"Hinata-chan ini kak Neji"

Dengan segera Hinata mendorong tubuh Naruto yang menindihnya. Dan berdiri dengan rasa ketakutan.

"Ba-bagaimana ini. Neji-nii datang" ucap Hinata ketakutan.

Bagaimana tidak takut, situasi seperti ini bakal menjadi masalah besar baginya. Karena membawa lelaki ke apartemen miliknya. Bisa bisa jika kakaknya melihat Naruto yang sedang berada diapartemennya, apalgi cuman berdua saja dengan Hinata. Neji bisa marah besar dan kemungkinan bakal ada perang.

"Tenanglah, tidak perlu khawatir begitu. Aku akan menjelaskannya dengan..siapa yang datang itu?" ujar Naruto.

"Dia kakakku yang datang Naruto-san. Ayo cepat kau harus sembunyi" tanpa aba aba Hinata menarik tangan Naruto dan membawanya kekamarnya. Naruto menjadi terpekik dengan tarikan dari Hinata.

"Sembunyi disini okey. Ssst..jangan berisik"

Naruto hanya terkikik melihat tingkah Hinata yang menurutnya sangat lucu itu. Jadi dia menurut saja mau nya Hinata apa. Tak apalah asal ini Hinata, pikir Naruto. Benar benar sedang dimabukkan asmara Naruto.

Setelah mengantar Naruto kekamar miliknya, Hinata dengan segera membuka pintu apartemennya dan menyambut kakaknya yang baru datang.

"Kenapa lama sekali buka pintunya Hinata-chan?" tanya Neji setelah pintu itu terbuka dan menampakkan Hinata yang membuka pintu.

"E-eh hehe maaf Neji-niisan, tadi aku kekamar mandi. Jadi tidak dengar kalau Neji-niisan datang" jawab Hinata dengan kikuk.

Neji menaikkan satu alisnya melihat adik kesayangannya ini berbicara dengan gugup.

"Apa ada yang kau sembunyikan dari kakakmu ini?" tanya Neji dengan wajah selidiknya.

Raut muka Hinata berubah menjadi gugup saat Neji berkata seperti itu.

'Gawat apa Neji-niisan tau kalau ada yang datang ke apartemenku?' batin Hinata.

"HAHAHA, sudahlah Hinata-chan kakak hanya bercanda" kikik kakaknya saat melihat wajah adiknya yang lucu itu dengan muka gugupnya lalu mencubit pipi Hinata.

"Uuuh Neji-niisan keterlaluan" ucap Hinata menggembungkan pipinya setelah dicubit Neji.

Neji dan Hinata pun masuk kedalam apartemen.

"Aaah sudah lama sekali aku tidak kemari melihat keadaanmu Hinata-chan" ucap Neji setelah mendudukkan bokongnya diatas sofa empuk itu. Dan Hinata berkutat didapur untuk membuatkan kakaknya minuman

Sebelumnya Neji sudah memberitahukan Hinata perihal dia yang akan berkunjung ke apartemen Hinata untuk beberapa hari.

"Hehe Neji-niisan memang sudah lama sekali tidak kemari" ucap Hinata dengan meletakkan nampan yang ada teh untuk kakaknya.

Neji tersenyum dengan adiknya yang sudah membawakannya segelas teh. Saat Neji berangsur mau mengambik tehnya yang diletakkan diatas meja, Neji melihat ada gelas lainnya yang juga berada diatas meja itu.

"Hmm. Teh siapa ini Hinata-chan, apa kau kedatangan tamu ya ?" tanya Neji bingung melihat teh yang masih berisi banyak tehdan terlihat juga tehnya masih panas.

Hinata langsung terkpekik dengan pernyataan Neji.

"A-ah i-itu tadi. Aku yang minum Neji-niisan hahaha" jawab Hinata dengan wajah kikuk.

"Oh begitu" jawab singkat Neji dan menyeruput teh buatan adiknya yang sangat iya rindukan.

"Aaah kakak lelah sekali setelah perjalanan jauh tadi. Kakak mandi air hangat dulu ya. Hinata-chan kakak pinjam kamar mandi mu dulu" ujar Neji dan bangkit hendak pergi kekamar mandi yang terletak dikamar Hinata.

