Sakura selalu berharap suaminya menikahinya karena memang mencintainya. Bukan hanya untuk mengembalikan klan-nya.

.

.

"Kau belum tidur?"

Saat suara datar yang begitu ia kenali itu bersuara, mau tak mau Sakura harus berpaling sejenak dari pemandangan malam dengan taburan bintang yang sedari tadi ia nikmati. "Sasuke-kun? Kau sudah selesai dengan laporan misimu?"

Bukannya menjawab, Sasuke malah melangkahkan kakinya ke balkon untuk mendekati Sakura. Kepalanya mendongak, sedangkan mata kelamnya menatap gugusan bintang yang tertata cantik di langit malam.

Melirik sedikit ke arah sang suami yang tepat ada di sampingnya, Sakura lantas tersenyum kecil. "Bintangnya indah, bukan?"

"Hn." Sasuke meletakkan kedua sikunya di pagar balkon, dan sedikit mencondongkan tubuhnya di sana. Matanya terlihat masih tidak rela untuk melepas pemandangan langit yang begitu menenangkan. "Tapi di sini dingin."

"Hm..." gumam Sakura sembari menganggukkan kepalanya. "Cuacanya dingin karena hujan yang baru saja reda."

"Lalu kenapa kau masih bertahan di sini?"

Sakura menolehkan kepalanya. Tersenyum lebar saat menatap wajah datar Sasuke yang sepadan dengan tingginya. "Karena aku suka."

Sasuke mendengus kecil seraya memalingkan wajah dari Sakura. Senyum geli terpancar samar di bibirnya.

Untuk beberapa saat, keheningan yang menenangkan seolah menyelimuti pasangan suami istri itu ketika mereka memilih untuk menikmati suasana indah yang disuguhkan Sang Pencipta di sana. Dan untuk Sakura, nampaknya ia tidak terganggu ketika lengannya yang berada di atas pagar balkon bersinggungan dengan kulit lengan suaminya yang berada di sebelahnya. Terlepas dari kenyataan bahwa selama ini wanita bermata hijau itu selalu sedikit menjaga jarak dengan sang suami.

Senyum Sasuke tersembunyi di balik wajah datarnya. Hatinya terasa tenang saat mengetahui wanitanya bersikap seolah perlahan-lahan menerima dirinya. Dalam malam yang dingin ini pun, cuaca terasa bersahabat dikulitnya, bahkan sampai relung hatinya.

"Kau sudah mau tidur?"

Pertanyaan Sakura sama sekali tidak digubris Sasuke. Pria bermata hitam itu terus saja berjalan memasuki kamar tanpa menghiraukan pertanyaan dan tatapan heran istrinya. Membuang sedikit rasa jengkelnya, Sakura kembali mengadahkan kepalanya untuk menatap langit malam, meresapi ketenangan demi ketenangan yang ia dapatkan dari suasana malam.

lagipula Sasuke memang seperti itu...

"Pakai ini."

Sakura membalikkan badan, dan menatap Sasuke yang ternyata kembali lagi di balkon kamar. Mata hijaunya memperhatikan benda yang dibawa sang suami. "Untuk apa?"

"Di sini dingin." Tanpa meminta persetujuan Sakura, Sasuke menyelimuti tubuh wanita yang lebih pendek darinya itu dengan selimut tebal yang ia bawa. "Ini bisa membuat tubuhmu terasa lebih hangat," ucapnya datar seraya mengeratkan selimut yang telah membungkus tubuh wanitanya.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Sakura walaupun bibirnya sedikit terbuka. Ia terperangah, dan tubuhnya sedikit menegang saat pria yang ada di hadapannya menarik kedua bahunya untuk mendekat.

"Cepatlah tidur kalau kau merasa lelah. Oyasumi."

Sebuah kecupan ringan dan lembut yang diberikan Sasuke di dahi Sakura membuat mata wanita itu melebar seketika. Sakura begitu kaget hingga ia hanya bisa kembali terdiam saat suaminya berpaling dan melangkah masuk ke dalam kamar.

.

.

.

LOVE ME

Sasuke-Sakura's fic by Mrs. Bastian

Naruto © Kishimoto Mashashi

.

.

Sakura melangkahkan kakinya seraya bersenandung kecil di jalanan sore Konoha. Entah mengapa hatinya sedikit senang ketika akan menemui seorang pria yang sudah hampir dua minggu tidak ia jumpai−walaupun ia menyimpan sedikit kesal dengan pria itu−. Tak ada yang spesial dalam kunjungan Sakura kali ini, karena kunjungan ini memang bukan suatu kunjungan yang bisa dibilang menyenangkan.

"Sakura?"

