Mine to Take
[Chapter Nine]
WARNING! Baca perlahan. Nikmati. Pahami.
.
Terkadang engkau begitu menginginkan seseorang...
Terkadang engkau begitu membutuhkan seseorang...
Nafsu bisa menjadi cinta.
Dan cinta bisa berubah menjadi obsesi yang mematikan.
-o-
Mine to Take
-o-
Kyungsoo seharusnya mendorongnya menjauh. Kyungsoo tahu bahwa tangannya harusnya bergerak mendorong dada Jongin. Sepasang tangan penghianat itu tidak seharusnya malah melingkari bahu Jongin.
Dia harus mendorongnya menjauh.
Bukan malah menariknya mendekat.
Tapi Kyungsoo menginginkannya lebih dekat.
Dia. Menginginkan. Jongin.
Luapan emosinya terlalu liar. Mungkin karena suasana kotanya. Atau mungkin karena Jongin. Mungkin dia hanya terlalu takut dan terlalu lelah untuk merasa sendirian.
Namun ketika lidah Jongin menekan memasuki mulutnya, ketika dia merasakan aroma maskulinnya, Kyungsoo berhenti berpikir bahwa merupakan suatu kesalahan untuk berada bersama dengan lelaki itu.
Namun sebenarnya, justru Kyungsoo ingin berbuat salah.
Bibir Jongin menekan bibirnya dengan kuat dan buas. Seolah menuntut sesuatu yang memang ingin dia berikan. Jongin sangat mahir mencium, yang semakin mahir seiring bertambahnya usia.
Bibir dan lidahnya bermain dengan sangat lihai di dalam mulutnya.
Dan tangannya.
Tangannya mulai meluncur menuruni tubuh Kyungsoo. Jemarinya di sekeliling pinggul Kyungsoo, dan kemudian menggendongnya.
Kyungsoo menarik nafas tersentak karena dia tidak mengharapkan gerakan itu, meskipun ia tahu pasti Jongin sangat kekar. Tarikan nafasnya membuat Jongin memperdalam ciumannya, dan dia melangkah maju dan menjepit tubuh Kyungsoo ke dinding.
Kaki Kyungsoo terkunci di sekeliling pinggul Jongin. Kejantanannya menekan inti gairah Kyungsoo. Kejantanan yang panjang, keras dan tebal.
Pakaian mereka menghalangi tubuh mereka.
Sentuhan kulit ke kulit. Kyungsoo menginginkan itu. Berharap dengan putus asa akan sentuhan tersebut.
Pinggulnya melengkung ke arah Jongin.
Jongin menarik bibirnya menjauh. Jongin menciumi lehernya, kemudian turun ke bawah. Di sana. Ya. Tepat di sana. Tepat di lekukan leher di pangkal bahunya. Kyungsoo menyukai ketika Jongin menciumnya–
"Kau tak akan melupakanku." Kata-kata Jongin menggeram menekan tubuhnya yang memanas. "Tapi kau akan melupakan mantan-mantanmu." Jongin menggendongnya lagi. Membawanya melewati lorong.
Sebuah lampu kristal lainnya berkelipan di atas kepala. Mereka berbelok, dan Jongin membawanya ke kamar tidur. Tempat tidur yang besar itu memenuhi separuh kamar tidur yang luas. Tirainya terbuka. Salju masih turun di luar sana. Lapisan salju yang cantik menutupi dunia seperti selimut putih yang besar.
Jongin menurunkannya di atas tempat tidur.
Kyungsoo pikir Jongin akan bergabung dengannya di tempat tidur. Dia pikir Jongin akan menindih dan menekan tubuhnya ke kasur. Ia menginginkan percintaan yang liar. Menginginkan kenikmatan yang mendesak yang dapat menghilangkan rasa takutnya dan masa lalunya.
Namun Jongin hanya menatapnya. "Sial! Kau bahkan terlihat lebih cantik saat ini."