Hinata langsung membulatkan matanya saat kakaknya mengatakan ingin mandi dikamar mandinya. Gawat, bisa bisa kakaknya Neji bisa tau kalau ada Naruto dikamarnya yang sedang bersembuny. Pikir Hinata.

Dengan segera Hinata mendahulukan jalannya didepan kakaknya dan sebelum kakanya memutar kenop pinta Hinata sudah menjegatnya.

"Ja-jangan Neji-niisan"

Neji bigung dengan Hinata yang menjegatnya untuk masuk kekamarnya.

"Kenapa?"tanya Neji dengan raut wajah bingung.

"Ja-jangan mandi dikamar mandiku. I-itu ka-karena.." Hinata tampak berpikir mencari alasana agar Neji tidak jadi masuk kekamarnya.

"A-ah. Itu karena, mesin air panasnya sedang rusak. Ahaha iya rusak" alasan itu yang Hinata lontarkan dengan rasa gugup.

"Benarkah begitu?" Neji terlihat ragu dengan jawaban dari Hinata.

"Yasudah kalau begitu. Kakak mandi dikamar mandi belakang saja. Bisa kau siapkan air panas untuk kakak Hinata-chan ?" ujar Neji.

"Hehe. Ba-baiklah Neji-niisan"

Nejipun tersenyum dengan adiknya. Neji oun berjalan menuju kamar mandi yang twrletak dibelakang dekat dapur.

"Hmm..ada apa dengan Hinata-chan ya?" guman Neji sambil berjalan menuju kamar mandi belakang.

Hinata mengecek apakah kakaknya sudah berada dikamar mandi apa belum. Setelah yakin kalau kakaknya sudah tidak ada lagi Hinata pun membuka pintu kamarnya dan masuk untuk menemui Naruto yang dia sembunyikan tadi dikamarnya.

Sebelum kejadian Neji dan Hinata tadi. Naruto yang sudah berada dikamar Hinata asik mondar mandir melihat seisi kamar milik Hinata. Nuansa ungu dan wangi khas milik Hinata tersebar diseluruh kamar milik Hinata. Dengan sedikit hiasan didinding kamarnya dan satu meja rias dengan penuh alat alat make up Hinata yang tersusun rapi, setelah sebuah meja belajar disamping ranjang milik Hinata.

Naruto mendekat ke arah ranjang Hinata dan berbaring diatas tempat tidur Hinata. Nyaman dan empuk, itu yang dirasakan Naruto saat tergeletak di ranjang Hinata. Naruto melihat langit langit kamar Hinata dengan menangkup kedua tangannya dibelakang kepalanya yang sedang berbaring.

Tak lama Naruto mendengar suara putaran kenop pintu, Naruto sedikit terkejut saat kenop pintu itu terbuka dan seseorang hendak masuk namun tidak jadi. Naruto mendengar Hinata yang berbucara dengan kakaknya agar tidak masuk kekamarnya. Naruto kembali bersantai kembali setelah tau pintu itu tidak jadi terbuka.

Dan tak lama masuklah sang empu kamar tersebut.

Hinata menganga melihat Naruto yang dengan enaknya berbaring diatas ranjangnya dan masih memakai sepatu pula lagi. Pikir Hinata.

"Astaga Naruto-san. Apa yang kau lakukan dengan ranjangku" ucap Hinata namun dengan suara yang pelan agar kakaknya tidak mendengar.

"Memangnya kenapa?" tanya Naruto tanpa merasa berdosa.

"Ini tempat tidur. Tidak seharusnya kau berbaring dengan memakai sepatu. Bisa kotor kalau begitu" ucap Hinata yang kesal melihat Naruto seenaknya dengan ranjang miliknya.

"Iya..iya..iya..aku mengerti" ucap Naruto dan bangkit dari acara berbaringnya dan sekarang dengan posisi duduk diatas ranjang.

Hinata masih terlihat kesal namun setelah itu dia menarik kembali lengan Naruto.

"Ayo Naruto-san, kau harus segera pergi" ucap Hinata dengan menarik lengan Naruto namun tarikan itu ditarik kembali oleh Naruto.

