Yoongi kemudian memerosotkan dirinya untuk berjongkok disana. Mendekap erat ponselnya dengan tangan bergetar. Tempatnya berteduh tak seberapa. Yoongi hanya bisa mendekap dirinya dan berjongkok disana dan membiarkan cipratan air hujan terus membasahi tubuhnya. Dan hanya bisa menunggu Jimin disana.
.
"Jimin..."
.
.
.
.
Jimin | Yoongi | Boy's Love | As Sweet As Sugar's Sequel! | This gonna be Mpreg. Do you want to, don't you? | I don't take any profit with this chara | AU | R-18 | Beware! '-')/
.
Do not plagiarize!
.
Enjoy!
.
.
.
Yoonjae mengeraskan rahangnya. Tetapi ia tersenyum tanpa ekspresi. Menatap kedua orang tua dihadapannya itu dengan tatapan sedih.
.
"Sudah kubilang, Yoongi tidak akan membuka diri untuk kalian."
Yoonjae menghela napas berat, mengusap keningnya. Apalagi ketika ia melihat ibunya yang menangis seperti itu.
Yoonjae tak tega juga sebenarnya. Tetapi mau bagaimana, ia tak bisa mematahkan prinsip yang dibangunnya selama ini.
.
"Yoongi sudah bahagia tanpa kalian..." Yoonjae berkata, menatap kedua orangtua di hadapannya. Yang kini terlihat jelas guratan penyesalan disana.
Tetapi apa daya, masa lalu tak bisa di rubah. Rasa sakit hati hanya bisa terkubur. Dan menerima kembali adalah hal paling sulit.
Karena yang namanya luka, pasti akan selalu membekas. Sesamar apapun itu.
.
.
Yoongi mendongak begitu merasakan sentuhan tangan hangat di kepalanya.
.
Itu Jimin.
Lelaki itu benar-benar datang untuk menjemput Yoongi.
Dan Yoongi menangis lagi ketika melihat Jimin tersenyum hangat padanya kemudian merangkulnya dan menuntunnya untuk masuk ke dalam taksi. Dan Yoongi terus memegangi erat baju Jimin.
.
"Aku disini, Hyung. Jangan khawatir, aku disini."
.
Jimin segera menghentikan taksi yang di tumpanginya begitu melihat seseorang berjongkok di sudut pinggiran toko, dilihat dari tubuh kecil dan rambut cokelatnya, jimin yakin kalau itu adalah Yoongi.
.
Jimin menarik lengan Yoongi untuk berdiri, ia juga membiarkan dirinya sendiri ikut kebasahan karena hujan yang masih turun dengan deras.
Jimin kemudian segera merangkul Yoongi dan menuntunnya memasuki taksi.
Jimin terus menggenggam lengan Yoongi dan membisikinya kalimat-kalimat menenangkan, mencoba menghangatkan Yoongi selagi perjalanan kembali ke apartemennya.
.
Jimin tahu, pasti ada sesuatu yang terjadi. Karena tak mungkin Yoongi pergi sendirian keluar rumah apalagi sedang hujan begini. Jimin juga tahu kalau Yoongi itu tak biasa dalam kondisi dingin.
.
Lalu... Memangnya kemana Yoonjae-hyung? Seharusnya ia 'kan bersama Yoongi karena Yoongi memang terakhir kali mengabarinya begitu pada Jimin.
Jimin harus segera menghubungi lelaki itu.
.
.
Jimin telah sampai di apartemennya bersama Yoongi. Jimin kemudian menutup pintu depan itu setelah memasukinya. Ia kemudian menatap wajah pucat basah kedinginan Yoongi yang berada dalam rangkulannya.
Yoongi terlihat begitu rapuh, ia basah kuyup dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, ia bahkan tak memakai alas kaki apapun, dan Jimin juga bisa melihat luka goresan di dekat tumit Yoongi.
Astaga... Jimin tak tega melihat kekasihnya begitu.
.
