Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling. No money is being made and no copyright or trademark infringement is intended. I only own the storyline and Vippra.
Warning(s): SLASH, AU/AR, OOC and typo.
Pairing: Tom Marvolo Riddle Jr. / Harry James Potter and others
Author's note: update tercepat yang pernah saya lakukan sebagai hadiah untuk ulang tahun Lexy hari ini #orz Happy birthday, hun! Umm... oke, terima kasih banyak atas review dan segala bentuk apresiasinya. Enjoy!
:::
Chapter 11: This is a game
Mengendap saat jam malam sudah berlalu bukanlah hal yang biasa Harry lakukan seperti sekarang di mana ia harus bersembunyi dari penjaga sekolah atau para Prefek yang setiap waktu akan memergoki dirinya. Belum lagi para pengajar yang pasti akan memberinya detensi. Kalau saja ia tidak kasihan kepada Vippra yang mengaku kelaparan, ia tidak akan melakukan hal seperti ini.
"Kau tahu di mana kita bisa menemukan makanan?"
"Dapur?" Harry melongkarkan jeratan Vippra pada lehernya. Kedua mata pemuda itu teredar ke sekeliling koridor yang ia lewati. Sedikit khawatir kalau dirinya akan bertemu dengan para pengajar yang sedang berpatroli.
"Aku tahu kalau kita pasti mencari makanan di dapur," desis Vippra sembari mencari kehangatan di tubuh Harry. "Maksudku adalah, di mana letak dapur yang kaumaksudkan? Apa kau pernah ke sana sebelumnya? Jangan sampai kita tersesat dan berakhir dengan bertemu makhluk aneh di tempat ini."
Harry tidak mengacuhkan perkataan Vippra. Kalau ia tidak tahu di mana letak dapur Hogwarts, mana mungkin ia akan mengajak Vippra untuk berkeliling ke tempat yang sama sekali tidak pasti? Tentu saja Harry tahu di mana letak dapur Hogwarts. Terima kasih banyak kepada Profesor Dumbledore yang pernah mengajaknya berkeliling Hogwarts saat tahun pertamanya di sini. Pria itu sudah berbaik hati dengan menunjukkannya tempat-tempat yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Kau hanya perlu menggelitik buah pir sampai buah itu terkikik," kata Dumledore saat pria itu menunjukkannya sebuah lukisan semangkuk buah-buahan yang berada di sebuah koridor batu luas. Koridor itu didominasi oleh lukisan makanan yang tidak pernah didatangi Harry sebelumnya. "Pintu menuju dapur tepat tersembunyi di baliknya."
Sekembalinya Harry dari dapur setelah memberi makan Vippra dengan beberapa potong paha ayam serta meminta selusin kue kering untuknya—yang diberikan Peri Rumah dengan senang hati—ia berjalan kembali menyusuri koridor yang sepi. Ia menggumamkan mantra Tempus dan menyadari kalau saat ini sudah hampir tengah malam. Ia harus segera kembali ke asrama Slytherin sebelum ada yang melihatnya berkeliaran.
Namun malam ini rupanya ia tidak sedang bernasib baik. Samar-samar ia mendengar langkah kaki dari arah koridor menuju Aula Besar. Dengan cepat ia membalikkan tubuh dan berjalan ke arah berlawanan. Memutar adalah pilihan yang tersisa untuknya walau itu berarti akan memakan waktu yang sedikit lebih lama.
"Aku tidak akan pernah mau lagi mengendap seperti ini. Kalau kau lapar, harusnya kau bisa mencari makanan sendiri seperti yang biasa kaulakukan," desis Harry kepada Vippra. Ia merutuk pelan ketika tiba-tiba saja anak tangga yang ia turuni bergerak sehingga membuatnya malah berakhir di lantai dua; sangat jauh dari asramanya. Ia berniat untuk berbalik arah sebelum telinganya menangkap suara yang berasal tidak jauh darinya; suara yang begitu ia kenal.
"—Aku hanyalah seorang yatim-piatu yang bahkan tidak punya cukup uang untuk membayar apa yang sudah kaulakukan padaku."