"Kau ingin mengusirku?" ucap Naruto dengan raut wajah datar.

"Bu-bukan begitu Naruto-san. Jika niisan ku tau kau disini. Maka akan menjadi masalah besar"

Naruto memutar bosan bola matanya saat mendengar perkataan Hinata. Apa yang musti ditakutkan coba. Tinggal bilang saja kalau mereka sepasang kekasih pati tidak akan menjadi masalah besar. Pikir Naruto begitu.

"Yasudah..yasudah"

Hinata kemudian memegang tangan Naruto untuk keluar secara diam diam dari apartemenya. Naruto yang tangannya dipegang dengan Hinata hanya tersenyum senyum saja. Halus dan nyaman pegangan tangan Hinata dan itu yang dirasakan Naruto. Hinata mengecek situasi apartemenya apa aman atau tidak. Ada atau tidak kakaknya sekarang ini. Setelah merasa aman, Hinata mengendap endap seperti maling, sedangkan Naruto hanya berjalan santai saja dibelakang Hinata yang tangannya masih setia dipegang Hinata.

Dan saat sudah sampai dipintu apartemen Hinata melepaskan pegangannya.

"Naruto-san. Pergilah. Hati hati okey" ucap Hinata dengan berbicara pelan pada Naruto.

Naruto tersenyum dengan tingkah Hinata yang begitu.

"Hinata" panggil Naruto.

"Iya ada apalagi Naruto-san. Cepatlah sebelum..."

Cup

Ucapan Hinata yang belum selesai terpotong dengan ciuman singkat dari Naruto dibibirnya.

"Besok aku akan menjemputmu. Jadi jangan bangun kesiangan okey" ucap Naruto setelah mencium singkat bibir Hinata.

Hinata hanya terdiam termangu seperti orang melamun karena ciuman kilat dari Naruto. Karena melihat ekspresi Hinata yang terdiam begitu, Naruto terkikik dan langsung pergi meninggalkan apartemen Hinata.

Hinata masih termangu berdiri diambang pintu apartemenya.

"Naruto-kun" gumam Hinata dengan wajah yang sudah memerah karena merasa tersipu malu dengan ciuman singkat tadi.

"Hinata-chan, kenapa kau berdiri disitu. Air panasnya mana ?" panggilan Neji tadi langsung membuat Hinata tersadar akan lamunannya.

Neji mendekat kearah Hinata yang berdiri diambang pintu. Dan melihat kearah keluar, melihat kanan kiri dari lorong apartemen itu.

"Siapa yang datang Hinata-chan?" tanya Neji dengan celingak celinguk meliagt sekita lorong.

"E-eh tidak ada Neji-niisan. Yasudah Neji-niisan mandi dikamar mandiku saja" ucap Hinata mendorong punggung kakaknya agar masuk.

"Tapi kau bilang tadi mesin air panas dikamar mandimu rusak"

"Hehe sudah kuperbaiki Neji-niisan. Ayo cepatlah. Aku akan siapkan makan malam untuk kita" ucap Hinata.

"Hmm..begitu ya. Yasudah" Neji pun masuk kekamar Hinata.

Setelah kepergian kakaknya yang mandi dikamar mandi miliknya Hinata sesaat tersenyum dengan mengingat kejadian barusan yang dia dicium secara singkat oleh Naruto. Walaupun singkat tapi ntah kenapa membuat hati Hinata sangat senang.

Setelah mengingat kejadian itu Hinata bergegas menuju dapur dan memasak makan malam untuknya dan kakaknya.

Keesokan harinya

Pagi pagi sekali Hinata sudah bangun. Yak Hinata sengaja bangun pagi sekali karena akan menyiapkan sarapan untuk kakaknya.

"Hoaaam, Hinata-chan kau sudah bangun rupanya" ucap Neji yang berjalan dari kamar lain dan duduk didekat Hinata yang sedang memasak.

"Ah Neji-niisan. Iya aku harus bekerja. Aku akan siapkan sarapan untuk Neji-niisan" ucap Hinata yang masih sibuk didapur, namun sudah rapi dengan pakaian kerjanya.

