Love In Drama

.

Author:

Kim Hyunfha

Genre:

Read, then you will find

Rated:

PG-15

Main Cast:

Cho Kyuhyun

Lee Sungmin

Kim Jong Hoon

Kim Ryeowook

Kim Jungmo

Lee Hyuk Jae

Find by your self

Disclaimer:

Fanfict ini terinspirasi oleh drama Korea yang judulnya Heartstrings. Tapi aku kurang puas sama ceritanya. Jadilah aku buat Heartstrings versiku sendiri dengan konsep cerita yang sama, namun alur cerita yang berbeda.

Mungkin ada yang berteman sama akun fb-ku dan menemukan cerita dengan judul yang sama karena memang awalnya cerita ini aku post di fb. Namun semenjak aku mulai menulis ff KyuMin, ff ini jadi gak terurus. Jadilah aku mengubah seluruh cast ditambah pengubahan alur sedikit. Dan juga aku sudah menyelesaikan sampai chapter 11. Itu sebabnya ff ku yang Journey For Remembrance masih separuh perjalanan. Aku lebih mengutamakan apa yang lebih dulu aku kerjakan ^^ tapi tenang aja... Kadang aku ngelanjutin keduanya kok.

P.S: FF yang udah aku publish di FB udah aku hapus demi kenyamanan.

Don t Plagiat ! Don t Bash ! RCL sangat dibutuhkan So,

Happy Reading ^^ Continued

.

.

.

"Sungmin... Ayo lihat pada kamera!"

Sungmin yang tadinya fokus terhadap pemandangan di luar bus, secara reflek mengalihkan pandangannya ke arah lensa handycam yang dipegang Ryeowook. Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangannya.

"Annyeong! Hari ini kita tengah melakukan perjalanan menuju 'Negeri Khayalan', Naminara!" ujar Ryeowook dengan nada senang.

"Naminara! Aku ingin ke Naminara! Tapi... Apa itu Naminara?" tanya Sungmin bingung kepada Ryeowook. Gadis sang pemilik Handycam memandang Sungmin speechless.

Ryeowook mendatarkan raut wajahnya. "Aihh... Kau ini orang Korea atau bukan sih? Naminara ya Pulau Nami."

Sungmin hanya manggut-manggut. Namun dalam pikirannya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang yang dimaksud dengan Naminara. Meskipun ia adalah orang Korea asli, tapi Sungmin sendiri tidak banyak tahu mengenai Pulau Nami. Dan kenapa Ryeowook mengatakan 'Negeri Khayalan'? Memangnya itu nama lain dari Pulau Nami? Jawabannya akan ia ketahui setelah sampai di sana nanti.

Perjalanan dari Seoul ke Pulau Nami sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan sekitar 1,5 sampai 2 jam perjalanan. Pulau Nami atau Naminara ini memiliki maskotnya sendiri, yaitu salah satu drama Korea populer yang saat ini masih melegenda, "Winter of Sonata". Bahkan gambar-gambar dari para pemain dan cover filmnya sendiri masih terpampang di berbagai tempat di Pulau Nami.

Sementara itu di lain tempat, terlihat Kyuhyun dan Jungmo yang duduk di kursi paling belakang. Kyuhyun hanya diam sambil memandangi pemandangan yang ada di luar. Namun orang yang duduk di sebelahnya itu menampakkan wajah kesal. Bibirnya mengerucut tidak suka.

"Huufftt... Hey! Kenapa kau memilih tempat paling belakang, huh?" tanya Jungmo kesal sembari memandang Kyuhyun kesal.

"Kalau kau tidak suka, silahkan pindah sendiri," sahut Kyuhyun santai tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.

"Tapi bus ini sudah penuh!"

"Ya sudah, jangan banyak mengeluh." Lagi-lagi Kyuhyun menjawabnya acuh tak acuh. "Lagipula, memangnya kenapa kalau duduk di belakang? Bahkan kursi kita ini yang paling panjang daripada yang lain."