Kyungsoo tidak mempercayai itu. Dia hanya mengenakan legging usang. Sebuah kaus. Rambutnya bertengger dengan kusut di kepalanya dan– Jongin mulai melepas sepatu Kyungsoo. Melemparnya ke samping. Menarik leggingnya turun dan membuka kausnya. Tangan Jongin yang terampil menelanjanginya, sepasang tangan yang sudah menelanjangi banyak wanita.
Rasa cemburu menggigitnya. Tidak, jangan berpikiran ke sana.
Dalam sekejap pakaian yang menempel di tubuhnya hanya tinggal branya yang berwarna hitam dan celana dalam yang sesuai. Kakinya merenggang terbuka di atas kasur. Jongin masih berdiri menjulang di sampingnya.
Tatapan mata Jongin berkelana dengan perlahan, sangat perlahan, menyapu tubuhnya. Rahangnya tampak mengeras ketika tatapannya jatuh pada branya, pada payudaranya. "Sangat sempurna."
Tidak, payudaranya tidaklah sebesar itu. Dia sangat–
Tatapan mata cemerlang Jongin hanyut di atas perutnya yang rata.
Turun ke lekuk pinggulnya.
Jongin menjilat bibirnya sendiri.
Kyungsoo membayangkan lidah itu menjilat bibirnya.
Tapi…tatapannya terus turun. Dan gairahnya ikut menurun mengikuti tatapan Jongin.
'Kakiku. Aku tak mau dia melihat kakiku.'
Dia tidak ingin Jongin melihat bekas luka yang masih menutupi betisnya. Bekas luka yang akan selalu menutupi kulitnya. Mengapa tadi dia tidak mematikan lampunya? Dia selalu mematikan lampu ketika bersama Sehun, dan dia harusnya ingat untuk mematikan lampu ketika bersama Jongin.
"Jangan," suaranya menajam ketika ia mencoba meraih Jongin.
Jongin menangkap kedua tangannya. Mendorongnya kembali ke atas kasur. Masih dengan berpakaian lengkap, dia menurunkan tubuhnya ke Kyungsoo. "Jangan apa, baby? Jangan menatapmu?" bibirnya yang terbuka –bibir panas yang menggairahkan– menyapu bibir Kyungsoo.
"Jangan mencium? Karena itulah yang aku ingin lakukan. Aku ingin mencium setiap inci dari tubuhmu."
Jangan mengasihaniku. Itu yang ingin Kyungsoo katakan. Tapi Jongin sudah tidak menatap betisnya lagi. Jongin menciumnya dan menahan kedua tangannya. Kyungsoo menyukai sensasi ketika pakaian Jongin menekan kulitnya. Dia menyukai sensasi ketika tubuh yang keras dan kekar itu di atas tubuhnya.
Kakinya terenggang menjauh. Pinggul Jongin menekan pusat gairahnya, dan rasanya nikmat. Sangat nikmat.
Jongin akan membuatnya merasa lebih baik lagi. Dia tahu pasti itu.
"Itulah tepatnya yang sedang aku lakukan, baby," kata-katanya bergemuruh di bibir Kyungsoo. "Aku menciumimu, dan aku mengambil...semuanya."
Jongin mengangkat kedua tangan Kyungsoo ke atas kepalanya. Memegangnya dengan satu tangan. Kemudian tangan kirinya turun sambil berkelok menelusuri tubuhnya.
Branya dilempar ke sudut ruangan.
Udara yang dingin menyentak putingnya, membuatnya makin mengeras.
Lalu dia merasakan mulut Jongin di payudaranya. Rasanya bukan dingin, melainkan panas. Rasa panas yang sepertinya membakar tubuhnya dan sentakan lidah Jongin di putingnya terasa sangat nikmat. Pusat gairahnya basah. Dia dapat merasakan rasa lembab di celananya, dan Kyungsoo ingin melepasnya. Dia menginginkan Jongin masuk ke dalamnya–
"Aku akan melepas tanganmu, tapi jangan bergerak. Aku ingin menyentuhmu. Mencicipimu." Tangannya menjauh dari tangan Kyungsoo. "Aku ingin mengambilnya untukku."