"Konnichiwa, Gaara-sama." Sakura tersenyum lebar saat Gaara membukakan pintu untuknya.

"Apa yang−" Gaara menyingkir sebentar dari pintu hotelnya untuk memberi ruang masuk kepada Sakura. "Emm, masuklah dulu."

Sakura menuruti perkataan Gaara. Senyum tipisnya terukir saat matanya menyapu seluruh sisi ruang tamu yang terlihat bersih di hotel berbintang lima itu.

"Mau minum apa?"

"Hm? Tidak, Gaara-sama. Anda sedang sakit," ucap Sakura seraya menghampiri Gaara dan meraih lengan pria itu. "Aku kesini untuk memeriksa anda, bukan untuk bertamu."

Gaara hanya bisa terdiam. Bibirnya terkatup rapat ketika merasakan kulit Sakura yang menyentuh lengannya, lalu mengajaknya untuk duduk di sofa.

"Lihat wajah anda. Pucat sekali." Sakura meraih pergelangan tangan Gaara, dan memeriksa denyut nadi pria itu. "Bukankah sudah kubilang supaya tidak memaksakan diri lagi? Kami-sama... anda sangat keras kepala."

"Darimana kau tahu keadaanku?"

Sakura mengangkat wajahnya. Matanya menatap tegas jade yang sedikit lebih tinggi darinya. "Matsuri-san bilang kalau kemarin malam anda demam, dan dia menyuruhku kesini karena anda yang sangat susah untuk dibujuk ke rumah sakit lagi."

Gaara menghela napas pelan. Matanya melembut, dan senyuman samar tergambar di bibirnya yang terlihat sedikit pucat.

"Apakah anda merasakan nyeri di bagian tubuh lain?"

"Tidak."

"Pusing?"

Hanya anggukan kepala pelan yang ditujukan Gaara untuk pertanyaan terakhir Sakura.

"Seharusnya anda lebih bersabar untuk tetap di rumah sakit, bukannya malah memaksa pulang saat tubuh anda belum sepenuhnya sehat." Sakura mulai menuliskan sesuatu di atas kertas yang ada di pangkuannya.

"Tak apa. Aku tidak keberatan."

Sakura menatap Gaara tak percaya. "Apannya yang tak apa? Hal ini menyangkut kesehatan anda, Gaara-sama."

Gaara menyeringai tipis. "Ada kau, bukan?"

Bibir Sakura terkatup rapat. Rasa hangat yang terkesan kaku menjalari wajah hingga lehernya. Suasana di ruangan itu berubah hening. Gaara juga ikut diam, namun bibirnya menyeringai tipis menatap wanita yang ada di depannya.

Suara decit panci yang berasal dari dapur membuyarkan semuanya. Sakura mengerjap, matanya segera tertuju ke arah sumber suara. "Biar aku saja yang mematikan kompornya," ucap Sakura seraya beranjak dari sofa yang didudukinya bersama Gaara. Benaknya bertanya, apakah yang membuat Gaara berkata seperti itu? Apa maksudnya? Harus Sakura akui kalau ia sendiri merasakan dasar perutnya tergelitik saat Kazekage itu berkata seperti itu, dan... sedikit ada rasa bahagia di sana.

Tidak!

Sekuat mungkin Sakura menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran itu.

Tidak! Ini sama sekali tidak benar.

Mencari kegiatan lain yang bisa membuatnya melupakan pemikiran itu, Sakura meraih panci yang terletak tidak jauh darinya. Membuatkan bubur untuk Gaara akan lebih baik daripada harus berdiam diri seraya berpikir sesuatu yang menurutnya tidak pantas. Lagipula dengan membuat bubur untuk pria itu, mungkin bisa sedikit mengurangi suasana kaku yang ada di sana.

.

Setelah beberapa menit berkutat di dapur, Sakura keluar dengan membawa sebuah nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas minuman hangat. Senyum kecil terukir di bibirnya saat melihat Gaara masih duduk bersandar di sofa. Mata jade Gaara itu terlihat sayu. Menampakkan sekali kalau pemimpin desa angin itu tengah menahan kantuknya.

"Setelah makan bubur ini, lebih baik anda segera beristirahat."

Gaara menoleh. Di sampingnya Sakura menatapnya seraya tersenyum manis. "Pantas kau lama berada di sana," komentar Gaara.

Sakura kembali tersenyum kecil. "Sakit seperti itu pasti membuat anda tidak memiliki nafsu makan, dan aku yakin anda belum makan apa-apa sejak tadi pagi."

"Medic-nin memang tak bisa dibohongi." Gaara menyertakan seringai tipis dalam kalimatnya. Matanya beralih pada makanan yang ada di meja di depannya. "Kelihatannya enak."

