TITTLE : вещие (Veschiye)

ALTERNATIVE TITLE : Precognitive Dream

PAIR : ALLxJIN / EVERONExJIN slight KANGINxLEETEUK


Black Truth or Dark Truth is an intentionally unacknowledged truth, based on the theory that the ends justify the means.


"PERGI! PERGI! JANGAN SENTUH AKU! APPA! APPA!" Jin berteriak frustasi ketika suster dan dokter mencoba mendekatinya.

"Appa disini sayang, appa disini" Kangin yang tak kuasa mendengar tangis anaknya akhirnya memutuskan masuk kedalam memeluk Jin hangat. Menenangkan putranya yang menangis ketakutan.

"Suruh mereka pergi, suruh mereka pergi hiks…Minam hyung…dimana Minam hyung…" ujar Jin dalam pelukan sang ayah.

Kangin tak kuasa melihat putra bungsunya seperti ini. Leeteuk sudah pingsan di hari pertama mereka menemukan Jin. Taehee terus disampingnya menguatkan Leeteuk bahwa semua akan baik – baik saja. Heechul terpaksa mengurus Jinwoo dan Soeun bersama dengan ibunya yang hanya bisa menangis menyaksikan cucunya yang terus bertanya.

"Halmoeni, Jinnie kapan sembuh?"

Sang nenek hanya bisa mengecup kening cucunya dengan linangan air mata

Tiga hari setelah Jin ditemukan, para medis akhirnya bisa memeriksa Jin secara benar. Keluarga besar Kim ada disini dan tim dokter yang menangani Jin hanya bisa meneguk ludah melihat raut wajah mereka.

Emosi, amarah, kecewa, sedih, dan frustasi bercampur aduk didalam wajah mereka.

Lee Dong Woon selaku ketua tim dokter dan kawan dekat sang perdana menteri, Kim In Kang.

"Inkang-ah, apapun hasilnya kumohon jangan membunuh para tim medisku" ujar Dongwoon bercanda dengan 'dark joke' miliknya. Berharap situasi mereka tidak semakin tegang.

Salah satu asistennya mengoper sebuah folder berwarna putih dengan tulisan berwarna hitam besar terpampang ditengahnya,

Medical Records : Pasien 2486 – Kim Seok Jin

Dongwoon membuka halaman pertama berisi biodata Jin, seperti nama lengkap, umur, tempat tanggal lahir, foto diri, tinggi dan berat badan, tekanan darah, detak jantung, golongan darah, dan hal – hal sederhana lainnya.

Dihalaman kedua, Dongwoon menghela nafas. Kertas kedua hingga kelima berisi hasil laboratorium dan juga visum.

"Apa yang terjadi kepada putraku…" tanya Leeteuk lemah, suaranya menyayat hati dan Dongwoon harus sanggup membacanya.

"Nyonya Kim, putra anda 'tidak dalam penanganan yang baik' selama dua minggu empat hari di tempat penculikannya" ujar Dongwoon mencoba mencari kata yang pas.

"Maksud samchon, apa yang terjadi kepada keponakanku?" tanya Taehee sudah mengenggam tangan Leeteuk erat – erat.

"Kami menemukan adanya indikasi pelecehan seksual, malnutrition, kekerasan pada anak, dan kemungkinan ketiga faktor ini akan merujuk pada PTSD atau lebih spesifik 'Complex PTSD'"

Leeteuk langsung menangis mengetahui fakta apa yang telah putra kecilnya alami, bagaimana dengan Kangin? Dirinya sendiri sudah melabeli dirinya sebagai seorang ayah yang gagal. Heechul dan ibunya yang ada dirumah tidak akan senang dengan kabar ini.

"Kami menemukan adanya sisa…ejakulasi dibagian prostat dan mulutnya…sedang diselidiki, itu milik siapa…" ujar Dongwoon mencoba untuk mencari kalimat yang pas untuk mengganti kata 'sperma'. Karna dia sendiri juga tidak habis pikir.

Bagaimana kejamnya orang – orang ini memperkosa anak kecil?

Kangin bahkan sudah tak tahu lagi dimana nyawanya berada jika Kibum tidak ada disampingnya, memegang bahu kakaknya keras. Kangin tahu, Kibum adalah orang yang dingin dan jarang berekspresi. Introvert adalah penggambaran yang tepat untuk Kibum, tapi jangan pernah main – main dengan orang – orang yang dia sayangi.

Dan Dongwoon cukup jelas mengetahui betapa emosinya Kibum sekarang melihat kakak dan kakak iparnya bagai mayat hidup terlebih keponakan manisnya menghadapi masa penculikan paling mengerikan.

Jangan lupakan kepalanya yang tampak memerah sama seperti sang ayah, Inkang.

"Jin sepertinya tidak diberi makan dan minum yang cukup. Melihat banyak bekas luka memar kami mengidentifikasi bahwa…Jin sering dipukul dengan benda tumpul, tamparan, atau mungkin, cambuk…" ujar Dongwoon merasa matanya panas.