Jungmo mendengus. "Bukan itu masalahnya, Kyuhyun. Tapi... Ah sudahlah. Kau tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana perasaan orang yang mudah mabuk darat," ujar Jungmo yang melirih pada kalimat terakhirnya.

"Ahh itu... Maaf, aku lupa kalau kau mudah mabuk," ujar Kyuhyun dingin.

Arghtt! Jungmo heran kenapa ia bisa berteman dengan orang plagmatis seperti Kyuhyun. Seorang lelaki introvert yang cuek. Huuft... Dimana-mana orang introvert itu memang cuek, dasar Jungmo. Meski begitu, jangan pernah meremehkan orang yang memiliki kepribadian Introvert. Karena kemampuan logika serta intuisinya lebih kuat daripada kepribadian seorang Extrovert.

Tak jauh dari tempat Kyuhyun dan Jungmo, tampak Eunhyuk yang kebetulan duduk dengan Donghae. Sebenarnya gadis bergummy cantik itu ingin duduk sendiri, namun Donghae yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Lelaki itu beralasan, ia sebenarnya ingin duduk dengan Yesung, tapi Yesung sendiri telah duduk dengan Henry. Dengan setengah ikhlas, Eunhyuk akhirnya hanya membiarkannya saja.

"Kau pernah ke Pulau Nami?" tanya Donghae yang tidak suka dengan suasana canggung mereka.

"Tidak," sahut Eunhyuk singkat, padat, dan jelas.

"Kalau Pulau Jeju?"

"Tidak juga."

Donghae mengusap dagunya sambil mencari topik yang bagus untuk dibicarakan. "Bagaimana dengan London?" tanyanya asal. Emtah kenapa tiba-tiba bertanya secara random seperti itu.

"Pernah."

"Benarkah? Bagaimana dengan di sana? Apa lebih bagus dari Seoul?"

"Biasa saja. Semua tempat memiliki ciri khasnya sendiri."

"Kalau begitu, berarti semua tempat yang ada di dunia ini itu sama saja. Sama-sama biasa saja."

"Apa maksudmu?"

Yess! Akhirnya Donghae berhasil membuat Eunhyuk balik bertanya padanya. "Karena semua tempat memiliki ciri khasnya sendiri," jawabnya dengan diiringi oleh senyuman manis.

Eunhyuk hanya memandangnya jengah. "Jangan ganggu aku."

Dan kalimat itu berhasil membuat Donghae terdiam. Apalagi saat ini Eunhyuk sedang memasang headphone-nya lalu memilih lagu dari I-pod-nya. Donghae mendengus. Masalahnya headphone yang digunakan Eunhyuk bukan yang bisa dibuat untuk berbagi seperti headset yang biasanya bisa dipakai dua orang meski hanya pada satu telinga saja. Dan itu berhasil membangun kembali keheningan di antara mereka berdua.

Tidak terasa dua jam telah mereka lalui hingga sampailah di depan sebuah gerbang yang bertuliskan 'Negeri Khayalan'. Karena Pulau Nami adalah tempat wisata yang cukup ramai oleh turis asing maupun lokal, bus yang mereka tumpangi tidak dapat masuk. Jadi tepat di depan pintu gerbang 'Negeri Khayalan' itu mereka harus turun dan berjalan kaki sampai ke penginapan.

Bangunan pertama yang terlihat adalah 'The Bank of Naminara', yaitu sebuah bank dimana para pelancong dapat menukarkan uang Won mereka dengan mata uang asli Naminara. Tidak seperti pulau lain, Pulau Nami merupakan pulau yang dianggap sebagai sebuah negara, yaitu Naminara Republic atau Republik Naminara, dengan nama lainnya 'Negeri Khayalan'. Bahkan Naminara memiliki sendiri mata uangnya, bendera negara, dan mengumumkan bahwa hari kemerdekaan mereka adalah tanggal 1 Mei 2006. Yang tak kalah mengejutkannya adalah kenyataan jika Naminara memiliki sendiri Kepala Negara-nya. Benar-benar sebuah negeri khayalan.

