sih Jae?"

"Kau tak memperdulikan kata-kataku Yun!"

Yunho menghela nafas, namja tampan itu meletakan sendok makannya lalu menatap sosok Jaejoong yang masih mengerucutkan bibir. Yunho merubah posisi duduknya, ia sorongkan tubuhnya agar mendekat pada Jaejoong. Namja tampan itu juga menarik pergelangan tangan Jaejoong yang terletak diatas meja, membuat tubuh Jaejoong ikut tersorong kedepan dan membentur meja dengan pelan.

Yunho menyeringai, "aku mendengar kata-katamu Jae. Jadi jangan bicara kalau aku tak perduli pada kata-katamu, aku ini selalu perduli padamu, kau tahu?" Ujarnya sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Jaejoong.

"Bohong! Kau tak memperdulikanku tadi. Sudah, lepaskan tanganku. Aku mau berangkat kerj-,"

Kata-kata Jaejoong sukses ditelan oleh Yunho dengan sebuah ciuman. Namja tampan itu membuat Jaejoong terdiam dan membeku seketika dengan bola mata yang melebar, tentu saja ia kaget dengan ciuman tiba-tiba yang diberikan oleh Yunho untuknya. Jaejoong bukannya tak terbiasa dengan tingkah Yunho yang satu ini, hanya saja ia belum bisa mengendalikan dirinya jika Yunho menciumnya secara tiba-tiba seperti saat ini.

"Mmhhh...lep-aaasshh Yunnnhh,"

Yunho tak mengacuhkan permohonan Jaejoong disela-sela ciuman mereka, malah dengan seenaknya Yunho memperdalam intensitas ciumannya pada bibir tipis nan lembut milik Jaejoong. Jaejoong pun kewalahan, ia berusaha mendorong tubuh Yunho agar menjauh darinya.

Dan begitu tautan bibirnya dengan bibir Yunho terlepas, Jaejoong langsung menjauhkan diri. Ia menatap Yunho dengan tatapan horor, "kenapa kau selalu menciumku secara tiba-tiba Jung Yunho? Kalau aku mati karena kaget bagaimana, hah?"

"Mana bisa kau mati hanya karena ciuman tiba-tiba dariku? Aku pikir kau terlalu berlebihan Jung Jaejoong..." balas Yunho cuek.

Jaejoong mendengus kesal mendengar balasan dari Yunho, "sejak kapan namaku menjadi Jung Jaejoong?"

"Sejak...hari ini,"

Jaejoong membelalakan matanya, "k-kau bicara apa?"

Yunho tersenyum lembut pada Jaejoong, dan mengangguk. Namja tampan itu tampak merogoh saku celananya, mencoba mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. "Bagaimana kalau namamu, kurubah menjadi Jung Jaejoong? Nama Jung lebih pantas berada didepan namamu Jae..."

"..."

Sebuah kotak kecil berwarna biru donker terulur tepat dihadapan Jaejoong, membuat namja cantik itu kebingungan. Yunho tertawa kecil melihat ekspresi bingung yang diperlihatkan oleh Jaejoong, akhirnya ia raih pergelangan tangan kiri Jaejoong sembari membuka kotak kecil yang berada dalam genggamannya. Setelah kotak itu terbuka, tampaklah sebuah cincin platina indah yang tersimpan apik didalam kotak itu.

Jaejoong sempat membelalakan matanya karena kaget, ia pandangi cincin itu lalu beralih memandang Yunho. "Cincin itu bagus sekali Yun," katanya.

"Kau suka?"

