Disclaimer:

Togashi-sensei

Title:

Me and You = Family (?)

Pairing:

Kuroro X fem Kurapika pastinya

Warning:

OOC, gaje, T (untuk sementara, udh g sbar mo d rbah jd M)


Chapter 10 [re-upload] Pesta X Palsu X Pertengkaran

Prewiew:

"kuso... 'kenakalan remaja yang membuat kami menikah sekarang', jawaban macam apa itu?" gadis itu mengulang bagian terpenting yang ingin dia bahas sekarang.

"hanya itu jawaban yang cukup logis untuk menjelaskan 'status' kita sekarang, mereka juga lebih memaklumi jawaban seperti itu... atau kau lebih memilih aku menjawab, bahwa kita adalah pasangan yang di takdirkan bersama oleh tuhan dan kita adalah pasangan yang saling mencintai satu sama lain" kali ini Kuroro berhenti melangkah dan menghadap Kurapika.

"lupakan jawaban irasional macam itu... janggal rasanya mendengarmu mengucapkan kata 'tuhan' dan 'cinta'... kau bukan orang cocok untuk dua hal itu" Kurapika kembali berjalan dan melewati Kuroro, dia berjalan mendekati apartemen 507.

"terima kasih atas perhatian dan pengertianmu" Kuroro mengikutinya dan berdiri di sebelahnya. Kurapika hanya menarik nafas panjang. Dan bersiap masuk apartemennya.

"tadaima" ucap mereka hampir bersamaan.

.

.

.

.

"okeri!" suara riang Gon dan letupan beberapa konfeti segera menyambut kepulangan mereka.

"eh?" mereka tampak bingung. "ada acara spesial apa?" Kurapika melihat ke arah Gon dan Killua.

"pesta untuk kepindahan mu ke apartemen yang baru" Gon menjelaskan dengan wajah yang sangat senang.

"eh? Tapi kan ini bukan hal yang harus di rayakan"

"kami sudah menjelaskan itu padanya... ribuan kali, tapi kau tahu kan betapa keras kepalanya Gon? Dia tetap berkeras mengadakan pesta, para Ryodan pun sudah menolak... tapi Hisoka juga bibi Mito langsung setuju dengan idenya..." jelas Killua. Gon mengkerucutkan bibirnya, kesal. Kurapika hanya melihat ke arah Hisoka.

"aku hanya bosan... lagipula sepertinya menyenangkan ada pesta... apalagi ini untuk merayakan 'keluarga' baru Danchou kami" seakan mengerti dengan tatapan Kurapika, Hisoka segera menjelaskan.

"terima kasih untuk perhatiaannya, hisoka... aku sangat terkesan dengan kesetianmu ini"

"sama-sama Danchou... aku harap dengan ini aku bisa lebih cepat menagih janjimu padaku" hisoka menatap langsung pada onyx Kuroro, menantangnya secara terang-terangan.

"aku sedang tidak dalam mood untuk menepati janjiku pada mu, hisoka... seperti yang kau tahu, aku baru saja mendapat 'keluarga' baru dan aku tak mau menghancurkan suasana itu" Kuroro duduk santai di sebuah sofa panjang berwarna putih yang di taruh di tengah ruangan. Dalam sekejap atmosfir yang tercipta menjadi sedikit sesak. Hisoka hanya tersenyum dengan tatapan yang tak bisa di artikan.

"jaa... ayo kita mulai pestanya!" Gon segera angkat bicara. Yang lain pun hanya diam tanda setuju.

.

.

.

"minna... arigatou" Kurapika menunduk sopan ke arah teman-temannya.

"hey... gadis kuruta, kami juga ikut membantu di sini" salah satu anak buah Kuroro yang berambut paling panjang dan bergaya ala samurai – Nobu, angkat bicara melihat rasa terima kasih yang di tujukan Kurapika hanya pada teman-temannya.

"aku tak meminta bantuan kalian semua... Danchou kalian yang meminta kalian ke sini... ku rasa rasa terima kasih yang harusnya kalian terima itu dari Danchou kalian bukan dari ku" jawab Kurapika tenang, terdengar jelas nada sinis dalam perkataanya tadi.

"kau... jangan kurang ajar ya, gadis kuruta" samurai itu tampak geram mendengar perkataan Kurapika tadi.

