.

.

L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)

Naruto Belong Masashi Kishimoto

Rated M-MA

Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri

.

.

"Ukh…"

"Shikamaru, masih sakit?"

"Ah… yah… sedikit…"

Ino terus menerus menggenggam tangan Shikamaru dengan erat, laki-laki itu merasa genggaman gadis yang kini tengah menangis di hadapannya itu sedang gemetar, menganalisa wajah Ino yang terlihat begitu pilu, tangan Shikamaru bergerak dan membelai pipi lembut itu, "Berhenti… menangis…"

Ino menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Harusnya kau jangan melindungiku~ harusnya aku yang jadi begini~"

Shikamaru terdiam, kemudian terlukis senyuman di bibirnya, "Bisa gawat… kalau ada bekas luka yang membekas di tubuh indahmu…"

Ucapan Shikamaru membuat Ino terkejut, oke, antara perasaan terkejut, bersalah dan senang kini menyelimuti diri Ino, mendengar pujian yang terucap dari mulut Shikamaru yang terkenal dengan cuek, bolehkah Ino berharap lebih? Bolehkah dia merasa senang dalam keadaan seperti ini?

"Jangan gombal~" gumam Ino, menenggelamkan wajahnya di samping tempat tidur. Shikamaru membelai rambut pirang Ino, begitu halus dan lembut, pasti Ino merawatnya dengan baik. Shikamaru mengangkat pelan wajah Ino yang kini terlihat merona merah, matanya sedikit sembab dan wajahnya basah karena air mata, tapi ada satu bagian wajah yang membuat Shikamaru terfokus. Bibir mungil Ino yang berwarna merah, merah alami tanpa polesan apa-apa, Shikamaru menyentuh bibir itu pelan, Ino hanya memejamkan matanya merasakan sensasi dari tiap-tiap belaian yang Shikamaru berikan. Sampai…

"Ehem! Panas sekali ruangan ini!" geram Sakuya yang dari tadi menyaksikan adegan mesra sambil mengibas-ngibaskan kipas kecil.

Mendapat geraman dari Sakuya, Ino melepaskan genggamannya dan Shikamaru reflek melepas sentuhannya dari wajah Ino. Walaupun Sakuya mengganggu, Sakuya merasa senang melihat hubungan kedua orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri itu.

"Ah, tadi rasanya aku mendengar ada suara tembakan, tapi anggota kita tidak ada yang kena, kan?" tanya Ino.

"Jelas tidak ada yang kena, kan Sakuya yang menembak," jawab Sakuya sambil menyenderkan tubuhnya di sofa.

Shikamaru dan ino tercengang mendengar jawaban Sakuya.

"Haah? Serius kamu yang melakukannya?" teriak Ino.

"Habis Sakuya kesal dengan orang berambut silver itu, jadi Sakuya ambi senjata Karin nee-san lalu Sakuya arahkan saja padanya," jawab Sakuya sambil merogoh tas kecilnya, "Padahal Sakuya ingin memberikan ini pada papa-kun," Sakuya menunjukkan jantung yang tadi dia ambil dari tubuh polisi penjaga.

"Hiiiyyy, Sakuya! Kenapa kau bawa-bawa benda seperti itu! Cepat buang!" jerit Ino.

"Tidak mau, Sakuya sudah susah payah membelah tubuh polisi itu, ini hadiah untuk papa-kun."

"Aku tidak berani jamin Sasuke akan senang dapat hadiah seperti itu," gumam Shikamaru sambil sedikit terkekeh.

"Ngomong-ngomong, apa Sakura sudah ketemu ya?" ucap Ino pelan.

"Masih belum ada kabar?" tanya Shikamaru.

"Sakuya akan memeriksanya, kalian tunggu di sini ya, nanti Sakuya akan kembali sekitar 20 menit, jadi gunakan waktu itu secepatnya dan semampu kalian, daaaah."