"Jangan berkomentar dulu sebelum mencobanya," ucap Sakura ceria seraya menyodorkan mangkuk bubur di depannya untuk Gaara. "Setelah ini anda harus beristirahat. Obatnya akan kuberikan kepada Matsuri-san besok lusa. Jangan lupa untuk meminum obatnya sesuai resep, Gaara-sama! Jika anda jatuh sakit lagi, aku tidak merepotkan diriku lagi untuk memeriksa anda."

Dalam posisi kepala Gaara yang menunduk memandang mangkuk bubur, sudut bibir pria itu terangkat. Matanya melembut, bahkan ketika mata itu beralih ke wanita yang duduk di sampingnya. Sebuah pertanyaan ambigu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa ia sadari. "Kenapa bukan aku saja, Sakura?"

Kedua alis Sakura bertaut.

"Kenapa bukan aku yang lebih dulu?"

Sakura semakin dalam menautkan kedua alisnya. Keheningan yang berlangsung di sana, serta tatapan Gaara semakin membuatnya bingung. "A−aku tidak mengerti apa yang anda bicarakan, Gaara-sama."

Seolah baru saja tersadar, Gaara menghembusakan napas keras seraya berpaling. "Lupakan."

Mengabaikan Sakura yang terus mentapnya dengan heran, Gaara mulai memakan bubur yang diberi Sakura. Pria itu tidak membuka mulutnya lagi untuk bersuara, dan keheningan yang kembali tercipta di sana memaksa Sakura untuk terus memikirkan perkataan pria yang duduk di sampingnya.

.

Matahari belum sepenuhnya tenggelam saat Sakura meninggalkan hotel Gaara. Dengan memanfaatkan waktu yang tersisa, medic-nin itu menyempatkan dirinya untuk berbelanja bahan makanan serta perlengkapan rumah tangga yang lainnya. Barang belanjaan yang cukup berat membuatnya sedikit susah untuk mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya.

"Mau kubawakan?"

Sakura menoleh seketika, matanya menjelajah sosok sang suami yang kini ada di sampingnya. Raut wajah terkejut tergambar jelas di wajahnya. "Sasuke? Kau baru pulang?"

"Hn." Sasuke meraih kantong belanja yang ada di pelukan Sakura tanpa memperdulikan tatapan heran dari sang wanita.

Untuk beberapa detik, Sakura hanya terdiam. Matanya terpaku pada wajah Sasuke yang tidak tertutup topeng anbu. Melihat sang suami yang sekali lagi berperilaku lain dari biasanya mau tak mau membuatnya tersenyum manis. Ia bahkan melupakan niatnya untuk membayar semua barang yang ia beli pada kasir.

Sasuke memindahkan kantong yang ia bawa di sisi kiri tubuhnya. Lengan kirinya menyanga benda itu, sedangkan tangan kanannya merogoh sesuatu di dalam saku celananya. "Setelah ini kau akan ke mana lagi?" tanyanya pada Sakura seraya menyerahkan beberapa lembar ryo pada kasir wanita yang sudah mulai terlihat bosan.

Sakura mengerjap. Matanya memandang suami serta kasir yang ada di belakangnya secara bergantian. "A−aku sudah selesai berbelanja, Sasuke-kun. Jadi setelah ini kita bisa pulang."

Mengambil uang kembalian yang diberikan kasir wanita, Sasuke segera membalikkan badan dan berjalan pelan menuju pintu toko. Langkahnya terhenti saat ia baru saja akan meraih daun pintu. "Ada hal lain lagi yang ingin kau beli?"

"Ti−tidak." Sakura menyahut cepat. Setelah membungkuk kecil pada kasir, ia segera menghampiri sang suami yang sudah menunggunya di depan pintu.

.

"Kenapa tersenyum seperti itu?"

"Hm? Apa?" Sakura segera meluruskan pandangannya ke depan. Sebelah tangannya menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. "Ti−tidak."

Sasuke tak menunjukkan perubahan apapun di wajah datarnya. Mata hitamnya kembali menatap ke depan setelah memperhatikan wajah Sakura selama beberapa saat.

Sakura merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Bagaimana bisa ia bertingkah konyol seperti tadi? Harusnya sekarang ia lebih bisa menguasai dirinya sendiri. Jantung yang berdetak cepat, serta rasa hangat yang senantiasa menyelimuti kedua sisi wajahnya mengingatkannya pada saat-saat hatinya selalu berbunga-bunga atas perlakuan suaminya.

Astaga... aku kenapa?

