"Syuting Etude House X E-Girl dua minggu lagi. Kyungsoo rekaman Ost lagi bulan depan. Tao syuting film perdana sabtu nanti. Episode dua web drama Minseok syuting siang ini. Luhan sedang syuting WGM sekarang. Yixing juga sudah berangkat ke studio buat pemotretan sneakers. Jumat depan Baekhyun siaran radio lagi. Dan.. besok siang kita ke Paris untuk pemotretan Vogue. Selain itu kita bakal terus latihan persiapan konser."
Kyungsoo tak mendengarkan dengan baik Ryeowook yang berjalan mondar-mandir di depan mereka, cukup berapi-api menjelaskan jadwal membosankan. Pikirannya menerawang soal kemarin, bertanya-tanya belakangan ini pada sikap Ken.
Kemarin setelah pemuda itu mencegatnya di halaman gedung unit dari Mnet, sorenya Kyungsoo mendapat pesan. Seperti ucapan selamat pagi, menanyakan kapan ia melakukan latihan grup atau jadwal lain.
Ia tak tahu, nomor ponselnya masih baru di ganti ketika pulang dari Italia. Dari mana Ken bisa dapat nomornya?
Manager VIXX? Lalu minta tolong ke Ryeowook?
Tapi Kyungsoo tidak mengatakan apapun soal ini pada wanita itu. Ia cuma melakukan dengan semata seorang teman, sebagai junior kepada senior idol untuk membalas pesan-pesan itu di waktu sempat.
"Kalian mengerti?"
"Kalian apanya?" Baekhyun memutar mata sebal, melipat kaki dengan tidak sopan. "Disini cuma ada aku dan Kyungsoo."
"Maksudku kalian berdua."
"Jelaskan saja jadwal kami berdua, unni. Kau ini kenapa sih?"
Karena sekarang sesi latihan vocal Minseok-Zitao sementara Luhan-Yixing melakukan jadwal lain, Ryeowook lebih dulu menjelasi pada Baekhyun atau Kyungsoo yang dapat kelas vocal sore nanti.
Wanita itu menggeleng, "Tidak, Byun. Kau harus tahu jadwal member lain juga. Kau mungkin baru tahu sisi lain sikap managermu dua tahun belakangan. Dan selanjutnya kau bakal lebih tahu lagi apa yang belum kau tahu dariku."
Dari sudut matanya terlihat jelas Baekhyun dalam suasana mood yang buruk. Ryeowook bakal selalu dihadapkan dengan cara bicara yang lebih halus kalau sudah begini.
"Astaga, kau anggota yang paling banyak protes. Cerewet kita bahkan di level yang sama. Jangan karena kau sedang sensitif seakan tidak mengenaliku." Keluhnya sambil bergabung duduk diantara dua gadisnya. "Aku mengerti kau benci mengisi acara radio itu karena partnermu tidak asik kan."
"Kapan kita libur?"
Oke, santai Ryeowook. Jawab saja dengan baik pertanyaan horor itu.
"Apa kita tidak libur?" Mulut kecil Baekhyun mulai cemberut.
"Emm.. tentu saja. Mungkin dua hari setelah dari Paris." Terdengar Ryeowook begitu hati-hati, ia nyengir. Ryeowook yakin kalau membahas jadwal lagi bakal membuat gadis-gadisnya membuang napas. "Tapi setelah itu kita kembali latihan. Ada banyak juga CF brand-brand yang meminta kalian melakukan pemotretan."
Dan benar. Kyungsoo yang diam pun mendengus malas. Agensi benar-benar tega terus mengulur hari libur mereka.
"Hei, Baekhyun, pergilah ke gym. Kurasa kau musti mengecilkan pahamu sedikit."
"Ha?" Gadis itu bergegas berdiri, lari ke arah cermin disudut ruang. "Apa aku kelihatan begitu?"
