Disclaimer : Yuri on Ice not mine
Rage by Cyancosmic
Warning: AU, Fem!Yuuri, Fem!Yura, OOC, 1st pov
.
.
.
Enjoy!
Yura : Run! Run! Run!
"Kau belum cerita padaku!"
Aku menoleh dan menemukan sahabat sekaligus senior yang lebih tua beberapa tahun dariku itu tengah berdiri di depan mejaku. Melihat alisnya yang menukik tajam disertai dengan tangan yang terlipat di depan dada membuatku tak punya pilihan selain menanggapinya. Terlebih ketika ia membuka mulutnya dan berkata,"Yura!"
"Apa yang perlu kuceritakan, Mila?" Aku bertanya sembari memasukkan semua buku pelajaran yang berserakan di meja ke dalam tas. "Aku bukan pendongeng."
"Ini lho!"
Dengan disengaja, gadis berambut merah marun itu menusuk-nusuk memar yang masih membekas di wajahku. Jarinya yang berkuku runcing itu berhasil membuatku mengaduh dan memandangnya dengan murka. Namun yang ditatap malah memberikan pandangan yang lebih menusuk dibanding tatapan yang kuberikan padaya. Sadar bahwa aku tidak bisa menang, aku pun memilih untuk menghela napas sembari mengangkat tas dan bangkit berdiri dari kursi.
"Hei, Yura!" Ia berteriak sementara kakinya mengikutiku beranjak ke luar kelas. "Kau tidak bilang apa-apa padaku sejak semalam. Aku khawatir sekali, tahu! Kupikir kau benar-benar diculik oleh pria-pria besar itu. Aku sampai menyesal sekali karena sudah meninggalkanmu. Aku…"
Kuhentikan langkahku dan kutatap gadis itu dengan pandangan menusuk yang biasa. "Bisa diam tidak, Mila?"
Gadis itu mengerjapkan matanya ketika melihatku berbalik dan menatapnya tajam. Namun bukan Mila namanya kalau ia langsung ciut ketika mendapat tatapan sinis dariku. Sebaliknya, gadis itu malah meletakkan kedua tangannya di pinggang dan balas berkata, "Aku bisa diam kalau kau mau bercerita menggantikanku. Kalau tidak, aku akan terus berteriak soal peristiwa kemarin, bagaimana?"
Ocehan Mila membuat beberapa pasang mata sampai berhenti untuk memandangi kami. Melihatnya, aku pun mulai merasa tak nyaman dan memberikan decakan kesal untuk menunjukkan kejengkelanku. Aku tidak suka menggembar-gemborkan kehidupan pribadiku pada mata-mata yang memandangku penuh ingin tahu. Hidupku sudah terlalu rumit untuk ditambah orang-orang yang senang bergosip.
"Apa yang mau kau ketahui?"
Sadar bahwa aku telah mengaku kalah, Mila pun menurunkan kedua tangannya dan kembali berjalan di sampingku. Ia menghentikan celotehannya dan menggiringku berjalan di koridor sekolah untuk menghindari orang-orang yang ingin tahu. Kali ini dengan suara pelan, ia berkata, "Jadi? Jadi bagaimana? Setelah kutinggalkan apa yang mereka lakukan padamu? Kenapa kau bisa mendapat memar ini di wajahmu?"
"Seseorang menyelamatkanku," jawabku singkat. Kelasku berada di lantai terbawah, paling dekat dengan rak sepatu. Hanya dalam dua puluh lima langkah, aku sudah tiba di tempat penyimpanan sepatu dan menukarnya dengan sepatu yang biasa kugunakan di luar.
"Ada yang menyelamatkanmu?" Mila berkata dengan nada tertarik. "Oh ya? Dia melihatmu dalam kesulitan dan menolongmu? Siapa dia? Apa dia laki-laki? Apa dia tampan? Apa dia…"
"Kenapa kau malah tertarik pada penyelamatku?" Aku bertanya dengan sinis. "Bukannya kau bertanya karena mengkhawatirkanku tadi?"
Mila menyelipkan rambutnya di belakang telinga, berdehem-dehem sejenak sembari menungguku mengganti sepatuku. Ia sendiri sudah mengganti sepatunya entah sejak kapan dan hanya berdiri di sampingku sembari memegangi tas punggungnya. Begitu aku sudah selesai memakai sepatu, ia pun kembali berkata, "Jadi… om-om besar kemarin itu tidak jadi menculikmu karena… kau diselamatkan seseorang?"
Kuanggukkan kepalaku sedikit saat mendengar kesimpulan yang ia berikan untukku sementara kami berjalan melewati ambang pintu. Kakiku melangkah menuju pelataran besar yang mengarah ke gerbang, ketika Mila menarik lenganku dengan tiba-tiba. SIkapnya membuatku menoleh padanya dan memberikan tatapan penuh tanda tanya akan perbuatannya.
"Lalu… siapa orang yang menolongmu?" Ia bertanya padaku dengan tatapan menyelidik. "Kau langsung melewatkannya tadi. Kau belum menceritakan siapa penyelamatmu."
"Penyelamat?" Aku bertanya padanya sambil mengernyitkan dahi. "Ah, ya! Ada yang menolongku benar."
"Jadi?" Mila berkata dengan mata birunya yang berbinar-binar. "Seperti apa rupa penolongmu?"