Jimin mengecup kening Yoongi dengan pelan. Kemudian ia kembali menuntun Yoongi untuk ke kamar mandi. Ia harus segera menyiapkan air panas agar Yoongi dapat berendam sejenak untuk menghangatkan tubuhnya.
.
Jimin segera menanggalkan seluruh pakaian Yoongi yang basah sesampainya ia di kamar mandi. Jimin dapat merasakan tubuh Yoongi yang bergetar ketika ia melakukannya.
Namun Jimin hanya tersenyum, selanjutnya ia menuntun Yoongi kedalam bath tub yang telah terisi air hangat hingga setengahnya itu untuk Yoongi berendam disana.
"Berendamlah sebentar, Hyung. Aku akan membuatkan susu panas untukmu." Jimin berucap lembut, ia segera berdiri untuk membiarkan Yoongi disana.
.
Tetapi Jimin segera berhenti ketika merasakan lengannya di tahan oleh lengan dingin Yoongi yang menggenggamnya lemah.
.
"Ganti bajumu, Jimin." Yoongi berucap pelan. "Dan jangan lama-lama..."
Jimin tersenyum mendengarnya. Ia mengecup dahi Yoongi dan membuatnya memejamkan kedua mata sejenak sebelum Jimin melepasnya. "Iya, hanya sebentar saja."
.
Jimin segera mengganti seluruh pakaiannya. Tak lupa ia menyiapkan pakaian hangat untuk Yoongi; sebuah sweater cukup hangat dan celana trainingnya.
Selanjutnya Jimin berlalu ke dapur untuk membuatkan Yoongi segelas besar susu vanilla hangat untuk kekasihnya itu.
.
Omong-omong, bukan Jimin yang selalu menyediakan bubuk susu vanilla di dapurnya. Perlu diketahui Jimin bukanlah pecinta susu.
.
Jimin membantu Yoongi menyelesaikan acara berendam dan mandi mendadaknya itu, Jimin juga membantu Yoongi mengenakan pakaiannya dan menuntunnya ke ranjang kesayangan Jimin agar kekasihnya itu dapat beristirahat disana. Duduk bersandar di ujung ranjang dengan selimut tebal biru langit milik Jimin untuk menyelimuti Yoongi hingga ke pinggangnya. Dan Jimin sendiri duduk di sampingnya.
.
Oh sungguh, Jimin tak tega menatap Yoongi sejak ia bertemu tadi di bawah hujan. Yoongi terlihat begitu menyedihkan. Jimin bahkan baru menyadari bahwa Yoongi serapuh itu. Karena biasanya Yoongi adalah orang yang dingin dan dapat menyimpan rapat semua emosinya.
Tetapi apa, ia menangis tanpa alasan yang jelas dan Jimin benar-benar tak mengerti akan hal itu.
.
Yoongi segera melingkarkan kedua telapak tangannya melingkari mug berisi susu putih hangat dari tangan Jimin. Yoongi segera saja meneguknya untuk menghangatkan tubuhnya yang masih terasa dingin untuknya. Tetapi kini Yoongi sudah tidak bergetar seperti tadi ketika ia basah kuyup.
.
Jimin tersenyum lalu mengambil alih gelas kosong ditangan Yoongi dan meletakkannya diatas meja disampingnya.
Jimin kemudian duduk menghadap Yoongi dan menangkup pipi kekasihnya itu dengan kedua tangannya. Ia menghela napas menatap kedua mata Yoongi yang sudah sembab itu masih saja ada jejak airmata yang mau menuruni kedua pipi pucat itu.
Juga melihat masih ada bekas susu diatas bibir Yoongi, membuat Jimin ingin menciumnya. Sekaligus memberinya kehangatan tambahan.
.
Jimin masih menangkup wajah Yoongi dan mengusapkan kedua ibu jarinya untuk menghapus jejak airmata kekasihnya yang masih belum mau berhenti. Jimin juga mendekatkan wajahnya. Kemudian mengulum bibir atas Yoongi yang masih terdapat bekas susu itu dan menghapusnya. Kemudian menciumnya lembut.