"ehem!" deheman pelan yang keluar dari Kuroro mampu menghentikan langkah Nobu dan membuat dia memendam amarah yang sempat memuncak tadi. "berhenti bertengkar... Kurapika, aku rasa kau punya ingatan yang baik... kita pernah sepakat tak ada kekerasan dalam bentuk apapun di dalam rumah, anak-anak ada di sini, ada kemungkinan mereka bangun dan melihat semua ini... juga berhenti mencari masalah dengan anak buah ku, walaupun aku ketua mereka, tapi mereka punya hak sepenuhnya untuk menghabisi siapa pun yang mereka anggap mengganggu, jadi perhatikan sikapmu" Kuroro menatap gadis itu, tatapan kali ini lebih terasa seperti tatapan memerintah. Kurapika diam, ia tahu ini adalah salahnya. "bisa kita lanjutkan pestanya?" lanjutnya lagi. Seperti tersihir dengan intonasi Kuroro, mereka semua hanya mengangguk. Pesta kembali di mulai, sesekali terdengar tawa dan canda, walau mereka tak terlalu berbaur satu sama lain, tapi suasana yang tercipta lebih baik sekarang.

.

.

.

"jadi apa kalian sudah menemukan cara untuk penitipan itu?" Leorio angkat bicara di tengah acara makan kue mereka.

"aku sudah membicarakan tentang ini dengan Kuroro dan dia bilang dia telah menemukan caranya" Leorio dan yang lain melihat ke arah Kuroro yang tengah asik dengan buku yang dia baca.

"... kita akan memalsukan surat sipil itu" jawab Kuroro kemudian, tenang. Buku tak sama sekali turun dari wajahnya.

"memalsukan? Apa itu juga bisa di lakukan?" tanya Gon, polos.

"kami sering melakukan itu" paku kali ini yang menjawab. Gon hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

"dan untuk itu aku menyuruh Shalnark datang kemari sekarang" buku turun sedikit dari wajahnya, membuat onyxnya tampak dari sana. Seakan paham dengan tatapan Kuroro, Shalnark segera mengambil laptopnya dan menaruhnya di meja yang ada di depan Danchounya.

"nee... nee... Killua... apa itu bisa di lakukan?" bisik bocah berambut jabrik itu.

"mereka ryodan... mereka bisa melakukan apa pun... oyaji dan nii-chan juga pernah melakukannya..."

"hmm..."

"ok... kita mulai... data apa saja yang mau kau palsukan, Danchou?" pria berambut coklat itu mulai mengetik.

"kartu identitas kami, surat catatan sipil, surat kelahiran anak-anak itu dan data tentang latar belakang kami, termasuk pendidikan, latar belakang keluarga dan hal mendetil lainnya" jawab sang ketua santai.

"ryokai!" shalnark mulai mengetik sesuatu di laptopnya. "bisa aku melihat datamu, pengguna rantai?... ah! Maaf tak seharusnya aku memanggil mu dengan nama itu lagi..." senyum ramah terkembang di wajahnya, tak ada niat buruk yang tergambar di wajahnya. Kurapika mendekati shalnark pelan, lalu ia memberi beberapa data tentang dirinya termasuk kartu identitas terbarunya.

"jangan tutupi tentang klan Kuruta di latar belakangku nanti" pinta gadis itu.

"eh?... kau tak mau data tentang latar belakangmu di rubah?"

"tidak... aku tak mau menutupi apapun... sebagai gantinya tulis saja kalau aku bukan keturunan langsung Kuruta... lagipula lebih mudah untuk menjelaskan tentang mata ares kalau aku tak menutupi latar belakang ku" jelas Kurapika lagi. Tenang.

"kita turuti kemauannya... aku setuju dengannya, lebih mudah untuk kami menjelaskan tentang mata Ares kalau latar belakangnya" Kuroro segera angkat bicara saat shalnark hendak protes. Pria berambut coklat itu tak bisa lagi protes. Kurapika kembali mendekati teman-temannya.

"tadi kau belanja apa saja Kurapika?" tanya Melody saat gadis itu duduk di sampingnya.

"aku hanya membeli beberapa baju, car sit, perlengkapan di kamar dan mainan" jawab Kurapika, ia membuka beberapa belanjaan yang ada di dekatnya.

"sou..." Melody tersenyum lembut.

"lalu bagaimana dengan hasil pemeriksaan mereka?" Leorio mengambil kursi dan duduk tepat di depan mereka.