Jongin suka memegang kuasa di kamar tidur, seorang dominan, pemaksa dan– Bibir Jongin berjalan turun menciumi tubuhnya. Dagu terbelahnya menekan perut Kyungsoo. Lidahnya hangat itu menjilati kulit Kyungsoo.
Jemari Jongin meluncur di bawah tepian celananya. "Fuck! Yes baby, "gumam Jongin. "Kau terangsang karena aku."
Kyungsoo tidak ingin menunggu lebih lama lagi. "Jongin, sekarang."
"Tidak." Jongin menarik celananya turun melewati kakinya.
Kemudian jemarinya meluncur ke pahanya. Menggodanya.
Menyiksanya dengan gairah. "Aku telah menanti terlalu lama. Sudah kubilang, aku ingin mencicipi dan mengambilnya."
Seluruhnya.
Tangan Kyungsoo mengepal, mencegah tangannya sendiri untuk meraih Jongin.
Ini hanyalah hubungan seks. Hanyalah hubungan seks. Mantra itu terbang keluar dari kepala Kyungsoo bersamaan dengan detak jantungnya yang meningkat. Dia harus berkonsentrasi pada saat ini, bukan masa lalu. Semuanya menjadi tercampur aduk ketika dia bersama Jongin.
Ini bukanlah tentang cinta.
Hanya hubungan seks. Kenikmatan.
Jemari Jongin meluncur ke pangkal pahanya. Menekan lipatan titik gairahnya. Masuk ke dalamnya. Pinggulnya melengkung di atas kasur. Ibu jari Jongin menggosok clitnya ketika dua jarinya masuk ke dalamnya. Mengaduk isinya.
Aku ingin lebih. "Jongin…" Kyungsoo hampir tidak dapat bernafas untuk menyebut namanya.
"Kau terlihat sangat cantik seperti ini…" Kata-katanya begitu gelap, begitu dalam. "Sangat bergairah, siap untukku…hanya untukku."
Jongin menarik tangannya. Tidak, sial, dia sudah hampir sampai.
"Katakan bahwa kau hanya untukku, Kyungsoo." Matanya membuka. Kyungsoo bahkan tak ingat pernah menutupnya.
"Katakan." Mulut Jongin turun ke arah pusat gairahnya. Bibirnya menekan bibir bawahnya, dan jika saja tangan Jongin tidak menahan pinggulnya ke kasur, dia mungkin akan melompat keluar kasur saat itu juga. Tersentak oleh aliran listrik yang ditimbulkan lidah Jongin di pusat gairahnya.
Kenikmatan berdenyut di sekujur tubuhnya ketika lidah Jongin bergerak. Tubuhnya menggeliat di atas kasur. Dia tidak mencoba menjauh dari Jongin. Dia menginginkannya lebih dekat lagi. Jarinya meregang, merenggut seprai tebal, menyatukannya menjadi gumpalan di tangannya.
Orgasmenya sudah dekat, sangat dekat–
"Katakan padaku, Kyungsoo," tuntut Jongin. Sebuah peringatan kecil tersirat dalam nada suaranya. Peringatan yang akan membuatnya meragu. Posesif...liar… "Hanya aku."
Kyungsoo melayang di tepian orgasmenya. "Jongin, aku ingin lebih–"
"Fuck! Ya, ya, akan kuberikan kau segalanya."
Terdengar suara ritsleting dibuka. Jongin menurunkan tubuhnya ke arah tubuh Kyungsoo. Mendorong kejantanannya masuk ke dalam Kyungsoo. Dorongan yang sulit, namun mantap.
Jongin mendorong lebih dalam, mengisinya dengan sepenuhnya, dan Kyungsoo berhenti melayang. "Oh god!" Penuh. Keras. Panas. Kenikmatan membanjiri tubuhnya. Dia terengah-engah saat jantungnya berdegup kencang, seolah-olah akan meloncat keluar dari dadanya. Sekujur tubuhnya meregang ketika orgasmenya menjalar ke seluruh tubuh. Sangat nikmat... begitu sempurna… terus berlanjut tanpa henti.