Jauh di dalam lubuk hatinya, Sakura merasakan kebahagiaan yang terselip di sana. Namun sekali lagi, alasan trauma melenyapkan itu semua. Hatinya meredam mati-matian segala perasaan bahagia yang ia rasakan. Sebuah perasaan bahagia yang hanya berlangsung dalam sekejap, dan digantikan dengan rasa sakit berkepanjangan. Sakura sadar, hampir setiap saat, pria pemilik mata hitam itu secara tidak langsung menghangatkan hatinya lewat sikap serta ucapan. Dan hal itu pula lah yang terkadang menggoda Sakura untuk kembali terjerat dalam pesona cinta pria itu.

"Letakkan saja kantongnya di atas meja makan," ucap Sakura saat ia dan Sasuke baru saja memasuki rumah. Setelah menutup pintu rumah, wanita bermata hijau itu membuntuti sang suami menuju dapur. "Oh iya, kau ingin aku memasak apa malam ini?"

"Hn?" Sasuke menegakkan tubuhnya seraya memandang Sakura penuh tanya.

Sakura tersenyum simpul. "Anggap saja karena kau sudah membantuku membawakan ini semua," ucapnya seraya mengeluarkan satu per satu barang belanjaannya. "Katakan saja apa yang ingin kau makan untuk malam ini, Sasuke-kun."

"Terserah."

Senyum yang sempat tergambar di bibir Sakura perlahan lenyap. Wanita itu ikut menegakkan tubuhnya dan menatap suaminya dengan memohon. "Jangan seperti itu, Sasuke-kun! Kau malah membuatku bingung harus memasak apa. Sebutkan saja nama makanannya."

Sasuke diam untuk beberapa saat. Mata hitamnya tak lepas dari wanita yang ada di depannya. Pria itu mengambil langkah lebih dekat sebelum meletakkan kedua tangannya di pundak sang wanita. "Dengar! Tidak peduli apapun yang kau masak, malam ini aku hanya ingin kita makan malam bersama. Mengerti?"

Setelah mengatakan itu, Sasuke berbalik menuju tangga rumahnya. Meninggalkan Sakura yang sekali lagi harus melawan perasaan bahagia di hatinya.

Kami-sama... bodohkah aku, jika aku mengembangkan harapanku kembali?

.

Cukup lama Sakura berada di kamar mandi. Setelah memasak makan malam, ia segera masuk ke dalam kamar mandi tak lama setelah suaminya keluar dari sana. Sakura paham alasan di balik kelakuannya sekarang. Ini semua dilakukannya karena perasaan yang berdebar-debar tiap kali ia berada di dekat suaminya. Walaupun ia sendiri tak yakin mengurung diri lebih lama di kamar mandi bisa mengurangi tingkat kegugupannya, Sakura merasa lebih lega dan siap sekarang.

Setelah mengganti yukata mandinya dengan yukata rumah yang sederhana, Sakura menyisir rambutnya perlahan. Tatapan mata hijaunya terlihat kosong saat memandang dirinya sendiri dari cermin di meja rias. Dengan membiarkan rambut panjangnya terurai, Sakura beranjak untuk turun menemani suaminya makan malam.

"Kau belum makan?" tanya Sakura saat melewati pintu dapur.

Sasuke menolehkan kepalanya. Raut wajah tampannya terlihat datar seperti biasa.

"Nanti makanannya dingin, Sasuke-kun." Kini Sakura duduk di hadapan suaminya, menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. "Kau tidak suka dengan makanannya?"

"Tidak." Untuk pertama kalinya, Sasuke membuka mulut untuk menanggapi istrinya.

"Lalu?"

"Kita makan bersama."

Untuk beberapa detik Sakura hanya terdiam. Ia sedikit terkejut hingga tidak tahu harus berkata apa.

"Tidak biasanya kau mandi selama ini." Tanpa menghiraukan bias yang kemerahan samar di wajah istrinya, Sasuke mulai mengisi mangkuk makannya dengan nasi. Namun belum sempat ia melakukan hal tersebut, sebuah tangan yang lebih kecil dari miliknya menghentikan gerakannya.

"Biar aku saja, Sasuke-kun," ucap Sakura searaya meraih mangkuk yang berada di tangan suaminya. Senyum manisnya terukir hanya untuk pria yang ada di hadapannya.

Tak ada pilihan lagi bagi Sasuke. Ia tentu tidak bisa menghentikan keinginan Sakura. Lagipula... ia juga merasa senang, kejadian seperti ini mengingatkannya kepada saat-saat dimana ia menjadi pengantin baru dengan Sakura. Tanpa sadar, sebuah senyum tipis terukir di wajah Sasuke.

Memandang Sakura yang terlihat bersemangat, semakin membuat Sasuke mengembangkan senyumnya. Mata hijau wanita itu yang berkilau, rambut halusnya yang jatuh di sekitar wajah, bibir tipis yang mengulum senyum manis... entah mengapa seperti mendesak Sasuke untuk merasakan bibir itu lagi.