Jaejoong mengangguk, "tentu saja! Siapa yang tak suka dengan cincin seindah itu," namun sesaat kemudia, Jaejoong memicingkan matanya dan menatap Yunho dengan tatapan curiga. "Tapi darimana kau dapat uang untuk membeli cincin itu Yun? Pasti harganya mahal sekali,"

Senyum Yunho semakin lebar ketika Jaejoong berkata demikian, dengan penuh keyakinan akhirnya Yunho mengeluarkan cincin platina itu dari dalam kotak dan segera memasangkannya ke jari manis kiri Jaejoong. "Tenang saja Jae, aku membeli cincin ini dengan uang yang kutabung sendiri,"

Yunho menatap cincin yang kini telah terpasang dijari manis kiri Jaejoong, lalu beralih menatap namja cantik dihadapannya. "Jadi Jae...maukah kau mengikat dirimu padaku? Mengikat seluruh hatimu, cintamu dan hidupmu hanya padaku?" tanya Yunho dengan penuh kesungguhan.

Jaejoong kembali membelalakan matanya, kali ini ia benar-benar terkejut dengan pertanyaan Yunho. "T-tapi kita masih terlalu muda untuk menikah Yun,"

"Aku mengerti, aku juga tidak ingin mengikatmu dalam sebuah pernikahan secepat itu Jae. Jadi, empat tahun lagi saat umur kita dua puluh tahun...aku akan benar-benar menjadikanmu milikku. Menjadikanmu seorang Jung Jaejoong yang seutuhnya..." kata Yunho sembari mengecup jari manis kiri Jaejoong yang telah dihiasi oleh sebuah cincin platina.

XOXOX

"Kau tahu dimana dia?"

"Dia tinggal dipinggiran kota Seoul, bersama namja itu tuan..."

Hening, tak ada yang berbicara...

"...baiklah, terus awasi dia. Jika saatnya tiba, aku akan menemuinya."

XOXOX

4 Tahun Kemudian, Feb 6...

"Saenggil Chukkae Yun~"

Jaejoong segera naik ketas ranjang milik Yunho dan menindih tubuh sang kekasih yang masih terbalut selimut tebal. Dengan jahil, Jaejoong mencubit-cubit pipi Yunho dan sesekali mencium bibir berbentuk hati milik namja itu.

Setelah cukup lama menjahili sang kekasih yang masih terlelap, akhirnya sebuah erangan kecil meluncur dari bibir Yunho. Namja cantik itu segera menyingkirkan tubuhnya dari atas tubuh Yunho yang sepertinya mulai terjaga, "bangun Yun!"

"Aku masih ngantuk Jae, jangan ganggu aku dulu." Protes Yunho.

"Ani, kau harus bangun! Inikan hari ulang tahunmu..."

Dengan kesal, Yunho menyibakkan selimutnya dan menatap marah pada Jaejoong. "Lalu kenapa kalau hari ini ulang tahunku? Sudah kubilang jangan ganggu aku dulu! Aku masih ingin tidur." Bentak Yunho.

Jaejoong membeku seketika, ia terdiam dan tak bergerak sama sekali ketika mendengar bentakan Yunho. Jaejoong kaget karena Yunho tak pernah membentaknya walau sekesal apapun dirinya. Melihat Jaejoong yang terdiam dan tak mengganggunya lagi, Yunho kembali menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Sementara Jaejoong, ia kini hanya bisa menundukan wajahnya, menahan sedih dan syok atas bentakan Yunho padanya. "Apa kau tak ingat kalau hari ini usiamu dua puluh tahun Yun?" tanya Jaejoong lirih, yang tak mendapat tanggapan dari Yunho.

Akhirnya dengan perlahan, Jaejoong turun dari atas ranjang Yunho dan berjalan keluar dari kamar namja itu. "Sepertinya kau lupa pada janjimu empat tahun lalu..."

XOXOX

Siang hari Yunho baru terbangun dari tidurnya, namja tampan itu segera beranjak keluar dari kamar dan mencari Jaejoong. Ia panggil Jaejoong berulang kali, namun tak ada tanda-tanda keberadaan namja itu dirumah mereka. Yunho pun mencoba untuk sedikit tak perduli, ia berasumsi mungkin Jaejoong sedang pergi keluar untuk membeli sesuatu atau sekedar berjalan-jalan.