"ah ya... kata dokter mereka anak-anak yang sehat... luka-luka yang ada di tubuh mereka juga bukan masalah besar karena mereka mengalami penyembuhan yang sangat cepat" Kurapika segera melihat ke arah Leorio, tatapan matanya tampak antusias. "dan kau tahu... dalam beberapa hari ke depan Ares akan berumur 5 bulan, kemungkinan dalam minggu ini juga, kami belum tahu tepatnya itu kapan. Dia juga sudah bisa di berikan makanan padat, tapi kami harus hati-hati dalam pemberian makanan, takutnya dia mengalami alergi... Al juga begitu, kami harus ekstra hati-hati dalam pemberian makanan ke mereka... Al sekarang sudah 3 tahun dan jalan 5 bulan, sama halnya dengan Ares, kami tak bisa tahu pasti kapan itu... tapi... eh? Kenapa? Apa aku terlalu banyak bicara?" gadis pirang itu tampak bingung melihat Leorio, Melody dan bibi Mito tertunduk menahan tawa, mereka hanya menggeleng.

"bukan... bukan begitu... kami hanya..." Leorio menutup mulutnya, menahan tawa.

"hanya apa? Jangan gantungkan kata-katamu Leorio"

"kami hanya senang melihat kau begitu senang" Melody yang melanjutkan kata-kata Leorio.

"eh? Senang? Aku?"

"yah... kau terlihat senang... tatapan matamu pun terlihat begitu antusias, baru kali ini aku melihatmu semangat seperti itu... kau terlihat seperti Gon kalau seperti itu" kali ini bibi Mito yang angkat bicara.

"memang aku terlihat sesenang itu?"

"yah... kami senang kau bahagia"

"yah... dan sepertinya kau sudah bisa menerima Kuroro dalam misi ini dengan baik" Melody menyetujui pertkataan Leorio.

"eh? Kata siapa?" gadis itu tampak kesal.

"kau menggunakan kata 'kami' terus sepanjang cerita tadi, 'kami' yang kau maksud itu mengarah padamu dan Kuroro kan?" jelas Melody lagi.

"hey... Kurapika! Bisa kemari sebentar?" belum sempat gadis itu bicara lagi, mereka telah di interupsi oleh Shalnark. Kurapika melihat ke arahnya dan kembali berjalan ke arahnya.

"apa itu warna mata asli mu?" tanyanya langsung.

"iya... kenapa?"

"apa kau tak punya foto di saat matamu merah?"

"hmm... tidak ada" jawabnya tenang.

"yaah... sayang sekali... apa kau punya kontak lens merah?"

"tidak... sebenarnya ada apa? Berikan penjelasan padaku"

"ah ya... maaf... maaf... tadi aku dan Danchou sedang membicarakan tentang foto mu saat memiliki mata merah, aku mau menaruhnya di data pribadi mu" terang Shalnark.

"aku tak punya niat berfoto saat dalam keadaan marah"

"ya juga... lalu bagaimana Danchou?"

"kita buat saja dia marah"

"sama halnya denganmu, aku sedang tidak dalam mood yang enak untuk marah, apalagi mengingat keadaan di sini sekarang sedang tak memungkinkan" Kuroro diam mendengarnya, dia kembali memasang gaya khasnya saat berpikir.

"hey... Kurapika... kata bibi Mito, tadi kau menemui pengurus apartemen ya?"

"ya... tadi aku menemui pengurus apartemen, Killua"

"apa yang ia bicarakan?"

"dia hanya menjelaskan tentang peraturan di apartemen ini"

"sou... apa kau tadi sempat bertemu dengan salah satu penghuni apartemen?"

"ya... tadi waktu di lift aku bertemu dengan 3 orang wanita, Laura, Sawa dan Mai... sepertinya mereka penghuni lantai atas"

"sou... tadi kami bertemu dengan orang tua dan pasangan muda yang tinggal tepat di kanan dan kiri kalian..." jelas Killua. "aku ingin menyamakan jawaban dengan kalian agar drama ini berjalan dengan mulus... di mulai dari cerita yang aku katakan pada mereka..." potong Killua saat ia melihat Kurapika hendak bicara. "tadi aku cerita kalau kita bertiga adalah saudara... kau dan aku adalah adik-kakak, karena mata kita hampir sama dan Gon adalah sepupu kita dari luar pulau. Dan untuk Leorio, aku bilang dia adalah paman kita yang paling payah" lanjut Killua lagi, santai.