Saat Sakuya sudah keluar, Ino hanya bengong mendengar ucapan Sakuya yang entah kenapa lebih paham soal itu dari pada Ino sendiri, membuat wajah Ino makin memerah dari yang tadi, menyadari reaksi Ino ada perasaan usil sedikit dalam otak Shikamaru. Dia menggenggam tangan Ino dan berucap, "Ayo kita lakukan."

"Hah? La-lakukan apa?"

"Apa yang Sakuya ucapkan," Shikamaru menarik Ino, mendekatkan wajah gadis itu padanya.

"Shi-Shikamaru tu-tunggu, lu-lu-lukamu masih basah, nanti malah makin parah dan-"

"Apa yang kau pikirkan, hah?" potong Shikamaru yang menempelkan keningnya pada kening Ino, "Aku ingin memintamu untuk memeriksa punggungku, dari tadi terasa gatal."

"Eh? Pu-punggung?"

"Memangnya kau mengharapkan apa? Hm?"

"Tidak bukan apa-apa! Sini balikkan tubuhmu!" ketus Ini menahan wajahnya yang memerah.

"Aw! Pelan-pelan!"

Ini hukuman sudah menjahiliku! "Lukanya sedikit terbuka, tapi tidak parah," ucap Ino pelan.

Tanpa mereka sadari masing-masing, kini ekspresi mereka sedang tersenyum lembut stau sama lain.

.

.

PRAANG

BRAAAK

PRAANG

"Sasuke, tenanglah," pinta Neji.

"Tenang! Kau bilang aku harus tenang? Di saat Sakura menghilang dalam kondisinya yang sedang terluka, kau menyuruhku tenang! Kau tolol atau apa hah!"

Entah sudah berapa benda yang sudah Sasuke hancurkan saat ini, keadaan kamarnya yang begitu berantakan, pecahan kaca di sana-sini, Neji, Naruto dan Hinata hanya bisa melihat aksi ngamuk Sasuke yang begitu menyeramkan, tidak ada yang berani menghentikannya, bahkan Sakuya yang baru datang pun terdiam melihat ekspresi Sasuke yang kini bercampur antara marah, khawatir dan bingung. Tiba-tiba, Sasuke menoleh ke arah Hinata, membuat Hinata merona, namun ekspresi Sasuke makin kesal, dihampiri lah Hinata itu dan dengan kasar Sasuke mendorongnya ke tembok.

"Apa yang kau katakan padanya, brengsek!"

"Sasuke!" Naruto mencengkram lengan Sasuke ketika laki-laki yang kini berdarah tinggi itu hendak mencekik leher Hinata, "Ingat, dia ini perempuan."

"Aku tidak peduli! Kalau memang dia yang menyebabkan Sakura pergi dari sini, maka aku akan benar-benar memenggal kepalanya!"

Mendengar ancaman Sasuke membuat Hinata ketakutan, ada perasaan sedikit menyesal Hinata telah mengatakan hal buruk pada Sakura, karena dia tidak menyangka efeknya akan sebesar ini untuk Sasuke dan yang lainnya. Sekali lagi hinata berpikir, kenapa Sasuke sebegitu cintanya kepada Sakura? Apa yang telah Sakura lakukan sehingga laki-laki yang sudah mulai Hinata suka ini hanya menatap sosok wanita berambut soft pink itu?

"Ingat? Aku menempelkan pelacak pada tiap-tiap anggota, dan itu berlaku untuk Sakura… aku akan mencoba mencarinya, sampai aku berhasil mencarinya, aku sangat memohon padamu untuk tenang," pinta Naruto.

Sasuke terdiam, tenaganya sedikit terkuras karena emosinya yang meledak, Naruto menyuruhnya untuk istirahat di tempat tidur sebentar, untung saja Sasuke menurut, jadi Naruto bisa sedikit tenang meninggalkannya. Laki-laki yang merupakan sahabat Sasuke itu menarik Neji, Hinata dan Sakuya untuk pergi dari ruangan yang kini sudah berantakan karena ulah Sasuke. Saat mereka sudah berada di luar.

"Papa-kun… tidak apa-apa?"

Naruto tersenyum pada Sakuya dan menepuk kepala gadis itu, "Tidak apa-apa, dia hanya sedikit stress, jangan ganggu dia dulu ya."