Dalam belasan tahun ia bekerja sebagai dokter, ia tak pernah sesedih ini membacakan visum, bahkan dirinya cukup tenang ketika memberitahu sebuah keluarga bahwa orang yang mereka cintai tak dapat diselamatkan.

Ini pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa 'berdosa' hanya karna membaca sebuah visum.

"Kesimpulannya Jin mengalami Complex PTSD. Atau sederhananya, Jin mengalami guncangan trauma berat. Diriku sendiri tak bisa menjamin apakah dia bisa sembuh atau tidak"

"Maksudmu apa Dongwoon-ah" akhirnya Inkang buka suara.

"Maaf, tapi Jinnie kalian tidak akan bisa kembali lagi seperti dulu. Gangguan mental yang ia terima, dua puluh kali lebih berat dari yang biasanya dipikul orang dewasa. Kim In Kang-shi, maaf, tapi saya harus memberi tahu bahwa cucu anda, Kim Seok Jin, mempunyai sembilan puluh persen kemungkinan sakit Jiwa…" ujar Dongwoon menutup foldernya dengan satu tarikan nafas panjang.

Ia tak sanggup mendengar isak tangis Leeteuk maupun tatapan kosong Kangin juga emosi yang menggunung di mata Inkang dan Kibum.

"Hiks…Taehee…uri Jinnieku…" ujar Leeteuk terbata – bata.

"Psst, oppa tenanglah, semua akan baik – baik saja. Semua akan baik – baik saja" ujar Taehee mencoba menenangkan kakak iparnya.

Meski, Taehee sendiri tidak yakin bahwa dia akan baik – baik saja.

"Kita habisi Akuma hingga keakarnya" satu kalimat dari Kibum akhirnya keluar dari mulut dinginnya.

/

"Kamu sudah tumbuh besar Jin. Berapa tahun sudah terlewat" ujar perempuan tersebut menerawang jauh.

"Sepertinya samchon sangat menyukai bunga Smeraldo?" tanya Jin melihat beberapa album terakhir pria tersebut berfoto dengan bunga – bunga itu.

"Arti bunganya merupakan "Kebenaran yang tidak bisa kuberitahukan" Jin…" ujar sang imo membuat Jin penasaran.

"Maksud imo…?"

"Kau tidak tahu Jin? Aku pikir keluargamu memberitahumu…" ujar perempuan tersebut bingung.

"Maksud imo…?" tanya Jin takut.

Dan setelahnya, Jin tidak mempercayai apapun yang ia dengar setelahnya.

"Jin, suamiku dan haraboejimu merekomendasikan agar ingatanmu dihapus waktu kau ditemukan setelah penculikanmu waktu itu"

Jin merasa aneh mengenai apa yang dia dengar sekarang. Ada yang tidak beres, ada yang tidak benar disini.

"Mengapa samchon dan haraboeji merekomendasikan hal itu…?" tanya Jin kemudian.

"Aku tidak tahu waktu itu mengapa mereka memutuskannya. Sewaktu aku kesana menjengukmu dirimu sudah keluar dari rumah sakit dan layaknya anak kecil biasa, tapi dirimu menjadi pendiam dan pemalu. Sehabis kakekmu lengser dari jabatannya, suamiku juga mengundurkan diri menjadi pelayanmu dan kembali kemari. Lalu setelah uri Daehyunie lulus kuliah, suamiku memintanya mengabdi pada keluargamu dan ia menyetujuinya"

"Apakah…samchon pernya menyinggung hal ini sebelumnya…?"

"Dia tak pernah menyinggung hal ini sebelumnya, tapi sewaktu ia jatuh sakit ia selalu bilang bahwa ia ingin meminta maaf padamu dan terima kasih sudah menyelamatkan hidupnya"

"Tuan Muda Jinnie sangat aktif dan periang. Saya bersyukur diselamatkan dan dipekerjakan disini"

"Imo…"

"Hm?"

"Mungkinkah dulu samchon tahu mengenai sesuatu atau mungkin dia pernah memberitahumu bahwa diriku memiliki 'kemampuan khusus'" tanya Jin mencoba mencari titik terang mengenai masa lalu dan kemampuan yang dia miliki.

"Suamiku dulu adalah teman masa kecil haraboejimu. Keluarga mereka dulu bertetangga, jadi suamiku tahu banyak tentang kakekmu, dia pernah diberitahu bahwa setiap putra bungsu di keluargamu memiliki kemampuan untuk melihat masa depan" ujar ibu tuan Yeo mengingat – ingat.

Jin tersentak.

"Kemampuan melihat masa depan…?" tanya Jin terkejut.