"Tidak juga sih. Kalian berdua punya bentuk pantat yang sempurna. Tapi Baekhyun, kau harus tetap olahraga. Aku bakal membawa Kyungsoo ke klinik agensi, kita temui psikiater."
"Apa harus?"
"Iya, Kyung." Sambil membereskan barang-barang masuk ke tas tangannya, Ryeowook berisyarat supaya Kyungsoo bangkit dari sofa. "Rapat awal tahun sajangnim mengatakan kalau artis kami yang terkena rumor harus konsultan psikis. Ini juga buat kebaikanmu dan kau jadi lebih semangat setelah itu, Yixing sudah melakukannya kemarin. Kajja."
(Bad)Couple
Sequel of Oneshoot by weyyy
Jongin x Kyungsoo
AU. Drama. GS for uke's. Typo's. OOC. Rated M
"Ada sesuatu yang dirahasiakan dari orang dekatmu?"
Kyungsoo sejenak melirik Ryeowook yang menatapnya disisi lain sofa yang lumayan jauh dari tempat ia duduk. Ia sedikit mengangkat alis karena merasa bahasa tubuhnya mudah ditebak.
Kyungsoo agak bingung menjawab psikiater wanita itu jadi ia berdeham lebih dulu.
"Kurasa ada."
Itu membuat dahi Ryeowook mengerut penasaran. Ia cukup paham dengan Kyungsoo yang paling diam diantara enam member. Lepas dari imagenya diatas panggung, cutie-sexy-innocent, Kyungsoo adalah gadis yang dingin dan tak mudah di dekati. Kyungsoo yang tak banyak tingkah dengan cara berpikir kompleks. Ia tak mau membuat orang cemas karena masalah pribadinya dan begitu mudah tertekan ketika dalam situasi yang tak mengenakan.
Ryeowook memang tak pernah melihat Kyungsoo menangis, tapi gadis itu akan pergi sendirian untuk menangis ketika orang-orang sedang tak ada di dekatnya.
Di mata Ryeowook, Kyungsoo itu spesial, langka.
"Kau belum siap mengatakannya, Kyungsoo?"
Masih diam untuk menimbang jawaban, Kyungsoo kembali melirik managernya yang menatapnya hawatir, prihatin.
"Aku punya sesuatu yang tidak mau kukatakan—kurasa aku tak akan pernah mengatakannya pada siapapun, miss."
Kim Jongin dan apa yang mereka lakukan di Italia adalah rahasia. Kyungsoo berjanji akan tetap begitu.
Psikiater itu menatap matanya selidik. Kemudian mengangguk, menulis sesuatu di buku catatan bersampul kulit. "Itu maumu? Oke."
"Kau tidak memaksaku cerita?"
"Tidak. Itu bakal makin mengganggumu. Yang kulihat—kubaca dari matamu kau mencoba untuk menenangkan dirimu sendiri. Terus.. apa kau sedang menyukai seseorang?"
"Apa?" Sahut Ryeowook yang bahkan sempat berdiri karena terlalu terkejut. Ia dibuat bingung dengan pendapat psikiater yang layaknya peramal. "Orang itu Ken, Kyung?"
Psikiater wanita itu dibuat tersenyum maklum akan sikap kekhawatiran Ryeowook yang berlebih, ia juga mendengar kasus Ken-Dyo di airport.
"Apa itu Ken?" Tanyanya. Sejak awal suaranya lembut dengan aksen pelan yang sopan.
Kyungsoo mendengus rendah. Jangan sampai ia bicara soal Kim Jongin.
Benar-benar konyol, konsultasi macam apa yang mengizinkan seseorang ikut masuk. Keberadaan Ryeowook membuatnya makin mati-matian untuk tidak terbuka soal di Italia. Ini adalah pertama kali pengalaman datang ke tempat psikolog. Genius sekali karena ahli sikologisnya juga ahli bahasa tubuh.
Agensi sialannya benar-benar hebat menyediakan psikiater untuk pribadi.