Naminara sering disebut-sebut sebagai simbol dari persahabatan antarnegara. Terdapat tulisan yang berisi sambutan kepada para turis asing dari luar negeri. Bahkan sambutan untuk Indonesia pun ada. Itulah mengapa Naminara disebut sebagai simbol persahabatan. Di pulau tersebut setiap negara mendapat penghormatannya sendiri.

"Direktur Shin, apakah penginapannya masih jauh?" tanya seorang mahasiswi yang sudah merasakan pegal di kakinya. Ia lau mengambil ponsel dan melihat keadaan wajahnya yang kusut di layar.

"Bersabarlah, Kim Heechul. Lagipula kita akan sampai sebentar lagi." Direktur Shin tidak mengalihkan pandangannya dari brosur yang ia terima saat memasuki pintu gerbang tadi. "Sekitar 2 kilometer lagi."

Sontak kalimat terakhir Direktur Shin tidak hanya membuat Heechul shock bukan main, bahkan Profesor Oh, Profesor Park, dan Profesor Han yang sejak tadi berjalan di dekatnya juga ikut melebarkan kedua mata mereka. Bagaimana tidak? Mereka bahkan sudah berjalan sangat lama, dan kini masih harus bersabar 2 kilometer lagi? Astaga...

"Direktur, kau sebenarnya menyewa penginapan dimana?" Kali ini Profesor Han bertanya dengan sedikit kesal.

Sang direktur sendiri hanya menampakkan sikap santainya. "Siapa yang mengatakan kalau kita sedang menuju ke penginapan?" ujarnya.

Kontan saja hal itu membuat yang lain makin tidak mengerti dengan jalan pikiran Direktur Shin. Terutama Profesor Park yang notabene adalah orang yang membuat jadwal mereka selama berada di Pulau Nami. "Apa maksud Anda, Direktur? Bukankah sudah jelas di jadwal tertulis jika tempat yang kita tuju setelah berada di Naminara adalah penginapan? Kasihan mereka jika harus berjalan lebih jauh lagi."

"Memang kita tidak sedang menuju ke Penginapan, Profesor. Tapi Perkemahan!"

Hal tersebut sukses membuat langkah semua orang berhenti. Tercipta suasana hening di tempat yang penuh dengam pohon itu untuk sejenak. Mereka masih mencerna perkataan Direktur Shin yang benar-benar... Aneh.

"Per... ke... ma... han? EH!?"

.

.

.

Akhirnya jarak 2 kilometer berhasil mereka tempuh. Sebuah tempat tidak jauh dari danau dan air terjun, dimana hawa sejuk di sini masih sangat terasa. Tapi meski begitu, hawa di sini tidak sesejuk keadaan para pemain drama musikal serta para profesor yang tengah duduk lelah di bebatuan, ada pula yang hanya berdiri sambil bersandar pada pohon. Mereka menatap jengah berbagai peralatan kemah yang ada di depan mereka.

"Aigoo... Jika kalian ingin beristirahat, cepat bangun dan selesaikan tenda kalian! Karena hanya ada 12 tenda sementara jumlah kita sebanyak 34 orang dimana berisikan 18 wanita dan 16 pria, maka akan ada 6 tenda untuk wanita, dan 6 tenda lagi untuk pria. Ada satu tenda yang sengaja hanya diisi satu orang pria saja dan itu adalah tenda milikku. Aku juga sudah membuat daftarnya."

Mereka pun hanya mendengarkan Direktur Shin tanpa berkata apa-apa. Biarkan ia bersenang-senang dengan keputusan secara sepihaknya. Sementara itu Profesor Park mendengus kesal. Menyesal ia memaksa ikut kemari jika nyatanya tour kali ini bukannya menginap di sebuah penginapan, malah mereka harus membangun tenda layaknya organisasi para petualang yang gemar berpetualang ke daerah pelosok. Itu benar-benar melelahkan.