Dahiku mengernyit saat mendengar ketertarikannya pada orang yang menyelamatkanku. Karena itu aku pun berkata padanya, "Rupanya ini yang kau incar? Kau lebih tertarik pada orang yang menyelamatkanku dibanding keselamatanku?"
"Bukan begitu, Yura!" Gadis satu itu berkata sambil mengapit tanganku. "Aku tentu peduli pada keselamatanmu. Tapi berhubung kau sudah berdiri di hadapanku, selamat dan sehat sentosa, boleh 'kan kalau aku tertarik pada detail lain dalam ceritamu?"
Kuberikan satu senyuman sinisku padanya sehingga membuat gadis itu menggoyangkan tanganku dengan antusias. Dengan sedikit memaksa ia berkata, "Ayolah, Yura! Katakan padaku! Aku ingin tahu! Aku ingin tahu!"
"Kau ini kenapa sih?" Aku balas bertanya sembari mendorong kepalanya. Gadis ini memang bisa menjadi sangat menjengkelkan bila sudah memaksa. "Kenapa kau ingin sekali mengetahui identitas orang itu?"
"Habis," ucap Mila sembari menggerakkan sebelah tanganku, "aku penasaran. Siapa tahu dia pemuda keren, pendiam, baik hati dan kuat."
"Lalu? Kau mau apa kalau ia pemuda keren, pendiam, baik hati dan kuat?" Lagi-lagi aku mengerutkan dahi saat mendengar ucapannya. Tidak paham mengapa ia menganggapnya sebagai hal yang menarik hingga memaksaku untuk menceritakannya. "Lagipula, yang diselamatkan itu 'kan aku? Apa urusannya denganmu?"
Jawabanku membuat Mila mengerucutkan bibirnya dan menusuk kembali pipi memarku dengan jemarinya. Ulahnya itu berhasil membuatku mengaduh kesakitan hingga harus memegangi wajahku. Namun melihatku meringis, gadis itu malah berkata, "Ucapanmu itu dua kali lebih menyakitkan tahu! Memangnya kau tidak bisa membiarkanku sedikit bermimpi apa?"
"Mimpi saja terus yang kau pikirkan," balasku sembari mengusap-usap pipiku, "makanya kau jadi gadis pemaksa yang tak laku."
"Hei!" Mila mencubit lengangku saat aku mengatakannya. "Hati-hati dengan ucapanmu!"
Lagi aku kembali mengaduh saat ia mencubit lenganku dengan keras. Aku sampai harus mendorong gadis itu jauh-jauh agar ia tidak mencapitkan jarinya pada kulitku lagi. Herannya, sudah begitu jelas tindakanku, gadis ini malah terus saja mendekat dan melingkarkan lagi lengannya pada lenganku. Sungguh aku tidak paham pola pikir gadis satu ini.
"Pokoknya aku mau tahu identitas si penyelamat!" Gadis itu berkata sambil mengapitku. "Kalau tidak aku tidak akan melepaskanmu."
Mulutku sampai ternganga mendengar kekeraskepalaannya yang di luar kewajaran itu. Aku sudah terbiasa menghadapi orang keras kepala seperti Yuuri, tapi untuk Mila lain lagi ceritanya. Ia tidak akan mempan bila aku mengusirnya atau mengucapkan kata-kata pedas yang menyakitkan hati. Untuknya, aku harus menggunakan cara lain supaya dia berhenti bertanya-tanya.
Karena itu, sembari menghela napas aku pun berkata padanya, "Kau yakin mau tahu?"
Iris biru gelapnya kembali menunjukkan binar ketertarikan. Gadis berambut merah marun itu pun menganggukkan kepalanya sedikit sebelum mencondongkan tubuhnya padaku. Lalu ia berkata, "Aku ingin tahu. Katakan padaku!"
"Kau akan menyesal lho!" Aku mengucapkannya dengan nada serius. "Sungguh!"
"Tidak apa-apa," ucapnya dengan keras kepala, bahkan sebelum aku sempat menjelaskan seperti apa bentuk penyesalan yang akan ia rasakan. "Ayo cepat katakan padaku!"
Sungguh aku heran dengan ketertarikannya yang tiba-tiba itu. Melihat betapa ia ingin tahu soal penyelamatku itu, akhirnya aku berkata, "Sayang sekali, yang menyelamatkanku itu ibu-ibu tetangga yang cerewet sehingga membuat Om-Om itu lari."
Gadis berambut merah marun itu mengerjapkan matanya ketika mendengar ucapanku. Ia tertegun sejenak sebelum membuat alisnya menukik tajam. Dengan nada nyaring, gadis itu pun berkata, "Kau bohong!"
"Untuk apa aku berbohong?" tanyaku padanya. "Tidak ada gunanya menyembunyikan identitas si penyelamat darimu."
Mila memicingkan matanya saat mendengar perkataanku, sementara aku berpura-pura tidak menyadarinya dan terus saja berjalan. Melihat sikapku, gadis itu akhirnya berkata, "Jadi… penyelamatmu itu seorang ibu-ibu cerewet? Bagaimana Ibu-ibu semacam itu bisa mengalahkan pria besar seperti mereka? Apa mereka tidak takut?"