"Apa… mama-chan akan kembali?"

Neji dan Naruto saling tatap, ini pertama kalinya Sakura bertindak memberontak seperti ini, sejak dulu sampai sekarang Sakura pasti selalu menurut, mugnkin dia sudah jenuh akan rutinitas setiap harinya. Makanya sekarang dia kabur, dan lagi lirikan Naruto yang kini menuju Hinata penuh dengan rasa curiga, pasti terjadi sesuatu sebelum Sakura pergi.

Naruto memutuskan untuk kembali ke kamarnya, rencana akan mencari Sakura melalui alat pelacak yang dia pasang, berdoa agar alat itu tidak lepas dari tubuhnya. Saat Naruto membuka pintu kamarnya, terlihat Karin yang sedang duduk di depan laptop Naruto dengan air mata yang tidak juga berhenti. Melihat ha itu Naruto menghampiri Karin, "Karin? Ada apa?"

Karin tidak menjawab, ketika Naruto melihat ke layar, ternyata Karin sedang mencari keberadaan Sakura, namun tidak ada tanda-tanda sinyal yang tercipta di layar itu. Naruto membantu Karin untuk mencari, tapi tetap tidak ada sinyal yang terhubung. Sakura… mencabut alat pelacaknya…

"Kenapa! Kenapa dia harus pergi~ huhuuu… hiks… dia… sedang terluka…"

Ini pertama kalinya Naruto melihat Karin menangis sampai seperti ini, ternyata hilangnya Sakura memberi dampak yang buruk bagi elite assassin, Naruto memeluk Karin, mencoba menenangkan wanita itu sambil membelai kepalanya, "Tenang, aku akan berusaha mencarinya."

"Harus~" jawab Karin, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Naruto, "Kau harus menemukannya~"

.

.

Keadaan masih sunyi sepi, di iringi oleh suara tangisan kecil di kamar itu, terlihat laki-laki yang kini sedang memeluk erat tubuh wanita yang rapuh dan kecil, memeluknya erat namun hati-hati agar tubuh wanita itu tidak hancur karena tubuhnya yang tegap.

"Itachi-nii, aku rindu…" gumam Sakura dalam pelukan laki-laki yang dipanggilnya tadi.

"Aku juga."

Sakura melepaskan pelukan Itachi dan menatap laki-laki itu dengan pilu, "Kenapa… kenapa selama ini Itachi-nii pergi? Kenapa Itachi-nii tidak pernah mencari kami?"

Ekspresinya masih datar, namun sorot matanya melembut ketika menatap emerald yang kini terlihat sedih di hadapannya, dibelai rambut pink itu dan disentuh pipi lembutnya, "Panjang… aku tidak bisa melibatkan kalian, rencana aku tidak mau kalian terlibat… tapi kenapa kalian malah membentuk kelompok itu?"

Sakura terdiam, menggenggam tangan Itachi yang tadi menyentuh pipinya, saat Sakura akan mengatakan sesuatu, Itachi memotongnya, "Kamu tidak lupa dengan janji kita kan?"

"Eh?"

Itachi tersenyum kemudian mengecup bibir mungil Sakura singkat, "Apapun yang terjadi, kamu harus mendukung Sasuke, sampai Sasuke menemukan pendamping hidupnya."

Sakura tersentak, dia tidak ingat tentang janji itu, kenapa? Sejak kejadian lima tahun yang lalu, banyak hal-hal yang Sakura lupakan secara tiba-tiba, "Tapi… Itachi-nii, Sasuke kun… dia sudah mempunyai aku, kenapa harus mencari pendamping lagi?"

"Sudah mempunyaimu? Apa yang kau bicarakan, Cherry, kau sendiri yang bilang kan dulu kalau kau akan mendukung Sasuke sekuat tenagamu, sampai saat dia menemukan pendampingnya, kau akan menikah denganku."

"Sasuke kun menikah dengan wanita lain? Aku tidak mau! Aku dan Sasuke kun saling mencintai," ucap Sakura panik.