"Ini makananmu, Sasuke-kun."

Sasuke mengerjap, namun pria itu bisa mengatasi keterkejutannya dengan sikap datarnya yang biasa. "Hn, arigatou."

Sakura menganggukkan kepalanya. Senyum manisnya masih belum sirna. "Sama-sama."

"Ittadaikimasu." Sasuke baru saja akan memasukkan sumpit ke dalam mulutnya, sebelum ia mendengar suara ketukan pintu dari luar rumahnya.

"Biar aku saja yang membuka pintunya." Sakura beranjak dari posisi duduknya dan melenggang pergi dari dapur.

Helaan napas kesal keluar dari mulut Sasuke. Ia sungguh tak mengharap penganggu di saat seperti ini. Jika saja tak ada orang yang mengetuk pintu rumahnya seperti tadi, ia pasti sudah menikmati makan malam dengan istrinya.

"Sasuke-kun?"

Sasuke menghentikan makan malamnya saat suara wanita yang sangat ia kenali itu bersuara lagi. "Ada apa?"

"Ada seorang chunnin yang mencarimu, dia bilang kau harus tepat waktu."

Seolah baru saja teringat akan sesuatu, Sasuke meletakkan begitu saja mangkuk yang ia bawa di meja makan dan langsung melesat pergi dari dapur menuju ke kamar tanpa menghiraukan tatapan heran istrinya.

.

"Apa ada misi mendadak?" Sakura tak bisa menahan rasa penasarannya saat melihat Sasuke menuruni anak tangga. Pria itu tidak mengenakan seragam anbu-nya seperti biasa, melainkan pakaian shinobi Konoha lengkap dengan jaket jounin-nya.

Sasuke berjalan melewati Sakura yang berdiri di depan anak tangga. "Tidak," ucap Sasuke seraya memasang sarung tangannya.

"Lalu apa?" Sakura mengikuti sang suami yang kini duduk seraya memasang alas kaki. Harus ia akui, entah mengapa hatinya tidak rela jika harus ditinggalkan pria itu sekarang.

Setelah selesai memasang alas kakinya, Sasuke berdiri dan menghadap Sakura yang tepat berada di depannya. Wajah wanita itu terlihat sedikit kesal, mungkin karena ulah Sasuke yang tidak langsung menjawab pertanyaannya. "Aku harus menghadiri rapat penting."

"Rapat apa?"

Posisi Sakura yang masih berpijak di lantai kayu, membuat Sasuke dengan jelas menatap mata hijau milik wanita itu. "Rapat pengamanan wilayah. Besok adalah final ujian chunnin."

Sakura menghela napas berat. Mendadak ia menjadi lesu, ia pun menundukkan kepalanya. "Jadi..." Sakura menggigit bibir bawahnya, merasa sedikit enggan untuk kembali membuka mulut "−malam ini kau tidak makan malam di rumah?"

"Kurasa akan seperti itu."

Untuk sepersekian detik, Sakura hanya diam. Matanya yang sebelumnya tadi memandang lantai kayu, kini terangkat dan menatap mata suaminya. "Kalau begitu aku akan menunggumu pulang. Setelah itu kita bisa melanjutkan makan malam bersama," ucapnya seraya tersenyum kecil.

Sasuke terperangah. Hatinya terasa sejuk mendengar perkataan Sakura. Ia pun mengulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh salah satu sisi wajah Sakura, mengabaikan raut terkejut dari wanita berambut merah muda itu. "Tidak perlu." Suara Sasuke terdengar lebih lirih dari sebelumnya. "Jangan buat dirimu jatuh sakit lagi."

Sakura tidak menjawab perkataan Sasuke, hanya anggukkan kaku kepalanya lah yang ia tujukan untuk suaminya. Jantungnya berdetak lebih cepat, sedangkan kedua kakinya mulai terasa lemas saat mengetahui arah pandang Sasuke yang turun ke bibirnya. Sorot mata hitam itu terlihat lembut, bahkan terkesan sendu. Sakura berpikir bahwa pria itu akan menciumnya saat Sasuke dengan perlahan mendekat, namun hal itu tak terjadi tatkala Sasuke memilih untuk berpaling dan membalikkan badannya.

"Aku sudah terlambat," ucap Sasuke tanpa menolehkan kepalanya lagi ke belakang. Sosoknya menghilang begitu saja saat baru menapakkan kakinya di depan pintu rumah.

.

.