Dalam hati aku minta maaf pada ibu-ibu di seluruh dunia sebelum mengatakan, "Kau tahulah, ibu-ibu dan kumpulannya justru yang lebih ditakuti oleh om-om besar seperti kemarin. Kalau mereka sudah bergosip, maka tamatlah sudah."
Mendengar penjelasanku, Mila mulai mengerutkan dahi dan berpikir. Melihatnya, batinku pun langsung bersorak 'Yes', walaupun aku tak menunjukkannya. Kubiarkan gadis itu merenungkan perkataanku sebelum akhirnya menghela napas dan berkata, "Sayang sekali, kupikir yang namanya penyelamat itu pasti seorang pemuda tampan, baik hati dan kuat."
Aku tertawa sinis mendengar perkataannya, "Kau terlalu banyak menonton drama."
"Pemuda yang bekerja sebagai DJ di bar waktu itu pasti cocok sekali menjadi penyelamat," lanjutnya dengan mengabaikan sindiranku. "Pemuda pendiam, sabar, tampan, baik hati seperti dia pasti sangat keren kalau tiba-tiba muncul dan menyelamatkanmu, Yura."
"Coba saja kau rasakan sendiri ditampar om-om itu dan minta pemuda yang kau ceritakan itu menyelamatkanmu!" Aku menanggapi ucapannya dengan sarkas seperti biasa. "Pasti menyenangkan sekali rasanya, walaupun kau harus menanggung memar yang tak bisa hilang dalam sehari."
"Ah, jadi memarnya memang sakit!"
"Aku tak bilang seperti itu!"
"Akui saja kalau memang sakit, Yura!" Gadis satu itu malah memelukku, sementara jemarinya tidak jera-jera menusuk pipiku yang memar. Sudah berkali-kali aku mengaduh karena ulahnya sehingga aku pun mencoba melepaskan diri dari pelukan gadis itu sembari marah-marah. Namun gadis itu hanya tertawa dan berkata, "Makanya Yura, perilakumu yang tidak manis itu sebaiknya diperbaiki!"
"Hah? Apa urusannya memar dengan sikapku?"
"Kalau kau lebih manis, om-om besar itu tidak akan menamparmu!" Mila berkata dengan sikap sok tahunya yang biasa. "Lain kali kalau bertemu om-om seperti itu, seharusnya kau segera lari dan bukannya menantang mereka. Terkadang kau terlalu sombong sih, Yura!"
"Hei! Kenapa jadi aku yang disalahkan?" Aku bertanya sambil mendorong wajah gadis itu. "Mau manis sekalipun aku tetap diculik tahu! Lebih baik aku memberontak sekuat tenaga dibanding pasrah dan menangis sepertimu."
Mendengar jawabanku, Mila hanya dapat menggelengkan kepalanya dan berkata, "Dasar Yura!"
Sikapnya yang seolah sudah sangat berpengalaman dalam situasi semacam itu membuatku sedikit jengkel. Memangnya apa yang salah dengan bersikap melawan? Bukankah itu jauh lebih baik dibandingkan hanya menangis saja seperti Mila? Lagipula, menangis sekalipun akan tetap ditampar. Memangnya om-om kemarin itu akan iba kalau melihatku menangis dan pasrah? Aneh-aneh saja gadis ini.
"Sudah sana, Mila!" Aku mendorongnya ketika kami sudah melewati gerbang sekolah. "Arah pulangmu 'kan berbeda denganku!"
"Eh?" Ia berkata dengan terkejut. "Tapi aku mau menemani Yura! Bagaimana kalau Yura bertemu lagi dengan om-om seperti kemarin?"
"Apa perlu kuingatkan bahwa kau hanya bisa menangis dan pasrah begitu om-om itu mengepungmu?" tanyaku padanya. "Sudah sana! Jangan dekat-dekat denganku!"
"Ah, aku bisa menyelamatkanmu kali ini!"
"Lebih baik aku diselamatkan ibu-ibu cerewet kemarin dibanding diselamatkan olehmu!" jawabku sambil mendorong kepala gadis itu menjauhkannya dariku. Ketika aku tengah melakukannya, seseorang berdiri di hadapanku, menghalangi jalan kami berdua. Orang itu berhasil membuatku berhenti bergerak, sehingga Mila pun turut mengangkat kepalanya dan menatap ke depan. Bersama-sama kami hanya bisa ternganga melihat keberadaan orang itu di hadapan kami, walaupun dengan reaksi yang berbeda-beda.
"Kenapa… "
"Si DJ!" Mila berseru sambil menunjuknya. "K-kok..."
"Ibu-ibu cerewet?" Ia bertanya sambil mengangkat satu alisnya.
"A… itu…"
Ia menganggukkan kepala, namun tak menungguku untuk memberi alasan. Dengan ekspresi datarnya yang biasa ia berkata, "Ayo pulang! Kakakmu sudah menunggu!"
"Tunggu, tunggu sebentar!" Aku berkata sambil mengangkat kedua tanganku. "Apa maksudmu dengan pulang? Aku tidak punya urusan denganmu!"
Seperti biasa, pemuda itu menghela napas saat mendengar jawabanku. Berbeda reaksinya dengan gadis di sebelahku yang menatapku dengan tatapan mencekam, menuntut penjelasan. Terlebih saat pemuda itu berkata, "Jadi kau lebih suka berurusan dengan penculik seperti kemarin? Baiklah kalau itu maumu."