"Saling… mencintai?" kini sorot mata Itachi berubah kembali datar, "Apa maksudmu?"

"Aku dan Sasuke kun sudah melewati banyak hal yang bruuk, kami saling melindungi, kamu saling mengisi, kami bahkan melakukan sex hampir tiap malam, aku tidak mau yang lain selain Sasuke kun, aku-"

Mulut Sakura di kunci oleh ciuman Itachi, saat panik Sakura sudah sedikit mereda, Itachi melepaskan ciumannya," Dari dulu kau memang seperti ini, selalu tenang setelah kucium, apa kau ingat?"

Sakura terdiam, berusaha mengingat.

"Aku tidak peduli Cherry, seberapa sering kau melakukan sex dengan Sasuke, aku tidak akan membencimu dan Sasuke, mungkin itu memang kebutuhan hormone remaja, mulai saat ini kau tidak butuh tubuh Sasuke lagi, aku yang akan memenuhi kebutuhanmu itu," bisik Itachi.

"Tunggu!" Sakura mendorong wajah Itachi yang kini makin mendekat pada wajahnya."aku dan Sasuke kun sekarang adalah sepasang kekasih, kalau aku melakukan sex dengan Itachi-nii, itu artinya aku mengkhianati Sasuke kun dan aku tidak mau."

"Apa bedanya? Kau juga sudah mengkhianatiku, Cherry," ucap Itachi tegas,"Tapi aku memaafkanmu, karena aku mencintaimu, dan aku menyayangi Sasuke."

"I-Itachi-nii…"

"Kau tahu, alasan aku membentuk organisasi yang disebut dengan White Organization?" Sakura menggelengkan kepalanya, lalu Itachi melanjutkan, "Untuk membalaskan dendammu pada orang yang telah membunuh orang tua kita."

Sakura tersentak mendengar alasan Itachi, alasan yang sama dengan Sasuke, satu tujuan dan satu misi dengan Sasuke. Sama-sama mempunyai perasaan yang kuat dengan Sasuke terhadap satu orang wanita, "Hanya saja," lanjut Itachi sambil melepaskan belaiannya pada Sakura, "Cara kami berbeda."

Kami yang Itachi maksud, tentu saja Sakura paham, itu artinya Itachi dan Sasuke, apakah mereka akan menjadi musuh? Tapi ada satu pikiran lagi yang terlintas di otak Sakura, "Itachi-nii," panggil Sakura lembut, saat Itachi menatap wajah Sakura yang kini terlihat tersenyum tegas, "Tolong ajarkan aku, bagaimana caranya menjadi kuat."

"… memangnya Sasuke tidak mengajarimu?"

Sakura tidak menjawab.

"Membentuk kelompok seperti itu, tapi kau tidak mendapatkan kemampuan apa-apa?" tanya Itachi dengan nada menyindir.

"Sasuke kun hanya tidak mau aku terluka, dia hanya ingin melindungiku."

"Selain ada orang lain yang melindungimu, kau juga harus bisa melindungi dirimu sendiri, Cherry."

"Aku tahu… tapi, sejak lima tahun yang lalu, Sasuke kun tidak mengizinkanku ikut missi, dia juga tidak mengizinkanku untuk latihan bersama mereka."

"Lima tahun yang lalu?"

"Itu… kejadian yang sangat ingin kulupakan," ucap Sakura sendu, sambil memegang bagian tubuhnya yang tertembak, saat Itachi melihat tangan Sakura bergerak.

"Cherry, lukamu terbuka, aku akan panggilkan dokter, besok kita masih punya waktu banyak untuk bercerita," ujar Itachi, "Dan satu lagi…"

Itachi berdiri, berjalan menuju pintu, sebelum dia keluar meninggalkan Sakura agar bisa beristirahat, Itachi menambahkan kalimatnya, "Aku yang akan langsung melatihmu agar menjadi kuat nanti."