"Tom...?" gumamnya setelah mendengar suara itu dan berjalan ke arah asal suara di mana ia mendapati sosok Tom yang berdiri saling berhadapan dengan seorang gadis berambut panjang. Tentu saja Harry tahu siapa yang sedang diajak berbicara oleh pemuda berambut gelap itu.
"—Sebuah ciuman tentu bukan hal sulit bagimu, bukan?"
Harry merasakan napasnya tertahan melihat Tom yang menundukkan kepalanya perlahan ke arah wajah Araminta. Kedua iris matanya melebar saat menyadari apa yang kedua orang itu lakukan. Mengapa kedua orang itu melakukan hal semacam itu di tempat seperti ini?
Bagaimana mungkin Tom bisa mencium Araminta?
Harry tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ia hanya diam dan tidak bergerak melihat pemandangan yang terjadi di depannya. Pemandangan Tom yang mencium seorang gadis. Harry sungguh tidak tahu apa dan mengapa kedua orang itu berciuman dan mengapa ia merasa sangat terkejut melihat itu semua.
Bukankah hal seperti ini sangat wajar terjadi di antara dua orang yang berlawanan jenis? Bukankah ini juga bukan kali pertamanya ia melihat orang yang sedang berciuman? Oh, ayolah, ia sudah pernah beberapa kali memergoki sosok Avery yang berciuman dengan Lucretia Black atau Druella Rosier dan Cygnus Black di sudut ruang rekreasi. Bukankah hal semacam itu adalah suatu kewajaran?
Tapi mengapa saat melihat Tom mencium Araminta ia merasa... tidak senang? Ada sesuatu di dalam dirinya yang menginginkan Araminta menjauhi Tom.
"Harry...?"
Pemuda berkacamata itu mengerjapkan matanya beberapa kali setelah panggilan Vippra. Ia mendengus pelan dan segera membalikkan tubuhnya tanpa sekalipun melirik ke belakang. Dengan langkah lebar ia berjalan mencari anak tangga sebelum ia kembali menangkap suara langkah kaki serta dua buah sinar kecil di dekat tikungan koridor tidak jauh darinya.
"—Benarkah? Sayang sekali, kurasa. Itu artinya tahun ini mungkin asrama Gryffindor yang akan kembali memenangkan Piala Quidditch, Horace."
'Profesor Dumbledore!' Harry berteriak dalam hati. Ia merasa panik setelah mendengar suara itu. Ia tidak mau kalau pengajar Transfigurasi tersebut memergokinya sekarang apalagi setelah mendengar siapa yang diajak Dumbledore berbicara.
"Berbalik arah, Nak." Harry yang tidak tahu harus berpikir apa pun segera menuruti begitu saja ucapan Vippra. Dengan cepat ia berbalik dan berlari kecil ke arah sebaliknya. Ia juga tidak memedulikan kalau seandainya ada lukisan—yang saat ini sedang tidur—mendengar langkah kakinya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mencari tempat bersembunyi; memasuki pintu pertama yang ditemuinya.
"Merlin...," desah Harry menyadari di mana ia berada sekarang.
xoxoxo
"...Aku rasa sebaiknya kita kembali ke asrama, Araminta," kata Tom sesaat setelah ia melepaskan pagutan bibirnya dari bibir gadis di hadapannya. Kedua iris gelap Tom menatap lekat ke arah wajah memerah Araminta. "Kau kembalilah terlebih dahulu."
Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Kau tidak mau kembali bersamaku?" Tom menggelengkan kepalanya. "Baiklah kalau itu maumu. Selamat malam, Tom." Araminta berjinjit dan mengecup lembut pipi pemuda di hadapannya sebelum berlalu meninggalkan Tom sendirian di koridor yang temaram. Ia berusaha tidak mengacuhkan suara-suara yang berasal dari lukisan di sekitarnya yang mungkin terbangun karena langkah kakinya.
Tom menghela napas panjang setelah tidak melihat lagi tubuh Araminta. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling; mendapati sebuah lukisan seorang bangwasan tengah menahan senyum di wajahnya. Satu-satunya lukisan yang masih terjaga dan terlihat menyimak pembicaraan yang ia lakukan bersama Araminta di koridor tersebut.