Setelah menyelesaikan makan malamnya sendirian, Sakura memutuskan untuk menunggu Sasuke pulang. Ia sendiri tidak mengetahui alasan di balik ini semua, namun yang ia rasakan adalah hatinya yang secara perlahan mulai menerima lagi pesona dari sosok suaminya.

Meletakkan secangkir ocha hangat di sampingnya, Sakura duduk dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Suasana ruang tengah yang sunyi membuat suara rintikan gerimis hujan terdengar jelas di atas rumah itu. Sakura mendesah pelan, seharusnya tadi ia menyuruh suaminya membawa mantel. Ia khawatir jika pria itu kehujanan dan jatuh sakit.

Suara detik jam dinding juga menjadi sumber suara yang lainnya di ruangan itu. Berkali-kali Sakura menolehkan kepalanya ke arah benda berdetak itu seraya mengira-ngira kapan suaminya akan pulang. Waktu terasa begitu lama berlalu baginya, sedangkan hujan yang mulai deras mau tak mau membuat Sakura memeluk lututnya untuk sedikit menghangatkan tubuhnya. Suara hujan yang seolah menghipnotis, serta suhu ruangan yang mulai terasa dingin menggoda Sakura untuk memejamkan matanya untuk sejenak. Menyamankan posisi duduknya lagi, Sakura memutuskan untuk menunggu suaminya sembari beristirahat sebentar di sana.

.

.

Ketika merasakan tubuhnya melayang, Sakura membuka matanya secara perlahan. Apa yang pertama kali dilihatnya kali ini adalah tatapan mata Sasuke yang menatapnya dalam. "Sasuke-kun?" Sakura mengerjapkan matanya perlahan. "Kau sudah pulang?"

"Kenapa tidur di sini?" Suara Sasuke terdengar tak kalah lirih dari suara Sakura. "Kau bisa sakit nanti."

Jika saja Sakura sudah sepenuhnya sadar apa yang terjadi, detak jantungnya mungkin sudah tidak karuan ketika mengetahui Sasuke tengah menggendong tubuhnya. "Aku menunggumu," ucapnya sedikit parau seraya mengusap kedua matanya. Kesadaran Sakura sadar sepenuhnya ketika ia kembali merasakan tubuhnya melayang dan bergerak dengan sendirinya. Dengan cepat ia mendorong tubuh suaminya agar tidak terlalu menempel dengan tubuhnya. "Sasuke? A−apa yang−"

"Tenanglah."

Sakura seolah terhipnotis oleh suara datar itu. Tubuhnya tak lagi meronta. Ia pun pasrah di dalam gendongan suaminya. Matanya mengawasi mata kelam sang suami yang tengah menatap lurus ke depan. "Kenapa menggendongku? Aku bisa jalan sendiri."

"Diam dan kembalilah tidur, Sakura."

Bibir Sakura tertutup rapat. Jantungnya berdetak sangat kencang sekarang. Posisinya yang berada dalam gendongan suaminya sama sekali tidak menguntungkannya. Lengan kuat Sasuke yang berada di bawah punggung dan lipatan lututnya terasa dingin. Lengan Sakura yang menempel pada dada pria itu juga terasa basah. Tunggu dulu!

"Sasuke-kun, kau kehujanan?"

"Hn."

"Seharusnya kau tadi membawa mantel, Sasuke-kun. Bagaimana kalau kau jatuh sakit?"

Sasuke tak menanggapi pertanyaan istrinya. Matanya yang sedari tadi hanya menatap lurus ke depan, kini terarah tepat ke mata hijau istrinya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, matanya yang biasanya tajam kini menatap Sakura dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. Dan tatapan mata itu, juga mengundang mata Sakura untuk beradu di dalamnya.

.

Baik Sasuke maupun Sakura sama sekali tidak melepaskan pandangannya satu sama lain ketika keduanya sudah berada di dalam kamar. Dengan perlahan, Sasuke meletakkan tubuh istrinya itu di sisi ranjang yang biasa ia tempati. "Oyasumi," bisiknya begitu lirih dan lembut di telinga Sakura.

Bisikan yang teramat lembut itu entah mengapa membuat Sakura seolah tersihir. Tanpa ragu, wanita itu mengangkat kedua telapak tangannya untuk mengusap rahang dan leher Sasuke dengan pelan. Jarak wajah keduanya yang hanya dipisahkan oleh hidung masing-masing membuat Sakura dapat merasakan hembusan napas hangat suaminya. "Kau pasti kedinginan."