"Lho!" Mila menginterupsi pembicaraan kami. "Bagaimana kau tahu bahwa dia nyaris diculik kemarin?"
Baik aku maupun pemuda itu tidak menggubris perkataan Mila. Seperti biasanya, bila menghadapi pemuda satu ini, aku malah melipat kedua tanganku di depan dada dan berkata, "Tetap saja itu bukan urusanmu! Lagipula, memangnya aku memintamu untuk menjemputku?"
"Perlu kuingatkan tidak, kalau kemarin pun aku yang harus menyelamatkanmu?" Ia balas bertanya sehingga membuat Mila ternganga. Sial! Sia-sia saja kebohongan yang susah payah kususun agar Mila tidak terus bertanya-tanya. Pemuda ini memang tahu caranya membuatku jengkel. "Sekarang, kau mau naik dan duduk tenang di motor atau aku harus menyeretmu pulang dengan berjalan kaki?"
"Sudah kukatakan aku tidak memintamu untuk menjemput…"
"Apa perlu kusampaikan pada Katsuki-san saja supaya ia yang menjemputmu?" Ia balas bertanya padaku sembari mengeluarkan handphonenya. "Baiklah, kalau kau lebih suka Katsuki-san yang menjemputmu sepulang seko…"
Sebelum ia menyelesaikan perkataannya, tanganku sudah bergerak untuk meraih handphone yang ada di tangannya. Namun dengan sigapnya, pemuda itu mengangkat tangan, membuatku tidak berhasil merebut handphonenya. Bahkan dengan tangannya yang satu lagi, pemuda itu memakaikan helm begitu saja di kepalaku. Lalu dengan nada datar ia pun berkata, "Ayo!"
"Aku tidak pernah bilang mau dijemput!"
Ia menekan tombol handphonenya dan langsung menempelkan di telinga. Melihatnya, aku langsung bergerak dan mencoba merebutnya kembali. Sialnya, pemuda itu menaruh satu tangannya di dahiku, menahanku di tempat sementara ia sendiri fokus untuk mendengarkan suara di handphonenya. Alisnya pun terangkat saat ia berkata, "Ah, Katsuki-san! Maaf mengganggumu."
"Tidak! Jangan Yuuri!"
"Apa kau mau menjemput Yura sendiri? Dia sedikit keras kepala kalau aku yang menjemputnya?" Ia terdiam sebentar sementara aku terus bergerak-gerak. Kemudian alisnya terangkat dan berkata, "Oh, kau akan segera datang?"
"Tidak! Tidak! Baiklah! Baiklah! Aku ikut! Aku ikut denganmu!"
Mendengar jawabanku, pemuda itu langsung menjauhkan handphonenya dari telinga dan memperlihatkan layarnya yang gelap. Melihatnya aku pun hanya bisa ternganga dan menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. Namun si pemuda yang ditatap hanya berkata, "Aku lupa, aku belum bertukar nomor ponsel dengan Katsuki-san!"
"Kau!"
"Jadi…," ucapnya sambil menantangku, "naik atau terpaksa kulaporkan pada Katsuki-san?"
Sembari mendecak sebal, terpaksa aku mengikutinya menuju ke tempat kendaraannya diparkir. Aku mengucapkan salam perpisahan singkat pada Mila yang masih ternganga dan langsung berjalan meninggalkannya. Begitu kami tiba di tempat parkir, pemuda itu menjalankan motornya terlebih dahulu sebelum menaiki motornya. Ketika kukira motor akan segera berjalan, pemuda itu malah berbalik menatapku terlebih dulu.
"Apa?" balasku sambil menatapnya sinis.
Seperti biasa, pemuda itu hanya mengangkat alisnya mendengar jawaban sinisku. Bahkan ia menggerakkan tangan dengan santai ke arahku untuk mengencangkan kaitan pada helm. Aku berusaha menyingkirkan tangannya tentu saja, namun pemuda itu sudah menariknya terlebih dulu. Tanpa menungguku bicara, pemuda itu kembali membalikkan badan dan menjalankan motornya. "Pegangan yang erat."
Mendengar perintahnya, aku tergoda untuk mengabaikan. Sayangnya, keselamatan adalah prioritas utamaku, sehingga kali ini aku pun memilih untuk patuh. Kugerakkan tanganku untuk mencengkeram ujung jaket kulit yang selalu ia kenakan dan menunggu hingga motor bergerak. Hanya saja, walaupun mesin sudah berderum, entah mengapa motornya hanya diam saja di tempat.
Menyadari hal itu, aku pun berkata padanya, "Hei! Kenapa tidak jalan? Motormu rusak?"
Sekali ini ia menghela napas, kuhitung sudah dua kali ia melakukannya di depanku. Apalagi yang membuatnya lelah kali ini?
"Sudah kukatakan untuk pegangan yang benar," ujarnya sembari mengambil tanganku yang memegangi ujung jaketnya dan menariknya sehingga keseimbanganku goyah dan menubruknya. Bahkan sebelum aku sempat protes, pemuda itu sudah melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya sendiri dan berkata, "Baiklah! Pegangan yang erat!"