"Anda rupanya tidak mengenal privasi, Sir," ujar Tom dengan nada bosan sembari memainkan tongkat sihir yang tersembunyi di balik jubah asramanya.
"Aku tidak mendengar dan melihat apa pun. Kau tenang saja. Tidak akan ada orang yang mendengar apa yang baru saja kalian lakukan di sini. Aku sudah terbiasa melihat hal seperti itu sepanjang hidupku di dalam lukisan."
Sang Pewaris Slytherin itu tersenyum tipis, mengeluarkan tongkat sihir dari balik jubah. "Ah, terima kasih, Sir. Tapi ada baiknya Anda melupakan semua itu." Tom mengacungkan tongkat sihirnya ke arah lukisan dan berbisik, "Obliviate."
"Aku sama sekali tidak suka ada orang yang mengganggu privasiku," gumam Tom pada dirinya sendiri. Ia melirik ke arah hasil kerjanya barusan; melihat sekilas kepada sosok pria dalam lukisan yang menatap hampa ke arahnya. Tangan pemuda itu kemudian bergerak ke arah bibirnya dan menyentuh sekilas sebelum menggosok bibir tersebut dengan punggung tangan. Tidak lupa ia juga berusaha menghilangkan bekas ciuman Araminta di pipinya—yang tidak ia sukai—sebelum berjalan ke arah di mana Harry baru saja menghilang. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti saat melihat dua orang yang berjalan ke arahnya.
"Profesor," sapa Tom kepada sosok Slughorn dan Dumbledore. Kalau saja ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi dengan baik, kedua pengajar itu akan melihat jelas bagaimana raut tidak sukanya terhadap kedua orang itu.
"Ah, Tom Anakku!" seru Slughorn. "Sedang berpatroli? Kau memang siswa teladan yang bisa kubanggakan. Benar begitu, Albus?"
Albus Dumbledore tersenyum tipis ke arah rekan kerjanya sebelum mengalihkan pandangan kepada sosok Tom. "Tapi kurasa sebaiknya kau segera kembali ke asramamu, Mr. Riddle. Ini sudah hampir tengah malam kalau aku tidak salah ingat. Apa yang kaulakukan sampai berpatroli di jam seperti ini?"
Tom membuka mulut hendak menjawab pertanyaan pengajar Transfigurasi itu sebelum melihat Slughorn mengibaskan kedua tangannya.
"Kau jangan terlalu mempermasalahkan hal sekecil itu, Albus," kata Slughorn sambil mengerling ke arah Tom. "Malah aku merasa itu bukan hal yang aneh. Mungkin saja Tom tadi sibuk menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya dan baru sempat berpatroli sekarang. Aku tidak salah 'kan, Anakku?"
Tom menganggukkan kepalanya singkat. Ia bisa melihat kedua mata Albus Dumbledore sedikit menyipit di balik kacamata bulan separuh yang dipakai pria itu.
"Nah, sebaiknya sekarang kau kembali ke asrama, Tom. Selamat malam!" Slughorn menepuk pelan bahu pemuda di hadapannya sebelum mengajak Albus berjalan kembali menuju ke arah di mana kantor para pengajar berada.
Tom hanya menatap sekilas punggung kedua pria yang baru saja berlalu. "Point me, Harry Evans," bisiknya kepada tongkat sihir miliknya. Alis pemuda berambut gelap itu bertaut satu sama lain ketika tongkat miliknya malah berputar tiga ratus enam puluh derajat dan bukannya menunjuk ke arah tertentu. Menyadari kalau mungkin saja ia salah, Tom kembali mengulangi apa yang ia lakukan barusan.
Ia mendesis ketika untuk kelima kalinya mendapatkan hasil yang sama. Apa ada yang salah dengan tongkatnya?
"Point me, Vippra," kata Tom lagi dan tidak seperti ketika ia ingin mengetahui di mana keberadaan teman sekamarnya, tongkat itu menunjuk tepat ke arah di mana Slughorn dan Dumbledore baru saja berlalu. Ia mengerutkan kening menyadari ke pintu mata tongkatnya tertuju.