Tak ada jawaban dari Sasuke. Mata hitamnya terlihat semakin menggelap saat sentuhan tangan Sakura kini berada di bibirnya. Perlahan namun pasti, pria itu semakin mendekatkan wajahnya untuk menutup jarak antara ia dan istrinya lewat sentuhan bibir yang lembut. Sangat lembut, hingga membuat sang wanita menikmati setiap gerakan dari pagutan itu. Pagutan yang terus menerus membuat sang wanita menginginkan lebih. Bibir yang saling bersentuhan, lidah yang saling menekan, suara kecupan yang terdengar jelas oleh keduanya meski rintikan hujan menjadi sumber suara yang paling jelas di kamar yang gelap itu.

Napas keduanya semakin memburu saat puncak sensasi dari ciuman itu semakin mendekat. Tanpa harus melepaskan ciuman mereka terlebih dahulu, Sasuke menggerakkan tubuhnya untuk naik ke atas ranjang dan memposisikan sang istri di bawahnya. Sebelah tangannya terulur untuk menggenggam telapak tangan wanita yang berada di wajahnya.

"Sakura," bisik Sasuke lirih seraya membenamkan wajahnya di leher sang istri untuk memberi sentuhan yang tak kalah lembut di sana.

Sakura melenguh pelan. Ia tidak tahu apakah hal yang sama sekali tidak ia inginkan akan terulang atau tidak. Namun suara Sasuke yang dengan sangat lembut membisikkan namanya, entah mengapa membuat aliran darahnya terasa berdesir. Ia pun membalasnya dengan mendesahkan nama Sasuke saat dirasa tangan pria itu meremas pelan area sensitif di dadanya. Sebelah telapak tangan Sakura yang bebas dari genggaman Sasuke, perlahan turun ke bagian dada pria itu untuk membuka resleting jaket jounin yang ada di sana. Tanpa menyingkap terlebih dahulu kain baju suaminya, Sakura menyusupkan telapak tangannya kedalam sana. Menyentuh dan membelai pelan kulit perut hingga dada bidang Sasuke yang terasa dingin.

Sasuke menggeram pelan dalam ciumannya. Sentuhan tangan hangat istrinya membuat tubuhnya seperti tersengat listrik. Hasratnya memuncak hingga membuatnya ingin mengecap tubuh wanita yang ada di bawahnya semakin jauh. Setelah melepaskan ciuman di bibirnya, Sasuke melarikan bibirnya untuk menyapu bagian dada Sakura yang sudah terbuka karena ulahnya. Mengecapnya, dan memberi tanda bahwa itu adalah hak miliknya. Ia sudah tidak lagi merasakan dingin sekarang, seluruh tubuhnya terasa panas hingga membuat napasnya terdengar berat.

Tak hanya napas Sasuke yang memberat, Sakura pun merasakan hal yang sama ketika Sasuke dengan penuh hasrat mengeksplorasi seluruh tubuhnya. Matanya terpejam, bibirnya berkali-kali mengeluarkan desahan yang terasa asing di telinganya sendiri. Namun Sakura tidak peduli, ia bahkan tidak tahu apa yang membuat gejolak hasratnya terasa sehebat ini. Yang ia tahu hanyalah suaminya yang melucuti pakaiannya satu per satu seperti saat ini.

"Sasuke..."

.

.

.

Sakura membuka matanya perlahan saat sinar matahari pagi menerobos gorden jendela kamarnya. Kepalanya menengok ke arah jam dinding untuk memastikan bahwa ia tidak terlalu kesiangan untuk berangkat ke rumah sakit. Tidak lama setelah itu, ia pun bangun dari posisinya seraya melilitkan selimut untuk tetap menutupi tubuh polosnya. Saat hendak berjalan menuju kamar mandi, mata hijaunya menangkap secarik kertas yang ada di atas meja riasnya.

'Hari ini aku ada tugas jaga di perbatasan. Mungkin hanya dua hari. Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada di rumah.

Sasuke'

Seulas senyum tipis terukir di bibir Sakura. Rasanya ia masih bisa merasakan suara pria itu saat berbisik lirih di telinganya. Bagaimana pria itu menyentuh tubuhnya, membelainya, menciumi seluruh sisi tubuhnya... Tatapan sendu dari pria itu. Hembusan nafas pria itu di lehernya, desahan pelan yang selalu mengalunkan namanya... Dan yang paling masih bisa ia rasakan adalah hangatnya tubuh pria itu saat bersatu dengannya.

Sakura menatap pantulan tubuhyna di cermin. Mengamati setiap ruam merah yang ada di sekitar leher dan dadanya. Sebelah tangannya yang tak menggenggam simpul nya selimut yang melilit tubunya terangkat untuk menyentuh sakah satu ruam merah kecil di lehernya.

Seharusnya ia bahagia. Apa yang dinantikannya sejak lama telah terlaksana. Ia pun tak memungkiri jika dasar perutnya terasa bergejolak ketika ia mengingat apa yang telah terjadi malam tadi. Namun senyum pedih juga tergambar di wajahnya saat mengingat tidak semua hal yang terjadi tadi malam membuatnya bahagia, karena semalam... suaminya menyentuhnya tanpa sedikitpun mengucapkan kata cinta.