Jongin terus mendorong. Dia memegang kedua kaki Kyungsoo, mengangkatnya lebih tinggi. Memberikannya kenikmatan lagi dan lagi hingga ia gelisah karena orgasme berikutnya sedang mendekat.
Kyungsoo masih merasa lemas karena orgasme yang pertama. Namun Jongin terus mendorong gelombang berikutnya, dan akhirnya ia berteriak. Sebuah teriakan terputus karena gelombang kenikmatan menderanya begitu kuat.
Kemudian Jongin datang di dalamnya. Semburan yang deras dan panas. "Hanya…" dia bergumam.
Kyungsoo tidak dapat mendengar sisa kalimatnya. Jantungnya yang masih berdegup kencang menenggelamkan kata-kata itu. Namun dia tahu kelanjutannya.
Hanya aku.
Tubuh Jongin masih gemetaran di atas tubuhnya. Dia sudah mencapai orgasmenya, Kyungsoo merasakannya di dalam, namun dia masih terus mendorong.
Kenikmatan itu tidak berhenti.
Kyungsoo tidak pernah merasakan hal yang sama dengan orang lain.
Tidak pernah sangat– amat sangat menginginkan dan merasakan tubuhnya meledak dalam gairah, sebuah klimaks yang meremukkan badan dan diikuti dengan klimaks berikutnya.
Tidak ada yang pernah membuatnya merasakan itu.
Hanya Jongin.
Kyungsoo belum memberikan janjinya pada Jongin. Tapi kemudian ia sadar, ia tak perlu menjanjikan apa-apa.
Jongin sudah mengetahuinya.
Hanya dia.
-o-
Mine to Take
-o-
Sesi latihan selalu menjadi sesi yang kacau. Penari berputar di sekeliling panggung. Koreografer ikut naik ke atas panggung sembari memberi koreksi, saran. Sutradaranya ada di sana, meneriakkan perintah dari sisi belakang panggung.
Suasana ini terasa sangat familiar namun sekaligus canggung ketika Kyungsoo berdiri dalam bayangan, memperhatikan semua orang.
Sekarang baru saja pukul tujuh pagi lewat sedikit. Namun tentu saja, para penari sudah mulai bekerja. Saat ini mereka pasti sudah bekerja paling tidak selama dua jam.
Berkeringat. Melompat tinggi. Menari hingga otot-otot di tubuh mereka bergetar.
Dulu ini merupakan hidupnya.
Tanpa itu semua, ia akan merasa tersesat.
"Kyungsoo?" Dia mengenali suara itu, dengan sedikit aksen Cina. Kyungsoo harusnya sudah tahu bahwa Xi Luhan akan berada di sini – karena dia adalah koreografer utama, dia harus ada di sini. Dan Jongin sangat berambisi untuk menginterogasi Luhan. Tapi…
Bukan Luhan pelakunya.
Kyungsoo tidak ingin mencurigainya.
Kyungsoo berbalik ke arah suara itu, bahunya bersentuhan dengan bahu Jongin. Mereka tidak banyak bicara pagi itu. Dia merasa sangat telanjang, terlalu terbuka setelah apa yang terjadi semalam.
Berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk jatuh ke pelukan Jongin?
Pertanyaan itu terus menggema di kepalanya. Jawabannya? Sangat cepat. Sangat amat cepat.
Senyuman lebar membelah wajah tampan Luhan secara horizontal ketika ia bergegas berjalan ke arah Kyungsoo. Ia berkeringat dan bulir keringatnya memantulkan cahaya di tubuhnya. Tentu saja karena ia sudah bekerja keras dengan para penarinya. Ia bergegas mendekat dan memeluk Kyungsoo dengan erat, bercampur dengan keringat dan semuanya.
"Aku sudah tahu bahwa kau akan kembali," kata Luhan ketika pelukannya makin erat. "Kau hanya butuh waktu. Kau hanya–"
"A-Aku tidak datang kemari untuk menari."
Luhan berhenti memeluknya. Ia mundur, namun tangannya masih di sekeliling Kyungsoo. Ia menatap ke bawah ke arah Kyungsoo, sebuah kerutan samar terbentuk diantara alisnya yang sempurna.