Meja makan sudah tersaji sarapan buatan Hinata. Hinata dan Neji menyantap sarapan pagi itu dengan candaan dan obrolan ringan dipagi hari.

"Terima kasih untuk sarapannya Hinata-chan" ucap Neji setelah selesai sarapan buatan adik nya.

"Hehe iya Neji-niisan"

Lalu ponsel Hinata berbunyi dar dalam tas kerja Hinata. Hinata segera mengambil ponselnya yang berdering itu dan melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata bossnya atau bisa disebut sekarang kekasihnya.

"Moshi..mo..."

"Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?" belum sempat Hinata berucap salam Naruto sudah nyerocos deluan di panggilan.

"Ma-maaf" ucap Hinata.

"Yasudah. Aku sudah dibawah. Turunlah" ucap Naruto disebrang telepon.

Hinata terkejut, ternyata bossnya tidak main main soal omongan dia tadi malam. Naruto benar benar menjemputnya untuk pergi kekantor bersama. Hinata kemudian menutup panggilan telepon tersebut.

"Dari siapa?" tanya Neji.

"A-ano i-itu dari bossku Neji-niisan. Dia datang menjemputku" ucap Hinata.

Neji bingung dengan perkataan Hinata. Seorang boss menjemput karyawannya? Apa tidak salah dengar. Pikir Neji begitu.

"Boss mu menjemputmu ?" tanya Neji meyakinkan.

"I-iya Neji-niisan"

"Yasudah. Tunggu apalagi. Ayo aku antar kau kebawah" ucaP Neji dan bergerak deluan ke arah pintu keluar apartemen.

"E-eh ta-tapi Neji-niisan..." ucap Hinata yang terkejut saat Neji berniat mengantarnya yang otomatis kakaknya bakal bertemu dengan Naruto.

Gawat pasti bakal ada perang ini jika Neji bertemu dengan Naruto. Pikir Hinata.

Dibawah didepan gedung apartemen Hinata. Hinata yang berdiri dibelakangnya hanya bisa menunduk. Neji menatap tajam Naruto yang sekarang menatap nya sama juga dengan tatapan tajamnya.

"Jadi ini bossmu Hinata?" ucap Neji bertanya dengan Hinata dan menatap Naruto dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tidak sopan memang, tapi Neji terlihat tidak suka dengan Naruto. Dia merasa siapapun yang mendekati adik kesayangannya ini harus melangkahi dia terlebih dahulu.

"Iya aku bossnya" ucap datar Naruto dan menatap Neji tidak kalah tajamnya.

"Oh, senang bertemu dengan anda. Siapa kalau bole tau nama anda?" tanya Neji dengan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

"Naruto. Namikaze Naruto" ucap Naruto dengan membalas jabatan tangan Naruto.

"Begitu ya. Kenalkan saya kakaknya Hinata, Hyuuga Neji" balas Neji kembali.

Jabatan mereka yang awalnya biasa biasa saja berubah menjadi cengkaraman kuat dari masing masing tangan mereka.

'Aku tau apa yang ada diotakmu tentang adikku Hinata. Dasar pria mesum. Wajahmu sudah terlihat jelas' batin Neji dengan mencengkram kuat tangan Naruto yang dijabatnya dan menatap sengit Naruto.

Jabatan tangan dari Neji yang kuat itu membuat Naruto sedikit meringis.

'Sialan kakaknya ini. Kau itu kakak Hinata yang terlalu over' batin Naruto juga berkata seperti itu. Dan membalas balik cengkaraman kuat ditangan Neji. Juga menatap Neji dengan tak kalah sengitnya.

Jika bisa dibayangkan, bagaikan ada kilatan petir dari masing masing tatapan mereka berdua.

Hinata yang melihat kedua lelaki itu dengan tatapan sengit diantara keduanya, cuman bisa menggeleng gelengkan kepalanya saja.

'Heee, sudah kuduga pasti bakal begini' batin Hinata.

Memang kenyataannya kakaknya Neji memang tidak suka jika Hinata didekati oleh pria manapun kecuali Neji menyetujuinya. Dan bossnya Naruto. Jangan ditanya dia akan melakukan semua hal yang tak mungkin menjadi mungkin sesuai dengan kemauannya.

TBC