"A…"
Pemuda sialan itu tidak membiarkanku protes, lagi. Dengan sengaja, ia menjalankan motornya dengan kecepatan yang membuat mataku terbuka lebar. Ia bahkan mengabaikan teriakanku yang memintanya untuk menurunkanku dibanding membawaku mengebut dengan motornya. Entah apa yang ada di pikiranku saat membiarkannya mengantarku tadi pagi, kalau tahu bahwa caranya membawa motor begini berbahaya.
Kurang lebih lima belas menit berlalu sejak kendaraan super cepat itu diaktifkan. Lima belas menit lamanya aku memejamkan mata dan membiarkan kepalaku bersandar pada punggungnya. Begitu kurasakan hembusan angin sudah tidak lagi menerpaku, aku pun membuka mata perlahan-lahan.
"Kau tidak mau turun?"
Sontak aku mengangkat kepalaku dan melihat bahwa pemuda itu telah membuka helmnya. Melihatnya membuka helm, aku pun mengikutinya dan mencoba untuk melepaskan kaitan pada helm yang kukenakan. Namun karena tidak terbiasa, aku pun membiarkan pemuda itu untuk membantuku melepaskannya.
"Kita sudah sampai?"
Pemuda itu turun dari motornya, sehingga aku pun ikut melompat turun dan mengikutinya. Kepalaku bergerak ke kanan, kiri, berusaha menerka ke mana ia membawaku. Ketika memasuki sebuah tempat di mana pintunya terbuka secara otomatis, tumpukan barang kebutuhan sehari-hari dijejerkan rapi di sebuah rak, juga seorang pemuda yang sudah membawa troli belanjaan, sadarlah aku di mana kami berada sekarang.
"Kenapa kita ke supermarket?" Aku bertanya sambil mengikutinya yang tengah mendorong troli.
"Kakakmu membutuhkan beras," jawabnya sambil mendorong troli dan menggerakkan kepalanya untuk mencari barang yang dimaksud.
"Yuuri butuh beras?" Aku mengerutkan dahi mendengarnya. "Untuk apa? Ia mau memasak? Memangnya di apartemenmu ada rice cooker?"
Ia menatapku selama beberapa saat sebelum memutar kembali trolinya menuju ke bagian elektronik yang baru saja kami lewati. Di sana ia mengambil salah satu rice cooker terdepan yang ditemukannya dan langsung memasukkannya ke dalam troli. Melihatnya, aku pun hanya bisa ternganga sebelum berjalan mendekat padanya.
"Sekarang buat apa rice cooker? Apa Yuuri juga meminta rice cooker?"
"Kakakmu tidak bisa memasak kalau tidak ada rice cooker," jawabnya santai, "kau yang bilang."
"Memang, tapi buat apa Yuuri meminta nasi?" Aku bertanya sembari mengikutinya berjalan dan mendorong troli. "Lagipula memangnya kau bisa membawa rice cooker di motor?"
"Pasti bisa," jawabnya santai sambil berjalan dan berhenti di bagian beras. Tangannya sudah hendak mengarah ke karung beras yang paling besar sebelum aku menghentikannya. Melihatku, ia hanya mengangkat alisnya dengan pandangan bertanya, meminta jawaban.
Berusaha mencari alasan, aku pun berkata, "Yang, yang ini tidak enak. Yuuri tidak suka yang ini. Yang… yang lain saja."
"Begitu?" Ia berkata sembari menatapku. "Jadi yang mana yang kakakmu suka?"
"Y-yang…," kugerakkan kepalaku, mencari-cari beras yang paling sedikit dan paling ringan juga mudah dibawa sebelum menunjuknya. "Itu! Itu saja."
Pemuda itu mengambilkan beras dalam plastik yang hanya berukuran satu kilo. Ia menatapnya, kemudian memasukkan beberapa plastik lain yang sama hingga membuatku harus menghentikannya. Aku segera mendorongnya beserta trolinya sebelum ia memasukkan lebih banyak lagi. Apa ia tidak memikirkan bagaimana cara membawa semua barang ini di dalam motornya?
"Kopi," ujarnya sambil berbelok di bagian kopi dan membeli biji kopi yang terlihat paling mahal. Setelahnya ia berbelok ke bagian teh dan mengambil kotak teh mewah yang baru sekali ini kulihat. Ia memasukkannya sembari berkata, "Teh."
Melihatnya seperti tengah membeli barang untuk kebutuhan sehari-hari, aku pun akhirnya menginterupsi dengan berkata, "Sebenarnya untuk apa kita membeli semua barang-barang ini? Memangnya di apartemenmu tidak ada beras, teh dan kopi juga rice cooker?"
"Tidak," jawabnya sambil mendorong troli dan berhenti di bagian peralatan memasak, "aku tidak pernah memasak."
Aku mengerutkan dahi, "Jadi sekarang kau berencana memasak?"
"Tidak," lagi-lagi ia menjawab, "untuk Katsuki-san."
"Yuuri?' Aku bertanya sambil mengerutkan dahi. "Mana mungkin Yuuri meminta ini semua? Aku sudah bilang padanya untuk tidak tinggal dalam waktu yang lama. Begitu sudah mulai tenang, kami akan segera pergi."
"Kenapa?"
"Kenapa?" Aku mengulang pertanyaannya. "Ya sudah jelas 'kan? Yuuri dan aku tidak suka menumpang tinggal pada orang yang tak dikenal, terutama seorang pembunuh seperti…"
"Maksudku," ujarnya sambil meletakkan kembali panci yang tengah dipegangnya dan menoleh padaku, "kenapa kau yang memutuskan, Yura?"
