Title: The Time

Author: Besajoy

Disclaimer: The poster and the story belong to ME and the casts belong to GOD.

Genre: Romance, Friendship, AU, etc.

Rating: T

Cast:

Main cast:

Cho Kyuhyun (Namja)

Lee Sungmin (Yeoja)

Support cast: Find by yourself.

Summary: Ketika pertemuan antara Kyuhyun dengan Sungmin menjadi suatu malapetaka bagi keduanya, namun akankah anggapan itu akan berlaku untuk selamanya di kehidupan mereka?

Warning:

This is a genderswitch fanfiction that changes the uke's gender from "boy" to "girl". So if you don't like this kind of fanfiction, better you don't read this and then go away.

Important note: the characters have different age gaps with others in a few characters.


Rasa sakit hati Sungmin yang semakin mendalam tak dapat terhindarkan lagi. Kata-kata Kyuhyun begitu menghinanya, apalagi terlontar dengan tempo cepat dan lancar tanpa hambatan seakan-akan ia tidak merasa bersalah sama sekali sudah menghina orang lain apalagi di depan kakak Kyuhyun sendiri, membuat Sungmin merasa semakin muak saja dengan namja itu. Namja yang tak punya hati itu. "Memangnya kenapa kalau saya masih pelajar, hah?! Anda juga masih pelajar, bukan?!" ucapnya yang sudah menurunkan volume bicaranya namun tetap saja ia masih merasa geram.

Heechul yang melihat air muka Sungmin mulai berubah sedih meski tidak begitu terlihat itu langsung berbicara kembali. "Coba jelaskan lebih lanjut, Kyu. Aku saja tidak mengerti apa alasanmu. Memangnya kenapa kalau pelajar jadi pianis disini? Asal dia bisa bermain piano kurasa itu tidak jadi masalah," ucapnya pada Kyuhyun dengan nada tenang, walau hatinya sendiri mulai tidak tenang lantaran melihat reaksi Sungmin itu yang tentu saja ia pahami karena menurutnya perkataan Kyuhyun juga terdengar begitu kasar.

"Dengar, nona Sungmin," ucap Kyuhyun seraya mengangkat salah satu alisnya. "Kafe ini membutuhkan pianis untuk shift kerja pada waktu sore hingga petang setiap harinya. Itu artinya pulang sekolah anda harus langsung kerja disini kalau seandainya anda bekerja disini. Tapi memangnya anda bisa setiap hari begitu—pasti bisa, hah?! Tidak. Mengingat anda itu pelajar dan satu sekolah dengan saya, saya sangat tahu sistem yang ada di sekolah itu seperti apa. Sekolah bisa kasih tugas mendadak sewaktu-waktu yang mengharuskan muridnya menunda waktu pulang mereka. Belum lagi kalau ada ekskul. Mengingat anda juga satu ekskul dengan saya yaitu teater, saya juga tahu jalannya kegiatan teater itu seperti apa. Kalau teater itu lagi sibuk-sibuknya, pasti jam pulang itu jadi sering dipakai untuk kegiatan teater dan pulangnya pasti lama, bahkan bisa sampai petang. Apalagi teater akan melakukan pementasan akhir tahun dimana anda memegang posisi bahkan sebagai peran paling utama. Karena saya juga sudah berpengalaman untuk memegang posisi peran paling utama, saya pun tahu kalau peran paling utama itu akan jadi paling sibuk nantinya karena persiapannya juga berat. Enak saja kalau anda kerja di sini terus karena itu semua anda jadi sering ijin ambil cuti. Cuti juga ada jatah tertentu, tidak bisa bebas ambil cuti."

Kedua mata Sungmin secara otomatis mengerjap sebagai reaksi akan keterkejutannya mendengar alasan Kyuhyun yang tidak sesempit yang ia duga tadinya—bahkan malah jauh di luar perkiraannya. Begitu logis dan cukup bijak karena Kyuhyun menjelaskan sebagian besar permasalahannya dari sisi Sungmin dengan menggunakan sisi Kyuhyun sebagai pembanding karena memang Kyuhyun lebih lama mencicipi masalah-masalah—sekolah dan ekskul—itu. Padahal Sungmin sendiri tidak berpikir sampai sejauh itu. Pada awalnya ia hanya memikirkan tujuannya mencari uang, dan sebelumnya ia pun berpikir bahwa ia bisa dengan mudah langsung pergi dari sekolah jika kegiatan belajar mengajar di sekolah sudah selesai karena ia menganggap jam pulang sekolah selalu bisa digunakan dengan bebas oleh para warga sekolah. Ternyata dari penjelasan sang murid yang lebih lama mengenyam pendidikan di sekolah yang sama dengannya itu tidak demikian adanya, dan Sungmin percaya saja karena ia pun masih merasa sebagai murid baru yang masih butuh proses pengenalan lebih lanjut.