"hey! Rambut putih! Apa maksudmu dengan payah? Aku adalah seorang dokter" protes Leorio.

"dokter payah"

"kau..." Gon menahan Leorio agar ia tak bertengkar dengan Killua.

"lalu apa yang kau ceritakan tentang status kalian?" bibi Mito tampak penasaran.

"eh? Itu..." tiba-tiba Kurapika teringat dengan jawaban Kuroro di lift tadi, rasa kesal yang tadi sempat hilang kembali muncul.

"aku bilang, 'kenakalan remaja yang membuat kami menikah sekarang'" jawab Kuroro tenang, tanpa banyak yang menyadari, dia kini duduk di dekat Kurapika.

"eh?" semua tampak kaget dengan jawaban Kuroro tadi.

"wah... jawaban yang cukup frontal, Kuroro" Leorio menggeleng-gelengkan kepala.

"hanya itu yang cukup masuk akal untuk menjelaskan status kami sekarang"

"nee... nee... memang kenakalan apa yang Kuroro-san maksud?" tanya Gon, polos.

"jangan tanyakan hal itu, Gon" Killua mengurut-urut dahinya, pelan. Ia tak habis pikir dengan kepolosan temannya itu.

"kenapa? Aku ingin tahu"

"kau mau tahu kenakalan yang ku maksud Gon?"

"un! Beri tahu aku" Gon tampak antusias kini.

"jangan racuni Gon dengan hal yang macam-macam!" sergah Kurapika.

"aku tak meracuninya... aku hanya ingin memberi tahu yang sebenarnya"

"jangan rusak kepolosannya"

"aku tak merusaknya"

"hey... ayo beri tahu aku" rengek Gon ke mereka.

"jangan katakan macam-macam dan berhenti memberi jawaban konyol seperti itu! aku mulai muak dengan sikapmu hari ini, Kuroro!" gadis itu langsung berdiri menghadap Kuroro.

"jadi kau lebih memilih aku menjawab dengan jawaban kedua atau ketiga dari ku?" tanya Kuroro santai.

"lupakan juga tentang jawaban irasional itu!" sergah Kurapika.

"lalu kau mau aku jawab seperti apa? Itu yang paling masuk akal dan mereka langsung diam saat ku bilang seperti itu"

"hey... hey... kalian... jangan bertengkar... nanti anak-anak bangun" Gon melihta mereka.

"biar aku selesaikan ini dengan pria menyebalkan ini... anak-anak tidak akan bangun"

"tapi Kurapika..."

"dengar ya Kuroro... berhenti asal bicara seperti itu lagi, jangan buat aku di lihat sebagai gadis murahan" Kurapika mengahkan perkataan Gon kali ini.

"aku tak pernah bilang seperti itu"

"tapi itu maksud yang tersirat dari jawabanmu tadi"

"kau terlalu banyak berpikir nona... tak ada yang berpikir begitu dan aku tak bermaksud begitu" Kuroro menyentuh dahi Kurapika dengan ujung jarinya.

"jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu!"

"apa maksud kata-katamu itu?"

"tanganmu adalah tangan kotor yang telah membunuh banyak orang termasuk klan ku"

"ini bukan waktu yang tepat untuk membahas itu"

"tapi aku ingin membahas itu..."

"jangan keras kepala dan hentikan ini... aku malas membahasnya"

"aku memang keras kepala"

Mereka terus berdebat dengan suara cukup keras, Gon dan Leorio berusah auntuk menghentikan mereka tapi di acuhkan oleh Kurapika.

"hey... kalian... tolong bantu kami hentikan mereka... ini sudah mulai larut, tak enak di dengar tetangga" Leorio melihat para anggota ryodan yang tengah asik dengan kesibukan mereka masing-masing, acuh dengan apa yang tengah terjadi dengan Danchounya. "paku" lelaki itu mengalihkan pandangan ke arah pakunoda, berharap ia akan melakukan sesuatu.

"ini bukan masalah yang harus kami campuri... lagipula ini pertengkaran antar 'keluarga' Danchou jadi kami tak punya hak untuk ikut campur" jawabnya tenang.

"tapi ini sudah larut dan kalau tak di hentikan Kurapika akan melakukan kekerasan pada Kuroro"

"Danchou bisa melawan 'istri'nya"

"bukan itu masalahnya... mengertilah..." Leorio tampak frustasi.