Luhan bertubuh tinggi dan ramping untuk ukuran seorang pria. Rambut pirang ikalnya membuat wajahnya sempurna, dan kulitnya putihnya tampak bercahaya di bawah sinar lampu. Ah dan matanya–
"Kau boleh melepasnya sekarang," perintah Jongin. Tapi Jongin tidak menunggu Luhan mematuhinya. Dia menarik pria itu menjauh dari Kyungsoo.
"Ya ampun, Kyungsoo, kau memilih kekasih pencemburu ya?"
Kyungsoo bisa merasakan pipinya merona malu. Dia berdehem.
"Kami.. kita harus bicara. Di suatu tempat yang lebih pribadi."
Raut wajah Luhan menegang. "Ada sesuatu yang salah."
Sesuatu yang sangat salah telah terjadi, dan dibiarkan terlalu lama.
"Ke ruang ganti." Dia menunjuk ke arah kanan. "Ketika semua orang sedang berlatih, ruangan itu kosong."
Kyungsoo tahu arahnya dan ia berjalan di depan. Ia baru berjalan beberapa langkah ketika ia menyadari apa yang sedang Luhan lakukan.
Luhan mengamati caranya berjalan. Bukan, lebih tepatnya mengamati kakinya. Sial, apakah ia telah pincang? Dia tidak mau terlihat pincang di depan Luhan. Dia tidak mau terlihat pincang di depan siapapun. Tapi terutama Luhan. Luhan yang telah melatihnya selama ini. Yang memberitahunya bahwa Kyungsoo merupakan penari terbaik yang pernah ditemuinya.
Oh, sang ratu telah jatuh dari tampuknya.
Kyungsoo meluruskan bahunya. Memperlambat langkahnya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di dalam ruang ganti lamanya. Kenangan bertebaran di sekeliling ruangan itu. Dia pernah merasa sangat bergairah saat masuk ke sini setelah menuntaskan sebuah pertunjukan. Sangat–
"Wajahmu terlihat…cukup akrab bagiku," kata Luhan setelah ia menutup pintu dan berkonsentrasi pada tatapannya ke arah Jongin.
"Dia Kim Jongin," kata Kyungsoo, sambil melambaikan tangannya ke arah Jongin. "Kau mungkin pernah melihat fotonya di surat kabar."
Luhan bersiul pendek. "Benar. Aku pernah melihatmu." Nada siulan itu lebih terasa mengejek daripada kagum. Luhan tidak terlihat terkesan. Tapi jika berurusan dengan Luhan, maka hanya menari lah yang bisa membuatnya terkesan.
Matanya yang berwarna keemasan menatap Kyungsoo kembali. "Aku ingin kau menari untukku lagi." Kyungsoo menegang. Dia sudah mengkhawatirkan Luhan akan segera menanyakan tentang hal itu lagi.
Sebelum Kyungsoo menjawabnya, Jongin menempatkan dirinya diantara mereka berdua. "Apakah kau pernah ke Busan akhir-akhir ini, Luhan?"
"Busan? Tidak, tidak, tentu saja tidak pernah." Aksen Cinanya melekat dalam setiap kata-katanya. "Aku pernah ke sana, dan tinggal selama satu bulan penuh. Mencoba membuat para penari di sana menari setidaknya setengah dari kemampuan yang Kyungsoo miliki…"
Luhan berjalan mondar mandir di dekat Jongin. Kemudian ia tersenyum kepada Kyungsoo. "Pernahkah kau melihatnya menari?" Ia bertanya kepada Jongin. Matanya masih tetap menatap Kyungsoo. "Sial! Tariannya merupakan yang terindah di dunia."
"Aku pernah melihatnya menari," Suara Jongin terdengar ketus.
Jongin sudah melihatnya menari sejak lama. Dalam episode waktu yang berbeda. Ketika dulu Jongin mengajaknya ke pusat komunitas kota. Duduk di sana melihatnya berlatih. Tentu saja kemampuannya yang sekarang pasti jauh lebih baik daripada dahulu.