Yunho pun berjalan kembali menuju dapur, berniat untuk meminum susu cair yang disimpan dilemari pendingin. Namun matanya terpaku pada sesuatu yang berada diatas meja makan, Yunho memicingkan matanya lalu melangkah mendekati meja itu.

"Kue?" Yunho tampak bingung ketika mendapati sebuah kue tart berhiaskan lilin berbentuk angka dua dan nol diatasnya.

Secarik kertas yang berada tepat disamping kue itu ternyata lebih menarik perhatian Yunho dari pada kue itu sendiri. Dengan segera Yunho meraih kertas itu dan membaca tulisan tangan Jaejoong yang terbubuhi disana.

Saenggil Chukkae Yunnie^^

Hari ini kau berusia 20 tahun..

Selama empat tahun aku menunggu hari ini,

Dan akhirnya setelah menunggu cukup lama

hari ini tiba juga...

Yun,

Apa kau ingat pada janjimu empat tahun lalu?

Yunho mengernyitkan keningnya sembari meletakan kembali kertas yang baru dibacanya itu, "janji? Memangnya aku ada janji apa pada Jaejoong?"

Yunho mencoba untuk mengingat-ingat apa yang telah ia janjikan pada Jaejoong empat tahun lalu, namun ia sama sekali tak mempunyai petunjuk. Yunho pun memilih untuk menyerah dan berhenti mengingatnya, ia pun memutuskan untuk beranjak dari meja makan, namun saat matanya menemukan sebuah cincin platina yang ternyata juga tergeletak tak jauh dari kue dan kertas tadi, Yunho segera ingat akan janji yang sudah ia lupakan.

Dengan kalap Yunho segera masuk kembali ke kamarnya untuk berganti baju. Setelah berganti baju, Yunho langsung meraih ponsel dan dompetnya yang tergeletak disofa ruang depan, lalu pergi dari sana secepat yang ia bisa.

Yunho berlari menuruni tangga apartment sembari mencoba untuk menghubungi ponsel Jaejoong, namun hasilnya nihil karena hanya operator selular saja yang menjawab panggilan Yunho.

Yunho mendecak kesal, "Jae...maafkan aku karena melupakan janji itu."

XOXOX

"Lama tak berjumpa, Jae..."

Jaejoong yang tengah duduk sendirian ditaman, langsung menoleh ketika ia mendengar suara seseorang yang berbicara padanya. Mata Jaejoong membelalak lebar ketika ia melihat siapa yang berada dihadapannya, wajah Jaejoong berubah pucat. "Appa..."

Lee Soo Man tersenyum lembut pada Jaejoong, senyum yang dulu selalu dia berikan pada namja cantik dihadapannya itu. Soo Man mendekat kearah Jaejoong dan duduk disampingnya, Jaejoong dengan refleks menjauhkan dirinya dari sang ayah.

Soo Man tertawa kecil mendapati reaksi Jaejoong, "kenapa kau takut pada Appa?"

Jaejoong menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "ani..."

Hening. Tak ada yang bicara diantara Jaejoong ataupun Soo Man, mereka lebih memilih untuk diam dan menyimpan kata-kata didalam hati. Namun karena tak tahan dengan keheningan yang ada, Soo Man kembali memulai pembicaraan.

"Bagaimana kabarmu Jae?" tanya Soo Man.

"..."

Soo Man melirik pada Jaejoong yang kini tengah menundukan wajahnya, "kenapa kau menunduk begitu? Kau takut pada Appa?"

Jaejoong menggeleng. Soo Man pun menaikan satu alisnya, "lalu?"

"Ak-aku...aku, aku takut Appa masih marah padaku."

Soo Man tertawa mendengar ucapan Jaejoong, namja paruh baya itu menepuk bahu Jaejoong lembut, "kenapa Appa harus marah Jae? kau anak Appa, dan Appa tak bisa marah padamu. Kalau kecewa, mungkin iya..."

"Mianhae..."