"—Aku tidak tahu kalau kau suka masuk ke kamar mandi mandi anak perempuan, Evans," kata Tom setelah membuka pintu di hadapannya. Kedua iris matanya menatap sosok Harry yang terlihat sedang mendudukkan diri di pinggiran wastafel. Ia bisa melihat perubahan dari raut terkejut ke lega di wajah pemuda itu. "Sebaiknya kita segera keluar sebelum penjaga sekolah memergokimu berada di sini."
"Apa kau tidak bisa datang tanpa mengagetkanku?" Tom mendengus pelan. "Aku hampir mengira kalau kau adalah penjaga sekolah, kau tahu?"
Prefek Slytherin itu memutar bosan kedua matanya. "Sejak kapan aku harus mengabarkan kalau aku akan datang?" tanya Tom saat Harry sudah berada di sampingnya. "Kalaupun kau tertangkap, itu adalah kesalahanmu sendiri, Evans. Apa yang kaulakukan dengan berkeliaran di jam seperti ini?"
Harry menyipitkan matanya. Ia tidak suka kalau Tom menyalahkannya seperti sekarang. Bukan keinginannya untuk berakhir di kamar mandi anak perempuan yang berada di lantai dua seperti sekarang. Ia pun sama sekali tidak mempunyai hobi seperti apa yang dituduhkan Tom padanya.
"Vippra lapar dan ingin makan. Aku tidak punya pilihan lain selain pergi ke dapur untuk mencari makanan," Harry berujar sembari menuding ular hijau menyala yang menggelung diri dengan nyaman di lehernya. "Apa kau mau dia mati kelaparan?"
"Ular tidak mati hanya karena tidak makan selama satu hari, Evans," desis Tom. Ia menarik lengan Harry dan berjalan ke arah pintu masuk. "Kita harus segera kembali ke asrama."
Harry hanya menganggukkan kepalanya. Baru saja ia ingin keluar dari kamar mandi, telinganya mendengar suara nyanyian sumbang dari koridor di depannya dan ia tahu dari apa suara itu berasal. Dengan cepat ia kembali memasuki kamar mandi sebelum mendorong tubuh Tom hingga pemuda itu terjatuh.
"Peeves," desis Harry kepada sosok Tom yang terduduk di atas lantai dengan tatapan tajam pemuda itu mengarah padanya. "Dia sedang bermain-main dengan baju besi di ujung koridor."
Tom mengumpat pelan mengingat poltergeist yang sering membuat kekacauan di Hogwarts. Bertemu dengan hantu itu sekarang hanya akan membuat keadaan lebih kacau karena Peeves pasti akan berteriak dan membangunkan seluruh penghuni Hogwarts jika melihat dirinya dan Harry masih berada di luar asrama di jam seperti ini.
"Kita terpaksa harus menunggu sampai dia pergi," ujar Tom sembari berdiri. Ia membersihkan jubahnya yang sedikit kotor dan berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan. Menaikkan sebelah alisnya karena tidak ada air yang keluar dari keran di hadapannya.
"Keran itu rusak," Harry berujar setelah ia berdiri di samping di samping sosok Tom. "Aku sudah mencobanya tadi untuk mencuci tangan. Tidak kusangka kalau ternyata ada bagian dari Hogwarts yang rusak dan sama sekali tidak diperbaiki."
"Itu semua bukan urusan kita, Evans."
"Aku tahu dan hanya ingin mengatakannya padamu."
Tom tidak berkomentar; memilih untuk diam sebelum membalikkan tubuh dan menyandarkan dirinya di pinggiran wastafel. Samar-samar ia masih bisa mendengar suara nyanyian Peeves dari koridor di luar sana. Oh, ia tidak mungkin terjebak di sini sepanjang malam, bukan? Apa yang akan terjadi kalau ada anak perempuan yang melihat mereka berdua berada di tempat seperti ini?
Harry melirik sosok Tom lewat sudut matanya. Ia berpikir cukup lama dan berbisik, "Aku tidak sengaja melihatmu dan Araminta sedang err—kau tahu apa yang kumaksudkan. Jadi... jadi kalian memang benar-benar berkencan? Aku tidak pernah tahu kalau tipe gadis yang kau sukai adalah yang seperti Araminta."