Berlebihan. Menyebalkan.
Kyungsoo bahkan merasa tidak depresi berat dan ia benci melakukan ini.
"Kurasa bukan. Ya kan Kyungsoo?"
Bagus.
Kyungsoo belum menjawab tapi wanita itu telah mendapat jawaban benar.
Si psikiater menyimpan catatannya ke meja, ia berjalan mendekati Ryeowook duduk.
"Ryeowook, biarkan Kyungsoo menyelesaikan masalahnya sendiri. Mustinya dia tak perlu kau bawa kesini. Kyungsoo baik-baik saja."
"Gila ya? Dia anak asuhku, memberku. Mana bisa aku tidak membantunya."
"Kyungsoo bisa mengatasi itu sendiri. Aku pikir malah dia terganggu dengan orang yang campur tangan. Kalaupun butuh bantuan, dia bakal langsung bilang padamu. Jadi jangan mendesaknya."
"Dari mana kau tahu?"
"Itu sangat jelas." Katanya, mulutnya kembali melengkung ketika Ryeowook terasa seperti seorang ibu, bukan manager. "Baiknya Kyungsoo tidak boleh murung. Maksudku, hindari membaca komentar negatif di internet untuk saat ini. Atau sesuatu yang membuatnya sedih. Dia akan kehilangan aura positifnya dan bisa tiba-tiba sakit."
.
.
Baekhyun masuk ke ruang gym, mengunci pintu ketika mendapati tak ada siapapun idol yang di jadwalkan gym class. Cukup kesal mengingat ini bukan sesi olahraganya tapi sialnya ia begitu terpengaruh pada kata-kata Ryeowook.
Mustinya ia bisa santai beberapa jam sebelum latihan vocal.
Tapi Baekhyun tetap menaruh tas di kursi panjang disitu, membuka kemeja putihnya cuma menyisakan croptop dan celana training yang sangat pendek.
Yang diuntungkan disini adalah tidak ada cctv di ruang gym sehingga ia pikir ingin teriak-teriak tak jelas saja daripada olahraga.
Ia mulai menarik napas dalam-dalam dan, "Aaaaaaaaakkkh! Brengseeekkk!"
"Woy siapa disana?! Aduh sial, kupingku!"
Baekhyun terbelalak. Ia nyaris terjungkal ketika sadar tepat dibelakangnya—dibalik alat angkat beban seseorang tertidur di matras.
"Yak! Park Chanyeol!" Baekhyun histeris melihat pemuda itu telanjang dada. "K-kau kenapa disitu?"
Mengintip dibalik jemari, ia melirik Chanyeol tampak menguap sambil mengucek mata. Baekhyun pasti sudah gila. Ia pikir kenapa Chanyeol masih kelihatan menawan dengan caranya bangun tidur.
"Aku tadi olahraga bersama Jay hyung, kami istirahat sebentar. Tapi aku tak tahu dimana dia sekarang." Chanyeol berdiri, mengusap kepala merapikan rambut. "Heh, Byun. Siapa yang kau sebut brengsek tadi?"
"Kau."
"Aku?"
"Pakai bajumu bodoh! Sialan. Kenapa kau punya otot-otot besar begitu."
Chanyeol tertawa. "Aku keren kan?"
"Kau mirip hulk kalau saja warna kulitmu hijau."
"Hulk kan keren."
"Terserah."
Membuat dirinya sendiri lebih santai, Baekhyun menurunkan tangannya. Ia pikir lucu dirinya merasa malu cuma karena seorang Park Chanyeol punya abs. Padahal kemarin syuting video comeback, Baekhyun tak malu berdekatan dengan otot para dancer disesi nyanyinya.
Ayolah, Chanyeol cuma komposer. Dan orang yang pernah ciuman meski itu tak sengaja.
"Kau ada jadwal gym class?"
"Tidak. Tapi Wookie unni menyuruhku mengecilkan paha."