Paling tidak dia terlihat lebih baik.
"Kami ke sini bukan untuk membicarakan tentang menari," Kyungsoo mencoba memberitahukan lagi hal itu kepada Luhan. Hanya ada satu hal yang memenuhi pikiran pria ini. "Ada hal lain yang harus kami bicarakan denganmu."
"Sesuatu yang lebih penting daripada membuat pantat cantikmu kembali menari di panggung? Kuragukan itu. Aku tidak melihat–"
"Seseorang menguntit Kyungsoo." Nada suara Jongin yang ketus dan dingin memotong kalimat Luhan tepat di tengah-tengah. "Seorang bajingan baru saja menyerangnya di Busan."
"Kyungsoo!" Mulut Luhan menganga tak percaya. "Kenapa kau tak menghubungiku? Kenapa kau tak–"
"Kyungsoo cerita bahwa orang itu pertama kali mengikutinya ketika ia masih di Seoul. Orang itu masuk ke ruang gantinya…"
Pandangan marah Jongin menyapu sekeliling ruangan. "Karena di sini tidak terlihat ada petugas keamanan, aku bisa mengerti kenapa itu bisa terjadi. Bajingan itu bisa masuk ke tempat ini, ke rumah Kyungsoo, dan–"
"Dan kau bilang seseorang membuat mobilmu keluar dari jalan," gumam Luhan. Dia mengusap wajahnya dengan tangan bergetar.
"Sial, kupikir kau meracau karena efek obat. Kau menyebutkan tentang hal itu ketika pertama kali tersadar di rumah sakit. Aku tidak menyadari…" kalimatnya terhenti tiba-tiba.
Mungkin karena ia baru saja menyadari bahwa tatapan mencurigakan Jongin mengarah padanya.
"Kau berpikir akulah pelakunya, Mr.?" tanya Luhan sembari mundur selangkah.
"Kau jelas-jelas memiliki akses untuk masuk ke ruang gantinya, Bung," sembur Jongin dengan sinis. "Kau tahu di mana ia tinggal."
"Tentu saja aku tahu! Aku yang membantunya pindah ke sana! Ya ampun, aku bahkan punya kunci cadangannya."
Bahu Jongin menegang. Dia berbalik dan menatap Kyungsoo dengan sorotan khawatir. Sial. Apakah Kyungsoo dengan sengaja lupa menyebutkan tentang itu?
"Tapi aku tak akan pernah melakukan hal macam itu kepada Kyungsoo! Aku tak akan pernah melakukan hal-hal yang bisa menyakitinya." Kemudian Luhan menggapai Kyungsoo. Jemarinya memegang erat lengan Kyungsoo. "Kau tahu betapa aku membutuhkanmu. Aku tak akan pernah menyakitimu, tidak untuk –"
"Jauhkan tangan gatalmu darinya."
Kyungsoo merinding mendengar kalimat itu.
Luhan segera menjauh dari Kyungsoo. "Dengar, bung, aku–"
Jongin memegang lengan Kyungsoo dan menariknya ke sisinya. "Aku harus mendapat bukti bahwa kau tidak meninggalkan kota ini."
"K-Kau menanyakan alibiku?" Luhan berkata dengan tergagap.
"Ya. Itulah maksudku."
Sekarang pipi Luhan yang merona malu. "Selusin penari bias menyakinkanmu kalau aku telah bekerja keras bersama mereka selama dua puluh hari terakhir ini. Mereka semua bisa meyakinkanmu bahwa aku tidak pernah meninggalkan kota ini."
"Bagus." Jongin mengeluarkan senyuman kecil yang dipaksakan, senyuman yang lebih menyerupai serangai maut. "Aku akan mengkonfirmasi hal itu kepada mereka sebelum aku pergi dari tempat ini."