"Semua orang wajib bekerja sama dalam membangun tenda. Kalau ada yang tidak ikut membantu, laporkan padaku dan biarkan orang tersebut tidur di luar," lanjut Direktur Shin yang berhasil membuat seluruh peserta sontak berdiri dan mulai melakukan pekerjaan mereka.

Sungmin mengerucutkan bibirnya sebal karena ia tidak bisa satu tenda dengan Ryeowook. Dilihatnya Kim Heechul dan Lee Hyuk Jae, yaitu nama orang yang akan satu tenda dengannya. Apa-apaan ini? Tour tidak seperti yang ia harapkan.

"Kupikir aku akan bahagia di Pulau Nami... Nyatanya Direktur Shin tetap menyiksa kita."

"Kau benar. Bagaimana kita bisa fokus latihan jika dalam kondisi seperempat ikhlas ini?"

"Dan yang lebih buruk, bagaimana kalau ada hewan buas yang tiba-tiba menyerang kita?"

"Jangan bicara sembarangan! Aku jadi takut sekarang, Sialan!"

"Itu mengapa aku bilang begitu. Agar kita ada persiapan."

Profesor Han yang kebetulan lewat di sana sengaja berdecak dengan suara yang cukup keras. Membuat dua orang gadis yang tengah bercakap-cakap itu langsung terdiam. "Hey! Berhentilah bergosip dan cepat selesaikan pekerjaan kalian. Bisa-bisa Si Direktur aneh itu jadi marah-marah lagi."

"Ya, Profesor..." sahut mereka lesu. Namun setelah melangkah cukup jauh dari Profesor Han, mereka kembali menggerutu.

Sementara itu di lain tempat tampak Yesung, Kyuhyun, dan Kibum tengah berdiri sambil hanya menatap tenda mereka yang belum diapa-apakan. Tenda tersebut masih terlipat rapi. Kelihatannya tak seorang pun dari mereka yang berniat membangunnya. Apalagi wajah mereka yang sama-sama tidak bersahabat.

"Kenapa aku harus satu tenda dengan orang-orang ini, huh?" gumam Yesung yang masih bisa didengar Kyuhyun maupun Kibum.

"Itu juga yang menjadi pertanyaanku. Terutama dengan orang sepertimu, Yesung. Kupikir orang tuamu telah memberi banyak sumbangan untuk universitas ini. Tapi kenapa malah... Ck!" Kibum mendecak, tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia sudah terlalu kesal. Ia adalah salah satu orang yang sangat benci berkemah.

"Apa maksudmu? Jangan membawa orang tuaku dalam kasus ini. Jujur saja aku tidak benci untuk berkemah, tapi yang paling aku benci adalah satu tenda dengan kalian." Yesung menunjuk Kibum dan Kyuhyun secara bergantian.

Kyuhyun yang sedari tadi hanya diam akhirnya memutuskan hal apa yang harusnya ia lakukan. Lelaki itu mendekat ke arah tenda yang masih terlipat rapi. "Jika kalian ingin tidur di dalam tenda ini, bantu aku membangunnya. Namun jika kalian hanya diam di sana, bersiaplah untuk tidur di luar," ujarnya tanpa menatap Kibum ataupun Yesung. Ia masih terlalu fokus dengan tendanya.

Kibum melirik Yesung sekilas dan diiringi dengan helaan nafas, ia lalu mendekati Kyuhyun. Siapa juga yang mau tidur di luar di antara nyamuk-nyamuk menyebalkan itu. Sementara Yesung mau tidak mau, dengan hati yang sama sekali tidak ikhlas, ia harus membantu orang-orang ini. Sial! Perjalanan ke Naminara mungkin akan sangat berat kali ini. Bayangkan saja jika kau harus berkemah selama satu minggu di sini. Kau pikir ini organisasi Pramuka atau Pathfinder, begitu? Bahkan mereka saja paling-paling hanya tiga hari.

.

**KM137**

.