"Pahamu sudah bagus."
"Apa yang kau lihat, hah?!"
Tertawa keras seketika Baekhyun menggerakan kakinya tak nyaman, Chanyeol segera mengalihkan perhatiannya. Ya ampun, dia cuma melirik paha Baekhyun sedetik tapi gadis itu membiarkan kakinya dilihat banyak orang waktu perform. Kenapa harus marah.
Chanyeol menyiapkan jari-jarinya, tangan kanannya yang telah tepasang gloves tipis meraih besi panjang angkat beban seberat 200 lbs.
"Kau bisa angkat itu?"
"Lihat saja."
Baekhyun duduk di fitnes bench didekat situ, mengawasi Chanyeol mengangkat barbell besar beberapa detik yang kemudian melepasnya sampai terdengar bunyi benturan, lalu menyiapkan tangannya untuk mengangkat lagi.
"Chanyeol."
"Ya?"
"Apa kau benar-benar menyukaiku?"
"Kau tak perlu bertanya." Jawaban Chanyeol terdengar dingin. Dia menjatuhkan barbell beratnya kemudian beralih ke tricep machine sambil meregangkan otot punggungnya.
Tiba-tiba teringat ketika mereka naik bus yang sama ke agensi semasa trainee. Baekhyun dulu anak perempuan polos yang perlu seseorang yang dapat diandalkan. Chanyeol banyak membantunya dan ia merasa akan menyesal kalau debut sebagai idol. Jadwal mereka bakal berbeda. Tapi ketika ia memutuskan berkarya dengan menulis lagu, Chanyeol diuntungkan untuk terus bertemu Baekhyun disesi latihan dan rekaman dalam waktu lama.
Sekarang Baekhyun tanya apa ia menyukainya? Chanyeol rasanya mau membenturkan kepala ke dinding. Sikap agresif dan pencicilannya—dengan terbuka menunjukkan ia tertarik pada gadis itu sejak hari pertama jadi trainee, pertemuan pertama mereka di bus itu..
Jadi.. Baekhyun sama sekali tak melihatnya?
Gadis itu melipat tangan, ia berdiri berjalan mendekat. "Kalau kau menyukaiku, apa buktinya?"
"Kurasa tak perlu." Chanyeol memegang besi panjang yang terhubung ke beban yang lebih berat, ia mulai menariknya dan menggeram rendah. "Kau bakal melihatnya sendiri kalau benar-benar menyadarinya."
"Aku sudah melihatnya," Baekhyun sengaja menjeda. Tapi Chanyeol kelihatan tak tertarik dengan obrolan sensitif mereka. "Well, kafe Viva Polo."
Beban dijatuhkan Chanyeol detik itu membuat suara benturan sangat keras. Baekhyun sempat terkejut dengan cara Chanyeol berjalan mendekat dan jarak bahaya mereka.
"Kapan kau kesana?"
"Aku bahkan bertemu ibumu." Mulut Baekhyun melengkung senyum kecil ketika ingat sikap lucu Mama Park.
Malah Chanyeol tidak berekspresi apapun. Ia tiba-tiba kesal karena ibunya tidak memberitahu Baekhyun telah menemukan Viva Polo.
Tapi karena mereka terlalu dekat, Baekhyun merasa aneh menyadari dirinya terus mendongak menatap Chanyeol. Ia memandang turun ke bibir pemuda itu sehingga kembali teringat cara mulut itu menciumnya—Baekhyun memerah.
Ini diluar kendali, ia justru bergerak berjinjit. Untuk satu kali saja, Baekhyun ingin mencium Chanyeol karena kerja kerasnya membuat kafe E-Girl yang cantik. Kenapa Chanyeol bahkan tak pernah bilang soal kafe. Bodoh kan. Ini begitu mengesankan hingga ia berbuat berani. Ia pikir.. satu ciuman dan selesai.