"Suamiku pernah bercerita bahwa dulu ayah haraboejimu pernah menyelamatkan ayah suamiku. Dia menyuruh ayah suamiku untuk tidak kepantai waktu mereka liburan dan memilih membuat barbeque sederhana. Lalu sorenya, muncul berita bahwa terjadi tsunami di pantai tersebut. Awalnya suamiku dan haraboejimu tak begitu memperdulikan hal tersebut hingga mereka besar dan kau pun lahir. Dirimu pernah meminta suamiku untuk jangan pulang ke Los Angeles, dirimu menangis dan akhirnya suamiku membatalkan tiketnya, lalu rupanya pesawat yang seharusnya ditumpangi suamiku mengalami kecelakaan"

Jadi selama ini dia punya kemampuan ini dari kecil? Dan itu turunan dari kakek buyutnya? Tapi mengapa itu tidak turun kekakeknya? Apa karna kakeknya adalah anak satu – satunya?

Jin pusing menelan semua fakta ini secara bersamaan.

"Imo terima kasih sudah bercerita banyak mengenai masa kecilku" ujar Jin tersenyum polos.

Keesokkan harinya dia mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke Seoul, sang bibi tampak enggan melepasnya pergi.

"Tidak bisakah dirimu lebih lama tinggal disini?"

"Aku ingin sekali, tapi minggu ini adalah hari ulang tahun perkawinan Kibum samchon. Aku harus datang kalau tidak ia akan marah padaku sebulan penuh" ujar Jin penuh canda.

"Aku minta maaf karena tidak bisa mengantarmu pulang" ujar tuan Yeo.

"Tidak masalah, dirimu harus menghabiskan banyak waktu untuk imo, hyung" goda Jin kemudian melihat tuan Yeo nampak santai dengan pakaian casualnya.

"Biar diriku membantu membawa koper" ujar tuan Yeo lalu kemudian membawa tas Jin keluar.

"Jin" ujar sang bibi.

"Nde imo?"

"Ini untukmu. Suamiku menulisnya sebelum ia meninggal, aku tak tahu apa isinya tapi aku rasa hanya ini satu – satunya cara untuk meminta maaf padamu…" ujar sang bibi memberikan sebuah amplop berwarna putih yang sudah usang. Jin hanya menerimanya dengan senyum simpul dan mengatakan bahwa apapun kesalahan yang suaminya buat, Jin sudah memaafkannya.

4 September 2017

Jin kembali ke Korea setelah 'seharian penuh' menerima banyak sekali fakta – fakta yang ia lupakan selama ini. Ia segera ingin menghubungi sang ayah tapi ponselnya berdering terlebih dahulu.

Namjoon-shi calling

Jin menyerngitkan dahinya.

"Yeoboseyo?" ujar Jin sopan.

"Bagaimana harimu, Jin-shi?"

"Eum…baik?" ujar Jin.

"Tapi kelihatannya dirimu kesulitan dengan tongkat krukmu dan juga kopermu"

"Eum ya, aku baru saja ingin menghubungi seseorang untuk menjemput- hey, darimana kamu tahu aku membawa koper?" tanya Jin sadar bahwa pertanyaan Namjoon sangan aneh.

"Lihat kebelakang, princess" dan Jin pun menengok kebelakang melihat pemuda dengan hoodie dan masker berwarna hitam. Oh jangan lupakan kacamata hitamnya yang tengah melambaikan tangannya sambil tangan satunya masih memegang ponselnya.

Namjoon menghampiri Jin dan menawarkan diri untuk membantu menggiring koper miliknya.

"Habis penerbangan darimana?" tanya Namjoon basa – basi.

"Los Angeles, mengunjungi makam keluarga. Dirimu?" tanya Jin.

"Diriku habis pulang setelah BBMAs dan juga beberapa interviewer disana. Sewaktu aku melihatmu di ruang pengambilan bagasi tadi, aku pikir salah liat, tapi ternyata benar itu dirimu. Jadi aku memutuskan untuk kemari" tanya Namjoon dan kemudian mengantarnya kepada sebuah mobil sporty berwarna kuning.

"Eum kamu tidak menawarkan tumpangan bukan?" tanya Jin begitu melihat Namjoon memasukkan kopernya kedalam bagasi mobilnya.

"Sayangnya iya, ini waktu yang tepat untuk membalas 'ulahku' waktu itu" ujar Namjoon dan membuka pintu mobilnya untuk Jin.

"Terima kasih?" ujar Jin kebingungan namun tetap masuk kedalam.

"Anyway, selamat atas penghargaan yang kalian raih" ujar Jin tulus membuat Namjoon tersenyum simpul selama mengemudi.

Baru pertama kali ini, ada orang yang tulus mengucapkannya. Bukan, baru kali ini ada orang 'luar' yang tulus mengucapkannya, bukan dengan nada ejekan, sindiran, maupun cibiran.

"Kamu bahkan tidak tahu penghargaan apa yang kami raih"

"Penghargaan apapun itu, jika kalian mendapatkannya itu berarti bahwa kerja keras kalian diapresiasi orang lain" ujar Jin polos membuat Namjoon terkekeh geli.

Namjoon semakin penasaran dengan pemuda ini.

"Kau membawaku kerestoran bintang lima?" tanya Jin begitu mereka sampai kesebuah tempat makan eksklusif di Seoul.