Tepat pukul 2 siang, akhirnya kegiatan membangun tenda ditambah makan siang, yang telah disiapkan oleh pihak universitas, telah seleaai dilakukan. Ini masih hari pertama, apalagi mereka sudah pasti sangat kelelahan, jadi untuk itulah Direktur Shin sengaja membiarkan para pemain bebas hingga pukul 9 malam, sebelum acara api unggun dimulai. Yeah, meskipun ini berbeda dari jadwal yang telah disusun oleh Profesor Park, awalnya tidak ada acara api unggun. Tapi karena ini ulah Direktur Shin, Profesor Park hanya bisa menggerutu dalam hati.

Tentu saja kebebasan ini membuat semua orang bertingkah seolah mereka baru saja menang lotre atau undian. Kesempatan ini mereka gunakan sebaik-baiknya. Ada yang berniat mandi di dekat air terjun, mencari turis asing, memotret indahnya Naminara, dan ada juga yang hanya tidur di dalam tenda.

Di dekat danau, terlihat dua orang gadis yang memposisikan kedua kakinya di dalam air, Sungmin dan Ryeowook. Seperti yang Ryeowook lakukan di bus tadi pagi, ia kembali mengeluarkan handycamnya untuk dokumentasi. Hal pertama yang ia rekam adalah air terjun beserta beberapa orang yang bermain-main di bawahnya.

"Annyeong! Bertemu lagi dengan Ryeowookie!" Ryeowook melambai-lambaikan tangannya pada kamera. "Sungmin, kau ikut juga!"

Sungmin yang merasa terpanggil namanya reflek menatap ke arah kamera. Ia lalu tersenyum manis. "Hello, Everyone! Gongju Min (Putri Min), di sini. Bagaimana keadaan di sini, Ongju Wook (Putri Wook)?"

Ryeowook mengangkat sebelah alisnya. "Ongju? Eyy... Kenapa ongju?" protesnya. Kata "Ongju" yang berarti seorang putri dari pasangan selir dengan raja. Sedangkan "Gongju" yang berarti seorang putri dari pasangan permaisuri dengan raja.

"Lalu, apa kau ingin aku panggil 'Nain' (pembantu pribadi)?"

"Hey! Itu malah lebih parah. Dasar kejam!" Ryeowook mendengus. "Begini saja, biar adil kita sama-sama mendapat panggilan 'Gongju', bagaimana?"

"Yeah, tak masalah. Baiklah... Kita lanjutkan, Gongju Wook. Jadi, bagaimana keadaan di sekitar sini?"

Ryeowook berdehem. Ia lalu mengarahkan kameranya pada pemandangan di sekitar air terjun sembari berkata, "di sini sangat nyaman dan menyenangkan, Gongju Min. Air terjun di sana terlihat menyegarkan. Aku merasa ingin mandi, Gongju Min."

"Yeah, aku mengerti perasaanmu, Gongju Wook. Tapi sebentar dulu, tahan keinginanmu itu. Kameranya masih merekam, jadi kita harus memberikan yang terbaik untuk dokumentasi ini. Dan untuk yang pertama, bagaimana kalau kita mewawancarai dua orang laki-laki yang sedang berdiri di dekat pohon besar itu, Gongju Wook?"

Ryeowook mengalihkan pandangannya ke arah yang Sungmin maksud. Benar saja, ada dua orang yang sangat mereka kenal di sana. Siapa lagi kalau bukan Kyuhyun dan Jungmo. Entah apa yang dilakukan oleh sepasang sahabat yang aneh di sana itu. Tanpa banyak berpikir Ryeowook dan Sungmin langsung menuju pohon besar tersebut.

"Jadi begitulah kenapa pulau ini dinamakan Pulau Nami," ujar Kyuhyun sambil menunjuk tulisan yang ada di batang pohon. Jungmo hanya manggut-manggut mendengar dongeng panjang Kyuhyun barusan.

"Wahh... tampaknya Kyuhyun-ssi sedang menceritakan sejarah Pulau Nami kepada Jungmo-ssi," ujar Sungmin yang lalu bertepuk tangan. Tentu sikapnya direspon dengan tatapan aneh oleh Kyuhyun.