"Apa?"
"Yang menyelamatkan kakakmu, juga yang membuatnya memintaku untuk melindungimu itu Viktor," ujarnya sambil mendorong kembali trolinya. "Viktorlah yang akan memutuskan berapa lama kalian akan tinggal, bukan kau."
Aku ternganga saat mendengar ucapannya. Viktor? Viktor yang berhak memutuskan? Kenapa jadi Viktor? Sejak kapan aku dan Yuuri patuh pada Viktor?
"Kenapa aku harus menurut padanya?" Aku menghentikan langkahku dan seperti biasa, aku melipat kedua tanganku, bersiap untuk protes. "Aku tidak punya kesepakatan untuk mematuhi Viktor seperti keluargamu."
Ia mengangkat alisnya sebelum menjawab, "Memang tidak."
"Kan? Makanya sudah kubilang, aku dan Yuuri tidak akan tunduk pada…"
"Tapi kau dan kakakmu sudah terlibat," ujarnya sambil mendorong kembali trolinya dan melewatiku, "dan sekalinya terlibat, kau tidak bisa melarikan diri. Pilihanmu hanya tunduk padanya atau menunggu orang lain menundukkanmu."
"Apa maksud…"
"Berita tentang Viktor Nikiforov yang menghancurkan bar JJ sudah tersebar," ujarnya sambil berjalan santai ke area minuman, "tidak butuh waktu lama hingga akhirnya media massa menyebarkan berita bahwa aku dan kakakmu pun terlibat dalam penghancuran bar itu."
"Lalu…?"
"Lalu," ujarnya sambil mendekatkan kepalanya padaku, "pada saat itu kau jelas mengetahui konsekuensinya apabila kakakmu tidak berada dalam perlindungan Viktor. Kau mau seperti itu?"
"I-itu…"
"Akui saja bahwa kalian berdua tidak punya kesempatan bila harus berhadapan dengan petinggi keluarga Nikiforov seorang diri," ujarnya sambil kembali berjalan, meninggalkanku di belakang. "Lagipula, seharusnya kau bersikap cerdik dan memanfaatkannya selama kakakmu masih menarik perhatian Viktor. Bukannya bersikap memberontak seperti ini, Yura!"
"Memanfaatkan pembunuh yang telah menghancurkan tempat tinggalku dan Yuuri?" Aku bertanya padanya sembari tersenyum sinis. "Yeah! Terima kasih sarannya. Saran yang cerdik."
Ia menatapku selama beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Kau hanya tidak tahu, Yura."
"Kau juga tidak tahu apa-apa!" Aku membalasna dengan sengit. "Kau tidak tahu bagaimana kerasnya hidupku dan Yuuri karena perbuatan orang itu. Jangan seenaknya menasehati seolah kau tahu segalanya!"
Pemuda berambut hitam itu menggelengkan kepalanya dan menghela napas. Ia terus mendorong troli sementara aku berjalan lambat di sampingnya. Kami berdua tidak mengatakan apa-apa, paling tidak hingga pemuda ini menaruh satu tangannya di kepalaku, mengacak-acak rambutku dan berkata, "Kau benar, aku tidak tahu apa-apa. Maaf!"
Aku mengernyitkan dahi saat mendengar permintaan maafnya. Namun, bukannya bersikap manis seperti yang disarankan Mila, aku malah menyingkirkan tangan pemuda itu dari kepalaku dan mendengus. Dengan langkah besar-besar, aku meninggalkan pemuda itu, mendahuluinya ke kasir. Sembari berjalan, aku melipat tanganku dan menatap ke arah lain, enggan meneruskan pembicaraanku dengannya.
Di belakangku, pemuda itu mendorong trolinya dalam diam. Ia mengikutiku mengantri di kasir yang paling dekat yang dapat kutuju dan menunggu hingga tiba giliran barang kami dihitung. Aku membiarkan pemuda itu mengeluarkan barang belanjaannya sementara kasir menghitung biaya yang harus ia keluarkan. Lama berselang hingga akhirnya ia mengeluarkan dompet dan hendak menyerahkan sebuah kartu sebelum membayar.
Tepat ketika kasir hendak menerima kartunya dan memproses pembelanjaan, jaringan listrik di supermarket tiba-tiba padam, membuat seluruh perangkat dan lampu-lampu mati seluruhnya. Kepalaku langsung terangkat saat melihat ruangan yang gelap gulita dan alisku langsung berkerut. Benakku pun bertanya-tanya, apakah di supermarket ini tidak ada generator yang akan menggantikan bila listrik diputus?
Orang-orang di sekitarku mulai panik, beberapa petugas pun berdatangan karena listrik mati. Mereka berusaha membuka pintu otomatis yang tidak bisa terbuka karena aliran listriknya padam. Beberapa mencoba memutar tombol secara manual, berharap bahwa pintu akan terbuka. Namun pintu tetap tertutup rapat seperti sebelumnya.
Kasir yang ada di hadapan kami meminta maaf untuk keributan tersebut dan mencoba menekan-nekan tombol di monitornya. Aku sudah tahu bahwa tidak ada gunanya ia melakukannya karena aliran listriknya yang bermasalah, namun kubiarkan saja karena bukan urusanku. Sementara itu, aku malah menggerakkan kepalaku dan menatap sekeliling.