"Tenang saja, aku yang bayar" ujar Namjoon langsung keluar buru – buru membantu Jin berdiri dengan kruknya.

Jin dibawa Namjoon kelantai tiga dimana meja mereka menghadap sungai Han. Jin memang polos dan tidak punya pengalaman dari urusan percintaan tapi ketika pelayan membawanya dua piring steak dan dua gelas wine. Jin jelas – jelas paham bahwa ini adalah kencan.

Jin menggelengkan kepalanya begitu pemikiran itu hinggap dikepalanya.

"Jin-shi? Apa dirimu tidak suka steaknya?"

"Ah, annimida. Aku hanya sedikit jetlag" ujar Jin berdalih dan segera memakan makanannya.

Lalu Namjoon menyadari satu hal.

Table manner milik Jin sempurna. Bagaimana ia menaruh napkin di baju dan pahanya, bagaimana ia duduk, bagaimana ia memegang garpu, pisau, dan bagaimana dirinya membelah daging tersebut dan memakannya perlahan.

Sebagai seorang artis yang tentunya datang dari berbagai kalangan terkadang 'malu' mendatangi after party yang biasanya diselenggarakan oleh para penyelenggara awards. Namjoon, masih ingat pertama kali BTS mendatangi after party mereka mendapat senyum mengejek dari orang – orang karena tidak paham mengenai 'tata cara makan orang kaya' menurut Yoongi.

Namun sekarang, para orang kaya itu yang mengemis – ngemis untuk 'tidur' dengan mereka. Kini giliran Jin yang kebingungan melihat Namjoon yang terdiam bisu.

"Namjoon-shi?" ujar Jin lembut membuyarkan lamunannya.

"Ah, mianhae. Aku kepikiran hal yang lain tadi" ujar Namjoon melanjutkan makanannya.

"Kau memiliki table manner yang bagus" ujar Namjoon dan Jin hanya tersenyum simpul mengucapkan terima kasih.

Setelah mereka makan, Jin mengelap mulutnya dengan tisu, dan melipat kembali napkin miliknya dan menaruhnya diujung meja. Garpu dan pisau ia pakai ia balut dengan tisu yang mengelap mulutnya tadi dan ia letakkan disamping piring. Suatu hal yang jarang Namjoon lihat, atau mungkin artis – artis lainnya lakukan. Pelayan yang mengambil piring kotor mereka juga terlihat heran namun sedetik kemudian tersenyum.

"Sepertinya anda dari keluarga bangsawan terhormat" ujar sang pelayan dan Jin hanya menundukkan kepalanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

"Apa yang aku lihat ini, sebuah table manner another level" ujar Namjoon membuat Jin tertawa kemudian.

"Melipat kembali napkin dan membungkus garpu dengan tisu adalah salah satu cara untuk menghormati pelayan. Jadi mereka bisa langsung membuat tisu ketempat sampah dan napkin ke kain kotor"

"Lesson learned" canda Namjoon.

"Aku tidak tahu banyak tentangmu, mind to share?" tanya Namjoon kemudian.

"Eum, tidak banyak hal menarik tentangku. Aku lahir tahun 1992, dan seorang furniture designer biasa. Saat ini aku bekerja untuk KBS" ujar Jin merasa kalimatnya tidak pas.

'Dan baru saja mengundurkan diri' lanjut Jin dalam hati.

"Jadi dirimu adalah hyung. Aku kelahiran 1994 Jin hyung" ujar Namjoon usil.

"Bagaimanapun terima kasih atas traktirannya. Aku hanya membayar kopi, jadi kamu tidak perlu membawaku ke restoran bintang lima lagi" ujar Jin jujur.

"Bukankah kalian paling suka diberi hadiah?" ujar Namjoon main – main membuat Jin kebungan.

"Nde?"

"Seluruh partner kencan-ku paling suka diservice. Jadi aku sedikit heran bahwa partnerku satu ini tidak menyukainya" ujar Namjoon sedetik kemudian membuat pipinya memerah.

"Kim Namjoon-shi, aku rasa ini bukan kencan-"

"Memperlakukanmu bak tuan putri, mengajakmu makan makanan mahal, dan mempersilahkanmu untuk duduk manis di mobilku kalau bukan kencan namanya apa? Ucapan minta maaf? Ayolah, kita sudah sama – sama dewasa untuk mengetahui hal – hal seperti ini" ujar Namjoon yang mengagetkan Jin.

Ini bukan Namjoon si pemuda ceroboh yang Jin kenal beberapa minggu lalu.

"Hyung, kau menikmati hal ini bukan?" bisik pemuda itu ditelinganya.

Jin seketika teringat dengan mimpinya tidur dengan pemuda ini. Jin lupa, BTS merupakan sumber 'mimpi buruknya' berteman dengan Hoseok membuatnya lupa ada serigala buas dibalik senyum lesung pipit pemuda ini.

"Terima kasih atas makanannya, aku ingin pulang" ujar Jin.

"Pulang? Kita tidak berakhir dengan ciuman dan mungkin ranjang?" ujar Namjoon main – main menikmati bagaimana paniknya orang dihadapannya ini.