Kemudian Itachi menutup pintu dengan sangat pelan, Sakura sendiri kini sedang menahan senyumnya yang lebar, perasaan gembira yang sudah lama tidak dia rasakan muncul begitu saja, dengan begini, Sakura berpikir, dia bisa kembali ke sisi Sasuke kalau dia sudah kuat nanti. Dan sesaat, Sakura teringat kembali tentang janjinya pada Itachi dulu, saat mereka masih kecil, hanya beberapa kalimat yang Sakura ingat.

"Aku ingin bersama Itachi-nii, selamanya, aku ingin menjadi pendamping hidup Itachi-nii."

"Asal kita menunggu Sasuke menemukan pendampingnya, kalau saat itu tiba, aku akan menjadikan Sakura pendamping hidupku."

Janji yang terlupakan kini teringat kembali, membuat Sakura berpikir, siapa sebenarnya sekarang yang sedang dia khianati?

Itachi berjalan menuju ruangannya, melihat Deidara yang kini sedang berdiri di depan pintunya, membuat Itachi melirik laki-laki itu, namun tidak mengucapkan apa-apa, mereka berdua sudah sama-sama saling mengerti karakter masing-masing.

"Apa kau yakin akan melatihnya? Membiarkannya tinggal di sini? Artinya sama saja cari perang dengan adikmu?" tanya Deidara.

"Aku sudah memikirkan semua kondisinya, kau tenang saja dan mainkan peranmu dengan baik," jawab Itachi dingin, "Ah," Itachi menghentikan langkahnya dan menoleh pada Deidara, "Sepertinya adikmu baik-baik saja."

"Dari mana kau tahu?"

Itachi tersenyum, "kau juga pasti punya kan? insting seorang kakak atau ikatan batin seperti itu."

Saat Itachi melanjutkan langkahnya, Deidara menghela nafas dan menyenderkan tubuhnya di tembok, "Dasar, wajah senangmu itu tidak bisa kau tutupi ya? Apa bertemu dengan Sakura-mu itu begitu membuatmu senang?"

.

.

Sasuke merenung di atas kasurnya, terus menerus memeras otak, apa yang salah darinya? Kenapa Sakura bisa pergi dari sisinya? Padahal dia sengaja mengizinkan Sakura sekolah dan keluar rumah agar wanita yang dia cintai itu tidak mereka berangkat pun. Sakura masih baik-baik saja. Yang paling di khawatirkan oleh Sasuke adalah, kondisi Sakura saat ini, dan… bagaimana kalau sampai terjadi seperti lima tahun yang lalu? Sakura jatuh ke tangan orang itu?

Memikirkan hal itu hanya semakin membuat Sasuke frustasi. Dia terus menerus menjambak rambutnya sendiri. Sampai ketukan pintu membuatnya sedikit tersadar, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Sasuke tapi pintu itu tetap terbuka, dan Karin masuk membawa secangkir teh hangat, "Minumlah ini dulu untuk menenangkanmu," ujar Karin.

Sasuke tidak menanggapinya, Karin meletakkan cangkir itu di samping meja, "Lihat, berantakan sekali kamar ini," protes Karin, "Kau tahu, kita tidak tahu alasan Sakura pergi dari sini, kita juga tidak mengerti kenapa Sakura bisa mengambil keputusan itu… tapi ada satu yang kupahami di sini."

Sasuke mulai merespon, saat Karin merasa Sasuke menoleh padanya, dia pun menatap mata onyx yang terlihat suram itu, "Sakura pergi karena kita menjalani missi, missi itu adalah membunuh Takeshi Makimura…"

"Langsung saja ke intinya!"

"… baiklah, gara-gara orang itu, kita kehilangan Sakura, tiga hari lagi, Takeshi akan mengadakan pawai kenaikan jabatannya, itu bisa kita jadikan pelampiasan kan? gara-gara berurusan dengannya, kita kehilangan Sakura, makanya…" Karin mendekat pada Sasuke, "Kita saja yang membunuh dia, aku sniper, dan kau juga ahli strategi, kita berdua sudah cukup untuk menghabisi orang itu."