Ryeowook melihat tulisan yang baru saja Kyuhyun tunjuk. Langsung saja ia mengarahkan kameranya pada tulisan tersebut. "Jenderal Nami? Ahh... Aku ingat nama ini. Kyuhyun, apa kau tidak punya niatan untuk menceritakannya pada kami?"

"Tidak," jawab Kyuhyun cepat.

"Tapi kau dengan sukarela berdongeng pada Jungmo oppa," Sungmin mengembungkan pipinya.

"Itu karena dia memaksaku, bahkan sampai sok mengancam. Aku kesal, jadi aku ceritakan saja. Lagipula, memangnya kau tidak pernah menyimak pelajaran Sejarah di masa SMA-mu ya?"

"Aku bahkan sempat menghapalnya, tapi untuk Sejarah Pulau Nami, aku tidak ingat sama sekali."

Jungmo yang memperhatikan pertikaian di antara dua orang ini hanya bisa mendengus lelah. "Ya sudah, kalau Kyuhyun tidak mau cerita, biar aku saja."

Sontak Ryeowook menyuting wajah Jungmo dengan posisi kamera 'medium shoot'. "Silahkan dimulai, Jungmo-ssi."

Jungmo berdehem. "Jadi begini... Jaman dahulu ada seorang Jenderal yang bernama Nami. Beliau adalah seorang jenderal yang baik hati, bijaksana, kuat, dan juga memiliki kecerdasan yang luar biasa hingga dengan semua kelebihannya itu, ia menjadi orang yang dipercaya oleh Raja untuk memegang jabatan penting, mungkin setara dengan Menteri Pertahanan. Namun dengan seluruh kelebihan yang dimilikinya pula lah yang membawanya pada petaka. Kecerdasan luar biasa yang dimiliki Jenderal Nami berhasil membuat teman-temannya iri. Mereka lalu memfitnah Jenderal Nami dengan mengatakan kepada raja kalau ia ingin merebut posisi raja. Sialnya raja langsung mempercayai hal tersebut. Ia lalu menghukum Jenderal Nami. Kalian tahu apa hukumannya?"

Ryeowook dan Sungmin menggelengkan kepalanya.

"Hukuman mati," ujar Jungmo dramatis dipadu nuansa horor. Tak ayal itu membuat Ryeowook dan Sungmin memucat.

"Tidak hanya itu. Bahkan lehernya dipenggal serta tangan dan kakinya dipotong lalu dibuang ke tempat yang ada di belakang kalian." Jungmo menunjuk danau tadi.

Dengan gerakan slow-motion, Sungmin dan Ryeowook menoleh ke belakang. Entah kenapa suasana di sekitar danau tersebut menjadi menyeramkan. Apalagi ditambah dengan suara Jungmo yang cukup menakutkan, berhasil membuat tangan Ryeowook yang tengah memegang kamera menjadi sedikit bergetar.

"Dan hingga sekarang... jasadnya tidak ditemukan..."

"Aaa... Stop!" Sungmin yang sudah tak kuat lagi langsung meletakkan tangannya di depan wajah Jungmo. "Gongju Wook, ayo kita pergi dari sini! Mereka menyebalkan."

Jungmo tersenyum penuh kemenangan melihat dua gadis yang berhasil ia buat ketakutan. Kyuhyun yang sejak tadi hanya memperhatikan kisah Jungmo, kini tengah mengangkat sebelah alisnya.

"Hey, kau sengaja ya?"

"Hmm?" Jungmo yang masih betah dengan senyumnya beralih menatap Kyuhyun.

"Kau memberikan cerita palsu pada mereka. Tidak kusangka kau bisa sejahil ini, Kim Jungmo."

"Kau baru tahu, huh?"

Kyuhyun berdecak. "Jangan salahkan aku jika nantinya Jenderal Nami marah karena kisah bagian akhirnya kau ubah. Lalu kau dihantui olehnya hingga kau mati."

Sontak itu berhasil membuat Jungmo bungkam. "Jangan berkata yang tidak-tidak, Kyuhyun. Sial!"