Pantas saja Kyuhyun meremehkannya, ternyata memang nalar namja itu cukup luas. Sungmin akui di dalam hati kecilnya bahwa ia merasa kalah dari Kyuhyun untuk persoalan penalaran dalam menanggapi suatu masalah seperti yang satu ini.

Namun di sisi lain hati Sungmin masih berteriak untuk melanjutkan perjuangan untuk merebut peluang kerja ini ke tangannya. Otaknya memberi sinyal peringatan untuk merealisasikan niat awal yang tertulis bahwa Sungmin ingin mencoba menghidupi dirinya sendiri serta sang eomma dengan usahanya sendiri karena kondisi kesehatan ibunya kini. Biar bagaimanapun sang eomma harus menjadi prioritas utama.

Bukan hanya Sungmin yang terkejut, namun Heechul yang mendengarnya juga, karena ia baru sadar bahwa Sungmin dan Kyuhyun satu sekolah, bahkan satu ekskul. Dan ia pun juga menerima alasan tersebut karena memang ia tidak meragukan kinerja otak namdongsaeng-nya itu, meski sikapnya kadang masih harus dilatih untuk bisa lebih dikontrol lagi.

Melihat reaksi Sungmin serta sang noona yang membungkam membuat Kyuhyun merasa menang. Rupanya ia tidak salah memakai cara ini untuk menyingkirkan Sungmin dari ruang lingkup tempat kerjanya ini—karena ia sudah muak sekali akan takdir yang justru semakin mendekatkannya pada musuhnya itu di ruang lingkup sekolah, sehingga ia tidak mau kalau sampai di luar lingkup itu pun demikian. "Sebenarnya memang boleh pelajar kerja di tempat ini, tapi mengingat hal-hal tersebut tentunya saya ingin mencegah hal-hal buruk terjadi seperti terpuruknya jalannya kafe karena pegawainya sering tidak bisa kerja sebagaimana mestinya—" lanjutnya setelah ia membiarkan beberapa milidetik terbuang untuk melihat tanggapan dari Sungmin maupun Heechul namun ternyata mereka malah mengunci mulutnya. Ia kemudian kembali menampilkan smirk-nya dan mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Sungmin. "—Dan hal itu bisa saja terjadi jika kafe ini mempekerjakanmu, nona. Makanya, jangan merasa sok benar!"

Jika diperbolehkan, Sungmin sudah melepas salah satu sepatu flat kulit berwarna coklat muda yang dikenakannya itu untuk menampar wajah Kyuhyun yang semakin terkesan merendahkan dirinya itu, dan itu teramat sangat menyebalkan. Ia memang tadi sudah mengaku kalau ia sudah kalah untuk urusan ini—meski hanya dalam hatinya—tapi tetap saja ia tidak sudi untuk diinjak-injak seperti ini, seolah-olah ia yang salah sepenuhnya padahal tidak juga. Ia juga punya alasan tersendiri untuk mendatangi kafe ini, dan sikap Kyuhyun jelas-jelas menghakiminya dan Sungmin jelas tidak menyukainya.

Tapi Sungmin masih tahu diri untuk menjaga emosi supaya tidak meledak hanya karena dipancing oleh orang sialan itu mengingat ada dimana ia sekarang.

"Kyu, jangan menghakimi yeoja seperti itu. Dia pasti punya alasan tersendiri untuk datang ke sini," Heechul mengambil alih pembicaraan dengan menegur sang adik usai mendapati ekspresi puasnya serta ekspresi Sungmin yang sebaliknya dan Heechul begitu memahami kondisi ini sebagai sesuatu yang jelas saja tidak baik untuk Sungmin karena ia tahu permasalahan Sungmin dibalik ini semua.