Lampu yang padam bukan hal yang aneh bagiku, di apartemenku sebelumnya mati lampu sudah menjadi hal yang lumrah karena kami selalu telat membayar listrik. Hanya saja, aku yakin bahwa listrik di supermarket tidak pernah diputus karena pembayarannya tidak akan terlambat. Makanya, aneh sekali kalau lampunya tiba-tiba padam hingga pintunya tidak bisa dibuka, kecuali…
"Kau tidak punya Nyctophobia 'kan, Yura?"
Aku menoleh dan menemukan pemuda yang tadi meminta maaf itu kembali mengajakku bicara. Kukira sikap diamku sudah cukup untuk menjadi pertanda bahwa aku tidak ingin bercakap-cakap dengannya, tapi sepertinya aku salah. Pemuda ini tidak peka untuk mengerti bahwa aku tidak ingin berbicara dengannya.
Jadi alih-alih menjawab dengan 'Ya' atau 'Tidak', aku malah berkata, "Apa urusannya denganmu?"
Ia menghela napas untuk ketiga kalinya, sebelum akhirnya menjawab, "Apakah semua harus ada urusannya denganku baru kau mau menjawab?"
"Aku menjawab atau tidak itu hakku." Aku balas menjawab dengan ketus. "Bukan urusanmu, Tuan Otabek Altin."
"Begini," ujarnya sambil menghadapkan wajahnya padaku, "aku ingin mengatakan bahwa kalau kau memang mengidap 'Nyctophobia', aku terpaksa memukulmu sampai pingsan untuk membawamu keluar."
"Kau… apa?"
"Kalau kau tidak mengidap 'Nyctophobia'," lanjutnya lagi sambil menggerakkan jemarinya menuju ke belakang, "berarti kita bisa meninggalkan semua barang-barang ini, ikut denganku ke motor dan tidak bertanya apa pun hingga kita tiba di apartemen."
Dahiku berkerut saat mendengar ucapannya, lalu berkata, "Kalau kukatakan aku tidak mau ikut denganmu atau dipukul sampai pingsan, bagaimana?"
"Kalau begitu, kau memilih opsi terburuk dari semua opsi yang kuberikan," ujarnya sambil mengangkat alis.
"Opsi terburuk?"
"Ya," jawabnya sambil menunjukkan ekspresi datarnya di hadapanku. "Selamat! Kau dan aku akan melawan petinggi keluarga Nikiforov sebelum pulang ke rumah."
"Hah?"
Tepat saat aku bertanya, dari arah pintu yang tidak bisa terbuka itu, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang memecahkan pintu tersebut. Suara itu membuat para petugas keamanan berlarian menghampiri atau mengevakuasi korban yang terluka. Sayangnya, sebelum mereka melakukannya, suara tembakan menghalangi mereka bertindak dan membuat mereka jatuh tersungkur.
Bahkan setelah bunyi tembakan itu, aku mendengar suara langkah seseorang. Di tengah keheningan yang mencekam itu, orang yang baru saja memasuki ruangan dengan tenangnya berkata, "Aku mencari seseorang dari Altin Family! Apa ada di antara kalian yang mengenalnya?"
"Tuh!" Pemuda yang berdiri di sampingku menunjuk ke arah sumber suara dan berkata, "Itu pilihanmu."
"Pilihan apa?"
"Melawannya?" Si pemuda yang dicari-cari menunjuk sosok yang tengah berjalan mendekati kami. "Si petinggi yang hobi mematikan aliran listrik setiap kali beraksi."
Lagi-lagi dahiku berkerut setelah mendengar ucapannya. Petinggi yang hobi mematikan aliran listrik? Memangnya apa urusannya aliran listrik dengan aksinya? Apakah ia harus sedemikian merusak satu gedung hanya untuk mempersiapkan kemunculannya? Sungguh eksentrik sekali. Aku sangat penasaran dengan petinggi yang dikatakannya ini.
Di tengah ruangan yang temaram karena pencahayaannya diputus, aku dapat melihat sosok pemuda berambut pendek dengan tatanan spike mendekat ke arah kami beserta beberapa orang pria berjas yang membawa senapan membuatku ternganga. Melihatnya, aku pun menggerakkan jemariku dan tanpa sadar memegangi ujung jaket kulit si pemuda tanpa ekspresi. Lalu aku berkata, "Ini… jangan bilang ini…"
"Lawanmu?" Ia bertanya untuk menyelesaikan ucapanku. "Memang."
"L-lawanku?" Aku balas memekik. "Kenapa ini jadi lawanku?"
Ia menoleh padaku, "Kau yang bilang, tidak mau dipukul atau pun lari, jadi kupikir kau memilih untuk melawannya."
"Tapi bukan berarti aku mau melawan!" Aku menggerakkan tangan sambil menunjuk pemuda yang berjalan mendekat pada kami. "Bisa saja 'kan aku memilih untuk melarikan diri atau apa?"
"Boleh kuingatkan kalau sebelumnya kau menolak opsi tersebut?" Ia bertanya sambil menggerakkan kepalanya. "Kecuali kau mau membatalkannya dan…"
"Opsi kedua, opsi kedua," jawabku sambil menarik-narik jaket kulit yang ia kenakan, "lari, lari saja. Bagaimana mungkin aku menang kalau lawanku orang seperti itu dengan senjatanya."