Sasuke berpikir, yang di ucapkan Karin memang benar, dan ini semua karena orang itu, Takeshi Makimura, salah satu orang yang berhubungan dengan orang yang membunuh kedua orang tua Sasuke dan Sakura, Sasuke menatap Karin dalam-dalam, kemudian tersenyum, senyum yang terkesan jahat, "Ide cemerlang."

Karin membalas senyuman Sasuke, "Sambil menunggu dan mencari Sakura, kita bisa melampiaskan emosi kita pada tua bangka itu, bagaimana?"

"Kita lakukan saat pawai itu berjalan, aku ingin kau membunuhnya di depan masyarakat," ucap Sasuke.

"Apapun akan kulakukan, demi Sakura."

.

.

Naruto masih duduk di depan laptopnya, mencari jalan keluar bagaimana agar dapat menemukan Sakura. Saat sedang mengutak-atik laptopnya, kejadian Karin menangis terus membayanginya, wanita setegar dan sekuat Karin ternyata bsia sangat rapuh begitu. Apalagi tangis Karin terdengar begitu pilu, terdengar seolah dia sedang kehilangan seseorang yang dia cintai, padhaal Sakuya saja tidak terlalu menangis begitu, walaupun dampaknya adalah anak itu menjadi diam, tidak selincah sebelumnya. Neji juga terus mengurung dirinya di kamar, Ino menjaga Shikamaru yang terluka. Sasuke…

Sasuke yang paling terpuruk di sini, maka dari itu, Naruto mati-matian mencari jalan keluar untuk membawa Sakura kembali ke sisi Sasuke, apapun itu caranya.

Saat Naruto melihat ada sinyal merah berkedip-kedip sedang berjalan menuju mansion, tubuhnya tersentak dan mendekatkan wajahnya pada layar, "Sakura? Di luar mansion?" dengan cekatan Naruto meninggalkan ruangannya dan berlari keluar, tanpa memberi tahu yang lain, karena mereka sudah lelah akibat missi yang gagal tadi.

Naruto terus berlari, dia yakin tadi sinyal itu berkedip di daerah sekitar depan gerbang ini, tapi kenapa tidak ada orang? Tidak ada sosok Sakura di sana. Saat Naruto melangkah mundur, langkahnya terhenti karena terhalang sesuatu, ketika dia menoleh.

"Kyo? Kenapa kau di luar? Siapa yang melepasmu?"

Kyo hanya diam, kemudian mengendus celana Naruto dan menggigitnya pelan.

"Kenapa? Ada apa denganmu?"

Kyo mendongakan kepalanya, lalu memuntahkan sesuatu, yang dimuntahkan itu adalah benda kecil yang pernah Naruto pasang di gelang yang Sakura pakai, "Ini kan pelacak itu! Kyo, kau tahu dimana Sakura-chan sekarang?"

Tatapan Kyo seolah menjawab iya, tanpa ragu lagi Naruto bangkit, "Aku harus memberi tahu yang lain," namun langkah Naruto terhenti karena Kyo menahannya, "Hei, lepaskan, aku harus memberi tahu Sasuke."

"Grrr, ggrrrrrr"

Kyo menggerang sambil menggelengkan kepalanya dengan gigi yang masih menggigit celana Naruto, "Tidak boleh memberi tahu yang lain?"

"Lalu kau mau aku kesana sendiri?"

Kyo membalikkan tubuhnya, seolah menyuruh Naruto untuk mengikutinya. Mengerti apa maksud Kyo, Naruto menuruti gerak-gerik anjing itu, sejauh apapun Kyo berlari, Naruto akan mengikutinya kalau itu untuk bertemu Sakura dan mengetahui alasan Sakura kenapa pergi dari mansion itu.

Saat Naruto sedang berada di luar, Hinata yang kini sedang melamun di kamarnya menelepon seseorang, "Kenapa lama diangkat!"

"Maaf Nona, aku tadi sedang mandi."

"Huh, kau tahu, aku melakukan kesalahan di sini."

"Kesalahan apa?"