Hening kembali. Soo Man tak berbicara sepatah kata pun, begitu pula dengan Jaejoong.

"Jae," panggil Soo Man memecah keheningan antara dirinya dan Jaejoong.

"Ne?"

"Pulanglah kerumah..."

XOXOX

"Ku mohon jangan pergi Jae!"

"Minggir Yun,"

Yunho tetap tak ingin menyingkir dari pintu apartment mereka, namja itu bersikukuh untuk terus berdiri didepan pintu itu gar Jaejoong tak bisa pergi. Jaejoong pun kesal dengan tingkah Yunho, ia tendang tulang kering namja itu hingga Yunho mengaduh kesakitan.

"Jae..."

"Sudahlah Yun, aku lelah dengan ini semua. Appa datang dan menawarkanku untuk memperbaiki hubungan kami, dan aku menerimanya."

Yunho menatap Jaejoong sambil mengusap tulang keringnya, "aku tahu kau menerima ajakan ayahmu karena kau marah padaku, iya kan Jae? Karena aku melupakan janjiku padamu,"

Jaejoong berbalik lalu menatap Yunho sinis, "janji? Memangnya kau membuat janji apa padaku, Jung Yunho?"

Yunho akhirnya berlutut dihadapan Jaejoong, kini Yunho tak perduli akan harga dirinya. Ia tak perduli jika Jaejoong menganggap perbuatannya ini sebagai hal konyol, yang ia pedulikan kali ini adalah Jaejoong...ya, dia tidak ingin kehilangan Jaejoong.

"Jae, ku mohon..."

"Berhenti bersikap konyol Jung Yunho," kata Jaejoong dingin.

Yunho semakin menundukan tubuhnya pada Jaejoong, "aku mohon maafkan aku Jae."

"...terlambat Yun. Kau membuatku kecewa, setelah empat tahun aku menunggumu." Jaejoong pun pergi, tanpa perduli pada teriakan Yunho yang memanggil namanya.

XOXOX

3 Tahun Kemudian, Jan 26...

Jaejoong tampak tertawa senang ketika ayahnya menyodorkan kue ulang tahun berhiaskan lilin berbentuk angka dua dan tiga yang melambangkan umurnya sekarang. Namja cantik itu menatap sang ayah dengan rasa haru yang luar biasa, "jeongmal gomawo Appa. Ternyata Appa ingat ulang tahunku," kata Jaejoong sembari meniup lilin berbentuk angka dua dan tiga diatas kue itu.

Soo Man tersenyum lembut pada Jaejoong dan mengacak surai hitam milik sang anak, "appa tak akan pernah melupakan hari dimana kau hadir dalam kehidupan appa..."

"Aku tahu," Jaejoong mengangguk, ia alihkan pandangannya pada sebuah foto seorang yeoja cantik yang terpajang di dinding ruang tengah kediaman keluarganya. "Andai umma masih hidup, pesta ini pasti lebih meriah. Ya kan appa?"

"Ibumu telah bahagia di surga Jae..."

Jaejoong mengangguk sambil tersenyum. Namja cantik itu beranjak dari kursinya dan berjalan masuk kedalam kamarnya, tak berapa lama Jaejoong kembali keruang tengah sembari membawa sebuah kamera. "Appa~ buat kenang-kenangan yuk!" ajak Jaejoong.

"Kau mau berfoto?" tanya Soo Man.

Jaejoong mengangguk cepat, ia segera menarik pergelangan tangan Soo Man untuk mendekat padanya. Jaejoong mengset kameranya dengan mode self timer, sesudah itu ia arahkan kameranya pada Soo Man dan dirinya sendiri. Jaejoong tersenyum lebar, "ayo kita hitung Appa! Hana,"

"Dul..."

Jaejoong semakin melebarkan senyumnya, "SET! Smile..."

Klik!

'Maafkan aku appa, lagi-lagi aku harus meninggalkanmu sendirian. Aku, memang anak yang tidak berguna...' batin Jaejoong.