Yoongi yang merasakan ciuman Jimin segera memejamkan sejenak kedua matanya dan sesenggukan.
.
Jimin menjauhkan bibirnya, kemudian menatap Yoongi dalam.
"Hyung, mau cerita sekarang? Kenapa kau pergi dari rumah?"
.
Jimin sebenarnya sudah berkali-kali menanyakan perihal kenapa kekasihnya itu menangis dan kabur dari rumah kakaknya itu sejak mereka dalam taksi. Tetapi Yoongi selalu saja diam tak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya.
Seperti saat ini, lagi-lagi Yoongi hanya menggeleng menjawabnya.
.
Jimin menghela napas lagi.
"Kalau begitu udahan dong nangisnya?"
Yoongi yang mendengar Jimin berkata seperti itu malah membuatnya semakin ingin menurunkan kedua sudut bibirnya kebawah.
"Kenapa? Bilang aja kalau jelek."
.
Jimin lagi-lagi menghela napas. Kalau kata orang, kenapa pacar gak suka pacarnya nangis karena pasti akan kelihatan jelek ketika seseorang itu sedang menangis.
.
Tetapi tidak dengan Jimin, bagi Jimin justru kekasihnya itu tetap terlihat menggemaskan kala lelaki pucat itu menangis.
"Terserah deh, Hyung."
.
Tetapi kalau susah menenangkannya 'kan lama-lama jengkel juga.
.
Jimin segera beranjak dari ranjang untuk keluar kamarnya, membawa mug kosong untuk ia letakkan di dapur, meninggalkan Yoongi yang kini masih tersedu.
Jimin ingin ke dapur sebentar untuk meminum teh hangat yang sudah diseduhnya.
Juga membiarkan Yoongi sejenak karena Jimin sendiri sudah bingung Yoongi masih terus saja tersedu (walau tidak terlalu) dan tak mau menceritakan apa yang terjadi.
Jimin 'kan jadi khawatir. Dan ia tak tahu sebabnya karena apa membuatnya semakin khawatir.
.
.
Jimin bergumam gugup ketika ponselnya di atas meja makan berdering. Dan seseorang sedang melakukan dial pada ponselnya. Padahal tadi ia berniat meneleponnya duluan.
.
'Yoonjae-hyung's calling...'
.
"Halo—"
"Jimin?!" Langsung terdengar suara khawatir disana. Jimin yakin bahwa kakak iparnya—ekhem itu pasti akan menanyakan adiknya pada Jimin.
"Iya, Hyung. Tenanglah, Yoongi-hyung ada bersamaku."
Terdengar helaan napas disambungan telepon itu.
"Yoongi pasti kedinginan, beri dia selimut dan susu, Jimin-ah."
.
Jimin tersenyum mendengarnya. Ia mengangguk sebelum menjawab perkataannya itu.
"Iya, Hyung. Sudah kuberikan..."
"Jimin?"
"Iya?"
"Kurasa Yoongi marah padaku." Terdengar nada kecewa disana. "Bisa kau berikan telponku padanya?"
Jimin memiringkan kepalanya. "Memangnya ada apa? Sedari tadi aku menanyainya tak juga dijawab."
"Sudah berikan saja dulu telpon ini padanya. Nanti juga kau akan tahu."
Jimin segera melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya untuk membiarkan Yoonjae berbicara pada adiknya.
"Nyalakan saja loudspeakernya."
.
Jimin menggeleng pelan ketika ia memasuki kamarnya, Yoongi masih tetap berada di spot yang sama tanpa berpindah sedikitpun atau merubah posisinya. Ia hanya mengangkat kedua tangannya untuk mengusap kedua mata sipitnya yang menangis itu.
.
"Yoongi-hyung... Kakakmu."
.
Yoongi yang melihat Jimin menghampirinya, duduk di sisinya dan menyodorkan ponselnya sejajar dengan mulut Yoongi membuat lelaki manis berkulit pucat itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau—"
"Yoongi-ah..."
.