Pemuda beriris hijau cemerlang itu bisa merasakan sesuatu yang aneh pada dada dan perutnya ketika menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Ia menyadari kalau dirinya memang tidak tahu apa pun mengenai sosok di sampingnya selain apa yang pernah mereka jalani selama lima belas tahun tinggal di tempat yang sama—di bawah atap yang sama pula. Ia tidak pernah tahu apa yang selalu dipikirkan Tom. Ia tidak pernah tahu apa warna, makanan, mainan atau hal lain yang disukai pemuda itu.
Ia tidak tahu apa-apa dan hal itu membuatnya kesal.
Tom yang tidak mengerti dengan maksud kata-kata Harry hanya menatap heran ke arah pemuda di sampingnya. Ia mendengus pelan dan membalikkan tubuh ke arah wastafel; menganggap benda-benda di hadapannya sama sekali tidak menarik sampai kedua matanya menangkap sesuatu.
Ia tersentak saat menyadari apa yang saat ini dilihatnya.
Wastafel di hadapannya memang terlihat seperti wastafel kebanyakan; terbuat dari keramik yang dihiasi ornamen besi dan tembaga yang berkilau tertimpa cahaya lampu—serta pipa air yang juga terbuat dari bahan yang sama—sampai Tom mengamati lebih jelas di bagian pangkal. Sebuah goresan terpatri di salah satu sisi keran yang terbuat dari tembaga; goresan berbentuk ular.
"Apa yang kau lihat, Tom?"
Tubuh Pewaris Slytherin itu tersentak. Ia menegakkan tubuhnya dan mundur selangkah saat melihat tubuh Harry yang berada sangat dekat dengannya; sangat dekat sampai ia bisa mencium aroma sabun mandi yang dipakai pemuda itu.
"Aku—"
"Well, well, siapa yang sedang kulihat di sini? Dua murid Slytherin di kamar mandi anak perempuan? Apa yang sedang kalian lakukan di sini, hmm?" kata sebuah kepala yang muncul tepat di tengah-tengah pintu kamar mandi; membuat kedua pemuda itu terkejut.
Belum sempat Tom mencegah, Peeves sudah menghilang menembus pintu kamar mandi. Detik selanjutnya, poltergeist itu sudah berteriak di sepanjang koridor bahwa ada dua orang anak berkeliaran melewati jam malam.
xoxoxo
Harry menatap tajam ke arah Orion yang sedang tertawa di depannya. "Aku rasa apa yang kualami bukanlah sesuatu yang patut kau tertawakan, Black," desis Harry sambil melemparkan sebuah bantal ke arah anak tahun ketiga di hadapannya yang tepat mengenai kepala Orion.
Orion meringis atas apa yang dilakukan Harry. Melihat tatapan tajam yang masih mengarah padanya membuat pemuda itu berusaha menahan senyumnya. "Ayolah, Harry. Aku hanya bercanda. Lagi pula aku merasa hal itu lucu. Dipergoki berada di kamar mandi anak perempuan oleh Peeves apalagi di tengah malam merupakan sesuatu yang jarang terjadi. Apa yang sebenarnya kaulakukan bersama Riddle di sana?"
Harry mendesis pelan. Ia kemudian mengumpat ketika mengingat apa yang terjadi semalam. Akibat Peeves, ia terpaksa harus berhadapan dengan Profesor Dumbledore dan membuatnya terkena detensi membersihkan seluruh piala di Ruang Piala akhir pekan ini. Tentu saja Tom juga terpaksa terkena detensi dan melakukan pekerjaan itu bersamanya. Beruntung, guru Tranfigurasi itu cukup menerima alasan bahwa ia lapar dan ingin menyelinap ke dapur sampai akhirnya bertemu Tom di tengah jalan.
Namun keberuntungan Harry yang hanya menerima detensi menggosok piala tidak berlaku lama. Terima kasih untuk Peeves yang tidak bisa menutup mulutnya dan membuat seluruh penghuni Hogwarts mengetahui mengapa ia bisa terkena detensi. Harry hanya bisa meringis ketika ada beberapa anak perempuan yang menatap aneh ke arahnya hanya karena ia tertangkap basah berada di kamar mandi anak perempuan.