Dari leher hingga ketelinga memerah karena setiap ucapan pemuda ini.

Namjoon jadi semakin senang menggodanya.

"Aku akan pulang sendiri jadi tidak usah mengantarku" ujar Jin mengambil tongkat kruk disamping kursinya dan berdiri.

"Wah, wah, tenang hyung. Jika kau ingin 'slow race', aku bisa menunggu" ujar Namjoon namun Jin malah meraih kunci mobil milik Namjoon dan mengambil koper miliknya dibagasi.

"Aku tidak tahu apa yang dirimu katakan, tapi terima kasih atas tawarannya" ujar Jin panik segera menghentikan taksi. Namjoon menahan dirinya dan mencium bibirnya.

Kim Nam Joon, RM, Leader BTS, yang punya IQ 148 mencium atau mungkin melumat bibirnya.

Jin segera melepaskan lumatan pemuda itu dan menampar pemuda itu tepat dipipinya.

"Kim Nam Joon, mencari pasangan bukan sekedar urusan uang dan ranjang. Mencari pasangan berarti mencari orang yang siap menerimamu apa adanya. Maaf, kita sudah sama – sama dewasa mengetahui hal seperti ini bahwa caramu mengencani seseorang adalah yang terburuk" ujar Jin mengutip perkataan Namjoon tadi dan masuk kedalam taksi meninggalkan Namjoon yang terpekur diam.

Jin menyuruh sang taksi untuk segera mengantarnya ke kediaman keluarga Kim membuat sang supir terheran – heran sementara Jin masih dengan pipi merahnya mengelap bibirnya dengan apapun juga.

Jin malu mengakui bahwa Namjoon seorang good kisser.

/

Setelah membersihkan badan dan makan malam, Jin mengecek ponselnya dan satu pesan belum dibaca.

From Namjoon-shi :

Untuk insiden tadi siang, aku minta maaf.

Jin menghela nafas dan mematikan ponselnya lalu segera bergegas keranjang sebelum sang ibu membawakannya segelas susu. Baik Leeteuk dan Jin sama – sama tertawa.

"Eomma, aku bukan anak kecil yang harus minum susu tiap malam" ujar Jin namun tetap mengambil gelas susu tersebut dan meminumnya.

"Namun meminumnya tiap malam adalah kegemaranmu" ujar Leeteuk kemudian mengelus rambut anaknya.

"Jin, suamiku dan haraboejimu merekomendasikan agar ingatanmu dihapus waktu kau ditemukan setelah penculikanmu waktu itu"

Jin kemudian teringat akan percakapannya dengan ibu tuan Yeo mengenai ingatan yang dihapus.

"Eomma, waktu aku masih kecil mengapa aku tidak bisa ingat mengenai masa laluku. Seperti siapa yang menculikku atau bagaimana aku diculik?" tanya Jin perlahan mencoba tidak terlihat 'bohong'.

Namun reaksi tubuh ibunya yang tiba – tiba menegang membuat Jin kebingungan.

"Kamu tiba – tiba mengapa menanyakan demikian?" ujar sang ibu langsung menaruh atensi penuh pada dirinya.

"Kamu bermimpi buruk lagi? Perlu kita panggilkan Donghae?" tanya Leeteuk khawatir.

"Anniyeo, aku hanya ingin tahu bagaimana aku ditemukan" ujar Jin kemudian menenangkan sang ibu.

"Ingatanmu hilang karena trauma Jinnie, tidak apa – apa jika dirimu tidak mengingatnya. Itu hanyalah kenangan buruk" ujar sang ibu dan Jin mengangguk mengiyakan. Sang ibu mencium keningnya dan mengucapkan selamat malam.

Tapi Jin tidak bisa tidur sejak saat itu.

Ibunya berbohong.

Mengapa ibunya tidak memberi tahu bahwa ingatannya dihapus, jika mereka memberi tahunya Jin juga tidak akan marah. Semalaman Jin tidak bisa tidur sampai ia mendengar suara yang ia yakini adalah suarah ayah dan ibunya jadi Jin langsung kedalam mode pura – pura tidurnya.

"Jinnie sudah tidur?" tanya Kangin lalu membuka pintunya melihat sang anak tidur membelakangi mereka.

"Yeobo…tadi uri Jinnie menanyakan soal ingatannya…" suara Leeteuk lembut membuat Jin menegang.

"Sepertinya uri Jinnie kita…"

"Psst! Dia tidak akan mengingat apapun dan akan tetap aman. Aku sudah berjanji padamu, bahwa Jin akan aman dalam genggaman kita. Mengapa kamu harus takut…"

"Aku hanya takut putraku membenciku" ujar Leeteuk dan Jin bisa mendengar suara tangisan ibunya.

Sejak saat itu.

Jin tidak bisa tidur.

Jin terbangun di pagi hari dan ayah ibunya menyapanya dengan senyum canggung.

"Bagaimana tidurmu?" tanya sang ayah mencium dahi putranya.