Mendengar Heechul yang terkesan membela Sungmin membuatnya tersenyum, merasa begitu berterimakasih karena sudah ada yang membelanya. Beruntunglah sifat Heechul padanya berbanding terbalik dibanding adiknya.

Reaksi sebaliknya datang dari Kyuhyun, yang merasa kembali muak pada Sungmin karena orang yang jelas-jelas berstatus sebagai noona-nya malah membela orang lain ketimbang adiknya sendiri. Padahal ia pun sudah menjelaskan alasannya mengapa ia begitu tidak terima jika Sungmin menjadi pianis kafe secara rinci dan ia sudah berusaha untuk tidak memojokkan Sungmin kali ini—walau sebenarnya ia ingin cepat-cepat menyingkirkan wanita itu dari sini. Tapi ternyata—

—Astaga! Bahkan noona-nya sendiri mengira ia malah menghakimi orang, lebih parah daripada hanya sekedar memojokkan—menurutnya. Ia tidak habis pikir dan ia rasa seakan ia ingin meledakkan diri saat ini.

Namun disaat Kyuhyun ingin melontarkan pembelaannya, Heechul malah melanjutkan bicaranya. "Sungmin, kau bisa bekerja di shift malam," ucapnya tenang seraya menatap ke arah Sungmin dan menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Untung saja ia punya ide untuk penyelesaian solusi masalah ini.

"MWOYA?!" Kyuhyun spontan berteriak. Kaget, tentu saja. Bahkan sekarang kakaknya itu mengucapkan sesuatu yang ia tidak menduganya sama sekali sebelumnya, dan itu seakan membuka jalan untuk Sungmin yang tentu saja tidak bisa Kyuhyun terima. Berarti orang itu akan berada di sekitarnya lagi dan ia tidak mau. Ia sudah cukup kenyang untuk itu. "Noona, yang kosong shift sore bukan—"

"Aku akan memindahkan jadwal pianis kafe yang bekerja di shift malam ke shift sore," potong Heechul segera sebelum Kyuhyun menolak lebih lanjut.

Dan itu membuat Sungmin segera merenungkan diri.

"Noona! Noona tidak bisa seenaknya begitu!" bentak Kyuhyun yang semakin merasa tidak beres akan pola pikir sang noona. Bisa-bisanya Heechul sampai berpikiran hal seperti itu hanya demi mengisi kekosongan bagian pianis kafe. Ditambah lagi orang yang akan mengisi kekosongan itu ialah orang yang sangat-sangat tidak Kyuhyun harapkan keberadaannya.

Heechul tersenyum memaklumi bentakan kasar yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang adik terhadap kakaknya itu. Ia tahu kalau tindakannya itu akan terkesan begitu seenaknya, wajar saja jika Kyuhyun tidak setuju. Tapi ia pun punya alasan logis. "Mengapa tidak? Bukankah pianis yang kerja di shift itu pianis yang benar-benar pianis? Harusnya bisa."

"Noona!" Kyuhyun lagi-lagi menggertak kesal terhadap Heechul. Kakak perempuannya itu begitu keras kepala. "Bahaya jika yeoja kerja malam-malam seperti itu!"

"Eonnie, kalau memaksakan seperti itu, lebih baik tidak usah," akhirnya Sungmin membuka kembali suaranya dengan nada yang melirih kali ini, namun menatap Heechul dengan mantap. Ia sudah memikirkan semuanya secara matang, dan ia lebih memilih untuk tidak bersikap egois lagi kali ini. Memang sang ibu menjadi prioritas utamanya, namun bukan berarti ia bisa merepotkan orang lain untuk menangani masalah yang terjadi padanya. Keputusan Heechul untuk merubah jadwal pianis itu seakan menghentaknya dan membuatnya tersadar kalau apa yang beliau katakan itu nanti akan merepotkan beliau nantinya jika hal itu benar-benar sampai dilakukan, dan Sungmin tidak mau sampai seperti itu. Sudah cukup Heechul berbuat baik padanya serta ibunya, ia tidak mau utang budinya pada Heechul semakin bertambah karena belum tentu ia bisa membayar lunas semua itu. Lagipula apa-apa yang dikatakan oleh Kyuhyun juga ada benarnya, meski ia sebenarnya tahu dari awal kalau Kyuhyun berusaha menyingkirkannya—walaupun untuk kali ini dengan cara yang lebih halus—tentu saja, karena ia begitu tahu seberapa besar Kyuhyun membencinya bahkan sejak perjanjian mereka untuk bersaing satu sama lain itu lahir. Memegang profesi sebagai pelajar baginya memang penuh resiko, tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain. Kalau untuk diri sendiri itu bukan menjadi masalah karena ia pasti bisa menanganinya, namun kalau untuk orang lain bahkan bagi orang yang bukan keluargamu—sepertinya Sungmin harus meminimalisir itu.