Sampai pada ujung jarinya, Baekhyun merasa malu luar biasa karena tak sampai. Ia tak bisa meraih bibir Chanyeol—kecuali mungkin kalau pakai heels.
"Kenapa kau bisa tinggi begini sih?!"
Chanyeol tergelak seketika, alisnya terangkat mengejek. "Memangnya kau mau apa?"
"Menciummu brengsek!"
"Menciumku? Baiklah." Dia meraih menggendong Baekhyun didepan, tangan gadis itu melingkar dilehernya sewaktu Chanyeol menghimpit mereka ke dinding.
Dia justru bergerak mencium Baekhyun lebih dulu. Chanyeol meluapkan semuanya lewat tautan itu dan nyaris lupa diri. Baekhyun begitu ringan. Tubuh di atas telapak tangannya begitu lembut, begitu memabukkan. Ia mungkin masih ingat keberadaan mereka di lantai tiga di ruang gym agensi dan akan sangat buruk kalau ketahuan seseorang. Tapi Chanyeol benar-benar tak tahan dengan Baekhyun.
"Chanyeol." Bisik gadis itu didepan mulutnya. Napasnya yang hangat menggerakkan Chanyeol mengecup sekali lagi. "Kenapa aku jadi nakal begini? Tidak seharusnya aku melakukan ini. Aku kan idol."
Membalas itu dengan kekehan lembut, suara Chanyeol yang berat menenangkan, "Ya, kau idol. Dan kau manusia biasa." Ia menurunkan Baekhyun dari tangannya beralih merengkuh sisi perut gadis itu yang terbuka karena cuma memakai croptee. "Aku harus keluar dari sini, bersikaplah seolah kau sedang gym class dan tidak terjadi apapun. Seseorang pasti bakal ada yang datang."
"Aku tadi mengunci pintu."
Pengakuan yang terdengar polos itu membawa tawa Chanyeol lebih keras. "Jadi.." Bisiknya. Sambil mencium pipi Baekhyun yang menghangat. "mungkin kita bisa melakukan yang lebih dari ciuman."
"Yak!"
Chanyeol tergelak lagi, tangannya terangkat menyentuh rahang Baekhyun mengusapnya pelan. Meski mungkin ia belum bisa memastikan hubungan mereka tapi Chanyeol telah tahu Baekhyun merasakan yang sama.
"Pastikan kalau kau cuma melakukan skandal denganku dan jangan sampai ketahuan. Aku akan menunggumu."
Sementara situasi berubah serius, Baekhyun merasa hidupnya lucu sewaktu mengaku ia juga menyukai komposer konyol yang tak pernah lelah mengejar-ngejarnya. Ia tidak lagi membohongi dirinya sendiri kalau Chanyeol adalah bagian dari semangatnya berlatih dan terus bekerja keras.
"Bahkan sampai aku berhenti jadi artis?"
Chanyeol memasang senyum selagi menggumam, "Ya."
.
.
"Kyungsoo-ya, kau bisa kembali kuliah setelah libur dua hari dari Paris. Aku merasa bersalah karena mengambil cuti buatmu terlalu lama. Aku tahu kadang-kadang kau merindukan belajar dan teman-teman di kampus. Kau jadi tertinggal banyak bimbingan dari para dosen dan profesor."
"Ya, makasih unni. Tidak masalah."
Menyadari Kyungsoo lebih semangat mengawasi dari spion tengah van, Ryeowook cuma tersenyum tipis melihatnya.
"Tadi pagi aku mendapat jadwal baru. Tapi dengarkan aku dulu oke?"
Sebenarnya Ryeowook ragu ketika seorang produser musik video menelepon dan menghabiskan waktu cukup lama untuk menimbang permintaan mereka, yang pada akhirnya ia memutuskan menerima tawaran dengan perasaan positif.
"Produser yang bertanggung jawab di pembuatan musik video comeback solois Crush tertarik dengan fancam kalian di airport."
"Kalian siapa?"