Oh Merlin, kalau saja kutukan yang pernah dipelajarinya berlaku untuk hantu, ia akan dengan senang hati memberikannya secara cuma-cuma kepada Peeves.
Orion mendeham pelan untuk menghentikan tawanya. Kedua mata Slytherin muda itu teredar ke arah ruang rekreasi; melihat apakah sosok Walburga Black berada di sana. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Harry dan berbisik pelan. "Hari sabtu ini adalah kunjungan pertama ke Hogsmeade," katanya, "dan aku berencana mengajak Walburga. Apa kau bisa memberi saran padaku? Aku baru pertama kali pergi ke sana dan tidak tahu apa yang ada di tempat itu."
Harry menyunggingkan senyum sinis ke arah Orion. "Aku tidak memberikan saran secara gratis, Orion. Aku juga bukan pemberi saran masalah pasangan, kau tahu?" kata Harry. Kedua iris matanya melebar saat Orion memukul pelan bahunya. Bukan karena sakit tentunya. Ia tahu Orion tidak serius memukulnya.
"Harry? Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat."
Pemuda Slytherin itu menggelengkan kepalanya, menjauh ketika tangan Orion terulur ke arahnya. Ia tidak suka jika ada orang yang menyentuhnya dengan seenaknya seperti tadi. Harry mendadak berdiri; membuat Orion melayangkan tatapan heran.
"A-aku teringat ada yang harus kulakukan," katanya cepat. "Sampai jumpa saat makan malam nanti, Orion."
Orion Black hanya bisa menatap bingung sosok Harry yang menghilang dengan cepat di pintu masuk asrama.
"—Hanya perasaanku saja atau wajah Harry sedikit pucat?"
Tom menatap sekilas ke arah Vippra kemudian kembali menatap pintu asrama Slytherin. Ia tidak menanggapi pertanyaan ular betina yang sedang bermalas-malasan—seperti biasa—di atas sebuah bantal bercorak ular di dekat kakinya karena di dekat pemuda beriris gelap itu ada Araminta yang tengah berbicara dengan sosok Walburga Black. Ia berpura-pura tidak menyadari keberadaan Araminta sampai gadis berambut panjang tersebut mendudukkan diri di sampingnya.
"Ah, aku baru pertama kali melihat ular yang kudengar menjadi hewan peliharaanmu, Tom. Dia hewan yang menakjubkan jika dilihat dari dekat."
Tom menyeringai kecil ketika melihat Araminta menjulurkan tangannya ke arah Vippra dan terpekik kaget karena ular berwarna hijau menyala itu menegakkan kepala serta mendesis keras. "Dia tidak suka disentuh oleh orang yang tidak disukainya," Tom berkata dengan nada tidak peduli. Pandangan pemuda itu terpaku ke arah buku di tangannya. Tidak peduli dengan tatapan heran dari Araminta.
"Yeah! Dan sayang sekali aku tidak menyukaimu, Nona manis."
Sang Pewaris Slytherin itu berdeham pelan; mencoba untuk tidak kembali menyeringai ataupun berkomentar atas perkataan Vippra. Dengan perlahan, ia menutup buku di tangannya dan beranjak dari kursi tunggal yang nyaman di ruang rekreasi.
"Kau mau ke mana, Tom?" tanya Araminta padanya yang dijawab oleh Tom dengan lambaian tangannya.
xoxoxo
Harry tidak sadar ke mana langkah kakinya tertuju. Ia baru menyadari hal itu saat mendengar seruan serta teriakan tidak jauh darinya. Ia mendongak dan kemudian menghela napas panjang karena tanpa sadar berada di lapangan Quidditch. Ia teringat kepada kata-kata Eileen tapi pagi kalau tim Quidditch asramanya akan mengadakan latihan sore ini. Tidak ingin kembali ke ruang rekreasi, Harry memutuskan untuk melihat apa yang dilakukan anak-anak asrama Slyhertin tersebut.
"—Sepertinya kau tidak akan bisa bertanding besok, Cygnus."