Kalimat Sungmin yang meluncur secara mendadak dari mulutnya mengagetkan orang-orang di ruangan itu yang mendengarnya. Mereka tidak menyangka jika Sungmin pada akhirnya akan menyerah, walaupun mereka menanggapinya dengan persepsi mereka masing-masing yang tentu saja bertolak belakang.

"Sungmin, itu tidak akan merepot—"

"—Apa kata namdongsaeng-mu itu benar, eonnie. Eonnie tidak bisa berlaku seenaknya seperti itu pada pegawai eonnie," Sungmin segera menyela perkataan Heechul dengan nada tenang. Ia kemudian berganti tatapan ke arah Kyuhyun sembari menarik senyum miringnya. "Saya sudah tahu dari awal kalau anda berusaha menyingkirkan saya dari sini, Kyuhyun-ssi. Sebenarnya saya tidak peduli mau anda benci terhadap saya atau tidak untuk kali ini, karena saya memang sedang mencari pekerjaan dengan suatu alasan yang jauh lebih penting, makanya dari itu saya berani datang kemari walaupun ada anda disini. Tapi saya rasa alasan-alasan anda yang tadi itu cukup logis dan bisa saya terima. Jadi saya tidak mau memaksakan diri untuk bekerja disini, namun bukan karena anda, tapi karena alasan anda, Kyuhyun-ssi."

Kyuhyun sedikit terperanjat akan sapaan formal yang dipakai Sungmin padanya kali ini, namun ia cukup senang akan keputusan Sungmin yang ia rasa sudah final itu. "Bagus kalau begitu."

"Tapi kamu mau cari kerja dimana lagi, Sungmin?! Eonnie sudah berusaha memudahkanmu dalam hal itu," ucap Heechul dengan meninggikan nada bicaranya seoktaf namun ia tidak berniat membentak Sungmin sedikit pun karena tatapan matanya kepada Sungmin berubah melembut.

Dan—tunggu dulu. Kyuhyun begitu tidak mengerti maksud ucapan Heechul itu.

Sungmin berdiri sembari menggantungkan tas selempangnya ke bahu sebelah kanannya, lalu meraih dan menggenggam tangan Heechul erat. "Justru itu, aku tidak mau, eonnie. Bukan—bukannya aku tidak menghargai apa yang eonnie lakukan padaku, justru karena aku sangat menghargainya makanya aku tidak mau utang budiku pada eonnie bertambah lagi," ucapnya parau, sebagai bentuk rasa bersalahnya pada Heechul. Ia takut kalau Heechul mengira ia tidak menghargai pertolongan beliau padanya dan melukai hati beliau, karena Sungmin pun begitu menyayangi Heechul sebagai eonnie-nya kini—sejak tahu bahwa Heechul merupakan kakak dari orang yang seangkatan dengannya di sekolah.

Sebuah pertanyaan besar langsung hinggap di kepala Kyuhyun begitu menyaksikan tontonan gratis antara Sungmin dan Heechul sekarang. Ada apa yang terjadi di antara mereka berdua?

Kyuhyun bahkan baru tahu kalau ternyata Heechul dan Sungmin sudah saling mengenal. Pantas saja noona-nya itu sampai menyebut nama Sungmin bahkan lebih dari sekali dengan enaknya. Dan ternyata ada sesuatu yang terjadi dan Kyuhyun begitu penasaran dengan hal itu.