Yoongi yang mendengar suara kakak yang memanggilnya melalui ponsel Jimin dalam mode speaker itu menghentikan gelengan kepalanya.
.
"Yoongi-ah, maafkan hyungie..." Terdengar helaan napas disana. "Sungguh, aku tidak mengundang mereka untuk datang. Mereka datang sendiri."
Yoongi hanya diam.
Yoonjae yang tak mendengar suara Yoongi sedikitpun, melanjutkan perkataannya.
Sedangkan Jimin hanya mendengarkan dengan seksama. Mencoba mencerna dalam pikiran apa yang sebenarnya menjadi masalah disini.
.
"Aku juga tak berharap mereka untuk datang. Tetapi aku sudah memberikan alasan pada mereka untuk tak datang kembali setelah melihatmu tadi..." Huft. "Dan mereka bilang, ingin meminta maaf padamu agar mereka bisa hidup tenang di hari-hari mereka yang semakin menua..."
Yoongi masih tetap diam. Rahangnya seolah mengaku tak bisa digerakkan.
Maaf?
Untuk apa?
Yoongi merasa tak membebani seseorang untuk merasa bersalah dan meminta maaf padanya.
.
"Maafkan aku telah membuatmu melihatnya lagi. Aku berjanji setelah ini tidak akan terjadi lagi." Suara Yoonjae mulai bergetar. "Pulang... Ya?"
Yoongi menunduk. Ia tak suka kalau kakaknya bersedih karenanya. Tetapi perasaannya kini mulai berkecamuk.
"Hyungie..."
"Iya, sayang..."
"Biarkan aku bersama Jimin dulu..."
Yoonjae terdiam sejenak. Ia menghela napas lega. "Iya, aku akan selalu ada untukmu pulang. Jimin akan menjagamu."
.
Jimin yang mendengar itu sontak menganggukkan kepalanya.
Kemudian Jimin menatap Yoongi, tetapi ia merengut bingung ketika Yoongi terlihat begitu emosi, menangis, entah sedih atau kesal bahkan hingga mengepalkan kedua tangannya.
.
"Baiklah, aku menyayangimu, Yoongi-ah. Sangat menyayangimu, adikku."
.
.
Setelah panggilan mereka berakhir, Yoongi segera menenggelamkan dirinya diatas bantal Jimin, berbaring miring dan memukuli kepalanya sendiri.
Yoongi merasa begitu tak karuan. Ia juga tak mengerti. Tetapi perasaannya begitu sensitif dan ia hanya ingin meluapkan semuanya begitu saja. Tetapi Yoongi tak tahu caranya. Dan pikirannya yang terus berbicara benar-benar sangat mengganggunya.
Dan itu membuat Yoongi semakin brutal memukul kepalanya sendiri. Ia juga menendang-nendang udara hingga membuat selimut Jimin terjuntai dari atas ranjang.
Yoongi pikir ia akan gila setelah ini bersama pikirannya yang menggila.
.
"Hyung, hentikan!"
Jimin membulatkan kedua mata sipitnya melihat tindakan Yoongi. Ia meletakkan ponselnya dan mencoba menghentikan aksi Yoongi yang memukul kepalanya sendiri itu.
Jimin cukup kesulitan awalnya, Yoongi itu kalau main tangan dengan serius benar-benar membuat Jimin kewalahan.
.
"Min Yoongi, dengarkan aku!"
.
Untungnya Jimin dapat segera menggenggam kedua pergelangan tangan Yoongi dan menahannya di depan dadanya.
Jimin sendiri entah bagaimana sudah menaiki ranjang sepenuhnya dan menaungi Yoongi diatas tubuhnya dengan menumpukan kedua lututnya di samping tubuh Yoongi.
.
Yoongi bernapas terengah-engah dan menatap Jimin diatasnya yang sedang menatapnya tajam dan menggenggam erat lengan Yoongi. Kini banyak amarah dan juga rasa sedih berkumpul dari pancaran kedua mata Yoongi yang dapat Jimin lihat saat itu.
.