"Nyenyak, eomma memberiku susu tadi malam" ujar Jin tersenyum mencoba berbohong sebaik mungkin.

"Jin" ujar sang ayah membuka percakapan.

"Hm?"

"Sewaktu dirimu ke LA, apakah ada sesuatu terjadi?" tanya sang ayah.

"Tidak ada apapun, semua baik – baik saja. Aku hanya mengunjungi makam samchon Yeo lalu pulang sehabis itu"

"Tak ada hal lain?" dan Jin menggeleng.

Ayahnya mengangguk dan memberikan kode ke Leeteuk bahwa semua masih aman dan baik – baik saja. Jin bisa melihat itu namun ia berusaha sebaik mungkin untuk mengabaikannya.

Ayahnya berangkat kerja dan sang ibu pergi untuk menemani Heechul untuk mempersiapkan pesta pernikahan mereka, meninggalkan Jin sendirian dirumah. Tuan Yeo masih di LA dan Jin teringat akan surat yang diberikan oleh ibu Tuan Yeo.

Jin membuka amplop usang itu perlahan selaras dengan detak jantungnya yang berdetak tidak karuan.

Teruntuk Tuan Muda Kim Seok Jin.

Halo tuan muda, apa kabar? Saya harap anda baik – baik saja setelah belasan dan puluhan tahun terlewati setelah insiden itu terjadi.

Mungkin saat tuan muda membaca surat ini, saya sudah tidak ada lagi didunia ini. Mungkin saya sudah berada di neraka ketujuh karena dosa – dosa besar yang telah saya perbuat untuk keluarga anda.

Tuan muda, akhir – akhir ini saya membeli bunga Smeraldo, arti bunga tersebut membuat saya akhirnya memberanikan diri menulis surat ini.

Apakah tuan muda ingat saat tuan muda diculik? Saya yakin tuan muda tidak mengingatnya. Karna kami telah menghapus ingatan tuan muda.

Maka dari itu saya memberanikan diri membuka luka lama ini.

Sewaktu tuan muda diculik, kami tidak tahu siapa yang menculik tuan muda selain dua hari kemudian sebuah paket datang dimana paket tersebut berisi foto – foto tuan muda yang disekap. Dari paket itu tertulis jelas berasal dari Akuma, atau mungkin Ji Chin Shun.

Tuan muda, saya berharap bahwa Ji Chin Shun ini adalah Ji Chin Shun yang berbeda. Tapi setelah dirinya ditemukan dengan satu anak buahnya dan juga putranya.

Dia adalah Chinshun yang kami kenal. Chinshun yang merupakan sepupu kami dan teman seperjuangan haraboejimu. Teman yang mendukung haraboejimu setelah dia keluar dari militer. Teman yang mendukung masa – masa sulit keluargamu dulu. Yang gaji pertamanya ia pakai untuk membeli sekardus ramyeon untuk mengeyangkan perut appa, imo, dan samchonmu sewaktu kecil.

Ji Chin Shun yang mempunyai senyum semanis malaikat, yang kami ketahui dari dulu bekerja sebagai karyawan biasa, ternyata tak lain dan tak bukan pemimpin organisasi mafia. Orang yang menculikmu, menyiksamu, dan hampir membuatmu gila.

Kangin, Taehee, dan Kibum mungkin tidak mengingat wajah 'samchon'nya. Tapi aku dan haraboejimu masih mengingatnya dengan jelas. Kami masih mengingat senyum malaikatnya yang masih sama ketika Kibum habis menghajar laki – laki itu.

Masalah ini semakin pelik bahwa ternyata dia tidak dinyatakan bersalah. Yang sebenarnya membuatmu menderita adalah anaknya yang ia panggil, Wookie. Yang merupakan keponakanku. Yang juga masih dibawah umur, yang juga masih tidak bisa dipenjara karena umurnya tersebut.

Aku menyayangi keponakanku dan juga dirinya, tuan muda. Aku sudah menganggap orang yang membuatmu menderita sebagai adik kandungku sendiri. Aku masih ingat ketika kami bertiga tumbuh besar bersama, bagaimana kakekmu membagi bekal untuknya, bagaimana diriku menyisihkan uang jajanku hanya untuk membelinya kado ulang tahun. Bagaimana kami besar dan mengajarinya menyatakan cinta pada seorang siswa di sekolah sebrang. Semua memori itu menguar hebat dikepala kami seiring dengan keputusan yang tak bisa kami ambil.

Keputusan yang pada akhirnya membuat seluruh anggota keluargamu marah.

Demi menutupi tersangka utama, yang tak lain dan tak bukan adalah keponakanku. Kami mengirimkan dia dan satu anak buahnya ke pusat rehabilitasi di luar negri, sesuai dengan keingin Chinshun agar putranya tidak merasakan dinginnya sel penjara.