"Aku… menyukai Sasuke-kun, tapi dia hanya melihat si Sakura itu, padahal aku hanya bermaksud menjahili Sakura, tapi aku tidak menyangka kalau dia akan pergi dari mansion ini," gerutu Hinata pada orang yang sedang di teleponnya itu.

"Kau menyukai dia? Tolong ingat posisi-mu Nona Hinata."

"Aku tahu! Tapi mau bagaimana lagi, aku baru pertama kali di tolak seperti ini, Sasuke-kun membuatku gemas~"

"…"

"Ah, sudah dulu ya, nanti kapan-kapan aku telepon lagi, titip salam untuk ayah, daaah."

Hinata menutup teleponnya, kini yang hanya bsia dia lakukan adalah membayangkan dirinya sedang di manja dan disentuh oleh Sasuke. Dia ingin sekali Sasuke memperhatikan dirinya, mungkin dengan menghilangnya Sakura, ini bisa jadi kesempatan bagus, apalagi kata-kata terakhir Sakura yang membuat Hinata berharap besar.

"Kalau kau, pasti bisa menolongku."

"Menolong apa?"

"Tolong jaga Sasuke kun."

Walaupun hanya kalimat ambigu yang keluar dari ucapan Sakura, tapi itu seolah Sakura memberikan Sasuke untuknya. Jadi, boleh kah Hinata berharap?

.

.

"Di-Di sini? Sakura-chan di sini?"

Kyo melanjutkan langkahnya, kini Naruto sedang berada di sebuah rumah yang sederhana, sangat sederhana, namun dia tidak tahu kalau di dalamnya banyak jebakan dan segala macam yang dirancang oleh Sasori. Rumah yang terlihat sederhana itu juga sebenarnya markas dari W.O, agar tidak ada yang curiga, makanya mereka memutuskan untuk tinggal di rumah sederhana. Kyo menuntun Naruto lewat belakang, langsung pada jendela tempat Sakura beristirahat.

"Jendela ini?" tanya Naruto pada Kyo.

Naruto mendekatkan dirinya untuk melihat isi dalam ruangan di balik jendela gelap tersebut, terlihat Sakura sedang berbaring di atas tempat tidur yang terihat sederhana, namun tidak tertidur, akhirnya Naruto mengetuk jendela beberapa kali, melihat Sakura menyadarinya, Sakura berjalan pelan menuju jendela dan membukanya.

Sakura tercengang, Naruto menyengir, dan kyo dalam hati hanya bisa bangga pada dirinya sendiri yang sudah membawa Naruto ke sini.

"Na-Naruto? Bagaimana bisa…"

"Ssttt, bisa bicara sebentar?" ucap Naruto pelan.

"Ah iya, masuk saja," Sakura membuka jendela lebih lebar agar Naruto dapat masuk, setelah Naruto masuk, Sakura mengunci pintu agar aman, "Kenapa bisa ada di sini?"

"Aku tahu dari Kyo, dia yang membawaku."

Sakura terdiam, dia sudah tahu maksud tujuan Naruto kesini, "Maaf Naruto, tapi aku tidak bsia kembali…"

"Kenapa, Sakura-chan? Apa kami kurang memperlakukanmu dengan baik?"

Sakura menggelengkan kepalanya, "Tidak, bukan begitu."

"Aku… hanya ingin menjadi kuat, di sini aku bisa mendapatkannya, aku janji, kalau sudah kuat nanti, aku pasti akan kembali pada Sa- kalian, aku akan kembali pada kalian dan berkumpul bersama lagi di mansion," lanjut Sakura.

"Di sini kau bisa mendapatkannya? Siapa yang melatihmu?" tanya Naruto bingung.

Sakura, dengan ragu dia menjawab, "I-Itachi… kakaknya Sasuke, dia masih hidup."

Naruto terkejut, ekspresinya kini berubah menjadi pucat, kakak yang selama ini Sasuke ceritakan, yang selama ini dia banggakan dan juga dia benci, kenapa meninggalkan Sakura dan dirinya begitu kejadian orang tua mereka tewas. Kini berada satu atap dengan Sakura?

"Apa, Sasuke tahu?" tanya Naruto.