Jimin segera melembutkan pandangannya. Ia menarik kedua lengan Yoongi yang berada di depan dadanya untuk naik ke atas kepala Yoongi dan Jimin tetap menahannya disana. Tanpa merubah posisinya juga diatas Yoongi tanpa menitikberatkan tubuhnya untuk menindih Yoongi.
"Yoongi-hyung... Kau mendengarku?"
Yoongi mengangguk pelan.
"Baguslah. Aku tahu kau pasti sedang stress saat ini. Dan aku tak mau melihatmu seperti tadi. Jadi, ikuti semua perkataanku." Jimin berkata lembut di depan wajah Yoongi.
Jimin ingat, ia pernah mengetahui cara psikologis terapi ini dari ayahnya ketika menenangkan ibunya.
.
Jimin tersenyum lembut. Ia masih menahan kedua tangan Yoongi diatas kepalanya. Dan Yoongi sendiri masih menatap Jimin dengan dalam di kedua manik gelapnya. Menatap dirinya sendiri di tatapan mata itu yang menyedihkan, begitulah pikir Yoongi.
Jimin menghela napas sebentar. "Oke, sekarang ikuti aku, tarik nafas yang dalam dan keluarkan dari hidungmu dengan perlahan. Seperti ini."
Jimin mempraktekkan apa yang diucapkannya sendiri. Yoongi dengan refleks mengikutinya.
Jimin menuntun Yoongi untuk melakukan kegiatan itu hingga lima kali tarikan nafas. Tujuannya agar Yoongi bisa bernapas tenang, tidak emosian seperti tadi.
.
Jimin tersenyum merasakan kedua nafas mereka yang saling berhembus dan menyatu.
"Nah, sekarang isi pikiranmu dengan hal-hal yang menyenangkan. Ingat, hanya yang menyenangkan. Setelah itu katakan padaku apa hal menyenangkan itu." Arah Jimin lagi.
Ia melepaskan genggamannya dari lengan Yoongi yang berada diatas kepala Yoongi kemudian mengarahkan kedua tangan putih itu untuk melingkari leher Jimin dan membiarkannya menggantung disana.
.
Yoongi terdiam dan memejamkan kedua matanya sejenak. Membayangkan hal paling menyenangkan apa yang ada dalam hidupnya selama ini.
.
Yoongi segera membuka kedua matanya begitu merasakan Jimin mengecup pucuk hidungnya.
"Jadi, apa hal menyenangkan itu?" Tanya Jimin, menatapnya lembut.
.
Yoongi mengeratkan lengannya di leher Jimin. "Ketika aku makan daging."
Jimin terdiam sebentar menatap kekasihnya dan tersenyum kecil. Ia merasa pegal bertumpu lutut berada diatas tubuh Yoongi. Maka dari itu ia meluruskan kakinya dan membiarkan kedua sikutnya saja yang menopang tubuhnya berada diatas tubuh Yoongi.
.
"Umm selain itu apalagi?" Tanya Jimin. Kembali mengecup hidung Yoongi dengan gemas.
Yoongi kembali berpikir sebentar. "Ketika aku minum susu."
.
Jimin tertawa pelan mendengarnya. Bagaimana bisa hal menyenangkan yang dipikirkan kekasihnya itu hanya ketika memakan daging dan meminum susu?
Astaga.
Sungguh menggemaskan.
Jimin bisa overdosis mendadak.
.
Jimin menyudahi tawanya. Ia kemudian menatap Yoongi lembut. "Tetaplah pikirkan hal menyenangkan, kalahkan rasa stresmu, Yoongi-hyung. Ada aku disini, yang tak akan membuatmu sendirian."
Yoongi balas tersenyum kecil dan mengangguk.
.
Jimin juga mengangguk meresponnya. Ia kemudian menurunkan wajahnya untuk mendekati wajah Yoongi dan memiringkan kepalanya.
Ketika bibirnya hampir meraup seluruh permukaan bibir Yoongi, Jimin kembali berucap lembut disana yang membuat Yoongi berdesir halus dalam hatinya dan mengeratkan kedua lengannya yang melingkar di leher Jimin.