"Eonnie, jeongmal mianhamnida sudah merepotkan eonnie sampai sejauh ini. Eonnie sudah punya Kyuhyun sebagai namdongsaeng-mu, jangan sampai aku ikut membebankan eonnie. Aku tidak mau memberatkan eonnie lagi," lanjut Sungmin seraya mengecup punggung tangan Heechul dan meneteskan setitik air matanya di sana. "Lagipula Kyuhyun pasti semakin membenciku jika aku ikut membebani eonnie, setelah membebaninya dengan begitu berat di kehidupannya," nada bicara Sungmin semakin memarau dan tetesan air matanya semakin membasahi tangan Heechul seiring dengan putaran memori yang seakan bermain di dalam kepalanya. Bagaimana perlakuan Heechul untuk membantu rekan kerja beliau yakni eomma-nya serta bagaimana Kyuhyun memperlakukannya layaknya seorang wanita hina.

"Heh! Yang sombong itu kau! Dasar manusia sok pintar! Kau masih baru di sini tapi kau sudah macam-macam denganku! Kau masih belum apa-apanya denganku!"—Kyuhyun.

"Dia masih kritis. Eomma-mu tadi sempat kelihatan lelah sekali, tapi dia memaksakan dirinya untuk terus bekerja, padahal sudah sempat kusuruh untuk istirahat."—Heechul.

"Sebaiknya eomma-mu ikut terapi itu saja, soal biaya eonnie punya solusi yang bagus untukmu. Eonnie akan mengusahakan pengajuan asuransi jiwa untuknya kepada perusahaan, sehingga biayanya ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan."—Heechul.

"Terserah. Aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Tapi aku muak akan sikapmu yang sok kenal sok dekat terhadap orang-orang disini."—Kyuhyun.

"Kalau eonnie urus tadi sebelum kau pulang, lantas siapa yang menjaga eomma-mu."—Heechul.

"Tentu saja supaya aku bisa menginjak-injak harga dirimu yang banyak gaya itu dan membuktikan kalau kau tidak pantas menunjukkannya! Yeoja tidak tahu diri!"—Kyuhyun.

"Rupanya teman barumu itu begitu pengecut."—Kyuhyun.

Keping-keping memori itu terlintas begitu saja di otaknya dengan frekuensi yang terasa sangat cepat, dan itu cukup berefek samping pada hati Sungmin. Hatinya terasa memerih seiring dengan rasa bersalahnya yang begitu besar karena sudah banyak membebani kedua bersaudara itu di kehidupan mereka, walau dengan konteks yang berbeda.

"Sungmin…" Heechul segera mengusap pucuk kepala Sungmin, berusaha menenangkan pikiran Sungmin yang ia tahu menjadi begitu kalut, meskipun pikirannya sendiri masih bertanya-tanya seberapa besar rasa benci Kyuhyun terhadap Sungmin dan seberapa tidak sehatnya pertemanan yang terjalin di antara dua dongsaeng-nya itu, karena ia sendiri baru tahu hari ini dan masih tidak menyangka jika hubungan di antara mereka kurang baik, padahal Heechul sendiri menyayangi mereka berdua.

"Noona, ada apa ini sebenarnya?!" nada bicara Kyuhyun berubah panik melihat Sungmin yang menumpahkan bulir-bulir air matanya pada kedua tangan sang noona walaupun samar karena tertutup oleh rambut panjangnya yang disebabkan karena posisi merunduknya itu.

Kyuhyun tidak menampik jika ia sedikit terenyuh kala mengetahui bahwa Sungmin ternyata sadar kalau kehadirannya cukup membebani Kyuhyun selama ini dengan segala yang terjadi di antara mereka berdua, dan ia pun menyaksikan Sungmin yang menangis di depan mata kepalanya sendiri yang disana tampak rasa bersalahnya padanya dan hal ini sedikit menyentuh baginya.

Akan tetapi rasa panik Kyuhyun jauh lebih besar. Sungmin sudah mengatakan pada Heechul bahwa Kyuhyun membencinya disela-sela perkataanya mengenai masalah antara mereka berdua seolah-olah ada kaitannya. Padahal Kyuhyun sendiri pun masih tidak tahu permasalahan mereka dan tentu saja ia tidak mau disalahkan begitu saja kalau saja sikapnya yang membenci Sungmin itu dianggap mempersulit masalah yang bahkan tidak diketahuinya sama sekali.

Menangkap suara bass Kyuhyun yang bertanya padanya mengundang Heechul untuk melempar tatapan menyudutkan padanya. Tindakan serta ucapan Sungmin di hadapannya membuatnya menganggap bahwa kadar kebencian Kuhyun pada Sungmin sudah melampaui batas wajar dan ia harus segera menindaklanjutinya. "Harusnya aku yang bertanya padamu, ada apa sebenarnya antara dirimu dengan Sungmin sampai-sampai kau membencinya dan membuatnya terluka seperti ini, hah?!"