"kau! Mati saja kau!" tiba-tiba teriakan amarah Kurapika terdengar, di dorong dengan kuat tubuh hingga jatuh ke lantai dan dia terduduk di atasnya. Tangannya sudah mengepal dengan keras di udara, bersiap untuk memukul pria yang berada di bawahnya. Kuroro hanya melihat Kurapika, tenang. Tak ada perlawanan sama sekali darinya. Di lihat mata gadis itu kini telah berubah menjadi merah, tanda dia benar-benar terbawa dengan emosinya. Sungguh mata yang sangat ia inginkan. Mata yang terlalu indah.

"Kurapika cukup! Hentikan ini! ini sudah larut" Leorio menahan gadis itu, di peluk pelan tubuh gadis itu dari belakang.

"lepaskan aku Leorio!" gadis itu mendorong tubuh Leorio. Ia kembali menatap Kuroro dengan tatapan marah. Kini ia sudah melayangkan pukulan tepat ke arah wajah Kuroro.

"mama... papa..." tiba-tiba terdengar suara Al.

"eh?" mereka terkejut. Pukulan Kurapika terhenti di udara. Kuroro melihat anak itu.

"mama... papa..." Al melihat ke arah mereka, selimut biru dan boneka jerapah yang tadi di belikan Kurapika berada dalam pelukannya. Mata sapphirenya kini berkaca melihat sosok orang dewasa yang ada di hadapannya. Beberapa bulir air mata tumpah dari sana. "mama... papa... huuuaaaa!" tangis pecah darinya.

"eh? Al jangan nangis" dalam sekejap amarah Kurapika luntur begitu saja, dia hendak mendekati Al dan memeluk tubuhnya, tapi langkahnya berhenti dalam begitu saja. "eh? Al?" ia melihat sirat ketakutan dari iris saphire Al, tubuhnya gemetar pelan dalam tangisnya. "Al... maafkan aku... kau pasti takut ya" Kurapika tertunduk dalam, ini bagai pukulan telak baginya, rasa sakitnya sama seperti saat ia harus kehilangan keluarga dan seluruh teman klannya. Melihat sinar ketakutan dari Al adalah hal yang lebih menakutkan untuknya. Kuroro hanya diam melihat mereka, dia berpikir dengan cepat. Segera di tariknya dengan cepat tubuh mungil Kurapika hingga gadis itu jatuh tepat di atas tubuhnya lalu ia segera memeluk gadis itu.

"eh?" Kurapika terkejut dan segera melihat ke arah Kuroro.

"ikuti permainanku... ini hukuman untuk mu karena telah melanggar janji kita di awal... aku benci pengingkar janji sepertimu" bisik Kuroro pelan, wajah mereka sangat dekat.

"lihat... kami tidak bertengkar... tadi kami hanya sedang mengobrol lalu mama jatuh dan kena tubuh papa... kamu jangan takut, kami tidak bertengkar" Kuroro melihat ke arah Al, ia duduk pelan dan membuat Kurapika duduk di pangkuannya, tangannya masih memeluk tubuh Kurapika. Al melihat mereka, tangisannya mulai reda sekarang.

"hu um... kami tidak bertengkar... lihat kan? Kami baik-baik saja" Kurapika yang melihat reaksi Al yang mulai tenang mendengar kebohongan Kuroro, mencoba untuk mengikutinya. Ia menatap lembut Al. "sini... sama mama..." ia melihat Al yang hendak mendekatinya pelan. Kuroro yang melihat itu juga segera melonggarkan pelukannya untuk Kurapika dan segera membuka tangan untuk Al. Anak itu berjalan perlahan ke arah mereka, sesenggukan masih terdengar pelan darinya. Kuroro segera memeluknya saat anak itu berada dalam jangkauan tangannya, Kurapika segera menaikan tubuh anak itu di atas pangkuannya. Mereka memeluk tubuh Al dengan erat.

"jangan menangis... anak laki-laki jangan terlalu sering menangis" Kuroro berbisik pelan ke sulungnya.

"maafkan mama... kau pasti kaget ya" Kurapika bisa merasakan dengan jelas debaran jantung Al yang sangat cepat, dia sangat menyesal karena kebodohannya Al ketakutan dan menangis seperti ini, padahal tadi teman-temannya sudah mengingatkannya, tapi dia terlalu keras kepala untuk mendengar mereka.