.
"Aku mencintaimu. Besok kita pergi ya. Aku akan mengajakmu jalan-jalan."
.
.
.
.
Malam itu Jimin berakhir dengan menciumi Yoongi di bibirnya hingga Yoongi sendiri kelelahan dan ketiduran bahkan ketika Jimin masih menciuminya.
.
Oh sungguh hanya ciuman di bibir. Hanya dari bibir ke bibir. Tidak ada bibir ke leher, bibir ke dada, bibir ke perut atau apapun itu.
Malam itu Yoongi hanya membiarkan Jimin mencium bibirnya.
Dan ketika Jimin mulai mencoba menyentuh yang lain, Yoongi akan memukuli Jimin. Entahlah, tenaga Yoongi sedang kuat malam itu, mungkin karena ia sedang dalam emosi tinggi.
Jimin bahkan punya lebam samar malam itu di sudut bibirnya karena dihantam tinjuan Yoongi ketika ia tak sadar menurunkan ciumannya ke leher Yoongi dan menyentuhkan tangannya untuk meremas paha Yoongi.
.
Benar-benar membingungkan dan membuat Jimin menderita saja karena hasratnya tak bisa terpenuhi.
Tetapi Jimin senang walau hanya mencicipi bibir kekasih gulanya itu.
Sungguh membuatnya gemas walaupun Jimin tak mengerti karena biasanya kalau Jimin mulai berulah, Yoongi tak akan melawan begitu keras seperti malam ini untuk mengikuti alur permainannya.
Aaah Jimin jadi semakin gemas 'kan dibuatnya.
.
.
.
.
Keesokan paginya...
.
Jimin masih memejamkan kedua matanya. Ia merasa tubuhnya seperti tertimpa sesuatu. Napasnya agak berat dan seperti ada sesuatu yang empuk mengelus dadanya seperti kucing yang berbulu hangat.
.
Jimin ingin bangun, tetapi ia terlalu malas dan lelah. Lagipula, kucing yang berada diatas tubuhnya itu membuatnya nyaman. Walau membuatnya sulit bernapas santai juga sih karena ia terus bergerak diatas perut Jimin.
.
Umm~
Tunggu dulu,
Memangnya ada kucing di apartemennnya?!
.
Jimin dengan tiba-tiba membuka kedua matanya untuk kembali ke dunia nyata dan meninggalkan alam bawah sadarnya barusan.
Jimin segera menunduk untuk menatap apa yang berada diatas tubuhnya itu.
Tetapi yang terjadi adalah Jimin segera mengusap kedua matanya dan wajahnya yang berangsur-angsur merona.
.
Ternyata ada Yoongi diatas tubuhnya.
Ya,
Diatas tubuhnya!
.
Astaga, Jimin untuk beberapa menit lamanya terdiam menatap Yoongi yang menindihnya dengan sebagian tubuhnya dan lelaki manis itu sendiri sedang mengusapkan sebelah pipinya di bagian perut atas Jimin. Seolah mencari kenyamanan disana.
.
Jimin segera bersuara setelah tersadar dalam keterdiamannya menatap Yoongi tak percaya dengan tingkah manjanya itu.
"Emm hyung... Ngapain?" Tanya Jimin pelan. Sebelah lengannya terangkat untuk mengusap rambut halus kekasihnya itu.
.
Yoongi mengerang. Ia mendongak menatap Jimin dengan menumpukan dagunya diatas dada Jimin. Kemudian memandangnya lucu karena wajah Yoongi yang baru bangun tidur serta kelopak matanya yang menggembung karena menangis semalam.
"Cari posisi enak."
.
Jimin meneguk salivanya dengan gugup. Macam apa pula pagi-pagi begini Yoongi bersikap begitu dihadapannya. Diatas ranjang. Menindihnya pula.
"Posisi... umm enak?"
"Iya, aku ingin tidur lagi, tetapi kasurmu berantakan, gulingmu menjadi terlalu keras untukku, terus juga sempit disini, aku butuh—YAAK APAAN ITUU!"