Kyungsoo bernafas dengan tergesa. "Lu, apakah kau pernah melihat seseorang berkeliaran di sekitar ruang gantiku? Seseorang yang tetap tinggal setelah pertunjukan?" Dia telah menanyakan pertanyaan yang sama ke petugas di panggung, namun tidak ada yang pernah melihat siapapun. Tempat ini terlalu ramai dengan orang yang berkeliaran di saat setelah pertunjukan usai. Sulit untuk memperhatikan satu persatu.
Mata Luhan memicing menatap Jongin. Dia sepertinya mengamati wajah Jongin dengan pandangan curiga.
"Luhan?" Kyungsoo memaksanya menjawab.
"Selalu ada penggemar yang ingin masuk ke ruang ganti penari," kata Luhan menggerakkan bahunya. "Aku sudah pernah katakana padamu, Kyungsoo. Ketika kau menari, kau menjadi seseorang yang...sangat unik."
Keunikan itu...telah menarik hatinya pada Kyungsoo. Satu malam latihan yang panjang telah berubah menjadi sesuatu bagi mereka. Namun sesuatu itu tidak bertahan untuk Luhan. Tidak bertahan karena…
Bagi Kyungsoo. Tidak ada laki-laki lain selain Jongin.
"Kau tidak melihat seseorang yang mencurigakan?" tanya Jongin.
"Sial, bagaimana dengan kamera pemantau?"
"Yah, kami tidak memasangnya di belakang panggung." Luhan menggelengkan kepalanya. "Setelah pertunjukan, tempat ini penuh kekacauan. Sesederhana itu. Sial, apa kau tahu berapa banyak bunga yang diantarkan setelah pertunjukan? Tempat ini berubah menjadi seperti rumah sakit jiwa.
Dan seseorang telah menyelinap masuk ke rumah sakit jiwa ini dengan begitu mudahnya.
"Aku akan memeriksanya, ok?" Luhan menawarkan bantuannya ketika suara ketukan terdengar dari pintu. "Aku akan bertanya pada orang di sekitar dan mungkin saja seseorang ingat sesuatu. Tapi, Kyungsoo, kau tahu kan seberapa cepat pekerja di belakang panggung berganti orang. Kami memiliki pekerja baru untuk pertunjukan ini."
Ada rotasi pekerja di setiap pertunjukan baru.
Suara ketukan berderap lagi di pintu. "Luhan!" Suar seorang wanita terdengar memanggil. "Mereka membutuhkanmu di panggung."
"Aku akan segera ke sana." Luhan meluruskan bahunya. Dan bertatapan dengan Jongin. "Kau bisa memeriksa alibiku. Bicaralah pada para penari. Seperti yang kukatakan, aku tak akan pernah menyakiti Kyungsoo, dan aku sangat berharap kau bisa menemukan bajingan yang melakukannya." Kemudian ia menatap sekilas ke arah Kyungsoo. Matanya yang berwarna keemasan menyorotkan tatapan hangat. "Kembalilah padaku. Aku ingin kau menari untukku lagi."
Kemarahan tampak menjalar di tubuh Jongin.
"Aku.. tak bisa," Kyungsoo berkata dengan suara lemah.
"Bagaimana kau bisa tahu itu?" Luhan bertanya sembari memiringkan kepalanya, mencoba menebak ekspresi wajah Kyungsoo. "Jika kau tidak mencoba?"
Suara ketukan di pintu terdengar lagi. Kali ini terdengar lebih tidak sabaran. "Luhan, mereka mengacau di luar sana. Kami membutuhkanmu."
Luhan mengangguk cepat ke arah Kyungsoo dan Jongin, kemudian bergegas pergi. Pintu di belakangnya dibiarkan terbuka beberapa inci.
"Sebelum kita pergi, "Jongin berbicara pelan, "Aku yang akan bertanya kepada pekerja di belakang panggung dan mencari tahu jika ada seseorang yang mengingat sesuatu."
Kyungsoo mengangguk. "Tapi bukankah sekarang sudah terlambat untuk bertanya?" Jika Jongin ada di sini untuk menanyai orang lebih awal, menjalankan proses investigasinya, maka mungkin akan ada lebih banyak bukti, lebih banyak petunjuk yang bisa ditemukan.