.

.

.

.

Suara ketukan pintu yang terdengar dari luar ruang kerjanya, sama sekali tidak membuat Sakura melepaskan pandangannya dari kertas yang ada di genggamannya. "Masuk."

"Konnichiwa, Sakura-san."

Merasa mengenal suara itu, Sakura mengangkat kepalanya. "Ah, Matsuri-san. Silahkan duduk."

Matsuri tersenyum kecil seraya menuruti perkataan medic -nin berambut merah muda itu. "Aku kesini ingin mengambil obat untuk Gaara-sama."

"Kebetulan sekali, aku baru saja menyelesaikannya." Sakura menarik laci mejanya dan mengeluarkan beberapa kantong plastik yang ada di sana. "Aturan minumnya sudah tertera di balik bungkusnya. Pastika Gaara-sama meminum obatnya secara teratur dan tepat waktu."

"Aku menegerti."

"Ah, lalu satu hal. Jangan biarkan Gaara-sama keluar hotel sebelum kondisinya benar-benar sembuh. Sekarang adalah musim hujan, suhu seperti ini tidak baik untuk kondisi tubunya yang belum normal."

Untuk sejenak, Matsuri tidak langsung menyahuti perkataan Sakura. Wanita bermata coklat itu hanya tersenyum penuh arti ke arah Sakura.

"Ada apa Matsuri-san?" tanya Sakura karena sedikit heran dengan sikap wanita yang ada di depannya.

Matsuri menundukkan kepalanya sembari terkekeh pelan. "Tidak ada apa-apa, Sakura-san. Aku hanya berpikir−" Matsuri menghentikan perkataannya sejenak untuk menatap Sakura secara seksama. "−pantas Gaara-sama sangat mencintaimu."

Kedua iris mata Sakura melebar saat itu juga. Ia tidak ingin mempercayai apa yang baru saja dikatakan Matsuri padanya. Bibirnya bergetar saat mengatakan "Ma−maf. Bisa kau ulangi perkataanmu, Matsuri-san?"

Senyuman Matsuri yang kian melebar semakin membuat Sakura merasa penasaran sekaligus takut.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

±4501 kata. Plis, jangan ada lagi yang bilang kependekan yah? T.T

Ma-aaaaaaaaaaaaf banget atas keterlambatan apdetnya. Saya sibuk, jadi kurang ada waktu buat ngelanjutin cerita ini. Dan seperti biasa, kalo udah lama nggak nyentuh fic ini, saya mulai malas untuk melanjutkannya. Hehehe, piss ^^v

Yang di atas itu terpaksa saya skip. Habisnya fic ini kan rate-nya T, kalo M mah gasak ajah :D Ahahahahaha, becanda kok! Saya masih perlu banyak belajar lagi buat bikin gituan :p
Oh ya, sebenarnya saya nggak puas sama chapter ini. Menurut saya chapter ini kurang nggreget dan kurang hidup(?) Mungkin gara-gara saya yang payah mendeskripsikan perasaan seseorang kali yah? Jadi, saya minta maaf lagi yah? :(

Berhubung banyak yang nanya tentang fic ini, dan saya yang sangat nggak sopan karena tidak pernah membalas review dari para reader, di sini saya mau menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan para redaer. Buat yang malas baca bacotan gaje saya, bisa langsung di close kok. Hehehe

Q: Fic ini selesai sampai berapa chap?

A: Saya sih nggak pernah narget, dan saya nulis juga karena suasana hati ^^ Jadi kalo penasaran, ikutin terus aja ceritanya #promositerselubung

Q: Sasuke kok jahat sih?

A: Yah, tuntutan cerita. Tapi semakin ke sini reader udah bisa nebak nggak gimana dia? ;)

Q: Kapan Gaara pulang? Gangguin SasuSaku aja deh!

A: Heem, kalo banyak reader yang nganggap Gaara pengganggu, maka saya akan terus kembangin dia jadi pengganggu :p *ditimpuk galon

Q: Kapan Sakura hamil?

A: Pertanyaan yang sulit O.o Tapi tenang, saya udah siapin plot-nya kok. Lagian kan dia udah eng-ing-eng sama suaminya, hehehehe B)

Okeh, terimakasih karena kalian semua masih menaruh perhatian sama fic saya *pelukin satu-satu
Walaupun ke sini nya saya mulai ngerasa fic ini semakin payah T.T

Kritik dan saran diterima dengan rentangan lebar kedua lengan saya ^^

See ya in the next chap!