Benar saja dugaan Kyuhyun. Ia disalahkan—meski secara tidak langsung tapi nada bicara Heechul menggambarkan demikian. Ia pun mendengus kesal. Lagipula juga bukan tanpa alasan ia bersikap seperti itu pada Sungmin selama ini.

Namun tiba-tiba saja suatu peristiwa masa lalu terputar cepat di dalam kepala Kyuhyun. Peristiwa dimana ia pernah memergoki Sungmin menangis sebelum ini, yang mana kejadian itu terjadi secara tidak disengaja karena tubuh mereka saling bertubrukan satu sama lain.

"Mian, ne!"

"Enak saja kau bilang mi—Sungmin?! Ada apa denganmu?"

"Bukan urusanmu!"

Kyuhyun tersentak saat ia baru saja menyadari sesuatu.

"Sungmin, apa tangismu waktu itu ada hubungannya dengan masalah antara dirimu dengan noona-ku?" tanya Kyuhyun sesegera mungkin selagi ada kesempatan, dengan menurunkan tingkat kebakuan bahasa yang ia pergunakan pada yeoja itu kini.

Sungmin yang sedang asyik mengeringkan basahan air mata di sekitar matanya—yang sebenarnya sudah ia lakukan sejak Heechul membentak Kyuhyun tadi—terkejut ketika mendengar pertanyaan Kyuhyun tersebut. Walaupun kurang begitu jelas tangis yang mana yang ia maksud itu, namun sepertinya Sungmin tahu maksudnya, karena ia baru dua kali menangis di depan namja itu.

"Mian, ne!"

"Enak saja kau bilang mi—Sungmin?! Ada apa denganmu?"

"Bukan urusanmu!"

Rupanya peristiwa itu mampir juga di ingatan Sungmin.

Tersadar bahwa ia sudah lebih dari sekali ini menangis di depan Kyuhyun membuat ia malu sendiri. Salahnya juga mengapa pada saat itu ia tidak dapat mengontrol tangisnya bahkan saat sedang berjalan walaupun ia sedang panik kala itu. Sekarang pun ia lagi-lagi mengulangi kesalahannya. Harga dirinya jatuhlah sudah. "Bukan urusanmu!" jawabnya sinis tanpa menatap siapa yang pertanyaannya ia tanggapi itu. Kedua matanya pasti masih berwarna merah sekarang, hasil kerja dari air matanya yang meringsek keluar tadi.

Heechul pun terperangah mendengar pertanyaan Kyuhyun yang ditujukan pada Sungmin yang sudah terjawab itu. Ia pun menatap kedua orang itu secara bergantian, bingung. Mereka tidak akur, tetapi Sungmin pernah menangis pada Kyuhyun—bukankah ini cukup tidak masuk akal? Bukankah dua orang yang tidak akur itu akan saling menjaga gengsi mereka jika tengah berinteraksi satu sama lain? Tapi Sungmin barusan bilang—

—Heechul semakin tidak mengerti. Intinya ia penasaran sekompleks apa masalah yang ada di antara mereka berdua itu.

"Tapi dia itu noona-ku!" bentak Kyuhyun seraya menunjuk Heechul dengan menggunakan kedua matanya. "Segala masalah yang melibatkan noona-ku harus kuketahui, apalagi jika masalah itu berurusan dengan orang sepertimu!"

"Yang waktu itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan noona-mu. Puas?!" Sungmin membalas bentakan Kyuhyun dengan bentakan pula. Namja itu mulai lagi membuat telinganya panas dengan nada-nada yang tidak menggenakan yang keluar dari mulut tajamnya itu. Usai menyelesaikan kalimatnya, ia menatap Heechul dengan cepat. "Eonnie, aku pulang," ucapnya seraya mencium punggung tangan Heechul sekikas sebelum akhirnya melenggang pergi. Cukup sudah, ia tidak ingin berada di ruangan ini lagi. Jika ia terus-terusan berada di tempat ini tenaganya akan terkuras habis karena terus berdebat dengan orang menyebalkan itu.