Saudara kandung Orion Black itu memutar kepalanya ketika Harry menyapa pemuda berambut hitam tersebut. Kedua iris hijau cemerlang miliknya mengamati sosok Cygnus yang mendengus kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke arah lapangan Quidditch. Di samping sosok itu, sebuah sapu terbang teronggok begitu saja; tidak terlihat akan dipakai mengingat pemiliknya—Cygnus—tengah mengalami patah tulang di tangan kanan akibat terjatuh dari sapu terbang. Matron sekolah melarang keras pemuda itu untuk ikut bertanding dan tentu saja hal itu membuat tim Quidditch Slytherin kehilangan Seeker berharga mereka.
"Tidak biasanya aku melihatmu berada di sini," Cygnus bertanya kepada sosok yang mendudukkan diri tidak jauh darinya. Pandangan pemuda itu tengah tertuju ke arah sosok Abraxas Malfoy yang sedang sibuk menghadang Quaffle yang diarahkan Marcus Dolohov dan Lucretia Black secara bergantian. Tidak jauh dari ketiga orang itu, Rodolphus Lestrange dan Avery tengah memukul Bludger yang datang ke arah mereka. Cygnus mendengus saat matanya menangkap sosok kecil di angkasa yang terlihat sibuk mencari Snitch. "Aku tak yakin kalau Slytherin bisa menang dari Gryffindor di pertandingan Quidditch jika melihat bagaimana kemampuan Noah Flanning sebagai seorang Seeker."
Harry mengikuti ke mana pandangan Cygnus tertuju. "Kulihat dia tidak terlalu buruk"
"Itu sangat mengerikan, Evans!" Cygnus berseru histeris kepadanya. "Sudah tiga jam ia terus seperti itu, kau tahu? Entah di mana Dolohov mendapatkan Seeker semacam itu!"
Harry memilih untuk diam mendengar seruan dan umpatan yang dilayangkan Cygnus kepada sosok pemuda berambut pirang yang tampak kebingungan di atas sana. Ia memang bukan orang yang termasuk menyukai permainan Quidditch mengingat ia yakin kalau dirinya tidak mempunyai bakat semacam itu. Ia bahkan tidak terlalu yakin bisa terbang dengan baik walau Madam Hooch—pengajar terbang di tahun pertama—mengatakan padanya kalau ia mempunyai bakat terbang yang lumayan baik.
Kilatan cahaya keemasan membuat Harry tersadar dari pikirannya. Ia menyipitkan matanya ke atas langit dan tersentak ketika melihat Snitch terbang dengan pola acak. "Aku rasa aku melihat Snitch," ujarnya sambil menatap Cygnus.
"Kalaupun kau melihat Snitch, hal itu tidak ada gunanya, Evans." Cygnus membetulkan penyangga tangannya. "Apa kau tidak lihat tanganku diperban seperti ini? Dan kalau kau menyuruh Flanning pun, aku rasa ia tidak akan bisa menangkapnya walau Snitch terbang tepat di depan wajahnya. Ah, apa kau mau mencoba? Akan kutraktir cokelat di Honeydukes kalau kau bisa menangkap Snitch itu."
Harry terdiam cukup lama sambil menatap Cygnus yang menyodorkan sapu terbang miliknya. Sudah lama sekali Harry tidak menyentuh sapu terbang mengingat ia tidak memiliki satu pun. Dengan ragu, Harry meraih sapu terbang tersebut dan berusaha mengingat pelajaran terbang saat tahun pertamanya.
Cygnus Black mau tidak mau terkejut saat pemuda tahun kelima itu melesat di udara setelah mengambil posisi untuk terbang. Mulutnya menganga lebar menatap sosok Harry yang melesat menembus udara. Ia tahu kalau sapu terbang miliknya adalah model terbaru dan membuatnya terbang dengan cepat. Namun yang dilihatnya sekarang, ia tidak berpikir kalau sapu terbangnya yang bisa bergerak secepat itu apalagi saat Harry terbang ke arah di mana Snitch terakhir kali terlihat.
"Bloody hell!" seru pemuda berambut hitam itu ketika melihat betapa mudahnya seorang Harry Evans menangkap Snitch yang sudah berjam-jam tidak bisa ditangkap Noah. Dengan langkah lebar ia menuruni tribun penonton dan berlari ke arah Harry yang baru saja mendaratkan diri di atas lapangan sembari menggenggam bola keemasan di tangannya. Ia melihat kalau bukan dirinya saja yang mendekati pemuda berambut hitam berantakan tersebut.