Sakura menggeleng lagi, "Jangan diberi tahu dulu, aku mohon."

Naruto kini merasa bingung, entah keputusannya menghampiri Sakura ini tepat atau tidak, apa yang harus dia katakan pada Sasuke nanti? Apakah dia harus merahasiakan ini dari sahabatnya sendiri?

"Baiklah, tapi… apa aku boleh kesini lagi?" tanya Naruto.

"Tentu saja, nanti aku akan bilang pada Itachi-nii," jawab Sakura, "Naruto… aku mohon kerja sama darimu."

Naruto tersenyum dan memeluk Sakura, "Aku akan merahasiakannya, asal kau janji, suatu saat kau akan kembali ke mansion, dan kembali ke sisi Sasuke."

"…" ekspresi Sakura menjadi pilu, tanpa sepengetahuan Naruto, Sakura menjawab dengan wajah yang miris, "Ya, aku akan kembali ke mansion itu."

"Baiklah, kau istirahat ya, sepertinya lukamu juga sudah mulai membaik, kalau sudah kembali ke mansion, aku akan mengajarimu banyak hal tentang tekhnologi," ucap Naruto sambil menepuk kepalanya.

"Ng, terima kasih, Naruto, aku menyayangimu."

Naruto menyengir, "Aku juga menyayangimu," kemudian Naruto keluar lewat jendela, berlari keluar, setelah beberapa jauh, Naruto kembali menoleh pada rumah yang sekarang Sakura tinggal itu, "aku bahkan lebih dari menyayangimu, Sakura-chan," gumam Naruto yang kemudian melanjutkan perjalanan pulangnya.

Saat itu, di ruang utama, Itachi mengumpulkan semua anggotanya untuk membicarakan tentang kejadian tadi.

"Jadi, apa Takeshi selamat?" tanya Itachi.

"Dia selamat… untuk sementara," jawab Gaara.

"Kita belum bisa membiarkan orang itu mati kan?" tanya Sasori sambil merakit senjata, "Kita masih butuh informasi tentang perkumpulan itu."

"Ya, itu juga yang menghubungkan kita pada orang yang membunuh orang tuamu kan, Itachi?" ucap Hidan yang terlihat tangannya terlilit perban.

"Perban itu cocok untukmu," ledek Deidara.

"Diam kau, sialan!"

"Ya, kita belum bisa membiarkan Takeshi mati, karena yang tahu markas besar orang itu adalah dia," jawab Itachi.

"Ah, ada satu lagi orang yang tahu, bahkan orang itu adalah orang kepercayaan dia," ujar Sasori.

"Siapa?" tanya Gaara.

"Elite Assassin tahu kok, anak dari orang itu," jawab Sasori tanpa menoleh pada siapapun.

"Hah? Jangan-jangan…" tebak Deidara.

"Ya, gadis itu," jawab Sasori tersenyum sinis.


A/N : ini chapter 11nya, untuk masalaah kemarin udah beres kok, ngga usah dibahas lagi.

Untuk masalah kondisi fitri, makasih ya yang udah doain, dia udah keluar dari rumah sakit, tapi masih harus bedrest, dan masih harus relax, lusa dia ikut therapy juga, akhirnya dia mau ikut therapy, (thx god)

Jadi, pasca operasi, fitri itu jadi diem, ngga mau ngomong satu katapun, orang tuanya khawatir makanya disuruh ikut therapy, hanya itu yang bisa saya kasih tahu.

jadi chapter depan kita ngga tahu kapan updatenya, mungkin akan sangat lama, maaf ya

Soalnya sampai saat ini fitri masih ngga mau buka laptopnya, katanya banyak gambar2 bikin sial di laptopnya, hahaha.

Oh iya, untuk review saya ngga bisa bales satu-satu nih, maaf ya, saya dikejar deadline T_T

Gpp ya, update aja udah syukur, hehehe

dan maaf untuk pendeknya chapter ini dan kemarin, chapter depan dijamin akan lebih panjang dari biasanya, tapi ngga tahu kapan dibuatnya, hahahaha