Kami tetapkan Chinshun sebagai tersangka utama, dan dirinya yang mendekam dipenjara. Mungkin saat kau membaca ini dia sudah bebas. Untuk melancarkan rencana kami ini, kami menyetujui saran anak Dongwoon waktu itu yang juga merupakan mahasiswa kedokteran, Lee Dong Hae. Juga mungkin sekarang menjadi dokter pribadi keluargamu.

Donghae menyarankan agar dirimu menjalani hypnotheraphy dimana seluruh ingatanmu waktu dihapus. Kau tak akan mengenal Chinshun, anaknya, maupun anak buahnya. Yang tertinggal diingatanmu hanyalah keluargamu saja. Saat itu hypnotheraphy illegal dilakukan untuk usia balita sepertimu. Tapi sekali lagi, demi menyelamatkan 'adik kecil' kami, haraboejimu meyakinkan appamu untuk melakukan terapi tersebut dengan alasan bahwa supaya 'dirimu kembali'.

Dan Kangin menyetujuinya. Meskipun appa dan keluargamu tahu bahwa kami hanyamencoba melindungi Chinshun.

Haraboejimu menutup organisasi Akuma selama – lamanya dan setelah itu dia mengajukan pengunduran diri. Aku tahu mengapa, ia tak akan kuat menghadapi rakyat yang memujanya sebagai perdana mentri terbaik yang telah membebaskan kriminal cucunya sendiri.

Aku pun mengundurkan diri setelah itu dan pergi kembali ke LA membawa sebuah penyesalan besar.

Tuan muda, maafkan kami atau mungkin aku yang egois waktu itu. Maafkan aku yang menutup telinga dan mata setiap kali dirimu menangis dan berteriak waktu itu. Maafkan aku menjadi manusia yang tak berperasaan yang tak memperdulikan histeris seorang anak berumur lima tahun.

Aku tahu bahwa aku tak punya hak untuk dimaafkan. Aku berdosa besar terhadapmu, keluargamu dan keluargaku sendiri.

Tuan muda, setelah dirimu membaca surat ini. Kumohon hidup dengan bahagia.

Tertanda,

Yeo Sang Min.

Dua lembar kertas usang tersebut kini terasa berat ditangan Jin. Tidak mungkin pikirnya, bagaimana bisa kakeknya tidak menghukum orang – orang yang menjadi sumber mimpi buruknya dan memihak padanya?

Intinya, kini penculiknya tengah hidup dengan bebas sementara dirinya tiap malam berjuang dengan insomnia?

Tidak mungkin menurut Jin.

Kakeknya begitu protektif padanya, tidak mungkin-

Mungkinkah selama ini ia 'dikurung' dirumahnya sendiri supaya Jin tidak tahu mengenai hal ini? Supaya Jin tidak dekat dengan penculiknya karena selama ini…penculiknya ada disekitarnya? Menghirup udara yang sama dengannya?

Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin rapal Jin dalam hati. Ia segera membuka ponsel-nya dan mencari sebuah nomor.

"Halo? Maaf menganggumu tapi bolehkah aku meminta bantuan?"

/

Seoul Metropolitan Police Agency

Jin berdiri didepan gedung tersebut dengan keringat dingin, kakinya terasa berat dan tangannya terasa lemas. Separuh dirinya ingin kabur, separuh dirinya yang lain ingin masuk.

"Jin…?" sebuah suara menyapa dirinya begitu sampai didepan pintu masuk.

"Haein…" ujar Jin lemah.

Haein yang dulu pernah membantunya untuk melepas Yoori kini ada dihadapannya. Dia meminta tolong kepada Haein untuk mencari berkas kasus miliknya untuk membuktikan kebenaran yang tertulis disurat itu.

Ya, Jin masih berharap bahwa surat itu palsu, atau dipalsukan, atau spekulasi lainnya yang membuat Jin lari dari kenyataan.

"Itu adalah file kelas satu, yang artinya file rahasia. Aku tidak bisa mengaksesnya secara 'komputerisasi' karna langsung berhubungan dengan pusat. Aku hanya bisa mencari berkas aslinya dan itupun tidak bisa dibawa pulang dan hanya bisa dibaca didalamnya" ujar Haein mencoba menjelaskan.

Jin hanya mengangguk paham meski dirinya gemetar.

Jin membuka map usang tersebut.

Case No : 2003-1963 20 32

Court Date : 26 – 08 – 1997

Judge : Kim Shi Ok

Prosecutor : Park Chan Hoo

Prosecuting Attorney : Jang Yee Jun

Rapporteur : Kim Kang In

Victim : Kim Seok Jin

Suspect : Ji Chin Shun

Case Report :

- Kidnapping

- Child Abuse

- Sexual Assault

Evidence :

- Medical Report of Victim (attached)

- Witness (Head Police, Choi Seung Jin)

Court Ruling :

- Fifteen-year prison

- Foreclosure of wealth

- Dissolution of the organization

Jin hanya bisa tertawa membaca apa yang tengah ia baca sekarang. Tawanya kian lama berubah menjadi tangisan.

Mendiang tuan Yeo benar.

Selama ini orang – orang yang menghancurkan hidupnya tidak pernah dihukum.