Kyuhyun hanya mengedikkan bahunya tak peduli.

.

.

.

Ryeowook mematikan handycamnya tanpa melihat ulang hasil rekaman yang biasa ia lakukan. Ini semua karena Si Menyebalkan Jungmo yang berani menipunya dan Sungmin. Yeah, sebenarnya ia dan Sungmin tidak benar-benar pergi. Tapi mereka bersembunyi di sisi lain dari pohon besar itu dan mendengarkan percakapan Kyuhyun dengan Jungmo yang berhasil membuat keduanya kesal tak tertandingi.

"Kurang ajar! Kurasa sifat Kyuhyun yang menyebalkan telah menular pada Jungmo oppa. Ck!" Sungmin mendengus kesal.

"Hahh... Gongju Min, kau tidak ingin membalas mereka?"

Sungmin melirik Ryeowook yang baru saja memberikan saran bagus. Gadis itu memberi isyarat agar Ryeowook segera mendekat ke arahnya. Sungmin tampak tengah membisikkan sesuatu diringi dengan senyuman nakal.

"Mari kita buktikan ucapan Kyuhyun, Gongju Wook!"

"Siap, Gongju Min!"

.

**KM137**

.

Sore hari, tepatnya pukul 4. Terlihat Direktur Shin yang sedang melakukan percakapan serius dengan seorang lelaki yang kita ketahui adalah Yesung di tempat yang cukup jauh dari tenda mereka. Yesung menghela nafas beratnya, wajahnya tampak begitu kesal namun juga tersirat kelelahan di dalamnya.

"Orang tuamu datang lagi, Kim Jong Hoon. Kau pasti tahu apa maksud mereka datang ke universitas kemarin." Direktur Shin bersedekap sembari memandang orang yang diajaknya bicara.

"Kau mengajakku kemari hanya ingin mengatakan hal itu?" Yesung berdecak.

"Sekarang pilihan ada di tanganmu. Kau sengaja membuat mereka mengeluarkan banyak uang untuk menjadi pemeran utama. Jujur aku sangat kesal. Hal seperti itu dengan mudahnya dibeli dengan kekayaan materi. Lalu, bagaimana dengan mereka yang berbakat namun tidak memiliki apa-apa? Apakah mereka harus selalu berada di bawah meski memiliki jutaan talenta?" Direktur Shin menjeda kalimatnya sejenak. "Tapi kemarin, baru saja orang tuamu mengatakan kalau kau,-"

"Ya aku tahu kalau orang tuaku memang egois, Direktur." Dengan tidak sopan Yesung sengaja memotong kalimat Direktur Shin. "Tapi aku senang. Setidaknya aku bisa mendapat semua yang aku inginkan. Posisi dan popularitas. Semua bisa kudapatkan dengan mudah!"

Direktur Shin kembali menghela nafasnya. "Jadi, kali ini kau akan menuruti kemauan orang tuamu lagi?"

"Tentu saja. Karena aku percaya kalau uang bisa membeli segalanya. Dan jangan pernah beritahukan apa yang akan dilakukan orang tuaku kali ini, Direktur. Biarkan semua berjalan apa adanya." Tanpa permisi, Yesung pergi meninggalkan Direktur Shin yang kini tengah memdengus.

'Sekarang aku mengerti, Yesung. Dari awal kau juga sudah tahu hal ini pasti terjadi. Tapi kau tidak memberontak seperti yang dilakukan Eunhyuk.'

Lagi-lagi Direktur Shin menghela nafas berat. Lebih baik mencari pemandangan yang bagus di Naminara sebelum malam tiba. Percuma ia masuk ke dalam kategori pria paling stylist di antara teman-temannya di Broadway sana jika tidak menunjukkan dandanannya yang cocok untuk musim gugur di Naminara. Baiklah... teman-temannya itu sudah menunggu kabar darinya. Haha!

.

**KM137**

.