Berbeda dengan Minseok yang selalu tanggap, Kyungsoo adalah tipe yang akan memberikan timbal balik setelah lawan bicaranya selesai mengatakan sesuatu.
"Ken-Dyo."
Para member bersamaan terbelalak mendengar itu, tiba-tiba khawatir.
"Seorang produser musik video tertarik dengan fancam? Heol." Bahkan Baekhyun tak tanggung-tanggung berkomentar. Tanpa mengatakannya ia tahu Kyungsoo tak akan mau melakukan ini.
"Jadi Ken dan Kyungie bakal syuting video musik berdua, begitu?"
"Iya, Tao." Membuang napasnya mendapati para gadis yang cemas, Ryeowook juga merasakan yang sama. "Produser yang ini tak sengaja menonton fancam di sosial media waktu Ken menuntun Kyungsoo dari kerumunan fans di bandara. Aku tak mengerti apa yang dia pikirkan tapi.., dia benar-benar tertarik dengan rasa peduli Ken dan genggaman tangan kalian dan.. aku tak yakin soal ini, dia mengatakan padaku kalau kalian yang menginspirasi konsep video itu sendiri. Mereka sangat ingin kalian jadi modelnya."
"Kyung," Luhan terdengar tak tahan ketika Kyungsoo tiba-tiba cuma menatap ke depan dengan datar. "Gimana? Kau baik-baik saja?"
"Ya," Gumamnya sambil menoleh, Kyungsoo tersenyum kecil untuk membuat para unni tenang. Ia merasa bersalah belakangan ini karena mereka semua dibuat khawatir.
"Soo-ya, aku tahu itu beresiko. Tapi kupikir ini satu-satunya pilihan untukmu. Akan ada tayangan behind the scene jadi manfaatkan itu. Bersikaplah apa adanya, buat dirimu seolah tak terjadi apa-apa dengan Ken. Kalian berteman baik. Sesederhana itu. Memang pada kenyataanya tak ada yang terjadi dengan kalian kan? Kalau suatu hari kau bertemu dengan Ken disatu acara, publik akan terus mengusik, mencari tahu kenapa kau terus bersikap canggung pada Ken."
Perkataan Ryeowook membuat Kyungsoo gamang. Ada satu sisi dimana dua idol yang bergaul satu sama lain bakal dijadikan couple oleh penggemar yang menyukainya. Tapi Ryeowook benar. Soal Kyungsoo yang seakan menghindari Ken untuk tidak terjadinya kecurigaan, malah membuat publik makin bertanya-tanya tentang mereka.
"Peranku di video?" Tanya Kyungsoo pada akhirnya.
"Kau dan Ken jadi pasangan. Menurut produser karena terinspirasi dari insiden di bandara, cuma kalian yang bisa dapat chemistry disitu."
"Kyungie kau bisa melakukannya?"
Kyungsoo belum bisa menjawab Yixing yang duduk di belakangnya bertanya. Ia bingung, sekaligus menganggap kalau ini serba salah—konyol.
Meski penggemar ada saja yang meng-couplekan mereka nanti, tapi terus menghindari Ken akan membuat situasi lebih buruk.
"Kurasa ini aneh, .. tapi kesempatan bagus." Minseok berkata dan tiba-tiba Kyungsoo pening karena berpikir keras.
Meski bagaimanapun ia harus memperbaiki kekacauan yang ia buat waktu itu.
"Aku akan melakukannya."
"Aku tahu kau bakal menerima ini." Ryeowook terdengar puas. Dari yang ia tangkap lewat spion Kyungsoo kelihatan begitu bertekad. "Buatlah dirimu seperti teman Ken di sesi bts, oke? Kau harus memperlihatkan kalau kau dan Ken baik-baik saja setelah insiden di airport."
Dari awal Ryeowook tahu perjalanan mereka ke Paris bakal sedikit lebih nyaman tanpa memikirkan jalan keluar dari isu-isu E-Girl dikalangan publik.