Melihat keadaan mereka, yang lain memutuskan untuk pergi dari situ dan membiarkan mereka, termasuk para Ryodan. Shalnark dan Leorio hanya meninggalkan pesan untuk mereka di atas meja.

"sudah... jangan menangis terus" Kuroro melihat Al yang masih sesenggukan lalu mengelus lembut rambut hitamnya. Ia tak menyadari bahwa teman-temannya yang lain sudah pergi. Al yang mulai tenang, melihat ke arah mereka. "anak laki-laki harus kuat" ia menghapus sisa air mata anaknya pelan.

"benar kata papa... jangan menangis terus... besok kita beli es krim ya" bujuk Kurapika.

"es krim?... al mau es krim..."

"besok kita beli ya... tapi jangan menangis lagi"

"um! Ga nangis" anak itu segera mengelap mukanya.

"pintar" Kurapika dan Kuroro mengusap rambut dan pipi Al bersamaan. Anak itu tersenyum riang lagi. Kurapika lega melihatnya.

"ah ya Al... ko Al bangun? Al mau sesuatu?" Kurapika baru tersadar tentang ini. Apa teriakannya tadi terlalu keras sampai membuat Al terbangun.

"ga... Al di bangunkan sama paman aneh" jawab al polos, ia duduk tenang di atas pangkuan Kurapika.

"paman aneh?"

"um! Paman yang punya gambar di sini" anak itu menunjuk ke arah bawah matanya.

"hisoka" gumam Kurapika dan Kuroro bersamaan. Kurapika mencoba menebak apa yang ada di pikran joker yang satu itu

"kalau begitu Al tidur lagi ya" Kuroro melihat Al. Al hanya menggeleng.

"kenapa? Tidur ya... ini kan masih malam sayang... nanti besok Al cape" bujuk Kurapika.

"al takut tidur sendiri"

"eh? Di sana kan ada adik Ares"

"Ares ga ada" jawabnya polos.

"eh? Ga ada?" Kurapika kaget. Ia langsung terperanjat. Kuroro segera menahan tubuh Al yang hampir jatuh dari pangkuan Kurapika karena gerakannya yang tiba-tiba. "ares pergi kemana? Bukankah tadi dia di tidurkan di kamar itu juga kan?" Kurapika mulai panik.

"kita cari dia"

Contenyu~~


Author Corner: gomeeeennnn... tjdi kslahan upload di chap yg sblumnya... krna tllu bru2, qiesa slah bka docs n g smpt edit lg... tjdi dh kslahan bdh ni... goommmeeeennn #bow# thx bwt Mouk-chan krna review'y qiesa jdi sdar kslahn ni #bow#

review answer:

Moku-chan: waaahhh... again, u be the 1st reader who review my fic... sankyu, for being the 1st ^^ #bow#... y ni... ud updte lgi, jdi smngat krna ad yg ska sma fic abal ku ini... hhhm... mrka blum nkah krna kura-chan msih ssah d taklukan hehe... nah itu dy... qiesa jga ud g sbr pgn bwt scene lime kecut klo bsa lsg explicit... tpi hrus sbar krna crta'y blum bsa d msukin scene it... hiks... hiks... sbar ya moku-chan... waah... arigatou udh nggu fic ni trus... sankyu jga udh bner ska fic ni... ureshii #^^#... qiesa jga ska fic bwtan moku-chan, trutma yg rate M hehe... qiesa udh bca yg Onsen n I Love Onsen dri lama lho... #curcol... lastly, enjoy next chapi ^^

ruina: slam knal ^^... yokatta kmu ska... hmm... hyo... jdi apa cba? ^^... ni udh updte... hope u like it... enjoy ^^

Lavender sapphires chan: waah... knpa cngar cngir trus ni? ^^... emg sgja d bwt jwab ky gtu, biar bnyak yg slah pham (wlopn jd OOC bgt).. hu um... nam mu kpjgan, jd bnun mo d sgkt apa, tp gpp dh ^^... sou... slam knal jga dh bwt ven n safir ^^... yup! bkal pjg ky'y... krna crta'y jd bkembang d luar dgaan qiesa ni ^^;... smga ttep d ska dh

c u in the next chapi! lastly, RnR please ^^ #Gon's sparkling eyes