Kali ini pemuda itu mengangguk dan berkata, "Aku setuju soal itu."
"Kalau begitu…"
"Kutemukan juga, kau!" Si pemuda berambut pendek berkata sembari menyunggingkan senyum lebarnya. "Otabek Altin!"
Pemuda itu mengangkat alisnya saat menatapku sebelum bersama-sama mengarahkan pandangan pada sang petinggi. Ekspresinya tetap sedatar biasanya, walaupun yang ia tatap adalah salah satu dari petinggi keluarga Nikiforov yang membawa sejumlah bawahan bersenjata di belakangnya. Entah bagaimana ia tetap dapat mempertahankan wajah tanpa ekspresinya itu sekalipun di hadapannya… Ah sudahlah! Kenapa aku mengulang-ulang lagi situasinya?
"Georgi Popovich," jawab pemuda itu sambil menggerakkan kepalanya. "Kau ada urusan denganku?"
"Baru kali ini aku bertemu denganmu," jawab pemuda itu sambil menyunggingkan senyum sinisnya, "dan selamat tinggal!"
Senapan diarahkan, membuatku menatap ngeri sembari bersembunyi di belakang punggung pemuda itu. Lalu aku berkata padanya, "Katakan padaku kalau jaket yang kau pakai ini adalah rompi anti peluru buatan terbaik, yang sanggup mementalkan semua peluru!"
"Nah," ujarnya sambil menggerakkan sedikit kepalanya, "sayangnya jaketku hanya jaket kulit biasa yang kubeli di pasar Kazakhtan."
"Pasar gelap?" Aku bertanya penuh harap. "Pasar yang menjual senjata dan perbekalan amunisi 'kan?"
"Pasar yang menjual buah-buahan dan daging segar di pagi hari," jawabnya santai. "Aku membelinya dengan harga diskon."
"Aku tidak mau bercanda di saat seperti ini, Otabek Altin." Aku mendesis padanya, berharap itu cukup untuk memperingatkan bahwa situasi kami saat ini tidak memberi celah untuk sebuah candaan.
Kepalanya bergerak, "Aku juga tidak sedang bercanda."
"Lalu bagaimana caramu menghadapi itu?" Aku menunjuk pria-pria bersenjata. "Kau pasti pernah menghadapi situasi ini 'kan? Kau pasti…"
Sebuah tembakan yang nyaris saja mengenai kepala pemuda itu berhasil menghentikan ucapanku. Herannya, pemuda itu hanya bergerak sedikit, seolah hal itu bukan masalah baginya. Melihatnya sanggup mengelak dari tembakan seperti itu membuat harapanku sedikit meningkat. Sayangnya harapan yang kulambungkan langsung mengempis begitu saja ketika mendengar ia berkata, "Wah, itu cukup mengagetkan!"
"Ng?"
"Sepertinya gawat!" Ia berkata sambil menatapku dengan serius, "Bagaimana kalau kita lari saja?"
.
.
.
t.b.c
Author's note:
Holla all! Sayang sekali actionnya nggak banyak, T_T semoga bisa munculin lebih banyak di next next next next chapter :p
Fujoshi-desu : ah! Lamaran? Bisa juga! Bisa juga! Viktor emang bikin berfantasi macem-macem sih ya? :P ane juga mulai berfantasi ria
LOL, chapter ini memang Yura, tapi sepertinya mereka konyol seperti biasa, bikin demen ngeliatnya, semoga kamu juga suka yang ini yak? :D
ParkYuu: sama dengan Fujocchi, here's Yura pov, dan mereka bertengkar dengan konyol, walaupun saya suka momen mereka adu mulut, refresh XD, makanya saya nggak mau mereka buru-buru jadi XD
Semoga kamu demen yak XD
Test : iyakk XD Vitya bikin penasaran, makanya kita ungkapinnya sedikit demi sedikit ya? *alesan sebenernya, author sendiri belum kepikiran kenapa :P
Hikaru Rikou: Tenang! Tenang! AAAAAA, saya mengerti perasaan kamu, Vitya bisa begitu ke Yuuri itu sesuatu memang XD *ikut jerit-jerit
Tenang, sekarang kita ikut jerit-jerit bareng Yura dan Otabek XD
Madamme Jung : Wohoo! Senang sekali kamu mengerti stage yang aku siapin buat mereka XD semoga kamu menikmati dan… soal request kamu… aku sendiri belum tahu :") semoga seiring waktu bakal terjawab :P
Hiro Mineha : Hai Hiro! JJ juga aku belum tahu ke mana XD mari kita doakan semoga dia muncul di suatu tempat dan waktu :p
Ehem, victuuri mungkin… mungkinnn canon, sementara Otario juga… mungkin… canon, tapi sementara ini aku menikmati progress mereka :D
Nggak mau terlalu cepet canon karena prosesnya sebelum canon jauh lebih menarik dibanding seudah XD
Dan request kamu saya tampungg XD mari kita doakan semoga ke depannya banyak adegan Victuuri XD
And for all of you, thank you for reading! I hope you enjoy reading this fic. Aniway, if you mind, please give any review so I can make it better XD