Itu semua bakal segera berakhir.
.
.
Mengambil penerbangan awal dari Italia, siangnya Jongin tiba di Charles de Gaulle, bandara internasional Paris yang saat itu para perwakilan petinggi perusahaan disana sudah menunggu. Mereka menyambut hangat kunjungan bisnisnya bersama timnya.
Itu cukup berlebihan menurutnya. Meski Jongin tahu timnya termasuk tamu penting, tapi ia tetap tidak memerlukan penyambutan itu mengingat rapat di mulai satu jam lagi. Mereka bisa langsung bertemu di kantor kan.
"Halo. Selamat datang Mr. Kim." Salah satu dari lima orang itu menyapa dengan bahasa Inggris, yang lain berbicara bahasa negeri ini yang sama sekali Jongin tak mengerti. "Kami sudah memesan hotel terbaik di Paris untuk anda menginap."
"Aku bisa memilih hotel sendiri. Terima kasih."
"Tapi Mister, Yang ini berbintang delapan. Kebanyakan para pejabat, petinggi Dubai, keluarga kerajaan Inggris juga menginap disitu di waktu mereka datang ke Prancis."
"Aku tak peduli berapa bintang yang hotel itu punya." Jongin sudah tahu merekalah yang memiliki hotel itu. Cara perusahaan-perusahaan untuk pamer tak penting buatnya. Karena tak suka dengan sesuatu yang terlalu berlebihan, ia cuma ingin menginap dengan nyaman.
"Mister, kami sudah menyiapkannya untuk anda. Jadi mari ikut kami."
"Sir, kita tak punya waktu untuk pergi ke hotel lain sesuai selera anda. Kau bilang ingin mengatur segera penerbangan ke Korea. Aku pikir tak perlu membuang waktu kalau kita menerima tawaran mereka."
Sekretarisnya berkata disampingnya. Pria ini tak perlu khawatir membuat para orang Prancis tersinggung karena ia menggunakan bahasa Italia, orang-orang itu tak akan mengerti.
"Mari ikut kami Mr."
Tim Jongin yang beranggota empat pria berjalan lebih dulu, terlihat lebih muda dan gagah daripada bapak-bapak pebisnis yang justru kelihatan konyol karena mengkawal mereka.
Jongin merasa ini aneh, ia menyilakan partnernya untuk berjalan lebih ke depan sementara dia mundur.
"Maafkan saya, sir. Kau kelihatan lebih angkuh hari ini. Tapi kau memang begitu."
Jongin menggeleng tak habis pikir akan ucapan konyol si sekretaris. Dia mencoba menikmati kunjungan bisnis terakhirnya dengan melihat-lihat sekitar airport. Di waktu yang bersamaan perhatiannya teralih pada beberapa orang staff tampak berjalan di sisi enam gadis yang keluar dari pintu penerbangan Korea Selatan, matanya seketika terpana sewaktu melihat Kyungsoo.
Terlalu jelas bagi Jongin tahu gadis itu adalah Kyungsoo meski menggunakan masker yang menutupi mulut. Mengingat ini eropa, penjagaannya tak terlalu ketat dan beberapa penggemar memberi mereka space untuk berjalan leluasa.
Ketika mata mereka bertemu tanpa sengaja di kejauhan, Kyungsoo menurunkan maskernya. Jongin tiba-tiba menghentikan langkah sewaktu Kyungsoo memilih membiarkan teman-teman grupnya masuk van yang sudah menunggu lebih dulu, sementara gadis itu terpaku menatap Jongin disana.
"Jongin ..., —"
Kyungsoo berbisik, suaranya kecil. Ia tak bisa melihat Jongin lebih lama ketika staff memintanya segera masuk mobil.
TBC
yg kmaren minta chap panjang.. dah ya ni
gegara kepanjangan momen kaisoonya kupotong *ehe
thx to read:))
xoxo