07 September 2017

Seluruh keluarga besar dari Kibum dan juga Heechul datang berkunjung. Seperti biasa para wartawan dan pers tentunya merekam acara perayaan salah satu pengusaha sukses di Korea dan mungkin dunia.

Beberapa dari mereka mendapat kesempatan untuk meng-interview Myungsoo, Heechul dan juga Kibum.

Hampir tengah malam, pesta mulai bubar dan hanya keluarga inti tinggal. Disaat itu pula Jin datang masih dengan gips dan tongkat kruknya.

"Jin!?" ujar Myungsoo kaget melihat pujaan hatinya datang dengan mengenaskan.

"Happy anniversary, samchon" jawab Jin dengan senyum manis mengabaikan pertanyaan Myungsoo dan memberikan hadiahnya kepada Kibum dan Heechul.

"Jinnie, apa lagi yang terjadi denganmu huh!? Leeteuk baru kemarin kita bertemu dan kamu tidak memberitahuku mengenai kondisi Jinnieku!?" seperti biasa Heechul heboh melihat keponakan kesayangannya datang dengan gips dan kruk.

"Dimana tuan Yeo, Jin?" tanya pamannya.

"Masih di LA samchon" ujar Jin lemas.

Raut wajahnya tak lagi terang seperti biasa.

Keluarganya berbincang – bincang soal banyak hal. Kakek dan neneknya juga ada disini sekaligus memberi petuah – petuah agar pernikahan mereka tetap langgeng.

"Sejujurnya Heechul, sampai sekarang aku tidak menyangka ada yang mau bersama manusia kutub seperti Kibum" ujar sang nenek membuat semua orang disana tertawa.

Tapi tidak dengan Jin.

Bagaimana bisa dua puluh tahun keluarganya membohonginya dengan tawa dan senyum seperti ini?

"Myungsoo, bagaimana denganmu? Kapan mau mengenalkan calonmu?" tanya sang kakek.

"Aku sudah sangat siap mengenalkannya, tapi dirinya tidak siap untuk dikenalkan" ujar Myungsoo spontan melirik Jin membuat mereka semua fokus terhadap Jin yang sedari tadi diam.

"Kalau Jinnie jadi menantuku, aku tak akan stress menghadapi dua manusia es dirumah" ujar Heechul menambah panas acara mereka.

"Jin..." ujar Soeun menepuk bahunya membuat Jin tersadar.

"Huh? Ada apa?" tanya Jin kebingungan.

"Imo lihat kan? Princess ku masih belum siap" ujar Myungsoo membuat mereka semua tertawa.

Tapi tidak dengan Jin.

"Jin ada apa denganmu?" ujar sang kakak menyadari bahwa Jin sedari tadi diam.

"Tidak apa – apa noona, aku hanya kelelahan" ujar Jin lalu melihat seluruh keluarganya menampakkan wajah khawatir.

"Sejujurnya…tadi siang aku bermimpi…bahwa aku dibawa seseorang bernama Ji Chin Shun. Haraboeji, Ji Chin Shun-shi… nuguseyo?" ujar Jin bertanya pada haraboejinya.

Tapi baik bibi, paman, dan orang tuanya ikut tegang mendengar nama itu.

"Ji Chin Shun? Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya" ujar Soeun bingung.

"Haraboeji…apakah orang yang menculikku Ji Chin Shun…?" tanya Jin kemudian.

"Jinnie…ada apa denganmu sayang" ujar sang nenek namun kemudian air mata yang Jin tahan dari tadi terjadi jatuh kemudian.

"Bagaimana bisa…kalian membohongiku selama dua puluh tahun lebih…bagaimana bisa…orang yang menghancurkan hidupku haraboeji biarkan lepas begitu saja" ujar Jin dengan tangis.

Dan kakeknya tak pernah menjawab pertanyaannya.


Author's Note :

1. PTSD : Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD adalah kondisi mental di mana Anda mengalami serangan panik yang dipicu oleh trauma pengalaman masa lalu.

2. Complex PTSD : Complex Post Traumatic Stress Disorder atau C-PTSD dikenal sebagai gangguan trauma kompleks adalah gangguan psikologis yang diduga terjadi sebagai akibat dari trauma yang berulang dan berkepanjangan yang melibatkan penganiayaan berkelanjutan atau ditinggalkan oleh hubungan interpersonal lainnya dengan dinamis daya yang tidak merata.


Halo guyseu~~~

Bagaimana akhirnya, ada yang bisa menebak mengapa Jin selama ini 'dikurung' didalam rumahnya sendiri?

Secara personal, aku berterima kasih kepada "JinHarem Shipper" yang sudah mampu menemukan clue dan fakta tersembunyi lainnya.

Sayangnya masih ada satu hint dan beberapa clue lagi yang belum ditemukan/? hehehe

Selamat mencari ya!

Dan seperti biasa,

DONT FORGET TO RnR ALSO FAV&FOLLOW

BUDAYAKAN MENINGGALKAN JEJAK YA TEMAN -TEMAN~~