.
Jimin yang menatap Yoongi berbicara dengan wajah lucu dan bibir yang dimajukan membuat Jimin tak tahan. Membuat adik kecil kebanggaannya di balik celana piyamanya bangun mengeras saat itu juga. Bahkan hingga menusuk paha Yoongi yang saat itu masih berada diatas tubuh Jimin.
Yoongi sontak terkejut merasakan sesuatu yang tiba-tiba menegang menusuk-nusuk pahanya. Ia sesegera mungkin bangkit dari tubuh Jimin.
.
Jimin buru-buru menahan kedua lengan Yoongi untuk tak bangkit. Kemudian menatap Yoongi dengan tatapan menyayunya yang tajam.
"Kau harus tanggung jawab, Yoongi-hyung. Adikku bangun dan itu semua karenamu. Karenamu..." Jimin mulai mengangkat kepalanya untuk mencium bibir Yoongi.
Namun Yoongi menggelengkan kepalanya dengan keras.
Yoongi memaksakan diri untuk bangun, kemudian berguling ke samping ranjang.
Selanjutnya ia menendang keras perut Jimin ketika lelaki itu baru saja akan menindihnya.
.
DUAK
.
"TIDAAAK DASAR BODOH! JELEK! MESUM! MENYEBALKAAAN!"
Teriak Yoongi dari atas ranjang kepada Jimin yang jatuh dan terbaring meringsut diatas lantai dengan meringis karena punggungnya dan juga bokongnya yang sakit.
.
Pagi itu, untuk kedua kalinya Jimin ditendang dari atas tempat tidur oleh kekasihnya sendiri.
.
Oh jangan lupakan adik kebanggaannya yang berdenyut ngilu karena mendengar Yoongi yang jelas tak akan mau untuk ia sentuh.
Jimin hanya bisa menangis dalam hati dan berjalan pelan menuju kamar mandi.
.
.
Yoongi segera mengusap dadanya melihat Jimin berjalan meninggalkannya. Ia menghela napas dan mulai berada dalam mood seperti semula lagi.
"Huft. Mengagetkan saja." Gumamnya, menggelengkan kepala dan segera bangkit dari ranjang untuk menuju dapur. Tiba-tiba Yoongi merasa haus sekali dan ingin memakan sesuatu yang manis. Ia lapar.
.
.
.
.
Pukul sembilan pagi.
.
Jimin dan Yoongi telah berpakaian rapi. Seperti janjinya, Jimin akan mengajak Yoongi pergi.
.
"Mau kemana sih kita?" Tanya Yoongi pada Jimin yang sedang merapikan tas punggung sedang nya. Sedangkan Yoongi sendiri masih berkaca untuk memasang topi fedora warna hitam milik Jimin.
"Kita ke Busan." Jawab Jimin riang. "Ke rumah orangtuaku."
.
Yoongi segera terdiam dari kegiatan berkacanya. Ia berbalik untuk menghadap Jimin dan menatapnya dingin.
"Untuk apa?"
Jimin segera menghela napas begitu mendengar nada berbicara Yoongi yang seperti itu. "Tentu saja untuk mengenalkanmu. Kau mau, 'kan?"
.
"Tidak mau."
.
.
.
.
To be continued...
.
.
.
.
Nb: hai hai ketemu mulu bosen ya ._.
Duh, gimana ini. Saya bingung. Gak kepikiran ditanya ini sampe chapter berapa hahaha. Mau ngalahin cinta fitri nih! LOL *bohong*
Pingin nyoba bikin yang agak ekstrim. Berdarah-darah gitu... Mumpung lagi di rated m, berita-berita di indonesia banyak pembunuhan soalnya ._. *terus*
Oke, terimakasih sudah membaca sampai sini, I love you. Kritik dan sarannya boleh kok. Gak usah malu-malu apalagi diam-diam menusuk dari belakang :"D *dor* *senyum bareng baby kookie*
Review, please? :3
.