Jongin menghembuskan nafasnya pelan. "Akan kutemukan bajingan itu. Dia tidak akan bisa kabur."
Kyungsoo berharap bajingan itu tidak akan lolos. Dia mulai berjalan menyelinap dari sisi Jongin.
Jongin menangkap lengannya. "Kau meninggalkan Seoul bahkan tanpa pernah mencoba untuk menari lagi? Kau melarikan diri begitu saja dari sini?"
Kerongkongannya terasa kering. "Butuh waktu berminggu-minggu bagiku hanya untuk bisa berjalan kembali." Saat itu setelah semua operasi selesai dilakukan. "Dan aku mencoba menari." Kenangan menyakitkan muncul dan melekat kuat di ingatannya.
"Pertama kalinya aku mencoba menari lagi, aku terjatuh dengan muka membentur lantai." Kali pertama, kedua, ketiga. Ia menatap ke atasnya, ke arah mata hitam kelam Jongin yang menatapnya balik. "Luhan adalah koreografer yang paling menuntut yang pernah aku temui. Aku tahu dia akan bisa melihat kekuranganku ketika melihatku menari. Aku tidak ingin mendengar ia mengatakan–"
Kau kehilangan kemampuanmu, Sayang.
Dia bisa membayangkan kata-kata Luhan dengan jelas di kepalanya.
"Ada beberapa hal yang hanya kau sendiri yang tahu persisnya." Dia sudah merasa cukup dipermalukan dan muak dengan rasa sakit saat itu. Berlari sepertinya merupakan rencana yang terbaik. Melarikan diri.
Dan Kyungsoo tidak ingin membicarakan mengenai hal ini lagi. "Aku akan pergi berbicara ke beberapa penari." Kata-katanya menggulir keluar dengan cepat. "Aku akan mencari tahu jika seseorang ingat atau –atau mungkin hal seperti ini pernah terjadi dengan salah satu dari mereka." Rupanya dia mulai merasa putus asa. Ruangan itu terlalu kecil. Terlalu banyak kenangan indah yang ada di sini, dan Kyungsoo ingin keluar dari sana.
Dia keluar dari ruangan itu segera. Dia mungkin belum bisa berjalan dengan baik. Tapi dia jelas mampu berlari dengan baik.
.
-o-
to be continued
-o-
Ini kan yang kalian tunggu? Ngaku!XD
Oya gua update image cover ff ini, hati-hati ya ketika membaca di tempat umum.
So, gimana menurut kalian? Apakah Luhan pelakunya?
.
Next? Review dear~
See ya!
-Kimchi
Kimsoo: kl mau pictnya pm gua sist.
12154kkaisoo: yes dear, obviously.
Sushimakipark: Chanyeol baru tergugah untuk menyelidiki kasus kyungsoo lebih dalam setelah penyerangan yang bikin kyung gegar otak. Karena sebelumnya belum ada bukti yang cukup kuat, hanya terror yg tak berdampak fisik. Untuk kecelakaan kyung yang di Seoul polisi sudah menyatakan kl itu kecelakaan tunggal. Nah ketika Jongin datang, dia semakin curiga, di sisi lain cemburu, karena sebelum ada Jongin, Kyungsoo bergantung sama Chan, dan tiba-tiba Jongin muncul gitu aja.
Thanks to:
daebaktaeluv; kadi1288; Ita Daiki; dks; 12154kaisoo; UnA NA; SooieBabyUke; ekyeol; riaazzhh; rly; kim gongju; slablill; dinadokyungsoo1; DJ 100; sushimakipark; 17Bang Kyung Hoon; sider; kai; Diyah887; ChocoSoo; kaisoov; NataNerd; Lovesoo; kimsoo; Shinkyu; Kim Reon; dyonatkai; sangjoonpark; nikyunmin; anon; dorim; Kaisooship; KyungXo; park taen; Ayyu965; TulangRusuknyaDyo; Meonggu; Kaisoo; hunkaisoo; ekyeol; Dks; Soonini; Ellena; kyungsoonia; kaisoohug; W.
also unnamed guest & silent reader...