"Kurasa kau harus menraktirku cokelat di Honeydukes, Cygnus," pemuda itu berkata sambil tersenyum tipis dengan tangan yang mengacungkan Snitch ke arahnya.
Cygnus menggeleng. Ia mengedarkan pandangan kepada teman sesama timnya; melihat wajah terkejut mereka. "Apa ini pemikiranku saja kalau kita menemukan seorang Seeker yang baru?" tanya Cygnus kepada Dolohov—kapten tim Quidditch Slytherin.
xoxoxo
Seperti malam sebelumnya, Tom melakukan patroli sebagai seorang Prefek. Namun kali ini ada yang berbeda. Ia tidak meminta Araminta menemaninya karena ada hal yang ingin ia lakukan seorang diri. Tom mengedarkan pandangan ke sekitar koridor lantai dua dan setelah mendapati tidak ada siapa pun, ia bergegas memasuki kamar mandi di hadapannya. Berhenti tepat di depan wastafel.
Akhirnya, ia bisa menemukan pintu menuju Kamar Rahasia yang sudah dicarinya selama tiga tahun. Namun satu permasalahan baginya. Kalau benar pintu masuknya adalah di sini, bagaimana caranya ia membuka pintu tersebut? Salazar tidak mungkin menggunakan sebuah kunci, bukan? Kecuali jika memang—
Ah, mengapa ia begitu bodoh? Kamar Rahasia hanya bisa dibuka oleh keturunan Salazar, Pewaris Slytherin lebih tepatnya, dan tentu saja pasti ada satu hal yang bisa membuat pintu masuk itu terbuka.
Parseltongue, ia membatin. "Buka," desisnya pelan menggumamkan kata pertama yang terlintas di kepalanya. Ia menyeringai kecil ketika mendengar suara gemuruh dari deretan wastafel di hadapannya yang perlahan terbuka; memperlihatkan sebuah lubang besar mirip terowongan yang mengarah ke bawah tanah. Ia menjulurkan kepalanya untuk melihat apa yang ada di depannya.
Gelap dan terlihat tidak berujung.
Tom sedikit ragu ketika ia berniat untuk memasuki terowongan tersebut. Bukankah ia sudah lama mencari keberadaan Kamar Rahasia dan ingin mengetahui monster apa yang ditinggalkan Salazar Slytherin? Lalu mengapa sekarang ia terlihat ragu?
Pewaris Slytherin itu menggelengkan kepalanya atas apa yang baru saja dipikirkannya. "Lumos!" ia bergumam sembari mencengkeram erat pinggiran wastafel.
"Kalau aku menjadi dirimu, aku akan lebih memilih untuk mengurungkan niatku masuk ke sana, Tom."
To be continued
El: masalah ramalan baru bisa muncul setelah Kamar Rahasia ya? *spoiler* Duel? Ah, akan ada jadi request-nya bisa dipenuhi. Dan semua pertanyaan di kotak review-nya hanya bisa saya jawab sejalan dengan update-an. Tidak mau membuka semuanya sekarang #shot
Erochimaru: haha, jangan mengharapkan fanfiksi ini akan berakhir sama seperti di buku #melirikjudul yang pastinya mau saya ubek-ubek cerita di canon #ngek ah, Vippra milik saya! Jangan dibawa kabur!
Devil eye's: oh, tak apa kalau reviewnya hanya berisi pertanyaan karena dengan begitu saya juga tahu apa ada yang saya lewatkan atau tidak. Oke, jangan bete lagi karena permintaan Harry main Quidditch saya penuhi #mengalah
: halo juga VaL! Terima kasih sudah mau membaca dari awal walau baru pertama kali me-review ^^
risa-chan-amarfi: err—Tom selingkuh? Wah, Harry bahkan belum jadian dengan Tom jadi sepertinya kata 'selingkuh' tidak tepat. Mungkin Tom lebih cocok disebut manipulatif.
anyway, reviews, comments and questions are welcomed!