Malam hari telah tiba. Sebagian besar orang telah berkumpul untuk menikmati acara api unggun. Menghangatkan diri di antara dinginnya malam musim gugur. Tapi sepertinya ada beberapa orang yang tak terlihat di sana. Salah satunya adalah Jungmo yang kini tampak kebingungan mencari tempat untuk buang air kecil.

Jungmo merutuki dirinya sendiri karena terlalu banyak minum setelah makan malam tadi. Hingga akhirnya ia menemukan semak-semak di pojokan. Jungmo pikir itu adalah tempat yang pas untuk melepaskan hajatnya.

Namun, lelaki ini tidak sadar kalau dirinya sedang diikuti oleh seseorang. Seseorang dengan pakaian compang-camping, pakaian yang penuh noda -entah noda apa itu karena tidak terlihat oleh gelapnya malam-, dan punggungnya yang agak membungkuk.

Jungmo dapat merasakan bulu-bulu di seluruh tubuhnya berdiri saat dirinya tengah buang air kecil. Ditambah suasana malam ini yang agak menyeramkan. Jungmo mengusap tengkuknya karena rasa merinding yang kian bertambah. Bahka setelah selesai melepas hajat pun lelaki itu tak sanggup membalikkan badannya. Dengan susah payah ia menelan ludah. Sesaat Jungmo teringat dengan sosok yang terkenal di Pulau Nami ini, yaitu orang tadi ia bicarakan dengan Kyuhyun, Ryeowook, dan Sungmin -Jenderal Nami-. Seketika itu pula Jungmo langsung menaikkan resleting celananya serta memasang kancingnya juga. Tak peduli apapun, lelaki itu berbalik.

Jungmo terdiam memandang sosok mengerikan di hadapannya. Seorang lelaki... Pakaiannya robek sana-sini... Tengah memandang tajam dirinya. Sontak Jungmo berteriak lalu segera lari terbirit-birit tanpa mempedulikan tawa dari dua orang gadis yang sengaja bersembunyi di balik pohon. Dua orang gadis itu pun mendekat ke arah sosok mengerikan tadi.

"Good job, Kyuhyun! Kau berhasil menakuti Jungmo oppa. Hahaha!" Sungmin menunjukkan dua jempolnya pada sosok tersebut.

"Aiisshh... Aku sebenarnya tidak mau melakukan hal bodoh seperti ini jika bukan karena kau yang menunjukkan wajah jelekmu itu!" Sosok yang nyatanya adalah Kyuhyun itu mendengus kesal.

"Jangan begitu, Kyuhyun-ssi. Aku tahu, sebenarnya kau menyukainya, bukan? Yeah, Sungmin memang memiliki wajah imut yang alami." Ryeowook terkekeh menyadari perubahan raut wajah Kyuhyun yang kini tampak gugup.

"Apa maksudmu, Kim Ryeowook? Kau tidak lihat aku sedang kesal sekarang, huh?!"

"Ya ya ya... Kyukyu... Sebaiknya lalu cepat membersihkan diri sebelum yang lain menyadari kalau kita menghilang dari acara api unggun." Sungmin lalu menarik tangan Ryeowook untuk pergi dari tempat itu.

Meninggalkan Kyuhyun yang tanpa para gadis itu ketahui tengah berhadapan dengan sosok yang sama persis seperti dirinya. Kyuhyun bagai sedang melihat ke arah cermin. Tapi ia langsung sadar kalau tidak mungkin ada cermin di sini. Dan sosok itu memandangnya datar.

"Sialan!" umpatnya sebelum berlari cepat menyusul Ryeowook dan Sungmin.

.

.

.

To Be Continued

Annyyeoonggg, Reader-deull! Chapter 11 sudah update! Hehe...

Duhh... Maafkan... Lagi-lagi gak bisa bales review kalian :(... Ini aja updatenya buru2. Ada yang jarus author lakuin setelah ini. Maafkan yakk...

Tapi terima kasih buat yang udah review yakk... Jangan ragu buat tinggalin jejak kalian, okay!

See you next chapter!

Kamsahamnida #bow