XOXOX

"Radang selaput otak Jaejoong-sshi,"

Jaejoong terdiam, tangannya meremas ujung map hasil medical check-upnya. Mata Jaejoong tampak berkaca-kaca, "apa waktuku sedikit?"

"Jika radang itu semakin parah dan mengalami pendarahan, kami tak menjamin waktu anda akan lama Jaejoong-sshi. Sepertinya Kanker di otak anda semakin parah, hingga menyebabkan radang seperti itu."

...

.

...

"JAE? JAEJOONG! TUNGGU AKU JAE,"

Jaejoong semakin mempercepat langkahnya ketika ia mendengar suara familiar itu, suara Yunho. Namun rasa pusing yang sangat terasa dikepalanya, membuatnya terhuyung dan hampir terjatuh. Kalau saja tak ada tangan kekar Yunho yang menopangnya, tubuh Jaejoong pasti sudah jatuh kejalanan aspal.

Yunho memeluk pinggang Jaejoong erat, pancaran sinar khawatir terlihat sangat jelas diwajah tampannya. "Kau tak apa-apa Jae? wajahmu pucat..."

"Aku tak apa Yun, tolong lepaskan aku." Pinta Jaejoong dengan nada lemah karena pusing yang menyerang kepalanya semakin menjadi.

"Ani!"

Jaejoong semakin lama semakin tak kuat menahan pusing dan sakit dikepalanya, dan tak butuh waktu lama hingga akhirnya Jaejoong tak sadarkan diri dengan darah yang mulai merembes dari lubang hidungnya.

"JAE!" teriak Yunho.

XOXOX

Jaejoong mengerjapkan matanya, berusaha mengenali cahaya yang masuk kedalam retina matanya. Dan begitu semuanya jelas, Jaejoong terkejut karena ia kini berada disebuah gereja.

Gereja kecil yang sangat ia kenali, geraja yang dulu selalu ia datangi dengan Yunho. Jaejoong mengalihkan pandangannya kesamping, dan mendapati sosok Yunho yang tengah menatapnya dengan tatapan...sedih dan terluka?

"Yun, kenapa aku ada disini?"

Air mata yang sedari tadi ditahan oleh Yunho akhirnya mengalir, "kenapa kau tak memberitahuku Jae?"

Jaejoong tersenyum pahit, "kau sudah tahu?"

"..."

Jaejoong berusaha bangkit dari topangan Yunho, namun segera ia urungkan ketika kepalanya kembali dihentak oleh rasa sakit. Yunho dengan sigap kembali menopang tubuh Jaejoong dan memeluknya. "Bertahanlah Jae, sebentar lagi pastornya datang."

"Pastor? Untuk apa ada pastor?"

Yunho merundukan wajahnya untuk mengecup kening Jaejoong, "untuk apa lagi kalau bukan menikahimu..."

Jaejoong tertawa sinis, "menikahiku? Untuk apa Yun? Untuk apa kau menikahiku yang mempunyai waktu yang begitu sedikit?"

"..."

Jaejoong memejamkan matanya ketika rasa sakit didalam kepalanya semakin menjadi, seakan ada ribuah paku yang menancap didalam kepalanya. "Jangan lakukan hal konyol Yun, aku mau pul-,"

"Jung Yunho, apakah kau bersedia menerima Kim Jaejoong sebagai pasangan hidupmu dalam suka-duka, dalam sehat-sakit, dalam kaya-miskin hingga maut memisahkan kalian?" Yunho memotong ucapan Jaejoong dengan kalimat dalam janji suci sebuah pernikahan.

"Yun- jangan konyol,"

"Dihadapan tuhan dan atas nama tuhan, aku bersedia!"

"Yu-n..."

Yunho menatap Jaejoong yang kini tampak semakin pucat dengan darah yang kembali merembes keluar dari lubang hidungnya, "dan kau Kim Jaejoong... apakah kau bersedia menerima Kim Jaejoong sebagai pasangan hidupmu dalam suka-duka, dalam sehat-sakit, dalam kaya-miskin hingga maut memisahkan kalian?" tanya Yunho sembari meraih tangan kiri Jaejoong, ia sematkan cincin platina yang dulu pernah ia berikan pada namja cantik itu dijari manisnya.