"Tapi Sungmin—" Heechul sungkan menyelesaikan kalimatnya karena Sungmin sudah keburu menjauhinya dan pergi ke luar ruangan. "Sungmin!" ia mencoba menggertak untuk menghentikan langkah kaki Sungmin, namun sia-sia. Padahal ia belum memberinya pekerjaan.

"Biarkan dia pergi, noona," ucap Kyuhyun yang juga menatap ke arah pintu yang baru saja dipergunakan Sungmin untuk keluar itu. Walaupun yeoja itu seenaknya pergi tanpa pamit dulu padanya padahal ia berpamitan pada noona-nya, tapi persetan dengan itu—setidaknya yeoja itu sudah angkat kaki dari sini dan Kyuhyun sangat lega. Ia tidak perlu lagi berpusing ria dengan masalah-masalah yang terjadi di antara mereka bertiga—setidaknya untuk saat ini.

"Ini semua karenamu, Kyuhyun!" ucap Heechul kesal. "Kau sudah keterlaluan padanya karena sudah membencinya dan itu membuatnya terluka. Kau lihat bagaimana ia merintih dan menangis tadi, bukan?! Dia bahkan menganggap dirinya sendiri sebagai bebanmu yang berarti bahwa ia begitu peduli padamu dan tidak sepatutnya kau membencinya!"

Kyuhyun menghela nafasnya. Ia kini menatap Heechul lekat. "Aku tahu, tapi dia juga membenciku dan dia pernah membuatku terluka dan alasan mengapa aku terluka karenanya tidak akan pernah noona pahami jika aku mengatakannya pada noona."

"Mwoya? Apa maksud—"

"Jangan tanya macam-macam lagi. Noona bahkan belum cerita apa-apa padaku tentang masalah antara noona dan Sungmin," Kyuhyun mempertajam nada bicaranya serta tatapannya ketika memotong ucapan Heechul itu. ia bahkan tidak menghiraukan pelototan mata noona-nya itu yang menunjukkan keterkejutan dan ketidakpahaman akan maksud ucapannya yang sebelumnya. "Jadi ini maksudnya yang noona bilang ada kesibukan lain?! Noona lebih memilih mengurus anak orang lain ketimbang namdongsaeng-mu sendiri ini, hah?! Pantas saja noona jarang berada di rumah dan mengabaikanku."

Tindakan menusuk dari sang adik yang sarat akan rasa terluka itu membuat Heechul jadi merasa begitu bersalah. "Kyuhyun, bukan maksudku—"

"Lalu apa?!" Kyuhyun masih bertahan akan tatapan tajamnya, walaupun nada bicaranya tidak dipertajam lagi. "Aku akui aku memang manja. Tapi bukankah wajar jika aku bersikap manja pada noona-ku sendiri?! Lagipula kalau tidak ada kejadian ini mana aku tahu kalau noona ada masalah dengan orang lain. Apalagi berurusan dengan orang yang kubenci juga. Setidaknya katakan padaku sedikit saja, katakan urusan apa yang membuat noona jadi jarang ada di rumah. Noona tahu? Aku seringkali khawatir terjadi apa-apa pada noona di luar sana saat noona tidak ada di rumah. Biar bagaimanapun noona itu yeoja yang rentan tertimpa kejahatan kapanpun dan dimanapun. Tapi aku tidak berbuat apa-apa untuk melindungi noona karena aku pikir urusan itu urusan pekerjaan noona makanya aku biarkan saja. Tapi nyatanya—noona ada masalah dan bahkan itu melibatkan orang yang kukenal pula. Masalah apapun yang menimpa noona aku berhak tahu karena aku dongsaeng-mu. Tapi noona tidak mengatakan apapun tentang hal itu secuil pun sampai saat ini. Kalau noona benci padaku bilang langsung, aku tinggal membenci noona balik walaupun itu susah karena noona itu saudara kandungku. Tapi apakah noona tega membenci namdongsaeng-mu sendiri? Seburuk apapun saudaramu, dia tetaplah saudaramu. Aku sadar kadang aku cukup temperamen sehingga aku bisa berbuat kasar pada siapa saja, tapi itu sudah menjadi watakku, kepribadianku. Noona benci aku karena itu?! Noona benci, hah?!"