"..."

Yunho merundukan wajahnya untuk mengecup pipi Jaejoong, "Jae...jawablah."

Ditengah kesadarannya yang semakin menipis, Jaejoong menatap Yunho dengan sebuah senyuman tipis tersungging diwajahnya. "Ak-u...bersed-iahhh."

"Jae, boleh aku menciummu?"

Jaejoong menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Yunho. Yunho pun segera merundukan wajahnya lagi untuk mengecup bibir lembut Jaejoong yang sangat ia rindukan selama tiga tahun ini, dan ketika sensasi itu ia dapatkan lagi...entah kenapa bukan kebahagiaan yang merasuk kedalam hatinya.

Jaejoong membalas tiap lumatan Yunho pada bibirnya dengan sisa kesadaran yang ia miliki, dan diakhir kesadaran yang ia miliki, Jaejoong berbisik pada Yunho. "Aku ingin Appa tahu kita sudah menikah Yun, dan aku ingin ia mengakui cinta kita..."

Mata Jaejoong akhirnya tertutup rapat, Yunho pun tak merasakan lagi ciuman balasan dari Jaejoong. Air mata itu kini mengalir lagi membasahi pipi Yunho, mengalir dalam kebisuan yang kini mengurungnya.

XOXOX

Dear Appa...

Maafkan aku Appa,

Aku ini memang anak yang tidak berguna.

Selama tiga tahun ini aku tetap tak bisa melupakannya,

Walaupun aku berusaha sekuat tenaga.

Maafkan aku Appa,

Aku ini memang anak yang memalukan.

Selama tiga tahun ini aku tetap tak bisa mencintai siapapun selain dirinya.

Walaupun ada banyak cinta yang mendatangiku.

Appa,

Jika suatu hari nanti aku kembali kepelukannya...

Maukah Appa menerima hubungan kami?

Sekali ini saja Appa,

Ini permohonanku yang pertama dan terakhir...

Sejak aku menjadi anak Appa, aku tak pernah memohon kan?

Jadi aku mohon kabulkan permintaanku itu.

Dan maafkan aku juga Appa,

Mungkin aku tak akan bisa kembali menemanimu.

Jeongmal mianhae...

Dan,

Terima kasih untuk semuanya.

Saranghae~

Your addopted son, Lee Jaejoong...-

XOXOX

"Maaf Jung Yunho-sshi, sepertinya Jung Jaejoong-sshi mengalami koma..."

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Jaejoong, uisanim? Catatan medical check-upnya hanya menjelaskan kalau ia terkena-,"

"Jaejoong-sshi mengalami pendarahan pada selaput otaknya karena radang, yang diakibatkan oleh kanker yang ia idap selama bertahun-tahun Yunho-sshi."

"Apa bisa disembuhkan?"

T B C

Yah, yang minta Yunjae story~

Lemparin saya kolornya eeteuk!

*yadong*

Saya udah berusaha semaksimal mungkin untuk buat chapter Yunjae memory ini.

Mungkin ada beberapa bagian yang janggal,

Tapi maklumin ya~

dan buat reviewer bernama Cho Ji Hyeon di chapter 9 :

tahukah kamu kalau reviewmu sangat berkesan?

saranghae~~ *kecup"*

makasih udah ngasih tahu kejanggalan dari scene yg dirimu sebutin.

makasih bgt! _

dan makasih jg udah kasih tahu dimana kelemahan fic saya.

saya memang ga pandai nyusun kata 'n milih kata" yg tepat

untuk dijadiin kalimat.

AKU MENCINTAIMU~~~

Khekhekhe..x3

Tanpa banyak bicara lagi,

Mind to leave me some review?

But, PLEASE BE POLITE!