"Kyuhyun! Aku tidak membencimu sedikit pun! Berhenti bicara yang tidak-tidak!" gertak Heechul sebelum Kyuhyun semakin melantur kemana-mana. Adiknya itu sudah berhasil membuat hatinya terenyuh dan tersayat disaat yang bersamaan. Terenyuh karena mengatakan rasa khawatirnya serta ketersediannnya untuk mendengarkan masalah orang yang menunjukkan kepeduliannya yang begitu besar, dan tersayat karena justru kepeduliannya itu yang membuat Heechul merasa begitu bersalah karena anggapannya bahwa Kyuhyun bersikap acuh tak acuh saja padanya ternyata bernilai nol besar, apalagi Kyuhyun sampai sudah berpikir bahwa ia membencinya karena anggapannya itu.

"Salahmu membuatku bicara yang tidak-tidak," Kyuhyun lantas tertawa sinis. Heechul pun membenarkan itu. Ini memang salahnya dan Kyuhyun pantas menyalahkannya. Namun beberapa detik kemudian Kyuhyun tersenyum dengan cara yang lembut. "Sudahlah, lupakan saja. Takutnya masalah ini membuat noona terganggu saat bekerja nanti di luar negeri sana. Ayo noona, kita ke bandara sekarang. Aku akan mengantarmu."

Dan sekali lagi Heechul merasa tersentuh—aniya, bukan tersentuh lagi, tapi terharu. Bahkan barusan Kyuhyun melantur lagi. Dengan bergetar—karena efek rasa harunya itu—kedua ujung bibir Heechul terangkat ke atas seraya berkata, "Baiklah, ayo."

TBC


A/N:

Berhubung sebentar lagi saya akan menjalani serangkaian ujian kelulusan diantaranya Ujian Sekolah, Ujian Nasional, serta persiapan SNMPTN dan juga SBMPTN, maka saya memutuskan untuk istirahat dulu ^_^

Tak bosan-bosannya saya mengucapkan terima kasih pada semua yang sudah membaca dan memberi review pada FF ini :D Terima kasih juga buat yang udah nyemangatin saya buat tetap nulis meski lagi dihimpit sama berbagai cobaan di ambang kelulusan :")

Emang cuma sarana tulis-menulis serta membaca cerita itu yang paling ampuh buat hiburan di tengah semua kemumetan ini buat saya D: Yah, sekalian belajar menulis juga, meski saya tahu saya masih banyak kekurangan. Makanya, saya butuh banget yang namanya review sebenarnya. Memang saya membiarkan para readers untuk tidak memberikan reviewnya, tapi yah tetap saja saya butuh evaluasi, di mana kelebihan dan kekurangan dari FF-FF yang saya bikin, termasuk FF ini. Entah itu dari segi EYD, alurnya, atau apanyalah (?) pokoknya yang berkaitan dengan FF (jadi bukan charanya ya, karena kan FF itu diambil dari tokoh nyata bukan fiksi jadi yah gak penting banget kalau ngehujat cuma gara-gara chara yang dipakai doang).

Karena saya lihat dari sekian banyak FF KyuMin cuma saya aja yang reviewnya paling dikit padahal readersnya banyak :"( Yah kalau jelek ya review dong, kasih usulan yang bagus, biar saya juga tahu bagaimana harusnya yang baik.

Untuk beberapa hal yang diajukan ke FF ini akan saya jawab:

- Untuk chara "orang tua" kayaknya saya gak akan kasih nama yang spesifik untuk mereka. Saya masih bingung mau siapa. Ya udah, bayangin di benak masing-masing aja siapa XD

- Untuk chara yang saya bikin beda dari FF KyuMin lain kayak Heechul, Zhoumi, dan Siwon... Well, saya sengaja bikin beda biar anti-mainstream (?) XD Bosan saya ngeliat Heechul jadi jahat mulu dan Siwon yang jadi hubungan ketiga KyuMin. Eh tapi kurang greget ya? Makanya biasain jangan lihat chara kalo baca FF XD

- Ini konfliknya sederhana, mikirnya jangan jauh-jauh XD

Oh iya, tapi bukan berarti saya benar-benar istirahat nulis FF, karena tadi saya sudah bilang bahwa dunia fiksi itu hiburan buat saya, jadi mungkin saja saya ngepost FF lagi, entah itu di sini atau di blog.

Keep enjoying this FF and give review if you want ^_^